Sebuah pistol Mark 23 diletakkan di atas meja, tepat di samping beberapa peluru yang belum dipasang. Sang pemilik pistol tersebut menyesap teh Kusmi-nya sebelum berkutat kembali dengan senjata api buatan Jerman itu. Sorot mata yang dingin mendominasi paras tampannya, membuat tatapan tak bersahabat itu terlihat kontras dengan badai di luar kediaman Golubev.
Mengabaikan waktu yang sudah melewati tengah malam, pria itu terus berkutat dengan kegiatannya. Benaknya terlalu dipenuhi oleh ambisinya sampai ia tak peduli dengan sekelilingnya lagi. Pikirnya, bagaimana pun caranya, ia harus mendapatkan apa yang semestinya menjadi miliknya, termasuk hati pria yang ia cintai sejak dulu.
Harus.
"Jika salju tak mau turun, maka aku akan memaksanya." Pria itu membentangkan seringaian tajam, tangannya yang memegang pistol terarah lurus pada selembar foto di dinding. "Bersiaplah, Kim Baekhyun."
Kemudian satu tembakan menembus foto itu.
Foto Baekhyun.
.
.
.
###
Azova10 and parkayoung
presents
ENIGMA
Chapter 10 – The Man Behind All
Main Casts: Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Tiffany Hwang (SNSD), Kristina Pimenova, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Jongin, Jin Goo, Jennie Kim (BP), Irene Bae (RV), Kim Jiwon, Kim Hyorin (Sistar), Kim Jongdae
Genre : Romance, Drama, Crime/Action
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: FF ini terinspirasi dari film 'Anastasia'
Dialog dalam BAHASA INGGRIS ditulis dengan BOLD
Dialog dalam BAHASA RUSIA ditulis dengan BOLD-ITALIC
(SISANYA berarti BAHASA KOREA ya)
###
.
.
.
Pagi ini, Baekhyun memutuskan untuk menghirup udara segar di balkon kamarnya. Diregangkannya otot-ototnya yang terasa kaku sambil mengedarkan pandangannya ke arah taman istana di mana para pekerja istana sibuk dengan tugas masing-masing. Tampak kabut tipis masih menyelimuti sebagian besar area istana, membuat Baekhyun harus memasukkan kedua tangannya ke dalam cardigan ivory-nya.
Satu helaan napas panjang Baekhyun hembuskan sebagai bentuk kelegaan. Setelah beberapa hari bersedih di dalam kamar, akhirnya rongga dadanya terasa begitu ringan. Terima kasih pada kehadiran Hyorin dan Jongin di istana Alexander yang sungguh membantunya bangkit sedikit semi sedikit. Baekhyun tak tahu apa yang akan ia lakukan jika saja Chanyeol tak membawa mereka kemari.
Hanya sayangnya, siang ini Hyorin dan Jongin harus kembali ke Korea dan meninggalkan Baekhyun di Rusia. Menyebalkan rasanya. Kelak Baekhyun harus bertahan melewati hari-harinya di antara Golubev dan Grigoriev yang masih mengincar harta Pimenova. Beruntung masih ada Chanyeol di sisinya, jadi setidaknya Baekhyun bisa tenang.
Omong-omong tentang Chanyeol, Baekhyun jadi teringat kejadian semalam. Malam yang bisa dibilang sebagai malam terpanas yang pernah Baekhyun alami bersama Chanyeol. Well, mungkin itu hanya Baekhyun, karena jelas Chanyeol lebih bisa menahan diri. Tapi tetap saja itu membuat jantung Baekhyun berdentum keras setiap kali mengingatnya. Agak malu juga kalau dipikir-pikir.
"Apa kau sedang melamunkan hal menyenangkan?"
Suara Kyungsoo yang muncul di belakang tiba-tiba mengembalikan fokus Baekhyun. Remaja mungil itu tersenyum simpul pada si mata besar, lalu kembali memandangi taman istana.
"Begitulah, hehe~" jawabnya dengan pipi merona.
Kyungsoo balas tersenyum. "Senang melihatmu kembali ceria, Baek. Rasanya sudah cukup lama juga kau mengurung diri di dalam kamar. Bagaimana kabarmu? Sudah baikan?"
Baekhyun mengangguk pasti. "Ya, berkat Eomma dan Jongin Hyung. Aku senang mereka datang kemari. Meski mereka di sini hanya tiga hari, tapi itu sangat mengobati suasana hatiku yang buruk."
"Sepertinya kau sangat menyayangi mereka ya?"
"Tentu saja, mereka adalah keluargaku yang sangat berharga." Baekhyun mengulum senyumannya saat maniknya menangkap sosok jangkung bersurai ebony di taman istana. Dalam hati ia menambahkan Chanyeol ke dalam daftar orang yang ia sayangi.
"Apa kau akan ikut mereka kembali ke Korea?"
Baekhyun terdiam. Ia ingin sekali menjawab 'ya', tapi ucapan Hyorin tempo hari kembali terngiang di kepalanya.
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan, Baekhyunnie. Ada Chanyeol dan Jin Goo yang akan menunjukkan bagaimana cara berlaku adil pada semua yang kau miliki. Ada Eomma dan Jongin yang senantiasa siap memelukmu di saat kau lelah. Kami akan selalu berada di sisimu, Baek, berjalan bersamamu dalam keadaan apa pun. Yang perlu kau lakukan hanya tidak boleh menyerah. Eomma yakin semua kesulitan akan selalu memiliki jalan keluar."
Hyorin benar.
Semuanya pasti akan baik-baik saja. Selama ada Chanyeol, Hyorin, Jongin, dan Jin Goo, tak ada yang perlu Baekhyun khawatirkan, termasuk kehadiran Golubev dan Grigoriev.
"Tidak, aku akan tetap tinggal di sini." Baekhyun menjawab tegas. "Aku benci mengakuinya, tapi seperti yang dikatakan orang-orang, di sini adalah rumahku. Meski mungkin ke depannya kelak kehidupanku akan terasa berat, aku tetap harus menerima dan menghadapinya."
"Kenapa begitu?"
Baekhyun meremat kuat cardigan-nya saat memori masa lalunya melebur bersama keadaannya saat ini. Sesak itu masih ada di balik rongga dadanya. Memang tidak sesesak sebelumnya, tapi itu masih ada di sana dan kemungkinan besar akan terus membekas.
"Karena menjadi bagian dari Pimenova adalah takdirku. Suka atau tidak, kenyataan itu takkan pernah berubah."
Lalu hening.
Baekhyun masih tenggelam dalam lamunannya, sementara Kyungsoo menatapnya dengan tatapan tak terjemahkan. Tak ada yang tahu apa maksud di balik tatapan itu, namun yang jelas itu bukan bentuk keibaan atau simpati. Itu adalah sesuatu yang lain.
"Kalau begitu, lepaskan saja takdir itu."
"Eh?"
"Nama 'Pimenova' hanyalah sebuah pilihan, kau bisa melepasnya kapan pun kau mau. Bukankah dengan begitu kau bisa hidup tenang bersama keluargamu di Korea?"
Termangu, Baekhyun lamat-lamat memikirkan perkataan Kyungsoo. Pria itu memang ada benarnya, ucapannya malah mendukung keinginan Baekhyun. Ia bisa hidup bahagia bersama Hyorin dan Jongin di Korea, menjalani kesehariannya seperti dulu, tanpa terbebani oleh apa pun. Tak ada lagi perebutan hak waris, tak ada lagi sindiran dari Golubev dan Grigoriev, tak ada lagi ancaman hidup juga kesakitan.
Lebih dari apa pun, Baekhyun mendambakan semua itu.
Namun di saat bersamaan, sesuatu terasa mengganjal hatinya. Ini sama seperti ketika Baekhyun jatuh sakit. Ia ingin memakan es krim daripada minum obat, tapi kemudian tersadar bahwa demamnya pasti takkan sembuh jika ia memilih ego-nya. Ia harus minum obat agar bisa cepat sembuh dan makan es krim lagi.
Situasi Baekhyun saat ini pun tidak jauh berbeda dengan ketika ia sedang sakit. Seperti firasat buruk akan terjadi, Baekhyun pikir ia tak boleh memilih ego-nya. Nasihat Hyorin, dukungan Jongin, juga lindungan Chanyeol; mereka telah berbuat begitu banyak demi Baekhyun karena mereka sayang juga peduli padanya.
Baekhyun tak mau menyia-nyiakan usaha mereka.
"Tidak apa." jawab Baekhyun setelah cukup lama terdiam. "Karena aku tak melakukan ini demi diriku atau ibu kandungku atau siapa pun, tapi demi orang-orang yang kusayangi. Dan aku yakin, seberat apa pun jalan yang kulalui kelak, mereka akan terus berada di sampingku untuk mendukungku." Menoleh ke arah Kyungsoo, bibir Baekhyun mengembangkan senyuman tulus. "Eomma, Jongin Hyung, dan Chanyeol Ahjussi. Aku akan menjaga nama 'Pimenova' untuk mereka.."
Berbeda dengan Baekhyun yang merasa lega setelah mengatakan itu, Kyungsoo justru merasakan hal yang sebaliknya. Tangannya mengepal sempurna di sisi tubuhnya dan darahnya bergejolak panas. Ia kesal juga gusar, terlebih karena Baekhyun menyebut nama 'Chanyeol' di dalamnya. Padahal pikirnya akan mudah membujuk Baekhyun untuk melepaskan semua yang ia miliki di saat Hyorin dan Jongin berada di istana, tapi ternyata perkiraan itu meleset jauh.
"Kau pikir kau bisa memikul semuanya?"
Baekhyun mengerutkan dahinya tak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Pimenova. Kau tahu mereka meninggalkan banyak warisan padamu, kau pikir kau sanggup menjaganya? Bahkan aku, Jennie, Willis, dan Irene harus bersama-sama melakukannya, kau tidak apa hanya dengan dirimu sendiri? Beberapa hari yang lalu saja kau nyaris kehilangan nyawamu, tapi kau tetap bersikukuh pada keputusanmu itu? Kau tidak takut kejadian yang sama akan terulang lagi?"
Tidak. Baekhyun sebenarnya takut. Memang benar ia harus memikul sesuatu yang besar, tidak menutup kemungkinan pula kejadian buruk yang akan mengancam nyawanya sendiri terulang lagi. Namun keputusan Baekhyun masih sama. Ia akan tinggal di istana Alexander, hidup sebagai seorang Pimenova.
"Setidaknya aku tidak sendirian dalam pengambilan keputusan ini. Dan lagi, aku tak khawatir." Baekhyun terkekeh renyah. Pipinya merona saat maniknya menemukan Chanyeol tersenyum manis padanya di bawah sana. "Ada Chanyeol Ahjussi di sisiku.."
Terlalu larut dalam dunianya sendiri, Baekhyun sama sekali tak sadar bahwa Kyungsoo tak lagi memandangnya dengan ramah seperti biasa, melainkan dengan tatapan membunuh. Tatapan di mana perasaan dengki dan cemburu bercampur menjadi satu, melahirkan suatu niatan yang bahkan lebih buruk daripada yang pernah dilakukannya dulu.
Namun di lain sisi, Kyungsoo pun tak sadar bahwa ada seseorang yang menyadari tatapan membunuh itu. Dan orang itu tahu akan terjadi hal buruk dalam waktu dekat ini, entah itu pada Baekhyun atau orang-orang di sekelilingnya.
.
.
Bandara Internasional Vnukovo, Moskow..
"Jangan lupa makan. Eomma akan memastikan pada Chanyeol apa kau makan dengan baik atau tidak." Hyorin merapikan pakaian Baekhyun dan mengulurkan tangan untuk mengusuk rambut maroon remaja itu. "Ada syal dan sweater di lemari kamarmu. Jika musim dingin tiba, kau harus memakainya. Musim dingin di Rusia jauh lebih dingin daripada di Korea. Eomma sangat tahu kau mudah sakit jika cuaca sedang dingin."
"Kupikir Eomma bisa tinggal di sini lebih lama dan merawatku." Baekhyun beralih memeluk Hyorin, mengeratkan hangat tubuh wanita yang sudah ia anggap ibu kandung sendiri, meski kenyataannya yang pernah berada dalam rahim Hyorin hanya Jongin.
"Tidak. Eomma akan pulang dan kau harus bisa mandiri. Kau mengerti, hm?"
"Ya, ya, ya. Memaksa Eomma sama saja memaksa bulan menjadi satelit Mars."
Meski terdengar malas-malasan menjawab, Hyorin tetap tersenyum mendengar respon Baekhyun. Atensinya kemudian ia geser pada Chanyeol yang berdiri di belakang Baekhyun. "Chanyeol-ssi, aku titip anak nakal ini padamu. Hubungi aku jika dia tidak mendengarkan apa yang kau katakan."
Baekhyun merotasikan bola matanya bosan. Bahkan Hyorin beraliansi dengan Chanyeol, yang sama saja artinya membatasi ruang gerak Baekhyun untuk bertindak sedikit nakal. Telunjuk Hyorin pun sesekali muncul kala banyak larangan untuk sesuatu hal konyol yang selalu menjadi kebiasaan Baekhyun.
"Kami pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, anak nakal." Giliran Jongin yang mengusuk surai Baekhyun.
"Hyung, jika sudah sampai jangan lupa memberi kabar."
"Pasti!"
"Baiklah. Kalau begitu, kami pamit sekarang." Hyorin mengecup puncak kepala Baekhyun dan tersenyum hangat setelahnya. "Sampai jumpa, Baekhyunnie. Ingat selalu pesan Eomma, terutama tentang kesehatanmu."
"Aku mengerti. Eomma dan Jongin Hyung juga mainlah sesekali ke sini, nanti aku sendiri yang akan menjemput kalian di bandara."
"Haha, baiklah."
Tidak ada yang lebih menyedihkan dari perpisahan. Batasan jarak yang jauh itu akan membentang rindu Baekhyun lagi pada Hyorin juga Jongin yang harus kembali ke Korea. Kini Baekhyun akan kembali pada fakta di mana dia adalah seorang Pimenova. Terlalu sulit untuk dienyahkan karena darah dalam diri Baekhyun pada akhirnya menuntun pada gelar ini.
Selama perjalanan pulang menuju istana Alexander, Baekhyun memilih banyak diam untuk mencerna sesuatu yang sedari tadi mengganggunya. Kuku ibu jarinya mungkin akan berteriak nyalang karena Baekhyun menggigitnya terus menerus; peralihan lain dari otak tujuh belas tahun miliknya yang terpaksa mencari jalan keluar.
Ini tidak mudah.
Rasanya Baekhyun ingin mengerang frustasi, tapi ia menahannya karena itu bisa saja dijadikan titik balik musuh untuk menyerangnya. Dan Baekhyun tidak ingin kalah karena hal itu. Bukan kemenangan yang ia cari, tapi keadilan dan kebenaran yang selama ini selalu tertutup dengki dan ketamakan.
"Kau butuh sesuatu?" Beruntung hari itu hanya Chanyeol yang menemani Baekhyun mengantar Hyorin dan Jongin ke bandara. Dia jadi leluasa untuk meraih tangan Baekhyun dan menautkan jemarinya pada kelentikan jari Baekhyun. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ah? Oh, tidak. Tidak ada."
"Kau tahu kau bisa mengandalkan aku kapan pun, Baek."
"Ya. Aku tahu itu."
"Jadi," Chanyeol menepikan mobilnya pada jalanan yang lengang, menarik dagu Baekhyun sebentar dan bertukar pandang dengan remaja itu. "Hal apa yang sedari tadi mengganggu pikiranmu, hm?"
Merasa tak bisa berkelit lagi, Baekhyun pun membuang napas. "Ahjussi.."
"Apa?"
Baekhyun mengemut bibir bawahnya sebentar. Ada keraguan yang tergantung di hatinya. "Itu..boleh aku minta tolong?"
"Apa itu?"
"Um..bisa kau panggilkan Jin Goo Ahjussi dan Tuan Baranov ke kamarku selepas makan malam? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mereka."
"Membicarakan apa, kalau aku boleh tahu?"
Baekhyun meremat tangan Chanyeol, pandangannya tertuju lurus ke depan. "Tentang warisan Pimenova."
.
.
Sudah hampir satu jam lamanya Baekhyun termenung di dalam kamarnya, dengan manik menatap lekat kalung liontin milik Kristina. Ada banyak yang terlintas dalam benaknya, namun yang paling mendominasi adalah tentang rencananya untuk membagi sebagian warisan Pimenova pada Golubev dan Grigoriev.
Baekhyun tahu perebutan hak waris ini takkan berakhir jika ia tak segera angkat tangan. Tetapi Baekhyun juga masih ragu, apakah cara yang ia pilih akan membuat jalan tengah untuk semua pihak? Bagaimana jika ada pihak yang keberatan dan keadaan menjadi semakin rumit? Meski Baekhyun memiliki kuasa penuh atas warisan itu, ia tetaplah masih awam dalam hal ini.
Itu sebabnya Baekhyun meminta Chanyeol untuk memanggil Jin Goo dan pengacara keluarga Pimenova—Kendrick Baranov—ke kamarnya sekarang, untuk membahas soal idenya ini. Baekhyun sungguh berharap akan ada titik terang melalui diskusi ini.
TOK TOK.
"Tuan Muda Baekhyun?"
Baekhyun bangkit dari duduknya untuk membuka pintu ketika suara Jin Goo terdengar. Sesuai keinginannya, Chanyeol datang bersama Jin Goo dan Kendrick Baranov. Cepat-cepat Baekhyun menyuruh mereka masuk, lalu mengunci pintu kamarnya.
"Chanyeol bilang Anda ingin mendiskusikan sesuatu? Apa itu?" tanya Kendrick.
"Ya, uh.." Baekhyun menggaruk pipinya kikuk. "Aku tidak tahu harus memulai dari mana, jadi kupikir aku akan langsung ke intinya saja."
Kendrick dan Jin Goo sama-sama bertukar pandang, sebelum akhirnya memakukan atensi sepenuhnya pada Baekhyun. Sepertinya Tuan Muda mereka hendak membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Singkat kata, aku ingin membagikan sebagian warisan Pimenova pada Grigoriev dan Golubev."
Mendengar itu, sontak mengundang tautan alis di wajah Jin Goo dan Kendrick. Ada sirat penolakan di air muka keduanya.
"Apa yang membuat Anda ingin melakukan itu?" Kendrick mencoba bertanya. Ia tak ingin berburuk sangka dulu. Pikirnya, Baekhyun pasti memiliki alasan.
"Kalian tahu kan selama aku tak ada, Golubev dan Grigoriev-lah yang merawat seluruh peninggalan Pimenova? Maksudku, aku tahu kalian juga berperan serta, tapi melihat respon Golubev dan Grigoriev yang menolak mentah-mentah ketika pembacaan surat wasiat waktu itu, kupikir uang yang mereka keluarkan pastilah tidak sedikit." Baekhyun menghela napas sejenak di jeda kalimatnya. "Aku memang tidak tahu apakah mereka memiliki niatan tersembunyi atau apa pun, tapi yang pasti aku sangat berterima kasih atas usaha mereka. Karenanya, aku ingin membalas budi mereka dengan membagi sedikit dari warisan yang kudapat. Bagaimana menurut kalian?"
Lalu hening.
Semua mata tertuju pada Baekhyun, sedikit banyak tak percaya dengan ide sang Tuan Muda. Saking heningnya, Baekhyun mulai khawatir jika idenya ini adalah satu yang terburuk.
"Apakah itu ide yang buruk?" tanyanya takut-takut.
Jin Goo kembali bertukar pandang dengan Kendrick. Satu helaan napas keluar dari celah bibirnya. "Entahlah, Tuan Muda. Saya pikir kemungkinan baik dan buruknya sama besar."
"Tuan Jin Goo benar, Tuan Muda. Kemungkinannya 50:50. Jika itu ditempatkan pada posisi kami, ide Anda memang terdengar adil. Tapi jika itu ditempatkan di posisi mereka, kami ragu mereka akan setuju."
"Tapi bukankah aku pewaris sah-nya? Pasti ada yang bisa kita lakukan untuk meyakinkan mereka, bukan?"
"Well, memang ada, tapi.." Kendrick menggantung kalimatnya, membuat Baekhyun semakin gugup. "Sebelumnya, bisa saya tahu berapa persen yang ingin Anda berikan pada Golubev dan Grigoriev?"
"Um..entahlah, aku tidak tahu persis sebanyak apa warisan Pimenova. Apa lima persen cukup?"
"Lima persen untuk mereka berempat?" Jin Goo memastikan.
"Tidak, untuk masing-masing."
Baik Chanyeol, Jin Goo, maupun Kendrick terkejut mendengar itu. Lima persen dari jumlah keseluruhan warisan Pimenova itu terhitung sangat banyak, apalagi jika diberikan pada masing-masing orang.
"Itu sangat banyak, Tuan Muda. Jumlahnya mungkin melebihi dari apa yang telah mereka keluarkan untuk Pimenova."
"Bukankah itu bagus? Dengan begitu, mereka tak bisa mengajukan protes karena aku telah memberi lebih. Iya, kan?"
Baekhyun memang ada benarnya. Tapi tetap saja ini mengejutkan. Jika lima persen diberikan masing-masing pada Willis, Kyungsoo, Irene, dan Jennie, maka Baekhyun kehilangan dua puluh persen warisan keluarganya. Dan itu bukanlah nominal yang sedikit.
"Apa Anda yakin dengan keputusan ini, Tuan Muda?" Jin Goo sekali lagi memastikan. Ia tak ingin Baekhyun sampai salah langkah.
"Aku sangat yakin, Ahjussi." tandas Baekhyun. "Aku ingin segera mengakhiri perdebatan di antara kami dan kupikir ini satu-satunya jalan agar mereka bungkam. Aku ingin hidup tenang mulai sekarang."
Keputusan Baekhyun benar-benar sudah bulat. Tak ada yang bisa mengubah atau menghentikannya, termasuk Jin Goo dan Kendrick karena Baekhyun adalah pewaris sah-nya.
"Baiklah, jika itu memang keputusan Anda." Kendrick akhirnya mengalah. "Saya akan mempersiapkan berkas yang dibutuhkan. Akan saya kabari secepatnya jika semuanya sudah siap."
"Hm, terima kasih, Tuan Baranov. Aku sangat menghargainya."
Tersenyum, Kendrick membungkuk hormat sebagai jawaban. Keadaan di ruangan itu menjadi hening kembali ketika Kendrick dan Jin Goo pamit. Sekarang tersisa Baekhyun dan Chanyeol di dalam sana.
"Ah, mendiskusikan hal ini saja sudah membuatku lelah."
Chanyeol menghampiri Baekhyun yang menunduk lemas. Raut kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. "Kau baik-baik saja, Baek?"
"Hm, aku baik. Aku hanya perlu menyiapkan mental untuk rapat keluarga nanti." Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi rasa gelisah itu menghantuinya. "Ahjussi, apa keputusanku ini tepat? Bagaimana jika ini hanya membuat situasi semakin rumit?"
Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam dekapannya, mengusap surai maroon itu penuh kasih sayang. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Baek. Apa pun yang menjadi keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Dan tak hanya aku. Ada Jin Goo Hyung, Tuan Baranov, Eomma-mu, juga Jongin. Kami semua ada di pihakmu. Kau tak sendirian, Baekhyunnie.."
Tersenyum lembut, Baekhyun pun membalas dekapan itu. Rasanya begitu nyaman juga hangat. Mendengar detakan jantungnya membaur bersama detakan jantung Chanyeol, Baekhyun tahu bahwa Chanyeol bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Dan ia percaya.
"Terima kasih, Ahjussi.."
.
.
Rachel menyunggingkan senyum miring saat seseorang duduk di depannya. Kacamata hitam yang sedari tadi bertengger manis di hidungnya diturunkan sedikit, menatap si pria bermata besar yang memintanya untuk bertemu di restoran kecil di pinggir kota.
"Kau tahu kau memilih tempat bertemu yang cukup terbuka, Tuan Golubev." kata Rachel setelah terkekeh kecil.
"Itu tidak penting."
"Jika pertemuan ini mengenai rencana busukmu, kupikir—ya, itu sangat penting."
Kyungsoo—si pria bermata besar itu—mendelik Rachel. "Jangan lupa kau juga bagian dari rencana busuk ini, Nona Yoo."
Dengusan kecil keluar dari celah bibir Rachel. "Kupikir kau sudah tidak memakai jasaku lagi setelah malam di menara tertinggi itu."
"Aku hanya sedang menyusun rencana lain agar tidak berakhir seperti rencanamu waktu itu." sindir Kyungsoo.
Rachel menarik senyum miring kembali. "Dan apa rencana hebatmu itu, hm? Melihatmu duduk di hadapanku, kutebak kau sudah menyusunnya dengan matang."
"Tentu saja. Yang perlu kau lakukan hanyalah melindungiku dari luar."
Sebelah alis Rachel terangkat tinggi. Entah kenapa, ia merasa ada yang janggal dari rencana ini. "Memang apa yang akan kau lakukan?"
Seringaian tajam tersemat di bibir penuh Kyungsoo. Ia membuka sedikit jaket kulitnya, memperlihatkan pistol Mark 23 miliknya. "Aku akan menyerang dari dalam."
###
Setelah diskusi rahasia di kamar Baekhyun, Kendrick kembali ke istana Alexander keesokan harinya dengan membawa surat pembagian warisan Pimenova. Sebelumnya Willis, Kyungsoo, Irene, dan Jennie di minta untuk datangke sana. Kini Baekhyun, Kendrick, beserta Golubev dan Grigoriev tengah berkumpul di ruang pertemuan keluarga di ruang bawah tanah. Ruangan itu menjadi pilihan karena akan meminimalisir gangguan dari luar. Sementara beberapa bodyguard, termasuk Jin Goo dan Chanyeol, berjaga di luar ruangan.
"Menurutmu semuanya akan baik-baik saja?" tanya Chanyeol pada Jin Goo.
"Kita berharap saja yang terbaik."
Chanyeol berdehem. Ia sungguh berharap Baekhyun baik-baik saja di dalam sana, terutama karena remaja mungil itu satu ruangan bersama sang pengancam nyawanya.
.
.
Atmosfer di dalam ruang pertemuan keluarga terasa begitu menegangkan. Baekhyun yang berada di sebelah Kendrick pun tak bisa duduk nyaman. Semua pasang mata Golubev dan Grigoriev tertuju kepadanya, menatapnya dingin seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. Namun Baekhyun tetap memberikan usaha terbaiknya untuk terlihat tenang, meski dalam hati ia gugup setengah mati.
Suasana yang hening itu kemudian pecah ketika Kendrick berdehem. Pria paruh baya itu memakukan atensinya pada seluruh yang ada di dalam ruangan, tangan kanannya memegang selembar kertas yang adalah surat pembagian warisan Pimenova.
"Sebelumnya terima kasih karena Tuan dan Nona Golubev serta Grigoriev telah hadir dalam rapat ini. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan terkait perubahan pembagian warisan Pimenova."
Air muka Grigoriev dan Golubev sontak berubah mendengar itu. Satu sama lain terlihat gugup juga sangat mengantisipasi apa yang sekiranya akan disampaikan oleh Kendrick.
"Berdasarkan hasil diskusi antara saya dan Tuan Muda Pavel Baekhyun Pimenova, warisan Pimenova yang sebelumnya hanya diberikan pada keturunan murni Pimenova, akan dibagikan pada beberapa pihak yang sudah merawat peninggalan Pimenova selama Tuan Muda Baekhyun tidak ada di tempat. Berikut di antaranya pihak-pihak tersebut adalah Tuan Willis Leonade Grigoriev, Nona Irene Valera Grigoriev, Tuan Kyungsoo Golubev, dan Nona Jennie Yalena Golubev." Kendrick menunjukkan surat pembagian warisan Pimenova sebelum melanjutkan, "Tuan Muda Baekhyun memutuskan untuk memberikan masing-masing lima persen dari total warisan Pimenova kepada pihak-pihak yang disebutkan tadi."
Dan hal yang ditakutkan Baekhyun pun terjadi. Dengusan serta cibiran dari Golubev dan Grigoriev. Kentara sekali terlihat, terutama dari Jennie dan Irene.
"Lima persen?" Jennie melemparkan senyum sinis pada Baekhyun. "Menurutmu itu cukup untuk membalas budi kami, hah? Kau pikir sudah berapa lama kami merawat peninggalan keluargamu itu? Apa kau bahkan tahu jumlah uang yang telah kami keluarkan?"
"Untuk jumlah uang yang telah Tuan-Tuan dan Nona-Nona keluarkan, saya dan pihak Kremlin sudah menghitung semuanya. Jika dihitung secara keseluruhan, totalnya tidak lebih dari sepuluh persen dibandingkan dengan yang Tuan Muda Baekhyun tawarkan—yakni dua puluh persen." tutur Kendrick, kemudian tersenyum simpul pada Jennie. "Saya percaya mendapatkan lima persen per orang itu sudah lebih dari cukup, Nona Golubev."
Disindir begitu oleh orang yang tak sederajat dengannya tentu saja membuat Jennie dongkol. Namun yang paling menyebalkan adalah kenyataan bahwa ia tak bisa membalas perkataan itu. Bahkan Irene yang selalu sependapat dengannya pun tak mampu membelanya.
"Apakah ada lagi yang ingin ditanyakan atau disampaikan?" Willis mengangkat tangannya. "Silakan, Tuan Grigoriev."
Willis bangkit dari duduknya, manik kelamnya terfokus pada Baekhyun. "Sejujurnya aku tak merasa puas dengan lima persen yang kau berikan, Baekhyun. Mungkin memang benar jumlah yang kau tawarkan jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang kami keluarkan. Hanya saja aku masih terbayang dengan jumlah yang akan kudapatkan jika seadandainya kau tak pernah datang kemari."
Kesunyian lagi-lagi melingkupi ruangan itu. Baekhyun sendiri hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali ia meluapkan kekesalan yang menumpuk di hatinya, tapi tak tahu kenapa lidahnya seolah kehilangan fungsi berbicara. Melihat seringaian tajam di sudut bibir Jennie, Irene, dan Kyungsoo, Baekhyun yakinmereka pasti sependapat dengan Willis dan berniat menyerangnya bersama-sama.
"Tapi terima kasih," Willis tiba-tiba menambahkan. Kali ini tidak ada seringaian atau tatapan sinis yang biasa ia tunjukkan. Alih-alih, pria bersurai blonde itu malah menyunggingkan senyuman tulus dan itu khusus ia berikan pada Baekhyun. "Setidaknya kau tidak mengambil semua warisan Pimenova."
Tidak hanya Baekhyun yang dibuat terkejut, semua orang yang ada di sana pun sama-sama tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Willis.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?! Apa kau sadar bahwa kau secara tidak langsung telah mengalah pada bocah itu?!" Irene membentak Willis. Ia sungguh tak habis pikir dengan pola pikir saudara kembarnya.
"Aku sadar betul apa yang kukatakan, Irene." Willis menanggapi dengan tenang. "Dan aku sependapat dengan Tuan Baranov. Lima persen per orang itu jumlah yang cukup adil. Aku tidak tahu denganmu atau yang lainnya, tapi aku akan mengambil bagian lima persenku."
"Sialan." Irene mendesis kesal. Padahal ia sudah sedikit ini untuk percaya pada Willis, tapi saudara kembarnya bahkan tak berpihak padanya.
"Aku tetap tidak terima ini!" sergah Jennie sambilmenggebrak meja. Mata kucingnya menusuk Baekhyun yang masih bergeming di tempatnya. "KAU," Telunjuk Jennie menunjuk wajah Baekhyun. "Sebaiknya kau berikan kami lebih atau kau akan menyesal!"
"Nona Golubev, tolong jaga perkataan dan sikap Anda!" Kendrick berusaha melerai.
"Atau apa, hah?!" tantang Jennie dengan dagu terangkat tinggi. "Kau pikir aku takut padamu atau pada bocah Baekhyun ini?! HAH! Asal kau tahu Pak Tua, aku tidak akan pernah menerima—"
"TUTUP MULUTMU, JALANG."
Dan perkataan itu seolah menjadi pemicu ketegangan yang ada. Bukan berasal dari Willis, atau Jennie, atau Irene. Melainkan dari mulut Kyungsoo.
"K–Kyungsoo..Hyung?" Mata Baekhyun membelalak kaget kala Kyungsoo mengeluarkan pistol dari balik jaket kulitnya, dengan moncong mengarah tepat ke kepala Jennie.
"Kau itu berisik sekali ya? Tidak sadar kalau suaramu itu sangat mengganggu, hah?"
"A–apa yang kau lakukan?" Suara Jennie sedikit terbata. Ia sama sekali tak menyangka Kyungsoo membawa pistol ke sana, terlebih tengah menodong kepalanya detik ini. "C–cepat singkirkan pistol itu, bodoh! Kau tidak tahu kepada siapa kau sedang mengarahkannya, hah?!"
DOR!
"KYAA!"
Seringaian Kyungsoo terbentang lebar melihat Jennie menunduk ketakutan. Padahal tadi ia hanya menggertaknya. Peluru itu bahkan tidak mengenai Jennie, hanya melewati ruang kosong di samping kepalanya, tapi lihat bagaimana tubuh gadis itu gemetaran karenanya.
"Menggelikan sekali." Kyungsoo mendengus kasar. "Kau selalu saja menyombongkan diri tentang ini-itu, padahal sebenarnya kau itu bukan siapa-siapa kecuali seorang gadis manja."
"T–Tuan Golubev, harap tenang—"
"Kau mau aku melubangi kepalamu, Tuan Baranov?"
Menelan ludahnya, Kendrick pun tak berkata apa-apa dan kembali duduk di kursinya. Dalam hati, ia merutuki keputusannya mengadakan rapat di ruang kedap suara ini. Para bodyguard di luar pasti tidak bisa mendengar suara apa pun, terlebih Kyungsoo menggunakan peredam suara di pistolnya. Akan sulit untuk meminta bantuan.
"Sekarang," Kyungsoo mengarahkan pistolnya ke arah Baekhyun. "Mari kita langsung masuk ke acara utamanya." Seringaian tajam tertarik di sudut bibir Kyungsoo, membuat Baekhyun merinding di tempat. "Cepat serahkan seluruh harta kekayaanmu padaku, Baekhyun."
Tak ayal perkataan Kyungsoo membolakan semua pasang mata di dalam ruangan itu. Mereka kagetsekaligus tak percaya, namun di saat bersamaan tak berani melontarkan sepatah kata yang berupa bentuk protes. Melihat Kyungsoo yang memegang pistol dengan sorot mata yang jauh dari kata 'bersahabat', melahirkan firasat buruk jika saja mereka berani menghentikan aksi gila Kyungsoo.
Semua, terkecuali satu orang.
"Hentikan semua ini, Kyungsoo." Itu Willis, berjalan mendekati Kyungsoo. Raut mukanya tampak tenang. "Ini tidak benar, kau tidak harus melakukan ini."
Kyungsoo tersenyum sinis, menyindir aksi Willis yang menurutnya sangat konyol. "Wah, wah, coba lihat siapa yang sedang mencoba menjadi pahlawan di sini? Bukankah kau juga sama-sama mengincar harta Pimenova, Will? Tapi kenapa kau pasrah saja diberi sebagian kecil dari keinginanmu itu, hah?"
"Baekhyun sudah membalas budi kita, Kyungsoo, bahkan lebih dari yang dulu kita berikan."
Kyungsoo menertawakan Willis. "Astaga, apa kau dengar dirimu sendiri? Kau terdengar munafik, Will!"
Mengabaikan sindiran Kyungsoo, Willis tanpa pikir panjang mengulurkan tangannya pada Kyungsoo. "Serahkan pistol itu padaku."
"Tidak."
"Kyungsoo, kau sadar betul ada banyak bodyguard di luar sana dan mereka bekerja untuk Baekhyun. Jangan berbuat bodoh atau—"
"Kau pikir aku tidak tahu apa resiko dari tindakanku ini?" Kyungsoo mendelik Baekhyun tanpa rasa takut atau keraguan di matanya. "Aku bahkan sudah merencanakan semuanya sebelum bocah ini menginjak istana Alexander."
Yang tertangkap manik Baekhyun berikutnya adalah Kyungsoo menarik pelatuk pistolnya.
.
.
Chanyeol menoleh pada pintu ruang pertemuan keluarga saat mendengar suara samar dari dalam sana. Alisnya menukik tajam. Perasaannya mendadak tidak enak untuk satu alasan yang tak pasti.
"Sepertinya terjadi sesuatu di dalam sana."
Jin Goo melirik sebentar, sebelum memusatkan kembali perhatiannya ke depan. "Mungkin mereka hanya sedang berdebat. Kau tahu bagaimana watak Golubev dan Grigoriev, bukan? Lagipula di dalam sana ada Tuan Baranov, dia pasti akan memanggil kita jika terjadi sesuatu."
Seperti yang dikatakan Jin Goo, seharusnya Chanyeol tak mengkhawatirkan apa pun karena memang betul sifat keras kepala nan arogan sudah menjadi bagian dari Golubev dan Grigoriev. Tapi mungkinkah suara perdebatan bisa sampai menembus ruang kedap suara, meski itu hanya samar-samar? Bagaimana jika benar terjadi sesuatu di dalam sana, sementara posisi Kendrick tidak memungkinkan untuk memanggil bantuan? Pasalnya Baekhyun berada dalam satu ruangan bersama Kyungsoo. Jika tempo hari saja Kyungsoo mampu menyewa Rachel untuk membunuh Baekhyun, entah apa yang mungkin bisa dilakukannya jika berada dalam ruangan tertutup tanpa ada bodyguard di dalamnya.
Pasti terjadi sesuatu di dalam sana!
"Hyung, kau punya master key, kan?"
"Mau apa kau?" Jin Goo balik bertanya dengan dahi berkerut.
"Perasaanku tidak enak. Aku yakin suara barusan bukan suara orang berdebat. Kita harus mengeceknya."
"Apa? Yak, kau sudah gila? Kita dilarang—"
BRUK!
Suara di ujung lorong itu sontak mengalihkan atensi beberapa bodyguard di dekat ruang pertemuan keluarga, termasuk Chanyeol dan Jin Goo. Peter yang berdiri paling dekat dengan sumber suara, hendak mengeceknya. Namun bersamaan dengan itu pula, sebuah peluru menembus kepala Peter dan menumbangkannya begitu saja. Kemudian tepat saat itu, muncul sesosok gadis cantik dengan seringaian tajam terpatri di sudut bibirnya dan dua pistol semi otomatis di tangannya.
Rachel Yoo.
"Kita bertemu lagi, Park."
Chanyeol mengertakkan gigi. Ekor matanya melirik pintu ruang pertemuan keluarga yang masih terkunci rapat. "Sial.." desisnya.
Baekhyun dalam bahaya!
.
.
Bulir mata Baekhyun berjatuhan ketika Willis mendesis menahan rasa sakit. Punggungnya terkena peluru Kyungsoo demi melindungi Baekhyun dan darahnya tak mau berhenti keluar.
"T–tidak, bagaimana ini?" Baekhyun menahan isak di antara usahanya menekan luka tembak Willis dengan jaketnya. Ia panik juga ketakutan. Willis tiba-tiba saja melindunginya dari tembakan Kyungsoo, tapi sekarang pria tinggi itu yang terluka.
"Kau..tidak apa?" tanya Willis pada Baekhyun.
"A–aku tidak apa, tapi kau.." Baekhyun menggigit kuat bibir bawahnya, berusaha untuk tegar meski terasa sangat sulit.
Atmosfer ketegangan di dalam ruangan itu semakin pekat dan Baekhyun tak tahu harus berbuat apa selain menatap awas sekelilingnya, terutama Kyungsoo. Pria bermata besar itu berdiri tak jauh dari pintu, masih memegang erat pistolnya dan siap meluncurkan timah panas pada siapa pun yang berusaha kabur dari sana. Kendali seutuhnya benar-benar berada di tangan Kyungsoo. Baekhyun bahkan seolah tak lagi melihat sosok ramah yang dulu ia kenal, yang ada hanyalah sosok iblis yang haus kekuasaan dan harta.
"Aw~ kau melindunginya. Manis sekali, Will. Aku nyaris saja muntah karena aksi heroik ini." Kyungsoo mencibir sambil memainkan pistolnya. "Kau sepertinya kesakitan ya? Haruskah aku mengakhirinya dan mengirimmu ke neraka, hm?"
Willis mendengus geli. "Well, setidaknya aku tidak pergi ke sana sendirian. "
Kyungsoo terkekeh kecil menanggapinya. Tentu saja ia tahu Willis sedang membicarakannya, tapi itu sama sekali tak berpengaruh terhadapnya. Alih-alih Kyungsoo malah membentangkan senyuman kemenangan di bibir penuhnya.
"Ini gila, Kyungsoo! Cepat hentikan lelucon ini!" Irene yang melihat saudara kembarnya tertembak pun mulai panik. Ia sungguh tak tahu apa maksud Kyungsoo membawa senjata api ke sana dan mengancam semua orang, tapi ia takkan menolerirnya jika itu sampai melukai salah satu keluarganya.
"Oh, tentu." Kyungsoo menjawab dengan santai. "Segera setelah bocah ini menyerahkan seluruh kekayaan Pimenova padaku."
"Apa kau bilang?" Alis Irene menukik tajam. "Jadi kau membawa pistol kemari demi mengancam bocah ini?! Lalu kenapa harus melibatkan kami segala, hah?! Kau benar-benar sudah sinting, Kyungsoo Golubev!"
"Diam atau aku akan menembakmu juga."
"Pikirmu itu membuatku takut? Cih!"
Mengabaikan ekor mata Kyungsoo yang mengikutinya, Irene berjalan lurus menuju pintu, hendak membukanya. Namun belum sempat jemari kurus itu menyentuh kenop pintu, Kyungsoo sudah lebih dulu meluncurkan tembakan ke arah Irene dan timah panas itu berhasil menembus lehernya. Tak elak semua yang ada di sana membolakan mata kaget, terkecuali Kyungsoo.
"IRENE!" Willis berlari menuju saudara kembarnya yang meregang nyawa. Matanya menatap berang Kyungsoo. "Kau membunuhnya, sialan!"
"Aku sudah memperingatkannya." ucap Kyungsoo tanpa secuil rasa bersalah. "Dan asal kau tahu, aku tak pernah main-main dengan ucapanku."
"PERSETAN KAU!"
DOR!
Satu tembakan lagi-lagi mengenai Willis, kali ini tepat di kaki kanannya. Mati-matian pria bersurai blonde itu menahan tubuhnya agak tidak abruk, meski perih itu mulai terbakar bersama amarahnya.
"Kau lihat kan akibatnya jika berani melawanku? Yang barusan hanyalah peringatan kecil. Jika kau melakukan hal yang jauh lebih bodoh lagi," Kyungsoo berdiri angkuh di hadapan Willis. Moncong pistolnya menempel di kepala Willis. "Aku takkan segan-segan meledakkan kepalamu, temanku."
PIP!
Tepat saat itu, pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar dan sebuah tembakan mengenai tangan Kyungsoo, membuat pistol Mark 23 itu terpental ke sisi ruangan. Namun untuk satu firasat tak mengenakkan, Kyungsoo tak bersuara. Ia hanya termangu di tempatnya, sebelum menoleh perlahan ke belakang untuk mendapati Chanyeol tengah mengarahkan pistol ke arahnya.
"Hentikan semua ini sekarang juga, Kyungsoo."
Sorot mata itu.
Kyungsoo sadar bahwa itu bukanlah sorot yang menunjukkan kekagetan atau hal lainnya. Itu adalah sorot yang sama dengan yang Willis perlihatkan ketika ia membela Baekhyun. Sorot yang mengisyaratkan bahwa Chanyeol pun sudah tahu siapa sebenarnya dalang di balik aksi teror yang membayangi Baekhyun dan ia bertekad untuk melindungi Baekhyun sampai akhir.
"Bodoh sekali." Ucapan itu Kyungsoo tunjukkan pada dirinya sendiri, juga pada usaha Chanyeol yang masih ingin menyelamatkan Baekhyun. "BENAR-BENAR BODOH!"
"Hanya diam dan hentikan semua ini sebelum—"
"Sebelum apa?!" Kyungsoo balik menantang. Rasa takutnya tidak lagi ia pedulikan mengingat dirinya sudah terlalu jauh tenggelam untuk rencana ini. Keberhasilan sudah menggantung. Sebentar lagi para pion tak berguna yang berjajar pada pihak Baekhyun akan habis. Meski hanya bermodal keyakinan pada dirinya, Kyungsoo bertekad untuk melakukan apa pun agar tumpahan darah dari pihak aliansi Baekhyun akan menggenang di lantai.
"Kau sudah berbuat terlalu jauh, Kyungsoo. Berhentilah sampai di sini, selagi aku masih memintamu sebagai teman."
Mendengar kalimat bujukan Chanyeol yang lebih mirip sarkasme konyol, lantas mengundang tawa Kyungsoo. "Wow. Enteng sekali kau memintaku mengakhiri rencana hebat ini hanya dengan menyelipkan kata 'teman' dalam kalimatmu, hah? Kau pikir aku akan luluh? Kau pikir selama ini aku menganggapmu temanku?"
Chanyeol tak langsung menjawab, alih-alih semakin meningkat kewaspadaannya. "Aku hanya tak ingin kau menyesal di akhir nanti. Maka dari itu, jangan lanjutkan semua ini karena kau sendiri yang akan rugi."
"Rugi?" Tawa Kyungsoo kembali meledak. "Jangan bercanda, Chanyeol! Kau sedang tidak berhadapan dengan sembarang orang saat ini!"
"Tidak." Chanyeol menggeleng tegas. "Aku mengenalmu, Kyungsoo-ya. Aku tahu sebenarnya kau bukanlah orang jahat, maka dari itu aku mohon padamu untuk menghentikan semua ini sebelum semuanya terlambat."
Merasa diremehkan, Kyungsoo mengertakkan giginya kuat-kuat. Satu bantingan vas di meja itu pun menjadi luapan emosi karena pistol masih belum terjangkau. Kyungsoo tidak butuh simpati atau kebaikan siapa pun. Jika Chanyeol lebih memilih Baekhyun daripada dirinya, maka tidak ada gunanya lagi ia menyimpan perasaan khusus ini. Ia akan menyingkirkan semua orang yang berusaha menghalangi jalannya dan merebut sendiri hak Baekhyun sebagai Pimenova.
"Apa pedulimu, sialan! Urus saja anak manja itu!"
Mengambil sisa kesempatan yang ada, Kyungsoo meraih pistol yang terbuang itu dan menarik pelatuknya tepat mengarah pada Chanyeol. Matanya melotot untuk kegilaan yang ia naikkan ketegangannya dan tidak lagi peduli bagaimana hukum akan bekerja setelah ini.
Chanyeol sendiri tidak memberi toleransi apa pun pada Kyungsoo. Pria mungil itu bukanlah temannya lagi, melainkan musuh utama. Berbagai upaya untuk saling menjatuhkan pun dilakukan. Keduanya sama-sama tak membuka celah untuk musuh dan terus meluncurkan tembakan sampai suaranya memenuhi ruangan.
Selagi pertarungan sengit itu berlangsung, Jin Goo memanfaatkan keadaan untuk membawa Baekhyun, Willis, Jennie, dan Kendrick ke tempat yang lebih aman. Pergerakan mereka memang terlindungi oleh Chanyeol, namun nyatanya keadaan tak semulus itu jika di posisi Chanyeol. Ia terlalu meremehkan Kyungsoo. Si mungil bermata besar itu jelas memiliki kemampuan menembak. Dua kali Chanyeol terkecoh oleh pergerakan Kyungsoo dan itu berimbas pada lengannya yang tergores peluru.
"Aish." Chanyeol mengumpat dalam posisi menempel di balik pilar. Pistolnya hanya memiliki sisa satu peluru, sementara pisaunya terpental entah ke mana saat melawan Rachel tadi. Jika Kyungsoo menyimpan pistol cadangan di balik jaket kulitnya, maka Chanyeol harus mencari cara lain yang lebih efektif untuk menjatuhkannya.
"Keluar kau, Park Chanyeol! Ayo lawan aku!"
Tidak ada waktu lagi. Melihat pantulan Kyungsoo yang berjalan ke tempatnya bersembunyi, Chanyeol pun segera memutar otaknya. Pikirnya, jika ia bisa mengalihkan atensi Kyungsoo barang sebentar dan menyingkirkan pistol-pistol itu, akan mudah baginya untuk melumpuhkan Kyungsoo dari jarak dekat.
KRAK.
Chanyeol melirik ke bawah, tepat pada pecahan kaca—akibat pertarungan mereka tadi—yang Kyungsoo injak. Ia tiba-tiba kepikiran satu ide.
Memanfaatkan pantulan kaca, Chanyeol membidik peluru terakhirnya pada kaki Kyungsoo. Begitu erangan keras menjadi sinyal untuk keluar dari tempat persembunyian, barulah Chanyeol menendang pistol yang dipegang Kyungsoo sehingga itu terpental jauh ke sudut ruangan.
"Sialan kau—AKH!" Kyungsoo mengerang kembali ketika tangannya dipelintir Chanyeol saat hendak mengambil pistol cadangan di balik jaket. Chanyeol mendorong paksa tubuh Kyungsoo sampai membentur kaca di dekat pilar, lalu merebut pistol cadangan Kyungsoo sebelum membanting tubuh mungil itu ke lantai.
Namun kehilangan semua pistol bukan berarti Kyungsoo menyerah. Ia meraih satu pecahan kaca yang cukup besar untuk ia jadikan senjata pengganti, kemudian menyerang Chanyeol secara membabi buta. Di luar perkiraan, pergerakan Kyungsoo tidak terlalu luwes jika sedang menyerang dalam jarak dekat dan ini sedikit banyak menguntungkan Chanyeol.
Mengambil satu pecahan kaca lainnya, Chanyeol balas menyerang Kyungsoo. Semula gerakannya memang lambat, namun itu hanyalah umpan agar Chanyeol bisa bergerak cepat ke sisi tubuh Kyungsoo dan menusuk pinggul serta punggungnya. Ini akan melambatkan pergerakan pria mungil itu.
"Kau sungguh takkan menyerah?" Chanyeol bertanya untuk yang terakhir kali.
"Seperti aku sudi saja!" Kyungsoo melayangkan pecahan kaca itu ke kepala Chanyeol, tapi sialnya ia kalah cepat. Chanyeol lebih dulu menghindar dan menendang perut Kyungsoo sampai terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Baiklah jika itu maumu, Kyungsoo."
Dan itu adalah keputusan final Chanyeol. Pria tinggi itu menendang keras kaki Kyungsoo yang tadi tertembak, lalu mengunci pergerakan tangannya agar tidak melawan. Dalam keadaan terpojok itulah Chanyeol mengambil kesempatan untuk mematahkan tangan Kyungsoo, lalu menusuk lehernya dengan pecahan kaca tepat sebelum jerit kesakitan terdengar.
Mata Kyungsoo terbelalak, mengarah tepat pada Chanyeol dengan sinyal bahwa rasanya sungguh menyakitkan. Suaranya tak memiliki kuasa untuk keluar, dia terkapar dengan luka menganga dan darah yang merembet.
Semua berakhir.
Kyungsoo tak memiliki pilihan untuk hidup karena nyawanya terjerat dalam tajamnya pecahan kaca. Perlahan tapi pasti kesadarannya menghilang. Mata Kyungsoo tertutup rapat dan Tuhan mengambil nyawanya dengan limbahan darah segar.
TBC
NEXT ADALAH CHAPTER TERAKHIR, NANTIKAN YAAAAA~
