.
.
.
.
.
"Oh kau sudah pu- hei ada apa denganmu?" Dengan wajah masam menahan kesal Mingyu masuk ke dalam rumahnya, membuat Jun yang sedang menonton televisi dibuat heran. Si pemilik tubuh tinggi itu berbaring pada sofa terpanjang kemudian menutup wajahnya dengan bantal. "Ada apa denganmu, Mingyu?" Kembali mengulang pertanyaan yang sama namun yang di tanya masih enggan memberi jawaban.
Kesal tidak mendapat jawaban, Jun kembali dengan kegiatannya, menonton televisi. Lama keduanya terdiam, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba ponsel Jun berbunyi, diliriknya layar benda pipih itu, berdehem sesaat sebelum akhirnya menerima panggilan.
"Ada apa?"
'Hyung, bisa bantu aku mengerjakan tugas?'
"Tugas apa?"
'Tugas Fisika, hyung.'
"Oh tentu saja. Kapan?"
'Jika kau tidak keberatan eung...sore ini?'
"Baiklah. Tunggu di depan toko boneka kemarin, aku akan menjemputmu."
'Oh? Ba-baiklah'
Tepat setelah itu Jun memutus sambungan telepon. Mingyu yang berada di seberang sudah menebak siapa si penelepon hanya dengan melihat bagaimana ekspresi -bodoh- Jun sekarang. Laki-laki berdarah Cina itu tersenyum-senyum membuat Mingyu semakin kesal.
"Hentikan senyum bodoh itu, hyung!" Mingyu pada akhirnya buka suara setelah sedari tadi hanya diam saja. Jun mendengus. Saat ditanya dia diam sekarang marah tidak jelas, pikir Jun.
"Aku tidak butuh komentarmu. Lagipula ada apa dengan wajahmu itu huh? Benar-benar ekspresi yang merusak mata." Jun menggerutu panjang lebar sebagai balasan atas pertanyaannya yang tidak dijawab dan komentar-tidak-penting-Mingyu padanya. Yang bersangkutan menghela napas, menyerah untuk tetap bungkam.
"Hyung, jika kau berkencan dengan seseorang, bukankah melarangnya berteman dengan orang lain adalah hal yang buruk?" Mingyu terduduk lalu sembari bersandar pada sofa kesayangannya, ia menatap serius sang lawan bicara di seberang.
"Ah~ jadi kalian sudah...resmi?" Jun melontarkan pertanyaan yang membuat ekspresi masam Mingyu semakin masam saja. Dengan cepat lelaki berdarah Cina itu berdehem "Tentu saja. Itu namanya protektif. Bisa jadi pemicu pertengkaran dalam sebuah hubungan."
Jawaban itu sudah diperkirakan oleh Mingyu. Tentu ia tau, kemungkinan besar ia bisa saja bertengkar dengan Wonwoo hanya karena masalah ini. Namun siapa yang tidak cemburu jika pacarmu berdekatan dengan orang yang terlihat tertarik dengannya? Menyebalkan, tentu saja.
"Aku harus bersabar. Kim Mingyu, jadilah pacar terbaik yang pernah ada." Mingyu bermonolog ria, membuat Jun yang menyaksikannya menahan tawa.
"Iya, bersabarlah. Karena dengan sabar, kau akan mendapatkan apa yang kau mau." Jun menyeringai lalu bangkit dari duduknya, sedikit merenggangkan ototnya lalu berjalan untuk mengambil kunci mobil yang tersimpan di meja nakas. "Aku pergi. Jika kau dan Mijoo lapar, panaskan sup yang sudah noona masak." Jun bersiap pergi setelah memakai sepatunya.
"Noona dimana?" Mingyu yang masih malas hanya untuk mengganti bajunya, kembali berbaring pada sofa.
"Noona ada dikamarnya, sepertinya ia terserang flu atau entahlah. Tolong kau periksa. Aku pergi!" Dan setelahnya laki-laki berparas rupawan itu menghilang dibalik pintu rumah. Mingyu yang mendengar Mijung sakit dengan segera bergerak menuju kamar sang kakak. Tanpa mengetuk, ia masuk dan pendapati sang kakak yang duduk di meja kerjanya, sibuk dengan laptop sementara setumpuk berkas berserakan di atas ranjangnya.
"Noona." Suara Mingyu membuat Mijung menoleh sesaat kemudian kembali fokus pada pekerjaannya, hanya menggumam sebagai respon. "Nikmati liburanmu, noona. Tidak perlu bekerja sekeras ini." Mingyu dengan seenaknya berbaring di ranjang Mijung, menimpa beberapa berkas disana dengan tubuh besarnya.
"Mingyu, cepat bangun! Kau menimpa berkas kerjaku." Mingyu yang tidak ingin berdebat segera bangkit lalu berjalan menuju meja kerja sang kakak yang tidak jauh darinya. Berdiri dibelakangnya lalu perlahan menyentuh kening gadis bertubuh semampai itu. Panas, itulah hal pertama yang terasa oleh telapak tangan Mingyu.
"Noona, kau demam. Cepat istirahat." Mingyu mulai khawatir. Kakaknya tipikal orang yang tidak bisa menunda pekerjaan, sama seperti sang ayah. Akan sangat sulit menghentikannya jika sudah berhubungan dengan pekerjaan. Dan seperti dugaan, Mijung tidak memberi respon. Masih sibuk dengan semua pekerjaannya. Mingyu memutar kursi yang diduduki Mijung hingga menghadapnya. Mijung hampir akan berteriak marah, kalau saja Mingyu tidak segera menggenggam erat tangan sang kakak sembari berlutut.
"Noona, dengarkan aku. Ayah dan ibu begitu sibuk dan jarang memperhatikan kita. Jika kau sakit, aku, Mijoo dan Jun hyung harus bergantung pada siapa? Kau satu-satunya yang bisa kami andalkan, Noona. Kumohon mengertilah." Mingyu menatap intens pada mata cokelat sang kakak. Yang dikatakannya memang benar, Mijung sangat dibutuhkan adik-adiknya. Sesibuk apapun ia selalu ada saat adik-adiknya membutuhkannya. Pada akhirnya Mijung tersenyum lalu meletakan kacamata bacanya pada meja, kemudian mengusak rambut adik laki-lakinya.
"Kau tau, kurasa kau benar. Aku butuh istirahat." Mingyu tersenyum setelahnya lalu dengan tanpa diperintah, ia merapikan berkas Mijung yang tergeletak di atas ranjang kemudian menyimpannya. "Terima kasih, Mingyu." Mijung berbaring diatas ranjangnya dengan nyaman dan mulai terlelap.
Sementara itu Jun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sembari sesekali bersenandung mengikuti lagu yang menemani perjalanannya. Hanya butuh 20 menit, ia sampai di tempat tujuannya dan seperti yang diharapkan, Minghao telah berdiri disana dengan membawa ranselnya. Jun tersenyum sesaat kemudian menghentikan mobilnya tepat di depan Minghao. Laki-laki bermarga Wen itu menurunkan kaca mobilnya.
"Ayo masuk." Dan seperti yang diperintahkan, Minghao masuk ke dalam mobil dan duduk persis di sisi kanan Jun. "Kau suka ice cream?" Jun menoleh sesaat kemudian kembali fokus pada jalan. Minghao mengangguk bersemangat sebagai jawaban. "Kalau begitu kita akan makan ice cream sambil mengerjakan tugasmu." Jun menambah kecepatan mobil. Minghao terus tersenyum menatap jalanan di depannya, ia harus berterima kasih pada Bang Saem atas tugas Fisikanya.
.
.
.
.
.
Mijoo menatap kosong pada danau kecil didepannya. Sedih dan kesal berkecamuk dalam dirinya. Ingin rasanya menangis namun tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya, air matanya bahkan tidak berniat keluar. Ia memendam sedih sendiri. Hansol tanpa memberitahunya lebih dulu sudah berangkat menuju rumah kakek dan neneknya di California untuk melanjutkan sekolah. Laki-laki berwajah western itu sempat menelepon Mijoo, namun gadis itu tidak berniat mengangkatnya.
"Bocah sialan itu benar-benar jahat."
Hanya terus mengumpat entah pada siapa. Mijoo telah duduk disana hampir 2 jam dan tidak menunjukan tanda akan pergi. Ia butuh sendirian. Tidak. Ia butuh Hansol, sahabatnya. Kembali merasa kesal untuk kesekian kalinya. Hansol pernah meninggalkannya saat mereka masih berumur 9 tahun. Tujuan yang sama, untuk melanjutkan sekolahnya dan yang terjadi adalah Mijoo jatuh sakit. Ia menangis dan terus meminta sahabatnya untuk kembali ke Korea.
"Aku membencimu, Hansol. Aku akan memukulmu sampai kau tidak bisa berjalan jika kau berani kembali kesini."
Mijoo masih terus mengumpat hingga seseorang datang mengusik ketenangannya. Orang itu telah lama meperhatikan Mijoo yang mengumpat tanpa henti. Menyadari siapa yang datang, Mijoo berniat pergi.
"Jangan pergi."
Mijoo bersumpah ia benar-benar ingin pergi namun suara orang itu juga benar-benar membuatnya ingin tinggal. Kembali duduk, menjadi pilihan akhir Mijoo. Keduanya diam, sibuk dengan dunianya masing-masing. Hingga suara orang itu memecah keheningan diantara mereka.
"Kau baik-baik saja?"
"Apa aku baik-baik saja?"
Lama orang itu terdiam. Hingga akhirnya ia kembali bicara.
"Aku sudah dengar berita kepindahan temanmu. Agak tiba-tiba, aku rasa."
"Hmm" Mijoo menatap sendu air danau yang sedikit beriak. "Ia tidak pamit padaku." Senyum miris terulas dibibir gadis cantik itu.
"Kau pasti akan baik-baik saja. Kau lebih kuat dari gadis pada umumnya." Mijoo menoleh sesaat kemudian menghela napasnya.
"Semoga apa yang kau katakan itu benar." Mijoo berdiri dari duduknya kemudian mulai melangkah pergi dari tempat favoritnya dan Hansol, namun tangan itu menahannya.
"Ini" sebuah ipod berwarna biru berada di genggaman Mijoo. "Mungkin bisa sedikit menghiburmu. Aku pergi dulu." Lalu dengan santai meninggalkan Mijoo yang diam sembari menatapi punggungnya yang semakin menjauh.
Ditempat lain, Jun dan Minghao sudah sampai ke tempat yang mereka tuju. Jun memilih tempat dilantai atas, tempat itu terbuka dan disana mereka dapat menikmati udara segar. Setelah memesan ice cream dan secangkir green tea, keduanya siap untuk mengerjakan tugas.
"Hyung, bagaimana cara mengerjakan soal ini?"
Dan akhirnya yang terdengar hanya suara Minghao yang terus bertanya mengenai rumus-rumus dan Jun yang siap menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Minghao. Hingga pesanan keduanya datang membuat kegiatan mereka terhenti sejenak. Minghao mulai menikmati ice cream vanilla dengan extra saus cokelat miliknya sementara Jun perlahan menyesap secangkir green tea di tangannya.
"Hyung" Suara Minghao membuat si pemilik nama menoleh. "Terima kasih sudah membantuku mengerjakan tugas dan membelikanku ice cream."
"Kau senang?" Tanya Jun sembari tersenyum tipis.
"Tentu saja. Siapa yang tidak senang jika dibelikan ice cream." Minghao tersenyum sembari menggigit sendok ice creamnya, Jun ikut tersenyum melihatnya.
"Kalau begitu, kita akan sering kesini."
"Benarkah?"
"Tentu jika itu membuatmu senang. Lagi pula tempat ini membuatku nyaman."
"Jun hyung yang terbaik." Minghao mengacungkan dua ibu jarinya pada Jun lalu dibalas dengan Jun yang mengusak pelan rambut Minghao.
'Apapun yang membuatmu senang. Apapun itu'
.
.
.
.
.
Mingyu menatap malas ponselnya. Wonwoo bahkan tidak mengiriminya pesan. Apa orang itu masih ada disana? Apa Wonwoo sedang bersamanya? Pikiran Mingyu melayang jauh. Memikirkan kemungkinan yang terjadi. Namun buntu. Yang ia pikirkan sekarang adalah apa yang sedang Wonwoo lalukan? Namun sepertinya laki-laki yang sekarang sudah resmi ia pacari itu tidak memberi kabar apapun. Entah berlebihan atau tidak tapi jujur saja Mingyu merindukannya. Akhirnya setelah lama hanya berbaring malas sembari menatap langit-langit kamarnya, ia memutuskan untuk menghubungi sang pacar. Hanya mengirim sebuah pesan singkat, tak lama ponsel itu berdering.
"Halo?"
'Ada apa, Mingyu?'
"Eung...tidak ada. Hanya ingin dengar suaramu?"
'Astaga, kita baru bertemu beberapa jam yang lalu.'
"Baiklah-baiklah. Kau sedang melakukan apa, hyung?"
'Aku? Mengerjakan tugas. Apa yang kau lakukan? Sudah kerjakan tugasmu?'
"..." Mingyu segera berlari menuju tasnya yang tergeletak dibawah meja belajar, memeriksa note berwarna abu-abu berisi daftar tugas-sialan-sekolah yang harus ia kerjakan.
'Mingyu?'
"Eh? Ya hyung?" Mingyu menjepit benda pipih itu di telinga dengan bahunya. Kemudian membuka halaman yang tertanda hari ini. Fisika. Mingyu menghela napasnya setelah itu terdengar suara tertawa dari seberang telepon.
'Apa ini? Fisika atau matematika?'
"Fisika. Aku hampir melupakan yang satu ini." Mingyu mulai beralih pada buku-bukunya, mengambil beberapa buku yang ia butuhkan (buku tebal berisi rumus, buku catatan, dan buku gambar yang entah untuk apa) sementara Wonwoo masih tertawa di ujung sana. "Bagaimana jika kau berhenti tertawa dan bantu aku untuk mengerjakan tugas?"
'Penawaran diterima. Setelah itu kau kerjakan tugas Biologi dan Bahasa Korea milikku.'
"Oh? Sepertinya tugasku sangat mudah."
'Dasar menyebalkan!'
"Iya aku juga menyayangimu, hyung." Setelahnya Wonwoo mendelik malas.
'Kerjakan tugasmu.'
"Baiklah akan aku kerjakan. Kau sudah makan?" Mingyu memutuskan untuk mengubah mode telepon menjadi loadspeaker, sementara ia meletakan ponsel itu didekatnya, ia mulai membuka bukunya, siap menyelesaikan tugas-sialan-matematika.
'Apa makan kripik kentang termasuk makan malam?'
"Hyung, itu kan makanan ringan!" Mingyu berucap kesal seakan Wonwoo dapat melihatnya dengan wajahnya yang penuh protes. Wonwoo kembali tertawa mendengar protes sang pacar.
'Aku tidak punya sesuatu untuk dimakan, Mingyu.' Ucap Wonwoo. 'Sudah jangan pedulikan aku, kerjakan saja tugasmu.' Dan setelah itu Mingyu dengan patuh kembali mengerjakan tugasnya.
"Hyung"
'Hnng?'
"Tadi... saat aku pulang setelah mengantarmu, apa ada seseorang yang mengunjungimu?"
'Kau lihat Seungcheol?'
"Yaa, aku melihatnya menghampirimu setelah aku pergi." Wonwoo mendengar sesuatu yang berbeda dari suara Mingyu. Ia mengerti Mingyu pasti menaruh rasa tidak suka pada Seungcheol, dan ia pikir itu wajar. Namun ia ingin lihat apa yang akan Mingyu lakukan. Apa dia akan marah? Kesal? Atau mungkin ternyata Mingyu lebih posesif dari yang ia duga.
'Lalu?'
"Tidak. Aku hanya bertanya saja. Tapi, boleh aku minta sesuatu darimu, hyung?"
'Tentu, katakan saja.'
"Aku minta kau bisa menjaga dirimu saat aku tidak bersamamu, hyung."
'Hanya itu?'
"Memang aku harus meminta hal lain?" Kali ini Mingyu benar-benar bingung. Ia hanya minta itu. Bukan berarti ia menaruh curiga pada orang bernama Seungcheol. Namun mengingat dulu Wonwoo pernah menjadi korban pembulian di sekolah, hal itu membuat Mingyu takut jika sewaktu-waktu hal buruk terjadi pada Wonwoo dan ia tidak ada untuk melindunginya.
'Kau...tidak memintaku untuk menjauh dari...Seungcheol?'
"Eh? Kenapa? Bukankah dia temanmu?" Dan tepat setelahnya Wonwoo tersenyum senang. Mingyu jauh lebih dewasa dari yang ia pikir. Sementara Wonwoo terus tersenyum diatas ranjangnya (dengan wajah yang bersemu merah, persis seperti gadis yang memoles pemerah pipi. Ugh Wonwoo ada apa denganmu?), Mingyu kembali bersuara, "Hyung? Kau baik-baik saja?"
"Ah ya, aku baik-baik saja." Wonwoo sedikit tertawa lalu kembali menetralkan suaranya, "Terima kasih. Kau benar-benar mengerti aku."
"Entah bagaimana tapi caramu tertawa yang paling aku rindukan sekarang." Mingyu berucap dengan senyum diwajahnya, membayangkan Wonwoo tersenyum membuatnya ingin segera bertemu dengan laki-laki bersurai hitam itu.
'Benarkah?'
"Tidak. Semua. Semua hal padamu membuatku rindu." Mingyu berbaring menghadap langit-langit kamarnya yang besar. Mengabaikan tugas matematikannya yang bahkan belum selesai di nomor 3. Mingyu menutup matanya membayangkan sang kekasih. Wonwoo begitu indah sampai-sampai ia tidak tau bagaimana harus mendeskripsikannya. Begitu indah dan begitu membuatnya gila.
'Mingyu...'
Mingyu tidak menjawab. Terhipnotis dengan suara Wonwoo yang kali ini terdengar begitu rendah. Sedikit berbisik namun terdengar begitu menggoda yang semakin membuat pikiran Mingyu kalut.
'...,aku merindukanmu'
Pertahanan Mingyu runtuh. Yang ia tau sekarang adalah ia harus bertemu dengan Wonwoo. Harus. Dan terbukti tubuh tingginya berada tepat didepan pintu masuk ketika Mijoo sampai di kediaman mereka. Yang Mijoo lakukan hanya mengenyit sesaat lalu kembali mengabaikan saudara kembarnya yang pergi entah kemana. Kembali pada Mingyu yang sepertinya menemui keberuntungan, ia bertemu dengan Seokmin dan Soonyoung yang sedang bersepeda malam, hanya berdua. Anggaplah keduanya sedang berkencan.
"Hyung, aku pinjam sepedamu. Nanti akan aku kembalikan!" Mingyu dengan paksa mengambil sepeda kesayangan Soonyoung dari sang pemilik. Sementara Seokmin hendak melayangkan protes, Mingyu sudah berlalu dengan kecepatan tinggi.
"Menganggangu saja anak itu!" Soonyoung menggerutu kemudian dengan perlahan Seokmin turun dari sepedanya lalu tersenyum, senyum kesukaan Soonyoung.
"Ayo jalan. Aku tidak ingin melewatkan malam indah ini hanya karena sepeda. Yang terpenting kau ada disini, hyung." Seokmin membawa serta sepedanya disampingnya, berjalan perlahan sementara Soonyoung berjalan disisi kirinya, diam-diam tersenyum.
Sementara itu Mingyu mengayuh sepeda-Soonyoung-nya dengan cepat. Yang ia inginkan hanya sampai secepat mungkin dirumah Wonwoo dan bertemu dengannya. Dan beruntunglah Mingyu karena tinggal beberapa blok lagi ia akan sampai ke tempat tujuannya. Mingyu semakin bersemangat mengayuh hingga akhirnya rumah bercat biru itu terlihat. Mingyu menghentikan kayuhannya tepat di depan pagar kokoh rumah itu. Ia kemudian turun lalu menatap rumah itu sesaat sembari tersenyum.
"Hyung!"
Tepat setelahnya, Wonwoo keluar dari kamarnya. Berdiri diatas balkon sembari menatap terkejut sang pacar yang tanpa ia duga sudah berdiri di depan keduamannya sembari tersenyum dengan wajah tampannya (hey! Mingyu memutuskan sambungan telepon secara tiba-tiba. Wonwoo pikir terjadi sesuatu pada anak itu). Wonwoo berlari keluar dari kamarnya, membuka pintu rumahnya lalu menghampiri Mingyu yang berdiri diluar menunggunya. Perlahan Wonwoo membuka pagar kokoh itu lalu dengan tanpa perintah Mingyu masuk. Keduanya berdiri di pekarangan sekarang. Tangan Mingyu terangkat dan perlahan membelai lembut pipi yang lebih tua.
"Kenapa kau memutuskan sambungan teleponnya tiba-tiba?!" Wonwoo melayangkan protesnya masih menatap kesal pada yang lebih tinggi. Mingyu terkekeh pelan lalu mengusak rambut hitam itu. Kemudian ia merangkul bahu Wonwoo, perlahan berjalan masuk bak pemilik rumah. Wonwoo diam saja memperhatikan perilaku Mingyu. Hingga akhirnya mereka sampai di dalam rumah dan Mingyu memeluk pinggang Wonwoo secara tiba-tiba hingga mengeleminasi jarak diantara keduanya. Wonwoo yang terkejut mengalingkan wajahnya dengan kedua tangannya yang berada diatas dada bidang Mingyu.
"Mingyu..." Wonwoo mendorong Mingyu perlahan namun sayang Mingyu mempererat dekapannya, membuat Wonwoo semakin dekat padanya.
"Jangan. Aku merindukanmu, hyung." Mingyu dengan tangannya yang bebas, membelai lembut pipi Wonwoo. "Sangat." Perlahan Wonwoo menatap Mingyu yang sedikit lebih tinggi darinya, kemudian tersenyum.
"Aku juga." Mingyu mulai mengeleminasi jarak diantara mereka. Ia benar-benar menginginkan Wonwoo sekarang. Hanya Wonwoo. Sedikit lagi maka bibir keduanya benar-benar akan saling menyentuh.
"Hyung- oh?! Maaf! Maafkan aku! Maaf!" Seseorang tanpa bermaksud mengganggu masuk ke dalam rumah besar Wonwoo dan tanpa sengaja menyaksikan adegan mesra di depannya. Wonwoo dengan segera mendorong tubuh Mingyu dengan wajah yang merah padam. Mingyu yang salah tingkah hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ma-maaf, aku pikir...tadi pintunya tidak dikunci...kalian...ugh maaf maaf!" Terus membungkuk formal, itulah yang dilakukannya sekarang. Tidak berani menatap dua orang yang baru saja tertangkap basah olehnya.
"Ti-tidak apa-apa, Chan. Kemarilah." Wonwoo tersenyum canggung kemudian anak bernama Chan itu segera menghampiri Wonwoo. "Ibumu sudah pergi?" Chan mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah, hyung akan membuatkanmu susu, setelah itu pergilah tidur. Mengerti?" Chan mengangguk bersemangat lalu Wonwoo mengusak sayang rambut hitam Chan. Setelahnya Chan duduk disalah satu sofa besar diruangan itu.
Wonwoo sendiri pergi ke dapur untuk membuatkan susu kesukaan Chan. Mingyu dengan senang hati mengikuti Wonwoo. Awalnya ia hanya berdiri memperhatikan Wonwoo yang sibuk dengan urusannya, namun pada akhirnya Mingyu mendekat kemudian dengan mudahnya memeluk pinggang Wonwoo yang terbilang ramping, lalu menyandarkan dagunya pada bahu Wonwoo.
"Kau mau apa lagi? Sana pulang" Wonwoo masih sibuk meracik minuman kesukaan Chan sementara Mingyu enggan untuk pergi. Malah mempererat dekapannya.
"Siapa anak itu?"
"Chan? Chan anak Bibi Han."
"Untuk apa dia disini?" Wonwoo melirik kesal sesaat pada sang pacar yang terus bertanya. Sudah diusir masih tidak pergi juga, pikir Wonwoo.
"Hari ini Bibi Han harus pergi ke Osaka karena ayah Chan yang bekerja disana sedang sakit. Chan menginap disini sampai Bibi Han pulang." Mendengar kata menginap, Mingyu menyeringai kemudian menciumi bahu Wonwoo. Merasakan sesuatu yang aneh, Wonwoo kembali bersuara, "Kau tidak boleh menginap disini."
"Hyung!" Mingyu hendak melayangkan protes namun gagal setelah satu sikutan dari Wonwoo yang membuatnya meringis. Wonwoo pergi membawa susu Chan, meninggalkan Mingyu yang mengaduh dibelakangnya. Mingyu berjalan keluar dari dapur lalu dengan segera Wonwoo menarik sang pacar hingga sampai di depan pintu rumah.
"Pulanglah, sudah larut malam." Wonwoo menepuk pelan pipi Mingyu kemudian hendak masuk namun ditahan oleh Mingyu. Mingyu dengan wajahnya yang memelas masih berharap diperbolehkan menginap, namun sayang Wonwoo menggeleng sebagai jawaban. "Kau dan otak mesummu itu bisa sangat berbahaya. Lagipula disini ada Chan, aku tidak mau matanya yang suci jadi kotor karena 'tindakan'mu, Mingyu."
Mingyu menyeringai kemudian dengan wajah jahilnya ia berkata, "Memangnya aku akan melakukan apa? Aku bilang kan aku hanya ingin menginap." Dan sukses. Wajah Wonwoo mulai merah padam. Mingyu mendekatkan wajahnya pada wajah sang pacar. "Apa kau memikirkan sesuatu yang lebih dari sekedar menginap? Atau kau menginginkannya, hyung?"
"Kim Mingyu!" Setelahnya Mingyu tertawa keras melihat wajah Wonwoo yang merah padam. Wonwoo menutup wajahnya dengan tangannya sementara Mingyu berusaha menetralkan tawanya.
"Baiklah baiklah." Mingyu yang masih berusaha menahan tawanya kemudian mengecup dahi Wonwoo. "Aku pulang." Mingyu berjalan menuju sepeda-Soonyoung-nya yang terparkir didepan rumah Wonwoo.
"Kau-" Wonwoo setengah berteriak membuat Mingyu yang sudah berada diatas sepeda kembali menoleh. "Kim Mingyu, kau menyebalkan!" Wonwoo menggerutu dengan wajah kesalnya sementara Mingyu kembali tertawa.
"Aku juga mencintaimu, hyung!" Kemudian segera mengayuh sepeda itu menuju rumahnya. Wonwoo masih disana hingga Chan menghampirinya lalu menarik pelan piyama Wonwoo.
"Hyung, siapa dia?"
"Dia Kim Mingyu, mahluk paling menyebalkan di dunia." Chan berkedip sesaat kemudian Wonwoo tersenyum. Ia kembali menatap jalan yang dilewati Mingyu, "Tapi aku sangat menyayanginya."
"Benarkah, hyung?" Chan kembali bersuara membuat Wonwoo menoleh padanya, Wonwoo mengangguk sembari tersenyum lalu setelahnya mereka masuk untuk pergi tidur.
.
.
.
.
Mijung tengah duduk disalah satu cafe bersama dengan laptop didepannya dan beberapa berkas di mejanya. Hari ini adalah hari terakhirnya libur dan besok ia harus kembali memulai rutinitasnya di kantor. Ia sengaja pergi ke cafe untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia merasa jenuh dirumah dan lagi ia menghindari ocehan Mingyu yang tidak suka jika ia terus bekerja dihari libur. Mijung perlahan menyesap Lattenya kemudian membuka beberapa berkas ditangannya, kemudian setelah itu mengetik sesuatu dilaptopnya. Kesibukannya terganggu oleh bunyi dering ponselnya. Ia melirik sesaat kemudian dengan segera mengakatnya.
"Ada apa, Haejun?"
'Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, Nona Kim." Seorang staf kantor menghubunginya.
"Aku tidak di kantor. Nanti akan aku beritahu dimana aku berada."
'Baik, Nona.' Setelah itu sambungan terputus, kemudian Mijung mengirimkan alamat dimana ia berada. Setelah itu ia kembali fokus pada pekerjaannya.
"Mijung Noona?" Mijung menoleh lalu tersenyum pada orang tersebut. Jisoo. Orang yang menyapanya kemudian berjalan menghampiri Mijung. "Apa yang noona lakukan disini?"
"Mengerjakan beberapa pekerjaanku. Bagaimana denganmu?" Mijung tersenyum membuat Jisoo berdehem sesaat.
"Aku hanya membeli minuman saja." Jisoo menunjukan minuman ditangannya, kemudian Mijung mengangguk. "Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa, noona!"
"Sampai jumpa, Jisoo." Mijung kembali tersenyum membuat Jisoo tersenyum girang. Sepeninggal Jisoo, Mijung mulai menyibukan dirinya kembali.
Seorang laki-laki berperawakan tinggi memasuki cafe. Tubuhnya dibalut kemeja biru laut yang begitu cocok dengan kulitnya yang pucat. Tatapannya berkeliling mencari seseorang yang menjadi tujuan ia datang. Dan setelahnya ia melihat seorang perempuan dengan kemeja baby blue, hot pants, rambut yang diikat asal dan sepatu kats yang begitu pas dengan tubuh tingginya. Laki-laki itu menghampirinya perlahan. Sudah hampir 4 tahun mereka tidak bertemu dan perempuan itu tidak banyak berubah.
"Hei"
Laki-laki itu bersuara setelah sampai didepan meja dimana si perempuan duduk. Si perempuan menoleh dan matanya membulat tepat saat ia menyadari siapa orang yang berada di depannya. "Kau tidak banyak berubah." Laki-laki itu tersenyum tipis pada teman lamanya.
"Woobin? Jeon Woobin?!" Mijung menatap tidak percaya pada laki-laki itu.
"Lama tidak bertemu, Mijung." Ucap laki-laki bernama Woobin itu pada Mijung. Mijung kemudian mempersilahkan Woobin duduk.
"Aku tidak percaya kau kembali ke Korea setelah sekian lama." Mijung melepas kacamatanya kemudian mematikan laptopnya. Woobin tersenyum tipis.
"Sebenarnya aku tidak untuk waktu yang lama berada disini." Woobin bersandar nyaman pada kursinya. "Bagaimana kabarmu? Masih Mijung si pekerja keras?"
"Seperti yang kau lihat." Mijung tersenyum. "Bagaimana denganmu?"
"Aku baik-baik saja." Jawab Woobin.
"Kapan kau datang?"
"Aku sampai tadi malam." Woobin menatap jalanan yang terlihat mulai ramai oleh muda-mudi. Mijung tersenyum. Woobin masih sama seperti dulu, pikirnya. "Aku ingin membelikan sesuatu untuknya. Apa kau sibuk?"
"Untuk adikmu?" Woobin mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah, ayo beli sesuatu untuknya." Mijung mulai mengemasi barang-barangnya lalu keduanya pergi dari cafe itu.
"Tempat ini tidak banyak berubah." Woobin berjalan sembari memperhatikan bangunan disekitarnya sementara Mijung yang berjalan disampingnya hanya diam.
"Woobin." Si pemilik nama menoleh pada Mijung. "Apa yang membawamu kesini?"
"Aku pikir hubunganku dengannya benar-benar tidak baik. Jadi aku kesini untuk memperbaikinya." Mata Woobin menerawang jauh, ia tersenyum tipis. "Aku akan membawa Wonwoo kembali ke Jepang."
Dan tepat setelahnya langkah kaki Mijung terhenti.
.
.
.
.
[TBC or END?]
Hah...setelah lama gak update akhirnya chapter 11 selesai. Maafkan. Feeling sih. Chap ini gak memuaskan. Hah sudahlah.
Jadi ceritanya kwonhosh lagi gak ada ide wkwk soalnya otak ini sudah kering akibat try out yang akan berlangsung 3 minggu berturut-turut. Ada yang mau nyemangatin? Gak ada? Baiklah.
Oh ya, ada yang mau kasih ide couple apa yg mau dibikin shortficnya? Mau bikin shortfic dulu deh-_- kwonhosh lelah dengan Find You. Tamat aja kali yak chap ini wkwkwk ngatung ngatung gitu kayak celana jaman smp kan lucu xD
REVIEWNYA TERIMA KASIH BANYAK WKWK GAK BISA NYEBUT SATU-SATU MASA:')) YANG JELAS KALIAN PARA KWONRANGER SUNGGUH LUAR BIASA. REVIEW LAGI ATUH HEHE YANG SILENT READERS TOLONG TUNJUKAN DIRIMU. SHOW ME THE MONEY(?)
.
KWONHOSH PADAMU READERS!
.
.
.
REVIEW GO GO GO!
