Title:I LIKE YOU THE BEST

Pairing : Meanie (main), Verkwan, Soonseok, Jeongcheol

Author: David Rd

Language: Indonesian, Rating: Rated: M

Genre: Romance/Drama

Chapters: 11/14

Note:

Yang galau gegara nggak bisa nonton konser seventeen di Indonesia malam ini, ayo angkat tangan rame-rame! Hehehe, author juga ikut galau. Pengen banget nyulik Wonwoo ama Mingyu, tapi apa daya tak ada biaya coy.. sedih.. cukup mantengin hasil fancam aja. Buat menghilangkan kegalauan, author update ini chapter sebelas.. komen ya sodara-sodara.

Awas ada semut di chap ini. Tapi, tolong jangan gebukin author habis baca chapter ini!

Don't like don't read! Comment is appreciated while no room for bashing!

The characters here belong to God and their parents.

Finally happy reading and I hope you'll enjoy it.

2011 Davidrd copyrights

.

.

YOU HURT ME BEFORE

.

.

Wonwoo POV

Aku tak tahu kenapa aku bisa berada di tempat seperti ini. Saat kubuka mata, aku sudah disuguhi pemandangan yang sangat asing. Sebuah ruangan yang tidak terawat dan dipenuhi dengan barang-barang yang sudah usang, lapuk dan berantakan di sana-sini. Ruangan ini gelap dan pengap serta banyak debu dan hewan-hewan kotor seperti kecoa dan tikus yang berulang-ulang kali mondar-mandir berusaha mencari makan. Dinding ruangan ini dipenuhi dengan grafity dan beberapa bagiannya menunjukkan bekas terbakar serta bekas cat yang mengelupas.

Bukan hanya pemandangan menyeramkan ini saja yang membuatku kaget, tapi juga keadaanku sekarang. Kedua tanganku terikat di belakang tubuhku dan mulutku dibungkam dengan lakban sehingga aku tidak bisa bicara maupun berteriak. Kedua kakiku juga tidak bebas, keduanya terikat ke masing-masing kaki kursi yang kududuki sekarang. Seberapapun aku mencoba untuk melepaskan diri, mustahil hal itu terjadi.

Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi sekarang? Siapa yang melakukan ini semua padaku? Apakah Mingyu tahu tentang kondisiku sekarang? Aku sangat takut sekarang.

Tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam tempatku disekap sehingga dengan cepat kupejamkan mataku berpura-pura masih tidak sadarkan diri. Seorang pemuda bermasker yang kemungkinan besar adalah penculikku berjalan mendekatiku dan sepertinya ia berhenti tepat di depan kursi yang kududuki.

"Mianhae, jeongmal mianhae. Jooheon berjanji tidak akan melakukan apapun padamu karena dia hanya menginginkan Mingyu. Mianhae," kudengar suaranya yang berat dan samar-samar. Pemuda ini tidak mengatakannya dengan jelas, namun aku masih bisa menangkap maksud perkataannya karena ruangan ini sangat sepi.

"Dia hanya akan membalas dendam pada Mingyu. Itu saja. Aish, seharusnya aku menghentikannya. Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Jooheon?

Mingyu?

Apakah Jooheon dalang dibalik ini semua?

Apakah Jooheon yang dimaksud adalah Lee Jooheon?

Ketika aku masih sibuk berkutat dengan pikiranku yang tak karuan ini, pemuda itu berjalan menjauh dari tempatku duduk dan menutup pintu rapat-rapat. Sekarang aku sudah lega, dan bisa kubuka kembali kedua mataku ini. Walaupun sedikit lega karena orang itu tidak melakukan apa-apa padaku, tapi pikiranku langsung melayang ke saat itu.

FLASHBACK

Kupandangi sejumlah foto yang tergantung di dinding ruang tamu keluarga Lee. Aku sedang berada di kediaman guru lesku, Lee Sunmi. Sudah hampir tiga bulan ini aku les private kepada Mrs. Lee. Sebenarnya aku tidak ingin les private seperti ini, tapi apa boleh buat, orangtuaku menyuruhku untuk les dan Mrs. Lee adalah salah satu teman lama eomma yang sangat eomma percaya. Jadi, disinilah aku sekarang menunggu Mrs. Lee.

Biasanya, Mrs. Lee akan datang ke rumahku, tetapi sudah tiga kali ini aku yang datang ke rumah Mrs. Lee. Aku tidak berkeberatan karena jarak antara rumahku dan rumah beliau tidak terlalu jauh. Mrs. Lee adalah orang yang baik dan cantik. Dia tipe keibuan dan sangat penyayang. Aku sangat menyukai beliau. Tapi, ada satu hal yang tidak kusukai dari beliau. Yaitu, anaknya.

Lee Jooheon.

Yah, Lee Jooheon adalah anak Mrs. Lee. Tampangnya menyeramkan. Walaupun matanya bisa dibilang lebih sipit dariku, tapi tatapannya sangat tajam ditambah dengan seringaian yang sering membingkai wajahnya membuatnya sangat tidak bersahabat. Suaranya berat dan serak seperti karakter-karakter antagonis dalam film-film action Hollywood. Aku dengar dia bersekolah di salah satu sekolah favorit di Seoul dan terkenal sebagai kingka. Tidak heran, dari penampilannya saja kau pasti sudah bisa menebaknya.

Aku duduk di salah satu kursi di ruang tamu dengan gelisah. Kenapa gelisah? Sudah dua puluh menit aku disini, tapi Mrs. Lee belum datang juga. Selain itu, seseorang yang duduk di depanku membuat perasaanku sangat tidak nyaman. Ya, Lee Jooheon duduk di depanku setelah membukakan pintu untukku. Kami berdua duduk berhadapan tanpa sepatah katapun terucap selama dua puluh menit. Aku tak berani menatap matanya, jadi kuputuskan untuk melihat sekeliling ruang tamu.

KRING KRING KRING

Telepon rumah keluarga Lee berdering. Kulihat sekilas muka enggan Jooheon yang beranjak menuju benda yang masih berdering itu. Diangkatnya dan disapanya orang di seberang sana,"YOBOSEYO!"

Kulihat ekspresi mukanya berubah dari kesal menjadi senang dan seulas senyum licik tergambar di wajahnya. Siapa yang menelepon? Kenapa ekspresinya seperti itu? Kenapa perasaanku sangat tidak enak sekarang?

Sesaat kemudian ia mengembalikan gagang telepon ke tempatnya dan berjalan ke arahku. Aku tak tahu apa yang akan ia lakukan, namun sesaat kemudian ia langsung menarik tanganku dan menyeretku ke sebuah ruangan di lantai dua. Mungkin itu kamarnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" aku mencoba berontak sambil berusaha melepaskan tangan kanan pemuda berpipi tembem dari pergelangan tanganku.

"SHIKKEREO!" dia berteriak dan terus menyeretku ke kamarnya dan dengan segera membuka pintu kamar dan melemparkanku ke tempat tidurnya.

"YAH! BIARKAN AKU PERGI!" sekali lagi aku berteriak. Tapi, ia justru mengunci pintu kamarnya dan tersenyum licik di depan pintu.

Aku baru sadar bahwa aku berada di tempat tidurnya dan Jooheon ada di seberang ruangan dan mulai melakukan sesuatu yang membuat mataku terbelalak kaget. Dia membuka kaos yang dipakainya dan melemparkannya sembarangan. Melihat hal itu, aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Aku berusaha menghindari saat ia mendekatiku, tapi aku terlambat karena dia langsung menindihku dan memegang kedua pergelangan tanganku dengan kasar.

Dia menjilat bagian luar telingaku dan berbisik,"Sebaiknya kau diam karena kita akan bermain sebentar. Kau tidak ingin aku bertindak kasar padamu kan manis?"

Aku merinding mendengar ucapannya. Aku sangat ketakutan hingga kurasakan tubuhku bergetar hebat dan aku hampir menangis. Ia terus menjilati telingaku dan kemudian ia menjilati seluruh wajahku. Aku tak bisa berteriak. Suaraku seakan tercekat di tenggorokan dan walaupun aku ingin mengatakan sesuatu, kalimat-kalimatku hanya keluar tanpa suara dan hanya menimbulkan gerakan bibir.

Beberapa saat kemudian aku merasakan sesuatu yang aneh. Jooheon melepaskan tanganku, tapi bukannya aku bebas, dia justru mengikat pergelangan tanganku dengan dasi sekolah yang entah ia dapat darimana. Aku ingin menangis. Eomma, kenapa aku harus datang kesini hari ini?

Setelah puas membuatku bergidik, ia mengecup bibirku perlahan. Namun karena aku tidak memberikan respon yang ia inginkan, kemudian ia menggigit bibir bawahku sekeras mungkin sampai kurasakan darah segar mulai keluar dari bekas luka itu. Dia memaksaku membuka mulut, tapi aku tetap tidak melakukannya. Dia menatapku kesal dan menamparku dengan tangannya yang kasar itu. Kembali dicobanya untuk menciumku dan kali ini berhasil.

Kumisnya yang mulai tumbuh di wajahnya menggores daerah sekitar bibirku dan kemungkinan akan meninggalkan bekas luka karena dia terus menciumku dengan kasar. Bukan hanya kumisnya saja yang melukaiku, tapi tangannya yang memegang kasar daguku hingga kurasakan tulang daguku seakan remuk. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, namun tiba-tiba terlintas di pikiranku cara untuk melepaskan ciumannya itu. Kugigit bibir bawahnya keras seperti yang telah dia lakukan padaku tadi. Dia berhenti dan mengumpat dengan kasar,"Neo INMA!"dan menamparku lagi.

"TATAP MATAKU!" Jooheon mendongakkan kepalaku sehingga aku mau tak mau akhirnya menatap matanya yang memancarkan kemenangan.

"SO BEAUTIFUL," ujarnya.

"Jooheon, le... lep... lepas... lepaskan aku," akhirnya satu kalimat berhasil keluar dari mulutku. Air mataku mulai bercucuran dan membasahi wajahku.

"MWO? LEPASKAN? KITA AKAN BERMAIN TERLEBIH DULU SEBELUM AKU MELEPASKANMU!" suaranya terdengar menakutkan di telingaku.

Dia membuka pakaian yang kukenakan dan melemparnya, sama seperti yang ia lakukan pada bajunya sendiri. Kemudian tanpa segan-segan ia membuka resleting celana jeansku dan membukanya dalam sekali gerakan. Celanaku bernasib sama dengan bajuku. Tidak hanya itu, ia terus melucuti semua pakaianku satu persatu hingga tak ada satu helai benangpun yang menutupi tubuhku.

Kurasakan tangannya mulai menjamah kulit-kulit tubuhku. Aku menangis. Ya Tuhan, dosa apa yang telah kubuat sehingga Kau memberikanku cobaan seperti ini? Di luar hujan mulai turun.

"KAU MENYUKAINYA BABE?" dia menjilati seluruh tubuhku dari wajahku hingga ujung kakiku dan mengecup singkat di beberapa tempat sehingga membuatku mengerang. Aku benci padanya. Sangat benci. Apa yang dia lakukan benar-benar keterlaluan. Bagaimana ia bisa melakukan hal seperti ini padaku. Aku tidak menjawab apa yang ia tanyakan sehingga ia menatapku dengan galak dan langsung menampar wajahku.

Tangan yang tadinya menamparku itu kini turun ke bagian privateku dan seakan tanpa dosa, ia mengocoknya berulang-ulang kali. Kurasakan sensasi yang aneh dan jijik. Aku masih mencoba berontak, tapi Jooheon seakan menikmati pemandangan di hadapannya kini. Dia tersenyum licik hal itu semakin membuatku ingin muntah. Dia masih melanjutkan penyiksaannya padaku sampai kurasakan ia berhenti saat bagian privateku menegang.

Air mataku terus bercucuran, tapi dia tetap tidak mempedulikanku. Sekarang Jooheon berdiri dan aku sedikit lega karena ia berhenti melakukan perbuatan kotor ini padaku. Tapi aku segera melotot saat dia menelanjangi tubuhnya dan kembali ke tempat tidur bersamaku. Dengan kasar dibalikkannya tubuhku dan tanpa aba-aba apapun dia melakukannya.

"AAAARRGHHH," aku berteriak sekuat tenaga bersamaan dengan bunyi petir yang menggelegar.

Kurasakan sakit yang luar biasa. Aku terus menangis dan dia terus melakukannya berulang-ulang kali hingga kurasakan cairan aneh mulai menetes dari bagian bawah tubuhku. Oh Tuhan, dia telah memperkosaku.

"KENAPA KAU TIDAK MENERIAKKAN NAMAKU YOU LITTLE WHORE!" dia kembali menamparku dan bangkit dari atas tubuhku.

"Joo...heon... le...lepas...lepaskan aku... kumohon...," walaupun aku tahu tak ada gunanya aku memohon seperti ini, tapi setidaknya aku berusaha.

Pandangan mataku yang kabur karena air mata menangkap bayangan Jooheon yang sudah berpakaian lengkap berjalan ke arahku dan melepaskan ikatan di pergelangan tanganku yang pastinya sekarang sudah berubah kemerahan. Dilemparkannya baju dan celanaku yang langsung kusambar secepat kilat. Aku segera memakai barang berhargaku yang satu ini.

Petir masih terus menggelegar dan hujan deras masih turun. Jooheon menatap keluar jendela dan berkata tanpa memandangku sama sekali,"JANGAN PERNAH KATAKAN PADA SIAPAPUN APA YANG TERJADI! ATAU, KAU AKAN MATI! INGAT ITU!"

Aku bergidik ketakutan. Walaupun di sekolah banyak anak yang senang mengerjaiku. Tapi mereka hanya menyakiti fisikku saja. Mereka paling-paling akan mengerjaiku dengan perangkap-perangkap dan tidak ada yang pernah melakukan hal mengerikan seperti yang dilakukan oleh Jooheon. Aku lebih memilih dipukul berulang-ulang kali daripada diperlakukan seperti ini.

Aku berlari meninggalkan tempat terkutuk itu dan menyambar tas dan jaket yang berserakan di ruang tamu. Aku tak peduli sekarang hujan atau apa, aku tak peduli orang menatapku aneh. Aku terus berlari tanpa mengenakan sepatu dan tas serta jaket yang kubawa bergelantungan tidak karuan di tangan kananku sedang sepatuku menggantung di tangan kiriku.

Seorang pemuda yang mengangkat jaketnya tinggi-tinggi untuk berteduh yang tidak bisa kulihat wajahnya dengan jelas menatapku dengan tatapan aneh untuk beberapa saat, tapi kemudian ia segera berlalu masuk ke dalam rumahnya setelah pintu gerbang terbuka.

End of Wonwoo POV

.

.

.

No one POV

Beberapa saat sebelum kejadian itu

"YOBOSEYO!"

"Jooheon-ah, eomma tidak bisa pulang sekarang. Eomma ada tugas dari sekolah, jadi mungkin akan pulang terlambat. Bisakah kau katakan pada Wonwoo untuk tidak menunggu eomma?"

"Ah ne."

"Hm, begini saja. Kau antar dia pulang sekarang Jooheon, bagaimana?"

"Ne, eomma."

Mingyu pulang sekolah dalam keadaan basah kuyup karena hujan deras yang tiba-tiba saja turun. Diangkatnya tinggi-tinggi jaket sekolahnya untuk berteduh, namun tetap tak ada gunanya. Dia berusaha membuka pintu gerbang secepat mungkin, tapi karena tangannya licin terkena air hujan, jadi dia membutuhkan waktu ekstra untuk membukanya. Tiba-tiba saja dilihatnya seorang pemuda seumuran dengannya berlari sambil membawa jaket, tas dan sepatu di kedua tangannya. Sesaat ia heran melihat pemuda itu, karena pemuda itu menangis. Ya, walaupun hujan masih turun dengan deras, tapi dia tahu kalau pemuda itu menangis. Bukan hanya itu, pakaiannya pun berantakan dan tidak rapi serta terlihat beberapa bekas pukulan di wajahnya.

End of Flashback

.

.

.

Soonyoung POV

Aku setengah berlari saat mengetahui bus yang seharusnya kutumpangi sudah berlalu begitu saja. Ini semua karena aku terlambat bangun. Sekarang aku harus mencari cara lain atau terpaksa berjalan kaki ke sekolah. Memang ini hari libur, tapi team sepakbola kami ada latihan rutin yang tidak bisa ditinggalkan. Baiklah, sepertinya tidak ada jalan lain kecuali berjalan kaki. Sudahlah, lagian jarak dari sini ke sekolah tidak terlalu jauh. Tidak ada salahnya pemanasan sebelum latihan. Oya, aku ingat jalan tembus ke sekolah. Pasti lewat jalan ini akan lebih cepat sampai.

Saat mendekati sebuah gedung yang mencurigakan, akupun berhenti sesaat. Aku ingat, gedung ini adalah gedung kosong yang sudah tidak dipakai lagi karena kebakaran yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Bukan karena aku takut atau apa melewati gedung ini, tapi pandanganku tertuju pada sebuah van yang meluncur masuk ke dalam pelataran parkiran gedung. Seingatku gedung ini kosong, tapi kenapa ada kendaraan yang masuk ke sana. Apa gedung ini akan digunakan kembali?

Bukan hanya itu yang membuatku penasaran, tapi beberapa saat kemudian, kulihat seseorang yang kukenal turun dari mobi Audi yang diparkir agak jauh dari gedung tua ini. Iya, aku pasti tak salah lihat. Benar sekali dia Mr. Jung, teman ayahku. Apa yang beliau lakukan disini?

Perlahan aku mendekati Mr. Jung dan kuberanikan untuk menyapanya,"Ahjussi, apa yang Anda lakukan disini?"

Karena merasa sedikit kaget dengan kemunculanku, Yunho ahjussi sempat terlonjak. Namun kemudian ia berhasil menguasai diri dan tersenyum padaku.

"Soonyoung-ah, kupikir siapa."

"Apa yang ahjussi lakukan disini?"

"Soonyoung-ah, apa kau melihat van yang masuk tadi?"

"Ne," aku menggangguk menanggapi pertanyaan Yunho ahjussi.

"Aish, siapa sebenarnya anak-anak berandalan itu? Kenapa mereka menculik anak Mr. Jeon?" kudengar Yunho ahjussi mengucapkan beberapa kalimat yang tidak kumengerti sama sekali.

"Waeyo ahjussi?"

"Hm, sepertinya ada yang tidak beres dengan van yang baru masuk ke halaman gedung tua ini Soonyoung-ah. Aduh begini, anak temanku, namanya siapa ya, aku lupa," Yunho ahjussi berhenti sejenak mengingat nama anak temannya dan kemudian berkata,"Wo.. Won..Won..."

"Wonwoo?" aku mencoba menebaknya.

"Ah, itu dia. Bagaimana kau tahu namanya?"

"Dia teman Seokmin, ahjussi. Apa yang terjadi padanya ahjussi?"

"Aku melihat anak-anak itu membekap mulut Wonwoo dan membawanya kemari. Oleh karena itu aku mengikuti mereka sampai kesini. Aku takut terjadi apa-apa pada anak itu," Yunho ahjussi menunjukkan raut muka khawatir.

Kemudian sebuah ide terlintas di pikiranku,"Bagaimana kalau kita selidiki ahjussi?"

"Hm, baiklah."

Sesaat kemudian kami mulai menjalankan rencana yang telah kami susun secara dadakan. Rencananya adalah Yunho ahjussi akan mencoba mencari tahu dimana Wonwoo berada sedangkan aku akan mengawasi gerak-gerik anak berandalan yang dikatakan oleh ahjussi barusan.

Kulihat Yunho ahjussi menganggukkan kepalanya tanda memulai bergerak. Beliau masuk ke pelataran gedung dan mengendap-endap di dekat tembok sedangkan aku mengikuti di belakangnya sambil terus memperhatikan sekeliling. Dari tempatku berdiri sekarang dapat kulihat van yang tadi masuk terparkir rapi di salah satu sudut pelataran. Gedung ini tidak terlalu besar, tetapi suasananya sangat menyeramkan. Banyak orang mengatakan bahwa gedung ini berhantu dan sudah banyak yang melihatnya secara langsung. Bukan karena sebab apa-apa mereka mengatakan hal seperti itu, tapi setelah aku masuk ke sini aku baru mengetahui alasannya.

Kami mengintai setiap ruangan yang ada di gedung ini dan sekarang tinggal satu ruangan yang belum kami selidiki, yaitu ruangan yang terletak di paling belakang gedung. Sejauh ini kami tidak menemukan seorang pun yang berjaga di sekitar gedung ini. Namun, tiba-tiba pandanganku terhenti pada sosok pemuda yang tengah duduk di sudut ruangan sambil memainkan handphone yang berada di genggamannya.

Segera saja aku memberikan aba-aba pada Yunho ahjussi supaya berhenti bergerak. Kami mengamati pemuda itu beberapa saat sampai datanglah pemuda berambut pendek dengan muka datar serta ekspresi dingin yang mendekatinya.

"Wonho-ya, Jooheon menyuruh kita segera ke markas," pemuda berambut pendek kini menunjukkan wajah serius pada pemuda yang tengah duduk tadi.

"Sekarang hyung?" seakan tak percaya, pemuda tadi kembali mencari kejelasan.

"Ne, sekarang. Jooheon yakin kalau Mingyu akan segera datang ke markas."

"Hyunwoo hyung, aku sudah mengatakan kalau aku tidak ingin terlibat dalam masalah ini," sambil menangkupkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya, pemuda itu terlihat frustasi.

"Aku tahu. Tapi Jooheon hanya ingin kau ada di sana. Kau tidak perlu melakukan apa-apa pada Mingyu, karena Jooheon sendiri yang akan melakukannya."

"Tidak bisakah aku disini saja?"

"Ani. Ayolah. Sebentar lagi Mingyu akan sampai. Kita harus segera kesana sebelum Mingyu sampai."

"Arraseo," pemuda itu akhirnya menyerah dan berdiri dari tempatnya duduk.

Dan mereka berdua pun pergi tanpa mengetahui bahwa kami berdua ada di sini. Aku lega mereka sudah pergi, itu artinya sekarang kami bisa membebaskan Wonwoo dari anak-anak berandalan itu.

Kualihkan pandanganku pada Yunho ahjussi yang berada di seberang tempatku berdiri. Betapa herannya aku ketika kudapati Yunho ahjussi sedang terbengong-bengong seakan tidak percaya pada sesuatu.

"Ahjussi," sepertinya aku mengagetkan beliau karena tiba-tiba saja Yunho ahjussi seperti baru tersadar dari sesuatu.

"Waeyo ahjussi?"

"Soonyoung-ah, apa kau dengar tadi mereka membicarakan Mingyu?"

"Ne. Ah, iya, sekarang pasti Mingyu ada dalam bahaya. Ahjussi kita harus segera membebaskan Wonwoo dan mencari keberadaan Mingyu."

"Baiklah."

Yunho ahjussi bergerak dari tempatnya berdiri kemudian menuju pintu ruangan yang terkunci rapat. Didobraknya pintu itu dan sesaat kemudian pintu itu menjeblak terbuka. Kami berdua melihat Wonwoo duduk di sebuah kursi dan terikat. Aku berlari mendekatinya dan berlutut di dekatnya.

"Wonwoo-ya, hei!" aku mencoba menyadarkannya dari lamunannya. Ekspresinya sama seperti yang ditunjukkan oleh Yunho ahjussi barusan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tidak aku mengerti? Kenapa mereka berdua seperti shock setelah mendengar ataupun mengingat sesuatu?

"Aish Wonwoo-ya sadarlah," aku menggoncangkan tubuh Wonwoo perlahan sambil terus berusaha membuka ikatan yang membelit tubuh dan kakinya.

"Aedeul-a, gwaenchana?" Yunho ahjussi membuka lakban yang menutupi mulut Wonwoo.

"Mingyu... Min.. Mingyu dalam bahaya," kudengar ia langsung berkata demikian setelah lakbannya terbuka.

End of Soonyoung POV

.

.

.

Seokmin POV

Aku dan Hansol berusaha mengikuti Mingyu yang melesat secepat kilat mengendarai sepeda motor milik guru kami. Kami benar-benar tak ada ide kemana dia pergi. Wajahnya langsung berubah menakutkan saat dia mengetahui bahwa Wonwoo tidak bersama Seungcheol dan Seungkwan. Siapa yang telah menculik Wonwoo sebenarnya?

"Hansol-ah, bisakah kau lebih cepat?" aku bertanya pada Hansol yang sedang berada di sebelahku. Kami terpaksa meminjam mobil milik salah satu guru kami karena tidak ada kendaraan lain yang dapat kami gunakan.

"Aish, ini mobil tua hyung, kita tidak bisa berharap lebih. Sudahlah, sebaiknya kau perhatikan Mingyu saja hyung!"

"Arraseo," aku kembali menatap jalanan di hadapan kami.

Sungguh, aku sangat takut kalau melihat Mingyu menunjukkan wajah seperti tadi. Tanpa basa-basi Mingyu kembali ke kamar penginapannya dan hanya sekadar berganti pakaian kemudian ia langsung pergi tanpa sepatah katapun pada kami berdua. Hal ini mengingatkanku pada kejadian saat ia masuk ke dalam kelas setelah menghajar Jooheon habis-habisan. Dapat kulihat dari sorot matanya barusan bahwa ia seperti ingin membunuh seseorang.

FLASHBACK

"Seungcheol hyung, bangun!" kugoncangkan tubuh temanku yang tergeletak tidak berdaya.

Sesaat kemudian, Seungcheol membuka matanya dan menatapku heran. Mungkin ia heran kenapa kami ada disini bersamanya.

"Apa yang terjadi?"

"Seokmin-ah, orang-orang bertopeng itu. Dimana mereka?"

Orang-orang bertopeng?

"Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan hyung?" aku berusaha bertanya kembali saat ia berusaha untuk duduk dan memegang tengkuknya yang kelihatan sedikit memar.

"Ani, aku tak tahu siapa mereka. Tapi, tiba-tiba saja mereka memukul kami. Mereka menjebak kami, bahkan mereka telah membuat rute palsu di hutan ini," Seungcheol memijat-mijat tengkuknya yang pastinya terasa sangat sakit.

Kulihat Hansol juga tengah membangunkan Seungkwan. Tapi, dimana Wonwoo? Aku tidak melihat dia ada disini? Apa yang terjadi padanya? Kulihat Mingyu berjalan menuju sebuah pohon dan mencabut sesuatu yang terlihat seperti kertas.

Dipandanginya kertas itu dan beberapa saat kemudian Mingyu meremas kertas di genggamannya dan segera berbalik ke arah kami masuk tadi. Ia bahkan berlari dan aku berteriak-teriak di belakangnya berusaha menanyakan apa yang terjadi?

"MINGYU-YA, ADA APA?"

Tapi dia tidak mendengarkanku. Tak ada pilihan lain, aku menyuruh Seungcheol yang sudah sadar sepenuhnya untuk menjaga Seungkwan dan mengajaknya kembali ke penginapan. Sedangkan aku langsung meraih Hansol untuk bersama-sama mengejar Mingyu.

Kami terus berlari dan segera melihat Mingyu masuk ke kamarnya dan segera berganti pakaian dan menarik keluar jaket dari dalam tasnya dan segera memakainya.

"Mingyu-ah, wae?" aku masih berlutut karena kelelahan berlari mengejar sahabatku yang satu ini.

"YAH! WAEGURAE?" Hansol ikut berteriak di sebelahku.

Tapi, Mingyu tidak mendengarkan kami sama sekali dan segera pergi menuju sepeda motor yang terparkir di dekat salah satu kamar penginapan. Pasti itu milik salah satu guru kami. Memang, tidak semua guru yang ikut MT mengikuti rombongan bus, tapi ada beberapa yang membawa kendaraan pribadi.

Mingyu sangat beruntung karena ternyata kunci sepeda motor itu masih menggelantung di lubangnya. Tanpa banyak basa-basi ia langsung menjalankan kendaraan itu dan pergi meninggalkan kami berdua yang masih kelelahan.

"Mobil... mobil.. Mr. Hwang..," Hansol berusaha mengeluarkan kata-kata yang walaupun berantakan, tapi langsung bisa kutebak apa maksudnya.

Aku berlari mendekati Mr. Hwang yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan melakukan hal senekat ini. Dengan cepat kurampas kunci mobil dari tangan Mr. Hwang dan kubungkukkan badanku kilat kemudian kami berdua pergi meninggalkan beliau terbengong-bengong seorang diri.

End of Seokmin POV

Saat kami berdua sedang merasa sangat tegang karena takut kehilangan jejak Mingyu, tiba-tiba handphone di sakuku bergetar. Aku sebenarnya sangat kesal mengetahui ada yang menelponku di saat genting seperti ini. Niatnya, akan kubiarkan saja getaran yang ditimbulkan oleh handphone ku itu, namun aku merasa ada sesuatu dibalik telepon ini.

"YOBOSEYO!" aku setengah berteriak kepada orang di seberang telepon.

"Seokmin-ah," kudengar suara yang sangat familiar. Soonyoung.

"Hyung, wae?"

"Mingyu dalam bahaya."

"MWO?"

"JooheontelahmenjebakMingyu," kudengar Soonyoung seperti terburu-buru mengatakan sesuatu. Aku tak bisa menangkap apa yang ia katakan.

"Mworaguyo?"

"Jooheon telah menjebak Mingyu," akhirnya ia bisa mengatakannya dengan jelas.

"AISH, BENARKAH?"

"Ne. Sekarang aku bersama Wonwoo."

"Kau tahu dimana Jooheon sekarang? Pasti si bodoh itu pergi menemui Jooheon sekarang."

"Ani. Itu masalahnya. Kami kehilangan jejak anak buahnya. Tapi mereka mengatakan kalau dia ada di markas."

"Hyung, apa kata Soonyoung?" Hansol yang masih sibuk mengendarai mobil yang kami tumpangi pun ikut menanyakan apa isi pembicaraanku dengan Soonyoung.

Tiba-tiba kulihat sebuah sepeda motor akan menyeberang di perempatan jalan yang kami lewati. Secepat kilat Hansol melakukan pengereman dan tubuh kami berduapun sontak kehilangan keseimbangan sehingga menabrak bagian depan mobil.

"Hyung, aku akan meneleponmu lagi nanti. Arra?"

Sekarang kami sudah kehilangan jejak Mingyu. Lengkap sudah. Soonyoung bersama Wonwoo sekarang, seharusnya aku lega. Tapi, ia juga tidak tahu dimana Jooheon berada.

Hansol langsung keluar dari dalam mobil dan melihat kondisi pengendara sepeda motor yang untung saja tidak terluka. Aku ikut turun dari mobil dan kubantu Hansol yang masih berusaha membangunkan pengendara sepeda motor.

"Changkyun?" kudengar Hansol berteriak. Ia berteriak seperti telah memenangkan sesuatu.

"Mwo?" aku langsung memperhatikan pemuda yang hampir kami tabrak tadi. Benar sekali. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

"Changkyun-ah, bisakah kau membantu kami?" sesegera mungkin aku meminta bantuannya.

"Mwo?" dia sedikit bingung melihat tingkah kami yang agak aneh.

"Tolong tunjukkan dimana markas Jooheon. Kami mohon," Hansol mendahului perkataanku.

TBC