OH YURI PRESENT:
Son of Aphrodite chapter ten (Kesalahan keturunan Tiga Besar)
Cast:
-Byun Baekhyun as Son of Aphrodite
-Park Chanyeol as Son of Zeus
-Oh Sehun as Son of Poseidon
-Kim Jongin/Kai as Son of Hades
-Kim Jongdae as Son of Athena
-Xi Luhan as Son of Ares and other.
Genre:
Fantasy, Romance, Drama, School-Life
WARNING!
YAOI, BL(Boys Love)!
If you dont like YAOI, my cast, or my pair, you can close this page, thanks.
Also, Typo(s) and Age-Switch
..
..
..
..
..
Akan ada Upacara Penyembahan dua minggu lagi, bertepatan dengan matinya bulan ke delapan. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, tiap-tiap kelas akan berebut kesempatan menampilkan penampilan mereka yang akan ditampilkan di awal upacara pada audisi seminggu nanti. bedanya, jika dulu mereka akan melaksanakan audisi dengan anggota per kelas, tahun ini akan dilakukan secara berkelompok. Mengingat tahun ini Demigod yang ada semakin sedikit.
Hampir semua siswa berkumpul di aula untuk mendengar pengundian kelompok audisi mereka dengan cemas. Hampir. Sebab hanya kelas empat yang tersenyum santai. Sudah dua tahun ini kelas mereka mendapat kehormatan menampilkan penampilan mereka di Upacara Penyembahan. Hal itu membuat kelas-kelas lain berharap dapat berpasangan dengan kelas tersebut.
Daewoo maju ke panggung. Secarik kertas berada dalam genggamannya.
"Oke, untuk menghemat waktu, aku akan langsung bacakan pasangan-pasangan kalian. Kelas tujuh dengan kelas dua. Kelas tiga dengan kelas lima. Kelas enam dengan kelas delapan. Kelas sepuluh dengan kelas sembilan dan terakhir kelas empat dengan kelas satu. Selesai."
Terdengar suara riuh rendah memenuhi aula tersebut. Suara gumaman gerutuan tidak setuju dengan pembagian kelompok tersebut terdengar keras. Meski begitu, suara kegirangan kelas satu berhasil mendominasi kericuhan di aula. Beberapa siswa menatap iri kepada mereka. Mereka kelas baru, tapi pasti akan mendapat kehormatan yang mereka idam-idamkan.
"Selama dua minggu ini, jam pelajaran terakhir akan diganti menjadi jam kosong. Manfaatkan itu untuk latihan kalian. Baik. Satu jam kedepan dapat kalian gunakan untuk berunding tentang penampilan apa yang akan tampilkan. Besok pagi daftar kelas dan penampilan mereka akan ada diatas mejaku. Semoga kelompok terbaik yang akan terpilih! Terima kasih!"
Setelah kepergian Daewoo dari aula, masing-masing kelas mulai mengelompokan diri sesuai dengan pasangan mereka. Jongdae melempar senyum bahagianya pada teman-teman sekelasnya. Sebagai ketua kelas, Jongdae akan sangat bangga jika kelas yang dibinanya ini akan tampil di Upacara Penyembahan dua minggu lagi. Leo, ketua kelas empat mengumpulkan teman-temannya sekaligus kelas satu dan membawa mereka ke lapangan terbuka di luar dengan alasan aula yang terlalu sesak dan padat.
"Guys, seperti yang kalian bisa lihat, tahun ini kita akan melakukan kolaborasi dengan adik-adik tingkat kita yang masih menggemaskan ini" Ucap Leo bergurau. Beberapa siswa terkekeh mendengar ucapan namja tersebut.
"Tahun lalu kita sudah menampilkan tarian pemujaan. Tahun sebelumnya kita menampilkan musikalisasi puisi. Apa ada yang punya usul apa yang akan kita tampilkan tahun ini?" Tanya Leo. Semua kelihatan berpikir.
"Bagaimana kalau drama saja?" Usul Jongdae. Leo kelihatan tertarik
"Drama apa yang kau pikir bisa kita mainkan?" Tanyanya.
"Andromeda si Gadis Persembahan. Ini kan Upacara Penyembahan, jadi kita akan menampilkan drama Andromeda si Gadis Persembahan saja" Ucap Jongdae bersemangat. Lalu semua sibuk bicara dan berunding tentang drama tersebut.
Ups.
Tidak semua.
Tidak tiga namja itu.
Chanyeol, Sehun dan Kai.
Disaat yang lain sibuk memikirkan penampilan tahun ini, mereka memikirkan hubungan mereka dengan Baekhyun. Entah ini hanya perasaan mereka saja atau memang Baekhyun sengaja menjauhi mereka. Ya. Mereka bertiga sekaligus. Awalnya mereka pikir Baekhyun kesal karena mereka mengacaukan dapur si mungil itu, tetapi melihat kecenderungan Baekhyun yang selalu menghindari mereka tiap kali berpapasan, bahkan setelah satu minggu setelah insiden kekacauan dapur Baekhyun, namja mungil itu masih juga belum mau berbicara dengan mereka.
Selain itu, mereka khawatir melihat Baekhyun yang sekarang. Dulu Baekhyun itu periang dan ceria, tapi Baekhyun yang sekarang adalah Baekhyun yang pendiam dan agak pemurung.
Jika di awal mereka bertiga bersaing mendapatkan hati si mungil itu, tetapi saat ini persaingan itu lenyap dari pikiran mereka. Yang ada mereka bekerja sama membuat Baekhyun menjadi Baekhyun yang dulu. Contohnya saat ini.
"Chanyeol kau yang pertama, lalu aku kemudian Sehun, oke?" Bisik Kai pelan. Kedua temannya itu mengangguk setuju.
Chanyeol mulai beringsut mendekati Baekhyun yang duduk dua baris didepannya. Dengan pandangan mematikannya namja itu berhasil mengusir anak kelas satu yang duduk dibelakang Baekhyun.
"Ssst, Baek!" Bisiknya pelan. Baekhyun tetap serius mendengarkan Leo dan Jongdae yang berbicara entah apa didepan sana.
"Baekhyun-ah!" Bisiknya lebih keras. Baekhyun tidak bergeming. Chanyeol mulai kesal.
"Byun Baekhyun!" Serunya tanpa berbisik. Baekhyun menoleh. Begitu juga beberapa anak disekitar mereka.
"Apa?" Tanya si mungil pelan. Chanyeol meringis. Tidak. Ini bukan Baekhyun-nya. Baekhyunnya selalu senang dengannya. Selalu menyapanya dengan senyuman manisnya.
Sungguh, Chanyeol sangat ingin menghajar makhluk apa pun yang membuat baekhyunnya menjadi pemurung seperti ini.
"Mau jalan-jalan ke mall besok?" Tawarnya sambil tersenyum. Baekhyun hanya menggeleng kemudian kembali menatap Leo dan Jongdae.
Chanyeol gagal.
Maka Kai maju.
"Hai, Baekhyun" Sapa Kai. Baekhyun tersenyum tipis. "Hyung." Itu saja. Hanya itu responnya kepada Kai. Kai menelan kekecewaannya bulat-bulat.
"Monggu merindukanmu, kau tau? Mau ikut aku memandikannya di danau akhir minggu nanti?" Ajak Kai. Baekhyun menggigit pelan bibir bawahnya. Kai hampir bersorak saat ia berpikir Baekhyun akan mengangguk dan tersenyum padanya.
Tetapi sama seperti Chanyeol, Kai harus menerima kekecewaannya lagi karena Baekhyun kembali menggelengkan kepala dan membalikkan badannya.
Chanyeol dan Kai gagal.
Sehun maju.
Baekhyun merasakan sepasang tangan menutupi kedua matanya. Baekhyun tidak perlu menoleh untuk tau siapa orang tersebut. Ia menggapai tanga itu dan menurunkannya tapa berkata apa-apa. Sehun terheran-heran di belakang Baekhyun. Baekhyunnya selalu akan berbalik kemudian memukul lengan Sehun karena namja itu selalu mengerjainya dengan menutupi kedua matanya. Tetapi Baekhyun mengecewakannya. Lagi dan lagi.
Sehun beringsut maju hingga dadanya menempel di punggu Baekhyun. Kedua tangannya maju menggapai jemari Baekhyun. Untung saja pencahayaan di lapangan ini lumayan minim hingga tidak ada yang memperhatikan apa yang kedua namja itu lakukan.
"Baek, berhentilah seperti ini.." Bisik Sehun pelan. "Kau membunuh kami. Berhentilah, kumohon"
Baekhyun mengigit bibirnya menahan segala kata maaf yang siap meluncur untuk ketiga namja itu. Baekhyun sama sekali tidak bermaksud menjauhi mereka. Tidak. Hanya saja ia takut bila ia terus berdekatan dengan mereka, jika ia menjadi semakin terbuai dengan segala perilaku manis yang ketiga namja itu berikan untuknya, Baekhyun akan semakin terjebak dalam dilemanya sendiri.
Ia takut jika nanti akan menyakiti Chanyeol, Sehun dan Kai. Ia takut. Baekhyun tidak sanggup melihat ketiga namja itu terluka, apa lagi karena dirinya. Tidak. Oleh karena itu Baekhyun memilih jalan ini.
"Baerhenti melakukan apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Kalianlah yang harusnya berhenti mengangguku" Jawab Baekhyun dingin.
Oh, Baekhyun. Andai kau tau keputusanmu hanya akan membuat dirimu dan ketiga namja yang kau sayangi terluka semakin dalam.
Sehun membeku. Begitu pula Kai dan Chanyeol yang duduk di sisi kiri dan kanan Baekhyun.
"Baiklah.."
Dan ketika Baekhyun menatap mata ketiga namja itu, Baekhyun tersadar.
Apa ia telah menyakiti mereka?
..
..
..
..
..
Baekhyun bergegas ke ruangan Daewoo saat rapat dibubarkan oleh Leo. Namja mungil itu mengetuk pintu dengan beringas. Ia segera menghambur masuk ketika Daewoo membukakan pintu.
Daewoo meringis melihat Baekhyun dalam keadaan kacau seperti ini. Ia tau yang dapat membuat Baekhyun bisa terlihat seperti ini hanya karena ketiga namja itu. Daewoo sangat iba pada Baekhyun. Namja itu baru saja memasuki usia lima belas tahun tiga bulan yang lalu dan sudah harus memikul beban seberat ini.
"Ada apa lagi, hm? Kau mau bercerita?" Tanya Daewoo lembut. Baekhyun terisak pilu.
"Aku tidak tau harus bagaimana lagi.. Ra-rasanya segala yang kulakukan hanya akan menyakiti mereka lagi dan lagi.. Hiks.. Aku hanya tidak ingin memberi mereka harapan-harapan semu yang akan menyakiti diri mereka sendiri.. Tetapi ketika aku memilih menjauh, mengapa mereka harus membuatnya menjadi serumit ini?" Tangis Baekhyun. Ia meremas kaos Daewoo melampiaskan segala emosinya yang sedang kalut saat ini.
"Kau tau, Baekhyunnie, kurasa menjauh atau mendekat bukanlah solusi dari masalahmu. Kurasa kau harus membiarkan semuanya mengalir seperti biasanya. Jangan menjauh dari mereka, tapi tetap beri batasan pada setiap tindakanmu" Ucap Daewoo sambil mengusap punggung Baekhyun pelan. Memberi namja mungil itu kenyamanan yang bisa didapatnya dari seorang kakak.
"Tapi aku takut.."Lirih Baekhyun. " Apa yang kau takutkan? Jika kau memberi batasaan pada sikapmu, mereka tidak akan terlalu berharap lagi padamu"
"Tidak, aku tidak takut akan perasaan mereka padaku.. Yang aku takutkan justru perasaanku pada mereka. Bagaimana jika aku yang terlalu berharap pada mereka? Bagaimana jika aku menjadi terlalu bergantung pada mereka? Lalu aku akan egois, lalu aku akan menyakiti mereka.. dan juga diriku sendiri"
Dan untuk pertanyaan Baekhyun kali ini, Daewoo sama sekali tidak memiliki jawabannya.
..
..
..
..
..
Seperti yang dikatakan Daewoo, jam pelajaran terakhir akan digunakan sebagai sarana latihan mereka. Dalam latihan pertama kali ini, mereka akan menentukan peran dalam drama ini.
"Baiklah, untuk peran Cepheus, Yongguk. Silahkan maju" Setelah Leo menyebutkan nama tersebut, seorang namja bertubuh atletis maju kedepan dan mengambil naskahnya.
"Untuk peran Cassiopeia, Himchan. Silahkan maju" Seorang namja berwajah manis menggerutu karena tidak setuju dengan peran yang didapatnya. Leo hanya melempar senyum permpohonan maaf pada Himchan sementara namja itu melengos kesal.
"Untuk peran dewi-dewi laut, Youngmin, Kwangmin, Jungkook, Ryewook dan Heechul. Silahkan maju" Tanpa protes, lima orang tersebut maju dan mengambil naskah serta mulai menghafalnya.
"Untuk peran Poseidon, well yeah, karena disini kita punya anaknya, jadi Sehun, silahkan ambil naskahmu" Namja berkulit pucat itu hanya mengangguk singkat. Suasana hati Sehun memburuk mengingat kejadian semalam.
"Nah, untuk peran Perseus, aku dan Jongdae mengalami perselisihan. Jadi kami putuskan peran ini melalui pilihan kalian. Untuk peran Perseus, kandidatnya adalah Kim Jongin dan Park Chanyeol. Tulis nama kandidat yang kau pilih di kertas lalu kumpul di kotak ini, oke? Waktunya lima menit." Jelas Leo sambil sibuk membagikan kertas pada siswa kelas empat dan kelas satu.
"Oke, sambil menunggu peran Perseus diputuskan, aku akan menyebutkan pemeran utama kita, untuk peran Andromeda, Baekhyun, silahkan maju"
Baekhyun mengerjap. Ia tersadar dari lamunannya saat Myungsoo menyenggol bahunya sedikit. Jujur saja, Baekhyun awalnya memang menginginkan peran Andromeda, tetapi ketika tau kandidat Perseus adalah Kai dan Chanyeol.. Keinginan Baekhyun lenyap. Tapi tidak mungkin ia bisa menolak dan membuat dua kelas kehilangan kesempatan tampil di Upacara Penyembahan. Maka Baekhyun maju dan meraihnaskahnya serta mulai menghafal.
Selang beberapa menit, setelah semua kertas terkumpul di kotak, Leo mulai membuka gulungan kertas tersebut satu per satu.
"Oke, jadi total suaranya adalah Kim Jongin dengan dua puluh tiga suara dan Park Chanyeol dengan dua puluh empat suara! Wow! Perbandingannya tipis sekali! Baiklah, Park, maju dan ambil naskahmu!" Perintah Leo. Sama seperti Sehun, Chanyeol hanya mengangguk dan mulai membaca naskahnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Baekhyun menatap Chanyeol dengan ragu.
Baekhyun hanya menatap kedua namja yang kini tengah berlatih itu dengan diam.
Cerita Andromeda ini sebenarnya agak mengerikan dan ekstrem. Tentang Cassiopeia, ratu Etiopeia yang sangat membanggakan kecantikannya dimana-mana hingga membuat marah dewi-dewi laut yang merasa terhina. Dewi-dewi laut tersebut pun mengadu kepada Poseidon yang kemudian mendatangkan banjir bandang di Etipeia. Bukan hanya itu, ia juga memunculkan Naga dari laut yang memakan setiap rakyat Etiopeia.
Seorang peramal berkata bahwa apa bila Andromeda, Putri dari Cassiopeia dan Cepheus, diikat pada batu karang dan dipersembahkan kepada sang Naga, maka kemarahan Poseidon akan reda. Tetapi saat Andromeda hendak disantap oleh Naga, Perseus datang menggunakan kasut terbangnya dan melawan Naga tersebut untuk menyelamatkan Andromeda karena ia jatuh cinta padanya.
Baekhyun hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.
..
..
..
..
..
Tidak terasa, setelah semua persiapan, akhirnya Upacara Penyembahan telah tiba waktunya. Baekhyun dan Chanyeol, meski hubungan mereka masih kaku, setidaknya mereka dapat bekerja sama dengan baik.
Dramanya berjalan dengan baik. Segala persiapan mereka selama ini berbuah manis. Hanya Baekhyun tidak menyangka akan Chanyeol yang menyeretnya pergi ke lapangan setelah dramanya selesai.
"Aku tidak tau ada apa denganmu, Baek, tapi kumohon jangan seperti ini. Berhenti bersikap aneh seperti ini dan kembalilah menjadi Baekhyun yang dulu. Senyummu yang kau berikan pada kami sekarang berbeda, terlalu kaku. Kumohon berhentilah" Pinta Chanyeol. Baekhyun merasa matanya memanas. Tetapi ia tau ia tidak boleh menangis.
"Aku tidak berbuat apa pun. Hyung saja yang merasa aku berubah" Jawabnya datar, seperti yang selalu dijawabnya jika Chanyeol, Sehun atau Kai menanyai tentang perubahan sikapnya. Chanyeol menggeram marah. Ia tidak tahan lagi.
Namja itu meraup bibir Baekhyun dan mendekap si mungil erat. Baekhyun berontak. Baekhyun bukan sepenuhnya anak polos. Ia pernah menonton adegan ciuman di drama-drama dulu, tetapi cara mereka berciuman itu lembut dan penuh perasaan.
Sedangkan Chanyeol menciumnya begitu kasar sampai menyakitinya. Baekhyun bisa merasakan amis pada mulutnya saat Chanyeol mengigit bibirnya terlalu keras. Baekhyun menangis. Ia menangis karena kebodohannya. Karena kelemahannya. Karena ketidakberdayaan dirinya.
BUAGHT!
Baekhyun ikut oleng saat merasakan seseorang melayangkan tinjunya ke pipi kanan Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan, Keparat?!" Bentak Sehun keras. Ia meraih kerah kostum Perseus yang dikenakan Chanyeol. Baekhyun menjerit saat melihat Chanyeol meninju Sehun. Ia melihat bibir namja berkulit pucat itu berdarah. Kai datang tidak berapalama kemudian. Melihat Baekhyun dengan penampilan yang berantakan serta melihat Chanyeol dan Sehun yang berkelahi, ia dapat menyimpulkan semuanya. Ia menarik Chanyeol dari jangkauan pukulan Sehun.
"Sudah! Berhenti! Kalian seperti anak kecil!" Bentaknya sambil mendorong dada Sehun yang berusaha memukuli Chanyeol kembali. "Mudah saja kau berkata seperti itu! Kau kan sama sepertinya! Kalian hanya menyakitinya saja!" Teriak Sehun murka. Orang-orang tidak akan mendengar apa yang mereka lakukan disini. Mereka sedang didekat danau, menyaksikan Upacara Penyembahan. Tidak ada seorang pun yang dapat melerai ketiga namja ini.
"Jaga mulutmu, Oh Sehun!"
"Jangan ikut campur, Kim Jongin! Kau tidak tau apa-apa!" Sentak Chanyeol kesal.
"Yeah, setidaknya aku menjaga kepalamu tetap pada tempatmu, apa kau tidak berpikir Sehun dapat membunuhmu begitu saja jika aku tidak datang?"
"Aku tidak butuh bantuan dari Anak Dewa Kegelapan sepertimu!"
Emosi Kai tersulut hingga ia merengsek maju dan melayangkan pukulan di perut Chanyeol. Sehun ikut maju dan ketiga namja itu mulai berkelahi. Mata Sehun bukan lagi hijau laut, tetapi hijau menyala yang mengerikan. Begitu pula Kai yang matanya menjadi hitam pekat dan Chanyeol yang matanya sudah segelap mendung.
Mereka tidak lagi berkelahi menggunakan tangan, tetapi dengan kekuatan mereka. Chanyeol yang melempar. Kilat-kilat mulai melayang di udara, bebatuan yang terlempar dan gumpalan ombak memenuhi lapangan.
Baekhyun tidak tahan. Tidak bisa. Ia berdiri dan berdiri tepat di tengah-tengah ketiga namja itu, berharap mereka dapat melihat kehadirannya dan berhenti berkelahi seperti ini. Tetapi mereka tidak.
Baekhyun dapat melihat batu-batu besar, petir dan gulungan ombak bergerak ke arahnya, tetapi ia tidak berniat lari. Ia membiarkan semua itu menerpa tubuhnya.
Bruk!
Ketiga namja itu tercengang. Tersadar dari kekalutan mereka.
Tubuh mungil Baekhyun terbaring di lapangan tersebut. Dan ketika mereka mendekat dan merasakan denyut nadinya yang sudah tidak ada, mereka sadar akan suatu hal.
Baekhyun sudah tiada.
-To Be Continue-
Omayah, aku ngetik apa sih? /lirik atas/
Maaf ya, sudah lama ga apdet, sekalinya up malah ginian huft..
Tapi tenang ae, chap depan ada kejutan kok muehehehe~
Chapter kali ini Yuri update jamaah bareng Baekbychuu, RedApplee, Railash61, Exorado, Byun Min Hwa, Baekhyeol, Sigmame, Flameshine dan JongTakGu88.
Leave some review, please~
