.CONNECTED.

.BARBIE HUANG.

Cast Wu Yi Fan / Kris – Huang Zitao / Tao –Oh SeHoon / Sehun

Other Lu Han – Park Chanyeol – Byun Baekhyun

Genre Drama , Romance, Triangle Love , School Life

.

Warning YAOI / BL / Boys Love

.

! ! ! DONT LIKE DONT READ ! ! !

! DO NOT COPY PASTE OR PLAGIARISM MY FANFIC !

.

.


°Chapter 10°


.

.

Percayalah

Aku tercipta hanya untukmu

Aku ada hanya untukmu

Meski ribuan kesempatan menawarkan yang lebih baik

Aku tidak akan pernah lari darimu

Percayalah

.

.

Tao tiba dirumah sakit pukul 7 petang, Zhoumi dan ia berjalan masuk kedalam gedung rumah sakit. Tidak banyak yang dibicarakan oleh mereka berdua, hanya seputar bagaimana kesan pertama Tao tentang sistem perkuliahan McGill. Tao memang anak yang mudah bergaul, tadi saja ia sudah mendapat beberapa teman.

"Kuharap kesan yang kau dapat baik tentang McGill."

"Tentu saja, professor. McGill sangat luar biasa!"

Mereka berdua terus berbincang hingga sampai dikamar Kris. Pemuda manis langsung berhambur kearah sang kekasih, Kris sudah siap dengan pakaian casual dan sang ibu yang memakaikan jaket kulit pada tubuhnya. Saat Tao datang, pemuda tampan itu tidak bisa menahan senyuman dan membuka pelukan. Zhoumi menunduk dalam pada ibu Kris, tentu saja ibu Kris membalas dengan perlakuan sama.

"Iam sorry, professor. Saya tidak bisa ikut mengantarkan Kris keasrama, saya titipkan anak saya pada anda." Ibu Kris bertutur sedih.

"Ada apa?" bisik Tao pada Kris setelah mendengar ucapan ibu Kris pada Zhoumi.

"Sepertinya nenekku membutuhkan mama saat ini. Nenek cukup lama menangani usaha keluarga sendirian. Lagipula aku sudah tidak apa- apa."

"Kau yakin?"

"Ya... kau ada disisiku, bukankah itu sudah cukup?" Kris mengusap rambut Tao, pemuda manis itu hanya menggembungkan pipinya lalu mengangguk.

.

Ibu Kris kembali ke Vancouver malam ini juga. Zhoumi membantu Kris untuk mengangkat barang- barangnya kedalam mobil. Ibu Kris sudah menaiki taksi beberapa menit yang lalu. Tao membantu Kris untuk duduk dibangku penumpang bagian belakang. Dan atas permintaan Kris, Tao duduk disebelahnya. Alhasil, Zhoumi terpaksa duduk didepan sendirian.

Perjalanan tidak sesunyi yang dikira, Tao terus saja berbicara tentang pengalaman pertamanya berkuliah di McGill sedangkan Zhoumi dan Kris meresponnya. Entah sejak kapan Zhoumi dan Tao bisa sedekat ini. Padahal bisanya seorang professor akan sedikit sulit dekat dengan mahasiswanya.

"Aku sudah berkenalan dengan Henry secara resmi tadi siang. Dia anak yang ramai!" ujar Tao sembari memainkan tangannya. Kris tersenyum melihat tingkah lugu Tao. Sungguh, suasana seperti ini yang ia rindukan. Tanpa ragu, ia menyandarkan kepalanya pada pundak Tao. Membuat pemuda manis yang dari tadi bercerita dengan semangat terdiam. Tao mengerjapkan mata lalu melirik Kris yang mempernyaman posisi duduknya. Wajah Tao sudah merona.

"Lanjutkan saja ceritamu." Ujar Kris dengan mata yang sudah terpejam.

Tao tersenyum tipis kemudian meletakkan kedua tangan Kris diatas pangkuannya, agar tidak kedinginan karena AC mobil. "Ah, Apakah professor tahu dengan anak yang bernama Amber? Apakah dia benar- benar perempuan? Dia bahkan lebih tampan dariku!"

Zhoumi tertawa. "Memang wajahmu lebih terlihat seperti perempuan, Zitao."

"Tidakkk! Aku jauh lebih tampan! Oh ya~ Aku juga bertemu dengan anak bernama Johnny!" Tao terus saja bercerita panjang lebar menghangatkan suasana. Sedangkan Kris hanyut mendengar detakan jantung Tao. Irama detak jantung yang ia rindukan selama ini. Aroma khas. Kehangatan kulit dan nafas. Genggaman erat. Suara ceria.

Semuanya tentang Huang Zitao.

Semua yang ia rindukan selama ini.

Zitao merubah segalanya dalam sekejap. Kris akan terus tersenyum kala ia mendengar suara lembut Tao tertawa dan getaran tubuh Tao serta detak jantungnya. Mengapa hal sepele seperti itu bisa membuatnya merasakan cinta? Bukan dari sentuhan intim sekalipun, keberadaan Zitao sudah bisa membuatnya merasa memiliki. Hanya dengan keberadaan Zitao ia bisa merasa hidup dan dibutuhkan.

Dunianya memerlukan Huang Zitao.

Itu mutlak bagi Wu Yifan.

Karena Zitao tidak tergantikan.

"Kita akan segera sampai.. jangan tertidur dulu." bisik Tao sembari mengusap wajah Kris.

"Tenang saja, aku tidak tidur." Kris tersenyum tipis, ia menikmati sentuhan Tao dipipinya. Rasanya jauh lebih baik daripada obat manapun. Sentuhan tangan Tao ditubuhnya jauh lebih hangat daripada selimut manapun. Suara Tao ketika memanggil namanya lebih lembut dari musik merdu manapun. Lirikan mata Tao ketika menatapnya lebih indah dari lukisan manapun.

Kesepian tidak akan menganggunya lagi.

Kris bersumpah tidak akan membiarkan Tao pergi lagi dari hidupnya.

"Kita sampai!"

Bersamaan dengan terhentinya mobil Zhoumi, ponsel didalam saku celana Tao bergetar. Kris melepas pelukannya dari tubuh Tao kemudian duduk dengan benar. Tao langsung mengambil ponselnya, terlihat cukup terburu- buru dan itu sedikit membuat Kris bingung.

'Memangnya telpon dari siapa?'

Zhoumi sudah keluar dari mobil, Kris juga sudah membuka pintu mobil. Akan tetapi, Tao malah tidak mengacuhkannya dan mengangkat telpon. Saat Kris akan melangkah keluar mobil—

"Chanyeol—"

DEG

Kris membulatkan mata lalu mengalihkan pandangan secepat kilat menuju Tao. Pemuda manis itu tidak menyadari wajah Kris yang kini menatapnya, ia terus melanjutkan perkataannya pada lawan bicara diseberang telepon. Suara ceria yang sama Tao berikan.

"Ya.. tidak apa- apa. Aku memaafkanmu." Suara Tao sangat lembut dan menenangkan.

Kris hampir lupa, ia hampir lupa bagaimana sifat Tao jika sudah berhadapan dengan Chanyeol. Walau kini Tao ada disisinya dan disampingnya—bukankah ikatan kuat itu tidak akan putus begitu saja?

"Park Chanyeol, kumohon turuti Baekhyun... kau ingin membuatku khawatir terus menerus?"

Tao, jangan berkata selembut itu pada orang lain didepan mataku.

"Hmm? Bagaimana, yah~ Chanyeol jangan curang, okay? Tidak apa- apa.. hmm... aku akan terus menerima panggilanmu."

Bukankah kau milikku? Aku tidak ingin membagimu.

"Janji!"

Jangan menjanjikan apapun pada orang lain!

Kris tidak mengerti apa yang ia perbuat setelah itu, otaknya hanya memerintah untuk mengambil ponsel itu dari tangan Tao lalu mematikannya. Dan—Kris memang melakukan hal tersebut. Ponsel Tao ada ditangannya dalam keadaan panggilan sudah diakhiri. Sungguh itu semua ia lakukan tanpa kontrol sama sekali.

"Wu-Wufan?"

Kris mengerjapkan mata tidak sadar, lalu menatap Tao yang nampak pucat. Sepertinya terkejut atas kelakuan Kris yang merampas ponselnya begitu saja lalu mematikan panggilan dari Chanyeol. Sesegera mungkin Kris bermaksud mengembalikan ponsel itu ketangan Tao—namun, wallpaper layar ponsel Tao tidak sengaja ia lihat.

Foto Chanyeol yang sedang menggendong tubuh Tao. Mereka berdua tersenyum bahagia.

"Ah—Ak—Aku belum sempat menggantinya!" Tao terlihat gugup.

Kris mengerti, sebelum ini.. sebelum Tao bersamanya. Ia memiliki hubungan dengan Chanyeol. Pasti masih banyak kejadian yang ia tidak tahu. Tetapi, itu semua bukan salah Tao. Semua sudah terjadi. Ia tidak bisa berbuat apapun.

"Tidak masalah."

Kris keluar dari mobil, mendekati Zhoumi yang mengeluarkan tas Kris dari bagasi belakang. Tao menghela nafas pelan, ia mengetik pesan agar Chanyeol tidak khawatir karena sambungan telpon mereka terputus. Tao tidak mengatakan Kris yang melakukannya. Lalu pemuda manis itu berlari kecil menuju tempat Kris. Membantu pemuda itu bersama Zhoumi masuk kedalam gedung asrama.

.

Penyambutan kecil diasrama ternyata tidak begitu memperbaiki keadaan hati Kris. Ia memang tersenyum saat penghuni asrama lainnya menyambutnya begitu masuk asrama. Tetapi kini senyuman itu hilang begitu saja. Mereka berdua, sudah berada didalam kamar asrama Kris. Luhan tidak ada didalam kamar tersebut. Hanya ada Tao dan Kris. Entah kemana perginya pemuda cantik itu, Kris nampaknya juga tidak terlalu perduli.

"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Tao meletakkan tas Kris dibawah tempat tidur.

"Aku sudah makan sebelum pulang ketempat ini dengan mama." jawab Kris dengan suara dingin, ia mendudukkan diri ditepi ranjang.

Tao menghela nafas, lagi. Ia ikut duduk disamping Kris, membuat pemuda tampan itu mengalihkan wajahnya pada Tao. Keduanya diam beberapa saat, hanya saling pandang. Tao lalu mengambil ponselnya didalam saku celana, meletakkannya diatas tangan Kris.

"Kau boleh menghapus semuanya jika memang harus." Suara Tao terdengar sangat tenang.

Kris menatap ponsel Tao yang ada ditangannya. Benda persegi panjang itu menyimpan segalanya, kenangan Tao dan Chanyeol dua tahun terakhir tanpa Kris. Bagaimana mereka berdua bahagia dan melampiaskan kasih sayang masing- masing.

Tetapi—

Bukan dengan cara seperti ini, kan?

Kris mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya. "Kau tidak perlu memaksakan sesuatu yang tidak kau inginkan."

"Tidak masalah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik." Tao kembali meletakkan ponselnya ketangan Kris. "Aku tidak suka jika kau seperti ini—kau bahkan menatapku dingin. Itu—itu membuatku takut."

Kris diam, mengamati bagaimana wajah takut Tao menunduk. Mata tajam Kris kini menilik ponsel Tao yang ia genggam. Perlahan, pemuda tampan itu membuka casing ponsel Tao kemudian—mengeluarkan memori eksternal dari benda elektronik tersebut. Tao hanya memperhatikan, ia membuka tangannya saat Kris menyerahkan memori eksternal itu padanya.

"Aku tidak akan menyuruhmu menghapus semuanya. Simpan memori itu dan jangan kau buka lagi.."

Wajah Tao memerah saat ia kembali melihat senyuman Kris. Betapa leganya ia, Kris tidak lagi memasang wajah tegang dan dingin. Tao mengangguk cepat sembari menggenggam erat memori itu didalam tangannya. Senang karena Kris mengerti, bahwa Tao tidak mau menghapus kenangan apapun yang telah di lalui bersama Chanyeol.

"Terima kasih, Wufan."

Keluguan Tao adalah kelemahan mutlak Kris. Ia hanya bisa tersenyum tipis ketika melihat Tao memasukkan memori eksternal yang menyimpan bukti kenangannya dengan Chanyeol didalam dompet. Wajah murung Tao sudah berubah ceria, pemuda manis itu bangkit lalu sedikit merapikan kamar Kris. Ia memindahkan pakaian kotor Kris kedalam keranjang. Serta berkomentar tentang kamar Kris yang rapih dan bersih.

"Tidak kusangka kamar ini cukup rapih! Kau 'kan cukup serampangan."

Mata Kris tidak lepas memperhatikan Tao yang berjalan kesana kemari. Tubuh Tao memang indah, ia tumbuh tinggi dan ramping. Rambut terang Tao juga memesona Kris, bibir merah muda dengan bentuk unik serta mata indah khas miliknya. Pujian apa yang bisa menandinginya?

"Sudahkah aku memujimu cantik hari ini?"

Pertanyaan Kris sontak saja membuat Tao nyaris tersandung saat mengitari kamar tersebut. Jendela kamar Kris yang terbuka membuat angin masuk dan menyibak tirai berwarna putih bersih tersebut hingga mengitari tubuh Tao.

"Kau seperti dewi bulan."

Pujian Kris tidak membuat Tao mengiraukan tirai putih yang membelai tubuhnya. Kris sudah berjalan menuju Tao, mata mereka tidak pernah putus. Bunyi langkah kaki menyemarakkan detak jantung mereka berdua. Hingga jarak mereka hanya beberapa centi. Kekuatan sorot satu sama lain seperti mendorong keinginan didalam hati.

Tangan Kris menyentuh pinggang ramping Tao, bukan hanya itu—wajah keduanya berdekatan. Desahan nafas seperti melodi dipendengaran. Tao meletakkan kedua tangannya pada dada Kris, mengusapnya hingga pundak pemuda tampan tersebut berulang- ulang. Wajah mereka semakin dekat, mata tak pernah terlepas sedetikpun. Begitu juga tautan nafas. Kris seperti melihat cermin pada sosok Tao, karena mereka sama- sama mencintai dan berbalas pandang. Layaknya memandang cermin. Hati mereka sama. Cinta mereka sama.

Tao menutup kelopak matanya perlahan, tepat saat Kris mencium sudut bibirnya. Tidak butuh waktu lama, kedua bibir itu sudah sempurna menyatu satu sama lain. Rindu yang tak pernah habis seperti semangat untuk menuntut lebih. Bulan besar yang terlihat dari jendela layaknya saksi cinta mereka. Tidak ada yang terasa salah saat ini.

Kris mengangkat tubuh Tao, mereka tetap berciuman. Pemuda tampan itu membawa Tao duduk diatas ranjangnya, lenguhan dari suara lembut Tao bisa membuat Kris gila. Keduanya sudah nyaris berbaring diatas ranjang. Ciuman tidak pernah terputus walau tubuh mereka bergerak. Tao tidak bisa bernafas, maka suara sesak dan desah begitu lancar keluar. Kris tidak memberinya sedikitpun kesempatan untuk lepas.

"Ak—Aku tidak—ngg—" Tao mendorong tubuh Kris yang berada diatasnya, sungguh ia bisa mati jika Kris tidak melepas ciuman mereka. Decakan terdengar saat bibir mereka berdua terpisah, benang liur penyambung bibir mereka sudah terputus. Mata lemah Tao tidak berdaya menyipit, nafasnya terengah- engah dan bibirnya basah. Apalagi wajah Tao terlihat merah dan berkeringat.

"K-Kau benar- benar tidak berubah, Wufan.. aahh... kau tetap tidak... membiarkanku bernafas." Bisik Tao terengah- engah.

Kris mencium hidung Tao dengan sayang lalu mengusap bibir Tao yang basah dengan ibu jari. "Aku tidak pernah bersabar untuk mendapatkanmu."

Tao mengerucutkan bibir. "Kau masih belum pulih! Istirahat sekarang!"

"Kau yakin tidak melanjutkannya?"

"Tidak sekarang!" Tao mencibir, mendorong tubuh Kris agar berbaring disampingnya. Kris hanya tersenyum tipis kemudian memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Tao. Mata keduanya kembali bersatu, mereka berdua tersenyum manis. Tidak ada lagi kesesakan yang terasa. Dikala Kris merasakan tangan Tao memeluk tubuhnya. Kris menarik selimut agar menutupi kedua tubuh mereka.

"Good night, Love." Bisik Kris mencium telinga Tao sekilas.

Apapun itu nama pelampiasanya. Kris tidak pernah bisa menggambarkannya dengan kata- kata sederhana. Tao tersenyum bahagia, mengusap tengkuk Kris kemudian menjawab, "Good night."

.

.

Kebahagiaan yang kau berikan hanya untukku

Salahkah aku egois dengan tidak membiarkannya lari?

.

.

Luhan tersenyum simpul kala ia memasuki kamar asramanya. Hatinya menghangat saat melihat Kris dan Tao tertidur diranjang, berdua dan berpelukan. Pemuda cantik itu mendekati mereka diam- diam, mengambil ponselnya kemudian memotret moment berharga tersebut. Suara kekehan Luhan tertahan karena ia sadar tidak boleh membangunkan kedua pemuda yang nampak lelah.

"Awww~ Kenapa mereka bisa semanis ini." Luhan jadi gemas sendiri. Ia menghela nafas pelan kemudian meletakkan ponselnya diatas meja. Ia berganti pakaian secepat mungkin kemudian duduk ditepi ranjang. Kembali—ia ingat kejadian tadi pagi.

.

.

"Bisakah.. kita membicarakan sesuatu, Sehun?"

Sehun tidak memberi respon pada awalnya, kedua pemuda itu hanya saling beradu pandang. Cukup membuat Zitao kebingungan. Pemuda panda lalu berjalan pergi begitu saja, nampaknya ia mengerti bahwa Luhan ingin membicarakan sesuatu dengan Sehun. Dari sudut matanya, Sehun melirik Tao yang menjauh dari mereka berdua. Tetapi pemuda itu tidak pergi, ia menunggu walau jaraknya lumayan jauh.

"Apa maumu?"

Luhan melepas tangannya dari sudut kemeja Sehun. Ia mengatur nafasnya agar tidak terdengar memburu. Ia tidak akan terkejut atas suara dingin Sehun saat ini. "...Apa yang kau lakukan disini?"

"Jangan mengira aku mengikutimu kenegara ini. Aku hanya mendapat kesempatan melanjutkan studi-ku di McGill. Jadi, jangan khawatir karena aku tidak akan mengganggumu."

Luhan cukup terluka atas jawaban Sehun.

"D-Dan Zitao—"

Sehun tersenyum licik. "Apakah kau pikir aku akan 'sedikit' bermain- main dengannya? Ah, kudengar kekasih Zitao adalah saudara sepupumu."

DEG

Luhan mengerti senyuman sinis yang Sehun berikan, nampaknya dugaan Luhan benar. "Jika kau ingin balas dendam padaku, jangan gunakan Zitao ataupun menyakiti Kris!"

"Excuse me? Balas dendam? Hahahaha!" Sehun menepuk pundak Luhan tidak terlalu keras, "Aku bukanlah manusia serendah itu."

"Jangan pikir aku tidak mengenalku, Shi Xun!"

BRAK

Tangan Sehun meninju pintu yang ada dibelakang Luhan. Wajah Luhan seketika itu memucat, tubuhnya tidak bisa bergerak karena terperangkap pada sorot mata dingin tanpa ampun milik Sehun. Wajah tampan Sehun tak berekspresi.

"Jangan memanggilku dengan nama itu lagi."

Bibir Luhan kelu untuk membalas ucapan Sehun.

"Apapun yang akan kulakukan pada Zitao tidak ada urusannya denganmu. Apapun niatku mendekati Zitao juga tidak ada hubungannya denganmu. Dan—jangan pernah berfikir bisa membatasi apapun yang kulakukan saat ini, karena—aku bukan lagi Shi Xun, bonekamu yang bisa kau perlakukan seenaknya."

Setelah itu Sehun meninggalkan Luhan yang belum bisa bergerak. Mata Luhan masih membulat sempurna, seketika saja—mata itu memerah dan menggenang. Apa yang ia lihat adalah akibat dari semua keegoisannya dulu hingga menyakiti Sehun.

'Anak itu pernah dikhianati dan apa yang kuperbuat dimasa lalu memperburuk anggapannya tentang kebaikan.'

.

.

"Oh Tuhan—" Luhan merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dada kembali sesak rasanya jika mengingat pertemuannya dengan Sehun tadi pagi. Sehun tidak banyak berubah, yang berubah hanyalah tinggi badan dan warna rambutnya. Wajahnya tetap tampan dan pundaknya bertambah lebar. Ia terlihat sangat dewasa.

"Haaahhh..." Luhan lalu memiringkan tubuhnya, ia memeluk bantal berbentuk rusa. Kini ia kembali tersenyum saat melihat Kris dan Tao yang tertidur diranjang seberang. Mereka kelihatan sangat manis jika bersama. Perubahan Kris juga membuat Luhan bersyukur. Dulu ia sempat putus asa, mengira Kris akan tetap menjadi mesin tanpa perasaan. Tetapi Tao datang dan merubah semuanya. Ia mengembalikan Kris yang dulu.

"Kapan kisah cintaku juga semanis kisah cinta kalian berdua?"

Luhan menutup matanya perlahan, mencoba ikut memasuki alam mimpi.

.

.

.

"Ngg—"

Tao terbangun. Ia mengusap matanya lalu melihat kesekitar, kamar itu gelap tetapi jam diatas meja nakas Kris sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ia lalu mempernyaman posisinya didalam pelukan Kris. Sampai ia ingat satu hal kemudian membuka matanya lagi.

"Aku belum memberitahu Sehun bahwa aku tidur dikamar Kris.." bisik pemuda manis itu, mungkin saja Sehun menunggu Tao karena Tao mengatakan ia akan pulang keasrama hari ini. Dia belum sempat masuk kekamarnya dan bertemu Sehun. "Ah, pasti dia juga sudah tidur."

Well, nampaknya Tao cukup khawatir. Ia kemudian menyingkirkan lengan Kris dari pinggangnya lalu turun dari ranjang dengan perlahan. Ia memperbaiki posisi selimut Kris agar pemuda itu tidak kedinginan. Tao tambah berhati- hati dalam melangkah saat ia melihat Luhan yang tertidur diranjangnya. Luhan tidak memakai selimut, ia sempatkan menyelimuti Luhan terlebih dahulu. Kemudian berjalan menuju pintu kamar, sangat berhati- hati membuka pintu lalu keluar dari sana. Tao menghela nafas lega kemudian berjalan menuju kamarnya.

Klek

Begitu ia buka pintu kamarnya, ternyata lampu tidak mati. Tao masuk dan menutup pintu kamarnya. Tidak ada Sehun yang tertidur diatas ranjang, televisi juga menyala. Pemuda panda itu berjalan untuk mematikan televisi. "Sehun-ah?"

Suara air keran yang terbuka.

Tao mengerutkan kening, lalu mengalihkan pandangan kekamar mandi, pintu itu terbuka sedikit. Apakah Sehun didalam? Tao berjalan cukup cepat kemudian terhenti didepan pintu kamar mandi. Tidak ada cahaya didalam sana, Tao membuka pintu lebih lebar—

Kriet

"Seh—"

Panggilan Tao terpotong saat ia merasakan sebuah tangan menarik lengannya erat masuk kedalam kamar mandi yang gelap. Pekik Tao tertahan dikala ia sadar siapa yang kini memegang kedua lengannya. Walau begitu, wajah Tao sudah pucat dan nampak tegang. Pemuda berambut perak tersebut berdiri bungkuk. Dari tangannya yang dingin saja, Tao bisa merasakan tubuh pemuda itu basah.

"Sehun-ah.. kau baik- baik saja?" suara Tao terdengar bergetar.

Sehun, tetap diam, ia masih menunduk. Memegangi kedua lengan Tao erat- erat. Sebenarnya Tao merasa sakit, tetapi ia menahannya. Ia tahu ada yang tidak beres dengan Sehun. Apalagi ia merasa kedua tangan Sehun yang memegangnya bergetar. Apakah dia tengah ketakutan?

"Sehu—"

"Jangan pergi."

Tao membulatkan mata, tidak percaya kala mendengar suara Sehun selemah itu. Sungguh, bahkan kaki Zitao ikut lemah mendengarnya. Lampu tidak menyala, Zitao tidak bisa melihat bagaimana wajah Sehun. Tetapi yang membuat Tao bingung adalah keadaan Sehun. Apa yang dilakukan pemuda ini dikamar mandi pukul 3 pagi?

Tao tidak sempat bertanya, ia merasakan punggungnya sudah tertempel didinding kamar mandi, tubuh Sehun tiba- tiba limbung hingga Tao tidak bisa menahan berat badan pemuda yang lebih tinggi darinya. Ia terduduk dilantai kamar mandi yang basah, begitu juga dengan Sehun. Tao sungguh tidak mengerti, apa yang harus ia lakukan? Kini Sehun mengigil dihadapannya, nafas Sehun terdengar memburu, dan kepalanya yang terkulai dipundak Tao terasa panas.

"Se—Sehun-ah? Kau sakit? Jika seperti itu, aku akan panggilkan—"

"Jangan! Cukup kau saja!" suara Sehun parau. "Cukup kau saja yang melihatku—seperti ini!"

Tao menelan kasar liurnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Sehun, tetapi... Tao tahu bahwa keadaan Sehun sedang sangat tidak baik. Tidak berbohong, ini semua mengingatkannya pada Chanyeol. Hingga, tanpa sadar lengan itu bergerak memeluk tubuh menggigil Sehun. Kehangatan tubuh Tao yang tiba- tiba mengusik Sehun, membuat mata tajamnya melebar. Tak menyangka pemuda panda itu akan memeluknya seerat ini.

"Jika aku sedang bersedih, ibu selalu memelukku seperti ini kemudian berbisik padaku..."

Sehun masih kaku untuk merespon.

"..semua akan baik- baik saja."

Sehun membalas pelukan Tao saat ini, getaran ditubuh Sehun seperti berpindah pada tubuh Tao. Namun pemuda manis itu tidak mempermasalahkannya. Ia mengusap rambut basah Sehun, tidak menyadari bagaimana terkejut Sehun dibelakangnya. Pemuda tampan berwajah pucat tersebut menjauhkan tubuhnya dari Tao dengan satu tarikan. Kebingungan kembali melanda Tao, ia tatap Sehun yang bersandar pada dinding bathtub. Jarak mereka menjauh.

"Per—Pergilah."

"Eh?" Tao mengerutkan kening. Sehun mengusirnya?

"Pergi—KUBILANG PERGI!"

Tao tersentak, suara Sehun yang memakinya sungguh mengerikan. Tao dengan spontan berdiri dari posisinya lalu berjalan keluar kamar mandi. Dan disaat itu juga, Tao mendengar bunyi pintu yang dibanting. Tao berbalik badan, pintu kamar mandi sudah tertutup rapat. Ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tidak bisa berbuat banyak, ia belum begitu mengenal Sehun. Tentu saja yang ia ketahui tentang Sehun tidak terlalu banyak.

Pemuda panda lalu berjalan menuju lemarinya, mengambil beberapa obat- obatan didalam kotak kecil berbentuk kepala kucing lucu yang ia bawa dari China. Ia letakkan beberapa obat tersebut diatas meja Sehun dengan sebotol air mineral. Tao melirik kamar mandi kamar mereka sedikit khawatir, tidak ada tanda- tanda Sehun akan segera keluar. Akhirnya, Tao kembali berjalan menuju pintu kamarnya. Ia keluar dari kamar itu menuju kamar Kris. Ia lakukan segalanya dengan perlahan.

Saat ia memasuki kamar tersebut, ia dikejutkan oleh sosok pemuda tampan yang sangat ia kenali duduk diatas ranjang.

"Wufan? Kau terbangun?" Tao berjalan cepat menuju kekasihnya. Tidak sadar bahwa pakaiannya basah dibeberapa tempat, ia duduk ditepi ranjang Wufan.

"Dari mana?" tanya Kris menyelidik.

"Dari kamarku." Tao menjawab jujur. "Mengapa kau bisa terbangun?"

Kris menghela nafas panjang. "Kupikir aku akan mati ketika melihatmu tidak disisiku saat aku terbangun... Lain kali jangan lakukan hal seperti itu."

"Baik."

"Berjanjilah."

"Janji." Zitao mengarahkan jari kelingkingnya pada Kris. Pemuda tampan itu akhirnya tersenyum walau tipis sekali. Ia kaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Tao. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal semacam ini. Sewaktu kecil, mereka sering mengaitkan jari kelingking mereka saat berjanji.

"Say you love me." Ujar Kris tiba- tiba.

Tao tersenyum manis lalu mendorong pelan dada Kris ketika tautan dijari kelingking mereka terlepas. Wajah Tao merona merah, bagaimana tidak.. Kris tidak melepaskan matanya dari Tao sedetikpun. "Tanpa kuberi tahu kau juga sudah tahu, kan?"

"Say you love me more."

Tao sungguh tidak bisa menyembunyikan ronanya, mengapa Kris selalu membuatnya lemah seperti ini? Wajahnya panas. Tangan indah itu mengusap dada Kris, kemudian Kris mencium telapak tangan Tao yang bebas. "Say it, Tao."

Tao menggeleng.

"Kenapa?" Kali ini Kris mencium ujung jemari tangan Tao satu persatu.

Tao masih menggeleng, wajahnya semakin merah padam. Udara pagi yang dingin tidak mengacaukan konsentrasi mereka. Kedua pemuda itu masih hanyut dalam dunia mereka. "Wufan... le-lebih baik kita kembali tidur. Masih pukul 4 pagi—"

Kris tersenyum miring, ia tahu Zitao tengah salah tingkah. Tetapi, ketika tangannya menyentuh pinggang Tao, ia merasa agak lembab. Mata tajam itu memicing, ia tahu bahwa pakaian Tao basah. "Tunggu, mengapa pakaianmu basah?"

Tao yang akan berbaring disamping Kris sempat terhenti. Ia raba bagian belakang bajunya, dan benar saja terasa bawah. Ah, ini pasti karena tadi ia terduduk dikamar mandi. Namun ia tidak mungkin menceritakannya pada Kris. Bisa- bisa pemuda itu salah paham karena Tao pun tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Ini—tadi aku kekamar mandi. Mungkin saja tersiram tanpa sadar. Entahlah.."

Kris menatap Zitao tajam. "Kau yakin karena hal itu? Kau tidak terjatuh dikamar mandi, kan?"

"Tidak, sungguh." Tao memang tidak terjatuh, kan? Jadi ia tidak berbohong.

"Teman sekamarmu tidak melakukan sesuatu padamu, kan?"

Tao sedikit tersentak, tapi ia pandai mengelak. "Sehun? Tidak. Meski ia agak aneh. Dan, Wufan.. haruskah kau bertanya banyak hal hanya karena pakaianku basah?"

Kris tidak menjawab.

Tao lalu bangkit dari tempat tidur Kris. Sontak saja, pemuda tampan itu langsung berdiri dan mengejar Zitao yang akan keluar dari kamarnya. Wajah Kris nampak sangat panik. "Kau mau kemana?!"

Sedikit terkejut dengan suara Kris yang sangat berat, Tao mengerjapkan mata bingung. "K-Kekamarku. Aku ingin berganti pakaian."

Kris menarik Tao menuju lemari pakaiannya, mengeluarkan beberapa baju kaos dan memberikannya pada Tao. Pemuda manis itu mengambilnya dengan mata mengerjap bingung. Kris sudah menutup pintu lemarinya, kini ia tatap Tao dengan tajam. "Gunakan pakaianku. Kau tidak harus kekamarmu hanya untuk berganti pakaian, kan?"

Tao mengangguk. Ia tidak mau melawan ataupun menjawab ucapan Kris. Ia merasakan keanehan. Kris sedikit berbeda, sorot matanya seperti tidak melepas gerak gerik Tao sekecil apapun. Pemuda panda itu lalu berjalan menuju kamar mandi Kris untuk berganti pakaian. Sekilas ia lirik Kris yang masih menatapnya tanpa berkedip.

Blam

Tao menutup pintu kamar mandi. Ia menghela nafas pelan lalu melirik baju kaos yang ada ditangannya. "Ah—apa yang kau pikirkan, Tao? Tidak.. tidak, kau tidak takut pada Kris. Tidak!" Zitao berbisik pada dirinya sendiri.

.

.

.

Pukul 10 pagi, Zitao terbangun dari tidurnya. Ia mengusap mata perlahan, sedikit perih karena cahaya menerobos masuk kedalam matanya. Ia bisa merasakan pergerakan dikamar itu. Dengan setengah sadar, pemuda manis itu duduk lalu bersandar dikepala ranjang. Melihat Luhan tengah berdandan didepan cermin.

"Happy Sunday morning, Zitao~" sapa Luhan sembari mengedipkan sebelah matanya pada Zitao.

Ah, benar.. hari minggu. Pemuda manis itu tersenyum tipis lalu duduk ditepi ranjang. "Selamat pagi, Luhan."

"Panggil aku Lulu. Agar kita semakin akrab." Luhan meletakkan sisirnya diatas meja rias kemudian duduk disamping Tao. "Hmm.. lebih baik kau berbenah, Kris akan datang membawa makanan."

"Eh? Dimana Wufan?" tanya Zitao ketika sadar Kris tidak ada disana.

"Membeli makanan dikantin bawah." Jawab Luhan. "Gunakan saja kamar mandi kami. Sikat gigi baru sudah Kris sediakan untukmu."

"Oh.. baiklah. Sepertinya dia benar- benar tidak membiarkanku pergi kekamarku." Zitao memutar bola matanya.

Luhan terkekeh. "Kris sangat protektif terhadapmu."

"Sebaiknya aku berbenah sebelum Wufan datang." Zitao bangkit kemudian dengan malas masuk kedalam kamar mandi. Luhan masih tersenyum manis melihat bagaimana tingkah menggemaskan Zitao. sejak dulu, ia selalu mengira... sebenarnya Zitao itu anak yang seperti apa? Apa yang istimewa darinya? Mengapa Kris bisa begitu menggilainya?

Dan nampaknya beberapa pertanyaan Luhan sudah terjawab.

"Cepat sedikit Zitao, aku sudah tidak sabar ingin mendandanimu!" teriak Luhan dengan suara riang.

"EH?!"

.

.

.

Tidak sengaja.

Sungguh, tidak disengaja.

Kedua pemuda tampan itu kini berpapasan ketika memesan makanan. Sehun dan Kris. Awalnya Sehun menyapa Kris dengan senyuman palsu, tetapi Kris tidak terlalu mengacuhkannya. Entah mengapa, Kris merasa ia tidak perlu terlalu dekat dengan Sehun. Ketika makanan yang Kris pesan sudah dibungkus, pemuda tampan itu mengeluarkan dompetnya bermaksud untuk membayar.

"Hmm.. untuk Zitao?" tanya Sehun ketika melihat Kris membeli 3 kotak makanan.

"Ya.. Untukku, Zitao dan teman sekamarku." Jawab Kris berusaha ramah. Kris menunggu uang kembalian dari kasir.

"Zitao tidur dikamarmu? Mengapa ia tidak tidur dikamar kami? Sebenarnya aku tidak suka kesepian." Sehun kembali bicara. Sengaja memperlihatkan bahwa ia tidak suka jika Zitao tidur dikamar Kris. "Kau sudah punya room mate, bukan?"

Kris menghela nafas panjang lalu menatap Sehun yang mengambil makanannya yang sudah dibungkus. "Maaf, Mr. Oh Sehoon. Nampaknya aku akan bicara pada kepala asrama agar aku dan Zitao sekamar."

Sehun membulatkan mata. "What!"

Kris menyeringai. "Iam not that stupid, Mr. Oh Sehoon. Aku tahu, kau memiliki maksud pada Zitao."

Wajah Sehun berubah, mimik wajah ramahnya yang palsu sudah hilang. Berganti dengan ekspresi dingin dan tak terbantahkan. "Yeah, something like that." Jawab Sehun santai.

Kris bisa merasakan tangannya yang mengepal ingin bergerak menyerang Sehun. Tapi ia menahan dirinya dan beranjak dari tempat itu. Sehun masih saja berdiri disana. Ia lirik Kris yang berjalan menuju pintu kaca cafetaria. Hingga mulutnya terbuka untuk memanggil Kris.

"Mr. Wu Yi Fan."

Kris memutar bola mata lalu berbalik badan. Ia tidak terlihat takut sama sekali kala mata dingin Sehun menembus sorotnya yang tidak kalah menantang. "What?"

"Zitao is yours, I know right. But—" Mulai Sehun dengan senyuman licik. "So sorry, I cant keep my straying eyes. He is so beautiful that he tempted me to have him in my life."

Mendengar itu wajah Kris memerah, menahan amarah. Ia nyaris membuang makanan yang ada ditangannya. Tapi ia masih bisa mengontrol diri saat mengingat makanan ini untuk Zitao. Benar, ia bisa mengontrol emosinya kala ia mengingat kekasihnya.

"If you can.. just try it."

Sehun mengangkat sebelah alis ketika mendengar tantangan Kris. Kali ini pemuda tampan bermata tajam itu yang tersenyum miring. Kris membuka pintu kaca cafetaria itu lagi kemudian berjalan pergi. Sehun mengepalkan tangannya, menahan emosi. Ha, Kris baru saja meremehkannya. Kris baru saja menantangnya.

"Let's see."

Siapa yang akan tertawa diakhir.

.

.

.


.CONTINUE.


.

Yo! How do you do?

Terima kasih atas komentar dan masukannya untuk ff ini T_T

Maaf semakin gak bisa ngatur waktu karena kuliah, kampretnya KKN saya makin deket dan makin galau gimana cari waktu buat ngetik ff. Tapi saya bakal usaha, dan komentar dari reader sekalian kadang buat semangat berkali lipat \o/ then gimme your love~

Okay, keep support KT!

.Barbie Huang.