A/N: Oh, jumpa lagi dengan saia. Maf lama banget updatenya. Sekarang saia lagi hobby bikin oneshot ini. (plak!)
Disclaimer: Inazuma Eleven belongs to Level-5.
Warning: Gaje, OOC, misstypo, Shonen-ai, AU, scene pertarungan gaje. Don't like? Don't read!
Happy reading, minna!
Death Chorus
Chapter 11
Fire Sigil
"Thunder!" Sambaran petir datang dengan cepat, menghantam batu yang ia terjang sampai hancur.
"Berikutnya!" Siapa lagi kalau bukan lady Natsumi yang memberikan perintah. Sang project yang kini bernama Mamoru terus melanjutkan mantra sihirnya.
"Blizzard!" Mantra es ia tujukan pada suatu bongkahan batu. Dan seketika itu juga, sang batu tak berdosa langsung membeku.
"Bagus, teruskan!" Lagi-lagi Natsumi memberi perintah dengan gayanya yang you-know-how-lah. Tentu saja Mamoru segera menyanggupi perintah tutornya itu.
"Ha'i. Fire!" Mamoru merapalkan mantra sihir api ke pohon terdekat. Dan seperti yang bisa kita ketahui, pohon tersebut mulai terbakar dengan naasnya. Baiklah, ketiga Action Aabiliy mendasar dari job Black Mage telah dikuasai Mamoru. Ditambah ia telah berhasil menguasai Reaction Ability 'Return Magic' sebelumnya. Hebat, bukan hanya Mamoru saja yang hebat namun juga Natsumi sebagai tutornya. Gadis cantik jelita itu berhasil membuat menu latihan sedemikian ruupa sehinga Mamoru dapat menguasai jobnya dengan cepat. Meskipun banyak diantaranya tergolong merupakan cara yang sadis, namun Natsumi pantas diberi pujian kali ini. Very good, Natsumi-ojousama.
Baiklah, tidak dipuji juga sebenarnya tidak masalah sih. Toh semua orang di DC memang memiliki kemampuan yang lebih dari rata-rata.
"Cukup!" Natsumi menghilangkan sihir dome untuk mengeluarkan Mamoru dari dalam dimensi latihan buatannya. Ia tersenyum puas melihat hasil karyanya: Black Mage handal yang terlatih hanya dalam waktu seminggu.
"Mamo-chan! Kau hebat sekali!" Ichirouta segera menghampiri Mamoru dan mengusap kepala sang bocah. Sementara Shuuya di sebelahnya memandang Mamoru dengan tatapan datar. Agaknya sang pria bawang itu merasa bosan. Hampir semingguan ini ia dan Ichirouta terus ikut menunggui latihan Mamoru. Dan itu artinya mereka cuti. Dan bila itu adalah kata 'cuti', itu artinya mereka sama sekali tak keluar dari markas bernuansa suram ini selama seminggu! Oh shit, rasanya Shuuya iri sekali pada Yuuto yang sedang pergi ke 'Lutia Pass' untuk mencari es serut(?) di sana. Sebenarnya Shuuya ingin sekali ikut pergi bersama sepupunya. Namun sayang sekali Ichirouta melarangnya, dengan ancaman akan dibekukan di tempat bila ia melangkah pergi. Oh gunung es nan indah, selamat tinggal.
Itulah sebabnya sekarang ini Shuuya hanya diam meski melihat Mamoru yang perkembangannya bagus sekali. Ia bad mood karena tidak jadi piknik(?) bersama adik sepupunya.
"Shuuya, katakan sesuatu." Ichirouta mengikut lengan Shuuya, namun orang yang sempat dijuluki Flame Fighter itu hanya diam sambil memasang ekspresi dongkol. Ichirouta yang melihat wajah jelek(Oh, ampuni saia!) Shuuya juga ikutan merasa sebal.
"Sudahlah! Tidak ada gunanya bicara dengan orang emosian seperti Shuuya!" Ichirouta menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya. Shuuya tetap diam. Namun di dahinya terbentuk tanda perempatan. Wah, sepertinya ia mulai kesal. Mamoru yang melihat tingkah dua orang tua asuhnya saling membuang muka mulai khawatir. Jarang-jarang kedua orang ini terlihat tidak akur seperti sekarang.
"Doushite, Ichi-nii, Shuuya-nii?" tanya Mamoru sambil menarik ujung baju kedua orang yang sedang sama-sama kesalnya itu. Ichirouta luluh seketika saat melihat ekspresi khawatir Mamoru. Sayangnya Shuuya berbeda lagi, ia tambah esmosi(?) saat melihat wajah Mamoru. Kenapa? Tantu saja karena penyebab ia tidak bisa keluar markas adalah Mamoru!
"Urusai." Tidak, Shuuya tidak berteriak. Ia hanya mengucapkan sepatah kata itu dengan nada yang luar biasa datar. Namun suara itu terkesan sangat dingin, hingga sang bocah kecil langsung menyadari bahwa sang gunner tersebut sedang marah.
"Uh..." Mamoru menunduk kecewa. Ia tak tahu-menahu penyebab amarah Shuuya. Yang dilihat bocah itu adalah wajah dingin Shuuya sebagai kenyataannya. Dan untuk ukuran seorang project yang masih belum terlalu paham perasaan manusia, hal ini membuat Mamoru bingung.
'Kenapa Shuuya-nii terlihat marah?' Kurasa kau lebih baik tidak tahu alasannya, Mamoru. Lebih baik acuhkan saja sang Gunner sarap tersebut. Dan oh, ternyata Mamoru bukanlah tipe anak yang akan cuek ketika menghadapi seseorang yang sedang marah. Ia khawatir sekali pada kondisi Shuuya. Apakah sang Gunner itu salah makan sehingga berwajah masam begitu sepanjang hari?
"Nee, sebaiknya jangan memikirkan si bawang api bodoh itu. Sebentar lagi juga ia takkan memasang ekspresi jelek itu lagi kok." Natsumi melipat tangannya di dada sambil tersenyum mengejek ke arah Shuuya. Untung saja yang dibicarakan tidak mendengar, bisa-bisa terjadi perang magic and gun di ruanagn ini.
"Tapi..."
"Sudahlah. Lihat dan berterima kasihlah padakau setelah ini." Natsumi langsung memotong ucapan Mamoru. Kemudian mulai melangkah anggun menuju tempat Shuuya dan Ichirouta berdiri. Tiga orang itu terlihat sedang membicarakan sesuatu. Natsumi terlihat memberitahukan sesuatu pada dua orang itu dengan senyuman khasnya. Ichirouta membelalakkan mata, sementara Shuuya langsung berwajah cerah begitu mendengar perkataan Natsumi. Ah, segitu hebatkah ucapan seorang lady Natsumi sehingga Shuuya bisa berwajah secerah Kida Masaomi dari Durarara? Ah, lupakan.
Penasaran atas percakapan trio sinting itu(?), Mamoru melangkahkan kaki-kaki mungilnya mendekati tiga orang yang berada beberapa meter di hadapannya. Ichirouta yang menyadari kehadiran Mamoru mulai tersenyum, lalu membelai lembut kepala Mamoru. Ia tersenyum cerah.
"Bersiaplah, Mamoru. Ini akan jadi misi pertamamu."
Tralala... Pembatas Cerita
Roda volcano.
Sebuah kawasan gunung berapi yang sangat panas. Merupakan tempat tinggal bagi beberapa monster elemen api seperti jelly berelemen api dan firewyrm. Di tempat ini banyak sungai aliran lava yang sangat panas. Jadi berhati-hatilah, jangan sembarang masuk di sungai lava ini bila tak ingin terpanggang!
"Kita sampai di Roda Volcano! Gunung api yang paling aktif di dunia!" Ichirouta mulai berceramah panjang lebar mengenai tempat ini. seolah ia adalah tour guide bagi para turis yang ingin berkunjung ke Roda Volcano.
"..." Masalahnya, sang Gunner masih menekuk wajahnya. Ah, tidak. Wajah Shuuya bahkan lebih terlihat dongkol daripada di markas tadi. What? Apa yang salah? Bukannya sekarang ia telah berada di luar markas?
"Ada apa lagi dengan wajah masam itu?" Ichirouta memandang sinis ke arah Shuuya. Ia tak ingin membuat Mamoru sedih ketika melihat wajah menyebalkan Shuuya. bagaimanapun, ini adalah misi pertama sang Black Mage mungil itu. Mana tega Ichirouta membuat misi pertamanya menjadi hancur hanya gara-gara partner bawang putihnya tidak sedang dalam mood baik?
"Shuuya?" Satu teguran lagi dan sang mantan Tuan muda Goenji langsung men-deathglare sang Fencer. Malas, Shuuya sama sekali tak ada keinginan untuk membalas pertanyaan Ichirouta. Namun apa daya, ia tak ingin membuat sang pemuda truquoise naik pitam. Tahu kenapa? Oh, itu tak bisa dijelaskan sekarang. Silakan kalian berpedoman pada pepatah 'Orang baik kalau marah akan menjadi sangat menyeramkan'.
"...Aku memang ingin pergi ke luar markas..." Shuuya menarik napas dalam, sepertinya ia akan berteriak sebentar lagi. Jadi tolong pasang penyumbat telinga ya!
"TAPI AKU SAMA SEKALI TIDAK INGIN PERGI KE TEMPAT PANAS BEGINI!" Dan seperti yang sudah kita duga, Shuuya memang berteriak dengan sangat lantang dan kencang. Anehnya, baik Ichirouta ataupun Mamoru sama sekali tidak bergeming karena teriakan dengan frekuensi tingkat tinggi itu. Ichirouta sih sudah biasa, tapi Mamoru? ah, lupakan. Anggap saja itu salah satu kemampuan khusus sang project mungil.
"Asal kau tahu saja ya... misi kita itu untuk mencari 'Fire Sigil'. Kau tahu apa itu Fire Sigil kan, Shuuya-kun? Dan apakah kau tahu bahwa untuk mendapatkan benda itu kita harus pergi ke Roda Volcano?" Ichirouta memandang Shuuya sambil tersenyum sinis. Hei, sepertinya ia mulai menikmati ini.
"Kau tahu kan bahwa aku benar-benar-sangat-benci-sekali pada api?" Shuuya melotot sangar dengan kumpulan aura-aura hitam di belakangnya. Ichirouta tetap mempertahankan senyum sinisnya. Yah, meski dalam hati ia ngakak guling-guling. Ia tahu, tahu bahwa Shuuya yang elemennya 'api' ini tidak terlalu menyukai 'api'. Tapi kau tahu, bisa membuat seorang Shuuya Goenji esmosi sampai mencak-mencak tak karuan begini adalah kepuasan batin tersendiri. Ya, kepuasan tersendiri.
"Hee? Kau benci api Shuuya-kun? Kukira kau itu dulunya Expert fire...?" ucap Ichirouta dengan nada yang ia buat selebay mungkin. Ctik! Tingkat kemarahan Shuuya kini naik ke level berikutnya.
"Apa-"
"Oh, aku tahu. Kau takut terbakar oleh apimu sendiri ya?" Ichirouta menoel-noel pipi Shuuya. Ctik! Ah, gawat. Sepertinya urat kesabaran terakhir milik Shuuya telah putus...
"DOR!" Sebuah tembakan melayang tepat ke kepala Ichirouta. Untungnya (atau sayangnya?) Ichirouta sempat menghindarinya dengan gerakan slowly yang terkesan cukup tenang. Dan siapa sang pelaku penembakan tadi? Jangan ditanya. Kalian pasti tahu itu siapa.
"Kubunuh..." gumam Shuuya yang wajahnya tertunduk dalam. Ups, sepertinya ia sangat marah sekali.
"Kubunuh kau!" Baiklah, mari kita mulai sesi battle antara Shuuya dan Ichirouta. Bagi yang masih polos dan masih ingin waras silakan tinggalkan adegan tidak penting ini. Oh ya, dan satu lagi...
Warning: Kegajean yang sangat luar biasa.
Battle session (Shuuya Goenji Vs Ichirouta Kazemaru)
"DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!"
Suara tembakan bertubi-tubi dihasilkan oleh pistol milik Shuuya. yang jadi sasarannya tak lain tak bukan adalah seorang Ichirouta Kazemaru, partnernya sendiri. Bahaya sekali, mengingat saat ini Shuuya bertarung menggunakan sebuah pistol sementara Ichirouta hanya terus menghindar dengan tanagn kosong. Namun janganlah kalian khawatir, Ichirouta bahkan tak butuh senjata apapun untuk melawan Shuuya. Ya, ia hanya cukup membawa tubuhnya untuk menghindar sambil menajamkan mulutnya sebagai 'senjata'.
"Kh! Fireshot!" Merasa kesal karena tak bisa mengenai Ichirouta dengan tembakan biasa, Shuuya langsung mengeluarkan action ability-nya. Bola api yang cukup besar tampak keluar dari pistol Shuuya dan menerjang Ichirouta dengan kecepatan yang cukup tinggi. Bahaya, kalau terkena pasti akan langsung hangus di tempat. Anehnya, Ichirouta malah mengeluarkan smirk-nya saat bola api itu menerjang ke arahnya. Dan dengan sebuah gerakan ringan, ia menghindar dari terjagan bola api tersebut.
"Wah, wah. Kukira kau benci api, Shuuya-kun. Tapi kenapa tadi menggunakan ability elemen api ya?"Ucapan Ichirouta kembali memancing emosi seorang Shuuya Goenji.
"Sial... Iceshot!" Kali ini giliran hujaman es yang keluar dari pistol Shuuya. Lengkap sudah kemenangan bagi Ichirouta Kazemaru. Denagn senyum penuh kemanangan, Ichirouta mengeluarkan rapier miliknya. Dan dengan satu gerakan halus, ia berhasil menahan es tadi hanya dengan sebuah rapier.
"Praangg!" Es itu terpecah belah menjadi serpihan-serpihan kecil. Shuuya membelalakkan mata. Kini ia menyadari bahwa dirinya memang tak bisa mengalahkan Ichirouta dalam pertarungan satu lawan satu.
"Sepertinya kau terlalu terbawa emosi hingga lupa bahwa kau tidak mahir dalam jurus elemen es." ucap Ichirouta dengan senyuman sinis. Shuuya membuang muka, sudah lama ia tak merasakan rasa sebal seperti ini.
"Ano..." Sebuah interupsi datang dari bocah manis yang kita kenal dengan nama Mamoru. Dengan gerakan serempak, Shuuya dan Ichirouta menolehkan kepalanya untuk menatap Mamoru.
"Maaf karena aku mengganggu kalian, tapi kurasa kalian telah menumbulkan suara berisik..."
"Karena itu, mereka semua sekarang berkumpul ke sini." ucap Mamoru dengan polosnya sambil menunjuk kumpulan monster yang datang perlahan menuju ke arah mereka. Oh, mari kita lihat. Banyak sekali firewyrm dan bomb di sini. Tentu saja, ini adalah gunung api, jadi wajar saja bila monster penghuninya adalah monster elemen api.
Terpaku. Tiga insan yang ada di sana habis kata-kata ketika melihat kumpulan monster yang naujubilah banyaknya. Dalam hati, Shuuya dan Ichirouta saling merutuki partner masing-masing. Sementara Mamoru di sini memikirkan sebuah jalan tengah. Ya, sebaiknya mereka segera bertarung melawan monster-monster itu daripada saling menyalahkan lewat death glare begini. Toh Shuuya dan Ichirouta sama-sama salahnya.
"...Fire!" Mamoru mencoba menyerang salah satu monster tersebut dengan sihirnya, namn nihil. Oh, tentu saja. Monster elemen api tak akan mempan bila kau serang dengan jurus elemen api, duh!
Shuuya dan Ichirouta langsung sweatdrop seketika. Sepertinya Mamoru memang masih harus banyak belajar mengenai elemen resistance.
"Boltshot!" Shuuya mengarahkan pistolnya ke arah salah satu monster. Telak, monster itu langsung KO seketika. Wew, jangan bilang itu karena monsternya yang terlalu lemah. Itu karena Shuuyanya yang terlalu kuat.
"Monsternya banyak sekali ya? Kalau begitu... Poison!" Ichirouta melayangkan mantra Red Magic. Beberapa dari monster tersebut berubah warna mejadi hijau. Seperti yang kalian tahu, keracunan.
"Blizzard!" Kali ini Mamoru berhasil memanfaatkan elemen sihirnya dengan baik. Meskipun hanya mampu sedikit melukai sang monster karena ia masih pemula.
"Piercethrough!" 2 monster langsung tumbang ketika Ichirouta menghunus rapier-nya pada mereka.
"Beatdown!" Kali ini giliran Shuuya. Ia kembali menggunakan ability fighter miliknya yang ia pelajari waktu pertama kali masuk DC dulu.
Hening. Semua monster telah KO dan bergelimangan di hadapan tiga orang itu. Ketiganya menghela napas lega. Untung tak ada yang terluka. Ups, tapi jangan senang dulu. Sepertinya author baru melihat ada seekor firewyrm yang kelihatannya kuat sekali di ujung sana. Ia terus saja menyembur-nyemburkan api ke segala arah. Sepertinya yang ini sedikit susah untuk dikalahkan.
"Ada lagi ya?" Ichirouta hanya memabalikkan badan dengan santainya.
"Ck!" Sementara Shuuya berdecak kesal. Berlama-lama di tempat ini membuat temperamennya menjadi semakin buruk.
Tak ada pilihan lain, mereka tentu harus melawan naga besar itu. Shuuya dan Ichiruota melancarkan serangan bersamaan. Namun itu tak berdampak terlalu besar pada sang firewyrm. Sedikit info: kalangan naga memiliki defense yang cukup tinggi.
Mungkin harus ada sedikit perubahan pada pola bertarung. Yak, it's magic time!
"Mamoru! Kita lakukan kombinasi serangaan sihir. Shuuya, kau lakukan serangan yang punya dampak ada status naga itu untuk mempermudah kami!" Ichirouta memerintah dua kawannya.
"Baik!" Mamoru sih tentu saja akan menyanggupinya.
"Ck, seenak jidat memerintah orang!" Protes Shuuya dengan tatapan dongkol. Namun tetap saja ia menyiapkan gun miliknya.
"Sekarang!" seru Ichirouta. Shuuya dan Mamoru langsung bertindak.
"Blindshot!" Tepat sasaran, sekarang monster tersebut akan buta sesaat.
"Thunder!" jurus aliran petir yang dilakukan Mamoru berhasil mengurangi sedikit HP sang naga.
"Double cast, Blizzard and Thunder!" Sekali lagi kita dikejutkan dengan kemampuan Ichirouta. Jurus tingkat tinggi Red Mage yang ternyata sudah ia kuasai sewaktu masih kecil.
Berhasil, serangan Ichirouta tadi berdampak cukup besar. Kepulan asap menutupi sosok sang monster. Ketiganya kembali mengambil napas. Merasa bahwa battle tak jelas ini sudah berakhir. Atau setidaknya itulah yang ada di pikiran mereka. Ayolah, kita masih belum menemukan Fire Sigil!
"Nah, sekarang ayo kita cari..." Tepat di belakang Ichirouta, berdiri sosok naga yang tadi. Siap mengayunkan cakar tajamnya untuk menebas tubuh Ichirouta dari belakang. Tentu saja Ichirouta tidak mengetahuinya. Tapi mata Shuuya dan Mamoru membulat sempurna ketika tangan monster itu mengayun dengan cepat dan...
"Ichirouta!" Ichiruota menoleh ke belakang. Terkejut karena mendapati sang monster yang sudah siap menyerang. Tapi terlambat, tak ada yang bisa ia lakukan selain memejamkan mata...
"Trangg!" Cakar-cakar itu batal menembus tubuh Ichirouta. Sebuah blade menahannya dengan sempurna.
"...Shuuya?" Ichirouta shock setengah mati. Juga lega karena ia berhasil lolos dari maut berkat perlindungan partnernya. Dan di satu sisi, Ichirouta sedikit heran. Ternyata selama ini Shuuya masih membawa-bawa blade miliknya dulu ya?
"Thundaga!" Dan yang lebih mengejutkan lagi, monster itu langsung tumbang karena sambaran petir yang luar biasa dahsyatnya. Ada yang mau menebak siapa pelakunya? Tak lain tak bukan ialah Mamoru. Wow, hanya dalam sekali battle ia secara tak sengaja berhasil menguasai jurus tingkat tinggi itu.
"Wow..." Ichirouta hanya ternganga lebar. Sementara Shuuya diam saja. Ia menyentuh sebelah matanya, yang ternyata berubah warna menjadi merah darah. Tak lama kita bisa melihatnya karena detik berikutnya mata itu kembali berubah warna ke asalnya, onyx.
"Tadi itu... apa?" Mamoru memandangi kedua tangannya. Tak percaya bila jurus dahsyat tadi dihasilkan oleh tangannya sendiri. Ichirouta langsung bersorak dan memeluk Mamoru, sementara Shuuya kini sedang teralih perhatiannya oleh seuatu.
Shuuya berjalan mendekati sosok monster yang ambruk karena serangan Mamoru tadi. Di sebelahnya tampak sebuah batu dengan warna merah yang indah. Fire Sigil.
"Sepertinya misi kita telah selesai. Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Shuuya, mengintrupsi acara Ichirouta dan Mamoru yang sedang berheboh ria di tengah gunung api yang panas ini.
"Iya, iya."
Dan berakhirlah misi gaje pertama mereka...
Markas Death Chorus
"Aku akan memberikan Fire Sigil ini pada pimpinan, kalian berdua pergi ke kamar dulu saja." ucap Ichirouta sembari menepuk pelan kepala Mamoru. Sang bocah kecil mengiyakan ucapan Ichirouta, sementara sang bawang putih hanya diam. Tentu saja ia masih marah karena tindakan Ichirouta hari ini.
Dua orang itu berjalan menyusuri lorong markas yang bernuansa hitam ini. Diam, sunyi dan hening. Sesekali mata coklat Mamoru melirik ke arah Shuuya. Biasanya Shuuya—dan Ichirouta— akan menggandeng tangan Mamoru ketika sedang berjalan. Tapi kali ini tidak. Shuuya membenamkan kedua tangannya di dalam saku celana. Dan ia berjalan dengan langkah kaki yang suaranya membuat kesan bahwa ia sedang marah. Sedikit banyak Mamoru merasa bersalah. Meski sebenarnya ia tak melakukan kesalahan apapun terhadap Gunner ini.
"Shuuya-nii..."
"Apa?"
"Boleh aku bertanya?"
"Ya."
"...Kenapa kau membenci api?"
"..." Shuuya terdiam. Satu lagi topik yang tidak terlalu ingin ia bicarakan. Dan sekarang topik memuakkan itu keluar di saat suasana hatinya sedang tidak enak. Pastinya ia akan menonjok orang yang menanyakannya di saat suasana hati Shuuya sedang tidak enak begini. Tapi ini sedikit berbeda. Yang menanyakannya adalah Mamoru yang sudah ia anggap keluarga sendiri.
Shuuya terlihat menimbang-nimbang sejenak. Dan akhirnya ia menghela napas. Yah, tak ada salahnya jika ia menceritakan hal ini pada Mamoru.
"Aku benci api. Karena dulu aku hampir melukai seseorang yang berharga bagiku oleh apiku sendiri. Ah, tidak. Ia bahkan sudah menanggung luka karena kekuatan mengerikan ini." Shuuya memandang pilu pada sebelah tangannya. Mamoru menatap nanar pada sosok putih di sampingnya.
"Orang yang kau maksud itu... Yuuto Kidou kan?" tanya Mamoru, ah tidak. Ini lebih terlihat seperti sebuah pernyataan.
Shuuya menundukkan kepalanya. Pandangannya yang tadinya garang kini sedikit melembut. Ketika mengingatnya, ia selalu merasa bersalah. Meskipun itu tak melebihi rasa bersalah yang juga dirasakan oleh sepupunya itu.
"Ya, kurang lebih begitu." Shuuya tersenyum pahit. Mamoru memandanganya dengan tatapan kosong seperti biasa. Namun ada sesuatu yang mengusik hatinya. Ia merasa sedikit iri pada Yuuto yang selalu dipikirkan oleh Shuuya. Berbeda dengannya, Mamoru hanyalah sebuah project yang kebetulan saja dipungut oleh Shuuya dan Ichirouta.
"...Kau menyukainya?" tanya Mamoru sambil menatap dalam pada mata Shuuya, berusaha untuk menelaah kejujuran mata onyx itu.
"Tentu saja. Ia saudaraku bukan?" jawab Shuuya santai. Masalahnya, bukan jawaban seperti itulah yang diinginkan Mamoru.
"Bukan... bukan begitu maksudku. Ini tentang rasa cinta sebagai seorang kekasih, bukan antar saudara." Shuuya membelalakkan matanya ketika mendngar pernyataan Mamoru.
"Jadi, biar kuulangi lagi. Apakah kau menyukai Yuuto Kidou?"
To be Continued
A/N: Jkakakakak! Authornya lagi galau nih. Nulis chapter gak jelas macam begini. Udah update telat, cerita gak mutu pula! Ah, author macam apaan saia ini? (plak!) Nee, anggap saja ini sebagai chapter selingan dan perkenalan battle mode. Nah, ini sedikit istilah jurus di chap ini:
-Thunder: Black Mage/Red Mage AA. Teknik sihir serangan berupa sambaran petir.
-Blizzard: Black Mage/Red Mage AA. Teknik sihir serangan berupa hujaman es.
-Fire: Black Mage/Red Mage AA Teknik sihir serangan berupa lontaran api. (lontaran?)
-Fireshot: Gunner AA. Teknik serangan berupa tembakan api.
-Iceshot: Gunner AA. Teknik serangan berupa tembakan es.
-Boltshot: Gunner AA. Teknik serangan berupa tembakan petir.
-Poison: Red Mage AA (Alchemist juga bisa). Membuat terget keracunan. Kalau keracunan, HP bisa habis sedikit demi sedikit. (Teknik yang saia suka nih)
-Piercethrough: Fencer AA. Menyerang 2 lawan yang berdiri sejajar sekaligus.
-Beatdown: Fighter AA. Memberi damage yang besar kalau mnggak miss. (tapi kadang sering nggak kenanya)
-Blindshot: Gunner AA. Selain memberi damage, jurus ini juga bisa membuat lawannya buta sesaat.
-Double cast: Red Mage AA. Jurus tingkat tinggi Red Mage. Dapat melakukan 2 cast dalam sekali turn.
-Thundaga: Black Mage AA. Teknik sihir berupa sambaran petir yang luar biasa kuatnya. (halah, lebay!)
*Ket: AA= Action Ability
nee, mari kita balas review kali ini:
Via sasunaru:
Ah... Nggak nyambung?
...
nggak nyambung ya...? (pundung)
uh... saia memang author gaje, dan cerita saia juga nggak nyambung. (plak!)
by the way, thx reviewnya! XD
Aurica Nestmile:
Wkokokok! Maaf saia lama update.
Yup, Shinichi jadi second project. Habis dia mirip Mamoru~
Hohoho, penuh siksaan. Tapi berkat itu Mamoru berhasil jadi black mage hebat seperti sekarang ini! XD
Waaa! Arigato, Yue-chan! XD
Maaf saia updatenya lemot...
Heylalaa:
Arigatooo! Fic Lalaa-san juga keren-keren semua! X3
Fufufu... Hiroto mau emnguasai dunia tuh. (ngaco)
Nee, boleh saia minta alamat FB Lalaa-san?
AniFreakz:
Shuuyanya OOC ya? ^_^'
Hohoho... arigato reviewnya~
snapshot for next chapter!
Yuuto dan Shuuya blushing parah!
Namun Mamoru tak terlalu merasa senang.
Aliea Terst mulai disorot!
Apakah yang selama ini dicari olehnya?
"Hei, apakah kau melihat kakakku?"
Next, Death Chorus chapter 12! (promosi gaje)
Last dimension will come
The Fallen Kuriboh
