Disclaimer : Naruto bukan milik saya
Don't like don't read
Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC
.
CHAPTER 11
.
Setelah Sasuke pergi, Hinata berencana pulang ke Konoha besok. Oleh karena itu ia akan menikmati sisa waktunya disini karena ia tidak tahu kapan ia bisa mengunjungi Yukigakure lagi. Hinata kembali ke hotel saat sore hari dan memesan minuman hangat di restoran yang ada di lobi hotel untuk mengusir rasa dingin di tubuhnya.
Tapi siapa sangka ia justru bertemu dengan si rambut pink Sakura Haruno yang kebetulan juga berada disana. Sebenarnya takdir apa yang terjalin antara ia dan Sakura? Mengapa diantara sekian banyak tempat dan waktu ia justru bertemu dengan Sakura detik ini juga. Dan bukan Sakura namanya jika ia tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk 'menyapa' Hinata.
"Selamat sore, Hyuuga."
"Halo." Sapa Hinata singkat.
"Aku tidak melihatmu pagi tadi. Bahkan aku harus menanyakan kabarmu pada Sasuke-kun saat kami sarapan bersama tadi." Pamer Sakura. "Sayang sekali Sasuke-kun tidak tahu kau berada dimana."
"Kau menanyakan keberadaanku pada Sasuke?"
"Ya begitulah."
Hinata menatap Sakura yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Kau tadi mengatakan kalau Sasuke tidak tahu dimana keberadaanku?" Tanya Hinata dengan tidak percaya.
"Apa aku kurang jelas mengatakannya?" Kata Sakura sambil memutar bola mata hijaunya.
Mana mungkin Sasuke tidak tahu dimana keberadaan Hinata. Tadi malam mereka bersama, bahkan tadi pagi ia tertidur di kamar Sasuke! Apa maksud Sasuke membohongi Sakura?!
"Jadi tadi pagi kalian sarapan bersama huh?" Tanya Hinata sambil berpura-pura cemburu.
"Jangan salahkan Sasuke-kun hanya karena ia lebih memilih menghabiskan waktu denganku."
"Apa kalian juga bersama tadi malam?" Selidik Hinata.
Sakura menghela nafas. "Sayang sekali Sasuke-kun banyak pekerjaan penting dan tidak bisa bertemu denganku. Padahal aku ingin mengajaknya menikmati suasana malam di Yukigakure…"
Hinata tidak menggubris perkataan Sakura, ia sedang sibuk mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Sasuke lagi-lagi berbohong pada Sakura, pekerjaan penting apa?! Tadi malam jadwalnya kosong. Ia bisa saja menerima ajakan Sakura, tapi mengapa ia menolaknya?! Apa artinya ini?!
"Mengapa wajahmu tiba-tiba memerah?" Tanya Sakura dengan curiga.
"U-um… a-aku tidak apa-apa."
"Dasar aneh."
Hinata mengangkat bahunya. Terserah apa katamu Sakura.
"Mengapa kau masih disini? Sasuke sudah pergi ke Suna." Kata Hinata dengan acuh.
"Apa maksudmu Hyuuga?"
"Um… Sasuke sudah pergi ke Suna siang tadi. Kau… tidak tahu?" Tanya Hinata dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin Sasuke tidak mengatakan apapun pada Sakura?! Tapi melihat ekspresi Sakura yang mengeras Hinata bisa menyimpulkan jika Sasuke memang tidak mengatakan apapun pada Sakura.
Uh oh…
"Kau bohong!" Tuduh Sakura.
"A-aku tidak bohong."
"Sasuke-kun mengatakan jika hari ini ia sibuk. Ia tidak mengatakan apapun tentang kepergiannya ke Suna."
"U-um… tapi dia memang pergi ke Suna."
Melihat tatapan penuh amarah Sakura membuat nyali Hinata sedikit menciut.
"Mengapa Sasuke-kun tidak mengatakan apapun padaku?!"
"A-aki ti-tidak tahu." Jangan kau lampiaskan amarahmu padaku, Sakura. Salahkan saja Sasuke.
"Lalu bagaimana kau bisa tahu?!"
"Kakashi-san yang me-me-memberitahuku."
Tanpa berkata apapun lagi Sakura pergi meninggalkan Hinata.
Hinata menghela nafas lega melihat kepergian Sakura. Ternyata Sakura sangat menyeramkan saat marah.
.
.
Hinata membuka pintu rumah.
Kosong.
Sunyi.
Rumah megah yang selama ini ditempatinya terasa hampa. Sasuke adalah seseorang yang sangat menyukai privasi sehingga ia tidak mau menyewa asisten rumah tangga. Oleh karena itu tak mengherankan rumah ini terasa dingin dan seperti tak berpenghuni.
Sambil menyeret kopernya Hinata memasuki rumah dan mengunci pintu. Bagi Hinata yang telah terbiasa hidup sendiri menghadapi kesunyian seperti ini adalah hal yang biasa baginya. Ia tak pernah bermimpi mengharapkan seseorang menyambut kepulangannya.
Hinata meletakkan kopernya di lantai dan beralih menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu. Setelah perjalanan panjang ia akhirnya sampai juga di rumah.
Rumah…
Bagaimanapun juga tempat ini adalah rumahnya. Ia sudah terbiasa tinggal disini, makan disini, dan tidur disini. Sedikit demi sedikit ia mencintai tempat ini dan menikmati hidup di bawah atapnya. Jika suatu saat nanti ia akan pergi maka ia akan merindukan tempat ini.
Hinata mengedarkan pandangannya. Interior rumah ini sangat bagus namun… terasa ada yang kurang. Tidak ada foto ataupun pernak Pernik lain yang menunjukkan identitas si pemilik rumah. Rumah ini seakan hanyalah dinding dengan atap, tidak ada yang membuatnya spesial.
Hinata tidak tahu seperti apa masa kecil Sasuke dulu saat keluarganya masih hidup. Apakah Sasuke dan keluarganya selalu makan bersama di meja makan? Apakah Sasuke dan keluarganya menghabiskan waktu mereka bersantai di ruang keluarga sambil menonton TV bersama? Apakah Sasuke menghabiskan waktunya bermain di halaman bersama kakaknya? Apakah ibu Sasuke bisa memasak dan menghabiskan waktunya di dapur? Apakah Sasuke pernah membantu melakukan pekerjaan rumah? Apakah Sasuke suka berlarian di tangga?
Hinata tidak tahu jawaban itu semua. Yang jelas Hinata selalu membayangkan sosok Sasuke kecil nakal yang selalu membuat kekacauan di rumah dan pada akhirnya dimarahi oleh ibunya.
Hinata tersenyum membayangkan itu. Namun senyum itu langsung memudar ketika ia menyadari Sasuke kini telah kehilangan keluarganya. Meskipun Hinata tidak tahu persis bagaimana rasanya kehilangan keluarga, ia bisa memahami pasti itu adalah hal yang sangat berat. Mengingat bagaimana reaksi Sasuke ketika Hinata menanyakan tentang keluarganya, pasti topik mengenai keluarganya adalah hal yang menyakitkan untuk Sasuke.
Pasti sangat berat bagi Sasuke untuk pulang di rumah kosong yang dulunya diisi oleh kehangatan keluarganya. Apakah suasana sunyi yang ia hadapi justru ia jadikan pengingat bahwa kini ia hanya seorang diri?
Apakah kau merasa seperti itu Sasuke?
Apakah kau juga merasa kesepian?
Hinata tahu betul bagaimana rasanya kesepian. Itu sangat menyesakkan, seperti seseorang yang tengah tenggelam dan berusaha mencari-cari sesuatu untuk ia gapai agar bisa terbebas. Apakah Sasuke juga berusaha menggapai sesuatu agar bisa menolongnya lepas dari rasa kesepian itu?
Mulai saat ini Hinata bertekad akan menjadikan rumah ini sebagai rumah. Hinata akan memberikan yang terbaik untuk Sasuke sehingga ia tidak lagi merasa sunyi dan hampa setiap kali menginjakkan kakinya disini. Ia akan menjadikan rumah ini sebagai tempat dimana Sasuke merasa nyaman dan bisa melepaskan semua penatnya. Mungkin Hinata tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Sasuke, namun setidaknya ia bisa memberikan memori indah selama ia tinggal disini. Hinata ingin sekali melihat Sasuke yang tertawa tulus dan bahagia.
Hey Sasuke… selama aku berada di sisimu aku tidak akan membiarkanmu kesepian.
.
.
"Terimakasih sudah menjemputku, Naruto."
"Mmm, tentu saja Sakura." Kata Naruto sambil menyetir mobilnya. Ia langsung bergegas menjemput Sakura di bandara ketika menerima kabar kepulangannya dari Yukigakure.
"So… bagaimana liburanmu Sakura?" Tanya Naruto sambil melirik wanita berambut pink yang duduk di sebelahnya.
Sakura mendengus. "Tidak ada yang spesial."
"Sungguh?"
"Mmm."
"Apa yang terjadi?" Tanya Naruto dengan nada serius.
Sakura mengangkat bahunya sambil berpura-pura menikmati pemandangan dari balik kaca mobil.
"Ceritakan padaku, Sakura.
Sakura menghela nafas. "Dia mengacaukan semuanya. Rencanaku jadi berantakan."
"Dia?" Siapa yang dimaksudkan Sakura?
"Hinata Hyuuga." Kata Sakura tanpa bisa menyembunyikan perasaan bencinya. "Kurasa aku telah meremehkannya. Ia tidak senaif kelihatannya."
Ah… jadi itu yang terjadi. Tapi mengapa Hinata bisa ada di Yukigakure? Melihat karakter Sasuke yang dingin dan cuek tidak mungkin si Teme mengajaknya.
"Hinata? Apa yang dia lakukan di Yukigakure?"
"Mungkin karena aku."
"Huh?"
"Entah bagaimana Hyuuga itu tahu rencanaku untuk menyusul Sasuke-kun ke Yukigakure. Yang jelas dia jauh-jauh terbang ke Yukigakure demi menghalangiku untuk bisa bersama dengan Sasuke-kun." Sakura tertawa tanpa rasa humor. "Setiap kali aku melihat wajahnya yang sok polos aku merasa muak. Ia selalu tahu dimana Sasuke-kun berada, kehadirannya membuatku tidak leluasa. Ugh, aku sangat membencinya."
"Adakah yang bisa kubantu?"
Sakura menggeleng. "Ini adalah urusan diantara wanita. Kau tidak perlu turun tangan Naruto, aku bisa mengatasi ini."
"Oke."
"Hey Naruto…"
"Ya?"
"Mengapa mencintai seseorang itu sangat melelahkan?" Tanya Sakura dengan nada letih.
"Entahlah Sakura. Aku tidak tahu jawabannya."
Ingin sekali Naruto menjawabnya dengan mengatakan pada Sakura bahwa itu dikarenakan Sakura mencintai orang yang salah. Seandainya saja Sakura mau memilihnya, ia akan memberikan seluruh cinta dan kebahagiaan untuk Sakura.
Naruto teringat pertemuan pertama mereka. Saat Naruto menatap gadis berambut merah muda dengan mata hijau di hadapannya, ia langsung terpesona padanya. Gadis itu lalu tersenyum dan memperkenalkan diri 'Halo, namaku Sakura Haruno, senang bertemu denganmu.' Dan saat itu juga jantungnya berdebar kencang. Sakura adalah cinta pertamanya, bahkan sampai saat ini ia masih mencintainya meskipun Sakura hanya menganggapnya sebagai teman dan tidak lebih.
Apakah suatu saat nanti kau bisa berpaling padaku, Sakura?
Naruto tahu usahanya dalam menghancurkan rumah tangga orang lain itu adalah hal yang salah, terlebih orang itu adalah sahabatnya sejak kecil. Terkadang Naruto juga diliputi rasa ragu dan bersalah. Seandainya saja ibunya tahu apa yang ia lakukan, pasti ia akan dihajar habis-habisan. Ayahnya akan sangat kecewa dan akan menceramahinya hingga telinganya memeah. Bahkan mungkin saja ia akan dicoret dari keluarga Namikaze.
Ugh, semoga saja karma tidak menghampirinya.
"Terima kasih karena kau selalu berada di sisiku, Naruto." Kata Sakura sambil tersenyum.
Sejujurnya Naruto mulai ragu. Haruskah ia mengorbankan semuanya demi kebahagiaan Sakura?
.
.
Setelah pulang ke Konoha, orang pertama yang Hinata temui adalah Temari.
"Kau sudah lama tidak mengunjungiku, Hinata."
"Maaf…" Kata Hinata dengan sedikit bersalah.
"Nah, jangan terlalu memikirkan itu. Bagaimana Yukigakure? Aku belum pernah kesana." Kata Temari dengan antusias.
"Um, sangat dingin. Dan bersalju. Tempat yang cocok untuk main ski. Kapan-kapan kau harus mengajak Shikamaru-san kesana. Pemandangannya sangat indah."
"Ah, si pemalas itu mana mungkin mau main ski. Pasti baginya itu sangat merepotkan."
Hinata tertawa. "Oh ya Temari, aku membawakan sedikit oleh-oleh untukmu. Kuharap kau menyukainya." Hinata menyodorkan beberapa paper bag ke arah Temari.
"Sungguh?! Terima kasih. Ah… kubuatkan minum dulu."
"Ti-tidak perlu repot-repot."
Temari hanya tersenyum sambil melangkah pergi ke dapur dan meninggalkan Hinata sendirian di ruang tamu.
Hinata mengamati ruang tamu Temari. Vas kecil dengan bunga segar menghiasi meja tamu. Dindingnya dihiasi oleh bingkai foto Temari dan Shikamaru bersama teman-teman atau keluarganya. Setelah beberapa kali berkunjung kemari Hinata masih belum sempat melihat foto-foto itu. Mengapa Sasuke tidak menggantung satu fotopun di dinding rumah? Haruskah Hinata mencontoh Temari dan menggantungkan beberapa foto di dinding? Tapi foto apa yang perlu ia gantung? Foto pernikahan mereka?
"Hinata?"
Hinata menoleh ke arah sumber suara itu. Tampak seorang pria bermata hijau dengan rambut merah datang menghampirinya. Hinata lalu mencari-cari identitas pria ini di memori yang dimiliki oleh si pemilik tubuh ini. Ternyata pria yang kini mengambil tempat duduk di hadapannya itu adalah Gaara Sabaku dan dia adalah…. OH SH*T!
DIA ADALAH MANTAN DARI HINATA HYUUGA!
"Lama tidak bertemu denganmu Hinata. Bagaimana kabarmu?"
Melihat Gaara yang tersenyum ke arahnya, Hinata tidak tahu harus bersikap bagaimana!
"Ha-halo Gaara. Ka-kabarku baik-baik saja. Se-senang be-bertemu denganmu."
Mendengar jawaban Hinata senyum Gaara semakin melebar. "Kau sama sekali tidak berubah Hinata."
Hinata mengangguk kaku. Apa yang harus kau lakukan jika bertemu dengan mantan pacar yang bahkan bukan mantan pacarmu yang sesungguhnya?!
Hinata bukanlah seseorang yang ahli dalam bidang percintaan baik di kehidupan ini ataupun di kehidupan sebelumnya. Ia bahkan belum pernah pacaran oke?! Di kehidupan sebelumnya saat masih sekolah dulu tidak ada yang mau mendekatinya. Ah, dia bukan korban bully, hanya saja tidak ada yang mau mendekati gadis miskin pemalu dan pendiam yang berpenampilan lusuh. Ia tidak cantik, bahkan ia juga pernah dipanggil 'si mata hantu' karena warna matanya yang berbeda. Ia juga tidak pintar dan berbakat. Mencari pacar bukanlah prioritas utamanya. Ada banyak hal yang lebih penting dibandingkan pacar seperti mencari uang untuk tambahan biaya sekolah, membeli buku, atau untuk membeli tas dan sepatu yang telah usang. Setelah lulus sekolah dan bekerja, ia menghabiskan waktu untuk mengumpulkan uang demi membeli apartemen mungil dan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ia tidak memiliki waktu untuk mencari pacar!
Gaara Sabaku adalah mantan pacar Hinata Hyuuga saat masih sekolah dulu. Saat kelas satu SMA Gaara menyukai Hinata dan mengutarakan keinginannya untuk menjadi pacar Hinata. Dulu Gaara Sabaku memiliki reputasi sebagai bad boy yang suka berkelahi, jadi ketika Gaara menembaknya Hinata langsung menerimanya karena ia takut dengan reaksi Gaara jika sampai Hinata menolaknya. Sayang sekali hubungan mereka hanya bertahan selama empat bulan karena Gaara harus pindah sekolah ke Suna. Inti dari cerita ini adalah Gaara menyukai Hinata sedangkan Hinata tidak menyukai Gaara.
WHAT THE HELL?!
"Rambutmu sangat panjang sekarang. Kau juga semakin cantik. Aku tidak pernah menyangka jika tetangga yang sering dibicarakan oleh kakakku Temari ternyata-"
"Aku sudah menikah!" Potong Hinata.
"…"
"…"
"Aku tahu."
"…"
"Kau tidak perlu bersikap canggung seperti ini padaku. Apa kau bersikap canggung karena kau masih menyukaiku?"
PRIA INI! Apa yang ia katakan?!
Hinata menuding wajahnya sendiri dengan jari yang sedikit gemetar dan mata yang terbuka lebar. "A-apa i-ini ekspresi seseorang yang ma-masih menyukai ma-mantannya?"
Gaara mengamati ekspresi Hinata lalu ia tertawa. "Hahaha… kau sangat manis."
Hinata ingin secepatnya pergi dari tempat ini. Dimana kau Temari?! Aku butuh bantuanmu!
"Selamat atas pernikahanmu." Kata Gaara sambil memalingkan wajahnya.
Hinata menganggukkan kepala. "A-aku t-tidak tahu jika Temari adalah ka-kakakmu."
Gaara hanya tersenyum tipis. "Banyak yang tidak kau tahu tentangku, Hinata."
Suara Temari memecahkan suasana canggung diantara mereka. "Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Hinata." Kata Temari sambil membawa nampan yang berisi minuman dingin.
"A-ano… ma-maaf aku ha-harus pergi, Temari. A-ada urusan mendadak. A-aku akan me-mengunjungimu lagi lain kali. Permisi." Pamit Hinata sambil melangkah pergi.
Kedua kakak beradik itu saling bertatapan.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Temari.
Gaara hanya bungkam.
.
.
"Ini ada se-sedikit oleh-oleh untuk Gai-san dan Lee-san. Mo-mohon diterima." Kata Hinata sambil menyodorkan bingkisan pada dua pria eksentrik yang hobi memakai pakaian hijau di depannya itu.
"Terima kasih banyak Hinata-san!"
"Kau benar-benar baik Hinata-san!"
"I-itu ha-hanya hal kecil saja kok. Ti-tidak sebanding dengan bantuan Gai-san dan Lee-san dalam merawat rumah ini. Terima kasih atas bantuan kalian selama ini." Kata Hinata sambil menundukkan kepalanya.
"Kau tidak perlu berterima kasih, Hinata-san. Itu sudah merupakan tugas kami." Kata Gai sambil tersenyum lebar. Deretan gigi putihnya terlihat berkilau.
"Te-tetap saja saya merasa berterima kasih." Gumam Hinata
"Yosh! Masih banyak yang harus diselesaikan. Aku akan memotong rumput di taman!" Kata Lee sambil melangkah pergi dengan penuh semangat.
"Lee-san benar-benar giat bekerja." Puji Hinata.
"Eh?! Apa ini artinya aku kurang giat bekerja?! Tenang saja Hinata-san, aku akan bekerja lima kali lebih giat lagi!" Kata Gai dengan semangat berapi-api.
"Ah! Bu-bukan itu maksudku! Sungguh! Gai-san dan Lee-san adalah orang paling giat yang pernah kukenal! Kalian berdua benar-benar hebat!"
"Ahahaha… terima kasih atas pujianmu Hinata-san."
"I-itu bukan pujian, a-aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Kata Hinata dengan jujur.
"A-ano… Gai-san, jika bo-boleh bertanya sudah berapa lama kau dan Lee-san bekerja disini?"
Gai menggosok dagunya sambil memasang pose berpikir. "Hmm… mungkin sekitar lima tahun."
"O-oh… jadi Gai-san be-belum pernah bertemu dengan mendiang keluarga Uchiha dulu." Gumam Hinata.
Gai menggelengkan kepala. "Rumah ini bukan kediaman keluarga Uchiha dulu. Sasuke-san baru menempati rumah ini sejak lima tahun lalu."
Hinata menundukkan kepalanya. Jadi keluarga Uchiha tidak pernah tinggal disini.
Hey Sasuke… apakah kau meninggalkan rumah itu karena tidak ingin tinggal di rumah yang dipenuhi oleh memori keluargamu?
.
.
Semenjak pertemuannya dengan Gaara, Hinata enggan mengunjungi Temari. Hinata lebih memilih menyibukkan diri menata ulang rumahnya. Ia membeli beberapa pernak-pernik lucu untuk dijadikan hiasan rumah. Ia memajang foto pernikahannya dengan Sasuke di dinding ruang tamu. Hinata terkekeh membayangkan reaksi Sakura dan Naruto ketika melihat foto ini saat bertamu. Hinata juga memajang fotonya bersama keluarga Hyuuga. Sayang sekali Hinata tidak memiliki foto keluarga Sasuke.
Hinata juga menanam sayuran di halaman belakang, terutama tomat yang merupakan kesukaan Sasuke. Hinata tidak ingin mengacaukan taman yang berada di depan rumah yang telah dirawat oleh Gai dan Lee dengan susah payah, sebagai gantinya ia menanam berbagai bunga di pot.
Dua hari sejak kepulangan Hinata dari Yukigakure, Hanabi dan Neji datang mengunjunginya. Mereka berbincang-bincang dari siang hingga petang hari. Hinata bersikeras memasakkan makan malam untuk mereka sebelum pulang.
"Aku tidak tahu kau bisa memasak hingga semahir ini." Kata Neji sambil memakan ayam teriyaki buatan Hinata.
"A-aku sudah menikah, Nii-san. Aku harus belajar untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik." Jawab Hinata. Mana mungkin ia akan mengatakan pada Neji dan Hanabi jika keahlian memasak adalah sesuatu yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
"Kau harus belajar untuk lebih feminim lagi, Hanabi."
Mendengar perkataan Neji, Hanabi hanya menjulurkan lidahnya. Hinata tersenyum melihat tingkah kekanakan Hanabi. Neji hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Hanabi.
"Oh ya Nee-chan…" Kata Hanabi sambil menoleh ke arah Hinata. Matanya menyiratkan rasa jahil. "Otou-san mulai bertanya-tanya kapan kau akan memberinya cucu."
"Uhuk!" Hinata tersedak nasi yang sedang ia kunyah.
"Hanabi! Jangan bertanya seperti itu!" Teriak Neji.
"Apa? Aku hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Otou-san." Kata Hanabi sambil memasang ekspresi polosnya.
"Ha-Ha-Hanabi!" Wajah Hinata merah padam. Mengapa Hanabi menanyakan hal seperti itu padanya?!
"Anak adalah sebuah anugerah. Ia akan tiba di saat yang tepat." Kata Neji dengan tenang.
"Nii-san!" Teriak Hinata. Sementara itu Hanabi cekikikan melihat wajah Hinata yang semerah tomat karena menahan rasa malu.
"Nee-chan, aku ingin keponakan perempuan." Goda Hanabi.
Hinata membenamkan wajahnya ke telapak tangannya. Bagaimana mungkin Hinata memberikan keponakan untuk Hanabi, ia saja belum pernah melakukan 'itu' dengan Sasuke.
BUKAN BERARTI HINATA MENGHARAPKAN HAL 'ITU' OKE?!
"Jika kau punya anak kau harus memberinya nama-"
"Cukup." Potong Hinata. "Jangan… pokoknya jangan membahas hal ini lagi oke?!"
"Tapi Nee-chan-"
"Hanabi…"
.
.
Dengan enggan Hinata mengakui jika… ia sedikit rindu dengan Sasuke. Menurut jadwal, Sasuke akan pulang ke Konoha besok siang.
Selama menikah ia dan Sasuke memang jarang menghabiskan waktu berdua. Pembicaraan mereka hanya berlangsung di meja makan, itupun hanya diisi percakapan singkat. Meski begitu Hinata selalu menanti momen kebersamaan mereka. Setiap sore hari Hinata akan menghabiskan waktunya di dapur memasak makan malam sambil menanti kepulangan Sasuke.
Mereka berdua memang tidak tidur di kamar yang sama. Akan tetapi Hinata selalu merasa tenang ketika mengingat keberadaan Sasuke hanya dipisahkan tembok.
Malam ini Hinata memeluk bantalnya dengan gelisah. Waktu menunjukkan lewat tengah malam namun kantuk belum juga menghampirinya. Ia ingin sekali menelpon Sasuke untuk mendengar suaranya meski hanya sekilas saja namun ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu.
Di rumah yang sebesar ini Hinata hanya sendirian. Kamar Sasuke juga kosong, penghuninya tidak tidur di tempat itu malam ini.
Eh… tunggu dulu…
Kosong?
Bukankah ini artinya Hinata bisa memasuki kamar itu tanpa perlu mengkhawatirkan kehadiran Sasuke? Mengapa Hinata tidak pernah memikirkan ide ini sebelumnya?!
Hinata menggigit bibirnya. Haruskah ia melakukan itu? Di awal pernikahan Sasuke sudah menegaskan jika Hinata tidak boleh memasuki kamarnya. Tapi harus Hinata akui jika ia memang penasaran dengan isi kamar Sasuke.
Ya? tidak? Ya? tidak? Ya? tidak? Ya?
Meh… apa salahnya jika ia mengintip kamar Sasuke?
Dengan memantapkan diri Hinata berjalan mengendap-endap menuju ke kamar Sasuke. Ia lalu menceramahi dirinya sendiri, apa yang ia khawatirkan?! Ia hanya sendirian di rumah ini! Sasuke tidak mungkin tahu… kan? Bagaimana jika Sasuke memasang perangkap saat ia membuka pintu kamarnya? Itu tidak mungkin… kan?
Dengan perlahan Hinata membuka pintu kamar Sasuke yang tidak terkunci. Kamar itu gelap gulita. Hinata lalu mencari-cari sakelar untuk menyalakan lampu. Ketemu!
Klik!
Ruangan yang gelap gulita kini terlihat jelas. Selangkah demi selangkah ia memasuki kamar Sasuke. Tidak ada yang istimewa dari kamar Sasuke. Hanya ada tempat tidur, meja, kursi, dan rak yang berisi buku-buku. Hinata lalu membuka pintu yang berada di samping. Ah, ternyata kamar mandi. Ada shower, bath-tub, wastafel, dan toilet. Ia membuka pintu di sebelahnya lagi, dan ternyata ruangan itu dipenuhi pakaian Sasuke yang ditata rapi dan berderet-deret.
Hinata lalu mengalihkan perhatiannya ke rak buku. Ia berharap bisa menjumpai album foto yang mungkin saja berisi foto-foto Sasuke saat masih kecil dulu. Hinata sedikit kecewa karena rak itu hanya berisi buku-buku dengan judul yang asing baginya.
Tidak ada yang menarik di kamar ini!
Mata Hinata lalu tertuju pada sebuah album foto diatas meja kecil yang berada di samping tempat tidur Sasuke. Dengan perlahan ia meraih foto itu dan mengamatinya. Ada empat orang di foto itu, ada seorang wanita cantik berambut hitam panjang dengan raut wajah lembut, seorang pria dengan ekspresi kaku dan tegas, seorang remaja tampan berusia belasan tahun yang tengah tersenyum tipis, dan seorang anak kecil imut dengan senyum lebar dan polos.
Hinata mengenal anak kecil itu. Meskipun wajahnya terlihat sedikit berbeda, ia yakin anak kecil itu adalah Sasuke. Ini berarti foto ini adalah foto keluarga Sasuke…
Hinata meletakkan foto itu kembali. Ia merasa sedikit bersalah telah mengintip memori Sasuke.
Hinata lalu berjalan keluar kamar sambil mematikan lampu. Sekali lagi ia melirik kamar Sasuke yang kini menjadi gelap gulita.
Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin ia lakukan…
Ia kembali berjalan mendekati ranjang Sasuke. Ia sengaja tidak menghidupkan lampu kamar. Ia lalu merebahkan diri di ranjang itu. Empuk dan nyaman. Hinata lalu membenamkan kepalanya ke bantal dan menghirup aroma yang terasa familiar baginya. Hinata menarik nafas dalam-dalam dan teringat bahwa aroma ini adalah aroma Sasuke, sama seperti aroma yang ia hirup saat memeluk Sasuke di Yukigakure dulu.
Hinata memejamkan matanya dan sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Memori tentang Sasuke terbayang di benaknya. Hinata tersenyum. Ia benar-benar merindukan Sasuke.
Dan Hinata tertidur.
Tak lama kemudian suara langkah kaki datang mendekat. Pria itu menghentikan langkahnya saat melihat sesosok wanita yang tengah tertidur di ranjangnya.
"Huh… lagi-lagi…" Kata Sasuke sambil menghela nafas. Ia lalu menghampiri Hinata sambil membelai rambut panjangnya yang terurai bebas di atas bantal.
"Aku pulang…"
.
.
Special update untuk para readerku tercinta. Kalian memang yang terbaik.
Saya mencoba membuat Sasuke POV tapi sumpah! Susah sekali! Bahkan saya sampai gulung-gulung sendiri (T_T)
Saya juga membuat Fanfic yang berjudul What if? Yang bercerita tentang kisah Hinata seandainya ia masuk ke novel spring love saat berada hampir di akhir kisah novel dan bukannya di awal cerita seperti dalam fanfic Novel Spring Love. Disini Hinata terlanjur di cap sebagai tokoh antagonis dan Sasuke telah bersama dengan Sakura. Tapi tenang saja, 100% dijamin SASUHINA. Jika kalian tertarik maka kalian bisa mencoba membacanya dan berikan komentar versi mana yang lebih sesuai dengan selera reader.
