Wooowii~~ Ryoko di sini~~ Kita sampai di penghujung cerita~ Kali ini benar-benar akhir dari cerita Exceeding Love, yang ditutup oleh chapter bonus ini Tee~hee~ Akhirnya! Luc kembali ke dimensi "itu"! Bagaimana reaksi para lawannya dahulu...Semoga tidak ada yang harus dikhawatirkan! Selamat menikmati :))
Exceeding Love: New Journey
.
.
Disclaimer : Suikoden is Konami's.
Warning : AU, OOC, OC, Random, etc.
.
.
Entah sudah berapa waktu yang kulalui…
Saat-saat bersamamu, seakan sudah terlewati sejak lama…
Kak,
Kini aku melewati hari-hariku tanpamu…
Di sini…
Memulai dari awal lagi…
Aku memandang jauh seluruh bukit dan pegunungan dari sebuah pulau kecil dengan kedua mataku. Terasa jauh karena dipisahkan oleh hamparan laut. Di pulau ini, tempat aku kini tinggal, terdapat menara tinggi yang seakan menembus langit, tempat 'wanita itu' melihat pergerakan bintang-bintang. Aku pun tinggal di menara tinggi itu, bersama dengan wanita itu dan gadis yang menjadi muridnya. Kini statusku menjadi salah satu murid dari wanita itu. Setiap pagi, rutinitasku jauh berbeda di tempat itu. Aku menggenggam sebuah sapu lidi dan mulai mengayunkannya, srak-srak… ya, aku sedang menyapu halaman menara.
"Selamat pagi, Luc." Sapa seorang gadis berambut mint. Di sampingnya terdapat bola cahaya kecil yang selalu berterbangan mengelilingi menara.
Aku tersenyum kecil, "Pagi, Marina. Hari ini kau dapat tugas lagi?"
Marina, gadis mint, itu mengangguk, "Tapi aku lebih senang menyebutnya jalan-jalan hehehe…"
"Kalau begitu, hati-hati." Sahutku sembari menuntaskan tugasku di pagi hari, menyapu halaman.
Marina tertawa kecil dan bola cahaya di sampingnya kini memutari tubuhku. Tentu saja, hal itu membuatku kebingungan. Marina menepuk pundakku, dan mendorong tubuhku pergi dari tempat itu, lalu menggunakan teleportasi untuk sampai di sebuah ruangan. Ruangan berkeramik biru itu adalah tempat untuk melihat pergerakan bintang-bintang. Mataku tertuju pada seorang wanita berambut panjang hitam di hadapanku, dia…
"Nona Leknaat…" ucapku pelan.
Marina tertawa kecil dan berkata, "Nona Leknaat, Luc sudah berhasil kubawa kesini!" ucapnya.
Wanita itu, Nona Leknaat, tersenyum lembut dengan matanya yang tertutup, ia seakan melihatku. Aku pun terdiam memandangi wanita yang kini menjadi guruku, atau… kembali menjadi guruku. Nona Leknaat menghampiriku dan Marina yang masih terlihat antusias, entah karena apa. Kemudian, Nona Leknaat berdiri tepat di hadapanku. Aku tentu saja menunggunya untuk berbicara, karena jika sudah seperti ini, pasti ada hal penting yang akan dibicarakan. Maka dari itu lebih baik diam dan dengarkan.
"Luc, sudah lama kau berada di tempat ini." Ucap Nona Leknaat dengan lembut, "Aku ingin kau melihat dunia."
"…?" Aku terdiam bingung, melihat dunia? Bukankah aku sudah melihat dunia?
"Ikutlah bersama Marina, Aku ingin kau melihat berbagai hal di dimensi ini." Ucapnya lagi.
Ah… ternyata itu maksudnya. Aku pun mengangguk, jika memang itu perintah apa boleh buat. Aku akan ikut gadis mint yang cerewet itu dan melihat-lihat dimensi ini. Kalau dipikir-pikir semenjak kejadian itu, setengah tahun yang lalu, aku hanya berkelilingi di sekitar pulau. Hanya melihat dua orang manusia dan satu bola cahaya yang tinggal di pulau ini. Jujur saja, lingkungan yang jauh dari keramaian ini sangat cocok untuk diriku. Di dimensi itu, setiap hari dipenuhi kesibukan… dan ocehan dari kakak kembarku…
Kakak kembar…
"Luc?" sapa Marina yang berjalan di sampingku, "Jangan melamun, nanti kalau terpisah aku nggak tanggung loh, iya kan Sarah?" lanjutnya lagi, kini gadis itu mengajak bicara bola cahaya yang mengikuti kami berdua.
Aku menghela napas dalam. Teringat lagi. Rasa kesedihan itu… kembali
Aku kembali terdiam dan mengikuti gadis mint itu melangkah, entah ke mana. Satu hal yang kutahu, Marina membawaku ke tempat tugasnya, katanya ada hal yang harus ia sampaikan pada pemilik kastil. Setelah itu, nampaknya dia akan membawaku berkeliling. Sarah dalam wujud bola cahaya berputar mengelilingiku. Aku tersenyum kecil padanya dan membiarkan dirinya berada dipundakku. Marina berhenti di sebuah gerbang yang dihiasi pernak-pernik yang khas.
"Heeeh… sedang ada festival toh?" gumam Marina sembari bertopang dagu.
"Festival?" tanyaku.
Marina mengangguk, "Hum.. Kastil Budehuc ini, pemiliknya senang mengadakan festival." Jawab Marina.
"Budehuc…?" gumamku. Aku tahu… tempat ini. Secara spontan aku mengingat kisah hidupku terdahulu, "Markas Fire Bringer… Marina—tunggu apa tidak apa-apa jika…"
"Saat Festival kalian dilarang membawa senjata!" seru seorang gadis penjaga memakai armor yang berlari ke arah kami berdua.
"A-Ah… Maafkan kami." Ucap Marina bingung, "Jadi kami harus menitipkan tongkat sihir kami?" tanya Marina lagi diikuti anggukan cepat dari sang gadis berhelm itu.
Gadis berhelm itu mengulurkan kedua tangannya, meminta tongkat sihir kami berdua. Tidak ada pilihan jika tidak mau dicurigai, kami berdua memberikan tongkat sihir pada gadis itu—lagi pula jika terjadi hal yang tak terduga, aku maupun gadis mint itu masih mempunyai rune.
Sesaat kami memberikan tongkat sihir, gadis penjaga itu tersenyum ramah, "Terima kasih sudah mentaati perarturan, Aku Cecile kepala penjaga kastil Budehuc! Selamat menikmati festivalnya!" serunya senang, kemudian gadis bernama Cecile itu segera kembali berdiri di pos-nya.
"Kalau begitu, ayo cari pemilik kastil ini." Ucap Marina yang kemudian berjalan memasuki area kastil.
Aku sudah lama tidak melihat festival yang penuh dengan manusia seperti ini. Banyak orang dari berbagai suku yang datang ke tempat ini. Seingatku orang-orang berkulit coklat dan berambut pirang itu adalah orang-orang Karaya, lalu orang-orang berpakaian rapi itu dari Zexen, lalu…..
"Harmonia…" ucap Marina pelan, "Emergency!…tutupi wajahmu Luc!" kata Marina setengah berbisik, gadis itu tiba-tiba menarikku pada penjual topeng anak-anak, "Kakek! Aku beli topeng ini! Luc cepat pakai!"
…Topeng anak-anak….. gumamku. Gadis mint itu tanpa meminta persetujuanku segera memakaikan topeng dengan warna-warni yang norak itu. Setidaknya pilihkan topeng yang normal sedikit, kenapa sih—
Aku menghela napas jengkel. Berusaha menahan emosiku agar tidak meledak. Sembari terus mengikuti ke mana Marina melangkah. Ya, cara paling aman adalah terus mengikuti gadis mint itu jangan sampai terpisah. Ya, terus mengekor gadis mint itu… Ya….tunggu, ada yang aneh… aku tidak mendengar celotehan Marina.
"Sekarang ke mana gadis mint cerewet itu?!" seruku sambil berbisik. Aku berjalan memutar untuk kembali ke tempat tadi, namun tidak berhasil karena lagi-lagi terbawa arus manusia. "S-Sarah—kau tidak apa-apa?" tanyaku pada bola cahaya di sampingku.
Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, Master Luc…
Aku menghela napas dan tersenyum. Kalau sudah begini aku akan berkeliling sendiri dulu. Toh misalkan tidak bertemu Marina, aku bisa kembali ke menara itu dengan sihir teleportasi. Rasanya begitu familiar melihat beberapa wajah yang berpapasan denganku. Aku mengenali mereka, dimensi tempatku dulu tinggal berkaitan dengan dimensi ini. Namun yang berbeda, di dimensi ini aku dicap sebagai seorang yang berniat menghancurkan dunia dahulu. Hal itu membuatku tidak dapat bergerak dengan bebas, makanya Marina menyuruhku memakai topeng aneh ini.
…tapi dahulu aku juga memakai topeng dan dikenal dengan the masked bishop, kan?
Aku terdiam, kembali berkutat pada pikiranku. Dahulu di dunia ini, aku dikenal sebagai seorang yang diam dan bicara seenaknya namun benar. Tanpa ekspresi. Datar. Menjauh dan memasang tembok dari orang-orang sekitar akibat masa laluku dan gambaran masa depan yang kulihat dari true rune. Sementara di kehidupanku yang sekarang, karena berbagai hal yang kulalui bersama kakakku dan teman-teman di akademi, aku tidak seperti itu. Walaupun masih senang menyendiri, setidaknya aku bisa tersenyum dengan tulus.
"Permisi, Tuan. Apa kau mau mencoba menu baru di tempat ini?" seorang pemuda dengan tatanan rambut belah tengah menghampiriku. Matanya yang bulat penuh dengan harapan itu mengingatkanku dengan… Thomas.
Tunggu… dia memang Thomas. Namun dia lebih tinggi sedikit.
"Aku Thomas, pemilik kastil ini dan sedang membagikan voucher gratis… untuk menu baru." Ucapnya lagi, sembari memberiku voucher yang dikatakannya, "Semoga Anda menikmati festival ini!"
"Thooomaas!" seru seorang pemuda berkulit coklat dan berambut pirang, sedikit lebih pendek dari Thomas sang pemilik kastil ini.
"Hugo!" sahut Thomas.
Bingo. Dia Hugo. Namun di tempat ini… wajahnya lebih banyak luka-luka bekas pertempuran.
Lalu apa yang aku lakukan di sini. Melihat pertemuan mereka? Menonton? Namun, ada perasaan senang dan lega yang menyelimuti hatiku ketika melihat mereka di sini. Walaupun sedikit berbeda, tetapi sikap mereka sepertinya sama dengan yang di akademi. Tanpa sadar, aku tersenyum.
"Tahun ini lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya, ya!" seru Hugo antusias.
Thomas mengangguk, "Tentu, karena orang-orang Harmonia bisa datang untuk liburan, dan… tahun-tahun sebelumnya kan mereka masih sibuk mengurusi pelepasan Le Buque."
"Ah… Berarti Sasarai juga datang? Dia sedikit berubah dan lelucon sarkasnya berkurang… beberapa kali aku bertemu untuk mengurusi perjanjian gencatan senjata dengan Harmonia."
Sa…sarai?
Tentu saja…. Dia ada di sini. Tetapi, Sasarai di tempat ini berbeda dengan kakak kembarku yang itu, kan? Tidak ada artinya jika aku mencarinya. Aku pun berniat meninggalkan dua orang yang berbicara denganku. Namun, tanpa kusadari, tali topeng aneh yang kupakai putus. Topengku terjatuh ke tanah dan terinjak oleh kerumunan orang yang berlalu. Aku terdiam, melihat topengku yang terinjak-injak. Nice.
"Lu…Luc?" Hugo berhasil menyadari keberadaanku.
"Luc?" tanya Thomas bingung melihat Hugo dengan mata yang terbelalak melihat sosokku.
Aku terdiam. Dia pasti melihatku sebagai musuh kan? Di tempat ini, aku adalah musuh yang seharusnya sudah mati. Lalu, bagaimana? Aku menatap kedua mata birunya yang masih terbelalak. Ah.. Bilang saja kalau dia salah orang kan? Tiba-tiba, true rune milikku dan milik Hugo bereaksi. Bagus. Kalau sudah begini aku tidak bisa mengelak.
"….." aku masih tetap diam.
"Kau… masih hidup?" tanya Hugo lagi, kini dirinya berjalan dan berdiri tepat dihadapanku. Pendek.
"HEEH—" melihat gelagat Thomas, ia panik. Namun tetap mencoba berdiri di sana.
Aku hanya menghela napas, apa perlu kuceritakan jika aku terlahir kembali di dimensi lain? Apa dia akan percaya?
"Syukurlah…" ucap Hugo lagi, membuatku terkejut. Apa maksudnya? Senyuman tulus tergambar di wajah pemuda Karaya itu dan aku tahu ucapan itu bukanlah suatu kebohongan yang dibuat.
Aku mencoba memutar otakku, mencari hal apa yang harus kukatakan padanya, "Ah… Ya." Kataku awkward. Aku sudah tertangkap basah.
Thomas menghela napas dan tersenyum lega, "Bagaimana kusiapkan ruangan untuk kalian berbincang? Hugo juga banyak yang ingin dikatakan bukan?"
.
.
Aku duduk di sebuah ruangan, tempat pemilik kastil beristirahat, ini lebih baik daripada berada di lautan manusia seperti tadi. Walau seharusnya aku mencari Marina, tapi biarkan saja makhluk hijau itu. Aku menatap pemuda Karaya yang juga duduk di hadapanku bersama Thomas. Hugo dari tadi tidak berbicara, namun hanya tersenyum. Thomas menyiapkan teh khas Budehuc yang dibuat sendiri olehnya. Dia pun tiba-tiba tersenyum melihatku. Ada apa dengan orang-orang ini? Mereka salah makan? Atau hari ini adalah Hari Tersenyum Sedunia?
"Aku… tidak menyangka akan bertemu dengan dirimu lagi, Luc." Ucap sang Flame Champion yang mengalahkanku dahulu.
Aku memandanginya sejenak dan berdiri berjalan ke arah jendela. Melihat kerumunan orang-orang di luar kastil, "Mungkin kau tidak percaya, tapi aku terlahir kembali di dimensi yang berbeda." Kataku sembari menoleh ke arah Hugo dan Thomas.
"Terlahir kembali?" tanya Hugo.
"Dimensi lain?" sambung Thomas.
Aku mengangguk. Hugo dan Thomas saling berpandangan dan kembali memandangiku dari atas sampai bawah. Mengobservasi diriku dengan diam. Secara tiba-tiba aku tertawa kecil, dan Hugo terkejut melihatnya. Tentu saja, dikehidupanku yang dulu dia adalah orang yang terus menghalangiku untuk mencapai tujuan dan tidak mungkin aku bisa tertawa seperti ini dihadapannya. Menyadari hal itu, aku berdeham dan melihat ke arah lain.
"Nampaknya kau bicara benar." Kata Hugo, "Rasanya tidak mungkin seorang Luc yang dulu bisa seperti ini… bahkan ketika aku bertanya pada Futch mengenai dirimu, tidak ada satu memori Futch yang tahu jika kau bisa tertawa seperti itu."
Aku pun memutuskan untuk kembali duduk dan menceritakan apa yang sudah kulalui. Kedua mata bulat milik para pemuda itu terlihat sangat antusias menyimak cerita milikku. Lalu mempercayainya begitu saja.
"Hugo, true rune milik kami bereaksi—" seorang wanita berambut silver dan pria paruh baya memasuki ruangan itu dengan tergesa, itu Chris dan Geddoe. Mereka nampak sangat terkejut melihat aku berdiri di sana, memandangi keduanya, "Ternyata benar…"
….Apa ini… mereka mau mengalahkanku lagi?
Rasanya aku ingin segera pergi dari sini... situasinya semakin menyebalkan.
Paman itu terlihat semakin menyeramkan. Aku kembali terdiam, mendengarkan Hugo dan Thomas bercerita pada rekan-rekannya itu. Lalu pandangan Geddoe seperti menghakimi, begitu pun Chris yang kembali memandangiku waspada. Ah… kalau diingat dikehidupanku yang dulu, aku membunuh ayah dari Chris, kan?
"Bagaimana dengan Tuan Sasarai, apa dia mengetahui hal ini?" tanya Chris tiba-tiba.
Hugo menggeleng, selanjutnya bertopang dagu, "Tidak tahu. Namun, jika true rune bereaksi pasti dia menyadari jika true wind rune berada di sekitar sini."
"Aku tidak menyangka rune yang menghilang itu datang kembali bersama pemilik sebelumnya." Kata Geddoe sambil menatapku dengan tajam.
Bagaimana ini? Apa aku harus menatapnya dengan tajam juga? Tapi mengingat Paman ini di dimensi lain, rasanya aku tidak bisa. Walaupun orang-orang ini berbeda dengan rekan-rekanku di dimensi itu… tetap saja, aku tidak akan bisa melupakan kebaikan mereka di dimensi itu. Mereka membantuku dan kakak kembarku untuk mengalahkan pihak kerajaan—Windy juga Yuber.
"Tapi, jika orang-orang Harmonia mengetahui hal ini… mereka tidak akan tinggal diam." kata Chris, "Mereka memburu true wind rune, ingat? Mereka bisa membuat kekacauan."
"Kalau begitu aku akan pergi." Kataku.
"Eh—?" sahut Thomas yang Nampak terkejut, "Tuan Luc datang ke sini untuk melihat festival kan? Festival di Budehuc terbuka untuk siapa saja."
"Thomas…" Hugo memandangi Thomas dan tersenyum, "Kau memang orang yang baik."
"Lagi pula, aku yakin Tuan Sasarai tidak akan memerintahkan untuk melakukan perburuan sekarang. Terlebih… melihat sosok Tuan Luc di sini." Kata Thomas lagi.
Semuanya terdiam. Bukankah itu masalahnya?
"Ah." Aku teringat sesuatu, "Aku harus mencari rekanku, Marina."
"Marina? Maksudmu gadis yang membawa ramalan bintang itu?" tanya Thomas, "Kau datang bersamanya?" aku mengangguk.
"Ramalan bintang?" tanya Hugo.
"Iya. Seorang gadis dengan rambut hijau mint tadi menghampiriku dan memberikan ramalan bintang dari penyihir yang bernama Leknaat." Jawab Thomas, "Sebentar, rasanya aku meletakkan lembaran itu di sini."
Thomas beranjak mengambil gulungan kertas yang dibawa oleh Marina tadi. Sebenarnya, aku sedikit penasaran apa isinya. Aku mengurunkan niatku untuk beranjak pergi. Mengamati keempat orang yang sedang membaca gulungan kertas di hadapanku.
"Ini…." Keempatnya terdiam dan saling berpandangan.
"Negeri besar dalam kekacauan, bintang takdir kembali bersatu, para pembawa lima element rune sejati berkumpul." Chris membacakan tulisan yang ada dalam gulusan kertas itu.
Aku membelalakan mata. Kutukan itu….. terulang lagi. Aku memandangi lambang true wind rune di punggung tangan kananku. Kemudian memandangi Hugo, Chris, Geddoe dan Thomas yang masih berpikir dengan keras. Rasa khawatir menyelimutiku secara tiba-tiba, dan… sebuah penglihatan yang diberikan true wind rune memasuki pikiranku. Rasa sedih, hampa, dan pertumpahan darah kembali terjadi di benua ini.
"Sudah lima tahun kedamaian di tanah ini…" ucap Hugo tiba-tiba, "Dan orang-orang mulai berhasil melupakan kenangan pahit itu…"
Lima tahun berlalu? Aku sudah tinggal di dimensi itu… selama delapan belas tahun kan? Tetapi mengingat perbedaan ruang dan waktu hal itu tidak aneh terjadi. Untuk saat ini, yang lebih penting adalah… ramalan yang diberikan oleh Nona Leknaat pada pemilik kastil ini.
"Tuan Luc… Kami akan membicarakan hal ini besok karena hari ini adalah hari festival," kata Thomas tiba-tiba dengan senyuman, "Untuk itu… bisakah kau tinggal dan membicarakan hal ini dengan kami besok?"
Aku mengangguk. Toh di sana tertulis para pembawa lima element rune sejati berkumpul. Itu berarti, Nona Leknaat memintaku ikut dengan Marina adalah tujuannya sejak awal, untuk diriku mengetahui ramalan ini. Aku kembali beranjak dari sofa tempat kududuk dan melihat ke arah luar jendela. Keceriaan orang-orang di luar akan sirna dalam sekejap.
"Luc… kau benar-benar berbeda," ucap Hugo tiba-tiba, "Aku bisa membaca rasa khawatirmu ketika melihat orang-orang di luar sana." Aku menatap Hugo sejenak, pemuda itu tersenyum padaku.
.
.
Malam itu, aku berjalan-jalan sendirian mengelilingi kastil. Aku berhenti di tepi perahu yang menghadap ke arah lautan. Angin malam berhembus sedikit lebih kencang di sini. Malam sehabis festival yang begitu damai. Mataku terpejam mengingat pertarungan dahulu, begitu penuh dengan pengorbanan, termasuk kakak kembarku yang mati melindungiku. Aku… sebenarnya ingin melihat kakak kembarku lagi. Rasa rinduku ini tidak bisa kupendam. Sarah dalam wujud bola cahaya terus menemaniku, seakan mengetahui rasa gelisah yang kurasakan, dia mencoba menghiburku. Aku hanya bisa tersenyum kecil padanya.
"Malam yang begitu tenang, ya?" tiba-tiba seseorang menghampiriku.
True rune milikku bereaksi. Namun respon yang diberikan berbeda ketika aku bertemu Hugo tadi siang. Respon ini seperti saling menolak. Tidak salah lagi, seseorang yang ada di belakangku adalah orang itu. Aku bermaksud untuk mengabaikan dan meninggalkan tempat itu tanpa menjawabnya. Namun, tanganku digenggam oleh dirinya dan memaksaku untuk menghadapinya.
"Sasarai…" ucapku sembari melihat orang itu.
Orang itu tersenyum melihatku. Wajah yang begitu kurindukan. Namun tatapan matanya seakan penuh penderitaan dan beban. Tapi senyuman khas itu tidak berbeda dengan kakak kembarku. Dia… Sasarai yang berada di dimensi ini. Pemilik true earth rune. Orang yang sangat kubenci saat di kehidupanku yang dulu. Orang yang seharusnya aku tidak temui.
"Sudah kuduga, Luc, kau ada di sini." Ucapnya, "Thomas dan Hugo menceritakan tentang kisahmu."
Tidak. Ini begitu menyedihkan melihat wajahnya yang seharusnya ceria—menjadi seperti ini, seakan tidak ada cahaya dalam dirinya. Aku terdiam, tidak menjawab, bahkan memalingkan wajahku. Hubunganku dengan Sasarai di sini, tidak sama seperti dengan kakak kembarku di dimensi itu. Kami tidak dapat bersatu. Selain karena orang-orang Harmonia itu, namun juga akibat true rune milik kami yang terus melakukan penolakan. Tetapi, tidak dapat aku pungkiri… aku benar-benar senang melihat sosoknya walau sedikit berbeda.
"Aku ingin bicara denganmu." Kata Sasarai lagi, masih terus menggenggam tanganku. Sepertinya dia tidak ingin membiarkanku pergi.
Aku mengangguk. Sasarai memintaku untuk mengikuti dirinya. Aku berjalan di belakangnya, entah mengapa punggung orang itu terlihat sangat menyedihkan. Selama lima tahun ini, apa saja yang telah dilaluinya? Harmonia dan para petingginya dan… Hikusaak… apa yang telah mereka lakukan pada Sasarai? Tiba-tiba tubuh orang itu juntai dan tubuhku secara spontan menolongnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya, orang ini tidak dalam keadaan prima.
"Sasarai." Ucapku, "Kau baik-baik saja?"
Sasarai tersenyum dan tertawa kecil, "Kau tahu? Ini lucu." Ucapnya, "Kita saling bertolak belakang, dan saat aku mengulurkan tanganku padamu dahulu, itu sudah terlambat."
"….." aku membopongnya ke sebuah bangku taman yang menghadap ke laut, tempat itu sepertinya jarang dilalui oleh orang di malam hari.
Sasarai menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak. Aku tidak tega, entah mengapa, secara tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri dan menyembuhkan Sasarai menggunakan true wind rune milikku. Sasarai nampak terkejut dan memandangiku yang duduk di sebelahnya. Aku diam, tidak mengatakan hal apapun. Senyum kecil, senyum penyesalan terlihat di wajah pucatnya.
"Apa yang kau lakukan hingga tidak memperhatikan tubuhmu seperti ini?" tanyaku yang tiba-tiba sangat kesal melihat senyuman itu, "Mereka memaksamu melakukan sesuatu?"
Sasarai terdiam sejenak, "Sekarang kau tinggal di mana, Luc?"
"Di tempat yang sangat kau benci." Jawabku.
"…Tempat penyihir wanita itu lagi, ya.." sahut Sasarai sembari menatap laut, kini warna kulitnya kembali segar. Tapi tetap saja, perkataannya membuatku jengkel.
Aku mendengus kesal. Melipat tanganku dan ikut melihat ke arah hamparan laut yang tenang. Sifatnya lebih buruk dari mendiang kakak kembarku. Tapi aku kembali mengingat, dia dan kakak kembarku adalah orang yang sama di dimensi yang berbeda. Itu artinya… tidak ada artinya, aku tidak mau berurusan lama-lama dengan orang ini.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" ucapku dengan nada dingin.
Sasarai bertopang dagu dan menatapku, "Apa ya?"
…
Rasanya aku ingin memukul wajahnya yang sok tampan itu. Rasanya aku menyesal menggunakan rune-ku untuk menyembuhkan dirinya. Lihat. Sekarang dia sudah bersikap menyebalkan lagi. Boleh tidak kupukul. Boleh tidak kuhantam. Boleh tidak kukirim dia ke tengah lautan. Boleh tidak—
"Luc, setelah kau memberitahuku tentang hal itu… Rasanya penyesalan menyelimutiku. Aku tidak mengerti saat itu, maafkan aku." Kata Sasarai tiba-tiba dengan senyuman penuh penyesalan.
Aku terdiam.
"Kau benar. Aku hanya boneka yang dibuat untuk kepentingan orang itu dan Harmonia. Bertahun-tahun aku hidup tanpa mengetahui kebenaran yang ditutupi para petinggi Harmonia. Rasanya aku tidak mempunyai arti hidup selain menjadi wadah rune ini. Aku tidak dapat berbuat apapun… bahkan setelah mengetahui kebenaran itu."
Itu benar, dahulu aku membuatnya sadar dengan hal itu, dan merebut paksa true earth rune untuk mencapai tujuanku. Tapi mendengarnya menderita seperti itu, rasanya ada yang tidak beres dalam diriku. Aku tidak menyukainya, tapi aku tidak sepenuhnya membenci dirinya. Rasa kasihan itu, kembali muncul dalam diriku. Hal itu juga membuatku tidak bisa membunuhnya saat itu. Terlebih, di dimensi itu… sosoknyalah yang menyelamatkanku dan memberiku harapan untuk hidup. Ya, aku sudah menjadi diriku yang baru.
"Dasar kakak bodoh." Ucapku kesal sembari menyentil kepalanya.
"Eh? Apa—?" tanyanya padaku dengan wajah heran.
"Setelah kau mengetahui hal itu, bukankah kau sudah bertindak dengan kemauanmu sendiri? Perlahan mencoba mengubah negeri sok berkuasa itu?" jawabku, "Berbeda denganku, walaupun lingkunganmu yang aneh seperti itu kau adalah orang baik."
"….Tentu saja, aku orang baik." Sahut Sasarai dengan wajah sok polosnya membuatku sebal.
Aku tidak tahan dengan sikapnya yang lebih buruk itu dan tidak sesuai dengan bayanganku. Aku menggenggam pundaknya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya sampai dia pusing, "Aku kesal dengan sifatmu yang seperti itu! Dasar tidak tahu diuntung!"
"Tapi… terima kasih," ucapku tulus, "Aku… sebenarnya sangat senang melihatmu lagi, dan tidak mau jika kau terlihat terpuruk seperti itu."
Sasarai terdiam dan melihatku tidak percaya. Aku menatapnya kedua mata olivenya yang terlihat berkaca-kaca. Sial. Kalau seperti itu, aku juga bisa menangis mengingat cara kakak kembarku mati karena melindungiku. Sial. Sial. Sial. Aku pun segera memalingkan wajah dan beranjak dari bangku taman dan berjalan ke arah tebing. Sasarai mengikutiku dan aku tahu ia sedang tertawa.
"Luc, meskipun aku tidak bisa merubah kebijakan Harmonia yang menghapus seluruh fakta tentangmu… tapi aku senang bisa bicara denganmu seperti ini. Hal yang tidak bisa kita lakukan dulu."
"Satu hal lagi, Sasarai." Ucapku, "Jangan tiba-tiba merangkulku seperti ini." ucapku sebal, "Jangan tiba-tiba sok akrab denganku." Sementara itu, Sasarai hanya tertawa mendengarkan, diam-diam aku tersenyum kecil melihatnya seperti itu.
.
.
Aku berjalan menuju ruang pertemuan, karena festival sudah berakhir, orang-orang tidak sebanyak kemarin. Dan… akhirnya orang yang kucari-cari kemarin menampakkan dirinya di sampingku. Gadis mint yang cerewet itu berjalan tanpa dosa dan bernyanyi-nyanyi tidak jelas. Aku kesal. Apakah dia tidak tahu gara-gara dirinya menghilang tiba-tiba, identitasku ketahuan? Atau memang itu bagian dari rencananya. Lihat gadis itu tersenyum menyebalkan dan melihat ke arahku.
"Kudengar kau sudah bicara baik-baik dengan Sasarai, bishop Harmonia itu?" tanyanya.
Aku belum bercerita hal itu dan aku yakin Sasarai juga tidak akan membicarakannya dengan siapapun, "Kau melihatnya dari semak-semak bersama Sarah, kan?" jawabku sebal.
Marina terdiam, "Ba-bagaimana kau tahu?!" serunya.
Aku menghiraukannya dan memasuki ruang pertemuan. Orang-orang yang tengah berbincang secara spontan terdiam ketika melihatku memasuki ruangan. Bahkan ada yang memasang wajah seakan melihat hantu. Apa perlu aku berjalan melayang untuk memeriahkan suasana?
"…Di-Dia… HANTU!" seru pemuda Silverberg sembari menunjuk ke arahku. Itu Caesar.
"Seharusnya kau sudah mati, kan?!" disambung oleh pria berseragam Harmonia. Itu Dios.
Harus berapa kali aku menjelaskan? Rasanya tidak ada habisnya. Aku memilih diam dan berdiri bersandar di dekat pintu. Diikuti Marina yang sepertinya dapat membaca situasi. Orang-orang itu masih memperhatikanku, bahkan mantan kepala suku Karaya dan kepala suku klan Lizard mengawasiku dengan tatapan penuh curiga. Para pasukan Zexen pun berwajah sangat terkejut, serta orang-orang Harmonia itu seakan ingin memakanku. Rasanya aku tidak biasa dengan hal ini. Mungkin akan lebih ringan jika aku berada di dimensi itu melanjutkan kehidupanku, namun true wind rune tidak boleh berada di sana.
"Hugo! Kau tahu akan hal ini?!" tanya Lucia sedikit meninggikan suara, "Dia itu orang berbahaya yang telah meluluhlantahkan Grassland." Lanjutnya.
Hugo menggaruk pipinya, "Ah ya… bu." Bahkan Hugo sang kepala suku Karaya yang sekarang takut pada sosok ibunya, "…Tapi tenang saja. Kita tidak akan membahas hal itu, tapi—"
"Saat waktunya tiba kami akan membahas tentang keberadaan, Luc. Namun saat ini, akan lebih baik membicarakan tujuan awal kita untuk membahas ramalan bintang." Potong Chris tiba-tiba.
"Nona Marina-lah yang memberikanku ramalan bintang ini kemarin saat hari festival." Tunjuk Thomas pada gadis mint yang berdiri disebelahku. Marina hanya menunduk untuk memberi salam.
"Tuan Sasarai… Kau mengetahui hal ini?" tanya Dios pada atasannya itu.
Sasarai hanya diam memandangiku dan menyeringai, "Dios, ini akan menjadi hal yang menarik." Mendengar hal itu, Dios terdiam.
Mereka benar-benar membahas ramalan itu, terlebih orang-orang Grassland yang sangat percaya dengan hal-hal magis termasuk ramalan. Negeri besar apa yang akan dilanda kekacauan, dan apakah para pemilik true rune sepakat untuk saling bekerja sama. Banyak yang kontra jika diriku ikut ambil bagian dalam hal ini, tentu saja karena sejarah kelam yang sudah kuperbuat dulu. Sementara aku? Sesungguhnya tidak peduli, jika mereka menerimaku atau tidak. Hanya saja, mendiang kakakku menginginkan kedamaian di mana pun ia berada, dan aku sudah berjanji untuk hidup demi bagiannya juga. Tentu saja aku akan mewujudkan hal itu.
"Luc, aku tidak tahu ini akan berjalan dengan baik atau tidak," bisik Marina padaku, "Kau pun daritadi diam saja tidak mengutarakan pendapat apapun."
Aku menoleh ke arah gadis mint itu, "Bicara pun mereka tidak akan mendengarkanku 'kan?" sahutku, "Melihatmu yang seperti itu… Kau sudah pernah melihat apa yang terjadi secara langsung? Negeri apa yang akan dilanda kekacauan besar?"
"…" gadis itu terdiam sejenak, tiba-tiba menyeringai, kedua matanya sekilas memancarkan lambang true rune miliknya, "…Har…mo…nia…. Ke…ka..cauan…. wak..tu… katakan… pada… mereka…"
Mendengar hal itu, aku yang sedari tadi melipat kedua tanganku menjadi siaga dan memandang tidak percaya pada gadis mint di sampingku. Apa yang kulihat barusan? Dia bukanlah Marina yang kukenal. Selanjutnya lambang rune di kedua matanya hilang dan gadis itu seakan bingung ketika aku menatapnya dengan menakutkan. Gadis itu… tadi seakan dikuasai oleh true rune miliknya.
"Kau kenapa, Luc?" tanya Marina padaku, dia benar-benar terlihat bingung.
"Apa yang terjadi, Luc?" tanya Hugo padaku, "Tiba-tiba seperti itu…"
Aku menghela napas panjang sebelum menoleh ke arah orang-orang itu, "Negeri yang akan dilanda kekacuan waktu… Harmonia." Ucapku sembari menatap lurus pada Sasarai yang sangat terkejut mendengar perkataanku.
Saat aku diminta untuk melihat dunia…
Aku tidak sampai hati memikirkan peperangan, pertempuran…
Kak,
Perjalanan panjangku…. Akan dimulai kembali….
AAAAaaaa yokatta rangkaian cerita Exceeding Love selesai juga... bentar aku terharu dulu QAQ)... Setahun lalu, aku memutuskan untuk membuat cerita ini.. namun belum berani kupost, dan akhirnya berani kupost saat Februari tahun ini, dan... begitu banyak yang berubah dari ide awal. Tapi aku puas, karena banyak pertimbangan juga hehe~ Pokoknya... Ini fanfiksi Suikoden pertama yang genrenya serius, nggak humor kayak dua fanfiksi tahun 2011/2012 itu hehe. Oh iya, ke depannya aku akan membuat fanfiksi baru, dan spoiler bisa dilihat di chapter bonus ini, tentang apa hehe~ Baiklah sampai jumpa dikesempatan berikutnya.
Saya Ryoko Konoe, pamit undur diri... dan mohon maaf jika selama cerita terjadi hal-hal yang kurang berkenaan pada character-character kesayangan kita ini... *bows* Sampai jumpa lagi!
