Last chapter preview

"Bagaimana makan malam Anda bersama Tuan Baekhyun, Tuan Muda?" Tanya Tuan Kim setelah mobil itu melaju di jalanan.

"Banyak hal yang kami bahas.. Ohya paman, sepertinya Baekhyun sudah bisa diajak mendengarkan ceritamu tentang kutukan itu."

"Saya siap kapanpun Anda meminta Saya Tuan Muda."

"Baiklah.. kelopaknya juga sudah banyak berkurang."

"Syukurlah Tuan Muda.. Semoga semuanya sesuai rencana."

"Semoga Paman."

Mobil itu melesat melewati jalanan malam kota seoul yang penuh dengan gemerlap lampu perkotaan.

Berbagi cerita membuatmu semakin memahami karakter dan sifat masing – masing


.

.

Fate X

.

.

Seoul National University

04.45 p.m.

"Sampai di sini dulu perkuliahan kita hari ini, sampai ketemu minggu depan. Selamat Sore."

Mendengar kalimat itu diucapkan, Baekhyun segera merapihkan semua buku dan barang – barangnya ke dalam ransel. Ia tengah mengejar waktu karena sebentar lagi sift kerjanya akan dimulai. Ia tidak begitu menyukai hari Jumat, karena jadwal kuliah yang padat dari pagi hingga sore, ditambah dengan restoran tempatnya bekerja yang selalu ramai di akhir pekan. Tetapi Baekhyun bukan lelaki yang mudah mengeluh. Ia justru semakin banyak tersenyum tatkala hidupnya semakin terasa sulit. Ya, Baekhyun tidak suka dipandang lemah oleh siapapun, tanpa terkecuali.

Sebelum pintu kelas dipenuhi oleh mahasiswa yang berebut untuk keluar, Baekhyun sudah terlebih dahulu berlari melaluinya. Karena terburu – buru dalam perjalananya menuju restoran, Baekhyun tidak begitu fokus dengan sekelilingnya. Hingga sebuah suara klakson mobil dan tarikan pada lenganya membuatnya tersadar.

"maafkan aku" ucapnya pada seorang yang wajahnya tidak begitu asing, sepertinya salah satu mahasiswa di kampusnya.

"Kenapa kau tidak memperhatikan sekelilingmu saat menyebrang? Kau hampir saja tertabrak." Ucap orang yang beberapa detik lalu menarik lengan Baekhyun dari belakang.

"Aku sedang terburu – buru, terimaksih sudah menolongku."

"Memangnya kau mau kemana?"

"Aku bekerja di restoran itu, dan jam kerjaku dimulai pukul 5 sore." Baekhyun mengecek jam tanganya "yah.. terlambat. Yasudahlah." Ia mengusap kepalanya gusar.

"Sekali lagi terimakasih sudah menolongku."

"tidak masalah, lain kali berhati – hatilah"

"Kalau begitu aku duluan." Baekhyun meninggalkan lelaki itu dan segera menyeberang menuju restoran tempatnya bekerja.

Baekhyun masuk melalui pintu belakang. Ia bergegas menuju ruang ganti untuk memakai seragam kerjanya.

"Tidak biasanya kau terlambat" ucap seorang pegawai saat melihat Baekhyun baru saja keluar dari ruangan itu.

"Perkuliahanku berakhir sedikit terlambat hari ini, dan ada insiden kecil tadi."

"ooh.. yasudah, sana segeralah berkerja, restoran sangat ramai di akhir pekan."

"hm. Aku tahu." Ucap Baekhyun dan segera menuju dapur.

Di restoran tempat Baekhyun bekerja, selain dituntut untuk bisa melayani tamu, pegawai juga diharuskan membantu pekerjaan di dapur seperti mencuci peralatan masak, mengambil pesanan, atau bahkan mengangkat bahan makanan hingga berkarung – karung banyaknya.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Karena banyaknya pengunjung restoran, pekerjaan yang padat membuat Baekhyun sampai lupa waktu.

"haaahhhh.. akhirnya selesai juga hari ini. Lelah sekali.." ucapnya sambil meregangkan otot – ototnya saat berjalan menuju ruang ganti.

Beberapa menit kemudian Baekhyun sudah selesai berganti pakaian. Tak lupa Ia berpamitan dengan pegawai lain yang memiliki sift malam sebelum Ia meninggalkan restoran. Sambil berjalan keluar, tak lupa ia membawa satu kantong plastik hitam besar yang berisi sampah. Ia letakan sampah itu di tempat pembuangan di samping pintu keluar. Setelah selesai dengan urusan sampah, Baekhyun kembali melanjutkan perjalanya menuju halte bus. Namun kali ini ia mengambil rute lain. Jalan yang dilaluinya ini memang lebih cepat dari rute yang biasa ia lalui, hanya saja jalan ini melewati gang – gang sempit yang gelap. Tiba – tiba suara pecahan kaca mengagetkanya. Baekhyun lantas mengubah rutenya berjalan, untuk mencari sumber suara itu.

"DIAM KAU! ATAU MAU KUTIKAM DENGAN BOTOL PECAH INI!"

"j-jangan. Kumohon lepaskan aku.. hikkss..hikss"

"NANTI, SETELAH AKU MENIKMATI TUBUHMU! HAHAHAH! BUKA BAJUNYA!"

"TIDAAAKK! TOOLOOONG! JANG-AAAN!"

"BBUUGHH!"

Baekhyun menendang tepat di wajah seorang pria bertubuh gempal.

"LEPASKAN DIA!"

"SIAPA KAU?! HAHAHA MAU BERLAGAK MENJADI PAHLAWAN DENGAN TUBUH SEKECIL ITU?! AHAHAHAHA"

"JANGAN REMEHKAN AKU!" Baekhyun merasa tersinggung.

"ATAU KAU MAU BERGABUNG DENGAN GADIS INI?! BOLEH JUGA TUBUHMU" Mata pria gempal itu memandang tubuh Baekhyun dari bawah hingga ke atas dengan tatapan menjijikan.

"KURANG AJAR!"

Baekhyun kembali menyerang pria itu. Sebenarnya selain dia, ada satu lagi pria lain yang tubuhnya tidak terlalu besar. Tetapi jika dibandingkan dengan Baekhyun dua pria berbau alkohol itu jauh lebih besar darinya.

"BUGH! BUGH! BUGH!" suara hantaman satu sama lain menggema di gang sempit itu.

"HEY! PEGANG BOCAH INI!" karena semakin kewalahan melawan Baekhyun, pria gempal itu kehilangan kesabaranya. Ia menyuruh temanya untuk membekap tubuh Baekhyun dari belakang, dan itu berhasil.

"SIALAN!" pekik Baekhyun saat dirasakan tanganya terkunci kebelakang.

"HAHAHA! KAU TIDAK AKAN BISA KABUR BOCAH!" seringai menjijikan tampak di wajah buat nya.

Perlahan ia berjalan mendekati Baekhyun. Sedikit cercah cahaya lampu mengenai wajah Baekhyun, memperlihatkan luka dan lebam hasil berduel beberapa menit yang lalu.

"sayang sekali wajah cantikmu jadi babak belur begini.. harusnya kau menurut saja dari tadi."

Pria itu hendak meletakkan tangan kotornya di wajah Baekhyun hingga sebuah tendangan tepat mengenai perutnya yang buncit.

"AAKH! SIALAAAN!" Pria itu terhuyung ke belakang berkat tendangan dari Baekhyun. Sedikit darah keluar dari sudut bibirnya yang menandakan tendangan itu tepat mengenai ulu hatinya.

"KAU MINTA MATI HAH!" Pria itu berdiri. Dengan amarah memuncak, ia mengambil pecahan botol kaca dari lantai kemudian berjalan tergopoh mendekati Baekhyun. Ia hendak menghunuskan benda itu ke perut Baekhyun.

"TIDAAAKKK!" teriak seorang gadis yang sekarang sedang terduduk lemas di dekat dinding.

Baekhyun yang sudah pasrah hanya memejamkan matanya. Tetapi sudah beberapa detik berlalu ia tidak merasakan apa – apa, hingga suara tinjuan barulang membuatnya membuka mata.

"BUGH! BUGH! BUGH!"

Pria gempal yang hendak menikamnya tadi rupanya tengah dihajar oleh seorang pria berbadan tegap. Sepertinya Baekhyun mengenali sosok itu. melihat kesempatan, lantas Baekhyun melepaskan diri dan berbalik menyerang pria yang memeganginya dari belakang. Dengan tiga tinjuan tepat di wajahnya, pria itu sudah terkapar di lantai. Setelah dirasa aman untuk kabur, Baekhyun segera mengahmpiri seorang gadis yang sedaritadi terduduk lemas di dekat tembok.

"Kau tidak papa?"

"B-Baekhyun?" ternyata gadis itu adalah salah satu pegawai di restoran tempatnya bekerja.

"kau? Kenapa bisa sampai seperti ini?" Baekhyun membantu gadis itu berdiri dan berjalan keluar dari gang sempit itu, meninggalkan tiga orang pria yang sedang berkalahi di sana. Baekhyun tahu bahwa dua penjahat tadi sudah kalah telak.

"Terima kasih sudah menolongku." keduanya tengah berjalan menuju rumah gadis yang baru saja Baekhyun tolong. Ya, Ia tidak tega membiarkan gadis itu pulang sendirian setelah kejadian yang baru saja dialaminya, toh rumahnya tidak begitu jauh dari sana, hanya membutuhkan waktu 20 menit berjalan kaki.

" Bukan masalah.. Sudah menjadi kewajiban untuk saling tolong menolong."

"tapi bagaimana dengan wajahmu." Ucap gadis itu sambil memandang wajah Baekhyun khawatir.

"aah.. tidak papa. Dua hari juga akan sembuh." bohongnya. Karena Ia tahu sebentar lagi luka – luka itu pasti akan lenyap dari tubuhnya.

"ohya Baekhyun, kau mengenal pria yang tadi menolong kita?"

"hum. Aku mengenalnya."

"apa dia teman kuliahmu?"

"sepertinya bukan."

"lalu kau mengenalnya di mana?"

"Dia suruhan temanku."

"maksudnya?" gadis tadi mengernyit bingung.

"aah.. tidak usah dipikirkan." Baekhyun mengibas kibaskan tanganya " apakah rumahmu masih jauh?" tanyanya mengubah topik pembicaraan.

"tidak. Sebentar lagi, di ujung belokan itu."

"Baiklah."

"Baekhyun" Panggil gadis itu memecah keheningan yang sempat terjadi.

"hum?"

"Apa kau sudah memiliki pacar?"

"hah? Hahaha.. kenapa kau bertanya seperti itu?"

"tidaak.. hanya saja, sepertinya kau tipe yang disukai banyak orang." Jawab gadis itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku hanya merasa tidak enak dengan pacarmu." Ucapnya dengan wajah murung.

"aahh...kau tidak usah khawatir, Aku tidak memilikinya." Jawab Baekhyun dengan senyum manisnya.

"syukurlah." Gadis itu terlihat menghembuskan nafas lega. "sudah sampai.. terima kasih sudah mengantarku pulang." Ucap gadis itu sambil membungkuk kecil pada Baekhyun.

"sama – sama. Lain kali jangan lewat jalan pintas lagi ya."

"hum. Sekali lagi terima kasih. Hati - hati di jalan." Baekhyun hanya membalasnya dengan anggukan dan segera berbalik meninggalkanya.

Satu jam berlalu sejak dirinya pergi dari rumah gadis yang ia tolong tadi. Sekarang Ia sudah berada di dalam rumahnya. Hal pertaman yang sering dilakukanya akhir-akhir ini sebelum menyalakan lampu adalah melihat kondisi di depan kontrakanya melalui jendela kamarnya yang terletak di lantai dua.

"Dia lagi." Gumam Baekhyun saat melihat sesosok pria yang tengah berdiri di balik tiang listrik sambil memandang ke arah bangunan kontrakanya.

Tidak mau mengambil pusing, ia tak hiraukan keberadaan pria asing itu. Baekhyun kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia buka semua pakaianya yang sudah penuh dengan debu hasil perkelahianya tadi dan memasukanya ke dalam mesin cuci. Setelah itu Ia melangkah memasuki kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sebelum memulai ritualnya membersihkan tubuh, ia sempatkan untuk menatap pantulan bayanganya di cermin. Semua luka dan memar yang ia dapatkan tadi hilang tanpa bekas dari kulit putihnya.

"oouuhh.. aku telah membuat wajah seorang public figur babak belur." Ucapnya membayangkan wajah seorang lelaki dengan banyak luka di wajahnya.

Namun ada satu yang berbeda, jumlah kelopak pada tanda kutukan di tengah dadanya berkurang. Itu artinya Ia berhasil melalui kesialan ke empatnya dengan selamat. Jelas saja, Ia hampir meregang nyawa jika pria berbadan tegap itu tidak menolongnya dari tikaman preman mabuk tadi.

"habislah aku jika bertemu denganya besok." Ucap Baekhyun sambil mengacak - acak surai hitamnya sambil berjalan memasuki bilik shower.


-The Cursed Destiny-


Seorang lelaki tengah duduk dengan tegap dengan pandangan lurus ke depan. Lelaki itu mengenakan topi hitam yang hampir menutupi sebagian wajahnya yang errr.. babak belur. Aura gelap menguar dari tubuhnya yang diam tak bergerak itu. Hal itu rupanya membuat seseorang semakin tidak nyaman dalam duduknya, Ia terlihat memukul - mukul kepalanya dengan pena sambil sesekali melirik lelaki dengan aura hitam yang duduk tak jauh darinya.

"habislah aku.. habislah aku.." gumam Baekhyun sambil menggigiti penanya.

Ya lelaki yang mengeluarkan aura hitam itu adalah Park Chanyeol. Sangat jelas bahwa lelaki itu memang tengah menahan amarah. Kejadian semalamlah yang membuat moodnya pagi itu menjadi sangat buruk.

flashback

Kaki jenjang itu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya yang beraroma kopi. Aroma yang biasanya selalu berhasil membuatnya lebih rileks, rupanya sekarang tak memberikan efek apapun.

"Kenapa di saat seperti ini handphonya selalu mati sih?!" gerutu lelaki jangkung itu sambil mengusap wajahnya kasar.

Ia tahu persis bahwa hari ini kesialan ke empat akan menimpa Baekhyun. Ia sudah mendapatkan firasat buruk sejak tadi pagi. Dan intuisinya selalu terbukti pada kejadian yang sudah – sudah. Sayangnya hari ini Ia tidak ada jadwal kuliah dan harus mengikuti rapat di beberapa perusahaan hingga seharian penuh. Kekhawatiranya semakin memuncak saat jam delapan malam tiba – tiba telapak tanganya melepuh, itu terlihat seperti luka yang disebabkan oleh logam panas. Namun berkat itu Chanyeol mendapatkan ide tentang keberadaan Baekhyun saat ini. Lantas Ia menyuruh bodyguard pribadinya untuk mendatangi Baekhyun di restoran tempatnya bekerja.

Satu jam lebih berlalu, akhirnya penantian Chanyeol mendapatkan hasil. Yongguk salah satu bodyguardnya itu memberikan laporan terkait Baekhyun. Rupanya dari laporan itu Chanyeol mengetahui bahwa Baekhyun terlibat perkelahian dengan preman mabuk, dan ia hampir saja ditikam dengan pecahan botol minuman keras saat Yongguk datang membantunya. Chanyeol bersyukur karena ia tidak terlambat mengirimkan bantuan. Tetapi tetap saja, sikap Baekhyun yang seakan tidak menganggapnya itu benar – benar membuat Chanyeol gusar.

flashback end

Sebenarnya Chanyeol mengetahui jika hari ini ia satu kelas dengan Baekhyun, dan ia juga tahu jika saat ini lelaki itu tengah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak memberikan kabar apapun padanya. Tapi Chanyeol ingin memberikan pelajaran padanya, Ia ingin agar Baekhyun mau bergantung padanya. Bagaimanapun juga kutukan dan takdir ini ditangguhkan kepada mereka berdua. Bukan Cuma Chanyeol, atau Baekhyun saja. Mereka harus menyelesaikanya bersama.

Tak terasa jam perkuliahan pagi itu selesai. Chanyeol yang hendak berjalan meninggalkan bangkunya tiba – tiba merasakan sebuah tarikan pada pagian belakang kemejanya. Itu Baekhyun.

"Chanyeolaa.. maafkan aku." Ucap lelaki yang lebih pendek itu sambil mengintip wajah dibalik topi hitam yang Chanyeol kenakan. "matilah aku" itulah kalimat pertama yang terlintas di pikiranya saat melihat wajah Chanyeol yang babak belur.

"emm.. ayo ke ruang kesehatan." Ucap Baekhyun takut – takut. Tapi Chanyeol masih diam di posisinya tanpa bersuara bahkan menoleh pada Baekhyun. Karena merasa diacuhkan akhirnya Baekhyun menarik lengan Chanyeol, ia menuntunya menuju ruang kesehatan yang letaknya di ujung koridor. Beruntungnya Chanyeol tidak menolaknya, ia berjalan mengikuti Baekhyun yang tengah menarik lenganya.

"Kau duduklah dulu di sini." Ucap Baekhyun sambil menunjuk tempat tidur di dalam ruang kesehatan, dan Chanyeol menurutinya.

Baekhyun terlihat membuka sebuah kotak P3K dan mengeluarkan sebuah salep dan cottonbud dari sana. Kemudian Ia berjalan mendekati Chanyeol. Karena posisi Chanyeol yang sedang duduk, sekarang wajah Baekhyun menajdi sejajar dengan wajah lelaki di hadapanya. Jarak di antara keduanya hanya sebatas satu lengan. Baekhyun berdeham untuk menghilangkan ketegangan yang ia rasakan.

"Aku berusaha meonolong teman kerjaku yang diganggu preman." Baekhyun mulai bercerita sambil membuka tutup salep yang diambilnya tadi. "Tetapi sepertinya malam itu bertepatan dengan kesialan keempat." Lanjut Baekhyun.

"Aku buka topimu ya?" Baekhyun meminta izin terlebih dahulu sebelum membuka topi hitam yang Chanyeol kenakan. Sedetik setelah topi itu terlepas, Baekhyun dengan jelas dapat melihat semua luka yang ada di wajah Chanyeol. Beberapa lebam ada di sekitar tulang pipi dan sedikit luka sobek di sudut bibirnya.

"Aku tidak tahu jika lukanya separah ini." Baekhyun mencondongan tubuhnya ke depan mengamati semua luka yang terdapat di wajah Chanyeol.

"Maaf jika ini terasa perih" Dengan hati – hati Baekhyun mulai megoleskan salep pada luka – luka itu. Entah disengaja atau tidak, Baekhyun perlahan meniupkan udara pada luka yang ia tangani untuk mengurangi rasa perihnya.

Baekhyun tidak tahu jika perbuatanya itu telah berhasil membuat detak jantung Chanyeol meningkat drastis. Namun, Chanyeol rupanya tetap mempertahankan egonya.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan luka ini?" suara itu terdengar berat dan penuh penekanan. Definisi marah semakin kuat terpancar katika kau melihat pada sorot matanya. Chanyeol membuka satu kancing kemejanya dan menunjukkan lebam yang cukup lebar di pundak kirinya.

Baekhyun lantas menghentikan gerakan tanganya pada wajah Chanyeol, manik matanya bergerak beralih mengamati lebam yang ditunjukan oleh Chanyeol.

"Ada di bagian itu juga?" Baekhyun baru menyadarinya. "Sepertinya itu terkena tendangan" tambahnya mengingat kejadian semalam. "Sepertinya ini harus dikompres" gumam Baekhyun saat mengamati lebam itu.

Saat Baekhyun hendak melanjutkan kegiatanya yang sempat terhenti tadi, mengoleskan salep pada luka di wajah Chanyeol. Pandangan keduanya kembali bertemu untuk sepersekian detik. Keduanya kembali mengagumi kejernihan manik emerald di hadapanya. Baekhyun kembali berdeham, lalu memfokuskan netranya pada luka – luka di wajah Chanyeol.

"Bagaiaman kau bisa di kelasku?" Tanya Baekhyun mengambil topik pembicaraan.

"Aku mengambil kelas pengganti." Jawab Chanyeol seadanya.

"oooohh.." setelah itu terbentuk lagi keheningan tak berujung, hanya suara deru nafas dari keduanya yang terdengar halus berhembus menerpa kulit wajah masing – masing.

"Baek, aku tidak mau kau bersikap seperti ini." Ucap Chanyeol tiba – tiba, menyebabkan gerakan tangan Baekhyun terhenti dan kembali bertatapan dengan lelaki di hadapanya.

"Aku tidak suka dengan sikapmu yang seakan tidak menganggapku ada. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku tiap kali handphonmu itu tidak bisa dihubungi ?" Baekhyun menatap manik emerald Chanyeol yang memancarkan keseriusan. Baekhyun tahu dengan jelas apa alasan dibalik sikap Chanyeol pagi itu. Tapi mau bagaimana lagi? Apa Baekhyun harus menghubungi Chanyeol tiap kali ia mengalami kesulitan? Ia bukan seorang anak kecil lagi. Bahkan sejak kecil Baekhyun sudah terbiasa melakukan semua kebutuhanya sendiri. Itulah yang selalu ada di pikiran Baekhyun.

"Aku sudah dewasa Chanyeol, aku bisa melindungi diriku sendiri. Bahkan aku bisa hapkido." Ucap Baekhyun membela dirinya.

"Dan aku tidak suka dengan caramu mengirimkan orang suruhanmu itu untuk mengawasiku pulang setiap hari. Kau pikir aku anak TK apa?" kini nada biacara Baekhyun sedikit meninggi. "Tolong hentikan." Tambahnya.

"Tidak bisa." Tukas Chanyeol tegas.

"Kenapa?"

"itu demi keselamatanmu Baek"

"Sudah kubilang aku bisa menjaga diriku sendiri."

Karena Baekhyun semakin keras kepala dan tidak bisa diajak kompromi, Chanyeol mengeluarkan jurus andalanya, mengkambing hitamkan dirinya sendiri.

"Kau pikir hanya dirimu saja yang menanggung sakit? Aku ini seorang putera mahkota yang kelak harus melanjutkan kepemimpinan di negara ini. Aku tidak mau semuanya terganggu hanya karena egomu itu."

Dan cara itu selalu berhasil karena sekarang Baekhyun tidak bisa membantah pernyataan yang Chanyeol lontarkan, karena memang semua yang dikatakan olehnya itu adalah kebenaran. Semua luka yang Baekhyun peroleh selalu saja berakhir di tubuh lelaki yang memiliki status sebagai calon pemimpin Korea Selatan itu. Karena tidak memiliki kata – kata lagi untuk membalasnya, Baekhyun hanya membuang nafas berat dan menundukan kepalanya.

"Sebenarnya aku juga tidak mau selalu terluka seperti ini.. kenapa takdir begitu jahat kepada kita." Walaupun lirih suara Baekhyun terdengar bergetar.

"Baek? kau menang-?" Panggil Chanyeol pada Baekhyun yang tengah menunduk. Tetapi belum sempat Ia menyelesaikan kalimatnya Baekhyun sudah menginterupsinya.

"aarrgghh! Kenapa aku menagis?! Tidak! Tidak!" Baekhyun terlihat heboh sendiri. Ia mengelap air matanya kasar kemudian memukuli pipinya sendiri. "Aku kuat. Aku tidak boleh mengeluh!" tambahnya.

"hffttt.. hahahaha! Kau lucu sekali! Ahahaha" Chanyeol tertawa melihat tingkah aneh lelaki yang beberapa detik lalu tengah marah – marah padanya, kemudian menagis, dan sekarang berteriak tidak jelas.

"aakh! aduh..aduh" Chanyeol merintih kesakitan ketika dirasakan luka di sudut bibirnya terbuka karena tawanya barusan.

"Ahahaha! Rasakan! Siapa suruh menertawaiku." Sekarang gantian Baekhyun yang menertawainya. Entah mengapa tawa Baekhyun selalu menular pada Chanyeol. Ia tersenyum kecil menatap wajah Baekhyun yang sedang menertawainya.

"Baek"

"Hm?" Baekhyun kembali menatap Chanyeol, ia mengusap sisa air mata di sudut matanya.

"Apakah sore ini kau ada sift kerja?"

"tidak.. sore ini aku kosong. Kenapa?"

"Ikutlah kerumahku, kita dengarkan sejarah dari kutukan ini." Baekhyun diam sejenak, memikirkan ajakan Chanyeol.

"Baiklah." Jawab Baekhyun mantap.

"Kalau begitu nanti sore tunggu di depan gerbang."

"OK." Jawabnya singkat.

"Ngomong – ngmong siapa yang kau tolong semalam?" Tanya Chanyeol sambil memakai topinya kembali.

"Huh? Itu teman kerjaku.. yang waktu itu kita temui saat kau minta traktir makan di sana." Jelas Baekhyun sambil merapihkan peralatan yang baru saja ia gunakan untuk mengobati luka Chanyeol.

"ooh.. gadis cantik itu?" Chanyeol mengangguk anggukan kepalanya "Lihatlah sebentar lagi pasti dia akan mengajakmu berkencan." Chanyeol bangkit dari posisi duduknya.

" huh? tidak mungkin.." celetuk Baekhyun sambil memukul ringan lengan Chanyeol.

"Mung-kin." Chanyaeol memberi penekanan pada suaranya "Dia pasti menganggapmu sebagai pahlawanya sekarang."

"ahaha pahlawan dari mana?" Baekhyun berjalan ke sudut ruangan untuk mengembalikan peralatan yang ia ambil dari kotak P3K. "Kalaupun dia mengajaku duluan, aku tidak bisa menerimanya."

"Kenapa?" Tanya Canyeol penasaran.

"Karena aku tidak tega melihatnya selalu khawatir melihatku hampir meregang nyawa tiap bulanya" Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun yang tengah sibuk merapihkan isi kotak P3K.

"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu."Ucap Chanyeol sambil mengacak – acak surai hitam lelaki yang tingginya hanya sebatas dagunya itu.

"Akh! Rambutku jadi berantakan!" sebelum kembali mendapat semprotan dari Baekhyun, Chanyeol sudah melenggang meninggalkan ruang kesehatan.

"Terimakasih" Ucap Baekhyun lirih dengan senyum manis di wajahnya sambil merapihkan tatanan rambutnya yang barusaja diacak - acak oleh lelaki jangkung penerus kerajaan korea selatan itu. Detik berikutnya, Baekhyun segera menyusul lelaki itu keluar dari ruang kesehatan.

.

.

-TBC-


Next chapter preview

"Baek?" Panggil Chanyeol karena ucapanya tidak kunjung mendapatkan respon. Saat Ia alihkan pandanganya pada posisi Baekhyun berada, rupanya lelaki itu tengah tertidur di atas kasurnya dalam posisi yang eerr.. tidak etis. Melihat hal itu Chanyeol hanya tertawa kecil.

"Pasti dia kelelahan."