.

Come Away With Me

.

Karya: Kristen Proby

.

.

.

Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun

GS for Uke

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.

Luhan POV

.

HUNHAN

.

RATE M

.

.

Hope u will enjoy this remake^^

Happy reading

.

.

.

Previous chapter:

"Wow. Tahiti?"

Dia tertawa dan menciumku, langsung di bibir, di depan seluruh keluargaku.

"Cari kamar!" Jongdae berteriak.

Aku berdehem dan melihat ke arah semuanya di pekarangan. "Aku hanya ingin bilang," sudut mataku mulai meneteskan air mata. "Semua orang yang paling aku cintai di dunia ini ada di sini, dan aku tak bisa mengungkapkan betapa aku berterimakasih karena memiliki kalian. Terima kasih atas semua yang telah kalian lakukan untukku, tidak hanya untuk kado-kado yang ini. Aku merasa terberkati. Bahkan para lelaki juga memiliki momen yang indah." Aku tersenyum pada mereka dan mereka memberikan salut padaku dengan minuman dan kedipan mata mereka.

Aku mengambil nafas dalam. "Terima kasih telah menjadikanku bagian dari keluarga kalian. Aku sangat mencintai kalian."

Aku memandang Sehun dan tiap-tiap wajah yang sangat kusayangi. "Sekarang, berikan bayi itu padaku."

.

.

"Aku sangat menikmatinya." Sehun mengaitkan jarinya ke jariku dan mencium buku-buku jariku saat menyetir kembali ke Alki Beach.

"Mereka menikmati saat bersamamu juga. Terima kasih sudah datang, dan mengundang orang tuamu. Aku sangat senang." Aku tak bisa menyembunyikan senyum lebarku.

"Aku lega. Apakah kau senang dengan perjalanan kita?" dia menyeringai lebar.

"Aku harus melakukan banyak hal malam ini untuk bersiap-siap. Mungkin aku harus menginap di rumah malam ini jadi aku bisa berkemas dan menelepon dan lain-lain."

Sehun mengernyit. "Tidak akan butuh waktu lama untuk berkemas. Aku bisa mengantarkanmu pulang untuk berkemas, dan kembali lagi ke tempatmu." Dia menelan ludah dan memandangku sekilas.

"Apa ada yang salah?" Kenapa dia tiba-tiba terlihat cemas?

"Aku tidak ingin menanggung resiko."

"Menanggung resiko?"

"Yeah, jika kau memutuskan untuk tidak jadi pergi."

Darimana ketakutan ini datang? "Aku memang ingin pergi."

"Bagus." Dia tersenyum padaku.

Ternyata aku tidak memerlukan terlalu banyak waktu untuk berkemas. Seminggu penuh di Tahiti memerlukan beberapa bikini, sarung, baju tanpa kancing dan flip-flops (sandal jepit). Aku juga menambahkan satu baju gaun bertali berjaga-jaga untuk acara makan malam dan sepasang hak tinggi dan juga beberapa celana pendek dan tank top.

Aku akan mengumpulkan peralatan mandiku di pagi hari sebelum penerbangan jam sembilan pagi.

Aku duduk di meja dapur dan memulai menelepon klien di minggu depan untuk mengatur ulang jadwal saat aku mendengar Sehun masuk melalui pintu depan.

"Baby?"

"Di dapur!"

"Hey," dia membungkuk dan menciumku dengan manis, dan aku mendesah.

"Hai. Aku sedang menelepon. Anggap saja rumah sendiri ya."

"Ok." Dia berjalan-jalan di dapur dan mengambil sebotol air dari kulkas.

Setengah jam kemudian semua teleponku sudah selesai, janji temu sudah dijadwal ulang, dan aku resmi berlibur.

Bayangkan!

Aku memiliki senyum super lebar terpampang di wajahku saat aku menyusup ke pangkuan Sehun yang sedang duduk di sofaku membaca naskah.

"Well halo, gadis yang berbahagia." Dia menyusup ke leherku.

"Hai, pacarku yang obsesif dan murah hati." Sehun tertawa dan memelukku dengan lembut.

"Aku menantikan berbaring di pantai pasir bersamamu, baby."

"Hmm...Aku juga. Dan menyelam!"

"Kau bisa menyelam?" dia terus menyusup ke leherku dan menggigit telingaku dan aku menggeliat.

"Ya, aku bisa. Tapi itu sudah lama."

"Baumu harum. Apalagi yang ingin kau lakukan?"

"Well, untuk satu hari penuh…" aku membelaikan jemariku ke rambutnya dan condong ke belakang supaya bisa melihat ketampanannya.

"Ya?'

"Aku ingin telanjang di tempat tidur denganmu."

"Itu akan menjadi hari favoritku di sepanjang liburan." Dia membelai punggungku dan aku menyeringai.

"Aku juga. Apakah kita akan tinggal di pondok di pinggir laut?"

"Ya."

"Keren. Kita bisa berenang telanjang."

Dia tertawa renyah. "Kau bukan eksibisionis kan?"

"Tidak, kita akan melakukannya di malam hari." Aku menyandarkan kepalaku di bahunya dan mendesah dalam, agak lelah, tapi sangat rileks.

"Bolehkah aku membawa kamera?

"Sudah kuperkirakan kau membawanya."

"Aku tak akan membawanya jika itu membuatmu tak nyaman." Aku berusaha untuk berhati-hati tidak memotret Sehun semalam setelah makan malam saat aku memotret si mungil Anson dan keluarga yang lain.

"Aku percaya penuh padamu. Kau boleh memotretku."

Aku duduk tegak diatas pangkuannya, ternganga dan mataku melebar. "Boleh?"

"Well, kita ingin punya foto liburan kita kan? Luhan, setelah semua yang kita lakukan, bagaimana aku tidak percaya padamu untuk mengambil fotoku? Kita harus punya memori bersama."

Aku merasakan senyumku mengembang dan aku merasa sangat…bahagia. "Aku sangat ingin memotretmu, dan sebelum kau ketakutan padaku…"

"Aku tidak akan ketakutan padamu," katanya dengan tertawa.

"Aku ingin mengambil fotomu karena itulah pekerjaanku, dan kau sangat indah, Sehun. Ada banyak momen yang kuharap bisa kuabadikan. Aku tak akan pernah membagi fotomu dengan orang lain kecuali atas seijinmu, tapi aku ingin fotomu. Aku ingin foto kita berdua."

"Aku juga ingin foto kita berdua juga."

Aku memeluknya erat lalu bersandar di bahunya lagi.

"Apakah kau mengantuk?" bisiknya sambil menggerak-gerakkan jarinya di rambutku.

"Sedikit." Aku menengadah untuk menatap mata hitam kecoklatannya yang indah. "Terima kasih."

"Baby, aku sudah bilang padamu, aku senang memanjakanmu."

"Tidak, bukan itu." Aku menggelengkan kapala dan menunduk. "Walaupun ya, terima kasih juga untuk itu. Aku hanya…"

"Apa?" dia mengangkat daguku sehingga dia bisa memandangku lagi.

"Aku mencintaimu."

Matanya menyala dan dia menarik nafas dalam.

"Aku mencintaimu, baby."

"Ayo kita tidur."

"Dengan senang hati." Dia mengangkatku dengan mudahnya dan membawaku ke lantai atas.

ooOoo

.

"Ini akan menjadi penerbangan yang lama." Suaraku kuat tapi perutku tidak. Sehun menyewa sopir untuk membawa kami ke bandara, dan kami di kursi belakang. Aku mencengkeram lengannya dan menggigit bibir.

"Kita akan baik-baik saja." Dia menarikku ke pangkuannya dan menyusup ke leherku. Kurasa itu untuk mengalihkan kecemasanku, tapi itu tak berhasil.

"Apakah kita akan singgah di L.A.?" tanyaku

"Tidak."

"Oh." Aku mengernyit dan menahan nafas saat bibirnya bergesek di titik sensitif di bawah telingaku. "Aku tidak tahu ada penerbangan langsung dari Seattle ke Tahiti."

"Aku tidak tahu ada atau tidak. Temanku meminjamkan kita pesawat jetnya."

"Oh." Sial.

"Luhanie, apakah kau pernah terbang sejak orang tuamu meninggal?" dia mengangkat daguku dan menatap mataku dengan khawatir dan cemas padaku. Aku memegang pipinya.

"Tidak."

"Baby, apakah kau tidak apa-apa dengan ini semua?" dia mencium telapak tanganku.

"Aku akan baik-baik saja. Ini seperti membuka plester luka; aku hanya perlu melakukannya."

"Jika membuatmu merasa lebih baik, aku berencana untuk membuatmu sibuk hampir sepanjang penerbangan. Kau tak akan punya waktu untuk takut." Dia menyeringai nakal padaku dan aku terkekeh.

"Aku berjanji…"

Tak lama setelah kami sampai di SeaTac. Sopir memarkir ke dekat pesawat jet pribadi yang besar. Ini lebih besar dari yang pernah diterbangkan Ayahku.

Sopir membuka pintu kami dan mulai memindahkan koper kami ke dalam pesawat. Sehun berbicara pada pilot dan co-pilot dan pramugari yang cantik, tapi telingaku tertutup oleh kecemasanku untuk bisa mendengar, atau peduli, apa yang mereka bicarakan.

Kabin di dalam sangat indah. Kursinya ada dua belas. Kursinya besar dan berbahan kulit hitam yang mewah. Sehun mengajakku ke dua kursi yang bersisian dan kami duduk.

"Bagaimana kabarmu?"

"Bagaimana rupaku?" bisikku.

"Pucat dan berkaca-kaca."

"Jadi, menakutkan kalau begitu"

"Ya."

"Tepat sekali."

Sehun mengaitkan sabuk pengamanku – astaga – dan melingkarkan lengannya padaku.

"Aku bersamamu, baby."

"Aku tahu. Aku akan baik-baik saja untuk sementara waktu."

Mata hitam kecoklatannya yang indah dipenuhi rasa cemas dan aku menarik kepalanya supaya aku bisa menciumnya. Dia menyapukan bibirnya ke bibirku dengan caranya yang membuatku bergetar dan membelai rambutku.

"Kau terlihat cantik hari ini." Aku hanya memakai jins biru dan tank top hijau. Aku memandangnya yang mengenakan kaos hitam dan celana pendek berwarna khaki dan aku menyeringai.

"Kau juga, tampan."

Suara pilot keluar dari pengeras suara dan mengumumkan bahwa kita siap untuk tinggal landas, kita akan berada pada ketinggian berapa, dan berapa lama penerbangan ini akan berlangsung.

Syukurlah, sepertinya ini akan menjadi penerbangan yang lancar.

Aku mendengar mesin mulai menyala dan aku menarik lengan Sehun sehingga kau bisa berpegangan di tangannya. Dalam hitungan detik kami berpacu di runway dan naik menjauhi tanah.

Sepertinya aku akan pingsan.

"Tarik nafas, baby."

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

"Lagi. Tetaplah bersamaku, baby, tarik nafas."

Tuhan, aku mencintainya saat ini. Suaranya menenangkanku saat kami bergerak semakin tinggi dan akhirnya stabil, aku mulai tenang.

"Aku baik-baik saja." Bisikku.

"Mau saya ambilkan sesuatu?" pramugari yang tinggi dan berkaki jenjang berdiri di sisi kami. Aku baru menyadari kalau dia sangat menarik. "Saya bisa membawakan sarapan jika anda mau."

Aku menggelengkan kepala. "Air saja, tolong."

"Air putih untuk kami berdua, tolong."

Kami menyesap air putih yang dingin, mata Sehun masih memperhatikan wajahku dan sedikit merona.

"Jadi, ini pesawat siapa?" tanyaku.

"Punya Spielberg." Dia menyeringai padaku.

Hah.

"Yang Steven?" Tanyaku.

"Orang yang sama. Dia menyutradarai film yang baru saja rampung dan ikut kuproduseri. Kami bekerjasama beberapa kali. Aku diminta untuk membantu." Dia mengangkat bahu.

"Aku tidak menjadi diriku sendiri saat bersamamu." Aku menggelengkan kepalaku.

"Apa maksudnya itu?"

Kepalaku tersentak kaget akan kemarahannya

"Aku minta maaf…" aku mengernyit melihat di sekeliling kabin pesawat. Ini lebih dari kaya. Ini adalah daftar 100 orang kaya-yang-dapat-membeli-dunia-ketiga dari Forbes.

"Ini bukan milikku. Aku meminjamnya. Aku kira kau akan menyukainya."

"Aku suka, semua ini indah. Kau sangat baik. Kau hanya terkadang membuatku kewalahan, Sehun."

"Yeah, well, ini kelihatannya menular karena kau membuatku tak berdaya sepenuhnya." Aku merasa rapuh dan takut dan gembira dan jatuh cinta, dan aku membutuhkan pelukannya.

Jadi aku membuka sabuk pengamanku dan dalam melangkah ke pangkuannya dan mengangkanginya. Dia mengangkat alisnya kaget, dan dia mencengkeram pantatku yang berlekuk. Aku suka dia cukup tinggi bahkan pada posisi bertatapan seperti ini. Aku meraih wajahnya yang halus dengan tanganku dan bersandar dan menciumnya seolah-olah hidupku tergantung padanya.

Aku merasakan tangannya naik dan turun di punggungku dan aku memutarkan pusatku pada miliknya.

"Ya ampun, baby, kau membuatku gila."

"Hmmm…" aku menggigit sudut bibirnya dan membuka mataku untuk mencari mata hitam kecoklatannya yang sedang menatapku. "Aku menginginkanmu. Buat aku lupa kita sedang berada dimana."

Dia mengambil alih kontrol ciuman, mencengkeram rambutku supaya wajahku tetap berada di wajahnya, menciumku seperti tak pernah menyentuhku berhari-hari.

Seperti kami tidak pernah bercinta pagi ini.

Tangannya masuk diantara kami membuka sabuk pengaman dan mengangkatku dengan mudah, tangannya menyangga pantatku dengan kuat. Aku melingkarkan kakiku di pinggangnya dan tanganku mengacak-acak rambutnya, menyandarkan lenganku di bahunya.

"Kita mau kemana?" gumamku.

"Kamar tidur." Kamar tidur? Di pesawat?

"Kenapa tidak di kursi tempat kita duduk tadi?" aku membungkuk menggigit cupung telinganya.

"Aku tak mau memberi pertunjukan pada pramugari."

"Oh." Aku lupa. Inilah yang dia lakukan. Dia membuatku lupa segalanya. Dan itu sangat menggairahkan!

Dia membawaku ke belakang pesawat dan melalui pintu ke dalam kamar kecil dengan tempat tidur tipe double. Dengan seprei linen dan bantal berwarna antara coklat dan hijau yang cantik dan mengundang.

"Seks di pesawat!" aku menegakkan badan didalam pelukannya memegang wajahnya dengan tanganku.

"Aku tak pernah melakukannya seks di pesawat."

Dia menyeringai lebar dan mencium daguku.

"Aku juga."

Aku membelai ringan rambut pirangnya yang lembut dan memandang ke mata hitam kecoklatannya dan tak habis pikir apa yang telah kulakukan sehingga aku mendapatkan pria yang tampan ini.

"Kau sangat tampan." Dia mengernyit pada tingkah ku yang tidak biasa, dan hanya berdiri di tengah ruangan dengan tetap menggendong, tidak menurunkanku.

Dia menggelengkan kepala dan menanamkan ciuman ke tulang selangkaku. "Aku tidak spesial."

"Oh, sayang," Aku mengetatkan pelukanku padanya. "Kau sangat sangat indah, di dalam dan di luar," aku berbisik di telinganya.

"Telanjang, sekarang," dia menggeram dan menurunkanku. Aku tak bisa menahan diri untuk tertawa saat dengan segera kami membuat pakaian jatuh bertebaran di ruangan, kami berdua tak sabar untuk telanjang dan saling menyentuh.

Saat pakaian terakhir terlepas, Sehun merengkuhku, menarikku kedalam pelukannya yang penuh gairah, tapi bukannya mendorongku ke ranjang, dia malah memojokkanku ke dinding, menyandarkan tubuhnya yang berat dan pinggangnya kepadaku, ereksinya yang keras menekan pusarku.

Dia meluncurkan tangannya ke lenganku, mengaitkan jarinya ke jariku dan menarik tangan kami keatas kepalaku, memakuku di tempat. Bibirnya yang luar biasa lembut kini di leherku, menyapu naik turun. Dai menahan kedua pergelangan tanganku dengan satu tangan dan tangan yang lain meluncur turun ke lengan dan ke payudaraku untuk memainkan putingku di antara jari-jarinya.

"Ya ampun, Sehun."

"Tuhan, kau sangat cantik. Aku suka merasakan payudaramu di tanganku."

Tubuhku melengkung menjauhi dinding dengan tangan tertahan diatas kepalaku, penuh keinginan.

"Hush, baby." Tangannya pelan menjelajah ke bawah menemukan pantatku menggosoknya lembut, kemudian menamparnya.

Keras.

"Ah!" aku merasakan seringai di leherku aku menggigit bibirku. Bagaimana bisa tamparannya ke pantatku membuatku sangat bergairah? Itu sangat seksi.

"Lagi," aku berbisik.

"Oh, baby," dia mencium daguku dan sudut bibirku, menggigit sepanjang rahangku. "Kau menginginkan yang kasar?"

"Hanya denganmu." Dan itu benar.

Hanya dia yang bisa menyentuhku sedemikian rupa dan membuat kulitku menginginkannya lagi.

Ini memabukkan.

"Benar." Dia menamparku lagi dan menyentakkan pahaku melingkar di pahanya, tapi dia terlalu tinggi untuk menggesekkan miliknya padaku.

"Angkat aku," aku memohon.

"Oh, akan kulakukan. Sabar, cantik."

Tangannya yang nikmat menyusup ke diriku lagi, di atas pantatku yang panas dan turun di antara lipatanku. Dia menyelipkan jari ke dalam diriku dan menggerakkannya dengan gerakan memutar, mengirimkan sensasi bagai spiral dalam diriku.

"Sehun! Kumohon!" Aku berusaha menarik pergelangan tanganku melawan tangannya dan sia-sia. Aku ingin menyentuhnya! Aku menginginkannya di dalam diriku!

"Apa yang kau mau baby?" dia bertanya sensual sembari mengeksekusi kewanitaanku dengan cara yang paling nikmat.

"Kau. Kumohon." Aku berbisik di lehernya.

"Kau akan mendapatkanku. Sabarlah, cintaku. Aku sedang membuatmu lupa, kau ingat?"

"Aku bahkan tak ingat namaku sendiri sekarang."

Dia tertawa dan menciumku manis.

"Aku akan melepas tanganmu sekarang. Letakkan tanganmu di kepala."

"Apa?" dia tidak masuk akal.

"Letakkan saja di kepalamu."

"Aku ingin menyentuhmu." Aku cemberut dan menggigit bibir bawahku.

"Jangan dulu. Percayalah padaku."

Dia melepaskan tanganku dan aku menurunkannya ke kepalaku, menautkan jari-jariku dan menyandarkan kepalaku ke dinding.

"Bagus. Jangan gerakkan tangamu, baby."

"Okay," aku berbisik.

Dia melanjutkan menciumi wajah dan leherku, menggigit lembut cuping telingaku dan sisi yang lainnya.

Dan aku tau persis apa yang akan dia lakukan.

"Ya ampun" aku melihatnya berjalan kebawah menciumi payudaraku, menarik putingku ke mulutnya. Nafasku tak teratur dan darahku berdesir mengalir di tubuhku dengan kencang.

Aku tak pernah begitu bergairah dalam dalam hidupku.

"Pelan, baby, aku mendapatkanmu."

Saat dia berlutut di lantai, dia menyentakkan kaki kananku ke bahunya dan membungkuskan tangannya di sekelilingku, menyanggaku dengan lengan bawahnya dan mencengkeram pantatku dengan tangan besarnya.

"Aku akan jatuh."

"Aku takkan membiarkanmu jatuh." Dia mencium tindik pusarku. Dan menempatkan tiga ciuman manis di tatoku.

Tanpa berpikir, aku menurunkan tanganku dan meremas rambutnya. Tapi dia menyentakkan kepala dan membelalakkan matanya padaku.

" .Kepalamu."

Oh.

"Aku ingin menyentuhmu."

"Nanti. Ayolah baby, menurutlah."

"Okay." Tanganku kembali ke kepalaku dan tanpa keraguan, bibirnya membungkus klitorisku dan menghisapnya.

Ya ampun!

"Ya ampun!" pinggulku terdorong ke arah mulutnya dan dia menariknya kembali sedikit untuk bergerak ke arah bibir bawahku dimana dia menciumku dengan sangat intim, memainkan lidahnya keatas kebawah dan sekitarnya, menggodaku. Dia menggigit lembut, dan kemudian membenamkan lidahnya ke dalam diriku sambil menghirup aromaku.

Aku tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Melihat mulutnya di diriku adalah hal yang paling erotis yang pernah kusaksikan.

Tangannya meremas pantatku. Tangan kanannya masih menyanggaku, meluncur mendekati kewanitaanku. Dia memasukkan jari kelingkingnya ke pusat diriku yang basah melenturkannya dan memainkannya selagi mulutnya melanjutkan siksaannya yang nikmat, dia menyelipkan kelingkingnya tepat… disana.

Mata hitam kecoklatannya yang meleleh memandangi wajahku. Aku begitu dibanjiri oleh sensasi yang membuatku tak berdaya. Jari itu bergerak pelan keluar dan masuk dan rasanya tak bisa dibayangkan. Ini membuatku sedikit merasa nakal dan asusila dan begitu bergairah.

Dia menekan hidungnya ke klitorisku dan semua berakhir. Dia menekan semua tombolku-secara harafiah-dan aku terhanyut, bergidik dan berdenyut-denyut, datang kembali dan datang kembali. Sepertinya aku tak ingin berhenti.

Dia menarik kelingkingnya keluar dariku mencium pubisku, pusarku, dadaku dan akhirnya bibirku. Menahanku ke dinding dengan tubuhnya lagi sebab tanpa dia aku akan jatuh ke lantai.

"Kumohon," aku mengerang, aku bahkan tak bisa mengenali suaraku sendiri.

"Apapun, baby."

"Masuki aku." Dia memandang mataku dan mulai menggelap.

"Baru saja kulakukan," dia berbisik di mulutku, bibirku menyapu bibirnya kedepan dan ke belakang.

Dia menggenggam tanganku dan menahannya lagi diatas kepalaku.

"Masuki aku di tempat tidur." Aku menciumnya. "Kumohon."

Dia memelukku di dadanya dan berputar menuju ranjang. Sehun menyingkirkan selimut dari seprei dan membimbingku berbaring.

"Telungkup, baby."

Aku berguling telungkup dan ia kemudian menindihku, kejantanannya yang keras menekan pantatku, rambut dadanya menggelitiki punggungku. Dia menciumi setiap jengkal leherku dan turun mengikuti tulang belakangku, memberikan perhatian ekstra pada tato di tengah-tengah punggungku.

"Kenapa tertulis 'Love Deeply'? tanyanya

"Apa?"

"Kenapa tato ini?"

Aku harus mengerjap dan mengumpulkan sel-sel otakku untuk menjawab pertanyaannya.

"Karena itulah yang selalu kuinginkan, untuk mencintai dan dicintai secara mendalam."

Dia menggesek tato itu dengan hidungnya.

"Itulah dirimu, Luhanie."

"Aku tahu."

Dia tersenyum dan melanjutkan perjalanannya menuruni punggungku. Dia mencium pantatku, masing-masing sekali dan menyapukan bibirnya melewati tato di pangkal paha kanan di bawah pantatku.

"Dan yang ini? Mengapa berbunyi 'Happiness Is A journey'?"

"Karena sebuah perjalanan panjang harus kujalani untuk berbahagia kembali."

"Oh, baby." Dia memisahkan kedua kakiku dengan kakinya dan menjalankan jarinya dari anusku turun ke klitoris, membuatku mengangkat pantatku ke udara menjauhi ranjang.

"Ah, Sehun."

Dia mencengkeram pinggulku dan meluncur memasukiku, mengubur dirinya sedalam yang dia bisa.

Itu sangat menyenangkan. Aku merasa terpenuhi dan bahagia dan seksi dan sangat dicintai.

Dia menampar pantat yang diabaikan saat dia menahanku di lantai, dan mulai bergerak masuk dan keluar dariku, membanting ke dalam diriku keras, lagi dan lagi.

Aku mencengkeram seprei di genggaman dan berteriak saat merasakan tarikan otot-otot yang familiar di sekitar miliknya dan kakiku menegang. Dia mencengkeram erat pinggulku hampir terasa sakit, saat dia membanting ke dalam diriku sekali lagi dan memuncak dahsyat, meledakannya di dalam diriku.

ooOoo

.

Aku berdiri di dek pondok kami yang indah, mengarahkan kameraku ke bawah memotret ikan-ikan berwarna cerah. Aku mengambil selusin foto, kemudian mendongak dan memotret pulau. Matahari hampir tenggelam dan aku tak sabar untuk mengambil foto siluet pohon palm dalam cahaya matahari terbenam.

"Hai, baby." Sehun memelukku dari belakang dan menguburkan hidungnya di leherku. "Bagaimana kabarmu?"

"Kurasa aku akan sedikit sakit besok, tapi aku baik-baik saja. Aku lupa betapa melelahkannya menyelam." Aku tersenyum dan tersenyum padanya.

Dia merenggut semua nafasku dengan mudahnya.

Dia bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek hitam yang menggantung seksi di pinggulnya, memamerkan otot di dadanya hingga ke bawah dan tersembunyi di balik celananya. Dia terpapar sinar matahari sejak kami sampai disini, membuat kulitnya yang pucat menjadi begitu berkilau.

Mulutku mengering setiap aku melihatnya.

Dan karena aku bisa, aku menaikkan lensaku dan memotret. Dia tersenyum, malu, dan aku mengambil foto lagi.

"Aku suka memotretmu."

"Aku tahu itu. Kau mengarahkan benda itu padaku lebih dari apapun selama tiga hari sejak kita tiba disini."

"Itu tidak benar." Aku tertawa dan dia mengambil kamera dari tanganku dan tiba-tiba aku yang menjadi objek foto. "Hei! Aku berada di sisi yang salah dari lensa itu."

"Saling bergantian itu adil, baby. Beri aku senyum yang manis." Aku bersandar pada pagar dan berpose jenaka, mencondongkan salah satu pinggul ke sisi dan meletakkan tanganku diatas pinggul yang memakai sarung.

"Kita harus sering-sering kesini," katanya dan terus memotretku.

"Kenapa?"

"Karena aku senang melihatmu berjalan-jalan seharian dengan bikini. Aku bisa melihat tatomu."

Aku tersenyum dan berbalik; sisi kiriku terekspos padanya, kuangkat lengan kiriku ke sebelah muka, melihat kearahnya di belakang melalui lekuk sikuku.

"Fotolah tato ini, dan kau bisa melihatnya kapanpun kau mau."

"Tuhan, kau pandai berpose." Dia memotret, matanya bersinar dengan humor dan gairah, dan aku tersenyum padanya.

"Ok, tunggu." Aku melepas sarung dan menjatuhkannya di lantai dek dan matanya membesar. Aku suka caranya menikmati tubuhku. Ketidaknyamananku yang dulu sudah lama hilang. Aku berputar membelakanginya dan menarik rambutku keatas bahu.

Tanganku merentang berpegangan pada pagar. Aku tahu dia bisa melihat tato di punggung dan pangkal pahaku. "Silahkan."

Aku mendengar suara kamera menyala dan nafas Sehun berubah.

"Sudah selesai dengan yang tadi?" tanyaku.

"Ya," dia berbisik. Aku berbalik menghadapnya dan naik ke pagar untuk duduk.

"Hati-hati!"

"Aku baik-baik saja, aku tak akan jatuh." Aku duduk membentuk sudut dan mengangkat kakiku untuk bersandar di pagar. Tatoku terekspos. "Fotolah."

Dia menzoom kakiku dan menekan tombol sekitar sepuluh kali.

"Aku benci mengecewakanmu," aku berkata, "Tapi tato yang terakhir akan mengingatkan pada rahasia kecil kita."

Matanya menggelap dan dia melangkah ke belakang dan mengambil fotoku lagi.

"Jadi tak ada orang lain yang melihat tato ini?" dia bertanya dengan kamera tetap memegang kamera di depan wajahnya.

"Kebanyakan dari mereka."

"Apa maksudnya itu?" Dia menurunkan kameranya dan membelalak padaku.

Sial.

"Yang di pubisku adalah yang paling baru, dan tak ada yang tahu kecuali kau dan artis yang membuatnya. Yang di punggungku bisa kadang terlihat bila aku memakai atasan atau gaun tertentu, tapi tak ada yang pernah menanyakan arti tato itu. Pada kenyataannya, tak ada yang tahu artinya kecuali kau."

"Dan yang di sisi dan kakimu?" dia bertanya.

Aku mengangkat bahu. "Aku bukan perawan saat aku bertemu denganmu."

Dia mengernyit dan terlihat murung dan aku mati-matian untuk menaikkan moodnya.

"Hei." Melompat turun dari pagar dan mendekatkan jarak diantara kami. "Masa lalu telah berakhir, Sehun. Untuk kita berdua."

"Aku tahu." Dia menelan ludah dan memandangku dengan matanya yang hitam kecoklatan."Hanya saja itu membuatku sedikit gila bahwa lelaki lain pernah menyentuhmu."

"Sayang," aku tersenyum dan membelai wajahnya. "Sentuhanmu adalah hal yang paling penting. Kau telah memperkenalkanku pada perasaan yang aku tak tahu pernah ada. Tak usah mengkhawatirkan yang telah lalu. Hanya kaulah yang aku lihat. Lagipula, " Aku mengambil kamera darinya dan memasang penutup lensanya, "Kau, cintaku, pasti juga bukan perjaka."

"Bagaimana kau tahu? Mungkin aku memang perjaka."

Dia tertawa kecil.

"Tidak mungkin kau bisa sehebat itu di ranjang dan tetap perjaka."

"Oh? Memangnya sebagus apa aku?" dia mengedipkan mata padaku dan menarikku ke lengannya, menjalankan tangannya menuruni punggungku yang hampir telanjang.

"Hmm…kau lumayan." Dia tertawa tiba-tiba membungkuk dan meletakkan ciuman selembut bulu di sisi mulutku.

"Lumayan, hah?"

"Yah, aku menahan diri. Demi kesenanganmu."

"Kau hanya menahan diri?" dia meneruskan melakukan ketrampilan itu, bibir lembut itu melintasi rahangku dan naik ke telingaku.

"Itu sungguh sulit, tapi entah bagaimana aku menemukan pengendalian diri."

Dia tertawa kecil dan menangkup wajahku dengan lembut, menyapukan bibirnya di atas bibirku, maju mundur ringan, lalu masuk dan menciumku dalam-dalam, tapi lembut. Dengan penuh cinta. Seakan kami mempunyai waktu sepanjang hari. Aku memegang pinggulnya. Mengaitkan jari tengah menelusuri lingkaran garis pinggang celananya, sebagian tanganku di kain dan sebagiannya lagi diatas kulitnya.

Ya Tuhan, lelakiku ini pandai mencium.

Dia mundur ke belakang, masih memegang wajahku, menatap mataku.

"Wow." Bisikku dan wajahnya penuh humor.

"Apakah kau menahan yang tadi dengan baik?"

"Kau benar-benar pintar melakukannya tadi."

"Begitu juga kau. Apakah kau membawa gaun?"

Aku mengerjap akan topik pembicaraan yang baru ini.

"Ya, kenapa?"

"Aku berencana untuk makan malam."

"Oh. Aku ingin mengambil foto matahari terbenam."

"Kau masih bisa. Bawa saja kameranya."

"Ok. Kapan kita berangkat?"

"Setengah jam lagi."

"Kemana kita akan pergi?" tanyaku

"Ini sebuah kejutan, gadis yang berulang tahun." Dia tersenyum dan menjalankan jarinya di bibir bawahku.

"Ulang tahunku sudah selesai."

"Ini adalah liburan ulang tahunmu, jadi kau masih gadis yang berulang tahun." Dia menciumku tulus, lalu menggandeng tanganku masuk ke dalam.

Pondok kami, walaupun tak bisa disebut pondok sebenarnya, sangat menawan. Sebuah bungalow di atas air. Pondok penginapan kecil tidak akan layak untuk kekasihku.

Ruangannya besar, dengan dua kamar tidur, sebuah ruang makan yang besar dan dua kamar mandi. Dari dua kamar mandi, yang paling besar terdapat bak berendam yang muat untuk dua orang yang terletak di teras yang terbuka, dengan pemandangan terbuka berupa lautan. Pada kenyataannya, hampir semua ruangan terbuka dengan tirai-tirai ringan untuk memberikan sedikit privasi. Lantainya terbuat dari kayu hitam, tapi ada lantai kaca di banyak ruangan sehingga ikan-ikan di bawah bisa terlihat.

Perabotannya mewah, mahal dan nyaman. Ranjang utama berukuran besar dengan seprei putih lembut, selimut dan bantal. Di ruang makan terdapat banyak warna; oranye, kuning dan merah. Sangat indah.

"Apakah kau pernah kemari sebelumnya?" tanyaku saat mengeluarkan gaun dan hak tinggi.

"Tidak, ini pertama kalinya. Kau tak perlu hak tinggi."

"Oh, ok. Flip flop?"

"Ya."

"Apakah kita akan ke tempat yang berpasir?"

Dia tersenyum dan mengedipkan mata. Ok,dia tak akan memberitahuku.

"Apakah kau akan berganti baju?"

Dia memakai kemeja berlengan pendek dan membiarkannya tak berkancing. "Nah, sudah berganti."

Aku tertawa dan meletakkan tangan di punggungku untuk melepas bikiniku, membiarkannya jatuh di tanganku. Membungkuk dan melakukan hal yang sama dengan celana bikiniku. Aku berjalan telanjang ke meja rias dan mengambil thong.

"Tidak usah pakai pakaian dalam." Aku berbalik dan melongo padanya. Matanya menyala.

"Tapi…"

"Tidak usah pakai pakaian dalam."

Astaga. Dia begitu bossy. Dan aku menyukainya.

Aneh.

"Ok." Aku memakai gaun hitam bertali yang meluncur lembut di tubuhku dan memakai flip flopku. Aku menyisir rambutku dengan semangat dan mengikatnya sederhana di sisi kiri sehingga jatuh ke dada kiriku. Aku memakai mascara coklat dan berbalik melihat Sehun sedang memperhatikan aku, ekspresinya tak terbaca.

"Aku siap."

Dia menggoyangkan kepalanya menarik semua pemikiran yang ada di kepalanya dan tersenyum lembut padaku. "Ayo berangkat."

ooOoo

"Jadi sejauh ini bagian mana yang paling kau suka dari liburan ini?" aku bertanya pada Sehun sambil menggigit steak. Dia memberiku kejutan makan malam di pulau kecil pribadi. Pihak resort membawa kami dengan perahu, dimana sudah tersedia meja kecil dengan makanan dan minuman untuk kami, meja dan kursi terletak diatas air dangkal berwarna bening dengan pasir putih.

Ini skala romantisnya hampir setara dengan kebun anggur.

"Menyelam tadi menyenangkan." Dia menyesap anggurnya dan mengangkat bahu. "Bagian favoritku adalah disini bersamamu."

Aku menggelengkan kepala dan tersenyum.

"Menawan sekali."

Dia tertawa dan melanjutkan makannya. "Bagaimana denganmu? Yang paling favorit?"

"Aku juga menikmati menyelam tadi. Ikan manta tadi begitu menakjubkan. Tapi aku juga menikmati saat menjelajah kota kemarin. Terima kasih sekali lagi untuk gelangnya."

"Keliatan cantik untukmu."

"Apa yang akan kita lakukan besok?" tanyaku. Aku mengayunkan kakiku di air. Rasanya menyenangkan di antara kakiku.

"Aku ingat kau pernah mengatakan sesuatu tentang menghabiskan waktu seharian di tempat tidur."

"Oh." Mataku membesar.

"Besok adalah separuh dari waktu liburan kita, sepertinya itu waktu yang bagus." Dia mengangkat alisnya padaku dan aku menyeringai.

"Berenang telanjang! Kita bisa menakuti ikan-ikan."

"Dan tetangga kita." Dia menyeringai.

"Tidak, di belakang kamar kita tidak ada tetangga. Aku sudah memeriksanya."

Dia memandangku, kaget, dan kemudian tetawa. Aku tersenyum puas padanya dan meminum anggurku.

"Ini indah sekali." Aku memandang ke arah air dan menghembuskan nafas. Matahari mulai terbenam, dan kami sudah menyelesaikan makan kami.

"Apakah kau keberatan kalau aku memotret?"

"Silahkan saja, baby." Dia menuangkan anggur ke gelasnya dan bersandar untuk memperhatikanku. Aku mengalungkan tali kamera di leherku –aku tak ingin menjatuhkannya di air- dan berdiri, menyeberangi air yang dangkal. Terasa hangat hingga di mata kakiku, pasirnya lembut, dan cahayanya sempurna.

Aku mengambil sekitar seratus foto, memotret air, pepohonan dan pulau kecil itu sendiri. Seperti sebuah topik untuk kalendar pulau tropis. Kemudian aku memutar lensa ke arah pacarku yang sedang bersantai dan memotretnya beberapa kali tanpa dia menyadarinya. Dia memandangi gelas anggurnya, ekspresinya seperti sedang berpikir dalam tentang sesuatu. Dia mengangkat kepalanya dan memberiku separuh senyumnya yang seksi dan sempurna. Kemeja putih yang sempurna, celana pendek hitam, rambut pirang dan kulit keemasan, duduk santai di meja romantis untuk dua orang yang diatasnya terdapat sebatang mawar merah di vas.

Pemandangan ini membuat hati luluh.

Tiba-tiba, dia berdiri dan berjalan menuju kearahku dan mengambil kamera dariku. Dia meraihku kesisinya, memutar lensa kearah kami dan memotret kami berdua.

Tiga hari terakhir ini, saat kami berjalan-jalan, jika aku membawa kamera dia akan meminta seseorang untuk mengambil foto kami berdua.

Ya, kami memotret banyak kenangan, dan itu membuatku tersenyum.

Dia menaruh kembali tali kamera di leherku dan mencium dahiku.

"Terima kasih makan malamnya. Itu sangat enak dan romantis."

"Dengan senang hati."

"Kapan kita akan dijemput?" aku membelai dadanya, di bawah kemejanya yang terbuka.

"Sekitar dua puluh menit lagi."

"Ok, ayo kita berjalan-jalan di pulau. Ini kecil, seharusnya cukup sepuluh menit saja."

"Ayo." Jari-jarinya mengait di jariku dan kami berjalan, melintasi air yang dalamnya semata kaki.

Saat kami kembali ke meja, kendaraan untuk menjemput kami kembali ke pondok tiba. Kami menaiki perahu kecil dan menyeberangi air yang semakin gelap.

ooOoo

.

Aku bangun karena sinar matahari yang menimpa wajahku tubuh telanjangku tidak tertutup oleh apapun. Wajah Sehun berada diantara kakiku.

"Sial!" aku bangun dan menyandarkan diriku di siku, dan memandang kaget Sehun yang mengangkat pinggulku sehingga dia bisa membenamkan wajahnya di pusat tubuhku, menjilat dan menggoda klitorisku.

"Selamat pagi, baby," bisiknya di pusatku dan meniup di titik yang paling sensitif.

"Oh Tuhan," hanya itu yang bisa kukatakan, kembali terbaring di ranjang. Aku merasakan dia menyeringai dan menyelipkan dua jari ke dalam diriku, membuat gerakan 'datang kemari' dan sebuah cahaya meletus di dalam diriku.

Sial.

Aku tidak bisa menahannya lagi dan akhirnya aku meledak seiring dia terus menghisap klitorisku memainkan jarinya di dalam diriku, ototku mengejang di sekelilingnya. Akhirnya dia mencium tattooku dan melakukan sihir ajaibnya sampai ke atas tubuhku hingga akhirnya dia berbaring di sisiku, menyingkirkan rambut dari wajahku.

"Selamat pagi," gumamku. "Bukan cara yang buruk untuk membangunkan tidur."

"Aku senang kau setuju." Dia menciumku dan aku merasakan diriku di mulutnya dan itu menyalakan libidoku kembali.

Mengejutkan dirinya, aku mencengkeram bahunya dan mendorongnya berbaring di ranjang, berbaring diatasnya dan menyandarkan pusatku diatas miliknya yang keras. Melakukan permainannya, aku mengaitkan jariku padanya dan mengangkat tangan kami keatas, ke sisi kepalanya dan menahannya.

"Apa yang akan kau lakukan padaku?"

Dia menyeringai, matanya bersinar dengan gairah. Aku menggerakkan pinggulku padanya dan dia menghembuskan nafas tajam.

"Well," aku turun dan menggigit lehernya lembut, lalu menghukumnya dengan lidahku.

"Setelah panggilan bangun yang fantastik tadi, kurasa aku akan menidurimu."

"Benarkah?" dia berusaha menarik tangannya tapi dengan segala kekuatan aku menahannya. Kita berdua tahu bahwa dia dengan mudah dapat melapaskan diri dariku, tapi dia bekerja sama. "Aku tak akan menghentikanmu, baby."

Aku terus menyandarkan diriku ke depan hingga aku menemukan ujung miliknya dengan bibir bawahku lalu aku membenamkan miliknya hingga sepenuhnya dia terkubur di dalam diriku.

"Sial," Dia berbisik diantara giginya yang mengatup. "Kau sangat nikmat."

Aku mulai bermain, pelan dan dangkal, maju dan mundur, menggodanya. Dengan setiap gerakan turun aku mengetatkan otot-ototku di sekitar miliknya, dan melepaskannya dan memainkannya lagi. Aku menyapukan bibirku di bibirnya dan menggoda ujung hidungnya dengan hidungku.

Saat aku merasa dia siap untuk keluar aku berhenti dan mengendorkan otot-ototku.

"Oh, kau memang penggoda. Aku harus memukul pantatmu."

"Aku menahan tanganmu." Jawabku dan aku mulai bermain lagi.

"Jadi begitu." Matanya memejam dan menggigit bibir saat aku meningkatkan tempo dan kenikmatannya berlebihan. Aku melepaskan tangannya dan duduk, menungganginya cepat dan keras.

"Berpegangan di rangka ranjang." Aku suka menjadi bos, matanya semakin melebar. Dia menurut.

Dengan cepat aku turun darinya dan menggenggam miliknya di tanganku, memasukkannya di mulutku, menghisapnya keras.

"Sial!" dia menggenggam kepalaku tapi aku menarik kepalaku dari genggamannya dan membelalakkan mata padanya.

"Di. Rangka ranjang."

Dia tersenyum dan menurut dan aku melanjutkan siksaan manis itu, menjilati manisnya miliknya, menggerakkan tanganku naik dan turun pada miliknya yang keras, dan dia keluar di mulutku.

Saat dia mulai tenang, aku mencium tubuhnya, bermain-main di perutnya yang terpahat, menggoda pusarnya dengan gigiku. Aku menjalankan ujung jariku di sisi tubuhnya membuatnya kegelian dan tertawa. Aku mencium lehernya, dagunya, dan akhirnya meletakkan ciuman yang tulus mulutnya.

"Saling bergantian adalah adil," aku membisikkan kata-katanya yang kemarin dia ucapkan dan dia mengerang.

"Tuhan, Luhanie, kau akan membunuhku."

"Ah, tapi dengan cara yang hebat."

Dia tertawa dan menciumku lembut, lalu tiba-tiba berdiri dan menarikku kearahnya, melemparku ke atas bahunya yang telanjang.

"Aku punya pemandangan terbaik dari pantatmu sekarang, cintaku." Aku memberinya sedikit tamparan dan dia membalasnya di pantatku.

"Akan kemana kita?"

"Berenang telanjang!" dia berjalan cepat dengan membawaku di bahunya keluar dari dek dan menuruni tangga yang menuju ke air, dan melemparkanku kedalam air.

Aku jatuh di permukaan yang hangat dengan ceburan yang keras dan banyak percikan air. Ini tidak terlalu dalam, hanya enam kaki, dan saat aku menyingkirkan rambut yang basah dari wajahku, aku melihat Sehun masuk ke air dengan posisi kepala terlebih dahulu. Dia berenang ke arahku dan aku tidak bisa tidak mengagumi caranya menggerakkan otot-otot punggungnya.

"Hai," aku tersenyum malu-malu saat dia muncul di permukaan di depanku dan melingkarkan tangan dan kakiku padanya.

"Hai." Dia menyeringai dan meletakkan tangannya di pingganggku, mengangkatku ke atas dan membenamkanku kembali di air.

Oh, kami akan bermain! Telanjang!

Aku memekik ketika aku muncul di permukaan dan menyipratkan air padanya dan dia balas menyipratkan air padaku dengan tertawa.

Dia berenang kembali padaku dan aku mencoba melarikan diri, tapi dia menangkapku dan melemparkanku lagi.

"Apakah kau ingin menenggelamkanku?"

"Mungkin aku akan melakukan pernafasan buatan dari mulut ke mulut."

"Kau tidak perlu membunuhku untuk melakukan itu! Aku yakin itu." Aku terkekeh dan menyipratinya lagi, menikmati tubuh telanjangnya di dalam air yang bening, merefleksikan mata hitam kecoklatannya yang sempurna.

"Tuhan, kau terlihat cantik saat ini," katanya.

"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama tentangmu." Aku berenang dan masuk ke pelukannya lagi.

"Aku senang bermain denganmu," katanya dan mencium hidungku.

"Aku juga, di dalam dan di luar ranjang." Aku tersenyum lancang dan dia menggigit bibirnya.

"Aku harus bilang, pagi ini adalah yang pertama untukku."

"Yang pertama bagus atau yang pertama buruk?" aku menjalankan jari-jariku ke dalam rambutnya yang basah, senang merasakan tubuh telanjang kami berangkulan di hangatnya laut pasifik.

"Yang pasti bagus, walaupun aku harus mengakui, aku lebih memilih memegang kontrol."

"Yah, variasi adalah bumbu kehidupan. Aku suka membuatmu terkejut sesekali." Aku mencium dagunya dan dia tertawa kecil.

"Tidak ada protes, baby."

"Hmm… bagus."

Dia mengangkatku dan mengejutkanku dengan meluncur masuk ke dalam diriku. Aku menyandarkan keningku di keningnya saat dia masih memasukiku.

"Aku mencintaimu."

"Oh baby, Aku mencintaimu juga. Ayo kita menakuti ikan-ikan."

ooOoo

.

TBC

.

ooOoo

.

.

.

Thanks for:

Juna Oh - Rly. C. JaeKyu - fuckyeahSeKaiYeol - Nam NamTae - ramyoon - AGNESA201 - nisaramaidah28 - noenoe - noVi - Seravin509 - keziaf - fitry. sukma. 39 - Selenia Oh - Arifahohse.

.

Jujur aku baru inget chapter kemaren isinya Luhan ulang tahun dari review xD … Aku langsung baca ulang chapter 10 dan … hmmm itu murni kebetulan. Aku g timing/rencana chapter 10 bakal dipost pas bunda ultah. Karena sebelum aku post chap1, aku sudah nyelesaiin full pembagian ff ini dari chap 1-16 dan hanya tinggal publish sesuai jadwal … apalagi aku tipe pelupa hehehe. Memang sedikit perubahan jadwal nge-post untuk tujuan memperingati hari ulang tahun pemeran utama^^

Intinya, kemarin hanyalah kebetulan yang tak disangka varokah :')

.

See you next chap~