Disclaimer : ATLUS


Sakura berjalan pelan menuju sebuah pintu kecil sementara Negyuu mengikutinya. Langkah mereka terdengar seirama ketika menghentak ke lantai kayu di bawahnya. Sesampainya mereka di depan pintu itu, tanpa basa-basi ia membukanya.

"Halo, Sakura. Lama tak jumpa," sapa seorang pria tua yang sedang duduk di atas sebuah bantal duduk. Ia memakai yukata berwarna hijau tua dengan motif bambu. Keriput di wajahnya dan rambut putihnya yang disisir rapi menunjukkan kewibawaan yang dimilikinya. Di sampingnya, terdapat sebuah meja kecil. Di atas meja tersebut terdapat sebuah botol dari keramik, sebuah cawan berisi cairan bening, dan sebuah silinder dengan diameter lima puluh sentimeter serta tinggi sepuluh senti yang terbuat dari kayu. Di dalam silinder tersebut, terdapat berbagai macam makanan laut mentah yang ditaruh di atas nasi yang dipadatkan.

"Saya mohon diri, Tuan Raiga," kata Negyuu hormat sambil membungkuk dan mundur. Tak lama, ia pergi dari tempat itu. Sakura melihat sosok tegap orang yang selalu mengurusnya selama ini.

"Ayo masuk. Kita makan. Sudah lama kita tidak makan bersama," kata kakek tua itu sambil mengangkat cawannya. "Bersulang untuk kepulanganmu!"

Sakura menghela nafas dan berjalan memasuki ruangan itu. Setelah menutup pintu, ia berjalan menuju meja itu dan duduk berseberangan dengan kakeknya.

"Jangan bermuka jelek begitu, ayo makan!" seru sang kepala keluarga sambil mencapit sebuah sushi dengan ikan berwarna merah kejinggaan.

"Kek..."

"Hem, enak! Sushi dari toko sushi Kamamura memang yang paling enak. Ah, tapi tunggu sampai kita mencoba guritanya," kata Raiga sambil mengambil sepotong tentakel berwarna keunguan dan mengendusnya. "Hem, yang terbaik dari kelasnya," katanya sambil mencelup tentakel itu kedalam kecap asin lalu memakannya.

"Kek..."

"Mahanlah, Hagura. Ada baji guita duh," kata kakek tua itu sambil mengunyah. Sakura mengerenyit. "Bayi gurita," katanya lagi setelah menelan makanannya. "Kesukaanmu, kan?"

Sakura memandang kakeknya tidak percaya. Setelah lama saling berpandangan, ia mengambil sumpit dan mencapit sushi ber-topping bayi gurita dan memasukkannya ke dalam mulut bulat-bulat.

"Enak, kan?" tanya kakeknya. Sakura mengangguk pelan dan menelannya. Ia lalu mengambil sushi yang lain dan memakannya juga. Raiga tersenyum. "Sudah berapa lama kita tidak makan bareng begini?"

Sakura menghentikan aktivitas makannya. Ia menaruh sumpit dan mengambil gelas berisi teh hijau. Setelah beberapa tegukan, ia memandang kakeknya.

"Sejak aku 'memberontak'?" tanya Sakura sambil mengira-ngira. "Atau sejak aku didaulat akan menjadi penerus? Ah, tapi yang jelas, sebelum aku dikata-katai dan dikurung."

"Oh, ya. Memberontak, ya. Kalau tidak salah mulai saat itu. Ketika itu, kamu sudah jarang ada di rumah. Kalau ada pun, selalu diam di kamar. Kalau tidak, di atap. Untung saja ada Negyuu, yang selalu berhasil menemukan di mana dirimu berada. Kalau tidak, aku sudah kelimpungan sekali."

"Ya, untung saja ada Negyuu. Jadinya kakek bisa menculik temanku dan bahkan memberi izin untuk membawaku pulang meski ada satu dua tulang yang patah," kata Sakura sinis. Raiga tersenyum.

"Mereka benar-benar menghajarmu? Aku pikir mereka tidak berani, makanya aku mengizinkan mereka. Maaf ya," jawab Raiga enteng sambil menyesap teh hijaunya.

"Segitu gampangnya bilang maaf. Apa mereka juga diizinkan untuk menyakiti temanku kalau diperlukan? Apa kurang banyak kakek menyakiti aku secara mental?"

"Aku hanya bilang, 'Bawa Sakura pulang, apapun caranya.' Rasa-rasanya aku tidak pernah berbicara masalah menyakiti teman-temanmu, itu pun kalau kamu punya."

"Memang salah siapa aku tidak punya teman? Memangnya siapa ya, yang selalu mengancam siapa pun yang terlibat denganku?"

"Hahaha. Aduh, Sakura, kamu itu belajar kata-kata begitu dari mana, sih? Rasanya aku tidak pernah mengajari cucuku yang cantik ini berkata tidak sopan begitu," Raiga tertawa terbahak-bahak. Sakura memandang kakeknya kesal.

"Sudahlah, cukup basa-basinya. Kata Negyuu ada yang mau dibicarakan denganku. Ada apa?"

Raiga menaruh sumpitnya dan membetulkan posisinya. Ia lalu menatap Sakura tajam.

"Kenapa kamu pergi dari rumah?"

"Aku tidak mau jadi penerus atau apalah itu. Aku mau bebas. Lagipula, siapa yang bisa tahan tidak mencoba melarikan diri kalau tahu suatu saat akan dikurung seperti waktu itu?"

"Tidak bisa. Kau satu-satunya yang menyandang marga Senjii, berarti kau yang pantas menjadi ketua klan Senjii yang berikutnya."

"Kenapa tidak Negyuu saja? Dia lebih berbakat dariku. Dia punya bakat memimpin orang lain sementara aku tipe pengikut."

"Harus berasal dari orang-orang yang bermarga—

"Angkat saja Negyuu jadi anak, atau cucu," potong Sakura. Raiga tertegun sejenak lalu ia tersenyum.

"Kalau dia menikah denganmu, dia jadi cucuku, kan?" kata Raiga. Sakura menyipitkan matanya.

"Menikah? Hah? Lebih baik aku mati daripada menikah dengannya."

"Hem, begitu. Sepertinya, kamu sudah punya calon suami yang baik menurutmu," kata Raiga jahil. Sakura tersenyum sinis.

"Yah, kurang lebih.


"Bener ini kotanya?" tanya Junpei ketika mereka turun di stasiun yang memiliki billboard besar bertuliskan 'Selamat Datang di Senmachi!'. "Kok sepi gini?"

"Iya. Kayak nggak ada kehidupan aja," kata Yukari sambil celingukan. Mitsuru melihat jam tangan perak yang dikenakannya.

"Ini sudah jam sebelas malam. Wajar saja kalau tidak ada orang."

"Tapi kota ini memang sepi sih. Maksudku, banyak orangnya, tapi mereka kebanyakan kerja di luar kota ini dan baru pulang sekitar jam enam. Jam sepuluh di sini jangan dibandingin sama jam sepuluh di Port Island. Sepi banget kayak kuburan!" jelas Shinji. Tiba-tiba, kerah jaket merah marunnya ditarik oleh Aki.

"Di mana kamu melihat si anak sialan itu?"

Enam siswa SMA dari Port Island itu berjalan menyusuri pinggir sungai. Minato dan Junpei celingukan seperti orang idiot. Mitsuru dan Yukari mengobrol sangat pelan mengenai betapa berbedanya suasana kota ini sementara Shinji dan Akihiko berjalan dalam diam. Akihiko sendiri sibuk lihat kiri-kanan, berharap menjumpai seseorang.

"Tadi aku liat dia disitu," kata Shinji sambil menunjuk ke satu arah. "Dan itu kan tadi siang. Jadi, siapapun dia, pasti udah pulang ke rumahnya."

"SIAL!" umpat Akihiko kesal. "Sialan!"

"Aki, tenang. Kita cari saja dia pelan-pelan. Kalau di pusat kota mungkin masih ada orang," kata Mitsuru. Akihiko memandangnya sendu.

"Yah, baiklah. Ayo Shinji," kata Aki sambil menyeret sahabatnya. Yukari menghampiri Mitsuru.

"Senpai, kenapa senpai masih mau membantu Aki-senpai menemukan Sakura? Bukannya lebih baik kalau dia tidak kembali? Dengan begitu jalan untuk mendapatkan Aki-senpai jadi lebih lebar," tanya Yukari. Mitsuru menatapnya hampa sebagai jawaban.

"Karena, terkadang, melihat dia yang kamu sayangi uring-uringan begitu jauh lebih menyakitkan daripada fakta bahwa orang bodoh itu baru saja menolakku. Aku tetap bisa jadi sahabatnya, kan?" kata Mitsuru sambil berjalan mengikuti duo lelaki sahabatnya yang berangkulan seperti pasangan homo.

Setelah beberapa menit, mereka sampai di pusat kota. Berbeda dengan pemandangan di dekat stasiun yang sepi sunyi seperti kuburan, pusat kota Senmachi terlihat gemerlapan dan berisik. Anak-anak muda dengan berbagai gaya dan model berkumpul disini. Lampu-lampu aneka warna bergelantungan memancarkan cahaya. Suara bass berdebam dari beberapa speaker yang dipasang setiap lima meter.

"Escapade versi outdoor?" tanya Minato. Yukari memandangnya tidak percaya.

"Kamu pernah kesana, Minato?"

"Sering, Yuka-tan," jawab Junpei.

"Mungkin kita bisa nanya-nanya kalau disini," kata Akihiko. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, seorang pria pirang berdiri di depannya.

"Loh, ada kamu. Halo! Masih ingat aku nggak?" tanya pria itu sambil tersenyum lebar. Akihiko terkejut bukan main. Begitu ia sadar dari keterkejutannya, ia memasang kuda-kuda. "Wah, kali ini kamu bawa temen, ya?" katanya lagi sambil melihat ke arah Mitsuru dan kawan-kawan. "Halo, gadis manis berambut biru, siapa namamu?" tanyanya lagi sambil mengedipkan mata ke arah Minato. Melihat ini, Aki mengerutkan dahinya bingung.

"Mina—

"Oh, Mina!" katanya sambil beringsut mendekati Minato yang sedang terpaku karena dipanggil 'gadis manis'. Pria itu lalu meraih tangan Minato dan mengecupnya. "Aku Reijin, salam kenal!"

"HAHAHAHAHAHAHAHAHA!" gelak Shinji, membuat semua orang menoleh kearahnya. "Mina...Mina...HAHAHAHAHAHA!" tawanya lagi sampai terduduk di tanah. Akihiko yang tadinya bermaksud melancarkan beberapa pukulan kepada Reijin juga tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

"Mina-chan, HAHAHAHAHAHAHA!" gelak Aki sambil memegangi perutnya. Tak lama, ia dan Shinji sudah memukul-mukul tanah karena tidak kuat tertawa.

"Senpai, kalian semua berlebihan," kata Minato ketus dan dingin. Ia lalu menatap Reijin dan tersenyum manis, meski entah mengapa ada aura hitam mengelilinginya. "Dan, Reijin-san, maaf menghancurkan imajinasimu, tapi aku laki-laki dan namaku Minato."

"Oh? Laki-laki? Yah, mataku salah liat. Abis kamu cantik banget sih. Sori ya, Minachan," kata Reijin sambil berkedip nakal, membuat Minato mundur beberapa langkah.

"Hahah....hah...aduh, perutku," kata Shinji sambil berdiri, disusul oleh Aki. "Padahal Minato kurang cowok gimana, ya? Pacar banyak. Olahraga bisa semua."

"Peduli amat," kata Aki galak, membuat Shinji menatapnya heran. Akihiko sendiri sedang melihat kearah Reijin yang menatapnya sambil tersenyum. "Di mana Sakura?" tanyanya.

"Hoo, jadi, kalian kemari mau mencari Sakura-sama? Ada perlu apa, ya?"

"Kami mau menyeretnya balik," kata Akihiko. "Di mana dia?" ulangnya. Reijin tertawa.

"Galak banget nih. Hahaha. Sereem," katanya sok ketakutan. Akihiko yang sedang naik darah tanpa pikir panjang langsung melancarkan serangan tonjokan maut kepada Reijin. Serangan itu berhasil ditangkis oleh Reijin hanya dengan satu tangan. "Ups, jangan marah-marah begitu dong."

"Aki! Jangan emosi begitu!" seru Mitsuru sambil menarik sang petinju mundur. "Maafkan kelakuan teman kami. Apa kau kenal Sakura?" tanyanya sopan. Reijin mengangguk.

"Ya, sangat kenal."

"Bisa kau membawa kami kepadanya?" tanya Mitsuru. Reijin menggaruk kepalanya.

"Em, bukannya aku tidak mau, apalagi kalau yang minta gadis manis sepertimu, tapi gimana ya?" kata Reijin mengira-ngira.

"Kalau aku yang minta, bagaimana?" tanya Minato tiba-tiba sambil mengedipkan matanya genit.


A/N : maafkan diri ini yang udah super-lama-sekali nggak nge-update cerita. Huaaa maaf maaf maaf :((

Ahem, dan cerita ini semakin lama semakin labil saja. Hem…

Well, karena aku sudah meng-update, maka giliranmu, Shara Sherenia, untuk meng-update P3 Ragnarok!

Anyway, mind to review?

Regards,

tasyatazzu