Disclaimer:

Vocaloid punya Yamaha dan Crypton Future Media.


Warning:

Typo, OOC dan lainnya.


Happy Reading!


Seorang Pemuda pergi menemui seorang Putri yang cantik namun egois. Pemuda itu berlutut di hadapan sang Putri dengan hormat. Sementara sang Putri berdiri di atas balkon istananya dengan anggun.

"Apa yang Anda inginkan?" tanya si Pemuda dengan sopan. Sang Putri tersenyum di balik kipas yang menutupi sebagian wajahnya itu.

"Bawakan aku permata paling indah!" ucap sang Putri dengan riang. Sang Pemuda tertegun sejenak saat mendengar permintaan sang Putri. Tapi, ia tetap menyanggupi permintaan sang Putri untuk membawakan permata paling indah padanya.


Karena hal itulah, ia berada di sini sekarang. Di dalam hutan, berkelana untuk mencari permata paling indah untuk sang Putri yang disayanginya.

Ia menghela nafas pelan sambil menyandarkan punggungnya pada salah satu pohon besar di dekatnya. Ia sudah beberapa kali menemukan permata selama perjalanannya itu. Tapi, tak ada satu pun permata yang indah dan cocok untuk Putri kesayangannya.

Tapi, ia tetap bertekad untuk menemukan permata itu. Sebelumnya, ia harus menemui sang Putri. Untuk menanyakan, permata seperti apa yang diinginkannya.


Jadi, Pemuda itu pun kembali menemui sang Putri yang lagi-lagi berdiri di atas balkon istananya. Sedangkan sang Pemuda belutut di depan balkon tampat sang Putri berdiri.

"Apa kau sudah menemukan permata itu?" tanya sang Putri dengan penuh harap.

"Maaf, Putri. Selama saya mencari permata itu, saya menemukan banyak sekali permata yang indah. Yang hijau, biru, kuning, merah, oranye dan putih. Tapi, saya tak tahu permata seperti apa yang Anda inginkan. Bisakah anda memberitahukannya pada saya?" tanya Pemuda itu disertai oleh penjelasannya tentang perjalanannya selama ini.

Sang Putri terdiam dan menatap Pemuda itu. Pemuda itu hanya bisa menatap balik dengan pandangan yang meminta jawaban dari sang Putri.

"Itu adalah teka-tekinya, Len. Tugasmu, memecahkan teka-teki ini dan membawakan permata yang dimaksudkan dalam teka-teki ini. 'Permata paling indah'. "

Pemuda yang dipanggil Len itu diam dan menatap sang Putri dengan bingung. Sang Putri hanya menghela nafas dan memandang Len dengan serius.

"Jadi… saya harus memecahkan teka-teki ini, Putri Rin?" tanya Len dengan ragu pada Putri bernama Rin itu. Rin mengangguk sebagai jawaban.

Setelah mendapat jawaban dari sang Putri, Len pun berdiri dari posisi berlututnya. Lalu membungkuk dan pamit pada sang Putri.

Sang Putri melihat punggung Len yang perlahan menghilang. Ia mendesah pelan. Ia pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan berdiri di depan sebuah cermin.

"Apa Len bisa memecahkan teka-teki ini 'ya?"


Helaan nafas meluncur dari bibir Len saat ia benar-benar frustasi akan pemecahan dari teka-teki sang Putri. Jujur saja, ia tak begitu paham maksud dari teka-teki yang diberikan oleh sang Putri.

'Permata paling indah.'

Kira-kira, apa yang dimaksud dengan 'Permata paling indah' ini? Sang Putri sama sekali tak memberikan petunjuk lain selain tiga kata tersebut.

Tapi, bisa saja yang dimaksudkan bukanlah sebuah benda 'kan? Len kembali berpikir keras akan pemecahan teka-teki ini.

Sejak dulu, sang Putri memang selalu memintanya untuk membawakan sesuatu untuk dirinya. Tapi, ini adalah permintaan yang paling sulit yang pernah diberikan oleh sang Putri.

…Permata paling indah yang sangat cocok untuk sang Putri…

Wajah Len langsung berubah cerah saat ia mendapat sedikit pemecahan dari teka-teki ini. Yah, meskipun ia tak yakin seratus persen kalau jawabannya akan benar.

Ia pun berdiri dari posisi duduknya, lalu menepukkan tangannya pada pakaiannya untuk menghilangkan debu tanah yang menempel pada pakaiannya selama ia duduk tadi.

"Akan kutemui Putri sekali lagi!"

Dan setelah mengatakan itu dengan semangat, ia pun segera mengambil tas kulit yang dibawanya dan pergi menuju istana sang Putri.


Kedua iris sapphire milik Len dan Putri itu bertemu pandang. Sang Putri masih berdiri di atas balkonnya dengan kipasnya yang menutupi sebagian wajahnya. Ia memandang Len yang sedang berlutut di bawah dengan seulas senyum itu.

"Saya sudah menemukan permata yang Anda maksud, Putri."

Mendengar perkataan Len, Rin pun langsung membelalakkan matanya dan segera berbalik ke dalam istana untuk keluar menemui Len yang berlutut di luar istana.

Setelah sampai di hadapan Len, Rin mengatur nafasnya sebentar setelah berlari dari balkon kamarnya hingga ia tiba di luar istana, tepat di hadapan Len yang berdiri dengan senyum manis di hadapannya.

"J-jadi… m-mana permata itu…?" tanya Rin dengan wajah penuh harap. Len kembali menunjukkan senyumnya yang membuat Rin bingung dan memerah dalam waktu bersamaan.

"Ini, Putri."

Dan Len mengeluarkan sebuah permata berwarna putih yang indah. Rin memandangnya dengan kedua alisnya yang bertaut. Sebenarnya, bukan ini pemecahan dari teka-tekinya.

"Ini jawabanmu atas teka-tekiku?" tanya Rin dengan wajahnya yang terlihat agak kesal.

"Bukan. Ini hanya tandanya saja."

Rin menurunkan kipasnya dari wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah bingungnya.

"Tanda? Tanda apa?" tanya Rin heran. Len kembali menunjukkan senyumannya.

"Permata yang Anda maksud itu bukan permata pada umumnya 'kan?" tanya Len dengan senyum manis. Rin mengangguk dengan alisnya yang terangkat sebelah.

"Lalu, mana jawabanmu?" tanya Rin lagi dengan kepalanya yang dimiringkan sedikit.

"Sebenarnya, saya kurang yakin dengan jawaban ini. Terlebih, saya merasa tak pantas untuk memberikan ini pada Putri."

Rin memandang Len dengan pandangan kesal. Ia tahu kalau ia seorang Putri. Tapi, keinginan sang Putri harus dituruti 'kan? Keinginan Putri itu mutlak 'kan?

"Sudah jawab saja. Apa jawabannya. Kau tak perlu banyak berkata lagi," ucap Rin yang mulai kesal dengan setiap perkataan Len yang terbelit-belit.

"Cinta."

"Eh?"

Rin membelalakkan matanya saat mendengar satu kata yang diucapkan Len dengan senyum simpul. Hanya satu kata itu 'kah jawabannya?

"Permata paling indah yang ada di dunia. Permata yang jarang ditemui dan permata yang paling cocok dengan Anda. Lagipula, Anda belum memiliki permata yang seperti itu 'kan?"

"U-um…" Rin mengangguk dengan wajahnya yang sedikit memerah. Ia tak menyangka, kalau Len akan berhasil memecahkan teka-tekinya. Padahal, ia hanya memberikan tiga kata sebagai kata kuncinya.

"Jujur saja, saya sempat frustasi saat memikirkan pemecahan dari teka-teki yang Anda berikan," ucap Len diikuti helaan nafas. Rin memandangnya dengan bingung.

"Kau mau menyalahkanku atas teka-tekiku? Lagipula, kau tak membawakan permata yang kumaksud," ucap Rin dengan kedua alisnya yang bertaut dan tangannya yang dilipat di depan dada.

"Saya membawanya 'kok. Sejak Putri memberikan perintah pada saya yang pertama kali, saya selalu membawa permata yang Anda inginkan itu."

Rin diam memandang Len yang masih menunjukkan senyumnya itu. Perlahan pipinya mulai memerah. Jika Len selalu membawa permata yang diinginkannya, berarti Len sudah berhasil memenuhi keinginannya kali ini.

"Baiklah! Kau sudah berhasil melakukan misi terakhirmu ini!" ucap Rin sambil memainkan kipasnya. Len memandangnya dengan pandangan bingung dan kepalanya yang dimiringkan.

"Misi terakhir? Maksud Anda?" Len bertanya dengan bingung. Sedangkan Rin memandang Len dengan senyum lebar.

"Karena selanjutnya, kau akan selalu berada di sisiku untuk selamanya."

Setelah mengatakan itu, Rin pun langsung mencium Len di bibir dengan cepat. Tentunya, Len langsung memerah saat ia mendapatkan ciuman dari Putri yang paling disayanginya itu.

Dan selanjutnya, mereka pun hidup bersama selamanya. Yah, ini hanya 'lah sebuah kisah di masa lalu. Kisah di mana seorang Putri cantik jelita yang egois, menyukai seorang Pemuda yang selalu memenuhi keinginannya. Sebuah kisah yang sudah lama terjadi…


A/N: Yup! Saya udah punya lagu ini dari lama. Tapi, baru bisa buat ficnya setelah ada yang request. Ngomong-ngomong, di sini banyak juga yang request 'ya? Jadi, mohon bersabar 'ya! Soalnya, saya juga sibuk mengerjakan fic saya yang lainnya! Oke, sekian fic kali ini! Semoga para readers menyukainya! :)