"Chullie, kupikir sudah saatnya kita harus pulang ke Korea." Hangeng melipat koran yang baru saja dibacanya dan meletakkannya dimeja sebelahnya.
"Kenapa? Aku masih ingin disini." Heechul memperhatikan kuku tangannya dan mengabaikan suaminya.
"Tapi kita sudah terlalu lama meninggalkan Kyuhyun. Anak itu pasti akan mengamuk karena terlalu lama sendirian." Hangeng menyeruput teh hangat yang dibuatkan Heechul tadi.
"Tidak usah. Bukankah dia paling suka sendirian, tak ada yang mengganggu? Lagipula dia akan baik-baik saja bersama Siwon. Aku bertaruh dia sedang bersenang-senang saat ini."
"Tapi kita meninggalkannya dengan orang asing, sayang." Kyuhyun itu anak kesayangan Hangeng, jadi dia merasa khawatir meninggalkan Kyuhyun begitu saja. Walaupun sudah sering ia lakukan, tapi ini yang paling lama. Memang anak itu tidak terlaku suka diusik, itu sebabnya jika dirumah Hangeng selalu mendengar keributan karena Heechul selalu merecoki Kyuhyun. Hangeng sangat rindu wajah merajuk Kyuhyun jika kalah berdebat dengan Heechul.
"Orang asing itu kekasihnya dan calon suaminya. Tak usah mengkhawatirkannya. Aku sudah menghubungi Leeteuk hyung untuk menengoknya." Ucap Heechul menenangkan.
"Kita orang tuanya. Dia masih menjadi tanggung jawab kita. Sudah ku bilang kan aku tidak setuju jika kau ingin menikahkan mereka." Hangeng sudah berkali-kali sudah mengutarakan hal ini, tapi Heechul selalu membantah. Perbedaan usia mereka berdua yang ia permasalahkan.
"Tapi Kyuhyun menyukai Siwon, Hannie." Heechul melingkarkan lengannya dileher suaminya dari belakang.
"Itu hanya perasaan kagum sesaatnya saja Heechul~ah."
"Aku hanya membantu untuk mendekatkan orang yang saling menyukai."
"Itu lebih buruk. Karena Siwon pasti akan segera menikahi Kyuhyun. Dia masih remaja, dia masih harus menyelesaikan pendidikannya."
"Aku juga masih normal, tidak akan mengijinkan mereka menikah secepat itu."
"Apapun itu, aku tetap tidak setuju. Lebih baik kau menjodohkan Kyuhyun dengan anaknya. Choi Minho."
Hangeng lalu beranjak dari duduknya dan masuk kedalam rumah. Bagaimana bisa Heechul menginginkan Siwon menjadi menantunya? Tidak dipungkiri memang Siwon memenuhi kriteria menantu idaman. Tapi Siwon itu duda beranak dua dan putra sulungnya seumuran dengan Kyuhyun. Mereka seperti pasangan ayah dan anak. Apa Minho akan menerima Kyuhyun sebagai ibu tirinya? Jika anak itu normal, pasti akan menolaknya mentah-mentah. Hangeng tidak mau putranya menerima kebencian dari siapapun. Lalu kenapa dia malah mengusulkan Minho sebagai menantunya? Sederhana. Dia tadi hanya asal bicara agar istrinya berhenti melancarkan ide anehnya. Dia hanya berharap Heechul tak menganggap serius hal itu. Bisa dibilang istrinya itu 'pembangkang' , jadi jika ia mendengar sesuatu yang menarik baginya, dia akan berusaha mewujudkan hal itu.
"Idemu lebih parah dariku Hannie. Bukankah kau sudah tahu Minho dan Kyuhyun tidak mungkin bisa bersama?"
Hangeng menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Heechul. Dia melupakan satu fakta. "Tak jauh beda denganmu bukan? Siwon, dia ayah Minho. Jika Minho tidak bisa, Siwonpun juga begitu."
.
.
.
Kyuhyun berbaring di sofa, tangannya mengelus bugsy yang tidur diatas perutnya.
Kyuhyun memikirkan semua yang diucapkan Ryeowook tempo hari. Menghubungkan dengan apa yang dia rasakan kepada Siwon. Dia memang merasakan hal sama seperti yang dikatakan Ryeowook kemarin kepada Yunho juga Siwon.
Tetapi ada hal berbeda yang dia rasakan, rasa yang tak bisa ia jabarkan. Seperti sensasi yang dia rasakan. Saat menyentuh Siwon dia serasa terkena sengatan listrik tapi ia merasa tak ingin melepaskannya. Seperti saat kau menyentuh aliran listrik dengan tangan yang basah.
Kyuhyun juga merasa takut saat melihat mata Siwon. Dia seperti tersedot ke dimensi lain saat menatapnya.
Tapi semua hal itu membuat hatinya membuncah bahagia.
Rasa yang belum pernah ia rasakan selama ini.
"Apa aku sudah jatuh cinta padanya?"
Lamunan Kyuhyun buyar saat mendengar dering pertanda pesan masuk keponselnya.
From: Choi Siwon
Jemputlah Suho ke sekolahnya. Aku tak bisa karena masih ada meeting.
"Apa dia tidak tahu badanku semuanya sakit. Aku libur juga tak hanya bermalas-malasan dirumah." Gerutu Kyuhyun.
Kyuhyun hari ini libur sekolah, dia tak tahu kenapa dan tak ingin tahu. Padahal liburan masih beberapa hari lagi. Selama setengah hari dia berkutat di kebun belakang rumah, mencabuti rumput liar dipot bunga dan menyirami semuanya. Dia juga memandikan bugsy dan mojo yang berakhir dia membasahi sekujur tubuhnya sendiri. Hanya hal itu yang bisa ia lakukan untuk berterima kasih pada Siwon karena sudah mengijinkannya tinggal disini.
"Memang ibunya kemana? Biasanya juga nenek Suho yang menjemput dan akan tinggal dirumahnya sampai dia menjemputnya."
Ponsel Kyuhyun bergetar lagi menunjukkan ada pesan masuk lagi.
"Apa dia cenayang? Kenapa dia bisa tahu?"
From: Choi Siwon
Ibuku sedang ada urusan sebentar.
.
.
.
"Mati kau mati!"
Kyuhyun memainkan game di psp nya, dia memelankan suara teriakannya karena Suho baru saja tidur siang. Dia juga ingin tidur setelah menjemput Suho tapi matanya tidak mau menutup. Kakinya merasa pegal setelah berjalan jauh, dia harus menggunakan bus untuk sampai di sekolah Suho tentu saja. Lebih efektif dari pada menaiki sepeda.
Kyuhyun mem-pause game nya lalu sedikit membantingnya kesofa tempat dia berbaring. Bell rumah berbunyi.
Kyuhyun memasukkan lolipop rasa anggur kedalam mulutnya lalu berjalan menuju pintu depan.
Saat membuka pintu, dia mendapati seorang pria yang tidak lebih cantik dari ibunya tersenyum didepan pintu. Kali ini dia akui, senyumnya lebih cantik dari ibunya. Sangat menenangkan.
"Anda mencari siapa?" Kyuhyun memutar-mutar lolipop didalam mulutnya beberapa kali lalu menyesap rasanya. Badannya bersandar disamping pintu.
"Aku mencari Choi Siwon." Oh suaranya juga sama, sangat lembut.
"Choi Siwon belum pulang, anda bisa kesini lagi nanti sekitar pukul 8 malam. Sampai jumpa."
Sebelum pintu ditutup oleh Kyuhyun, orang itu menyela. "Aku Leeteuk, ibu Siwon."
Kyuhyun tersedak ludahnya sendiri, menepuk-nepuk dadanya, matanya sudah mulai berair.
"Kau tidak apa-apa?" Leeteuk menghampiri Kyuhyun membantu menepuk punggung Kyuhyun.
Kyuhyun hanya mengangkat tangannya mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
.
.
.
"Suho dimana?"
"Dia sedang tidur." Jawab Kyuhyun gugup.
"Emmmm Nyonya Choi. Aku minta maaf karena berlaku tidak sopan di hadapan anda tadi." Kyuhyun memilin ujung bajunya, kepalanya menunduk.
Leeteuk menghentikan kegiatan memotong sayurnya, menatap Kyuhyun yang menggigit bibir bawahnya.
"Tidak apa-apa. Aku lebih suka kau bersikap seperti dirimu sendiri daripada pura-pura bersikap manis. Panggil saja aku eommoni."
"Sekali lagi maafkan aku." Kyuhyun membungkuk 45 derajat didepan Leeteuk.
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Kau benar-benar keturunan Kim Heechul." Leeteuk tertawa kecil mengingat temannya itu.
Mereka sebenarnya pertama kali bertemu baru sekitar 8 bulan yang lalu dan beberapa kali bertemu dalam perjamuan makan malam kolega perusahaan. Mereka menjadi akrab karena berlangganan ditoko yang sama.
"Anda mengenal ibu saya?" Tanya Kyuhyun kaget, pasalnya dia tidak pernah mendengar nama Leeteuk disebut oleh ibunya.
"Kami berteman. Sudah kubilang panggil aku eommoni, aku juga akan menjadi ibumu nantinya." Leeteuk berdiri menghampiri masakannya diatas kompor. Sedangkan Kyuhyun sejak tadi hanya berdiri melihat Leeteuk yang mondar mandir sibuk memasak. Kyuhyun tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dapur bukan wilayahnya kecuali makanan.
"Apa?"
"Kau lebih manis dari yang kulihat dari televisi dan majalah. Bukankah kau kekasih putraku?" Walaupun dia berteman dengan Heechul, tapi ini pertama kalinya dia bertemu Kyuhyun. Namja cantik itu hanya pernah membicarakan putranya ini saat pertemuan terakhir mereka sekitar 2 bulan lalu. Itupun karena dia mengajaknya berkompromi.
"Aahhh itu-awww" Kyuhyun meringis menahan perih dijarinya yang tersayat pisau. Dia lalu mengemut jari telunjuknya. Dia pikir memotong sayuran itu tidak sulit, jadi dia ingin membantu.
"Hei jangan diemut seperti itu. Harusnya kau menbasuhnya dengan air mengalir." Leeteuk memegang tangan Kyuhyun, membawanya ke westafel lalu membasuhnya. "Kau duduk saja dikursi. Aku tak mau kau terluka lagi."
Leeteuk membimbing Kyuhyun duduk dikursi terdekat. "Terima kasih. Ibuku bahkan tak pernah melakukan hal seperti itu."
"Benarkah? Berapa kali jarimu tersayat pisau?"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Belum pernah. Ini pertama kalinya. Aku tak tertarik dengan peralatan dapur."
Setelah berkata seperti itu Kyuhyun memaki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu didepan ibu Siwon? Benar-benar bodoh.
Leeteuk hanya tertawa mendengar jawaban polos Kyuhyun.
Setelahnya mereka mengobrol dengan diselingi tawa.
Dari obrolan itu Kyuhyun jadi tahu kalau Siwon dan istrinya memutuskan bercerai karena istri Siwon mencintai dan memilih pria lain. Dasar wanita bodoh. Memang apa kekurangan Siwon? Siwon punya wajah tampan dan kaya, bukankah itu kriteria semua wanita? Siwon mendapat hak asuh Suho sedangkan Minho bersama ibunya tinggal di Canada. Leeteuk juga menceritakan bahwa suaminya sudah meninggal 7 tahun lalu karena gagal ginjal. Kyuhyun menyesal menanyakan hal itu karena membuat Leeteuk mengingat suaminya dan meneteskan airmatanya. Tapi tak lama setelah itu tertawa karena Leeteuk menceritakan masa kecil Siwon.
"Siwon hyung menikah di usia muda, apa dia tidak menjalankan wajib militer eommoni?" Kyuhyun menopang dagu dengan kedua tangannya. Tadinya Kyuhyun ingin membantu memindahkan masakan ke mangkok/piring, tapi Leeteuk melarang dengan alasan dia tak mau tangan Kyuhyun terkena kuah panas. Dia merasa tak berguna sama sekali.
"Tentu saja dia menjalankannya. Saat usianya 26 tahun, dia harus meninggalkan istrinya dan Minho yang saat itu berusia 8 tahun. " Leeteuk meletakkan piring berisi masakannya diatas meja makan.
"Usia Minho 7 tahun? Bukankah dia menikah saat umurnya 23 tahun? Lalu Minho anak siapa?"
"Anak bodoh itu menghamili pacarnya semasa SMA yang lebih tua dan pacarnya menyembunyikan kehamilannya."
Piring ditangan Kyuhyun yang baru saja dia ambil dari lemari hampir jatuh kelantai karena kaget.
Wajah Leeteuk jadi kesal saat mengingat masa lalu saat tiba-tiba saja ada wanita yang menggendong anak laki-laki datang kerumahnya dan mengatakan jika anak yang digendongnya adalah cucunya.
Tentu saja keluarga Choi tak langsung mempercayainya begitu saja walaupun mereka tahu wanita bernama itu pacar Siwon dahulu. Tapi hasil DNA menunjukkan kecocokan antara Siwon dan balita itu. Wanita itu meminta pertanggung jawaban pada Siwon, jadi mereka dinikahkan. Tapi ternyata wanita itu sendiri yang mengkhianati pernikahan mereka. Tidak ada yang mengerti motifnya dia ingin dinikahi Siwon. Leeteuk juga tak mau tahu siapa pria yang dinikahi wanita itu begitu juga dengan Siwon.
"Aku harus menunggu 3 tahun lagi untuk masuk militer. Padahal aku sudah tidak sabar ingin memegang senjata dan belajar menembak. Pasti keren sekali." Kyuhyun mengalihkan pembicaraan setelah melihat ekspresi kesal Leeteuk. Terlalu banyak fakta mengejutkan tentang Siwon.
Leeteuk tertawa melihat tingkah Kyuhyun praktek menembak dengan tangannya. Menirukan bunyi tembakannya, wajahnya juga serius sekali.
"Kupikir kau tidak akan masuk wajib militer."
"Kenapa?" Kyuhyun menurunkan kedua tangannya.
"Bukankah kau bisa hamil? Kau bisa digolongkan sebagai wanita. Aku dan ibumu juga tak masuk militer."
"Aku tidak tahu tentang hal itu. Kalaupun aku bisa hamil, aku tidak ingin hamil. Aku ingin menjadi pihak yang menghamili, karena aku juga punya belalai."
"Jadi kau yang akan menghamili Siwon?" Leeteuk berkata sambil menahan tawanya.
"Tentu saja. Aku akan membuktikan hal itu. Lihat saja nanti eommoni, perut rata Siwon hyung akan membuncit karena berisi bayi." Ucap Kyuhyun penuh keyakinan.
Leeteuk hanya menggelengkan kepalanya. Apa Kyuhyun sanggup menumbangkan badan besar Siwon diatas ranjang? Walaupun badan Kyuhyun juga tak kalah besar, tapi Siwon lebih unggul dalam kekuatan. Jikapun bisa, berapa kalipun Kyuhyun menusuk Siwon, Siwon juga tak akan bisa hamil.
"Aku senang kau bisa menerima Siwon." Kata Leeteuk sambil tersenyum kecil.
"Kyuhyun hyung bicara dengan siapa?" Suho berjalan masuk ke dapur, tangannya mengucek matanya.
"Astaga. Aku sampai lupa membangunkanmu." Kyuhyun menengok kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Jamnya sudah dia perbaiki ke waktu yang benar.
"Halo jagoan." Sapa Leeteuk.
"Halmoni!" Suho berlari menuju Leeteuk yang merentangkan tangannya lalu melompat ke pelukan neneknya. "Aku merindukan halmoni."
Leeteuk menciumi seluruh wajah Suho, Suho sendiri berusaha menghindarinya karena geli. "Kau kan hanya tidak bertemu halmoni sebentar saja."
Leeteuk menurunkan Suho.
"Aku merindukan lubang dipipi halmoni ini." Telunjuk Suho menusuk tepat di lesung pipi Leeteuk sembari tertawa kecil.
"Ayahmu juga punya kan? Bahkan ada dua." Leetuk menurunkan Suho dari gendongannya.
"Lucu punya halmoni. Daddy tidak mau memberikannya satu pada Suho. Daddy pelit kan halmoni?"
"Yang seperti ini tidak bisa diminta Suho. Ini pemberian Tuhan."
"Tapi Suho ingin punya. Daddy, halmoni dan Kyuhyun hyung punya. Kenapa Suho tidak?" Suho menunjuk cekungan kecil disudut kanan bibir Kyuhyun yang hanya akan terbentuk saat Kyuhyun membentuk ekspresi tertentu. Seperti minum melalui sedotan.
"Karena agar Suho menemani Minho hyung. Minho hyung juga tidak punya kan?"
Suho mengangguk mengerti kemudian tersenyum lebar karena bukan hanya dia yang tidak punya lubang diwajahnya. Dia juga ingat Kris tidak mempunyainya.
"Suho, ayo mandi. Ini sudah terlalu sore, nanti kau bisa bermain lagi bersama halmoni." Ajak Kyuhyun.
"Sudah sana mandi dulu bersama Kyuhyun hyung."
Suho hanya mengangguk lalu menggandeng tangan Kyuhyun.
.
.
.
"Siwon, kuharap kau tak kan mengulangi kesalahan yang sama. Kekasihmu ini baru berusia 17 tahun." Ujar Leeteuk. Dia bisa melihat warna merah dileher Kyuhyun dan satu lagi dengan warna yang hampir memudar. Pasti anaknya itu yang membuatnya dan akan membuat yang baru lagi jika hampir hilang. Benar-benar. Melihat Kyuhyun yang bersikap santai dengan tak menutupi tanda itu membuat Leeteuk yakin Kyuhyun tak tahu apapun. Anak yang polos.
Mereka sedang makan malam, Kyuhyun menghubungi Siwon untuk pulang lebih cepat kerumah karena ibunya datang berkunjung.
"Tentu saja tidak akan. Aku kan saat itu tidak sadar." Siwon menjawabnya tanpa ragu setelah melihat tak ada reaksi apapun dari Kyuhyun. Jadi dia menyimpulkan ibunya sudah memberi tahu Kyuhyun semuanya.
"Aku tak yakin dengan itu." Cibir Leeteuk.
"Aku hanya mencobanya sekali, aku tak mengira akan menghasilkan bayi. Bukankah aku hebat?" Leeteuk memukul kepala Siwon sehingga Kyuhyun dan Suho terkikik.
"Jika aku melakukannya dengan Kyuhyun, tentu saja aku tak akan ceroboh lagi." Dia mengedipkan salah satu matanya kearah Kyuhyun.
Sedangkan Kyuhyun lebih memilih fokus dengan makanan yang ada dipiringnya, wajahnya sudah memerah. Ditambah dia harus menelan sayuran, dia tak bisa menyingkirkannya karena ada ibu Siwon.
"Jangan mengotori fikirannya. Disini juga ada Suho. Kyuhyun juga belum cukup umur. Jangan coba-coba melakukan hal itu pada Kyuhyun." Leeteuk mengacungkan garpunya mengancam.
"Kapan Minho akan tiba di Korea?"
Kyuhyun mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Leeteuk lalu memandang Siwon. Pria itu tak mengatakan apapun padanya. Haruskah dia pindah dari rumah ini? Disini kan hanya ada dua kamar? Tapi kalau pindah dia harus kemana? Ibunya belum pulang. Mungkin Minho akan tinggal dirumah Leeteuk.
"Kemarin Minho menghubungiku, katanya mungkin seminggu sebelum masa liburan berakhir."
Kyuhyun tidak tahu apa yang harus dilakukannya nanti jika Minho kesini. Dia tak tahu apapun mengenai anak itu. Bagaimana jika dia membencinya?
.
.
.
"Kenapa kau tidak bilang kalau ibumu akan datang?" Kyuhyun mendesis. Matanya menyipit menatap Siwon.
"Aku juga tidak tahu."
Leeteuk sudah pulang dari dua jam yang lalu. Setelah berhasil menidurkan Suho yang merengek ingin Leeteuk menginap. Ini sudah pukul 11 malam, Kyuhyun dan Siwon sudah berada diranjang bersiap untuk tidur.
"Kau juga tidak memberi tahuku mengenai Minho yang akan datang. Lagipula bukankah kau bilang dia selalu menghabiskan masa liburan penuh disini?"
"Kupikir itu tidak terlalu penting. Dan Minho akan pindah sekolah ke sekolahmu."
"Minho itu orangnya bagaimana?" Kyuhyun ingin mempersiapkan diri menghadapi Minho. Jika anak itu pindah kesini berarti mereka akan selalu bertemu. Kyuhyun juga bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru, biasanya dia akan mengamati tingkah laku mereka terlebih dahulu sebelum memutuskan berteman dengannya. Tapi untuk hal ini dia tidak bisa melakukannya kan?
"Dia tampan dan tinggi. Badannya atletis, mirip sepertiku."
"Bukan yang seperti itu maksudku. Apa dia orang yang menyenangkan atau bagaimana?"
"Dia anak yang menyenangkan tentu saja. Kuharap nanti kau bisa berteman dengannya saat disekolah. Kau tahu kan anak baru itu seperti apa?" Siwon memilih mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin Kyuhyun tahu kalau Minho sedikit tidak suka dengannya.
"Kenapa harus pindah? Ibunya sekarang membuangnya?"
"Gunakanlah bahasa yang bagus." Siwon menyentil dahi Kyuhyun hingga anak itu mengaduh. "Minho sendiri yang ingin pindah. Dia akan ada dikelas satu, dia tidak secerdas dirimu yang bisa lompat kelas."
Kyuhyun lalu berguling telungkup, kepalanya menatap kearah Siwon. Memperhatikan raut wajah serius Siwon yang kembali fokus ketablet ditangannya. Mungkin tentang bisnis lagi.
Rambut hitam pendek Siwon, kedua alis tebalnya yang selalu naik jika marah. Mata Siwon yang membuatnya seakan melayang jika menatapnya. Hidungnya yang mancung. Bibir tipis yang selalu menampilkan senyum menyilaukan hingga terkadang membuat mata Kyuhyun berkunang-kunang. Bibir yang pernah menciumnya. Lesung pipinya yang selalu ingin ia tusuk dengan telunjuknya tapi belum ada kesempatan.
Jantung Kyuhyun mulai berdetak cepat mengingat ciuman terakhir mereka. Ciuman mereka yang paling intim. Ciuman yang memabukkan bagi Kyuhyun. Dan pernyataan cinta Siwon padanya semakin membuat jantungnya seperti ada kembang api yang meletus.
Siwon meletakkan tabletnya diatas nakas lalu menoleh kearah Kyuhyun yang menatapnya tak berkedip. Siwon membaringkan tubuhnya miring menghadap Kyuhyun. Posisi mereka sangat dekat sampai Siwon bisa merasakan hembusan nafas Kyuhyun.
"Kenapa menatapku seperti itu dari tadi?"
Hening beberapa menit, sampai Kyuhyun membuka bibirnya.
"Aku mencintaimu Choi Siwon."
Setelah itu Siwon merasakan bibir Kyuhyun menempel dibibirnya. Beberapa menit hanya seperti itu, bibir mereka hanya menempel. Kyuhyun memejamkan matanya lalu mulai menggerakkan bibirnya. Siwon mengikutinya hingga ia yang mendominasi.
Ciuman panjang mereka terlepas karena Kyuhyun memukul dada Siwon beberapa kali mengisyaratkan dia sudah kehabisan nafas.
"Kau mau membunuhku?!" Sentak Kyuhyun, nafasnya masih terengah-engah.
"Kau yang memulainya. Aku hanya menurutimu. Bukankah kau juga menyukainya? Aku mendengar desahanmu walaupun pelan tadi." Goda Siwon. Siwon juga menirukan suara desahan Kyuhyun.
"Kau menyebalkan!" Kyuhyun membalikkan badannya membelakangi Siwon. Wajahnya sudah memerah seperti tomat busuk, juga badannya sedikit lemas entah kenapa.
Siwon berdehem setelah meredakan tawanya. Siwon mendekati Kyuhyun lalu melingkarkan lengannya disekeliling pinggang Kyuhyun.
"Aku juga sangat mencintaimu Cho Kyuhyun." Bisik Siwon tepat di telinga Kyuhyun yang masih memerah.
Siwon membalikkan badan Kyuhyun lalu memeluknya. Kepala Kyuhyun ia sandarkan didadanya. Lengan kirinya masih memeluk pinggang Kyuhyun, dagunya dia letakkan diatas kepala Kyuhyun dan tangan kanannya mengelus rambut Kyuhyun. Sesekali ia menciumi dan menghirup wangi nya.
"Apa Minho mengetahui tentang kita?"
"Tentu saja. Dia anakku."
Siwon tahu Kyuhyun mengkhawatirkan sesuatu, begitu juga dengan dia.
"Tak usah mengkhawatirkan apapun. Tidurlah." Siwon mengeratkan pelukannya.
"Kenapa baru sekarang kau melakukan hal ini? Aku selalu menginginkan hal ini sejak dulu." Lirih Kyuhyun. Matanya sudah terpejam, detak jantung Siwon yang menurutnya sangat indah seakan menjadi lullaby untuknya.
"Akupun begitu. Tapi kau selalu menaruh guling diantara kita, kau juga selalu menendangku tanpa sebab. Aku tidak mau kau panggil Ahjussi mesum jika memaksa."
Siwon melirik Kyuhyun yang ternyata sudah tertidur. Dia merenggangkan pelukannya sebentar untuk mengecup bibir Kyuhyun sekali lalu memeluknya lagi.
