.
.
Out of the Blue
==.==
DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY : Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
.
.Cerita mengandung unsur antagonis moral.
.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.
Wanita itu tak pernah menyadari. Jika ia tidak pernah bisa memahami.
Out of the Blue
.
"Tidak baik, bagi seorang wanita bersuami untuk menatap langit saat malam, seorang diri."
Mendengar suara itu, Sakura menolehkan pandangannya. Meninggalkan hamparan bintang yang tertabur di kegelapan langit dan menatap sang merah dalam pandanganya. Kemudian, menarik satu simpul tipis sederhana di wajahnya.
"Kazeya-san. Apa yang kau lakukan di sini?"
Balutan tipis gaun malam yang melekat ditubuhnya, ia tarik dalam nada sopan yang jelas terlihat mata. Membuat pria itu tersentuh nurani. Dan menampilkan senyum menggugah rasa.
"Maaf jika saya terkesan tidak sopan kepada anda nyonya. Tapi, Itachi-sama berpesan agar anda tidak menunggunya pulang malam ini."
Satu kalimat yang Sakura rasa mampu merusak keteguhannya malam ini. Sang suami, tak pulang. Tapi, meskipun ia merasa resah dan kesal. Sakura menutupinya. Dari pria di depannya.
"Terimakasih. Aku akan menelponnya nanti." ucapnya beralih pandangan dari Gaara, yang masih menetapkan tatapannya.
"Mungkin beliau akan berada di pesawat selama delapan jam lebih nyonya. Saya yakin esok pagi anda akan menerima kabar baik." Sakura kembali menoleh. Menatap Gaara yang sudah melangkah mendekatinya. Pria yang baik dan dewasa. Nyaris seperti Itachi.
"Baiklah, aku akan menuruti usulmu." Sakura tersenyum.
"Apa yang sedang dia kerjakan?" sambung Sakura, sambil memilih untuk duduk di bangku di tengah taman kecil rumahnya. Berusaha meruntuhkan segala kecemasannya tentang malam ini, tentang kabar Itachi tak kembali.
"Proyek besar. Meski Saya harusnya ikut bersama dengannya. Tapi beliau ingin saya menemani anda."
Dan yang tak Sakura duga, Gaara pun duduk di sampingnya. Menyelaraskan napas dengan hembusan angin dingin menusuk tulang.
Melihat Sakura yang bergeming menatapnya, membuat Gaara tersenyum gelisah.
"Maaf kelancangan saya-" gerakan bangkitnya terhenti saat Sakura lebih dulu mendahului.
"Tidak apa, duduklah. Ini sudah malam bukan? Jam kerjamu telah habis."
Meski kini wajah itu telah berlalu meninggalkan tatapannya, namun Gaara memahami, ada bekas yang tertinggal dalam hatinya. Sebab...
"Sakura."
Sakura menahan uraian rambut-rambut kecil yang menutupi wajahnya. Menariknya lembut dan mengumpulkannya di balik telinganya.
Gaara menoleh, namun hanya kesejukan dari wajah sang wanita yang ia temukan di sana. Ini pertama kali ia menatap wajah wanita itu sedekat ini. Dan ini jauh lebih menakjubkan dari apa yang pernah ia pikirkan sebelumnya. Seorang wanita berdua wajah yang misterius yang menjadi istri tuannya.
Ada senyum di sana. Senyum yang terbias dari merahnya bibir sang wanita.
"Sebab ini adalah musim semi." Lanjutnya tersenyum sambil menoleh dan mendapati Gaara tengah menikmati seberapa menakjubkan wajah itu. Dan dalam sedetik saja, ada sesuatu yang terjadi.
"Sakura." Bisiknya, si pria yang telah diam dalam detik.
"Siang ini, sebelum kembali ke rumah. Aku ingin bertemu dengan seseorang."
Gaara mengangguk paham. Dijaganya kemudi agar tetap seimbang dan selamat sampai tujuan. Mereka telah kembali, ke kota tempat tinggal.
Sakura menyimpan berkas terakhirnya. Laporan hipotesis. Jadwal operasi dan pemeriksaan yang harus ditelitinya untuk menyelaraskan dengan waktu miliknya, sebelum dikembalikan kepada perawat yang bertugas. Ini lumayan berat. Pasalnya Sakura harus menentukan kapan waktu yang tepat untuk menemui ibunya dalam minggu ini, dan itu bukanlah keadaan yang baik untuknya.
Hubungannya dengan sang ibu tak pernah akur. Pertemuan akan menimbulkan pertengkaran kecil dan berakhir dengan pengungkapan masalalu, kesalahan sana sini yang paling dibenci oleh Sakura. Untuk itu, ia butuh kakaknya. Setidaknya bertemu sang ibu ditemani sang kakak akan jauh lebih menguntungkannya.
Sakura menatap penanda waktu di atas meja kerjanya. Jam makan siang, baiknya segera beranjak merangkak ke tempat di mana sang kakak bertugas saat ini juga. Disambarnya tas jinjing miliknya. Melangkah pasti meninggalkan ruangan dan berlalu dengan sisa-sisa bunyi ketukan sepatu miliknya yang bergema disepanjang koridor sepi rumah sakit. Bunyi itu, tak begitu mengusik.
.
.
"Hari ini aku tidak bisa Sakura."
Mendengar keluhan itu, membuat Sakura frustasi seketika. Ia tidak meminta sang kakak datang menemuinya. Ia yang akan datang ke sana bukan? Seharusnya ini tak terlalu merepotkan sang kakak yang menyangkal ketersediaannya untuk bertemu.
Sakura tetap fokus pada kemudinya. Dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Dengan bantuan tangan kirinya.
"Setidaknya beri aku kesempatan untuk melepas rindu bertemu kakakku, apa itupun tidak boleh, nee-san?"
Sakura memutar kemudinya untuk berbelok. Ia paham, desahaan napas yang baru saja ia dengar di ponsel miliknya itu adalah desahan napas serba salah milik sang kakak. Tapi, Sakura masih berharap kakaknya bersedia.
"Kau ingin bertemu dengan kaa-san, kan?"
Tebakan yang benar. Tapi Sakura benci memberi pujian.
"Sampai minggu depan, dia akan melakukan kunjungan di beberapa kota. Dan sampai dia kembali, kau boleh membuat janji bertemu denganku, bagaimana?"
Sakura tersenyum tipis. Bukankah ini adalah hal yang ia inginkan? Tapi, tumben sekali kakaknya tak bisa diganggu kali ini. Ini berbeda dengan kakak kesayangannya.
"Apa-"
"Oh iya, apa laporan yang kulampirkan padamu sudah kau sempurnakan?"
Ucapan Sakura terputus disaat yang sama ketika kakaknya bertanya. Laporan hipotesis yang ia selesaikan dalam penelitian beberapa hari lalu. Sakura ingat itu. Dan telah dikembalikannya pada sang kakak.
"Apa jadinya, seorang dokter spesialis Andrologi sepertimu tanpa hipotesis dariku, nee-san?"
Jujur saja, Sakura rindu perasaan seperti ini dalam dirinya. Rindu, jenaka ringan yang timbul dari percakapan antara ia dan sang kakak yang nyatanya tak memiliki ayah yang sama dengannya. Tapi, Sakura sangat menyayangi kakaknya.
Sakura mendengar tawa kecil kakaknya di seberang sana.
"Kau sudah berlagak rupanya Sakura. Baiklah, kau yang terhebat."
Benarkan? Inikah indahnya memiliki seorang kakak?
"Tapi ..."
Sakura menggantung kalimatnya, saat ia mendapati matanya tak sengaja menatap samar seorang pria yang ia kenal menjadi teman tidurnya dalam ikatan pernikahan, menunjukkan dirinya di tempat umum yang Sakura sangkal sebagai tempatnya berkerja.
"Sakura, kau masih di sana 'kan? Kita lanjutkan pembicaraannya nanti, aku ada pertemuan. Aku mencintaimu, adik kecil."
Sakura tak lagi merespon nada putus di ponselnya. Ditepikannya kendaraannya dan mengikuti kemana arah Itachi melangkah dengan pandangan matanya. Sebuah hotel. Tapi, anehnya, itu bukan hotel elit berlatar belakang dunia kerja. Sakura bukan wanita bodoh. Pasti. Apalagi saat ia melihat Gaara hanya berdiam diri menunggu di luar, sedangkan Itachi tak lagi tampak dalam pandangan matanya.
"Itachi." Bisiknya tak terdengar.
Sakura berbaring dalam kepenatan perasaan. Itachi sudah kembali, dan siang tadi matanya memandang jelas sang suami. Tapi kenapa sampai sekarang, bahkan malam sudah akan berlalu sang suami tak juga datang padanya?
Sakura masih ingat pertengkarannya dengan Itachi sebelum pria itu pergi. Pertengkaran mahadahsyat yang entah bagaimana bisa meledak begitu saja.
"Aku tahu berapa banyak pria yang telah kau tiduri. Sakura."
Itachi menatap matanya tajam, menusuk jiwanya tanpa ampun. Membuat batinnya menjerit. Sebab ini pertama kali Itachi menatapnya dengan pandangan semembunuh itu.
Itachi pun, menahan luapan emosi di kepalanya untuk terkumpul dalam kedua kepalan tangannya. Rasanya, ingin saja menampar wanita itu sekali lagi, tapi ada sesuatu yang menahannya. Cinta.
"Yang aku tak tahu. Sudah berapa banyak pria yang telah kau jadikan ayah di luar sana."
"Itachi!"
Sakura gelisah. Air matapun telah mengering di wajahnya.
"Jaga bicaramu."
"Harusnya kau yang menjaga sikapmu! Menutupi dirimu dengan status terhormat, menjadi istri seorang Uchiha. Dimana rasa malumu saat kau bersama dengan pria lain yang akupun tak tahu itu siapa. Jawab Sakura!"
Mimpikah itu? Kalimat-kalimat kemarahan Itachi masih begitu jelas terdengar dalam ingatannya. Tatapannya, kemarahannya, emosinya, desahan napas yang tertahan saat berbicara padanya. Semua masih terlalu jelas untuk diingatnya.
Sakura membuka matanya, tak terasa sampai dalam tidurpun ia teringat akan amarah suaminya. Dan tanpa ia duga, sudah ada sosok pria itu di dalam kamarnya.
Itachi, mengeringkan rambut basahnya. Saat Sakura menoleh memandang mesin penanda waktu yang tak jauh dari pandangannya. Ini sudah dini hari.
"Kau baru pulang?"
Itachi tak menoleh. Diselipkannya handuk kecil itu pada tempatnya. Dan melangkah menuju almari tempat ia bisa mendapatkan pakaiannya. Mengabaikan sang istri yang sudah bangkit menatapnya.
"Itachi, aku bertanya padamu."
"Kembali lah tidur. Tidak usah memerdulikanku."
Begini lagi, apa mereka masih harus seperti ini? Sampai kapan? Bisakah dua orang yang sedang bertengkar, tidur dalam satu ranjang?
"Maafkan aku Itachi," mengalahlah Sakura. Buatlah pengakuan dosa dengan kerendahan hati yang membuat Itachi mau kembali memandangmu.
Langkah kecil Sakura terhenti tepat dibelakang pungung tak beralas suaminya. Harum sabun mandi dan shampoo yang menjadi ciri khas sang suami menjadi hal yang langsung ia rindukan.
"Apa aku harus berlutut untuk mendapatkan maaf darimu?"
Itachi menghentikan kegiatan mencarinya. Ia tidak suka mendapatkan perlakuan seperti ini dari Sakura. Tapi, sebelum pertengkaran ini terjadi. Telah ada satu siksaan yang mengikat jiwanya. Dan membuat Sakura menjadi pelampiasan kemarahannya.
"Pergilah tidur Sakura. Aku harus pergi lagi pagi ini."
"Pertemuan di hotel? Seorang diri." Sakura menarik senyum hampa di wajahnya. Ia sudah terlanjur kecewa. Apa rasa kecewa seorang wanita membuat mereka terlihat semenyebalkan ini?
"Itu bukan urusanmu."
Biarlah, saat ini badai itu datang lagi. Biarlah.
Jadi seperti inilah sakitnya rasa yang dialami Itachi. Tahu jika istrinya ditiduri oleh pria asing, namun menyamarkan rasa seperti tak pernah terjadi apa-apa. Sedang Sakura, melihatnya saja tidak, tapi prasangka itu sudah ingin membunuhnya. Maafkan aku Itachi.
"Itachi, jika kau tidak menjadikanku istrimu. Itu tidak akan menjadi urusanku."
Biarlah, kesucian pagi ini dicemari oleh pertengkaran antara mereka lagi.
"Sama seperti saat aku tidak mencampuri urusan nafsu istriku, harusnya kau pun begitu."
Dan kini Itachi sudah membalik badan dan menatap tepat ke dalam mata sang istri. Membuat keadaan menjadi semakin mencekam.
"Aku tidak ingin bertengkar Itachi." Tahan Sakura. Kau harusnya mengerti rapuhnya perasaan suamimu.
"Maka, pergilah dari hadapanku."
Sakura tak tuli untuk tak mendengar kalimat itu dari mulut suaminya, juga tak buta untuk kini melihat Itachi menunduk penuh penyesalan dalam matanya. Membuat rasa simpatinya muncul dan berniat menjadi istri yang baik hati demi sang suaminya kini.
"Itachi, haruskah aku berlutut padamu?"
Tanpa menunggu jawaban sang suami. Sakura mengatur posisinya, menumpu tubuhnya dengan kedua lututnya, sedang matanya menahan bening itu jatuh untuk yang keberapa kali.
"Maafkan aku." Bisiknya basah. Membuat Itachi tak kuasa mendekapnya.
Sakura menangis.
Kehangatan tubuh Itachi, kekhawatirannya dan rasa cinta suaminya membuat Sakura menangis. Dalam pelukan suaminya.
"Maafkan aku Sakura." Bisik pria itu nyata. Tak peduli jika kulitnya merasakan dinginnya pagi gelap. Tapi Sakura sudah cukup bisa menghangatkannya.
"Maafkan aku yang tidak pernah bisa membahagiakanmu."
Harusnya ia lah yang mengucapkan pengakuan sejenis itu kan? Lalu kenapa Sakura merasa sang suami memiliki dosa paling besar darinya?
"Maafkan aku yang sudah membuatmu menjadi milik orang lain."
Sakura menghusap pelan surai basah suaminya.
"Maafkan aku."
Dan kini memandang begitu intim wajah prianya. Airmata itu adalah pemandangan yang paling menyakiti hati wanitanya. Itachi berurai airmata.
"Sisakan maaf untukku, Itachi." Sakura mengusap basah itu dari wajah suaminya.
"Untuk istrimu-"
Dan sebelum ucapannya selesai, Sakura sudah mendapati bibirnya tersentuh oleh bibir sang suami. Memancing birahinya untuk membalas kecupan prianya.
"Aku merindukanmu."
Itachi mengangkat tubuh Sakura, meletakkannya lembut di atas ranjang milik mereka berdua. Ucapan rindu yang ia ucapkan tadi adalah ketulusan paling nyata dalam benaknya. Ia rindu Sakura, begitu rindu dengan istrinya.
Sakura menurut saat Itachi sudah menjalari tubuhnya dengan sentuhan-sentuhan hangat. Meski kecupan itu masih akan menjadi sangat panjang, namun tangan Itachi sudah bergerak liar melucuti pakaian sang istri helai demi helai. Perlahan, penuh dengan kelemahlembutan.
"Aku merindukanmu."
Kalimat yang sama yang Sakura dengar sebelum ia melihat suaminya menarik jatuh satu-satunya handuk yang melilit tubuhnya. Membuat Sakura terperangah.
"Aku akan membuktikan padamu jika aku bisa membahagiakanmu, Sakura."
Tatapan itu berbeda. Sakura melihat sisi lain Itachi muncul saat tatapan itu diterjemahkannya menjadi satu bahasa yang hanya ia yang mampu mengerti apa.
Sakura tak lagi sempat berpikir banyak, saat Itachi sudah memberikan beberapa cumbuan pada lehernya. Menjalar menguasai payudaranya. Membuat dirinya mendesah, mengerang nikmat meski ia tak begitu mengerti kenapa mereka melakukannya. Ini bukan seperti Itachi biasanya. Apalagi saat Sakura merasa jika Itachi kini sudah siap untuk memasukinya. Ini terlalu buru-buru kan?
"I-itachi.." Sakura berusaha untuk mengulur waktu. Jujur saja ia benci untuk mengakui bahwa permainan Itachi tak begitu menyenangkan untuknya kini.
Itachi tak menyahut, ditariknya kedua kaki sang istri, dan memasuki milik istrinya perlahan dengan miliknya. Membuat Sakura menutup mulutnya untuk menahan desahan yang keluar dari sana. Milik Itachi, memenuhi tubuhnya.
"Ahhh..." Itachi mengerang. Sensasi kenikmatan itu membuatnya lupa diri. Sakura, milik Sakura membungkus hangat miliknya. Begitu hangat dan hidup.
"Aku akan memulainya, Sakura."
Sakura mengangguk lemah, dengan mulut yang masih ia tutupi menggunakan tangannya. Milik Itachi mendesak tubuhnya. Sensasi yang begitu ia rindukan. Dorongan yang begitu ia inginkan. Itachi menyentuhnya. Membuatnya mendesah tak tahu malu sambil menyerukan nama suaminya.
"I-itachi... ahhh.. mmhh-" bibir Sakura berhenti mendesah karena Itachi telah menutup rapat dengan bibir miliknya. Membuat lidah mereka menari di dalam sana, basah, hangat, berlendir, dan membuat segalanya semakin nikmat. Dengan masih terus bagi Itachi untuk menguasai milik istrinya di bawah sana. Mendorong, menusuk, membuat Sakura kehabisan napas.
"Berbaliklah, Sa-sakura."
Itachi membantu Sakura bangkit dan membelakanginya. Membuat Itachi kembali menguasai lorong itu dengan dorongan lembut miliknya.
"Berapa kali kau melakukan hubungan seks dengan istrimu dalam seminggu?"
DEG!
Itachi merasakan sebuah dentuman keras menyerang dadanya sessat ia teringat akan kalimat yang pernah Kurenai ucapkan padanya.
Sakura masih menahan desahannya atas perbuatan Itachi padanya. Lambat laun rasa sensitif diseluruh bagian-bagian tubuhnya menguap, memberi sensasi yang menguras kesadaraannya, tahap demi tahap. Membuat jiwanya terbakar, kulit basah sang suami menyentuh kulit basahnya. Beginikah, pesona seks Itachi setelah sekian lama-
"Maafkan aku."
Kalimat itu, bukan kalimat diluar dugaannya. Meskipun ia sudah yakin kejadian seperti ini akan terjadi lagi. Tapi, tentu, setiap ini terjadi, hatinya akan merasa sangat menderita.
"Maafkan aku, Sakura. Aku benar-benar harus pergi."
Belum selesai. Belum berakhir.
Sakura, menutup wajahnya dalam empuknya permukaan ranjang. Menggigit bibirnya keras menahan ketidakberdayaan dan kesengsaraan batin.
Itachi melakukannya lagi. Sakura telah menyakininya sebelum ini terjadi.
Merasakan milik sang suami menghilang perlahan dari kehangatan kewanitaannya. Sakura mendesah dalam sayatan piluh. Bukan kenikmatan yang tak jadi ia rasakan yang ingin disesalinya. Tapi, kenapa Itachi harus memulai jika ia tidak pernah ingin mengakhirinya.
"Aku, benar-benar harus pergi Sakura."
Ya, pergilah Itachi. Pergilah sebelum Sakura sanggup mengangkat wajahnya untuk mengantar kepergianmu. Rasanya, ia tak lagi punya rasa malu yang cukup jika harus melakukannya, kan?
Sakura menatap dirinya dalam cermin. Malang. Inikah dirinya? Kasihan, seperti inikah ia selalu terlihat? Berusaha menutupi diri dengan dinding tertinggi yang selalu ia bangun dalam hidupnya. agar orang-orang tak melihat seberapa malang hidupnya. Kisahnya, takdirnya dan dosanya.
Sakura merapikan gaun tidurnya. Gaun tidur yang tidak terlalu tipis, tidak terlalu minim, namun terlihat cukup sempurna untuk menampilkan sisi wanitanya. Sisi wanita yang dikagumi pria-pria lain di luar sana.
Baru saja ia ingin melangkah meninggalkan ruang kamar, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Inuzuka Kiba.
"Selamat pagi, wanita yang tak pernah bisa kumiliki."
Sapaan hangat yang membuat kehinaannya semakin menumpuk. Pagi yang tak bisa ia syukuri untuk ia lewati. Sakura tak menjawab.
"Siang ini, aku ingin bertemu."
Masih tak ingin menjawab pria yang terlihat begitu merindukannya di seberang sana.
"Aku merindukanmu-"
Sakura langsung memutuskan panggilan di ponselnya sebelum melemparkan benda itu ke atas ranjang.
Kalimat rindu yang sama yang Itachi ucapkan padanya beberapa jam tadi dan itu membuat emosinya meluap. Persetan dengan rasa rindu. Ia sudah mulai muak dengan semuanya.
Sakura menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada di dalam kamarnya. Tubuhnya melemas jika harus mengulang satu persatu memori tujuh tahun dalam kepalanya.
Berulang kali ia menyangkal rasa penyesalan akan pernikahan dalam hidupnya. Tapi kali ini, untuk pertama kali dalam hidupnya Sakura memikirkan akan sebuah perpisahan.
"Hidup seperti ini, bukan impianku, Itachi."
Bisiknya dalam jengah. Diedarkannya pandangnya tanpa sengaja ke atas meja yang berada di hadapannya. Selembar kertas yang menjadi satu-satunya benda yang paling menarik pandangannya. Ditelisiknya satu persatu kata yang merangkai kalimat di sana.
"Kurenai?" ucapnya berbisik untuk dirinya sendiri.
Lembaran itu, Sakura yakini bukanlah miliknya. Lantas siapa? Apa ada orang lain yang sengaja memiliki lembaran ini selain suaminya, Itachi.
"Jadi, aku terlambat menyembunyikannya kah?"
Sakura berpaling ke asal suara. Itachi sudah berdiri dengan senyuman kepasrahan saat mendapati sang istri menemukan apa yang ingin ia sembunyikan. Terlambat untuk menyembunyikannya. Padahal Itachi sudah berusaha keras kembali ke rumah saat ia menyadari lembaran itu belum ia bereskan.
"Kurenai?" ulang Sakura menatap wajah Itachi penuh tekanan.
"Baiknya bagiku untuk jujur saat ini juga Sakura. Aku..."
Hening sejenak membuat jedah yang menyakitkan bagi Sakura. Lembaran itu, ia tidak peduli.
"Aku akan menggugat cerai dirimu."
Dan seketika, kegelapan menyelubungi pikiran Sakura.
"Aku menyesal."
Itachi melangkah memasuki kamarnya, membiarkan pintu itu terbuka. Pikirannya tak lagi ada di sana. Tak lagi peduli apa. Yang ia pedulikan kali ini hanya Sakura. Yang kini hanya memandangnya tak percaya.
"Tapi, aku menikah bukan untuk diceraikan Itachi!"
Sakura meremuk lembaran itu. Melemparnya tepat ke wajah Itachi. Matanya menghangat, mulai basah dan...
"Aku cacat, Sakura."
Jadi, inikah sebabnya Itachi tak pernah bisa mengakhirinya.
Lembaran bedebah yang Sakura paham apa isinya. Hasil pemeriksaan resmi dari rumah sakit tempatnya berkerja. Dokter bedebah mana yang berani mendiagnosa kemandulan suaminya.
"Hentikan Itachi!" Sakura menutup kedua telinganya histeris. Menahan tangisan di ujung lidahnya dan terduduk tak berdaya diposisinya.
"Hentikan. Aku mohon!"
Jeritan dalam hatinya berkumpul dan ingin segera ia tumpahkan. Seumur hidup, kenyataan ini yang paling dihindarinya. Kenyataan ini yang paling dibencinya. Meskipun ia pernah memikirkannya.
"Aku tidak akan bisa membahagiakanmu."
Jangan lagi Itachi. Beri waktu bagi Sakura untuk bernapas dalam kesesakannya saat ini.
"Pernikahan ini-"
"Diam Itachi! Diam! Persetan dengan lembaran itu. Aku tidak sudi bercerai denganmu!"
Itachi menahan kesedihannya. Bukan hanya Sakura. Ia pun sama. Sakura adalah wanita yang paling dicintainya. Wanita yang sangat ingin dibahagiakannya. Tak mungkin ia rela melihat kesedihan seperti ini dengan mata kepalanya. Hatinya pun sakit, lebih sakit dari apapun.
Didekapnya tubuh bergetar Sakura. Tangisan wanita itu semakin pecah.
"Kita akhiri saja Sakura." Bisiknya mengecup ujung kepala sang istri, atau lebih tepatnya wanita yang akan ia ubah menjadi mantan istrinya.
"Tetap bersamaku tidak akan pernah membuatmu bahagia."
Sakura masih terisak. Didekapnya Itachi penuh dengan sisa kekuatannya. Ia lemah. Sangat lemah. Ditumpahkannya semua tangisannya dalam dada Itachi. Mengerat kuat kedua lengan suaminya meski Itachi tahu itu menyakitinya.
"Aku... tidak mau Itachi. Aku... "
Sampai memohon pun ia tak lagi sanggup.
"Uchiha hanya memiliki Sasuke untuk meneruskan darah-nya, Sakura. Dan Sarada sudah tak lagi ada. Menikahlah dengannya. Itu keinginanku, memiliki darah seorang Uchiha dari rahimmu."
.
.
"Sarada, aku harap kelak ia bisa menjadi Uchiha yang bijaksana."
Sakura mendekap erat tubuh Itachi saat pria itu menimang Sarada kecil dalam dekapannya. Seperti ini kah sosok Itachi saat memiliki seorang anak kelak?
"Seperti pamannya." Bisik Sakura agar suaranya tak menganggu tidur sang putri cilik.
Itachi tersenyum.
"Apa aku bisa menjadikanmu seorang ibu Sakura? Rasanya aku sudah tidak sabar."
Sakura meraih tubuh mungil Sarada dalam dekapan Itachi, matanya begitu rapat terpejam. Tidur yang nyenyak. Diletakkannya tubuh mungil itu perlahan dan memandanginya penuh senyuman.
"Sedang kita usahakan." Bisiknya saat Itachi meraih tubuhnya dan mendekapnya hangat.
.
.
.
NB : Saya mau menyombongkan diri sejenak.
Saya gak punya waktu untuk nulis lagi. Benar-benar gak punya waktu. Bahkan untuk delusipun gak bisa lagi. Jadi maaf kalau tulisan saya jadi hancur lebur, kurang diksi dan segalanya.
Buat semuanya yang sudah baca. Terimakasih.
