Akhirnya update. Last chapter, maaf ga bilang-bilaang. Happy reading :)
Naruto © Masashi Kishimoto
Uchiha no Monogatari
An Itachi and Sasuke story
By cumanakecil
--
SASUKE'S POV
Ruangan yang sangat gelap. Sepertinya ini sebuah gua. Itulah anggapan yang melintas di otakku ketika membuka mataku. Mengapa aku bisa berada di sini? Seluruh tubuhku serasa mati rasa. Ingin rasanya bangun dari posisi tidurku dan menyelidiki tempat ini lebih jauh. Tetapi ternyata tubuhku tak mau diajak kompromi.
"Lukamu sudah kuobati."
S-siapa itu? Aku spontan bangun terduduk, berusaha untuk tidak memedulikan kepalaku yang pening seketika. Tulang punggungku seakan mau patah rasanya. Tapi.. Suara siapa tadi? Aku mengedarkan pandangan, berusaha mencari sosok manusia di antara dinding-dinding dan lorong batu. Penerangan yang hanya diberikan oleh sebatang lilin membuat cahaya yang menerangi ruangan itu sangat minim. Hanya cahaya api yang berpendar.
Aku menyipitkan mata, memandang sebuah lorong hitam yang berada di bagian kananku. Tak ada cahaya lilin yang menerangi, tetapi entah kenapa aku yakin kalau suara itu berasal dari sana.
"Kau menang."
Itachi. Satu nama yang spontan melintas di benakku ketika mendengar kata-kata sosok itu. Dan pertarungan antara aku dengannya muncul kembali. Bagaikan film pendek yang berputar di otakku. Ya, aku berhasil membunuhnya.
Tap.
Sesosok berpakaian serba hitam muncul dari lorong gelap itu. "Kita pernah bertemu, tetapi sebagai musuh."
Bentuk topengnya yang berwarna jingga dan melingkar itu mengingatkanku pada salah satu anggota akatsuki yang autis dan tak bisa diam. Ada apa gerangan ia membawaku ke sini? Sayang, aku tak bisa membunuhnya seperti aku membunuh Deidara dulu.
"Aku membawamu ke sini untuk menyampaikan sesuatu." aura sang sosok bertopeng itu berbeda dari pertama kali aku bertemu dengannya. "Sepertinya kau sama sekali tidak tertarik."
"Ini tentang Itachi Uchiha."
Aku masih terdiam. Otakku terlalu lelah untuk bekerja cepat. Itachi Uchiha? Pengkhianat klan Uchiha itu? Bah. Dia sudah mati. Untuk apa diungkit-ungkit lagi? Nama Itachi Uchiha kini hanya pantas untuk direndahkan sebagai penjahat yang dengan tidak elitnya mati di tangan adiknya sendiri. Tak ada yang bisa dibanggakan dari kakakku itu.
"Kau tak tahu apa-apa tentangnya, Sasuke."
Tak ada satu kata pun yang meluncur keluar dari mulutku. Tak ada gunanya menanggapi orang ini. Hanya kedua mata onyxku yang menatapnya tajam. Seenaknya saja ia mencampuri urusanku dengan Itachi.
"Tak percaya? Baiklah, aku akan memperkenalkan diri." pria itu meraih topeng jingga yang menutupi mukanya.
"Sama denganmu, aku adalah anggota klan Uchiha yang tersisa."
E—eh? Apa katanya? Klan Uchiha?
Aku spontan mengarahkan pandangan ke arahnya. Setahuku Itachi membunuh seluruh anggota klan Uchiha. Kecuali aku. Dan orang itu. kedua mata onyxku membulat seketika. Berarti sosok aneh bertopeng melingkar yang selama ini kuketahui sebagai anggota Akatsuki ternyata adalah..
"Orang yang mengetahui kebenaran tentang Itachi Uchiha."
DEG
Mata onyx kananku seakan bereaksi ketika sosok di depanku itu membuka topeng dan memperlihatkan sharingannya. Aku bisa merasakan kekuatan yang tiba-tiba mengaliri indera pengelihatanku. Dan kemudian kulihat api hitam menyambar sang pria bertopeng. Amaterasu. Dariku. Dari mataku.
"Ugh!"
Serasa ada yang membakar mataku. Aku menunduk, menekan mata kananku yang terasa nyeri. Apa tadi? Dari mana amaterasu itu berasal? Aku terengah-engah. Energi tiba-tiba yang berasal dari mataku tadi seakan mengambil seluruh kekuatan tubuhku. Mengumpulkannya di satu tempat. Membuat anggota tubuhku yang lain menegang.
"A—apa yang terjadi?"
"Itu amaterasu yang Itachi tanamkan dalam dirimu."
Sosok itu bangkit kembali dalam gelap. Ia mengambil topengnya yang tergeletak di lantai dan memakainya kembali. Kemudian berjalan, mendekat ke arahku. "Dia melepaskan jurus padamu untuk membunuhku. Tapi mungkin juga untuk menjauhkanmu dariku."
"Apa.. Yang kau bicarakan?" untuk apa Itachi menanamkan amaterasu dalam diriku? Untuk apa ia peduli? Aku hanya ia anggap sebagai seorang adik yang bodoh dan tak tahu apa-apa. Lalu untuk apa?
"Kau ingat, sebelum mati Itachi melakukan sesuatu padamu. Ia memindahkan kemampuannya ke dalam tubuhmu."
Menyentuhkan jari telunjuk dan tengahnya ke arah dahiku. Apakah di saat itu Itachi menanamkan amaterasu padaku? Rasanya mustahil.
Aku memandang lelaki di depanku ini dengan tatapan tajam. Apakah aku sudah masuk ke dalam jebakan liciknya? Madara Uchiha, jangan harap aku sebodoh itu untuk dengan mudahnya masuk ke dalam perangkapmu. "Untuk apa Itachi melakukan itu?"
"Kau masih tidak mengerti juga?" sosok itu melangkahkan kakinya, mendekat ke arahku beberapa langkah.
.
"Itu untuk melindungimu, Sasuke."
.
A—bicara omong kosong apa orang ini? Melindungi, katanya? Seorang Itachi yang notabene adalah pengkhianat kelas atas yang telah membunuh seluruh anggota keluarga dan klannya sendiri, rela untuk mati untuk melindungiku? Apa orang ini sudah gila?
"Bicara konyol apa kau, hah?!" emosiku memuncak. Apa hak orang ini untuk berbicara seenaknya mengenai Itachi? Itachi sudah mati! Tak ada gunanya lagi untuk membicarakannya. Aku adiknya! Aku yang paling tahu tentangnya. Madara Uchiha hanyalah orang brengsek yang tak tahu apa-apa! Dan sekarang ia menjadi orang yang seakan tahu segalanya? Bah. Sampah.
"Berhenti bicara tentang Itachi atau kubunuh kau."
Madara melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau tak tahu apa-apa tentang Itachi." ia memalingkan wajah, menatap lorong kosong yang berada di sebelahnya. "Tetapi aku tahu. Dan Itachi mati tanpa mengeta—"
"DIAM! AKU TAK PEDULI LAGI SOAL ITU! ENYAHLAH KAU DARI HADAPANKU!!"
Amarahku membara. Aku menggenggam erat selimut yang menutupi sebagian tubuhku, seakan ingin merobeknya menjadi bagian-bagian kecil. Apa-apaan orang ini, HAH?! Datang ke hadapanku seenaknya dan bertindak seolah tahu segalanya. Lagipula.. Sebenarnya apa yang ia ketahui dan aku tidak? Bagiku Itachi hanyalah tak lebih dari seorang pengkhianat!
Aku tak peduli lagi terhadapnya. Itachi sudah mati. Tak ada lagi di dunia. Urusanku dengannya selesai sudah. Tak akan ada lagi yang bisa merubah kenyataan. Bahkan seorang Madara Uchiha sekalipun.
"Kau harus mengetahuinya. Cara hidup Itachi Uchiha, yang mempertaruhkan segalanya demi dunia shinobi, Konoha, dan kau. Adiknya."
Tubuhku gemetar. Apa yang belum aku ketahui? APA? Kepalaku tertunduk. Sebenarnya ada apa dengan kakakku? Tidak. Aku tidak akan mengubah asumsiku. Laki-laki itu tak pantas kusebut kakak. Ia pembantai. Pembunuh. Pengkhianat!
Namun bagian otakku yang lain seakan menolakku untuk memotong ucapan Madara. Seakan ingin mengetahui apa yang sebenarnya. Dan kedua alat pendengaranku juga tak mau menulikan diri. Mereka masih berfungsi dengan baik, menangkap setiap gelombang suara yang berasal dari orang di sampingku ini. Memaksaku untuk mendengarkan 'kebohongan' yang akan dilontarkan oleh pria Uchiha itu sesaat lagi.
"Itachi menanamkan amaterasu karena ia tak menginginkan kita bertemu. Kau akan mengerti ketika kau mendengarkan ceritaku."
"Hanya 4 orang yang mengetahui kebenaran Itachi. Hokage ketiga sudah mati, hingga hanya 3 orang yang tahu. Dan mereka tak akan pernah buka mulut, agar kebenaran itu lenyap selamanya—dan Itachi juga menginginkan hal itu."
A—apa yang ia bicarakan? Aku mencengkram selimutku lebih erat. Kebenaran? Kebenaran katanya? Lalu semua yang kutahu sedari dulu itu hanyalah kebohongan, begitu? Omong kosong. Ingin rasanya aku membungkam mulut orang sok tahu ini.
"Tetapi aku juga tahu kebenarannya. Dan Itachi mati tanpa mengetahui hal itu. Ia memasangkan amaterasu ke matamu yang akan bereaksi ketika melihat sharinganku, itu semua untuk mencegahku berbicara padamu."
"O—omong kosong apa?" kedua mata onyxku menatap kosong. "Melindungi katanya? Kebenaran?" hati dan otakku belum siap. Apa lagi yang akan dikatakan orang ini? Siapa sebenarnya Itachi? Napasku memburu. Tidak, Itachi bukan siapa-siapa. Itachi hanyalah seorang—
"Ingat Itachi baik-baik."
Kakakku adalah seorang pengkhianat. Pembunuh. Bukan siapa-siapa. Hanyalah seorang pecundang yang mati di tangan adik—
"Ingat kakakmu yang baik hati."
.
"Besok aku akan pergi ke acara penerimaan murid baru di akademi Sasuke."
"O—orang itu hanya berniat untuk membunuhku.. Kan?"
.
"Kau dan aku adalah saudara yang unik. Aku akan selalu ada di sampingmu sebagai dinding yang harus kau lampaui."
"Dia bilang dia akan merebut mataku!"
.
Seluruh kenanganku bersamanya terus berputar di otakku. Mencekik jantungku. Dia.. Orang jahat kan? Dia pantas untuk dibenci! Orang itu pantas untuk dibunuh! Namun seluruh ingatan masa kecilku tentang Itachi seakan menentang semuanya. Itachi baik hati! Itachi kakak yang sempurna! Pergulatan batin terjadi di hatiku. Si—siapa sebenarnya Itachi? Dadaku sesak seketika.
"Ahk!"
"Tenangkan dirimu, Sasuke. Tarik na—"
Namun refleks aku menepis tangan Madara dari bahuku. "JANGAN SENTUH AKU!" napasku terengah-engah. Orang ini.. Kalau tidak ada Madara, aku tidak akan seperti ini! Orang brengsek di depanku ini mengacaukan semuanya! Itachi pembunuh! Itachi bukan kakak yang baik hati!
Namun, bagaimanapun aku mencamkan hal itu, kini sudah tak sama lagi. Sebagian hati kecilku memberontak. Menentang keras asumsiku itu. Seakan ingin menghidupkan kembali sosok Itachi Uchiha yang baik hati. Hatiku lelah. Otakku lelah. Ingin membantah tetapi tak bisa. Mulutku terkunci.
Dan semuanya menjadi gelap.
.
.
.
"Sudah sadar?"
Sebuah suara seakan menyambut kelopak mataku yang baru saja terbuka. Kepalaku masih pening. Tetapi bayangan tentang Itachi seakan tak mau lepas dari otakku. Sebagian rambutku menjuntai ke depan mataku, menghalangi pengelihatan. Mengganggu sa—HEY! Apa-apaan ini?
"Maaf, aku mengikatmu. Ini kulakukan biar kau mau mendengarkan ceritaku."
Ingin memberontak. Tetapi tubuhku sepertinya tidak mengizinkannya. Maka aku hanya menunduk, menenangkan pikiran. Tak ada gunanya membentak dan bertarung sekarang. Kini semuanya sudah terlambat. Yang bisa kulakukan hanya menerima kenyataan.
"Itachi.. Dia musuhku." aku lelah akan semua yang kurasakan. Yang kupikirkan. Sulit untuk meyakini diri sendiri sekali lagi. "Dia membunuh Otousan dan Okaasan. Anggota Akatsuki. Keberadaan yang harus dibenci.."
Madara menyilangkan tangannya di depan dada. Topeng melingkarnya menatap ke arahku yang masih tertunduk. "Malam itu, dia memang membantai klan Uchiha dan pergi dari Konoha.
Aku tahu itu. Buat apa memberi tahu lagi? Orang itu membuatku menjadi yatim piatu. Membunuh segenap harapanku. Orang brengsek itu sudah menghan—
.
"Dan itu misi yang diberikan Konoha."
.
A—apa?
"Itu awal kebenaran Itachi."
Mata onyxku membulat seketika. Apa katanya? "Misi..?"
"Itachi menjadi korban dari takdir yang berlangsung sejak dulu." bisa kurasakan mata onyx Madara menatap mata onyxku dalam. Misi? Sebegitu hina kah Konoha sehingga memberikan misi seperti itu pada Itachi? Dunia ini sudah gila.
"Dan atas dasar apa aku harus percaya padamu?" aku tak bisa percaya begitu saja kepada orang itu. Bisa saja Madara hanya mempengaruhiku. Itachi pembunuh. Pengkhianat. Dan orang di depanku ini dengan mudahnya membuatku mematahkan asumsi itu? Tidak semudah itu, Madara.
Madara mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak punya bukti. Terserah kalau kau mau percaya atau tidak."
Aku memalingkan kepala. Bah. Bahkan orang sok tahu ini tidak punya bukti?
"Tapi setidaknya dengarkan dulu ceritaku."
Aku terdiam sejenak. Sebenarnya tidak berguna juga aku mendengarkan bualannya. Toh ia tak punya bukti. Tetapi.. Tak ada salahnya juga. Aku hanya perlu meyakinkan diriku kalau semua yang dikatakannya itu salah. Tak ada salahnya kan 'menyenangkan hati' pria itu barang sebentar? Kalau staminaku sudah pulih, toh aku akan membunuhnya ini.
"Baiklah, ceritakan."
Madara menghela napas pendek. Ia menurunkan tangannya sementara memulai untuk membuka suaranya. "Ini cerita tentang 80 tahun yang lalu."
"Dahulu, dunia adalah zaman perang saudara yang selalu penuh pertempuran. Di antara seluruh klan yang bertarung, hanya ada 2 klan yang ditakuti. Klan Senju, dan klan kita, klan Uchiha."
Cerita klasik. Aku sudah mendengar dan membacanya ratusan kali.
"Di antara anggota Uchiha, aku terlahir sebagai pemilik chakra yang kuat dan istimewa. Zaman dimana kekuatan adalah segalanya membuatku terus memanfaatkan teman dan keluargaku."
Madara mengambil mata adiknya. Cerita itu sudah kudengar dari Itachi. Tch. Kedua orang itu sama saja tidak punya hati. Mengambil hak milik orang lain untuk kepentingannya sendiri. Bah. Menjijikan.
Madara bangun dari duduknya. "Aku sering bertarung dengan klan Senju menggunakan mangekyou itu. Saat klan Senju bergerak, saat itu jugalah Uchiha bergerak. Keduanya memiliki tingkat kehebatan yang sama dan seimbang."
"Tetapi suatu hari, klan Senju mengajukan gencatan senjata, dan Uchiha menyetujuinya. Hanya aku yang menentang. Untuk apa klan Uchiha menderita selama ini? Apa arti pengorbanan mata adikku?"
Pengorbanan? Bukankah Madara mengambil mata adiknya dengan paksa? Entah aku harus percaya pada pria di depanku ini atau Itachi. Keduanya sama-sama picik dan suka berbohong.
Madara kemudian menceritakan kalau ia pergi dari desa. Dirinya merasa dikhianati. Aku tak tahu jalan pikiran orang ini, karena Madara memutuskan untuk menjadi pembalas dendam dan menentang Konoha. Ternyata benar, pria itu menggunakan kekuatannya untuk hal yang salah. Walaupun ia sempat memberi alasan kenapa ia melakukan hal itu, aku tidak sepenuhnya percaya. Untuk apa percaya pada cerita tanpa bukti seperti itu?
"Namun, disaat aku sudah dianggap mati, mulailah muncul para anggota Uchiha yang meneruskan jejakku. Mereka menyadari kalau klan Uchiha semakin hari semakin disingkirkan—saat itu yang menjadi hokage adalah adik dari Hashirama Senju. Tempat tinggal klan dipindah ke pinggir desa. Dan akhirnya Uchiha sepakat melaksanakan kudeta untuk menguasai desa."
Mata onyxku membulat, entah untuk yang keberapa kalinya. Uchiha? Kudeta? Kapan? Ketidakpercayaanku pada Madara perlahan memudar. Semua yang ia ceritakan terasa nyata. Dan wajar. Aku memang pernah mempertanyakan lokasi tempat tinggal Uchiha yang berada di bagian pinggiran Konoha. Tetapi aku tidak pernah berpikir kalau semua ini ada hubungannya dengan perseteruan antara klan Senju dan Uchiha.
"Lalu petinggi Konoha menyusupkan mata-mata ke dalam klan Uchiha."
.
"Dan itu Itachi. Kakakmu."
.
"Kau tidak tahu apa-apa karena kau masih kecil. Sementara Fugaku—yang menjabat sebagai pemimpin kudeta—menjadikan Itachi sebagai jembatan penghubung utama antara klan dengan desa. Itachi membocorkan informasi tentang Uchiha kepada pihak desa. Saat itulah Itachi menjadi agen ganda."
"Mengapa Itachi membocorkannya?!" aku tidak habis pikir. Kalau begitu sama saja mengkhianati klan Uchiha, kan? Lalu apa gunanya Madara menceritakan hal ini? Sama saja, pemuda itu akan selalu aku anggap sebagai pengkhianat.
Madara menunduk. Entah apa yang sedang berada di benaknya. "Itachi kecil trauma pada peperangan. Itu membuatnya menjadi lelaki yang cinta damai. Dan petinggi desa memanfaatkan kondisi tersebut. Mereka memberikan misi itu."
"Tetapi, ada satu hal yang tidak bisa dia lakukan."
.
"Itachi gagal membunuh adiknya."
.
Aku menatap kosong. Apa katanya? Benteng ketidakpercayaanku sudah habis tak tersisa. Tak ada waktu lagi untuk mencerna mana yang bohong mana yang tidak. Kesemuanya terlanjur masuk ke indera pendengaranku. Menyelusup ke otakku. Menikam jantungku. Sesak. Sekali lagi, bayangan kenanganku dengan Itachi diputar ulang. Memoriku tentangnya terbuka habis.
Mendendamlah! Membencilah! Lalu teruslah hidup dengan cara memalukan. Lari dan terus lari. Bergantung pada hidupmu. Lalu, milikilah mata yang sama denganku dan datanglah ke hadapanku.
"Dia berharap kau jadi kuat. Ia memutuskan untuk mati dalam pertarungan denganmu. Untuk memberikan kekuatan baru padamu."
"Bohong.."
Hatiku terus memberontak. Semua itu tidak benar! Tetapi sebagian yang lain memaksaku untuk mempercayainya. Aku sudah terpengaruh sepenuhnya. Sial.
"Semua itu bohong.."
Aku terus membantah, berharap kata-kata yang keluar dari mulutku itu benar adanya. Madara berbohong. Itachi tak mungkin seperti itu. Seorang Itachi Uchiha adalah pengkhianat. Pembunuh. Pembantai. Pengecut! Napasku sesak, mendengar kata demi kata yang mengalir keluar dari bibir orang di depanku. Tentang Itachi. Kakakku. Apakah aku harus percaya?
"Omong kosong. Aku berkali-kali hampir dibunuhnya!"
"Kalau Itachi serius, kau pasti sudah mati! Semua reaksimu sudah diperhitungkannya. Ia memang sengaja mendesakmu. Kau tahu alasannya?"
Orochimaru.
Ya, hanya nama itu yang melintas di benakku. Aku spontan menoleh, melihat ke bahu kiri bagian belakang dimana semestinya segel itu—
Tidak ada. Bersih. Segel Orochimaru sudah hilang sepenuhnya. Itachi yang membunuh Orochimaru dengan susano'onya. Tetapi..
Kenapa?
Semua ucapan dari Madara kembali terngiang di kepalaku. Itachi.. Pengkhianat itu sengaja mendesakku supaya ia keluar..? Dan membebaskanku dari segelnya..?
Aku terdiam. Pikiranku kosong. Semua yang Madara katakan terasa sangat nyata—dan entah kenapa hati kecilku mempercayainya—. Aku tidak boleh terpengaruh olehnya! Ini hanya jebakan. Ingat, Sasuke, Madara adalah orang jahat. Ingat itu.
"Bohong!"
Aku melontarkan seluruh argumentasiku, membantah setiap kata-katanya. Mengucapkan seluruh pertanyaan yang sedari tadi berputar di benakku. Sesempurnanya kebohongan dari Madara, pasti ada satu celah kecil dimana ia lengah. Pasti ada. Aku membentaknya. Menyalurkan seluruh amarahku. Berusaha agar seluruh kata-kata tentang Itachi yang ia katakan itu tidak mempengaruhiku.
Tetapi nihil. Semua bisa ia jawab dengan baik. Sekali lagi—seakan nyata. Hati kecilku semakin memberontak. Darahku mengalir dengan cepat. Aku tidak boleh kalah.
"HENTIKAN! ITU BOHONG! SEMU—"
"Kau masih hidup, Sasuke! Itu adalah bukti paling nyata!"
Mulutku terkunci. Rapat.
"Itachi, membunuh teman, pacar, serta ayah dan ibunya." Madara bangkit. Suaranya melunak ketika melangkahkan kaki ke arahku yang masih terpaku diam.
Pria itu melipat kakinya, berjongkok di depanku dan mengeluarkan kunainya. Aku tidak bisa bereaksi apa-apa. Hanya menatap kosong ke arah topeng melingkarnya. "Hanya sang adik yang tidak bisa dibunuhnya."
Srak.
Madara memotong tali yang mengikatku satu persatu. "Kau tahu apa artinya?"
.
"Baginya, nyawamu lebih penting daripada desa."
.
Kosong. Kini hatiku percaya sepenuhnya pada ucapan Madara. Tak ada lagi argumentasi yang bisa kulontarkan. Semua nyata. Sial, aku sudah benar-benar percaya pada pria itu. Semua ucapannya mematahkan asumsiku pada Itachi sedari dulu.
Itachi pengkhianat.
Tidak. Ia hanya ingin melindungi desa.
Itachi pembunuh.
Jika ia tak membunuh seluruh klan Uchiha, maka Konoha akan terpecah belah.
Itachi tak punya hati. Penjahat.
Untukku. Ia melakukan semuanya untuk memberikan kekuatan baru padaku. Ia rela untuk dicap sebagai orang jahat. Semuanya demi adiknya. Sasuke Uchiha. Aku.
.
.
.
Deburan ombak yang memecah lautan seakan turut bersedih akan kenyataan. Akan takdir yang diterima oleh seorang Itachi Uchiha. Yang menerima aib sebagai ganti kehormatan. Kebencian sebagai ganti cinta. Mempertaruhkan seluruh hidupnya demi desa dan adiknya tersayang. Tetes air mataku mengalir jatuh, bersama percikan air yang berasal dari lautan. Menabrak bebatuan.
Sayonara, Itachi Nii-san..
-~-
A soft summer rain, a smile that hides a pain
Why should you be ashamed
Cause in every life
A little rain must fall
There's a truth behind a cry
And there's a cry behind a lie
On every thought that come out wrong
Just learn from it and please stay strong
-~-
: OWARI :
Song © Letto – Truth, Cry and Lie
Gomen updatenya lamaaa! Euh. Maafkan saya juga yang menyelesaikan cerita ini tanpa bilang-bilang. Saya juga tadinya nggak kepikiran bakalan selesai disini. Tapi.. Kalau dilanjutin, nanti ga sesuai dengan cerita aslinya. Ini kan canon :D jadi distop sampai sini deh.. Ampuni sayaaaaa!
Emosi Sasuke kerasa nggak? O.o saya bikin fic ini lamaa banget, susah nyesuain emosi Sasuke yang naik turun pas diceritain sama Madara. Ini revisi ke berapa.. Ya? Maafkan kalau kurang memuaskan..
Balesin review :
+ coffee lover : yaaaak, perkiraan anda benar :D maafkan saya yang ternyata updatenya beneran lama huhu. Makasih udah ngikutin cerita ini sampai selesaai ^^ oh ya, Coffee-san kan anonim, kok bisa nemuin cerita ini setiap di update? Padahal fandom Naruto kan penuuh. Sekali update beberapa jam kemudian langsung ada di page 2 aja. Apakah Coffee-san rajin mengunjungi fandom ini tiap hari? Hehe, kalo bukan bolehkah saya tahu? Yaa, nggak tahu juga gapapa sih, cuman penasaran doang hehe (udah penasaran dari beberapa chapter yang lalu soalnya) ^^a
+ Kuroi Kira : ahaha, makasiih. Udah update nih, yang terakhir pula :P
+ Melody-Cinta : wuaaa maafkan saya yang menamatkan cerita ini tanpa bilang bilang T^T makasiih, makasih banyak udah ngikutin cerita ini sampai akhir :D
+ miyamiyamiyayam : makasiih, ini chapter terakhir, maaf ya ga bilang bilang ^,^ e-eh? 24 August in His Life? O.o wuah, saya bales di PM aja, oke? Hehe,
Special thanks for :
Naara Akira, Shena BlitzRyuseiran, syllie charm, akikocchi, bananaprincess, Azuka Kanahara, Kira Desuke, min-sunye, alegre541, Raiko Arazawa, cumanumpanglewat, Melody-Cinta, coffee lover, NaMizu no Mai, Violet Mikan Hinata, Hiroyuki Naomi, Carosleth Costa, Hana Elriana, dilabcd, miyamiyamiyayam
Makasih udah bersedia baca dan review cerita ini, makasih juga buat yang udah baca tanpa meninggalkan jejak, ataupun hanya berkunjung.. Fic ini ga akan jalan tanpa kalian :D
Sampai ketemu di fic saya selanjutnyaa :)
Err, review?
