Disclaimer : I don't own Beelzebub, Beelzebub is only belong to Tamura Ryuhei-sensei.

A/N: ini fanfic pertama saya, yaa rada-rada OOC sedikit, ini story bakalan jadi cerita yang panjang, semoga gak ngebosenin yaahh !

Chapter 11

Crisis moment

"Hilde, please going out with me..!"

Kalimat itu yang di lontarkan oleh Kisetsu saat menghampiri Hilda di special class. Bukan hanya Hilda yang merasa terkejut, tetapi seluruh orang di ruangan kelas itu juga menjadi ikut-ikutan terkejut. Mulut mereka semua menganga, mata mereka pun terbelalak seakan-akan tidak percaya dengan apa yang mereka liat.

Hilda langsung melirik ke arah Tatsumi, dilihatnya Tatsumi sedang mengobrol dengan Furuichi. Hilda menghela nafas dan kemudian menjawab "boleh, kapan?"

Jawaban yang di lontarkan oleh Hilda mampu membuat keadaan menjadi lebih buruk. Semula Tatsumi berusaha tidak menanggapi ajakan Kisetsu yang mengajak Hilda untuk nge-date, tapi ketika ia mendengar jawaban yang diberikan oleh Hilda, ia mulai merasa marah, namun ia masih meredam emosinya.

"bagaimana kalo hari sabtu di minggu ini..?" Kisetsu memberi jawaban dengan kalimat pertanyaan.

"baiklah, tapi bukankah kita harus kembali…." Perkataan Hilda terputus saat ia melihat Kisetsu mengedipkan sebelah matanya menandakan bahwa ia tidak di izinkan berbicara tentang kepulangan mereka ke dunia iblis di depan banyak orang.

Lalu Kisetsu hanya menjawab "aku sudah meminta izin, acaranya ditunda satu bulan lagi..". Kisetsu lalu mengambil sebuah bangku untuk duduk disamping Hilda. ia meluncurkan banyak pertanyaan kepada Hilda, Hilda dengan senang hati menjawabnya. Semua orang ditempat itu merasa aneh dan sesekali melihat ke arah Tatsumi. Tatsumi hanya duduk dan menutupi wajahnya dengan sebuah buku, terlihat sedang tidur. Beel-bou sedang bermain-main di pangkuan Hilda bersama dengan Kisetsu.

Tatsumi mulai mengangkat buku yang menutupi wajahnya ketika Kisetsu mulai berkata "Oga Tatsumi, kamu boleh saja tinggal satu rumah dengan Hilde, tapi jangan kamu pikir aku akan kalah untuk mendapatkan Hilde, buatku Hilde adalah segalanya, aku tidak akan menyerahkannya padamu dengan begitu saja, semuanya ada caranya!".

Tatsumi menyadari ada kalimat tantangan di dalam ucapan Kisetsu, namun ia tidak buru-buru menanggapinya. Ia hanya menjawab dengan santai "kau pikir aku perduli, cara apapun yang ingin kamu lakukan untuk mendapatkan Hilda, itu bukan urusanku.."

Hilda sedikit terkejut dengan pernyataan Tatsumi. Memang ia tidak mengharapkan kalau Tatsumi akan menahannya agar tidak bisa jalan dengan Kisetsu, tapi mengapa ia merasa begitu kecewa dan kesal atas perkataan Tatsumi? Hilda pun lari dari lamunannya ketika Kisetsu berkata sembari menunjuk ke arah Tatsumi "Hilde, dia bukan orang yang baik, tinggalkan saja dia..".

"bu-bukan seperti itu sa-Kisetsu..san.." sahut Hilda namun ia terhenti karena ia bingung harus berkata apa lagi. Kisetsu yang menangkap situasi ini menarik Hilda pergi dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Tatsumi hanya tertegun diam dengan wajah dinginnya.

Tak berapa lama terdengar suara Himekawa yang menanyakan sesuatu pada Tatsumi, "oi, Oga, apa kamu tidak apa-apa dengan kejadian ini?"

"huh? Apa? Apa maksudmu?" Tanya Tatsumi.

"maksudku, apa kamu tidak merasa terganggu dengan orang yang barusan saja mengajak istrimu untuk nge-date dengannya?" sambung Himekawa.

"ah, aku tidak perduli.." sahut Tatsumi. Tampak jelas di wajahnya terpancarkan ekspresi kekesalan dan kemarahan, namun ia berusaha menutupinya dengan sikap dan respon nya yang konyol walaupun usahanya itu sangat sia-sia, karena orang buta pun masih bisa melihat apa yang sebenarnya yang ia rasakan.


"ah, kyaaaaaaaa~ Maria-sama ke kelas kita..!" teriak banyak gadis-gadis yang histeris saat mereka melihat sosok Maria di ruangan kelas mereka. Bagaimana pun juga Maria adalah Idol sekolah, ia sangat begitu baik, sopan, dan ramah, terhadap orang lain. Selain itu, senyumnya yang menawan juga menjadi factor kenapa dia bisa menjadi salah satu Idol sekolah yaa walaupun semua itu hanya sandiwaranya saja untuk sekedar iseng-iseng.

"wah, Maria-sama datang ke kelas kita, lihat senyumnya, begitu indah.."

"iyah, cara jalan nya juga sangat bagus, tubuh mungil nya itu loh, imut banget!"

"tapi jika dilihat-lihat buatku Ayasaka-sama atau Silky Milk Girl memang yang nomor satu… belum ada yang bisa membandinginya sampai saat ini!"

"iyah, sikap dan perilaku Ayasaka-sama yang sangat dingin dan cuek, terlebih dengan karakternya yang misterius itu justru merupakan hal yang membuat aku semakin jatuh cinta padanya, itu sebabnya dia akan tetap jadi yang nomor satu!" ujar beberapa siswa laki-laki dikelas itu.

Tentu Maria mendengar apa-apa yang diucapkan oleh semua siswa di tempat itu. Ia bahkan mengetahui jika diadakan voting 'siapa siswi terpopuler di St. Ishiyama School' maka Mika akan mendapat nilai voting terbesar. "Mika-sama memang punya charisma tersendiri… kyaa~" gumam Maria sambil memegang kedua pipinya dan tersenyum.

Maria pun mulai memasuki kelas itu, ia hanya mempusatkan perhatiannya pada satu orang, yaitu Mika. Ia pun berjalan mendekati Mika, dilihatnya Mika yang sedang sibuk membaca beberapa buku. 'sungguh hal yang tidak biasa' pikir Maria.

"Mika-sama.." sahut Maria.

"hm.." jawab Mika.

Keadaan hening sebentar, tak lama Mika mulai mengangkat wajahnya, meletakkan pulpen yang sedang di pegangnya, dan berkata sembari menunjuk salah satu bangku di hadapannya "nih, duduk disini.."

Maria langsung menuruti perkataan Mika yang dianggap sebagai 'perintah' oleh Maria.

"Mika-sama, hal yang aneh melihatmu membaca banyak buku seperti ini.." sahut Maria.

"hal yang aneh juga untuk melihatmu tidak mengawasi ku seperti biasa dan mengikuti jam pelajaran.." balas Mika yang saat itu sedang memulai untuk meneruskan membaca dan menulis.

"….." Maria terdiam tidak tau harus menjawab atau tidak.

"ini proposal kegiatan untuk acara tahun baru, banyak sekali ide-ide gila dari pengurus OSIS, aku lebih memilih untuk membaca dan mempelajarinya satu persatu lalu memilih lima dari sekian banyak proposal untuk di serahkan ke kepala sekolah agar dapat mendapat izin, lagi pula aku sudah muak dengan belajar, jadi aku mengambil kegiatan yang seperti ini saja, menyenangkan menurutku.." sahut Mika.

Maria tersenyum kemudian bertanya "kenapa sekarang kamu begitu tertarik dengan kegiatan ini, aku yakin alasannya bukan hanya karena kamu muak akan belajar".

Mika menjawab sembari mencubit pipi Maria "hehehe, ini dia Maria yang aku tau. Paham saja apa yang aku mau.. memang alasannya bukan Cuma itu…." Mika memotong perkataannya karena harus menulis beberapa kalimat perbaikan dalam salah satu proposal yang baru saja ia baca.

Mika pun meneruskan "selama ini aku selalu bolos, lebih dari 4 bulan aku pikir? Sedangkan di tempat ini aku memiliki jabatan sebagai ketua OSIS, padahal aku tidak pernah tau kapan diadakannya pemilihan ketua OSIS. Ketika aku mengetahui bahwa aku mempunyai jabatan itu, aku langsung datang ke sekolah, hanya dalam hari-hari tertentu bukan untuk sekolah tetapi untuk mengurusi kegiatan OSIS, sampai akhirnya Genma-san menobatkanku sebagai penanggung jawab Rokkisei karena dia tau kemampuanku. Aku merasa tidak enak saja, kegiatan OSIS selama ini sudah ku abaikan, dan kuserahkan ke bawahanku. Kasihan mereka harus menanggung beban tugas yang seharusnya diberikan padaku.. maka dari itu aku memulai untuk bisa focus dalam kegiatan ini, mereka sudah mempercayai aku, aku tidak boleh mengkhianatinya".

Maria tersenyum dengan alasan yang diberikan oleh Masternya itu. Tidak salah ia selalu mengikuti kemana saja Masternya pergi, menuruti segala perintah Masternya, bukan hanya karena tugas tapi memang Mika patut ditiru. Di umurnya yang masih muda ia sudah sangat pintar dan cerdas, mampu menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri namun tetap masuk akal. Bertanggung jawab akan apa yang diberikan padanya, yaa walaupun agak sedikit telat. Buat Maria, menjadi pelayan Mika adalah kebanggaan tersendiri, walaupun ia tau bahwa pada awalnya ia tidak yakin bisa menjalani tugas ini mengingat umur Mika hampir sama dengannya.

"Mika-sama, Kisetsu pindah ke sekolah ini.." ujar Maria.

"iya, aku tau.." sahut Mika.

Maria heran dan kemudian bertanya "dari mana kamu tau itu Mika-sama?".

"Kisetsu yang memberitahukannya padaku, tadi malam ia meneleponku. Dia juga sudah menceritakan permasalahan dimana ia akan ditunangkan dengan Hilda.." suara Mika mulai menipis.

"Mika-sama, hal ini selalu mengganggu di pikiranku, kenapa kamu bisa mengenal Hilda sementara kamu baru bertemu Hilda beberapa waktu yang lalu?" Tanya Maria.

"bukankah aku sudah menceritakannya padamu?" ujar Mika yang masih asik membaca puluhan proposal yang menumpuk di mejanya.

"…." Maria hanya memberikan respon 'diam'.

"sepertinya belum, ingat terakhir kali aku ke dunia iblis? Saat itu aku sedang menjenguk Irish-san yang baru saja melahirkan Beel-chan.

Aku bertanya pada Daimaou, 'siapa yang akan merawat bayi baru itu selain ibu dan ayahnya sendiri' dan ia berpikir sebentar sambil melakukan hal-hal konyol yang membuatku ingin melemparnya ke kubangan sampah. lalu ia menyebutkan sebuah nama 'Hildegard'. Lalu saat ada di koridor istana, aku bertemu dengan Hilda-san. tentu saat itu aku belum tau persis bahwa itu Hildegard yang Daimaou maksud, sampai akhirnya aku membaca masalalunya dan mengetahui segalanya.

Hilda-san bertanya padaku 'siapa kamu, yang boleh berada disini hanya orang yang memiliki kepentingan saja!'

aku hanya menjawab 'aku adalah pegawai spa yang dipanggil oleh Irish-sama untuk memberikan pijat refleksi padanya'.

Semua pelayan yang saat itu sedang mengantarku pulang mengiyakan statement ku, lantas Hilda-san percaya. Mungkin Hilda-san tidak mengingatku karena waktu itu aku bukan orang penting menurutnya. dan…." Mika terhenti dari kesibukannya dan mulai menatap Maria dengan wajah serius.

"dan?" Tanya Maria dengan wajah yang serius pula.

"dalam ingatan Hilda-san ada Kisetsu.." sahut Mika yang kemudian memalingkan mukanya ke arah jendela sebelah kiri kelasnya.

Maria hanya tertegun diam, ia mengerti perasaan Mika.

Keadaan terpecah saat ada sesosok pria yang berdiri di pinggir pintu kelas dan memanggil Mika.

"Mika, ada yang harus kita bicarakan..!" sahut Pria itu.

"Kisetsu…" sahut Mika dengan wajah yang tersipu malu.


yayayaaaaaaa, hmph! agak sedikit susah untuk mencari ide buat chapter ini, mudah-mudahan bisa bikin puas...

spoiler chapter 12 : Cruel, check it out!

Mika memalingkan wajahnya dari Kisetsu, ia lebih memilih merunduk dalam diam. Ia tak bisa berbuat apa-apa, air matanya serasa sudah tak bisa dibendung lagi. Satu titik air matapun kini terjatuh dan mulai membasahi pipinya. Ia menangis dalam diam, memilih tidak menceritakan apa yang ia rasakan kepada Kisetsu. Kisetsu mulai meraih dagu Mika, menghadapkan wajah Mika ke arah wajahnya.

Hening

Mika bisa melihat wajah ke khawatiran yang terpancar di wajah Kisetsu. 'kenapa semuanya bisa jadi seperti ini?' pikir Mika yang masih larut dalam tangisannya.