Title: IT's Not a Reason|Meanie story|MPreg
Cast:
Kim minggyu
Wonwoo
All of member Seventeen
And others
Genre: Romance,Family,little angst
WARNING! MPREG!NC! TYPO BERSERAKAN! EYD KACAU!
BACA DULU!READ IT First!
!(adegan NC akan diletakkan disembarang chapter sesuai mood author)
!(please,be smart reader! If you didn't ever accept mpreg or dont like fanfiction w/ mpreg in story, please go away! Get out from my fantasy! Dont bash! I said for ONCE MOR TIME!PLEASE BE SMART READER)
!(no plagiat! Ini murni hasil pemikiran saya, ketika lagi badmood)
!(dalam fanfict ini saya tidak berusaha untuk mengikuti yang asli, melainkan saya meminjam alur kehidupan member Seventeen yang asli, yang tampak didepan publik. Guna menyambungkan satu-satu fantasy saya. Karena sungguh banyak fantasy saya terhadap Meanie saat mereka dibelakang kamera. So, i try to make story based on their life. Bisa kalian lihat didalam nanti)
!(Read and Review, i'll stop this story if yout dont leave review, thanks... sorry for being rude, i ask like that because your reviews are my spirit and motivation to update soon as possible)
!(cerita ini hanyalah fiktif, namanya juga fanfiction. Jadi kalau ada kesamaan nama,latar belakang, alur yang menyinggung readers, saya minta maaf. Sekali lagi! FF ini murni hasil khayalan saya kalau lagi badmood dan ketika tiap kali saya melihat video mereka. mungkin akan terlihat saya membuat cerita dibelakang kamera. Ya itu benar! Oleh karena itu saya meminjam alur Seventeen)
Synopsis:
"aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini kepadamu"
Pemuda pemilik fox eye itu tak merespon apapun yang ia dengar. Pikirannya kini lumpuh. Sedikitpun ia tak pernah membayangkan hal seperti ini menimpa dirinya.
"hyung,maafkan aku"
Lalu pemuda tersebut beranjak dan meninggalkan pemuda yang kini sedang merasa bersalah. Pemuda tersebut melempar apa yang aada dihadapannya kedepan hingga membentur dinding,ia mengacak-acak rambutnya. Untung saja yang dilemparnya bukan barang-barang yang terbuat dari kaca, sehingga tidak membuatnya repot untuk merapikan ruangan itu nanti.
"ku pikir kau sudah cukup dewasa untuk berpikir mana yang terbaikkan, nak Wonwoo",Pemuda tersebut pasrah dengan apa yang menimpanya. Ia siap untuk mengorbankan apapun demi sesorang yang amat teramat berharga dalam hidupnya.
"sampai semua kembali normal, kau bisa kembali ke Seventeen"
"aku mengerti sajang-nim", dengan senyum mengembang dipipinnya, ingatkan dia bahwa ia sedang tersenyum palsu saat ini.
"dibalik kehilangan, pasti ada sesuatu yang akan menggantikan kehilangan tersebut" ujar pemuda itu menyemangati dirinya sendiri dalam menghadapi semua cobaan yang menampar keras dirinya.
CHAPTER 11 "Bad feeling..."
.
.
.
Akhirnya showchase untuk album pertama mereka berakhir, namun masalah lama kembali muncul untuk Mingyu. selama showcase ia melihat seseorang yang sangat Ia kenal dan Mingyu juga sangat yakin bahwa orang yang dikenalnya adalah orang yang menjadi mata-mata sang Eomma untuk mengawasi mereka. Mingyu mengetahui bahwa itu orang suruhan sang Eomma dari Minseo yang mengirim foto kedua orang itu sedang memberi laporan kepada sang Eomma beberapa hari yang lalu. Mingyu sempat melempar senyum kepada salah satu dari dua orang yang mengawasinya.
Terimakasih kepada Minseo karena Mingyu tahu ternyata sang Eomma benar benar menentang hubungan mereka dengan mengirimkan dua orang untuk mengawasinya. Mingyu benar-benar tidak habis pikir dengan orang tuanya. Usai dari panggung, Mingyu memeriksa ponselnya setelah ia melepas Jas yang ia gunakan saat showcase tadi.
You've got 4 messeges!
Mingyu penasaran siapa yang mengiriminya pesan. Ia pun membuka kotak masuk nya. Ada 4 pesan masuk dan keempat pesan itu berasal dari nomor yang berbeda. Mingyu membuka pesaan tersebut satu persatu.
Sender : +0821044xxxxxx
"Bagaimana hari-hari mu Kim Mingyu?"
Sender: +082221xxxxxxx
"Sepertinya kau sangat menikmati hari ini"
Dahi Mingyu berkerut, sepertinya ia tahu siapa dalang dibalik ini semua. Kemudian ia memandang sendu Wonwoo yang sedang rebahan di sofa.
Sender: +08222165xxxxx
"Bagaimana kabar kekasih PRIAmu itu? apa kalian menikmati hari-hari kalian dengan baik? Boleh aku mengganggunya? HAHAHAHA"
Dipesan ketiga ini Mingyu mengepalkan tangannya, Ia langsung emosi ketika pengirim pesan itu menyinggung Kekasihnya. Mingyu sungguh tidak ingin mereka mencelakai Wonwoo yang ia sangat inginkan adalah berdamai dengan orang tuanya sekarang. Beri ia kesempatan sekali saja, untuk membuktikan kalau ia bisa memertahankan hubungannya dengan Wonwoo. Apabila hubungan mereka berjalan seperti yang diperkirakan Eommanya, tidak memiliki masa depan, Mingyu sipa melepas Wonwoo demi Wonwoo agar bisa mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya. Kini hubungan mereka memasuki tahun ke tiga, tidak ada kata jenuh bagi keduanya. Bahkan kadar cinta mereka semakin pekat. Mingyu ragu saat hendak membuka pesan ketiga.
Sender: +08211981xxxx
"Eommamu sudah memperingatimu agar kalian mengakhiri hubungan bodoh kalian. Apa yang bisa kau harapkan dari hubungan kalian yang ditentang oleh masyarakat?
Jika kau menyayangi Wonwoo hyungmu, hentikan semua hubungan konyol kalian."
"bangsat!" Mingyu memaki ke empat sender yang ia tidak tahu siapa pemilik 4 nomor tersebut. jangan lupakan sesuatu yang penting. Meskipun badannya bongsor dan wajah terlihat dewasa, jiwa anak remaja SMA masih ada melekat didalam dirinya, sehingga mudah sekali bagi Mingyu emosi di saat seperti ini.
BUAGH!
Sebuah bantal melayang dari jeonghan mengenai kepala Mingyu, sontak memancing seluruh perhatian manusia yang berada diruangan itu untuk melihat Mingyu dan jeonghan.
"YA! Apa yang kau lakukan hyung?!" Mingyu meninggikan suaranya.
"jaga bicaramu kim Mingyu! kepada siapa kau memaki tadi?"tanya Jeonghan yang mulai terpancing emosinya.
"ah!mian ... spontanitas hehehehe" jawab Mingyu gelagapan disertai tawa canggungnya . Ia tidak mungkin menceritakan masalahnya kepada seluruh member kan?
Mingyu meletakkan ponselnya di atas meja rias,sedikit membanting lebih tepatnya. Ia sekarang ini tidak memiliki niat untuk menelpon pemilik nomor nomor tersebut karena Mingyu tidak ingin mengacaukan comeback album pertama mereka. Mingyu mengusap wajahnya dengan kasar, dan Wonwoo menyadari ada sesuatu yang terjadi pada kekasihnya itu. disaat seperti ini Mingyu sangat butuh arahan dari seseorang yang lebih dewasa dari dirinya.
Mingyu berusaha melupakan ancaman sang Eomma, ia mengambil tempat duduk disebelah jeonghan. Ia menatap lurus kedepan,ia melihat Wonwoo yang juga sedang menatapnya kemudian Mingyu tersenyum. 'mengapa Eomma melakukan ini? Belum tentu wanita disana dapat sebaik dan setulus dia yang dapat menerima semua kekuranganku. Bagaimana bisa cinta menjadi salah hanya karena gender?' tanya Mingyu dalam hati. Jika putus asa dapat mengurangi jatah hidup Mingyu per hari dibumi, ia yakin pasti dari ini adalah hari terakhir dia dibumi. Hanya Wonwoo lah vitamin yang tetap membuatnya kuat.
Wonwoo menaikan dagu dan alisnya seakaan bertanya 'apa yang terjadi ?' kepada Mingyu, Mingyu bukannya merespon seperti yang ia harapkan malah mengirimkan flying kiss ke Wonwoo.
Wonwoo malas menanggapi Mingyu lebih memilih untuk tidur disofa sebelum tempat kosong disebelahnya yang baru ditinggalkan oleh jun di isi dengan orang lain.
Wonwoo meletakkan tangannya di atas dahi, kemudian memejamkan matanya. Ia sangat lelah, terlalu lelah untuk berjalan lagi. biarkan ia beristirahat sebentar sebelum mereka kembali ke dorm.
.
.
.
Mingyu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ia lilitkan di pingganggnya. Mingyu bergegas memakai baju dan menyusul Wonwoo yang sedang bersandar di atas tempat tidur. Mingyu tidur terlungkup diatas Wonwoo kemudian memeluk pinggang ramping Wonwoo . sudah lima menit lebih Mingyu bertahan pada posisi itu tetapi Wonwoo masih sibuk membaca novelnya hingga Mingyu meletakkan novel Wonwoo, kemudian mengecup sekilas bibir kekasihnya itu. Wonwoo ingin protes saat itu juga, tapi tidak terlaksana saat Mingyu membenamkan wajahnya keperut Wonwoo. Wonwoo memeluk kepala Mingyu dan ia juga mengecup puncak kepala Mingyu.
"Mingyu-ya.."
"hmm?"
"kau baik-baik saja?"
Mingyu menangguk, Mingyu semakin mengeratkan pelukannya.
"kau sungguh aneh sejak siang tadi.. kau tahu? kau membuatku khawatir"
Mingyu mengangkat kepalanya, menunjukkan senyum lebarnya didepan Wonwoo.
"apa yang kau khawatirkan,hmm?" Mingyu menarik pelan hidung Wonwoo. Wonwoo tidak percaya dengan semua ucapan Mingyu. Wonwoo menghela nafas saat Mingyu lagi lagi membenamkan wajahnya. Suasana menjadi hening...
Wonwoo ingin memaksa Mingyu untuk berkata jujur, tetapi Wonwoo juga takut jika mood Mingyu rusak karenanya.
"Mingyu ya..."
"kenapa sayang?" Mingyu kembali menangkat kepalanya.
"lapar..." Wonwoo bergumam pelan.
"lapar?!" Mingyu bangun dan duduk diantara kaki Wonwoo. Wonwoo menangguk cepat.
"apa kau lupa berapa mangkok ramyun yang kau makan tadi?lihat lah badanmu, semakin kurus. Lari kemana semua makanan yang kau makan?"
Wonwoo menatap Mingyu datar. "lalu kenapa kalau aku mau makan lagi?"
Mingyu menggaruk tengkuknya yang sedang gatal.
"ya-yaaa bagus sih"
"tidak jadi!"
"loh kenapa?" tanya Mingyu bingung dengan perubahan mood Wonwoo.
"perutku mual, seperti diaduk-aduk" Wonwoo mendorong Mingyu agar tidak berada di atasnya dan Wonwoo beringsut turun, tidur menyamping dengan tangan menutup mulutnya.
UGH!
Mingyu tertawa terbahak bahak dan langsung ditendang dengan Wonwoo.
"ya! Kenapa menendang ku!"
"kau kenapa menertawaiku?!"
"abisnya kau lucu. Lihatlah, kau saja ingin muntah. Masih ingin makan lagi? perutmu masih penuh dengan ramyun sayang" Mingyu mengusap kepala Wonwoo.
Mata Wonwoo melotot saat isi perutnya sudah mencapai telaknya. Wonwoo mengejutkan Mingyu yang masih tertawa dengan melompat turun dari tempat tidurnya. Tak menghiraukan manusia-manusia yang ia lewati saat hendak ke kamar mandi, Wonwoo langsung menuju kekamar mandi dan jongkok di depan Wc.
Mingyu semakin terbahak bahak sedetik setelah ia terkejut karena Wonwoo melompat dari tempat tidur.
.
.
The8, Seungkwan, Dino menghentikan acara ngemilnya saat Wonwoo berlari melewati mereka dan langsung membanting pintu kamar mandi. Joshua yang baru saja keluar dari kamarnya berbarengan dengan Wonwoo tadi juga terheran saat melihat dongsaeng nya itu berlari. saking penasarannya, Joshua masuk ke kamar yang dihuni Mingyu.
"ada dengan dengan Wonwoo?" tanya Joshua sesaat setelah memasuki kamar tersebut tanpa melihat situasi yang terjadi saat ini. Ketika ia melihat objek yang di tanyai, Joshua tercengang saat mendapati Mingyu terbahak-bahak.
"YA! KALIAN KENAPA?!" Joshua meninggikan suaranya.
Sambil tertawa Mingyu menjawab Joshua " itu hahaha Wonwoo-hyung hahahaha kekenyangan hingga muntah" Mingyu kembali tertawa.
"Lalu apa yang lucu hingga kau hampir mirip orang gila seperti itu?"
Tak ada jawaban dari Mingyu, Joshua meninggalkan pria jangkukng itu dan ia menyusul Wonwoo. Joshua lebih milih melihat dongsaengnya di kamar mandi dari pada dongsaengnya yang menurutnya memiliki kelainan mental itu.
Joshua berdiri didepan pintu, ia melihat Wonwoo yang masih jongkok di depan Wc.
"kau baik baik saja Wonwoo-ya?"
"mual hyung"
Hoeek hoeek
Wonwoo kembali memuntahkan isi perutnya. Sementara Joshua membantu Wonwoo memijat tengkuknya. "lihatlah! Bahkan bocah itu tidak melihatku" ujar Wonwoo setelah ia puas mengeluarkan isi perutnya, Wonwoo membersihkan mulutya dengan telapak tangannya. Setelah merasa benar-benar hilang hasratnya ingin muntah, Wonwoo berdiri.
"bisa berdiri?" tanya Joshua khawatir saat Wonwoo terhuyung ketika hendak berdiri.
Wonwoo menggangguk "kakiku hanya kesemutan saja hyung"
"a-ah..okay" Joshua masih menunggu Wonwoo membasuh mulutnya di westafel.
"kau sunggu baik-baik saja?" tanya Joshua kembali memastikan keadaan dongsaengnya itu.
"kau terlihat pucat Wonwoo-ya" Joshua memerhatikan pantulan wajah Wonwoo di cermin.
"aku baik-baik saja hyung, hanya saja aku kapok makan banyak!" seru Wonwoo setelah selesai membasuh mulutnya. Ia bersama Joshua keluar dari Kamar mandi.
Wonwoo memasuki kamar niat memberi hadiah kepada kekasihnya sebuah tinjuan di wajah tampan nan coklatnya itu. Saat memasuki kamar, ia melihat Mingyu sedang tidur dikasurnya sambil memainkan smartphone. Wonwoo dengan sekuat tenaga melempar boneka yang ada dikasur Seungkwan ke arah Mingyu, namun berhasil ditangkap Mingyu. Refleks Mingyu jangan diragukan lagi Jeon!
"oh kau sudah selesai?" tanya Mingyu hampir tertawa lagi
"Geser aku mau tidur!" bentak Wonwoo, ia mendorong tubuh Mingyu dan tidur di sisi yang kosong.
"AAARRGH!SEMPIT!YA!KEMBALI KE KASUR MU"
Melihat Mingyu masih sibuk dengan ponselnya jadi membuat Wonwoo kesal, bukannya melihat keadaannya malah asik dengan ponselnya.
"JANGAN BERTERIAK!" Mingyu balas berteriak tepat ditelinga Wonwoo.
"YA!KENAPA KAU MEMBENTAKKU?!"
"KAU DULUAN YANG BERTERIAK!"
Wonwoo semakin kesal dengan Mingyu. tapi tidak dengan Mingyu, ia hanya ingin menggoda Wonwoo. Dalam hati ia terbahak-bahak sekarang.
"TERSERAH KAU SAJA!AKU AKAN TIDUR DILUAR!" Wonwoo ingin bangun dari tidurnya tapi lengan panjang Mingyu terlebih dahulu menahan dadanya.
Mingyu telungkup memerhatikan Wonwoo yang berada sampingnya, "kata siapa kau boleh tidur diluar hm?kau akan di sini bersamaku"
"SE TI AP MA LAM" Mingyu menekankan persuku kata setiap perkataanya.
Wonwoo diam tak merespon godaan Mingyu, meskipun Mingyu menoel-noel pipinya . Mingyu mempererat pelukannya terhadap Wonwoo, Wonwoo tidak bergeming dipelukan Mingyu. Cara pandang Mingyu berubah menjadi sendu melihat wajah pucat Wonwoo. Mingyu tidak menyangka jika kekasihnya ini benar-benar dalam kondisi yang tidak baik.
"kau baik-baik saja hyung?masih mual?" tanya Mingyu sembari mengelus pipi Wonwoo, Wonwoo menangguk.
"aigoo~ lain kali kalau makan dilihat-lihat dulu sayang, jangan sampai over begini" Mingyu menelusupkan tangannya kebalik kaos Wonwoo. ia mengelus perut Wonwoo perlahan. "hey perut! Jangan sakiti kekasihku lagi, ara?"
Wonwoo memejamkan matanya menikmati tiap elusan tangan Mingyu diperutnya. Ia menggenggam tangan Mingyu. tak memperdulikan celoteh Mingyu kepada perutnya yang ia konyol.
"tidak tahu kenapa, hatiku berdesir saat kau mengelus perutku"
"apa?" tanya Mingyu. Ia tak mendengar dengan jelas kata-kata Wonwoo yang hampir mirip bisikan itu. Jelas saja Mingyu tidak mendengarnya, karena Wonwoo berbicara saat Mingyu masih bermonolog sendiri.
"bahagia... sedih... dan kasih sayangmu. Aku bisa merasakannya" gantian Wonwoo meneruskan monolognya.
"kau sedang membicarakan apa sayang?" tanya Mingyu lagi. Ia bingung sekarang.
"sepertinya telingamu menyimpan banyak sekali emas didalamnya" ujar Wonwoo dengan malasnya.
"YA!AKU SERIUS JEON!"
Mingyu semakin ingin tahu hingga meninggikan nada bicaranya. Wonwoo menghela nafas panjang kemudian menutup matanya.
"terserah kau saja Kim"
"kalau kau bilang terserah, berarti aku bisa melakukan apapun terhadap tubuhmu kan?" tanya Mingyu iseng. Wonwoo mencubit tangan Mingyu, hingga Mingyu mengadu kesakitan.
"kalau lakukan itu, kau tidak akan bisa melihat masa depan lagi Kim"
"masa depan ku ada di dalam dekapanku saat ini" Mingyu mengecup bibir Wonwoo sekali.
"berisik!diam la aku mau istirahat"
Wonwoo tak menyingkirkan tangan Mingyu dari atas perutnya, ia berbalik badan, tidur memunggungi Mingyu dan menggenggam tangan Mingyu yang berada di perutnya. Wonwoo tersenyum kecil.
"ey~ kau tersenyumkan?"
"suka-suka ku kan?" jawab Wonwoo dengan ketus. Entah ada apa dengan dirinya saat ini, sangat tidak tertebak moodnya.
"aigoo~~ bagaimana bisa ada pria yang tampan kelewat cantik seperti mu hyung" Mingyu masih terus menggoda Wonwoo.
"terimakasih, tapi aku tidak merasa terpuji"
"kau marah hyung?"
Wonwoo menghela nafas, ia memejamkan matanya.
"tidak, aku hanya lelah"
"benarkah? Eh! Tapi serius kau sangat cantik bahkan lebih cantik dari Jeonghan Hyung"
Mata Wonwoo kembali terbuka,sekarang ia bagaikan Banteng dengan asap keluar dari hidung yang siap menyerang lawannya.
"KELUAR KAU KIM MINGYU!" Bentak Wonwoo, ia berusaha melepaskan pelukan Mingyu pada pinggangnya. Tapi usahanya tak berhasil, Mingyu justru mempererat pelukannya.
"sekarang aku percaya kalau kau sebenarnya sangat sehat" Mingyu tertawa, tawanya yang terdengar oleh telinga Wonwoo hanya membuat Wonwoo semakin kesal saja, terlihat dari nafasnya yang semakin cepat dan terburu-buru.
"sudah jangan marah-marah, tidurlah. Kau lelahkan?aku akan memelukmu sampai pagi"
"selamat malam hyung, aku mencintaimu"
"hmm" meskipun hanya gumaman, wonwoo menggenggam tangan Mingyu dipinggangnya dengan erat.
.
.
.
.
.
"Kami sudah mengerjakan sesuai yang kau minta Minyoung-ah" lelaki berjacket merah maroon itu melaporkan hasil kerja mereka kepada Wanita bernama Mingyoung tersebut.
"Ku dengar dari peringkat penjualan album fisik dan digital, grup anak anda menduduki peringkat 3 teratas" tambah teman pria berjacket merah maroon, Jung Hyunsik.
Jung Hyunsik mengambil beberapa lembar kertas yang terlipat di dalam tas kamera miliknya.
"maaf, karena kami merupakan wartawan, bukan perkerja kantoran jadi kertasnya asal kami lipat saja. Kau juga tidak membayar kami untuk melakukan ini. Anggap saja ini sebagai penyemangatmu menghadapi sikap putra kesayangan mu itu" Hyunsik menyerahkan kertas yang terlipat itu ke wanita itu. Hyunsik mengelus tengkuknya kemudian melanjutkan kembali perkataannya saat wanita tersebut tersenyum manis.
"ya.. maksudku.. kau sudah membantu kami untuk mempertahankan perusahaan percetakan kami. masalah yang kami hadapi jika dibandingkan dengan masalah keluargamu aku menjadi...prihatin" lanjut hyunsik lagi.
"tapi kau lihat, anak mu sekarang hampir meraih mimpinya. Anak yang kau tinggalkan..." sambung pria berjacket maroon tersebut.
Wanita itu menatap pria berjacket merah maroon dengan tatapan tidak sukanya.
"aku tidak meninggalkannya dengan sengaja, waktu itu appa Mingyu sedang mengalami kesulitan jadi kami berdua fokus untuk bekerja demi masa depan Mingyu"
"tapi Mingyu sampai sekarang tidak melihat perngorbanan dan kasih sayang kalian, nyonya-kim" jawab pria itu lagi.
"lagi pula... siapa yang bisa membeli kebahagian sebuah keluarga dengan uang" lanjutnya, Hyunsik hanya menyimak perdebatan kedua orang itu.
"Oppa, bisa tidak kau tidak menyudutkanku? Nyonya-kim?astaga! kau ini oppaku. Pamannya Mingyu"
Minyoung menghela nafas, matanya kembali berlinang "aku tahu kami salah, kami pikir kebahagian Mingyu bisa kami gantikan dengan cara yang berbeda. Dan sekarang aku menyesal tidak bisa mendidiknya dengan baik"
"hah~ lihatlah sekarang, ia lebih memilih seorang pria dari pada wanita"
Hyunsik berdiri dari tempat duduknya, ia menyela perbincangan mereka "aku ada pekerjaan lagi setelah ini, aku pulang duluan" pria tersebut meninggalkan ruangan itu. Hyunsik sendiri merasa risih dengan situasi diruangan ini. Itu mengapa ia memutuskan untuk pulang lebih awal dari pada nunggu perdebatan kakak-adik yang sama kerasnya ini selesai.
Suasana hening untuk beberapa saat.
"kau ingin minum?" Minyoung berdiri dari tempat duduknya. Pria tersebut mengeleng.
"duduklah" pria yang merupakan paman dari Mingyu itu menepuk bagian kosong tepat di sebelah ia duduk.
"aku ingin bertanya kepadamu..."
Minyoung menuruti permintaan kakaknya, Lee Hyeosok. Wanita itu menatap sang kakak, menunggu pertanyaan yang siap meluncur kapanpun dari bibir Hyeosok.
"jawab aku dengan jujur Minyoung-ah, kenapa kau menolak hubungan mereka?"
Minyoung menatap kakaknya lekat-lekat, memastikan apa benar pertanyaan tersebut berasal dari mulut sang kakak.
"pertanyaanmu..."
"jawab saja! Aku juga terlibat di dalam hidup anakmu sejak dia tinggal bersama Eomma, kau tidak lupakan? sangat miris melihat keponakanku dan ibunya seperti ini. Sang ibu meneror sang anak dan keponakan tersayang ku jadi pembangkang"
Minyoung menarik nafas kemudian dikeluarkan olehnya perlahan dan ia pun menjawab pertanyaan kakaknya.
"kau tahu sendiri bagaimana menjadi orang tua kan?apa oppa akan diam saja melihat anak mu mengalami penyimpangan seksual?penyuka sesama jenis? Apa kau tidak mengkhawatirkan bagaimana kehidupannya di masa depan? Percintaan sesama jenis.. astaga"
"Ia bisa di kucilkan, tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang sempurna. Dengan cinta ia menjadi buta, tidak bisa melihat sisi negatif dari tindakan mereka. apa aku akan diam saja, sementara masa depan anakku terancam? Bagaimana karir keartisannya? Bukankah ia sudah berlatih dengan keras demi menjadi seorang idol seperti sekarang ini?cukup! cukup dulu saja kami mengabaikan pertumbuhan dan perkembangannya. Sekarang kami akan memperbaiki apa yang menjadi kekurangan kami sebagai orangtua"Tak dapat dikontrol, Minyoung mulai terisak.
"aku tahu! Kami sangat tahu! Tindakan yang kami ambil salah. Tapi tidak ada cara lain untuk menghentikan Mingyu. Hatiku sangat sakit saat melakukan tindakan kejahatan ini. Bagaimana bisa aku menyakiti Mingyu dan Wonwoo yang sudah ku anggap putra ku sendiri. Wonwoo yang selalu merawat Mingyu ketika dia sakit, seharusnya tidak seperti ini caraku membalasnya. Aku siap menerima resiko saat mereka berdua tahu kalau aku lah dalang dibalik masalah yang mengacaukan hubungan mereka. demi Mingyu dan Wonwoo serta karir anggota lainnya, hubungan mereka harus segera diakhiri"
Hyeosok terlihat tenang mencerna penjelasan sang adik. Dan mencoba untuk merespon nya "bagaimana kalau beri dia waktu untuk membuktikan bahwa kekhawatiran kalian terhadap hubungan mereka benar akan terjadi. Dengan kata lain kita biarkan dia menjalani semuanya dulu dengan kekasih prianya itu"
Mata Minyoung terbelalak "apa kau gila?! Kalau Mingyu tidak juga memutuskan Wonwoo, jalan terakhir yang kuambil dengan menikahkan dia dengan wanita lain. Aku tidak habis pikir, bagaimana pihak agensi membiarkan hubungan terlarang ini ada di antara anak asuhnya"
"kau lebih gila Minyoung-ah" sang kakak mulai menunjukkan sikap ketidaksetujuannya kedapa sang adik.
"apa maksudmu?" wajah ibu dari kim Mingyu itu menunjukkan kaalu ia tidak nyaman dengan situasi dan lawan bicaranya sekarang.
"maksudku, kita biarkan dia menikmati masa muda nya dan kita tunggu, sejauh mana mereka bertahan"
"apa kau pikir melakukan hal itu semuda membalikkan telapak tangan ?"
Sang kakak bangkit dari duduknya, ia meraih jacket yang tadi ia lepas dan di letak di tangan sofa. Ia mengehela nafas panjang guna membuat dirinya sabar dalam menghadapi sang adik yang lebih keras kepala dari dirinya. Pantas saja Mingyu keras kepala.
"terserah kau saja! Aku sebagai saudara tertuamu hanya bisa memberikan saran seperti itu, agar tindakan konyolmu yang dapat merusak karir Seventeen tidak berlanjut. Aku hanya berpesan, jangan menyesali perbuatan kalian di masa lalu ketika kalian sudah terbangun di hari esok" Hyeosok keluar dari ruangan itu meninggalakan Minyoung sendiri di ruangannya. "bahkan kau juga mendukung Mingyu seperti Eomma?" gumam Minyoung dengan mata yang mengikuti punggung Hyeosok yang menghilang di balik pintu.
.
.
.
.
Promosi album pertama mereka lancar tanpa kendala, bahkan mereka mendapatkan trophy karena Pretty u menduduki posisi pertama pada tangga lagu. Masih tidak bisa dilupakan moment bersejarah bagi Seventeen, itu merupakan trophy pertama mereka yang mereka raih sejak debut. Semua latihan mereka selama bertahun-tahun akhirnya mulai menunjukkan bunga pertamanya. Semenjak hari itu, Seventeen sangat termotivasi untuk menampilkan performance yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu mereka harus berlatih sangat disiplin baik vokal maupun dance.
Seperti saat ini, hoshi dan anggota performance team lainnya mencoba untuk menjelaskan formasi dan modifikasi koreografi yang baru untuk Pretty U.
"sepertinya aku sudah tidak kuat latihan lagi untuk hari ini" ini lah tanggapan Wonwoo setelah mendengar penjelasan dari Hoshi mengenai koreo yang telah mereka modifikasi. Wonwoo terlentang di tengah ruangan latihan. Ia meletakkan tangannya di atas dahinya agar menghalangi cahaya yang mengganggu penglihatannya. "sudah berapa kali kau istirahat wonu-ya?" tanya woozi ketus. Mungkin woozi sedang stress menghadapi promosi album pertama mereka, pasalnya woozi yang mengkompos lagu mereka sendiri. Sehingga ia meresa sangat bertanggung jawab. Terlebih setelah Pretty U menempati posisi pertama di salah satu acara musik Korea.
"aah~ rasanya aku ingin pingsan saking capeknya" ucap Wonwoo lagi. Mingyu mendekati Wonwoo kemudian menyingkirkan tangan Wonwoo dari dahi dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Wonwoo kemudian yang satu nya ke dahi Mingyu sendiri. Mingyu fokus membandingkan suhu badan Wonwoo dengan badannya.
"suhu badanmu lebih tinggi dari ku hyung. kau baik-baik saja?" tanya Mingyu khawatir. The8 mendekati Wonwoo mencoba membuktikan ucapan Mingyu.
"iya hyung" The8 mengiyakan perkataan Mingyu setelah mengecek suhu badan Wonwoo dengan cara yang sama yang dilakukan oleh Mingyu. semua member mencatap Wonwoo cemas, terlebih Woozi yang sempat berburuk sangka kepada Wonwoo.
"sudah ku bilangkan tadi, aku sungguh lelah. Mungkin aku akan pingsan kalau latihan sekali lagi"
"disituasi seperti ini kau masih saja lebay hyung" Vernon menggeleng-geleng heran.
"mau ku panggilkan dokter?" Scoups bersuara.
"tidak perlu hyung, aku hanya butuh waktu untuk istirahat saja"
"sungguh?" Mingyu masih kurang yakin dengan pernyataan Wonwoo.
Wonwoo mengangguk dalam tidurnya.
Semua member terlihat lega.
Namun sebelum Wonwoo terlelap, Mingyu mengangkat Wonwoo dan memindahkannya ke Sofa yang mereka pakai untuk latihan. Seungkwan hanya dapat memerhatikan hyung kesayangannya itu belakangan ini sangat aneh menurutnya.
.
.
.
"ini aneh...sepertinya aku melewatkan sesuatu yang penting... tapi apa itu..." Seungkwan bermonolog sendiri.
tak lama vernon datang membawa dua gelas coklat panas dan mengambil tempat disebelah Seungkwan sambil menyerahkan segelas coklat panas ke Seungkwan.
"kau memikirkan apa?" tanya Vernon penasaran, karena ia tadi sempat menangkap suara Seungkwan sedang berbicara sendiri.
"hah?" Seungkwan tidak mendengar dengan jelas perkataan vernon karena larut dengan pikirannya sendiri.
"aku bertanya kau jawab 'hah?'" jawab Vernon dengan ketus dan mengikuti mimik yang sama dengan yang digunakan Seungkwan tadi.
"kau sendiri bertanya di waktu yang tidak tepat" jawab Seungkwan ketus juga.
"lalu, apa yang tadi kau pikirkan?" tanya vernon lagi.
"apa kau tidak menyadarinya..." jawab Seungkwan yang terkesan mengantung bagi vernon.
"menyadari?"
"iya menyadari... ada yang salah dengan Wonwoo Hyung?"
"tidak ada boo" jawab vernon dengan santai. Ia menyeruput coklat panasnya sedikit demi sedikit.
"kau selalu tidak peka" Seungkwan jadi malas bercerita dengan Vernon.
"ayo kita tanya saja dia"
" tanya apa?" tanya Seungkwan yang tak mengerti maksud pembicaraan Vernon.
"tanya ke Wonwo hyung apa dia merasa kalau ia berubah" jawab Vernon yang kelewat polos.
"YA! PERGI SANA MENGGANGGU KU SAJA!" Seungkwan akhirnya membentak dongsaeng kesayangannya itu. Tapi tidak sungguh-sungguh mengusirnya kok, Vernon juga tahu kalau Seungkwan tidak sungguh—sungguh marah kepadanya. Mereka sudah sangat mengenali sifat masing-masing.
Vernon bersandar pada tembok tempat mereka duduk sekarang dan mengangkat kedua bahunya tak memperdulikan Seungkwanyang baru saja memarahinya. Emang vernon salah dimana? Hahaha itulah yang dipikirkan Vernon.
"kalian tidak pulang?" tanya Woozi yang tiba-tiba kepalanya muncul dari balik pintu.
"kalian sudah mau pulang hyung?" tanya Vernon.
Woozi membalasnya dengan anggukan.
"kalau kalian ingin diruangan ini, nanti kunci pintunya" kata Woozi menambahi.
"baik Hyung!" jawab Seungkwan dan disertai dengan anggukan Vernon.
Mengapa hanya Verkwan di dalam ruangan? Begini, Seungkwan bersedia menemani Vernon untuk mengerjakan satu bait lirik rap nya di ruangan latihan karena minggu lalu ia berhutang kepada Vernon yang telah membantunya untuk berlatih koreografi dari lagu-lagu mereka.
.
.
.
.
.
Di suatu Cafe didaerah Gangnam.
"eonni! YA! Liat ini!" seorang remaja yang lebih muda menyenggol lengan seorang perempuan yang lebih tua disebelahnya yang asik dengan game di smartphone.
"kenapa?!" sang kakak membentak remaja tersebut, Ia terganggu karena sang adik menyenggol tangannya hingga iya kalah.
"ini bukannya Biasmu? Apa benar seperti ini dia aslinya? Kenapa aku jadi kesal sendiri melihat orang ini" sang adik mengoceh sambil mengarahkan pandangan sang kakak ke notebooknya.
"HAH?! Ini sejak kapan ada berita seperti ini?" sang kakak terkejut. Iya meletakkan smartphonenya dan mengambil alih notebook sang adik. Iya membaca hasil temuan sang adik.
"ternyata wajah nya memang tidak sebagus sifatnya" sang adik yang merupakan anti dari idol itu tidak henti-hentinya mencela bias sang kakak yang terkena berita tidak menyenangkan.
Sang kakak tidak mempermasalahkan sikap sang adik yang seperti itu, karena adiknya sendiri masih SMP dan menyukai sesuatu itu tidak dapat dipaksakan berdasarkan keinginan orang lain. Jadi sang kakak tidak marah saat sang adik senang ketika biasnya tersandung kerikil diluar sana.
"santai saja,aku percaya kepada Wonwoo, Seventeen dan Pledis. Agensi belum mengkonfirmasi dan kalau pun benar, ya namanya juga dia manusia. Pasti ada sisi ketidakdewasaannya. Seperti kau saat ini yang tidak menyukai Seventeen dan terus mengejeknya. Bagaimana jika suatu saat kau menjadi idol dan mengalami hal serupa dengan Wonwoo?"
Sang adik acuh tak acuh saja, dan sang kakak langsung masuk ke forum untuk menyebarkan berita buruk mengenai idol nya dan mengajak yang lainnya untuk mendukung Wonwoo dan Seventeen apapun yang terjadi.
.
.
.
Di tempat lain, beberapa dari fans Seventeen dan haters juga melihat artikel yang sama di internet.
"hyena-ya Wonwoo tidak mungkin kan seperti ini?
"ntah lah, aku tidak belum memberi penjelasannyakan?
.
"aku tidak menyangka ternyata dibalik wajahnya yang terlihat kalem, sifatnya buruk juga"
.
"aku sebagai Sone dan Carat lebih baik bersabar nunggu jawaban Pledist"
.
"GILA orang ini! Apa dia mau di hujani amukan Sone?!"
.
"berani sekali dia menjelek-jelekkan Uri Queen?"
.
"Wonwoo, i trust you"
.
"sombong sekali bocah ini! Baru juga mendapatkan Trophy sekali!"
.
Itulah beberapa tanggapan beberapa haters dan fans dari Seventeen yang melihat Artikel mengenai Wonwoo.
.
.
.
Sementara itu, sepertinya Seventeen belum mengetahui kondisi dan situasi di luar sana. Hari ini Seventeen tidak memiliki agenda sehingga mereka bisa istirahat seharian ini di apartement. Terlihat dari sang leader yang dari jam 7 pagi keluar dengan Joshua, Jeonghan,Jun dan Deokyeom untuk membeli stock makanan mereka. Dino sendiri, ia harus sekolah. Sedangkan The8, Woozi, Hoshi sedang sibuk dikamar mandi untuk mencuci semua pakaian mereka dan sisanya menghabiskan waktu didepan Tv dan didapur.
"hyung~" dengan manjanya Mingyu memanggil Wonwoo yang dari tadi sibuk didapur bersama Seungkwan.
"kau ribut sekali" Wonwoo menyahut dengan ketusnya.
"kau disini saja bersamaku! Lagi pula, tumben sekali kau kedapur"
Wonwoo hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak tahu mengapa ia sangat ingin minum jus lemon buatan Seungkwan.
"diamlah Kim Mingyu" sekali lagi Wonwoo menyuruh kekasihnya itu untuk diam. Mingyu mengerucutkan bibir nya saat Wonwoo menyuruhnya untuk diam.
"hyung kau yakin akan minum sari lemon di pagi hari gini"
Wonwoo menangguk tanpa ragu. Saat bangun Wonwoo merasa mual tetapi tetap saja tidak bisa ia muntahkan, hanya perasaan mual yang menganggu perutnya. Kemudian ia jadi ingin meminum minuman yang asam dan dingin buatan Seungkwan.
"kau punya magh hyung" Seungkwan masih berusaha mengoyahkan keinginan Wonwoo. ia sangat sayang sama hyungnya yang satu ini, oleh karena itu ia tidak ingin Wonwoo kenapa-kenapa.
"tidak tahu kenapa saat keluar dari kamar mandi yang ada dipikiranku hanya sari lemon" tanpa sadar Wonwoo mengelus perut datarnya.
"seperti bibiku dulu hyung"
"hah?"
"iya seperti bibiku saat mengandung dulu, ia sangat suka makan makanan yang asam. Bahkan aku sempat tidak boleh pulang karena harus mencari manga muda"
"ha-hamil?" Wonwoo tergagap, mendadak ia kepikiran dengan ucapan Seungkwan.
"iya hyung, karena kau seorang pria jadi tidak mungkin kau hamilkan. Yaa walaupun kau dan Mingyu berkali-kali melakukan itu juga tidak akan membuatmu hamil" Seungkwan tertawa setelah mengakhiri perkataannya. Wonwoo juga ikut tertawa, canggung.
'hamil? Apa mungkin? Mana mungkin aku hamil! Aku seorang pria,tulen!' ucap Wonwoo dalam hati.
"Hyung!" ini sudah yang ke tiga kalinya Mingyu memanggil Wonwoo agar cepat menemaninya didepan tv.
'tapi mengapa aku sering mual, dan pusing kalau banyak beraktivitas?' Wonwoo masih berusaha mencari tahu jawabannya sendiri.
"HYUNG!" Mingyu membentak Wonwoo pada akhirnya,
"ah! ia bersabarlah" Wonwoo tersadar dari lamunannya segera membawa sari lemonnya dan mengambil tempat disebelah Mingyu.
'ah! Eomma pasti tahu,aku akan menemui Eomma dua hari lagi'
.
.
.
"depyeo-nim! Ada artikel yang memberitakan Wonwoo" salah satu staff Pledis melaporkan apa yang baru saja ia temukan di media sosial. Han Seong su, Ceo dari Pledis Ent. meminta bukti atas laporan dari stafnya itu, setelah melihat artikelnya raut wajahnya mengeras.
"bagaimana dengan Wonwoo?"
"saya rasa Wonwoo belum tahu depyeo-nim"
"kalau begitu segera panggil dia, aku akan mengurus beberapa hal dulu diluar, jadi besok panggil Wonwoo ke ruanganku"
"akan saya laksanakan"
.
.
.
Mingyu memerhatikan Wonwoo yang asyik menikmati sari lemonnya tanpa keasaman sedikitpun. Mingyu menelan ludah susah payah, ia tahu sekali kalau sari lemon itu sangat asam. Tetapi dengan mudah dan nikmatnya Wonwoo meminum sari lemon itu.
Setelah meminum beberapa tenggak, Mingyu merebut gelas tersebut dari Wonwoo, Wonwoo menoleh.
"Wae?" tanya Wonwoo karena tiba-tiba saja Mingyu mengusiknya.
Mingyu meminum sisa sari lemon itu hingga tidak ada sisa, Mingyu merem melek bergidik dibuat minuman itu.
"YA! Bagaimana kau bisa minum ini?eoh?!" Tanya Mingyu dengan wajah kecutnya.
Wonwoo yang tadi berniat untuk marah mengurungkan niatnya, ia malah tertawa hingga terbahak-bahak melihat ekspresi Mingyu.
"apa kau bodoh?hm? sudah tahu asam, malah kau minum semua"
Wonwoo masih tertawa, menyubit pinggang Wonwoo sampai-sampai Wonwoo meringis.
"berhenti tertawa!"
"salahmu sendiri! Seenaknya saja menghabiskan milikku"
"milikmu apa? Milikmu itu ini" Mingyu menunjuk dirinya sendiri sambil mengerucutkan bibirnya.
"apa kau bisa mengeluarkan sari lemon?" tanya Wonwoo sebal.
"jangankan sari lemon, jika kau ingin aku bisa memberimu segelas susu kental bernutrisi tiap hari" Mingyu menggerlingkan sebelah matannya dengan genit.
Wonwoo yang paham kemana arah pembicaraan Mingyu, menggetok kepala Si jangkung pelan. "membayangkannya saja aku mau muntah"
Mingyu menyeringai "Eiy~ padahal kau selalu menghabiskannya tanpa sisa sayang"
"kau sedang menggodaku?"
"tidak! Aku mengajakmu!"
"ke?"
Mingyu merangkul Wonwoo kemudian berbisik ke telinga Wonwoo dengan seksi hingga Wonwoo merinding dibuatnya. "Ke surga dunia kita~"
Kali ini Wonwoo memukul kepala Mingyu lumayan kuat.
"sakit!"
"bagus lah, biar otakmu bersih"
"bersih dari mana? Kau menyiksa ku hyung" Mingyu merengek. Masih mengelus kepalanya.
"hyuung~ aku kangen pada mu"
Wonwoo mengehela nafas, kemudian duduk bersila menghadap Mingyu. ia mengecup bibir Mingyu sekilas. "aku juga merindukanmu"
Senyum sumringah Mingyu pun mekar. "kalau begitu ayo!"
"kemana?"
"kekamar?hotel?kemana saja asal kita bisa berdua" tutur Mingyu dengan antusias.
"kita tidak akan kemana-mana" jawab Wonwoo dengan wajah datarnya.
"kau kangen padaku kan?" Mingyu masih berusaha membujuk Wonwoo.
"iya tapi tidak harus melakukan 'itu' kan?"
Seketika Wonwoo menjadi kepikiran lagi tentang perkataan Seungkwan didapur tadi. Wonwoo menjatuhkan kepalanya didada bidang Mingyu dan membenamkan wajahnya. Mingyu terkejut dengan tingkah Wonwoo yang tiba-tiba menempel pada dirinya. Mingyu memeluk Wonwoo, menciumi puncak kepala Wonwoo.
"kenapa hm?" tanya Mingyu khawatir.
"diamlah! Aku ingin mendengar detak jantungmu. Masih berdebar kencang atau tidak"
Mingyu terkekeh dan mengeratkan pelukannya terhadap Wonwoo. membiarkan Wonwoo menempel pada dirinya sampai Wonwoo bosan. Wonwoo sendiri tidak berani menebak-nebak sesuatu yang belum pasti. Meskipun benar, semua itu hanya akan menambah beban Mingyu dan member lainnya. Wonwoo sendiri juga tidak tahu harus memilih apa nanti jika memang benar ia sedang mengandung anak Mingyu.
"Mingyu"
"hm?"
"seandainya saja..."
"seandainya?" Mingyu menunggu perkataan Wonwoo selanjutnya.
"kalau kau ditentang keluargamu karena memilihku, dan kau dipaksa untuk menikah dengan seorang wanita. Apa yang akan kau lakukan?"
Nafas Mingyu tercekat, bagaimana bisa Wonwoo bertanya seperti itu disaat situasi mereka tanpa diketahui Wonwoo sudah seperti itu. mata Mingyu mulai panas, dadannya sangat sesak mengingat Eomma dan Appa nya mengancam untuk menghancurkan Wonwoo. Mingyu memantapkan hatinya sejak 2 tahun yang lalu kalau ia akan menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan Wonwoo. rasanya mustahil bagi Mingyu untuk hidup tanpa Wonwoo.
"kalau aku ditentang dan dipaksa untuk meninggalkanmu, itu artinya mereka mencabut nyawaku"
Wonwoo terkekeh pelan didada Mingyu. ia memukul lengan Mingyu pelan "aku serius bertanya Kim"
"aku serius menjawabnya Jeon!"
"tapi kau juga tahu kan sepasang gay seperti kita akan sulit hidup di Korea"
"ada apa dengan mu?kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Mingyu menepuk nepuk kepala Wonwoo pelan.
"aku punya firasat buruk..." gumam Wonwoo dan masih terdengar oleh Mingyu.
"apa yang kau takutkan? Aku akan selalu ada untukmu hyung. aku sangat mencintaimu" Mingyu menciumi kepala Wonwoo. Dari perkataan Wonwoo, Mingyu benar-benar takut kalau Wonwoo benar-benar akan diganggu oleh Eommanya. Mingyu merasa, Wonwoo adalah tanggung jawabnya sejak dua tahun ia harus bisa melindungi pemuda yang lebih tua setahun darinya itu.
"aku ingin pancake diatasnya ada keju parut"
"kebetulan aku juga lapar hyung"
"yaudah ayo buatkan aku"
"bagaimana bisa aku kedapur kalau kau masih menempel gini"
Wonwoo melepaskan diri dari Mingyu kemudian menyengir. Mingyu dengan gemas mencubit hidung Wonwoo kemudian mengecup bibir Wonwoo berkali-kali. Wonwoo tersenyum manis saat mendapat kecupan bertubi-tubi dari Mingyu. kemudian ia berbaring di Sofa. Wonwoo kembali mengingat masa kecilnya dulu saat dia dibawa kerumah sakit karena magh yang di alami olehnya.
ChangwonHospital 2006
"bagaimana Nn. Jeon?"
Seorang wanita berkepala 3 yang saat ini duduk diruangan serba putih itu tidak bisa memilih keputusan apa yang akan ia ambil. Karena jika ia salah mengambil keputusan maka hidup anaknnya lah yang akan rusak.
"saya tidak bisa mangambil semua keputusan itu sendirian dok. Bahkan suami saya juga tidak bisa memutuskan apakah Wonwoo akan di operasi atau tidak"
"lalu bagaimana dengan Wonwoo?"
"dia masih kecil untuk mengetahui semua ini dok. Kami tidak ingin membuatnya menjadi anak yang tidak percaya diri saat bertemu teman baru dikarenakan didalam dirinya terdapat rahim. Apalagi ia sangat ingin menjadi seorang penyanyi"
"saya juga tidak memaksa kalian untuk mengambil jalan operasi. Seperti yang saya jelaskan, meskipun Wonwoo memiliki rahim, ia tetaplah seorang pria. Hanya saja ia special. Rahim di dalam tubuhnya juga tidak akan menganggu proses perkembangan dirinya dan organ dalam tubuhnya. Selama sel telur Wonwoo tidak ada yang membuahi maka tidak akan terjadi apa-apa, tetapi Wonwoo tidak dapat membuahi sel telur wanita. Kualitas sperma Wonwoo sendiri sangat buruk"
Jeon hyejin, ibu dari Wonwoo merasa terpukul saat mendengar penuturan dokter diakhir tadi. tanpa mereka sadari ada anak kecil yang mendengar percapakan mereka. meskipun ia tidak mengerti dua orang dewasa itu membicarakan apa, ia yakin kalau ada masalah serius pada dirinya. Tetapi Wonwoo kecil tidak ingin mencari tahu apa itu.
Saat itu yang Wonwoo pikirkan adalah main dan main, sehingga ia dapat dengan mudah melupakan kejadian dirumah sakit.
.
.
.
"apa kau benar ada disini?" tanya Wonwoo sambil meraba permukaan perutnya yang hampir mirip seperti tonjolan. Wonwoo merasakan ada yang sedang berkembang didalam sana, firasatnya sangat kuat.
"jika kau benar ada di sini, tidakkah tempat ini terlalu gelap untuk mu?" jantung Wonwoo berdegup semakin kencang. Ia semakin yakin kalau ia sekarang sedang membawa nyawa lain didalan dirinya.
"jika kau benar ada disini, apakah Mingyu dapat menerima mu?" Wonwoo tersenyum miris membayangkan jika Mingyu akan benar-benar meninggalkannya.
"jika kau benar ada disini, apa aku bisa menjadi orang tua yang baik untuk mu?"
Ditengah-tengah monolog Wonwoo ada suara mengintrupsi.
"YO! Besok jadwal kita laundry" Hoshi menyikut pinggang Wonwoo. Wonwoo menoleh, ia tertawa dengan kuat "Kan ada kau soonyoung-ah hahaha"
"Wonwoo-ya" raut wajah Hoshi mendadak menjadi serius.
"hm?"
"ada berita buruk mengani dirimu"
"paling juga seperti masalah seperti dulu, apa namanya? Fan-fanfiction? Benarkan?" Wonwoo tidak menganggap omongan sahabatnya dengan serius.
"aku tidak bercanda!"
Hoshi menyerahkan ponselnya dan menunjukkan beberapa artikel yang mengulas masalah yang Hoshi maksud. Wonwoo menerima ponselnya dan langsung memeriksa membaca setiap Artikel yang memuat namanya.
WONWOO SEVENTEEN ADALAH HATER SNSD
WONWOO SEVENTEEN SEORANG HATER DARI GIRLBAND INI?
SALAH SATU MEMBER BOYBAND INI MERUPAKAN HATER DARI SNSD?
SALAH SATU MEMBER BOYBAND INI DULUNYA MERUPAKAN HATER DARI SNSD
Masih banyak sekali artikel yang menyebarkan masa lalu Wonwoo hingga Wonwoo yang mengolok-olok wajah member SNSD. Raut wajah Wonwoo seketika berubah. Rasa cemas, takut kini bagaikan awan mendung yang menutupi langit di jawah Wonwoo.
Hoshi menyadari perubahan suasana hati Wonwoo, ia ingin bertanya tetapi hoshi mengurungkan niatnya saat tangan Wonwoo mengepal kuat hingga gemetar.
"kau tidak ingin bertanya?" tanya Wonwoo dengan mata masih menatap smartphone Hoshi. Wonwoo bak memiliki indra ketujuh, karena ia menyadari kalau Hoshi ingin bertanya.
"kau baik-baik saja Wonwoo-ya?" tanya Hoshi hati-hati takut memperkeruh suasana hati Wonwoo.
"tentu saja tidak"
Wonwoo meletakkan hp Hoshi di sebelah kanan ia duduk kemudian Wonwoo berdiri dan berjalan menuju kamar meninggalkan hoshi. Mata hoshi mengekori punggung Wonwoo yanng akhirnya hilang dari matanya.
Sebelum masuk kamar, Wonwoo sempat berpesan sesuatu kepada Hoshi.
"Biarkan aku sendiri malam ini" keinginannya makan Pancake pun lenyap seketika. Mingyu yang sedang berada didapur tidak menyadari bahwa suasana ruangan itu berubah menjadi suram setelah beberapa menit ia tinggal.
Hoshi mengacak-acak kepalanya, ia juga ikut depresi melihat tingkah Wonwoo. Hoshi paham sekali dengan Masa lalu Wonwoo saat Wonwoo bergabung ke Pledis. Oleh karena itu Hoshi tidak banyak bertanya kepada Wonwoo. tetapi satu hal yang semakin membuatnya khawatir. Jika Wonwoo berpesan jangan diganggu, itu artinya Wonwoo benar-benar tidak ingin melihat siapapun,Bahkan Mingyu. jika mencoba untuk menemuinya maka bersiap lah untuk menerima pukulannya. Jangan lupakan kalau Wonwoo pernah belajar ilmu bela diri. Kalaupun ia ingin keluar dari kamar,Wonwoo hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Seolah-olah satu dorm itu musuhnya.
Hoshi mengambil Smartphonenya dan kemudian ia mengirim pesan ke salah satu nomor.
To: Seungcheol hyung
'hyung...kau dimana? Ada masalah di sini, cepat lah kembali hyung"
.
.
.
.
Sedetik setelah Wonwoo menutup pintu kamar, Ponselnya pun bergetar. Wonwoo mendekati ponselnya dan langsung menjawab panggilan masuk tersebut.
"ne yeoboseyo Depyo-nim?"
.
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Aku mau balesin review kalian, sayang-sayang ku/? wkwkwk
Baru sempet balesin karena baru ini punya waktu OL lama:')
Lah ya iya, orang baru kali ini updatenya siang.
Aku gak tahu dulu aku balesian reviewnya dari siapa aja, jadi ya aku mulai dari yang ku ingat belum sempat kebales yak
.
Song Soo Hwa
Iya masalah nyambung apa nggak sinopsis sama alurnya.. GIMANA INI AKU SENDIRI BINGUNG MAU JAWAB APA HAHAHA.. silahkan baca di chapter 10 yang paling bawah haha aku udah jelasin kenapa alur dan sinopsis lama bener nemu kaitannya. Sebenernya ff ini alurnya gak gini, judul dan alurnya itu suatu hal yang beda. Karena isi cerita untuk alur yang ini susah nerusinnya jadi ku ganti. Dan ternyata setelah di up aku lupa ganti sinopsis wkwkwk gitu looh.. jadi ini berusaha mengkaitkan satu salam lain.
Lo nanya kapan meanie begituan? Ini bulan puasa wkwk gak berani aku tuh buat NC :') tapi di chapter sebelumnya ada kok.
Ngarepin Angst ya? Kasian Wonuuuu hiks
Pantes lo semangat nunggu Nc, tuir juga lo kek gua haha
Ini jawaban terpanjang kayaknya ya hahaha
mesaa
Sepertinya hanya orang tua mingyu saja yang tahu. Nanti kita tanya kedua keluarga mempelai/? Ya wkwkw
Nikeisha Farras
Ia ih, kalau Meanie dari tatapannya aja udah beda banget. Seperti mereka menyembunyikan sesuatu/? Soalnya udah berkali kali aku menyadari tatapan Wonwoo itu dak se teduh tatapan Dia ke member lainnya. Jadi ngerasa Meanie itu real.
Iya lah tokcer, orang mingyu semua makanan di embat.
Sinopsis ya? Baca jawaban ku di Song Soon Hwa. Gegera itu aku banting stir alurnya haha
Masa baru tanda-tanda udah ngomongin keguguran..kan sedih dedek kehilangan ponakan nanti.
Feellingnya di enakin aja dulu wkwkwk
Lo komen nya gokil vroh hahaha, Wonwoo bunting, guenya bingung ntar nyari nama anaknya haha /sebenernya gue niat buat ff mpreg apa kaga sih/?/
AuliaMRQ
Konyol tapi kadang minta tabok
trie1288
Ini udah sampai chapt.11 otte? Bosen kan?haha
Park RinHyun-Uchiha
Perempuan itu emosian
Perempuan PMS tambah emosian
Perempuan baru nikah makin emosian
Perempuan punya anak makin makin emosian..
Jadi... jangan coba lawan perempuan yang udah jadi EMAK-EMAK kelar hidup lo wkwkwk Emosiannya udah komplikasi.
Maple Fujoshii2309
Ciee cieee baru buat akun cieee wkwk seneng banget karena kamu udah review
Beanienim
Tobat nak.. bulan puasa gak berani nyoba buat NC wkwkw
Khasabat04
Cukup doa dan dukungannya saja semoga niat mau buat wonwoo hamil terlaksana wkwk
.
.
.
MAKASIH BANYAK SAYANG-SAYANGKU~
MAAFKEUN KESALAHAN DEDEK YANG BANYAK TYPONYA, KETAHUILAH GOLONGAN DARAH a ITU EMANG RENTAN TYPO JADI YA MAKLUMI YAA
DAN UNTUK NC... berhubung ini bulan puasa, aku gak kuat mau buat NC wkwk padahal dalam bayangan ada. Jdi ya puasa dulu bhaks
.
.
.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YA~
