Chapter 10 amat sangat panjang sehingga dibagi menjadi dua part (part a dan part b). Saya belum sempat mengecek typo-nya, jadi mohon maaf bila ditemukan banyak typo-typo berhamburan. Mohon maaf juga update-nya lama. Iyaaaa super lama hihihi. Oke lah selamat membaca.

REMOVE

Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.

Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya

.

.

.

.

.

© Masashi Kisimoto

Mohon kebijakannya dalam membaca. Semua adegan hanya fiktif belaka.

.

Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, criminal, alur tidak menentu

Rated : M (language and content)

Pairing : Naruto-Hinata

Story : Atharu

REMOVE CHAPTER 10 a

Selamat menikmati dan jangan lupa review

.

.

.

.

.

.

.

Urusannya di Hokkaido hampir selesai, beberapa dokumen penting sebagai bukti adanya penipuan yang dialami oleh Ms. Konan sudah rampung dibereskan. Tidak sampai berbuntut ke pengadilan, mafia-mafia kecil yang terlibat pun enggan terseret lebih jauh lagi. Sudah tidak adanya bekingan dari mafia kelas kakap berhasil memukul mundur mental mereka menghadapi prodigy macam Naruto.

Naruto menyeringai puas, semakin cepat dia menyelesaikan urusan di sini maka semakin cepat pula dia akan kembali pulang. Kesabarannya sudah semakin menipis. Dia hanya bisa menghubungi keluarganya lewat layar portable. Memang cukup membantu tapi tidak cukup untuk menekan rasa rindu yang telah membuncah. Lamunannya tentang Hinata serta Boruto tiba-tiba buyar saat Ms. Konan duduk di depannya dan menyerahkan sebuah piring berisi cup muffin vanila dan waffle bertabur mentega cair serta segelas ocha hangat.

Mereka sedang duduk di dalam kafe, renofasi masih berjalan dibagian sudut-sudut yang membutuhkannya. Untuk kali ini, Naruto menawarkan kerja sama sungguhan dalam bentuk gabungan café dengan fasilitas tambahan berupa penginapan tradisional.

Meskipun untuk membangun penginapan sendiri masih membutuhkan waktu dan perencanaan lebih lama. Namun untuk saat ini rencana pembukaan café adalah agenda pertama.

Cafe belum resmi buka namun Kiba dan beberapa pegawai telah datang untuk mempersiapkan pembukaan esok hari. Mereka menata interior semenarik mungkin, mengecek barang ataupun benda yang perlu dibeli. Para pelanggan setia sudah banyak yang menanyakan perihal kapan pembukaan café.

"Aku berhutang terima kasih padamu. Kupikir rumor yang menyebutkan dirimu seorang berhati dingin tidak lagi relevan." Ms. Konan menyesap lemon tea dengan tenang. Naruto hanya tersenyum miring menimpalinya.

"Sejujurnya aku tak peduli dengan pemikiran orang lain di luar sana. Bagiku cukup hanya orang terdekatku saja yang mengerti diriku." Rasa lumer vanilla kue muffin di dalam mulutnya membuat Naruto berpikir bahwa dia sudah menjadi penggila kue. Mungkin dia bisa memesannya untuk dibawa pulang. Hinata pasti akan menyukainya. Ah, bukankah putra pertamanya juga penikmat kue dan coklat? Kalau tidak, darimana ia mendapatkan pipi bulat seperti itu.

"Jadi, bagaimana kabar Hinata dan Boruto?" Sorot mata Ms. Konan berubah teduh dan keibuan. "Dia sudah kuanggap anakku sendiri sejak pertama Hinata datang." Sudah berapa tahun sejak dia bertemu dengan Hinata, enam tahun? Mungkin lebih.

"Mereka baik-baik saja, aku telah memberikan nomer yang bisa anda hubungi bila setidaknya ingin mendengar suara mereka." Dia tidak keberatan bila ingin bertemu namun tidak dengan Hinata yang datang ke sini. Tidak untuk saat ini. Naruto tidak bisa melonggarkan pengawasannya pada Hinata apalagi sejak terlontar ancaman dari pria berambut pucat –Toneri.

Ms. Konan memahami meski tanpa dijelaskan oleh Naruto panjang lebar. Mungkin bila ada kesempatan dia yang akan datang berkunjung. "Ada sesuatu yang ingin kuberikan." Sebuah buku tebal diambil Ms. Konan dari dalam handbag-nya. "Kau terlalu terburu-buru membawa Hinata hingga ada barang penting yang tertinggal." Dia menyodorkannya. "Album foto milik Hinata yang berada di lokernya. Dia tidak sempat mengambilnya. Di dalamnya ada hal-hal yang kurasa perlu untuk kau ketahui."

Tangan Naruto menyongsong mengambilnya. Album berpita kuning dan ungu di bagian sampulnya menegaskan bahwa Hinata sendiri yang membuatnya. Naruto membukanya dari halaman awal, sebuah foto dimana Hinata memasang pose tersenyum diantara rekan-rekannya berlatar belakang cafe ini. Mata Naruto menyorot pada tanggal yang tertulis, itu sekitar tiga bulan setelah dia mengusir Hinata. Naruto membisu. Ingatanya terlempar di saat dia masih menjadi pria labil hanya karena merasa cemburu. Dia bahkan membakar foto pernikahan mereka meski sekarang sudah kembali dia cetak dan pasang.

Di lembar yang lain tercetak foto istrinya dengan latar perkebunan, Hinata memakai baju violet longgar sedang berdiri sambil membawa beberapa batang bunga matahari. Senyumnya selalu tipis dan melebar, namun tetap terlihat simpel dan cantik. Perutnya nampak sudah besar. Kemungkinan hamil tujuh bulan.

Naruto mengusapnya pelan seolah dia menyentuhnya secara langsung, hatinya bergetar. Dia merasa melihat hari-hari dimana dia melewatkan segala hal tentang istrinya dulu. Apalagi saat beberapa foto menunjukkan sebuah kamar di rumah sakit dengan Hinata duduk di sebuah ranjang, menggendong bayi merah di dadanya. Apakah itu di saat Hinata melahirkan Boruto?

"Kau tidak apa-apa?" Ms. Konan melihat beberapa kali Naruto melamun lalu wajahnya berubah menjadi sendu dan muram. Sangat kontradiktif dengan pembawaannya yang sempurna nyaris tanpa celah.

"Apa ini saat Boruto lahir?" Ms. Konan melihat dimana jari telunjuk Naruto menunjuk. Ms. Konan mengangguk. Ia sendiri yang mengambil foto sesaat beberapa jam setelah Hinata siuman setelah melewati persalinan. Bayi yang cukup montok dan sehat berhasil lahir dengan selamat. Ms. Konan masih mengingat wajah kelelahan dan pucat Hinata merekah ketika menyambut bayinya.

"Putra pertamamu lahir lewat operasi. Hinata awalnya ingin melahirkan normal, namun ukuran bayi yang terlalu besar dibandingkan jalur keluarnya membuat Hinata mengalami pendarahan hebat beberapa kali. Itu malam yang menegangkan. Ada saat di mana dia akan merintih menyebut namamu." Kenang Ms. Konan. Beberapa dokter menanyai mengenai keberadaan suami Hinata untuk meminta persetujuan tindakan cesar sekaligus memberikan semangat. Namun itu tidak pernah terjadi. Sosok pria yang seharusnya mendampingi ketika masa persalinan nyatanya melarikan diri.

"Kurasa dia benar-benar mencintaimu meski kau pernah membuat hidupnya berantakan."

Jantung Naruto terhimpit mendengarnya. Dia tidak tahu sama sekali tentang bagaimana Hinata melewati itu semua. Bahkan dia pernah mengatakan hal buruk pada bayinya sendiri. Naruto merasa dia begitu berdosa sekarang. Bahkan apa yang telah dia perbuat untuk Hinata dan Boruto saat ini masilah sangat kurang pikirnya.

"Bisakah aku menyimpan ini? " Naruto berujar dengan suara berat. Ini berisi foto paling berharga. Dia ingin mematri baik-baik, membayangkan bagaimana jika seandainya dia berada di salah satu foto itu. Atau bagaimana bila waktu dapat di putar kembali lagi? Naruto menggeleng, seorang Hinata memang terlalu baik baginya. Setiap tarikan napasnya dia merasakan penyesalan.

"Kudengar kalian telah menikah kembali, jadi kurasa album itu milikmu juga. Jaga putriku, kau pernah melepaskannya satu kali. Kuharap tidak ada lagi hari dimana kau meninggalkannya." Memang dirinya bukan orang tua kandung dari Hinata, tapi setidaknya dia harus memastikan kebahagiaan putri angkatnya itu. Memberikan Hinata pada orang yang tepat.

Mata beriris biru menatap penuh keyakinan. "Kujanjikan itu dengan nyawaku sendiri." Dia menjabat tangan Ms. Konan. Mungkin dia akan membawa Hinata dan Boruto berlibur ke sini. Naruto berkeinginan untuk mengenal lebih dalam mengenai apa yang sudah dia lewatkan.

.

.

.

Hari terakhir dia di Hokkaido, Naruto habiskan dengan meninjau beberapa spot untuk melebarkan bisnis. Dia tertarik dengan pariwisata dan kulinernya. Selama di sini, Kakashi selalu menemaninya meski lebih banyak waktu yang dihabiskan pamannya itu untuk berjalan-jalan di siang hari lalu kembali ke hotel saat makan malam. Entah apa saja yang dilakukannya. Lagi pula ini bukan perjalanan bisnis resmi. Pamannya bebas melalang buana.

Sesampainya di hotel setelah melakukan beberapa peninjauan, Naruto langsung merebahkan diri. Dia merasa lemas juga mulas. Sudah seharian dia merasakan gejala ketidak sehatan dalam tubuhnya. Tidak hanya sekali dia muntah melainkan beberapa kali. Paling parah ketika malam menjelang. Tubuhnya tidak demam, namun area perutnya berubah menjadi lebih sensitif. Apapun jenis obat pereda mual yang dia beli sama sekali tidak memberikan pengaruh, malah keinginan untuk memuntahkan isi lambung menjadi berkali-kali lipat.

Telepon di atas kasur berdering. Naruto mengira itu hanya telepon mengenai urusan pekerjaan tapi saat Naruto melihatnya, foto Hinata yang tengah memangku Boruto muncul dilayar panggilan. Naruto buru-buru menggeser layar ponselnya ke arah warna hijau. Dia senang Hinata menghubunginya.

"Naruto, kau sudah makan?" Hal pertama yang selalu Hinata tanyakan adalah sudah makan apa belum dirinya.

"Hmm. . ." Tenaganya masih belum pulih. Selain mual dan pusing dia juga merasa lelah. Tenaganya tersedot entah kemana. Dinginnya keringat menuruni tulang pipi sampai ke ujung dagu. Naruto lebih senang terlentang di atas ranjang, mengapit bantal lalu memejamkan mata membayangkan ada istrinya yang akan meladeninya. Otot-otonya sedang malas untuk digerakkan. Dia yakin bila dia keterusan seperti ini maka dia harus merelakan otot-otot tubuhnya yang terbentuk kokoh akan luntur menjadi timbunan lemak.

"Suaramu terdengar kurang jelas, apa kau sedang berada di tempat keramaian?"

"Hinata, aku sakit."

"Hah?" Naruto mendengar suara 'klontang' di seberang, mungkin Hinata menjatukan sesuatu.

"Aku mengeluarkan isi perutku sejak tadi. Sudah meminum obat yang kubeli di apotek namun aku masih terus muntah. Rasanya lidahku benar-benar pahit. Paman Kakashi telah memanggilkan dokter namun tidak ada perubahan sama sekali. Rasanya lambungku mengejan ingin memuntahkan segala jenis makanan yang kupaksakan masuk. Bahkan kini hanya cairan yang keluar." Aduhnya seolah dia berada dalam keadaan paling menyedihkan. Suaranya sudah dibuat seserak mungkin –tapi dia memang sedang sakit. Naruto menunggu beberapa saat ketika Hinata mengubah panggilan mereka menjadi panggilan video.

"Kenapa kau tidak bilang sedari awal? Kau memaksakan dirimu. Apa aku perlu menyusul ke sana?"

Naruto menyaksikan Hinata berada di kamar putra mereka. Dia panik di sana. Naruto terdiam memikirkan apa yang Hinata ucapkan. Apa barusan dia mendengar istrinya itu akan datang sendirian ke sini? Buru-buru Naruto bangkit tak peduli bila kepalanya berdenyut lebih ngilu.

Mana mungkin dia membiarkan Hinata datang sendirian. Lebih baik dia kembali ke Tokyo malam ini daripada harus Hinata yang ke sini.

"Tidak usah! Tidak perlu!" Naruto tidak sadar bahwa Hinata memandangnya khawatir. Wajah kecoklatannya menjadi lebih pucat. "Sayang, aku sudah berjanji padamu akan menyelesaikan hal ini dengan cepat. Ingat, bahwa kau tidak boleh kemana-mana tanpa ijin dariku."

"Tapi kau sakit. Matamu bahkan tidak fokus untuk melihatku." Ada kantung hitam di bawah mata Naruto. Suaminya butuh istirahat, Hinata merasa menyesal tidak berada di sampingnya.

"Ini hanya efek kamera serta lampu kamar yang sengaja kubuat redup. Aku sudah membaik. Besok ketika kau membuka mata aku sudah ada di sana. Jadi, tetap di tempatmu Uzumaki Hinata." Tekannya memastikan Hinata paham. "Ini bukan sakit yang parah kok. Aku janji setelah tidur, keadaanku akan jauh lebih baik." Bujuknya lagi, kali ini dengan nada yang setengah memaksa. Hinata hanya perlu tahu dirinya bisa menjaga diri atau istrinya akan nekat menyusulnya.

"Siapa yang sakit, Mama? Apa itu Papa?" Boruto mengucek matanya dan menjauhkan selimut bergambar ruba. Putranya memanjat naik ke pangkuan Hinata. Wajah bulat kemerahannya sudah sangat dirindukan Naruto. "Cium Papamu, nak." Suruh Hinata. Boruto menurut. Bibirnya manyun memenuhi layar portable. Naruto terkikik geli, dia membalasnya dengan merentangan tangan seolah memeluk tubuh buntal putranya.

"Kenapa belum tidur?"

"Sudah hampir tidur tapi karena mendengar suara Papa, aku jadi tidak ingin tidur hehe." Boruto menyandarkan kepalanya di belahan dada Mamanya. Naruto memandang lurus. Lihat, mereka begitu dekat dan hanya dirinya yang terperangkap di sini sendirian. Naruto membatin penuh keirian. Andaikan dia di sana, sudah tentu dia akan melakukan hal yang sama. Dia juga rindu akan belaian istrinya. Wajah Naruto sedikit memelas.

"Kau sudah minum susu?" Boruto mengangguk. "Sikat gigi?" Boruto mengangguk lagi menjawab semua pertanyaan Papanya. "Anak pintar. Segera tidur, besok Papa sudah pulang dan membawa oleh-oleh untukmu dan kita bisa bermain kembali."

"Tidak Pa, Papa istirahat saja. Kata Mama kalau ada orang sakit harus banyak istirahat dan minum air putih. Iya kan Ma," Boruto menengadah ke Hinata, Hinata mengangguk selagi menepuk-nepuk pelan kepala Boruto.

Naruto merasa terharu. Kenapa putranya bisa tumbuh secepat dan sedewasa ini. Naruto berharap agar Boruto tetap menjadi anak kecil yang bergantung padanya. "Baiklah, Papa rasa ini sudah larut. Segera tidur jagoan. Papa mencintaimu."

"Selamat tidur Papa."

Setelahnya layar kembali memperlihatkan Hinata. "Istirahatlah. Kau sudah bekerja terlalu keras."

Naruto tidak langsung mematikan sambungan. Dia masih ingin melihat istrinya, memastikan bahwa wanita yang dia nikahi di sana dalam keadaan baik-baik saja. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu hingga rasanya aku ingin melompat ke arahmu sekarang. Bahkan pikiranku menjadi sangat liar ketika melihatmu memakai baju tidur seperti itu." Hinata menanggapinya sambil menutup sebagian wajahnya merasa malu. Dia mengecilkan volume speaker karena takut Boruto akan mendengar hal yang belum waktunya.

"Ka-kalau begitu segera pulang. Kau bisa melakukannya saat sudah di sini. Dan aku mempunyai kejutan untukmu." Bisiknya meremat ujung piyamanya karena gugup dan langsung mematikan sambungannya.

Bibir Naruto menyunggingkan senyum melihat Hinata buru-buru mematikan telepon mereka. Dia melihat tiket pesawat di atas laci, penerbangan paling awal sudah dia pesan. Mungkin dulu bepergian jauh merupakan hal paling lumrah dan sudah menjadi kebiasaannya, tapi ketika sudah berkeluarga seperti ini, dia mulai mengurangi kepadatannya dalam menjalin relasi. Selagi masih bisa diwakilkan itu sudah cukup.

Lagi pula cuddling dengan Hinata terasa lebih menarik untuk dilakukan. Naruto menggaruk tengkuknya merasa gerah, dia sudah seperti pria yang haus sentuhan bila membayangkan Hinata kembali. Hanya tinggal malam ini saja, lalu malam-malam selanjutnya dia tidak akan kesepian.

.

.

.

.

Dan Naruto menepati janjinya untuk pulang cepat. Dia mengambil jadwal penerbangan paling awal. Sebelum jam enam pagi dia sudah sampai di rumah. Semua bingkisan Naruto keluarkan dari bagasi, dia menentengnya masuk ke dalam. Lampu rumahnya masih temaram, jendela juga belum dibuka. Mungkin Hinata sedang di kamar atau membangunkan Boruto.

Naruto menyeret kakinya perlahan. Tanpa perlu mengetuk karena dia memiliki kunci cadangan. Dia meletakkan tas berisi buah tangan di ruang tengah. Pertama yang dia lihat adalah kamar Boruto karena jaraknya yang paling dekat. Naruto memutar knop pintu, sebuah buntalan selimut dengan rambut kuning di ujungnya sudah tentu milik Boruto. Bocah itu masih terbuai dalam mimpinya. Naruto memberikan kecupan di kening, lalu mencium pipi bergurat bantal putranya.

Boruto mengerjap. Dia mengucek matanya dengan gerakan malas.

"Sayang, sudah pagi. Kau harus bersiap ke sekolah."

Boruto hanya membuka matanya tidak lebih dari semenit sebelum kembali memejamkannya. Dia menggeser dirinya untuk bisa tidur di gendongan Ayahnya. "Nanti, Pa. Masih pagi. Sekolah dimulai jam delapan." Bermanja dengan Papanya lebih jarang dilakukan dibandingkan dengan Mamanya. Jadi, sewaktu ada kesempatan untuk melakukannya, Boruto ingin memiliki waktu yang cukup lama. Tubuh Papanya terasa sangat lapang dan Boruto betah berlama-lama.

Sambil membenahi rambut berantakan putranya, Naruto tetap menyuruh Boruto untuk segera membersihkan badan. "Walaupun jam delapan, tapi kau tidak akan sempat bila tidak segera mandi sekarang juga. Mama bisa marah bila kau tidak segera bangun."

"Tapi Mama juga belum bangun. Mama sejak kemarin selalu bangun kesiangan."

Alis Naruto mengernyit. Tidak biasanya Hinata bangun lebih dari ini. Dia menjadi ibu rumah tangga yang disiplin dalam urusan kesejahteraan penghuni rumah. Apalagi cuma urusan bangun pagi. "Mungkin Mama sedang lelah. Kau mandi dulu ya, biar Papa ke kamar untuk membangunkan Mama."

Naruto mengambil handuk lalu menyerahkannya pada Boruto. "Sekarang kau ke kamar mandi, sikat gigi, gunakan sabun dan jangan lupa untuk mematikan kran jika selesai digunakan." Naruto sudah menghapal runtutannya seperti ucapan Hinata ketika menyuruh putra mereka mandi. Boruto mengangguk paham. Dia turun dari ranjang dan berlari kecil bergegas ke kamar mandi.

Tujuan Naruto selanjutnya yakni kamar utama. Bila di kamar Boruto terlihat lebih berantakan maka tidak di kamar luas ini. Kamar mereka. Jendela meski sudah dibuka untuk sirkulasi udara namun pencahayaanya masih minim hingga terlihat temaram. Naruto melihat punggung istrinya begitu jelas. Hinata tidak mengenakan piyama yang biasa dia kenakan. Sebagai gantinya dia memakai kemeja biru yang Naruto yakini adalah kepunyaannya. Terlihat jelas dengan size besar yang kedodoran di tubuh Hinata.

Naruto menggeser selimut, menyisipkan dirinya di samping istrinya lalu memeluknya. Menelusupkan kepalanya di tengkuk Hinata lalu menyenderkan kepalanya di bahu belakang istrinya. Naruto benar-benar merasa telah pulang.

"Ughhn . . ."

Naruto tahu Hinata merasa terganggu. "Apakah istriku tidak ingin menyambut suaminya pulang?" Dia sengaja bernapas di dekat tengkuk Hinata. Mengendusi bagian kulit terluarnya seperti kumbang yang mencari sari nektar.

Hinata spontan membuka matanya. Dia tahu seseorang tengah mendekapnya. Lengan kokoh dan bau citrus membuatnya langsung membalikkan badan. Sosok pria berpostur tinggi besar dengan garis wajah tegas dan sepasang bola mata biru mirip Boruto tengah menatapnya jahil. "Naruto?" Hinata masih berusaha beradaptasi setelah memaksa bangun secara mendadak. Pandangnnya berdisorientasi setengah buram. Sambil mengucek, Hinata melihat ke arah jam yang ternyata telah menunjukkan pukul enam.

Dia kembali terlambat bangun. Sudah dua hari ini kebiasaan bangun paginya susah dilakukan.

"Apakah tidurmu begitu nyenyak tanpa kau sampai tidak menyadari kepulanganku?" Naruto berpura-pura kesal. Dia menghembuskan napas seperti mengerung. Tapi itu tidak berlangsung lebih dari lima detik. Mata Naruto mengerjap beberapa kali. Ke dua bola matanya membeliak meski tidak terlalu lebar ketika Hinata secara tiba-tiba menimpahkan tubuhnya hingga keduanya saling tindih –dengan Hinata yang berada di atasnya.

Tubuh yang lebih kecil menggeliat seolah mencari kehangatan di dada bidang Naruto.

Naruto menarik napasnya dan tersenyum lebar. Dia sudah kalah.

"Kau merindukanku hingga tidur dengan memakai bajuku?" Tanyanya bersuara rendah. Hinata mengangguk, tubuhnya semakin menempel hingga Naruto merasakan dua benda kenyal menekan lembut dadanya.

Ssshhh, Naruto mendesis dalam hati sambil matanya terpejam. Dia tidak akan mengambil Hinata sepagi ini. Naruto merubah posisi menjadi duduk. Hinata dia biarkan tetap memeluknya dengan kaki yang melingkari punggungnya. Mirip seperti Koala.

"Uggh," Naruto berpura-pura dia baru saja kejatuhan benda berat, namun tetap dia dekap. "Coba lihat, kenapa dirimu terasa lebih berat?"

"Naruto menyadarinya?" Hinata mendongakkan kepala. Apa memang sangat terlihat perubahan pada dirinya? Hinata tidak sabar untuk memamerkannya. Jemarinya memilin kancing depan Naruto. Sudah tentu pria berkepala tiga itu menelan ludah merasa kepanasan.

"Bukan perubahan yang buruk. Aku suka melihatmu seperti ini." Tangannya menyentuh pipi dan lengan Hinata. Mulai lebih lembut dan terasa empuk. "Dulu terlihat tirus dan sedikit kurus, sekarang nampak lebih berisi. Apa ini kejutan yang kau maksud semalam? Kau sedang melakukan program untuk menaikkan berat badan dan berhasil mendapatkan tubuh ideal?" Naruto mengangguk-angguk seolah dia benar dalam menduga. Meski matanya tanpa sengaja dan terlalu lama melirik ke arah dada Hinata yang terlihat lebih membengkak dari terakhir yang dia lihat. Tapi Naruto berpura-pura tidak tahu, dia tidak akan mengucapkannya secara terang-terangan.

Raut wajah Hinata mendadak masam. Awalnya Hinata sudah berharap suaminya akan paham atau setidaknya menyadari dibalik perubahan tubuhnya. Tapi jawaban Naruto justru membuat mood-nya terjun bebas. Bahkan bisa diartikan suaminya ini berkata bahwa dulu dia sangat kurus dan tidak menarik sama sekali. "Jadi yang kemarin-kemarin aku seperti tongkat kayu yang berjalan begitu?" Todongnya sarkartis. Dirinya hampir saja beranjak namun kembali tetap di tempat ketika Naruto menahan dengan cara merangkul bagian pinggang.

"Kenapa sekarang kau terlihat marah?"

"Aku tidak marah!" Hinata memalingkan wajahnya.

Bohong sekali, batin Naruto. "Itu suara orang yang marah, see. Juga kerutan di keningmu tidak bisa berbohong." Hinata menepis tangan Naruto saat akan mencapai wajahnya. Naruto tidak membiarkan Hinata lolos. Dia memerangkapnya dalam posisi saling berhadapan. Memaksa agar Hinata duduk di pangkuannya kembali. Dia menyukai posisi ketika mereka saling dekat seperti ini. Hidungnya bisa leluasa menyentuh hidung yang lebih kecil milik Hinata. Hampir saja Naruto mengigitnya jika Hinata tidak cepat-cepat memalingkan wajah.

"Baiklah. Kemarin kau terlihat cantik, hari ini istriku masih tetap cantik dan manis. Lalu hari-hari berikutnya hingga sampai kapanpun aku akan tetap mencintai wanita di depanku ini tidak peduli bagaimanapun perubahan penampilannya." Naruto menangkap sekilas raut wajah istrinya tersenyum sembunyi-sembunyi. Mata belo-nya melengkung membentuk bulan sabit. Senang rasanya bisa menyenangkan istrinya yang masih muda.

"Sudah tidak marah kan?"

"Siapa yang marah juga." Elaknya. Tidak ada lima detik, kadar emosional Hinata telah berganti. Naruto mungkin harus membiasakan dirinya terhadap sifat angin-anginan istrinya . Salah satu tangan Hinata menarik sebuah benda dari samping bantal. Sebuah bingkisan berpita lebar diserahkannya pada Naruto. "Bukalah."

Naruto menarik simpulnya, gulungan pembungkusnya mulai terurai. Mata birunya melihat benda persegi panjang tipis di bagian ujungnya berada dalam genggamannya. Naruto tahu nama benda ini. Dia bahkan sempat membelinya dalam jumlah banyak. Sebuah tes pack, DENGAN DUA GARIS!

"Apa kau menyukai kadonya, Papa?" Bibir Hinata membisiki telinga Naruto. Bertanya setengah menggoda dengan menyebut panggilan Papa menjadi lebih menggoda. Ada desiran aneh di tubuh Naruto, bulu kudunya meremang kemudian dia tegang.

"I-ini. . . Sejak ka-kapan?" Suaranya jelas bergetar. Bukanya belum percaya namun ia menerima bukti tanpa ada persiapan. Naruto merasa ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya hingga kesulitan berkata-kata. Dia menelan ludah, berusaha menormalkan pita suaranya meski denyut jantungnya ikut tak karuan. Naruto terkejut. Ini lebih dari sebuah kado. Naruto seperti mendapatkan keajaiban, karunia.

"Bukankah hasilnya negatif?" Naruto tidak lupa jika setahunya Hinata telah mengecek kehamilannya –bahkan dengan disaksikan dirinya sendiri dan hasilnya negatif.

"Aku mengeceknya lagi kemarin. Bahkan Ibu juga mengantarku ke rumah sakit. Kehamilan awal memang sedikit susah terdeteksi." Wajah Hinata lebih cerah karena bahagia. Pipinya nampak penuh dan membentuk lengkungan manis saat tersenyum apalagi sewaktu tertawa.

Rambu gelapnya tersampir di belakang telinga, tangan mengelus permukaan perutnya yang masih tertutupi garmen kemeja. "Dia masih muda, usinya baru menginjak minggu ke empat." Senyumnya mengingatkan Naruto pada sosok Hinata yang berada di foto. Tersenyum seperti malaikat. Hinata yang sekarang menjelma begitu memikat. Begitu muda membuatnya untuk jatuh terjerat.

Pria dewasa itu mematung untuk beberapa saat.

Bunyi detik jam mengisi keheningan mereka sebelum Naruto berkata "Ja-jadi kau hamil?"

Sekali lagi Naruto mencoba memastikan. Hinata mengangguk gemas. Dia antusias menyampaikan kabar gembira ini. Seharusnya ia mempersiapkan kejutan ini lebih dramatis lagi tapi dia tidak memiliki ide sama sekali. "Kita mendapatkan anak ke dua." Jawabnya membuat Naruto langsung mendekap Hinata lalu merengkuhnya erat –namun tetap memberikan jarak aman di bagian perutnya.

Setelah Boruto, mereka akan kembali mendapatkan Matahari kecil. Little sunshine. Mata Naruto memanas, belum pernah ia merasakan seemosional ini. Meskipun dia pria dewasa berkepala tiga namun Naruto tidak bisa lagi mengontrol kebahagiannya hingga beberapakali dia meneteskan air mata. Naruto menjadi sangat sensitif kali ini. Mungkin dia terlambat untuk bisa merasakan perasaan menjadi seorang Ayah. Tapi sekarang semuanya berbalik nampak begitu menakjubkan.

"Bagaimana perasaanmu?"

Bagaimana perasaannya? Naruto jujur akan menjawab tidak tahu. Tapi, "Seolah ada kembang api di dalam sini." Tunjuk Naruto di dada kirinya. "Aku pernah kehilangan waktu cukup banyak untuk Boruto, lalu kali ini Tuhan berbaik hati memberiku kesempatan. Kali ini aku tidak akan melewatkannya. Kesempatan untuk menjadi seorang Ayah lagi."

Hinata tertawa. Suaranya terdengar nyaring mirip lonceng. Naruto betah mendengarnya. "Lalu kemarin kau mengeluh sakit. Apakah sekarang kau masih sakit?" Tanya Hinata. Sebelah wajah Naruto dibelai secara bergantian.

Kornea violet pucat istrinya selalu membuat Naruto berpikir bahwa wanita yang dia nikahi merupakan sosok golongan peri atau putri dari negeri dongen entah beranta.

Bidadari? Snofwelf? Ah, bukan-bukan. Istrinya bahkan lebih dari itu semua.

"Sudah tidak pucat lagi." Komentar Hinata. Ia mengamati sekujur tubuh suaminya. Kulit Naruto memang tidak seputih orang Jepang pada umumnya. Warna kulit tan kecoklatan ditunjang dengan surainya kuning pirang seolah hasil peranakan campuran dari beberapa benua lain. Apalagi sorot mata biru tajamnya. Demi Dewa, itu sangat seksi. Hinata betah terusan mengamati detail kesempurnaan suaminya. Beberapa penampilan fisiknya diturunkan ke Boruto, Hinata menduga-duga sekiranya nanti anak ke dua mereka akan mengambil gen dominan suaminya atau dirinya. Menyenangkan sekali menebak-nebak rupa anaknya kelak.

"Kenapa kau melamun?" Naruto menggesekkan ujung hidungnya di pelipis Hinata. Mencium kening lalu bulu mata lentiknya. Saat sampai di sudut bibir Hinata, Naruto menjulurkan lidah menjilatnya sebelum melumat beringas meski tak berlangsung lama.

"Kurasa mualmu kemarin-kemarin karena kau mengalami . Aku yang hamil kau yang menanggung semua gejalanya." Yakin Hinata. "Anak ini mungkin tahu siapa yang harus direpotkan."

Kalau boleh jujur, Hinata memang memiliki pengalaman kehamilan pertama yang sedikit merepotkan. Ada di saat-saat tertentu dia akan menjadi bukan dirinya. Namun sekarang biarlah semua ditanggung oleh Naruto.

"Sejak kau hamil, Hinata jadi suka bercerita dan tertawa. Sangat ceria sekali, ya. Kalau tahu begini, lebih baik kuhamili saja dirimu sejak dulu." Hinata memberengut. Dia menekan sikunya ke rusuk Naruto, sengaja dikeraskan memang. Naruto sedikit mengadu kesakitan –meski itu hanya pura-pura, tapi dia tidak menghindar. Dia sudah tahu harus bagaimana menghadapi pasanganya dengan benar.

Pria itu lalu mengambil tempat untuk berbaring di paha Hinata. Dia memeluk perut istrinya. Hatinya masih mengagumi akan adanya kehidupan baru yang sedang tumbuh di sana. Tangannya menyelusup di balik kancing kemeja yang sudah dia buka. Membelai bagian abdomen seolah bagian itu mudah pecah dan butuh perlindungan lebih.

Hamparan kulit putih wanita yang sudah memberinya satu putra ini tak luput dari sorot Naruto. Naruto gatal untuk melukisinya menggunakan hisapan bibir. "Baik Boruto dan anak kita selanjutnya, aku ingin menemanimu merawat mereka dan menyaksikan setiap perkembangan mereka. Mungkin akan terasa sangat cepat, bahkan pertemuan denganmu rasanya baru kemarin. Lalu kini aku sudah menjadi seorang suami dan akan menjadi Ayah dari dua anak kita."

"Dan rasanya baru kemarin kita saling membenci dan sekarang kita berakhir kembali hidup dalam satu atap." Naruto mengangguk menanggapi Hinata. Pria itu mendorong dengan halus belakang kepala Hinata untuk lebih menunduk. Dia melumat bibir merah itu. Menekan-nekan seperti jelly kenyal lalu meneroboskan lidahnya. Mereka bukan lagi berciuman melainkan saling melumat satu sama lain hingga terdengar bunyi –

'Clekk'

"Ah, . . ." Kushina merasa dia datang di waktu yang salah. Wanita berusia lanjut yang telah menjadi nenek seorang cucu ini sudah terbiasa datang mengunjungi rumah keluarga Naruto di pagi hari selagi putranya berada di luar kota. Apalagi dengan kondisi menantunya yang kembali mengandung. Kushina mengira Hinata masih tertidur untuk beristirahat lebih.

Terlebih di belakangnya sudah mengekor bocah kecil duplikat Naruto.

Namun matanya terlanjur menangkap sosok suami istri itu sedang memadu kasih –hampir saling menindih. Kushina tenganga. Antara harus memaklumi atau memaki Naruto karena membuat Hinata terlalu membungkuk.

" –Ibu hanya ingin bilang bahwa putra kalian berdiri terus di depan pintu." Beruntung dia dapat menghalangi bocah kecil di belakangnya agar jangan sampai melihat apa yang sedang dilakukan kedua orangtuanya. "Dan, dia mengeluh lapar. Ibu rasa kalian sedang tidak ingin diganggu, jadi Boruto bisa sarapan dulu dengan ibu."

Hinata mendorong Naruto sedikit menjauh. Dia turun dari ranjang dengan tergopoh. Sekalian mengancingi kancing kemeja sembarangan. "Biarkan aku membantu menyiapkan sarapan. Ibu tunggu saja di meja makan dengan Boruto. Aku telah menyiapkan beberapa makanan yang bisa langsung di masak." Hinata merasa sungkan. Kushina sering berkunjung ke rumah dan melakukan beberapa hal yang masih bisa dilakukannya sendiri.

"Bukan masalah." Tangan kanan Kushina mengibas seolah itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. "Kau memiliki hal lain yang lebih penting untuk diurus." Matanya menyipit telak ke arah Naruto. Pria itu menggosok belakang lehernya gusar. Jelas sekali merasa terganggu.

"Lihat wajah suamimu, dia terlihat kesal saat kau menjauh. Mungkin dia begitu menginginkanmu. Tapi, ingat sayang kandunganmu masih trimester pertama. Jika anak itu sudah tidak kuat untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya, suruh saja memainkan tangannya atau bilang memang kalian sama-sama ingin usahakan jangan banyak guncangan, ne." Bisik Kushina yang diterima Hinata dengan wajah merah padam.

"Mama," Rengekan Boruto membuat dua wanita melihat ke arahnya. "Bisakah sekarang makan?" Boruto sudah berpakaian rapi lengkap dengan wangi minyak telon yang sudah bisa dia balurkan sendiri setelah mandi tadi.

Suara yang lebih berat menyahut Boruto. "Tunggulah di meja makan. Nenek dan Mama akan menyiapkannya. Sekarang kau bersama Papa terlebih dulu, hmm?" Sejak tadi diam, Naruto melangkah lalu berjongkok di depan Boruto. Dalam satu gerakan, badan kecil namun berisi milik Boruto sudah berada dalam gendongannya. Boruto memekik senang. Sosok Papanya begitu mengagumkan. Selagi menunggu, Boruto terus memaksa Naruto untuk bercerita mengenai Hokkaido. Boruto lahir di sana, tentu saja dia rindu tempat penuh kenangan itu.

"Kata Mama itu tempat Mama lahir. Di sana saat musim panas ada kebun bunga Matahari yang sering sekali aku dan Mama kunjungi."

"Bahkan kata Mama, sewaktu mengandung Boruto. Mama sering ke sana. Tempatnya saaaangat indah!" Tangan kecilnya membentang seolah mengatakan seluas apa kebun bunga di sana. Boruto ingat beberapa potongan kenangan bersama Mamanya menikmati musim panas. "Ada festivalnya, banyak sekali orang yang berjualan dan yang paling seru saat bersepeda mengelilingi kebun bunga!"

Naruto jadi teringat foto yang diberikan Ms. Konan. Mungkin itu tempat yang sama dengan yang Boruto ceritakan. Naruto berpikir akan menjadi kejutan bila pernikahannya dilakukan di kebun bunga. Meski Ia telah menyusun konsep pernikahan kekinian di dalam hotel bintang tujuh miliknya, namun konsep outdoor jelas menarik perhatiannya. Lagi pula di Hokkaido nanti Ia dapat menapak tilas kehidupan Hinata sebelumnya.

Naruto ingin membuatnya sebagai hadiah pernikahan mereka.

"Kita bisa ke sana bersama adik juga kan Pa?"

Bagian alis Naruto naik lebih tinggi. "Boruto tahu akan punya adik?"

Rambut pirang Boruto bergoyang mengikuti arah anggukan kepala. "Nenek dan Kakek yang mengatakannya kemarin. Itu artinya Boruto akan menjadi seorang kakak. Mama juga berkata bahwa Boruto sudah memiliki hal yang harus dilindungi dan dijaga. Seperti Hero yang melindungi dari kejahatan."

"Anak pintar. Jika Papa sedang bekerja, maka tugas Boruto harus menjaga Mama dan adik. Pastikan mereka baik-baik saja. Selain itu jauhkan Mama dari pria lain karena Mama milik kita."

Ada beberapa hal yang tidak Boruto mengerti namun dia tetap mengangguk. Baginya ada kata-kata 'menjaga' itu sudah dimaknai hal penting yang hanya bisa dilakukan olehnya. Papa percaya padanya!

"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa nampak serius?" Hinata menyodorkan segelas susu vanilla dan sarapan pagi di meja makan. Pakaiannya telah berganti baju rumahan dengan rok selutut. Di sampingnya Kushina menata piring lalu mencubit pipi cucunya karena gemas.

"Ini pembicaraan antar lelaki, Ma. Mama tidak boleh menguping."

"Oh, apakah itu berarti cucu Nenek sudah besar?" Boruto mengangguk mantap. Kakinya mengayun di bawah meja.

"Tapi orang dewasa tidak akan menyisihkan sayuran di piringnya."

"Nenek!" Rengek Boruto. Brokoli, buncis dan wortel meski dimasak seenak apapun, bagi Boruto rasanya masih menyisahkan getir. Dia meratap pada Hinata, menyorot penuh permohonan agar piringnya tidak diisi penuh sayuran. Mamanya tersenyum begitu manis, Hinata dengan senang hati mengambilkan Boruto beberapa kali tuangan sayur. Piringnya penuh diisi sayuran berkuah hingga di matanya nampak seperti tumpukan pelangi.

"Menjadi dewasa diawali dengan menghabiskan makanan." Final Hinata. Boruto mencari sosok pendukungnya –melirik penuh harap pada Naruto, tapi Papanya malah memberikan tatapan datar.Turuti apapun perkataan Mamamu. Itu yang Boruto pahami dari pandangan Papanya.

Papanya tidak berada di pihaknya, Boruto tidak lagi memiliki sekutu. "Tidak adil sama sekali!" Jerit Boruto. Andaikan ada Kakek Minato dia pasti akan mendapat balah bantuan. Ditatap oleh tiga pasang mata membuat Boruto tidak memiliki alasan lain selain memakannya dengan setengah hati. Bibirnya manyun setiap kali mengunyah makanan penuh vitamin itu.

Bila dengan ini, dirinya akan disebut lelaki sejati maka Boruto akan melakukannya!

.

.

.

.

.

Mobil jaguar biru Naruto berhenti di gedung sekolahan. Tugasnya adalah mengantar Boruto ke sekolah sebelum bekerja.

"Kenapa masih duduk, kita sudah sampai." Naruto melepaskan sabuk pengaman dari tubuh Boruto.

"Menunggu teman, Pa." Bekal buatan Mama Hinata dipegang erat. Tas berbentuk katak dipunggungnya masih tersimpan di bawah dashboard mobil. Boruto menurunkan kaca jendela mobil. Dia menunggu sampai melihat ada mobil lain yang dia ingat adalah milik temannya.

Tanpa berpamitan, Boruto langsung membuka pintu mobil dan menutupnya. Naruto menggelengkan kepala. Dia ikut turun. Kaca mata berlensa hitam yang terpasang membentengi matanya melihat dengan siapa putranya berteman. Naruto menyeringai, dunia memang sempit hingga putranya bisa berteman dengan anak salah satu kawannya.

Rambut jabrik yang diikat super ketat seperti nanas sudah tentu milik keluarga Nara.

"Yo, man." Shikamaru menyapa Naruto. Dugaanya benar, dia bertemu dengan sahabatnya.

"Kau sudah kembali?" Dari celah mulutnya yang mengapit lintingan tembakau keluar kepulan asap rokok. Shikamaru merokok bila tidak ada Shikadai. Terakhir kali dia melakukannya di dekat Shikadai, Shikamaru mendapati memar kebiruan di pipinya akibat tonjokkan Temari. Istrinya tidak akan membiarkan anak semata wayang mereka meniru prilakunya.

"Baru tadi pagi kembali. Bagaimana perkembangan perusahaanmu?"

"Cukup pesat, tapi masih belum bisa mengejar aset perusahaanmu." Kelakar Shikamaru. "Kerja sama kita mendatangkan banyak relasi dari beberapa pengusaha kelas atas. Diantaranya datang dari pemerintah. Kemajuan teknologi dipadukan dengan persenjataan. Huh, kurasa ide gila kita akan mendapatkan sorotan langsung dari pemerintah."

Mereka berdua membentuk kerja sama dalam bidang teknologi dan informasi, namun Naruto menginginkan suatu terobosan baru. Dia ingin mencoba bisnis persenjataan dan Shikamaru menyanggupinya. Mendapatkan ijin bukan perkara mudah, namun Naruto membuatnya lancar bagaikan aliran sungai.

"Apa kau mendapatkan undangan dari Uchiha Fugaku."

Undangan itu bahkan sudah Naruto terima dari jauh hari. "Ya, tapi kau tidak tahu apakah akan datang atau mengirimkan delegasiku. Di rumah lebih menyenangkan daripada mengurusi pertemuan formal. Kau tahukan aku tidak seakrab itu dengan Uchiha." Meski ayahnya berteman dengan perdana menteri, tapi dia terlalu malas untuk ikut membangun relasi dengan pemangku kebijakan di negeri ini.

"Tunggu, apakah kau masih membawa dendam jaman sekolahan? Tentang mantan pacarmu yang lebih memilih Uchiha Sasuke daripada dirimu? Haha. Kurasa Hinata perlu tahu bahwa suaminya ini pernah dipecundangi seorang wanita."

Suara cekikikan sahabatnya mendulang desisan kekesalan Naruto. "Kau mengarang cerita? Bukankah aku yang meninggalkannya karena sifatnya yang plin plan? Tapi itu hanya cerita masa lalu, kini aku bahagia dengan keluargaku." Ada rasa bangga ketika menceritakan mengenai kehidupan pribadinya. Shikamaru melihat sosok sahabatnya ini sudah berubah sangat banyak. Dulu bahkan Naruto tidak memiliki pemikiran berumah tangga, lalu kini dia mengumbar keharmonisa rumah tangganya. Benar-benar membuatnya kesal sekaligus lega.

"Bahkan sebentar lagi akan bertambah lagi."

Shikamaru mendelik. "How beast, you are!" Umpatnya. "Belum ada setahun rujuk dan kau sudah memperbesar kolonimu?!"

"Kenapa pula harus menunggu setahun. Dasar nanas impoten." Balas pria berdarah Uzumaki ini. "Lalu mana benda yang kau janjikan itu?"

Naruto menagih janjinya pada Shikamaru.

Bulatan logam berbentuk mungil dirogoh dari saku jas. "GPS mini yang dilengkapi kemampuan merekam suara dan menangkap transmisi satelit apapun. Dalam artianya, diamanapun kau berada, benda ini membuatmu mudah untuk dilacak. Benda penyadap jarak jauh yang hampir membuatku membotaki kepalaku sendiri." Shikamaru melemparkan chip berbentuk cincin pada Naruto. "Memangnya siapa yang ingin kau sadap, huh?"

Dari ekor matanya, Shikamaru melihat Naruto tersenyum miring. Perasaanya tidak enak. Dia sudah hapal sifat berbahaya Naruto. Dia bisa menjadi monster yang sesungguhnya. "For seven hells! Jangan bilang kau akan menjadikan istrimu sendiri sebagai percobaannya?" Andai mereka berada di ruangan tertutup, Shikamaru tidak akan segan membogem sahabat pirangnya ini.

Bukankah Naruto sudah keterlaluan dalam membatasi kehidupan seseorang.

"Aku perlu memastikan bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan benda ini aku bisa tahu dimanapun istriku berada. Jangan melihatku seperti itu, Shikamaru. Apa salahnya memastikan keamanan istriku sendiri." Posesifnya kadang bermetamorfosa menjadi over-protektif.

Benar-benar sudah tidak tertolong, batin Shikamaru. "Ck, terserahmu saja."

"Dan terima kasih karena telah mendesainnya mirip dengan cincin pernikahanku. Aku hanya perlu mengganti cincin Hinata dengan ini, dia tidak akan menyadarinya."

Bolehkah Shikamaru memukul kepala Naruto sekarang juga?

Jauh dari jangkauan Naruto, sebuah mobil sedan hitam terparkir membelakanginya. Dua orang duduk di bagian depan dengan earphone menyala menyambung pada seseorang. "Bos, target sudah pergi bersama temannya. Kemungkinan target menuju ke perusahaan."

"Lakukan persiapan. Buat sebuah kejutan untuknya –kalau bisa yang tidak akan bisa dilupakan oleh Uzumaki Naruto."

"Baik Bos, laksanakan."

.

.

.

.

(TBC)

Silahan cek chapter 10 b karena sudah sekalian saya upload