Shoot Me!

Bagian sepuluh.

.

.

.

.

.

Lonceng bergoyang diterpa ayunan pintu, mengirimkan gelombang suara cukup nyaring untuk menyadarkan pemuda dengan surai coklat madu itu dari kegiatannya membersihkan beberapa kelopak bunga yang berjatuhan diatas lantai toko.

Seorang lelaki dengan seragam yang dikenalinya. Kurir jasa pengantar paket. Raut wajahnya agak sulit untuk dibaca. Diantara bingung dan terkejut.

Ia tersenyum, memilih tidak ambil pusing. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya mengirimkan paket," si lelaki menggantung kalimatnya. Sebelum sebelah tangannya terisi sebuket bunga segar dengan perpaduan warna yang apik dan hampir semuanya bunga yang ia sukai, "..se-buket bunga."

"Ah." Buket bunga?

"Silahkan tanda-tangani ini." Gulungan nota diulurkan padanya bersama sebuah bolpoin.

"Terimakasih."

Pemuda itu terdiam, se-buket bunga yang dikirimkan ke toko bunga terdengar agak janggal.

Lonceng berbunyi nyaring sekali lagi. Kali ini nampak tubuh jenjangnya yang keluar tergesa, namun seseorang yang dicarinya sudah menghilang berbaur dengan ramainya jalan. Hanya sehelai bunga yang terjatuh diatas batu jalan, tempat lelaki pengantar paket tadi memarkirkan motor bawaannya.

Ia mendesah, kecewa.

Kembali membawa tubuhnya masuk ke dalam toko. Dipandanginya buket bunga tadi. Memang didominasi warna putih, beberapa kuning, dan merah jambu. Hatinya tergelitik untuk tahu siapa gerangan orang yang mengirimkan paket? Salah kirim 'kah? Tapi tidak mungkin.

Rasanya ada yang aneh. Kenapa si kurir pengantar bunga itu tidak bilang buket bunga ini ditujukan untuk siapa? Kalau benar-benar salah bagaimana? Ceroboh sekali.

Buket bunga yang dikirim ke toko bunga saja sudah jelas-jelas salah sasaran!

.

.

.

.

.

Sehun menyusuri jalanan yang ramai sore itu. Seoul adalah kota 24jam sama seperti Tokyo dan kebanyakan kota di Negara bagian barat. Lampu-lampu toko dipinggiran jalan yang berbeda warna kadang menjadi hiburan tersendiri. Tujuannya adalah cafe tempat Baekhyun bekerja paruh waktu sebagai penyanyi. Ia sudah mulai terbiasa dengan rutinitas kuliahnya dan kerja paruh waktu. Setidaknya ia bisa meluangkan waktunya untuk mengunjungi si strawberry dan kekasihnya itu disana.

Karena matahari mulai terbenam, dan bulan sebentar lagi akan duduk disinggasananya. Sehun sengaja mempercepat langkah, menyatu dengan para pejalan kaki yang lain.

Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti. Kepalanya berputar seperti piringan hitam, ketika nostrilnya menangkap sebuah aroma yang begitu dikenalnya. Matanya membelalak terkejut, memastikannya sekali lagi diantara ribuan aroma yang berbaur bersama udara malam. Tubuhnya berbalik, menemukan seseorang dengan kemeja putih yang baru saja melewatinya tengah berjalan tak jauh dari tempatnya terpaku terbawa masa lalu. Tapi, orang itu adalah wanita.

Sehun tersenyum masam ditempatnya berdiri. Apa rasa rindunya sudah tidak dapat menunggu lagi, ya?

.

Alunan musik berjalan merambat memasuki telinganya. Suara merdu khas sahabat baiknya sejak masih cengeng itu membuatnya tersenyum senang. Ia mengambil sebuah tempat dipojok ruangan cafe, meletakan barang bawaannya diatas meja. Pandangannya jatuh pada dua manusia yang selalu berhasil membuatnya iri setengah mati. Yang satu dengan gitar klasiknya, satunya lagi dengan mic sewarna rambutnya. Duduk santai diatas panggung kecil. Rasanya berbeda sekali dengan Baekhyun waktu pertama kali duduk disana.

Sehun menopang dagunya, nyengir tak bersalah saat pandangannya bertubrukan dengan si artist diatas panggung.

"Hah mereka serasi sekali, sih!" Ia bergumam pelan. Memajukan bibirnya. Rasanya iri, cemburu, tapi juga bahagia. Tau 'kan Chanyeol itu teman Jongin. Dengan kata lain Sehun lah cupid Baekhyun. Kalau dia tidak kenal Jongin mana bisa Baekhyun bertemu Chanyeol.

Dalam hati meratap, kenapa jadi dia yang menderita begini? Apa cupid Sehun itu banyak berdosa ya, sampai-sampai dewa fortuna malas dekat-dekat.

.

.

"Jadi, seharian kemarin kau keluar hanya beli keperluanmu saja?" Baekhyun bertanya dengan alis terangkat. Meskipun sudah tidak lagi remaja, mereka masih tetap tidak berubah. Yang berubah cuma satu. Warna rambut keduanya. Baekhyun tetap dengan rambut jelaganya. Sehun dengan rambut sewarna madu.

"Habis, aku bingung sih!" Sehun merengut. "Kau juga sok sibuk tidak bisa menemaniku."

"Kau bukan anak kecil lagi tau! Aku 'kan juga harus kerja paruh waktu! Memangnya kau yang dari dulu masih begini-gini saja!"

Sehun mendesah. Bahunya turun sejengkal. Kepalanya terjatuh lunglai. Dengan efek gelap garis-garis, Baekhyun disampingnya berjengit mendadak tidak mengenal Sehun.

"Warna rambutku berubah kok!"

Rahang si pemuda strawberry jatuh ditelan grafitasi, kata-katanya sama sekali tidak cocok dengan aksen pengucapannya.

"Aku juga kerja paruh waktu!"

Baekhyun makin berjengit. Kok dia tidak tau ya?

"Dimana?"

Sehun mengangkat wajahnya, "di toko bunga dekat stasiun."

"Benarkah? Kenapa aku tidak diberitahu?"

"Baru seminggu."

"Tapi," Baekhyun berdesis, "kok bisa ya?"

"Baek." Sehun poker face.

.

.

.

.

Bulan berganti, ketika angin musim gugur yang mulai berangsur terasa dingin menusuk tulang. Berhelai-helai daun kering berhembus melayang di udara mengikuti arah angin. Berakhir tertarik untuk bergabung dengan beberapa kawannya yang tergeletak tak berdaya di bawah kaki-kaki para pejalan.

Suasana musim gugur selalu sama, tenang.

Biasanya setiap musim gugur Sehun selalu menyempatkan diri untuk datang ke festival. Namun, sekarang saat semuanya sudah mulai berubah karena kesibukan masing-masing Sehun mulai melupakan kebiasaannya itu. Sejak Baekhyun dan kekasihnya kian serius dari hari ke hari, Sehun merasa tidak lagi punya ruang se-istimewa dulu. Rasanya ia tidak bisa lagi berlarian sesukanya dulu.

Apalagi, jam kuliahnya yang padat ditambah kerja paruh waktu, tugas yang terkadang tak digubrisnya. Semakin dewasa hidup terasa semakin berat saja. Dia jadi merasa berdosa pada Ayah dan Kakaknya. Kalau dia yang sekarang ini melihat dia dimasa lalu, entah mau di taruh dimana mukanya.

Mantel yang berbulan-bulan kemarin berdebu tak terpakai didalam lemarinya malah jadi penghuni mesin cuci. Angin musim gugur itu ganasnya membawa serta debu jalan dan dedaunan kering. Kadang beberapa masuk ke dalam mata.

Tetapi, Hari itu terlalu sibuk untuk dapat dikatakan setenang musim gugur. Pejalan kaki yang silih berganti setiap detik. Jalanan kota yang dijejaki derit panas ban kendaraan. Diujung jalan tepat pada persimpangan, beberapa pedagang menjajakan barang dagangan mereka. Pusat perbelanjaan murah, itu dipenuhi lautan manusia. Berisik dari satu orang ke orang lainnya, bergema didalam gendang telinganya. Rasanya seperti ingin tuli saja. Kalau saja tidak ingat sopan santun sudah ia bekap mulut orang-orang itu.

Hujan pandangan matanya jatuh pada pedagang permen kapas tak jauh dari tempatnya berdiri. Begitu mendongak, ia terperangah. Baru kali ini dia lihat pedagang permen ganteng gitu. Jadi, pengen nikung. Abis si doi ngga pulang-pulang sih! Ditawar tiga tahun aja tetep keukeuh pengen empat tahun. Sehun tertawa dalam hati, terkadang menghibur diri sendiri juga perlu.

Pepatah romansa mengatakan padanya, Kesetiaan adalah kunci kesuksesan sebuah hubungan, setelah kejujuran.

Setelah mendapatkan permen incarannya, ia berteduh dibawah pohon rindang, mengistirahatkan kakinya.

Sehun mendongak melihat burung-burung yang terbang bebas. Kepalanya bersandar pada batang pohon dibelakangnya. Sambil menarik napas dalam, ia berdecak pelan. Suara bising masih saling sahut tiada henti.

Kalau diingat-ingat sudah hampir empat tahun, sih. Katanya, setelah empat tahun dia yang ditunggu akan pulang. Entah kenapa jantungnya jadi berdebar. Rasanya debarannya sampai mengetuk-ngetuk dadanya, terasa sampai luar saat telapak tangannya berjejak disana.

Semuanya sudah banyak berubah. Apa dia juga berubah ya?

.

.

Waktu itu, satu hari diempat tahun lalu. Ia hanya diminta untuk menunggu. Ia tidak pernah mengunjunginya setelah itu. Pesan burung yang didapatnya dari Yifan hanya sebuah permintaan yang sama. Agar ia tidak mengingkari janjinya.

Jauh sekali, ia merasa risau. Benarkah yang dilakukannya ini?

Kalau ia tak kembali, entah bagaimana dirinya nanti.

.

.

.

.

.

Tangannya bersidekap, matanya menyipit bak detektif di hadapkan pada teka teki yang hampir tersusun. Kepalanya miring ke kanan. Menatapi sekali lagi buket bunga menyambangi toko bunga tempatnya bekerja. Seminggu setelah kiriman bunga pertama datang bulan lalu, ia sudah bertanya pada pemilik toko. Tapi hanya gelengan kepala yang didapatnya.

Kurang kerjaan.

Tidak tau ya, kalau tempat ini juga toko bunga? Mengirimi bunga ke sini sama saja dengan mengibarkan bendera perang. Bisa berdampak pada menurunnya nilai jual!

Lagipula siapa orang aneh yang mengirimkan bunga sampai dua kali ke tempat yang sama tanpa pengirim dan penerima. Mau bikin Sehun pening ya?! Atau orang itu kelewat bodoh?

.

.

"Kiriman bunga tanpa penerima?"

Sehun mengangguk, "aneh ya? Kurirnya tidak bilang untuk siapa dan menolak bilang dikirimkan oleh siapa."

"Penggemar rahasiamu, mungkin."

"Tidak ada hal seperti itu, Baek." Sehun mendengus menyeruput vanilla milkshake di tangannya.

"Mungkin saja 'kan? Kau terlalu apatis dengan kehidupan asmaramu, sih! Sensitif sedikit dong."

Sehun mengendikkan bahunya malas. "Tidak sempat pikirkan hal begitu."

Baekhyun mendengus ditanggapi sedingin kutub oleh sahabatnya itu. "Sehun."

"Hm?"

"Lelah tidak?" Raut wajah Baekhyun berubah.

"Huh? Lelah apanya?"

"Lelah tidak hatimu... menunggu lelaki itu kembali?"

.

.

Lampu penyebrangan masih berwarna merah saat Sehun sampai disana. Setelah pertemuannya dengan Baekhyun di cafe itu entah kenapa tubuhnya terasa begitu lelah. Pandangannya hanya terpaku pada kerikil batu jalan. Berkali-kali menghela napas. Saat beberapa orang menerobos bahunya. Barulah ya tersadar.

"Tidak lelahkah hatimu menunggunya, Sehun?"

Suara Baekhyun terngiang. Langkah Sehun terhenti. Refleksi orang-orang yang berlalu lalang menjadi sedikit kabur di matanya. Pelupuk matanya terasa berat. Sampai kedipan kecil pada kelopak matanya memaksa bulir air terjun membuat jejak dipipinya yang dinodai rona merah.

Sehun menangis dalam diam. Ditengah keramaian kota.

Sakit sekali rasanya, Jongin.

.

.

Rintik hujan perlahan-lahan mulai membasahi jalan. Beberapa orang berlarian dengan tas dikepala mereka. Beberapa lagi memilih berteduh atau jika beruntung mereka menerobos hujan tanpa takut dengan payung ditangannya.

Deja vu.

Hujan selalu mampu membawa kembali masa lalu. Masa lalu yang terasa menyenangkan dahulu namun terasa getir dirasakannya sekarang. Hatinya membuncah penuh kerinduan, menyaksikan halte itu masih sama seperti empat tahun lalu. Tempat yang menjadi saksi bisu kenekatan Sehun saat remaja. Dan ia merasa malu mengingatnya sekarang. Hari itu juga hujan.

Ia memejamkan matanya sesaat, menghirup aroma tanah basah yang menenangkan.

Tubuh setengah basah itu berjalan pelan, menyusuri setiap kamar dengan hati berdegub. Setiap detaknya menghantarkan ribuan listrik ke sekujur tubuh, membuatnya tergelitik.

Langkah kakinya terhenti,

Kamar dengan papan nomor sembilanpuluh empat. Penghuninya mungkin memang bukan lagi orang yang sama. Aroma yang memenuhi ruangan mungkin juga bukan lagi aroma yang sama. Namun, kenangan itu entah kenapa selalu menjadi titik baliknya.

Sehun mengulum senyum tipis, menggapai badan pintu.

Ia selalu datang setiap kali merasa rindu, selalu berdiam diri disana saat merasa mulai ragu. Selama empat tahun. Tanpa kepastian.

.

.

Dahulu ia bertanya-tanya, mengapa Jongin harus pergi tanpa kepastian akan kembali atau tidak? Kenapa dia harus pergi tanpa menjelaskan apapun padanya? Kenapa dia begitu egois?

Ia ingin berteriak padanya, ingin tau apa alasannya.

"Alasan mengapa ia bersikeras mengambil beasiswa kedokterannya disana adalah untuk membalas budi ayah yang telah membesarkannya sejak orang tuanya meninggal. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan ibu."

Jongin tidak pernah bilang. Ia tidak pernah mengatakan apapun tentang dirinya. Sehun tak pernah tau apapun tentang Jongin. Tak sedikitpun.

Padahal lelaki itu sejak dulu selalu memperhatikannya dari kejauhan. Selalu memandanginya dalam diam. Selalu diam-diam memberikan hadiah dihari ulangtahunnya.

Sehun tidak tau itu, sebelum Yifan menceritakannya. Jongin tak membiarkannya tau tentang hal itu.

.

.

.

.

.

Hari terus berganti. Silih berganti seperti lembaran dalam sebuah buku. Tapi pemandangan disetiap pagi terasa sama saja. Sehun melangkah, berbaur bersama diantara yang lainnya. Minggu-minggu lalu terasa sedikit berat untuknya. Banyaknya tugas dan pikiran setidaknya berhasil mengganggu kinerja otaknya. Sehun menghela napas berat, jam kuliahnya baru saja usai. Ada sedikit waktu sebelum jam kerjanya dimulai. Dan di sanalah dia, menyesap segelas minuman dingin kesukaannya sejak masih ingusan. Sudah lama sekali rasanya tidak menikmati waktu luangnya begini.

Biasanya kalau tidak membuat janji bertemu dengan Baekhyun, dia sengaja mencari kesibukan sendiri. Lamunannya tersadar ketika seorang pelayan nampak berdiri di depannya dengan sebuah nampan di atas tangannya. Meletakan lagi segelas bubble tea di atas meja tepat di hadapannya. Sehun mengeryit.

"Eh—"

"Ini khusus ditujukan untuk anda, Tuan."

"Eh— tapi aku tidak pesan."

"Seseorang meminta saya untuk memberikannya padamu. Maaf, saya permisi dulu. Silahkan dinikmati."

Sehun blank. Dipandanginya gelas plastik di hadapannya lamat-lamat. Sebelum tangannya menyambar cepat baju si pelayan. Ragu-ragu ia bertanya. "Dimana orang itu?"

"Sudah pergi beberapa menit yang lalu."

"Benarkah?" Diam-diam hatinya merasa kecewa. "Bagaimana perawakannya?"

"Seorang pria dengan tubuh tinggi dan rambut gelap."

Seorang pria?

"Ah, baiklah. Terimakasih." Air wajahnya berubah. Pikirannya melayang. Firasatnya berkata orang ini adalah orang yang sama dengan Si pengirim bunga. Tapi, fakta bahwa dia adalah seorang pria, membuat Sehun sedikit terganggu. Andai saja ia memperhatikan sekitarnya tadi..

.

.

.

.

.

Sehun berlari terburu-buru, merobos beberapa pejalan kaki. Napasnya tersengal begitu sampai di depan pintu toko. Lonceng pintu terbuka. Menampilkan seseorang dengan seragam yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Dahinya berkerut, lagi-lagi kurir jasa pengiriman paket. Ia hanya menunduk sopan. Kemudian berlalu bersama motornya, diikuti pandangan mata Sehun. Ia memiringkan kepalanya, bingung. Mau apa lagi pengantar paket itu?

"Sehunna? Kau baru datang?"

Sehun tersenyum, "maaf, aku terlambat."

"Ah tidak apa-apa. Kau sudah mau membantuku menjaga toko saja sudah cukup. Apalagi aku hanya membayarmu sedikit."

"Ah, karena pekerjaan ini cocok dengan jurusan yang aku ambil. Jadi, bibi tidak perlu pusing tentang bayarannya."

Bibi pemilik toko tersenyum, sambil merapikan beberapa tangkai bunga di seberang counter.

"Ah iya, bi. Tadi, pengantar paket itu—"

"Ah! Hampir lupa! Ada kiriman paket untukmu. Ini."

Eh.

"Buket bunga?" Alisnya terangkat. "...Lagi?"

"Eh? Lagi? Apa sebelumnya ada kiriman bunga juga?"

Sehun mengangguk. Menunjuk dua buket bunga yang sudah ia letakan di dalam vas berisi air di atas meja pojok ruangan.

"Apakah.. Bibi yakin, bunga ini bukan ditujukan untukmu?"

Wanita itu menggeleng, "tidak kok. Pengantar paket tadi bilang ini untuk seseorang bernama Oh Sehun."

Mata Sehun terbelalak, "Bibi, apa Bibi bertanya tentang pengirimnya?"

"Entahlah, tapi dia bilang seorang pria yang mengirimkannya. Hanya itu saja."

Seorang pria...?

"Aku ada urusan setelah ini, Sehunna. Tolong jaga tokonya ya?"

Sehun mengangguk, dengan pikirannya yang melalang buana mencari petunjuk. Beberapa jam kemudian, setelah ia tertinggal sendirian di dalam toko, kegiatannya selama berjam-jam hanya memandang lurus ke arah tiga buket bunga dengan berpangku tangan. Dalam hati menerka-nerka, siapakah gerangan yang mengirimkan ketiga bunga itu? Benarkah penggemar rahasia? Tapi, masa laki-laki, sih! Sekali-kali 'kan Sehun juga ingin di sukai oleh gadis cantik.

Namun, entah kenapa jauh, jauh sekali di dasar hatinya, ia berharap, harapan yang hampir terlihat samar dimakan waktu, harapan yang hampir hilang ditelan keraguan, harapan yang selalu dikuburkan dalam-dalam dilubuk angan.

.

"Permisi."

Sehun berbalik, "ah! Ada yang bisa saya bantu?"

"Bisa tolong rangkaikan se-buket bunga?" Laki-laki muda itu tersenyum.

"Untuk kekasih anda?" Sehun balas tersenyum.

Lelaki dengan pakaian kasual itu mengangguk. Melihat-lihat sekitar, menunggu Sehun menyelesaikan rangkaian bunganya.

"Ah!"

"Ada apa, tuan?"

"Bisa tolong rangkaikan yang seperti itu?" Lelaki itu menunjuk ke pojok ruangan, dimana Sehun meletakan ketiga buket bunganya.

"Eh? Tapi, biasanya wanita tidak begitu menyukai rangkaian yang terlalu simpel seperti itu." Sehun menoleh kebingungan.

"Benarkah? Tidak apa-apa. Rangkaikan saja yang seperti itu."

"Ah, baiklah."

.

.

.

.

.

Hari itu angin berhembus kencang, musim gugur masih berada dipuncak, seluruh jalan dipenuhi dedaunan kuning yang terjatuh dari tangkainya. Mereka dibiarkan saja memenuhi jalan. Bunyi 'krek' khas dedaunan kering yang terinjak, menjadi biasa terdengar. Terkadang beberapa terjatuh di atas kepala.

Suasana musim gugur memang seharusnya seperti itu. Kalau musim semi itu, seperti jatuh cinta. Maka musim gugur, terasa melankolis, seperti putus cinta.

Kesehatan Sehun mulai terganggu sejak suhu udara semakin dingin. Sudah menjadi rahasia umum, jika Sehun tidak pernah bisa berdamai dengan suhu udara dingin. Kulitnya yang terlalu putih terkadang di hiasi rona merah dimana-mana. Karena, ia sudah mulai mandiri sejak semester 2 kuliahnya, ia tidak bisa lagi mengadu pada kakak atau ayahnya.

Ia bahkan tidak lagi tinggal di rumah besarnya. Demi kelangsungan hidupnya, kini ia menempati sebuah apartemen yang tidak terlalu besar di dekat universitas.

Sehun pikir, ia akan mengunjungi Baekhyun sore nanti. Rindu juga tidak bertemu dengannya, karena mereka berada di fakultas dan jurusan yang berbeda, kok rasanya jadi susah sekali bertemu dengan si pendek itu.

Sehun menghela napas. Membuka pintu apartemennya. Pandangannya tertuju pada kakinya saat menyadari sesuatu terinjak. Tubuhnya menunduk, meraih sebuah amplop sewarna kambium. Alis mengeryit, kepala miring ke kanan, membolak-balik surat ditangannya. "Apa ini?"

Sehun berjalan masuk, sambil berusaha membuka amplopnya. Rasa-rasanya dia yang jarang dapat surat, jadi aneh kalau menerima kiriman surat. Hatinya 'kok jadi berdebar begini?

"Apa ya?"

.

Apa kau merindukanku? —kim jong in.

.

Matanya terbelalak, jantungnya berdebar. Ranselnya dilempar asal, terbentur tembok. Kakinya melangkah kalap keluar dari apartemen.

Dimana dia? Dimana Kim Jong In!

Ia rapalkan doa, Tuhan kumohon.

Sehun berlari diantara manusia yang sibuk diatas trotoar. Kepalanya menoleh cemas. Bola matanya berputar sibuk. Berharap Jongin masih disana. Berharap Jongin belum pergi jauh. Terlalu banyak harapnya, terlalu banyak tanyanya.

Lelaki itu harus menjawab semuanya.

Lelaki itu harus tau risaunya.

Dia harus tau.

Napasnya tersengal, tungkai kakinya terlalu lelah mengikuti keinginan hatinya. Angin terlalu kencang menyapu wajahnya. Sehun menggigit bibirnya. Mengusir gundah yang menyesaki dadanya.

Beberapa daun kering terjatuh tepat di atas kepalanya. Surainya menari bersama angin. Dengan langkah pelan, kembali disusurinya jalan di bawah kakinya. Namun, tak satupun petunjuk yang ditemuinya. Apa maksudnya? Kenapa Jongin hanya menulis hal retorik semacam ini? Kenapa?

Hatinya hanya dibuat berdebar tak terkendali kemudian dihempas bersama jutaan air hujan tenggelam di dasar laut.

Tak taukah dirinya, bahwa Sehun bahkan merindunya sampai setengah gila?

Garis bentang kejinggaan di kanvas langit, menyadarkannya.

Langkah Sehun terhenti. Teringat sesuatu.

"Bunga itu—"

.

.

.

Ruangan itu sedikit gelap. Hanya cahaya sore hari yang diam-diam menelusup lewat jendela toko. Hari itu toko diliburkan. Sehun yang diberikan akses kunci duplikat bersyukur. Entah bagaimana jadinya kalau harus menunggu sampai berhari-hari lagi.

Didekatinya jejeran bunga yang pernah dikirimkan padanya, sebelumnya ia tak menyadarinya. Ia tak pernah memperhatikan bunga bunga itu.

Alasan mengapa bunga itu sebagian besar adalah yang ia sukai.

Jongin, sungguh sudah berapa lama ia memperhatikanku!

Dan ketika sesuatu yang sedikit dingin tersapa kulitnya, ia tertegun. Itu, sebuah cincin yang terselip diantara batang bunga.

Ditariknya benda itu keluar, air matanya menetes. Terukir namanya dalam romaji dibagian dalam cincin itu.

Menyesal. Mengapa tak ia temukan benda ini lebih cepat.

.

.

.

.

.

Hari semakin sore ketika Sehun berjalan gontai saat keluar dari dalam toko. Matanya lelah, kedua tangannya dipenuhi buket bunga. Menghembuskan napas dalam, sebelum menjejaki batu jalan untuk membawanya kembali ke rumah. Ia tidak akan pulang ke apartemen. Ia ingin sekali kembali ke kamarnya. Ingin sekali bertanya pada Yifan. Ingin sekali.

Yifan selalu tau semua hal lebih dulu darinya.

Pepohonan bergoyang, dedaunan yang tak lagi punya daya untuk bertahan berhamburan terbawa gravitasi. Ia berkelana, bersama empasan angin yang membawanya kesana kemari, layaknya dedaunan kering.

Entah ke arah mana anginnya berhembus. Hanya satu yang dipintanya, jangan jauhkan ia dari seseorang yang dirindukannya.

Suara khas perlintasan kereta api terngiang, berdiam di dalam kepalanya. Ia tak peduli. Angin kencang terhembus, ketika si kuda besi berkecepatan tinggi itu melintas. Rambutnya beterbangan tak beraturan. Beberapa debu dan remah daun ikut terseret mengikuti angin. Tak ada siapapun disana.

Suasana kembali hening, kereta itu telah berlalu. Hanya tertinggal Sehun dengan nyanyian burung di atas bersama kapas dan birunya langit. Berduyun-duyun kembali ke sarangnya. Langit berubah jingga, seperti warna monokrom, tembok rumah, tiang listrik, perlintasan kereta.

Sehun mendongak hendak melangkah.

Dalam bias cahaya sore, ia melihatnya. Berdiri di seberang sana sambil menatap dirinya. Matanya membelalak, bibirnya bergetar. Debar dadanya menggila, menghajar rusuknya serasa ingin patah. Dingin pada pipinya bertambah dingin saat tanpa sadar dua belah pipinya telah basah dihujani matanya.

Sekali lagi angin berhembus bersama rintik hujan, memaksanya tinggal di masa lalu. Membawanya pada nostalgia gila yang tak ada habisnya. Menenggelamkannya pada harapan dan doa yang tak pernah berhenti. Memakunya hanya pada satu nama.

Dia Kim Jong In, seorang penjahat yang dengan tak berperasaan membawa serta jiwanya pergi. Mengombang-ambingnya dalam ketidakpastian. Memperdengarkan padanya sebuah kefanaan.

Ia ingin berikan sebuah tamparan pada wajahnya. Namun, hatinya selalu mengingkari dirinya.

Dalam langkah yang terbata, ia menyongsong Jongin. Ditengah tangis yang kian menjadi, ia menariknya dalam sebuah rengkuhan erat. Biar Jongin tau, sampai seberapa dalam perasaan Sehun untuknya. Ia harus bersedia menyelami dalamnya lautan untuk menemani Sehun.

"Aku pulang."

.

.

.

.

.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

(Aku ingin)

.

.

.

.

.

END.

Beberapa credit harus saya sertakan. — Scene diperlintasan kereta api itu, saya terinspirasi dari anime, apa ya judulnya, kalo gasalah sih Your Lie in April, scene galau si arima kousei setelah ditinggal mati. — Puisi, dengan judul Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono. Yang suka sastra pasti tau. Itu puisi yang dari dulu selalu mekar dihati saya #eaaa — Sama satu lagi aslinya gini,

Dan aku berkelana, bersama empasan angin

Yang membawaku kesana kemari

Seperti sebuah daun kering.

Nah itu pokoknya. Saya pernah baca disuatu buku, tapi saya lupa penciptanya.

.

Curhatan Author: Long time no see~

Maafkan, mungkin saya ngaretnya keterlaluan, tapi saya tepatin janji saya buat nuntasin FF ini. Karena post buru-buru dan ga diedit lagi, maap ya kalo ada typo. Ini sumpah gaje sangat. Ini scenenya galau gitu. OOC bgt sama alur cerita sebelumnya. Kenapa saya cut disitu? Karena segala sesuatu tidak berakhir happily ever after #ditabok

Makasih buat semuanya yang repot-repot review, alert, PM, saya bener-bener tersanjung. Saya mungkin ga pernah bales review, tapi biar saya ama Tuhan aja yang tau. XD

Dunia mono saya berubah setelah mulai nulis, rasanya dapet reward berupa komen dari reader itu kaya dapet undian mobil di tipi. Senengnya luar biasa. Itu penghargaan terbesar seorang author.

Kalian bener2 seperti napasnya seorang author.

Pokoknya diamanapun kalian, lebih tua atau lebih muda atau seumuran saya, makasiiiiiihh bangeet !

Udah lama banget saya memnustuskan mau berenti, tp krna masih punya tanggungan. Jd belum terlaksana. So, Saya pamit. Dadah~

Tamu:

Silahkan kamu mengkritik tindakan saya ini, tapi tunggu, setelah saya jawab omongan kasar kamu. Besok-besok kalo mau komen gitu coba pake akun deh, jadi saya bisa langsung kasih jawaban lewat pesan. Jadi, jangan marah saya kasih balesan lewat sini. Tapi, makasi saya dikasi kritik. Untuk semua pertanyaannya, saya iyain aja. Silahkan nethink. Mungkin bagi kamu yg prasangkanya udh buruk duluan ke saya, ga guna ya omongan saya.

Tapi, asal kamu tau, saya bener-bener marah lho kamu seolah-olah merendahkan saya yang berterimakasih sama reader! Helo, emangnya kamu siapa? Tuhan? Yang tau apa isi hati saya? Emangnya kamu siapa? Kritik aja masih mental tempe ga login? Cie.

Jangan kabur, saya ngga gigit. Saya ga berharap kamu baca sih.

.

.

.

Kasih saya waktu, buat bikin epilog. Biar gaada lagi tamu (2), tamu (3)...