Konichiwa Minna~
Mohon maaf dengan sangat hari ini Shera nggak bisa meneruskan main story-nya~
Ada beberapa hal yang perlu di-edit. Shera harap readers menngerti ya~ *sujut-sujut*

Oh, sambil nunggu Shera mau kasih cerita tambahan untuk kalian~
Ini cerita 2 tahun sebelum Sakura menjadi bagian dari keluarga Uchiha.
Shera akan tetap membalas reviews kalian kok~

~Balasan Reviews~

Cherry warriors,
Lemon? aw... next chap okay? ;)

Izwanarda,
(Sasuke : cih~ siapa juga yang mau menciummu~ *pergi*)
A ha ha~ abaikan dia ya~ ^^;

Sakira nata-chan,
Ah, maaf ya~ part berikutnya masih harus di-delay sementara waktu, semoga kamu masih sabar menunggu~ x(

sonedinda2,
Makasiiiih~ ^o^ senangnya~

Hana loveless,
Iia kah? kita seumuran? Asyiikkk~ punya akun twitter? PM ya~ :3

Qian Zhang,
Perangnya yang jelas nggak pakek tombak atau senjata ya.. ^^;
Aduh, yg bales Shera gpp kn? (._.)a

hanazono yuri,
wew~ itu salah paham kok~ ^^;

Princes Cherry Blossom,
Iia kah? Shera juga seneng baca review kamu.. :) Lemon? Ok deeehhh~ next time. xD

Miura-chan,
iiapz~ gpp kok asalnya kamu tetep hadir~ :D

Uchiharuka,
*lap keringat* he he kita seumuran? UN untuk SMA kan? :/

Natsumo Kagerou,
(Sasuke : kenapa? baru juga sampai jam 3, kami mulai jam 8 malam lho~ itu sih belum apa-apa. (-"-))

Cherrywarriors,
sippp deh~ :D

CutIcut Uchiha,
(Sakura : aw? aku nggak gampang dirayu~ cuma... *lirik Sasuke* *blush*)

White's
ha ha ha, iya tuh Sasuke ngelakuinnya ampe 5x (._.) emang nggak capek apa ya?

Eysha CherryBlossom,
iia Shera cuti 3 hari nggak update, he he. ^^; *garuk pipi*

Hikari M,
HA HA iya, pssst~ sebenernya shera juga sedikit menyesal meminta Karin menjadi artis di sini... (-,-)

Angel Jessi,
Request tentang keluara Uchiha ya? hm... bisa dipikirkan, itu nanti masuknya 'slide story' seperti beriku ini aja ya.. :)

Dhezthy UchihAruno,
Yang jelas perangnya gak pakek senjata kok~ ('O') dan masalah Shion yang membalas review~ boleh deh untuk nest chap ya?

Mega nazztridaya,
Ok deh~ ^o^

Jeremy Liaz Toner,
masih mending kan ada scandal, daripada sendal? *dzig (All : lucu? Iya lucu? Ha ha ha -,-)

Haruchan,
Naruto akan Shera kasih kesempatan buat balas reviews kok~ tapi kapan ya? *mikir*
He he, mereka memang penuh dengan penjiwaan ya aktingnya. ^^;
Itachi-niichan sudah mulai membaik, hanya butuh pengobatan saja~ Sankyu ya~ ^o^

hadni,
hy, salammu akan kusampaikan. Itachi-nii akan sembuh kok~ ^^
Perangnya gimana ya~ ha ha sepertinya kamu masih harus bersabar nunggu ceritanya~ ^^;

Hanna Hoshiko,
hy, ha ha yosh~ ^o^

Uchiha Ratih,
Yey~ syukur deh kalo kami suka~ ^^ Wow? perang beneran nih? O_o

Cherryma,
hy juga~ yyeeeeea~ semangat karna kamu nyemangatin~ ^o^

Sasa,
(Sasuke : Biar mendetail, aku tak mau kalian berpikir yang salah. Hey, kenapa kau bersemu? cih, sok polos~ -,-)
Oh well~ karna Shera lebih fokus sama SasuSaku jadi lupa soal keluarga mereka deh~ ^^;
nanti Shera tambahin di slide story aja ya~ gpp kn?

Guest,
yep, kami sudah mencoba menjelaskan hal itu padanya. Tapi Managernya selalu membela diri. (._.)
Shera mohon maklum ya, semoga saja ia tak membuat masalah lebih banyak lagi~ sankyu~ ^o^

gagaGomez,
siiipp~ sangkyu~ ^o^

sodoer arekndablekputrakeramat,
oy oy~ Shera yang bales nihh~ xO I'm here, I'm here.
lho kok km tau? jgn2 km jga nonton ya? ha ha *peace*
Ah, kalo konfliknya berlebihan, Shera ngucap gomen aja~ tapi... abis ini mungkin bakal berkonflik lagi. ( ._.)a

Reako Mizuumi,
ha ha betul tuh betul! ('o')/
Ah, sayang Hinata sedang tak ada di sini~ ('.' ) ( '.')

Sami Haruchi,
Perasaannya Sasori-kun? Hm... boleh sih, nanti coba Shera usahakan ya~ xO

Lui H,
Tp ada slide story-nya, dan itu tak dihitung~ :o
He he Shera juga jadi sediiiih~ x'( duh, iya nih kita careless, sampai-sampai kejadian itu terjadi~

Lucy Hinata,
hy hy~ ^o^ sankyu ya~

~Enjoy Reading~


Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto

Disclaimer Story © Shera Liuzaki

.

.


Warning!

Cerita ini hanya bonus chap saja.
Diambil saat Sasuke masih pacaran dengan Karin dan belum bertemu Sakura.
Ini hanya hiburan untuk menunggu chap selanjutnya yang masih belum bisa diupdate
dan nggak berpengaruh sama main story kok~

Required Song : AZU-For you.

Original Character for Kasumi Rika

NO LEMON


.

.

Shera Liuzaki, present :

.

.


"BROTHER X SISTER"

Side Story—


.

.

23 Maret 2014

.

.


Love Song


.

.

Enjoy Reading

.

.

Inuzuka Kiba Point Of View

.

.

Orang bilang, ketika kau jatuh cinta…

Kau akan mendengar sebuah lagu di telingamu.

Meskipun tak ada yang memutar musik atau bernyanyi di sana, kau hanya mendengarnya begitu saja.

Lalu…lagu cinta seperti apa yang akan kudengar ketika aku jatuh cinta?

-ooOoo-

"Kiba." Aku menoleh saat mendengar Naruto memanggilku. "Aku akan pulang, kau antarkan Shion pulang ya."

Kulirik Shion yang tertidur lelap di sofa. Naruto nampak memakai jaketnya dan memasukkan gitarnya kembali. Ia keluar ruangan bersama dengan kekasihnya—Hinata. Sasuke juga sudah pulang beberapa waktu yang lalu.

"Haaahh~" aku menghela nafas panjang.

Apa yang harus kulakukan dengan bocah SMP yang tidur ini? Aku menempatkan diriku duduk di sebelahnya. Basecamp kami terasa cukup hangat bagiku. Salahkan udara dingin yang datang malam ini.

Konser KISS hari ini berjalan mulus, kami sedang membangun jembatan menuju dunia permusikan. Awalnya KISS dibentuk hanya untuk sarana hiburan saja, lama-lama kami mencoba mencari peruntungan dengan musik kami. Dimulai dari magang di sebuah café, sampai manggung di panggung yang sebenarnya.

"Jeezzz, dingin~" keluhku sambil merapatkan jaket yang kupakai.

Ah…suasana ini membuatku teringat akan suatu kejadian masa lalu. Kalau tak salah, dua tahun yang lalu… aku bertemu dengannya.

-ooOoo-

Saat itu aku akan pergi ke supermarket bersama dengan Akamaru—anjing peliharaanku. Karena KISS masih cukup tenar hari itu, aku jadi jarang menyempatkan diri bersama Akamaru. Kurasa ia pasti akan kesepian di rumah.

"Tunggu di sini sebentar ok? Aku akan membelikanmu sosis bakar." sahutku sambil mengusap kepala Akamaru.

"Guk."

Itulah jawabannya. Aku masuk ke supermarket, membeli beberapa kebutuhan sehari-hariku dan tak lupa juga sosis bakar yang kujanjikan untuk Akamaru. Tak lama aku meninggalkannya di luar sana, karna Akamaru sudah bersamaku sejak kecil, ia tumbuh dengan jinak. Terkadang aku membawanya jalan-jalan tanpa tali pengikat, seperti sekarang ini.

Lagipula aku tak suka juga mengikat Akamaru. Rasanya sakit hati kalau melihatnya, Akamaru sudah kuanggap sebagai bagian dari keluargaku. Saat keluar dari supermarket itu, sesuatu mengejutkanku.

"Wow…?"

Seorang gadis dengan rambut kecoklatannya yang panjang terlihat membelai Akamaru. Jarang sekali Akamaru bisa langsung seakrab ini dengan orang lain, biasanya dia akan galak di awal lalu menjadi manis kemudian. Apa aku mengenal gadis ini? Aku mendekatinya.

Gadis itu menyadari kehadiranku, dengan wajahnya yang gugup ia bangkit. Akamaru memandangku sambil menggoyangkan ekornya, sepertinya buddy kecilku itu sudah bisa mencium aroma sosis yang kubeli.

"Oh, hy." sapaku pada gadis itu. Tapi sayang belum sempat aku mengajaknya berkenalan, dia malah menundukkan kepalanya dan berlalu pergi.

"Ah, ada apa dengannya?"

"Guk."

-ooOoo-

Gadis yang aneh. Tapi karena keanehan itulah, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Saking bengongnya, aku sampai tak menyadari Naruto yang mulai mendekatiku.

"Hey, Kiba. Kau mau ikut kami?" sahutnya sambil duduk di sampingku.

"Kemana?"

"Aku dan Hinata-chan akan mengadakan perayaan kecil-kecilan untuk memperingati 2 tahun kami jadian. Sasuke, Shion, dan Karin sudah kuberitahu. Bagaimana, kau ikut?"

"Boleh saja. Akan kuajak Akamaru sekalian."

Berkat kalimat terakhirku itu, Naruto malah memukulku, mengatakan bahwa aku seharusnya bisa move on dari peliharaanku itu. Lho? Memang kenapa? Akamaru sudah seperti adikku sendiri, tak ada salahnya kan mengajaknya bersenang-senang. Aku yakin Akamaru pasti bosan di rumah terus selama aku sibuk dengan KISS.

Bulan bersinar terang malam itu. Aku melangkahkan kakiku, nafasku terlihat mengepul dan hidungku terasa amat dingin. Kumasukkan tanganku ke dalam saku jaket. Sepertinya aku ingin membeli sesuatu untuk menghangatkan diri. Aku mampir di sebuah kedai kopi dan membeli segelas coklat panas.

"Aah, sial. Kenapa malam ini dingin sekali?" gerutuku.

Hmm… na na na

Aku membulatkan mata, sepertinya aku mendengar sesuatu. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. dalam ramainya pusat kota, mana mungkin ada seseorang yang bernyanyi. Kalaupun benar, pastinya sudah banyak orang-orang yang bergelombol di sana.

Tapi saat berbalik dan bersiap akan pergi, aku mendengarnya lagi. Sebuah suara wanita yang bernyanyi lembut. Aku tak sedang bermimpi kan? Kulirik orang-orang disekitarku, nampaknya mereka biasa-biasa saja.

What is here
[
Apa yang ada di sini]

Are the answer that you chose
[
Adalah jawaban yang kau pilih]

Indah. Wow, suara ini indah sekali. Aku belum pernah mendengarnya. Kuikuti kemana suara ini membawaku. Siapa yang menyanyikannya? Mungkin ini bisa jadi alternative berhubung KISS sedang membutuhkan lagu baru.

Setidaknya yang ada di dalam pikiranku, pasti yang menyanyikannya adalah gadis yang cantik. Tak lama aku sampai. Tapi ini bukan seperti yang kupikirkan, gadis itu adalah gadis yang kutemui di depan supermarket bersama Akamaru.

Now, be confident and go
[
Sekarang, percaya dirilah dan pergi]

Isn't it so natural?
[
Tidakkan itu natural?]

Gadis dengan rambut panjang sepinggangnya yang berkibar diterpa angin. Matanya yang menutup seakan menikmati nyanyiannya, dan senyuman yang mengambang di bibir manisnya. Hm… gadis ini tak buruk juga.

Sekali lagi, aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Kelihatannya orang-orang yang lalu lalang tak memperdulikan keberadaan gadis itu. Ini perasaanku saja..atau hanya aku yang bisa mendengar suara nyanyiannya? Ludah yang mengganjal di tenggorokanku kutelan dengan susah payah.

Aku mendekatinya, saat itulah ia trsadar dan melihatku. Kembali wajah gugupnya bisa kulihat. Sayang sekali, sepertinya karena itu ia jadi berhenti bernyanyi. Cukup disayangkan, karna aku masih ingin mendengar nyanyiannya lagi. Aku pun duduk di sebelahnya.

"Hy." sapaku, mungkin aku gugup juga. Ini pertama kalinya untukku.

Jangan tertawa ya! Aku tak pernah dekat dengan wanita, menurutku mereka merepotkan. Sebenarnya itu karna sebagian besar keluargaku didominasi oleh wanita, itu sebabnya aku sudah cukup 'puas' melihat berbagai bentuk dari mereka.

Ia kembali menunduk malu-malu sambil meremas roknya.

"Apa aku mengganggu?" ia menggelengkan kepala menjawabku. "Suaramu indah sekali. Apa kau—secara kebetulan—adalah seorang penyanyi? Lagu barusan kau yang mengarangnya?"

Kini kulihat ekspresi bingung dari sang gadis. Namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari kejauhan.

"Rika!"

Gadis itu menoleh, seorang wanita paruh baya nampak melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu bangkit dan membalas lambaian tangan itu. Menandakan bahwa ia akan segera ke sana. Ah, pertemuan yang singkat.

Namun sebelum ia pergi, ia memberikan sesuatu kepadaku. Aku menerimanya, sebuah kertas dengan deretan nomor—yang kuduga adalah nomor ponsel—tertera di sana. Aku tersenyum kepadanya yang sudah berada jauh, ia membalas senyumanku.

"Hm… tak buruk juga." Ucapku sambil meneguk coklat panas—yang mungkin sudah mulai mendingin—ditanganku.

-ooOoo-

Plok Plok Plok

Plok Plok Plok

"Cheeers~"

Detingan gelas yang bertumbukkan menjadi puncak acara kami. Hinata membawa banyak sekali makanan dalam bentou-nya, tak lupa juga Karin yang membeli beberapa whisky mahal. Aku men-comot segulung sushi dan memberikannya pada Akamaru.

"Hey Kiba, kau benar-benar membawa Akamaru bersamamu heh?" Naruto menyikutku, aku menganggukkan kepala menjawabnya. "Kupikir kali ini kau akan membawa seorang gadis."

"Naruto, hentikan!" sekilas Karin terlihat membelaku, tapi aku menyesalinya telah berpikir begitu. "Itu kan karena Kiba 'nggak doyan' dengan wanita! Ha ha ha~"

Aku merutuki teman-temanku itu. Mereka ini teman macam apa, yang malah menertawakan ke-jomblo-anku. Yah kuakui, mungkin hanya aku di sini yang tak memiliku pacar. Oh, tunggu dulu. Seseorang juga tak memiliki pacar. Aku melirik ke sebelahku.

"Apa?" Shion kini membalas tatapanku dengan garang.

"Hmph… bukan apa-apa." jawabku sambil meneguk habis whisky yang kuminum.

Sial, benar juga. Usiaku sudah 15 tahun dan hanya aku di sini yang belum pernah punya pacar? Yang benar saja. Naruto yang seperti itupun sudah pacaran dengan Hinata selama 2 tahun. Sasuke juga sudah bisa mendapatkan Karin—padahal kurasa mereka baru dekat belum lama ini.

Aku juga ingin merasakan disayangi. Tanganku membelai bulu Akamaru yang lembut, nampaknya itu membuatnya keenakan. Aku tak bisa di sini terus, terlalu lama bersama mereka bisa memuatku pening.

Sett

"Kau mau kemana?" Sasuke seperinya mendapati aku yang berniat pergi.

"Aku ingin mencari udara segar, sepertinya aku terlalu banyak minum." elakku.

Meski bisa kudengar Naruto dan Karin yang mulai menggumamkan ejekan mereka kepadaku, tapi aku masa bodoh saja. Yang penting aku ingin sendiri dulu sekarang. Kulangkahkan kaki menjauh, hingga tak kudengar lagi suara gaduh mereka.

Hmm… na na na

Ah?

"Suara ini lagi…"

Aku mengenalinya, tentu saja. Ini adalah suara gadis yang waktu itu. Hm…siapa namanya? Rika? Itukah namanya. Mungkin sebaiknya kupanggil dia seperti itu. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, lagi-lagi aku merasa hanya aku yang bisa mendengar nyanyiannya.

What is here
[
Apa yang ada di sini]

Are the answer that you chose
[
Adalah jawaban yang kau pilih]

Karna itulah dengan mudah aku menemukannya. Tapi kenapa? Sepertinya suara ini parau sekali. Nyeri mendengarnya, semakin lama semakin menyayat hati. Kulihat ia yang duduk sambil menekuk lututnya. Wajahnya nampak sedih, aku mendekat.

Saat kulihat ia menyadari kehadiranku, aku menggelengkan kepala. "Oh tidak, jangan berhenti. Teruskan nyanyianmu."

Ia terdiam sejenak… namun kemudian bisa kudengar suaranya lagi.

Now, be confident and go
[
Sekarang, percaya dirilah dan pergi]

Isn't it so natural?
[
Tidakkan itu natural?]

Aku ikut duduk di sebelahnya. Kami duduk di bawah pohon plum yang mulai berkembang. Angin seakan menjadi musik bagi nyanyiannya. Andai saja aku membawa bass atau gitar Sasuke, aku bisa mengiringi nyanyiannya itu. Nadanya tak terlalu sulit, aku bisa menghafalnya dengan mudah.

Just like how after the rain
[
Seperti bagaimana setelah ujan]

The rainbow seems to sit on the asphalt
[
Pelangi duduk di atas aspal]

"Suaramu indah sekali~" gumamku.

Meski begitu, kurasa ia mendengarnya. Itu terbukti saat ia melirikku, ada sebuah raut kekejutan di sana. Tapi kemudian ia mencoba mengabaikannya dan meneruskan bernyanyi. Entah mengapa aku merasa nyaman di sini, bersamanya.

Lonely, because the wind blew
[
Kesepian, karna ditiup angin]

Feeling I realized
[
Merasakan, aku menyadari]

That even though the answer is nowhere
[
Meski jawabannya tak ada dimanapun]

Ini lebih baik. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku duduk bersama seorang gadis dan bernyanyi bersamanya. Selama 15 tahun ini, tak pernah ada yang bisa membuatku betah berlama-lama. Dan kurasa gadis ini mampu meluluhkan pertahananku.

Ah, lihatlah~

Betapa indah sosoknya itu saat bernyanyi. Seakan aku mendengar nyanyian dari malaikat. Sosoknya juga terlihat bercahaya di mataku. Aku ingin mengenalnya, mengenalnya lebih dekat. Boleh kan?

Call me, I already knew
[
Panggil aku, aku sudah tahu]

With you that love is
[
Bersamamu bahwa cinta itu]

Dia melirikku, sebelum meneruskan nyanyiannya.

For each other
[
Untuk satu sama lain]

DHEG

Uh—oh. Apa kah barusan itu aku merasa jantungku berdetak keras? Kurasa wajahku pun sudah memerah sekarang. Kami-sama, apa tujuanmu mempertemukanku padanya? Apakah dia malaikat yang kau kirimkan untukku? Yeah, aku nampaknya sedikit berlebihan.

Perlahan ia bangkit dari duduknya, pandanganku tak bisa lepas dari sosok itu—meskipun aku mencobanya. Ia membersihkan long dress selututnya itu. Warna biru muda sangat cocok dengan kulitnya yang putih.

For you
[
Untukmu]

Because you'll surely
[
Karna kau benar-benar akan]

Fly up to this sky
[
Terbang ke atas langit ini]

Rika membentangkan tangannya. Menghirup udara segar sebanyak yang ia bisa. Seakan ini menjadi terakhir kali ia melakukannya. Ah, apa yang kukatakan. Sok tahu sekali aku ini.

Gadis itu menari dengan riangnya di bawah sorotan sinar bulan. Beruntung kami berada cukup dalam dari tepi taman, sehingga jarang orang yang melihat kami. Meski mungkin ada juga beberapa yang melihatnya. Lampu-lampu dari pusat taman memberikan kesan magis tersendiri untuk pertunjukkan solo Rika.

For you
[
Untukmu]

There's just one important thing
[
Hanya ada satu hal penting]

Please don't close off your heart
[
Kumohon jangan tutup hatimu]

Rika mengulurkan tangannya kepadaku. Aku ragu, tapi kemudian aku meraih tangan itu. Sepertinya kalau orang mengatakan penyihir, peri, atau hal magis itu ada. Sekarang aku akan mempercayainya. Kau tahu? Aku bahkan seakan lepas kendali akan diriku sendiri.

"Rika…" gumamku. Rika kembali terenyum menjawabnya.

Even though you were hurt
[
Meskipun kau dilukai]

You held back your tears and endured it
[
Kau membendung air matamu dan menahannya]

"Rika, kau benar-benar gadis yang misterius."

Gadis itu terlihat terkekeh mendengarnya, tapi ia meneruskan nyanyiannya. Bahkan kini ia mengajakku menari bersamanya. Rambut coklat panjangnya yang tergerai bebas tergerak oleh angin. Kaki dan tangannya yang kecil melambai ke sana kemari.

Genggaman tangannya, membuaku 'sedikit' gugup. Yeah, sedikit. Aku tak ingin terlihat buruk di depannya. Oh? Sejak kapan aku memikirkan pendapat orang lain. Aneh.

Since I came
[
Karna aku datang]

To see you clearly
[
Untuk melihatmu dengan jelas]

"Guk."

Tiba-tiba saja aku mendengar gonggongan Akamaru. Kami menoleh, dan benar saja, Akamaru dengan kencangnya berlari ke arahku. Ah, ini tak bagus, Akamaru, kalau kau berlari sekencang itu…

"Tunggu, Akamaru!"

GUBRAK

You don't have to tell me anything
[
Kau tak perlu mengatakan apapun padaku]

I already know
[
Aku sudah tahu]

"Aaaa… Ittaaaaii~" aku mengelus kepalaku yang sepertinya kejeduk sesuatu.

Sett

Mataku membulat saat Rika—yang mungkin gara-gara Akamaru, aku jadi menindihinya—membelai pipiku.

That you always try hard
[
Bahwa kau selalu berusaha keras]

Oh wow, apa aku boleh senang sekarang?

Rika tersenyum kepadaku, dengan gugup aku mendekatkan wajahku padanya. Tapi sayang sekali, aku melupakan buddy kecil-ku itu sampai-sampai kini ia ikutan menjilati pipiku.

"Akamaru!" mau tak mau aku bangkit dan mencoba melepaskan Akamaru yang menjilatiku. "Akamaru hentikan! Hentikan! Hey!"

Runaway if you're lost
[
Larilah kalau kau tersesat]

Try again many times
[
Coba lagi beberapa kali]

Since it's possible to redo it many times
[
Karna itu dapat diulang beberapa kali]

Aku melihat Rika yang tiba-tiba menunduk. Sepertinya sesuatu telah terjadi, sampai-sampai wajahnya kembali murung seperti saat aku bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Dengan susah payah, aku berhasil menjinakkan Akamaru kembali.

Rika duduk berpangku sambil mengepalkan tangannya erat. Suaranya masih bisa kudengar, tapi ini tak seceria tadi. Hanya dalam beberapa detik saja moodnya langsung berubah secepat itu kah? Atau gara-gara aku yang menindihinya tadi?

I'm here, next to you
[
Aku di sini, di sampingmu]

Believing, don't be afraid
[
Mempercayai, jangan takut]

About trusting each other
[
Tentang mempercayai satu sama lain]

"Rika? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Aku mencoba mendekatinya kembali. Ia menggelengkan kepala menjawabnya. "Katakan padaku…"

"Guk."

Akamaru kini mulai ikut mendekat. Ia menjilati pipi Rika, dan saat itu pula aku tersadar bahwa air mata telah membasahi pipi merahnya. Aku hendak meraih pipinya, mendekatinya lagi. Tapi seseorang memanggilku.

For you
[
Untukmu]

Because you'll surely
[
Karna kau benar-benar akan]

Fly up to this sky
[
Terbang ke atas langit ini]

Even if you get hurt a few times
[
Meskipun kau terluka beberapa kali]

"Oy Kiba!"

Aku menoleh, Naruto terlihat melambaikan tangannya kepadaku. Dibelakangnya terlihat Sasuke, Karin, Hinata, dan Shion. Nampaknya mereka telah selesai bersenang-senang. Perlahan mereka berjalan ke arahku.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku sedang…" anehnya, saat aku menoleh ke belakang, aku tak menemukan Rika di sana. Seakan ia pergi entah kemana tanpa jejak. Akamaru yang awalnya berada di samping Rika pun nampak menggonggong tak jelas.

"Sedang apa? 'ehem' dengan Akamaru? Ha ha ha."

Terdengar lagi ejekan dari Karin. Tapi bukan itu yang ingin kupedulikan sekarang, aku jadi berpikir. Kemana Rika pergi? Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia menangis? Banyak hal yang tak terjawab. Gadis itu memang benar-benar misterius.

-ooOoo-

Berkat kejadian semalam, aku jadi tak bisa tidur nyenyak. Hari ini KISS akan konser, tapi aku benar-benar tak mood melakukannya. Bagaimanapun aku harus professional.

"Kyaaaaa~! KISS!"

"KISS~! I love you! KISS~!"

"Kyaaaa~! KISS~! KYAAAAAaaaa!"

Teriakan KISSer mendominasi di sana. Aku memainkan bagianku sebaik mungkin, tapi rasanya aku sama sekali tak semangat. Kuedarkan pandanganku ke arah penonton. Berharap menemukan sesuatu yang menarik.

Dan aku menemukannya. Mataku membulat sempurna. Sosok yang kukenal, sosok yang menghantui pikiranku sejak semalam. Sosok Rika yang berdiri menatapku jauh di belakang sana.

"Rika?" gumamku.

"Pssst~ Kiba! Perhatikan nadamu!"

Karin mencolek pundakku, aku tersadar sebentar lagi bagianku. Aku menyelesaikan peranku dalam lagu kami. Berusaha menstabilkan nada yang hampir berantakan itu. Sekilas kulirik Rika, ia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

Kenapa, Rika? Kenapa kau menangis semalam? Kenapa kau pergi begitu saja tanpa berkata apapun? Aku ingin sekali berteriak di sini, sekarang. Rika tersenyum kepadaku, wajahnya nampak bahagia—ah, atau lebih tepatnya lega.

Plok Plok Plok

Plok Plok Plok

Konser kami pun berakhir, segera saja aku berusaha turun panggung. Naruto dan Sasuke berteriak mencoba memanggilku, tapi aku mengabaikannya. Rika berjalan di balik kerumunan, ia menuju pintu keluar. Tentu saja aku tak akan membiarkan hal itu terjadi.

"Rika!"

Meski kupanggil, ia tak menghentikan langkahnya. Beruntung aku sampai tepat waktu. Anehnya, aku kembali kehilangannya. Sosoknya sudah tak terlihat lagi. Aku tak menemukannya dimanapun.

"Sial!"

Kupukul dengan keras dinding di sampingku. Apa yang harus kulakukan? Satu gadis saja bisa membuatku sampai seperti ini. Aku harus memikirkan suatu cara. Hm? Benar juga. Aku baru ingat kalau Rika pernah memberikanku sebuah nomor, mungkin ia ingin aku menghubungi nomor itu.

Set

Aku meraih saku celana, kertas itu masih berada di sakuku. Langsung kutekan nomor-nomor itu di ponselku dan kuhubungi. Hanya ini satu-satunya harapanku. Semoga saja dengan ini aku bisa bertemu dengannya.

"Konichiwa, ada yang bisa kami bantu?" suara wanita di seberang sana menjawab teleponku.

"Konichiwa, anoo—apakah aku bisa bicara dengan Rika?"

"Rika? Rika siapa?"

Hm? Rika siapa? Kenapa malah tanya padaku. Memang ada berapa Rika di sana? Aku mencoba berpikir, aku bahkan tak tahu nama keluarganya. Lalu masa aku harus mendeskripsikan ciri-cirinya.

"Tunggu, apakah benar ini nomor telepon Rika?" tanyaku memastikan.

"Ah, bukan. Ini nomor telepon Rumah Sakit Pusat Konoha."

-ooOoo-

"Hah… hah… hah.."

Kakiku berlari sekuat yang ia bisa. Keringat membasahi hampir seluruh kaos yang kupakai. Tas bassku bergoyang hebat ketika aku menambah kecepatan. Sungguh aku tak bisa mempercayainya. Mempercayai kalau apa kata suster yang mengangkat teleponku itu.

"Rumah Sakit Pusat Konoha?" ulangku.

"Benar, ini nomor Rumah Sakit Pusat Konoha. Kalau anda berniat mencari seseorang, sebaiknya datang langsung saja dan menanyakannya ke resepsionist."

Begitu mendengarnya, entah kenapa aku langsung melesat menuju rumah sakit. Dengan mobil Sasuke, yang kutahu kuncinya pasti berada di lemari basecamp kami, aku membawanya menuju rumah sakit. Tak banyak bicara, tak banyak bertanya, seakan sejak awal aku sudah dibimbing untuk masuk ke dalam.

"Hah hah, suster." Aku sampai di depan meja resepsionist, kucoba menstabilkan nafasku sebelum bicara. "Aku… hah… apakah ada seorang pasien yang bernama Rika? Dia seorang gadis yang kira-kira berumur 15 tahun dan berambut coklat panjang."

"Biar saya carikan datanya dulu, silahkan menunggu." suster itu mengetikkan sesuatu di komputernya , aku mengedarkan pandangan, tak sabar menunggunya lebih lama.

Kejadiannya begitu singkat, aku pergi berjalan-jalan dengan Akamaru dan kami bertemu di depan supermarket. Kami kembali bertemu di pusat kota, saat itulah pertama kalinya aku mendengarnya bernyanyi. Pertama kalinya pula aku mulai menunjukkan ketertarikanku pada seorang gadis.

Kami baru saja bertemu semalam. Iya kan? Baru saja semalam aku duduk berdampingan dengannya. Melihat ia yang menari sambil bernyanyi di bawah sinar kekuningan bulan.

"Bagaimana, sus? Apa kau menemukannya? Tolong cepat sedikit."

"Iya saya menemukannya." aku langsung mendekatkan diri mencoba melihat layar komputernya. "Kasumi Rika, ia dirawat di sini sejak umur 5 tahun."

"Sejak umur 5 tahun?!" aku membelalakkan mataku. "Memangnya ia sakit apa, sus?"

"Hah… hah… hah…"

Aku naik melalui tangga, itu karna lift dipenuhi oleh para pasien, dan aku harus menunggu lama bila menggunakannya. Pikiranku masih menolak apa yang kudengar. Meskipun suster itu mengatakan bahwa…

"Ia memiliki kelainan pada pita suaranya."

Rika! Hatiku menjeritkan namanya, aku tak percaya. Tak mungkin itu terjadi pada Rika. Jelas-jelas aku mendengarnya bernyanyi, suara semerdu itu masa dibilang 'kelainan'. Akhirnya aku sampai pada ruangan dengan nomor 105. Suster mengatakan kalau itu kamarnya.

Cklek

Aku membuka gagang pintu itu perlahan. Nafasku masih setengah teratur, atau mungkin bisa dibilang berantakan. Tapi aku hanya ingin bertemu dengannya, melihatnya terkejut akan kehadiranku di sini dan tak lama setelahnya tersenyum kembali. Tapi…

Itu hanyalah khayalanku saja.

"Ah, kau Inuzuka Kiba kan?" seorang suster yang berada di sana menyapaku.

Aku mengangguk, padanganku tak lepas dari ruangan yang didominasi warna biru langit. Sama seperti warna gaun yang dipakainya ketika bertemu dengaku terakhir kali. Aroma segar yang berhembus benar-benar mengingatkanku pada gadis itu. Tapi kini yang ada di hadapanku hanyalah ruang kosong dengan beberapa suster terlihat membereskannya.

Seorang suster nampak menyerahkan sebuah amplop besar kepadaku. Ada sebuah tanda tangan di sana, dan sebuah nama 'Kasumi Rika'. Aku menerimanya, masih dengan perasaan setengah tak percaya.

"Ini adalah titipan terakhir dari Rika." jelas sang suster. "Rika… meninggal semalam."

Entah wajah seperti apa yang harus kupasang. Kenapa? Padahal semalam kau bersamaku kan, Rika? Kau ada di sampingku dan bernyanyi bersamaku. Kenapa suster ini mengatakan kau telah meninggal? Ia bohong kan, Rika? Jawablah.

Perlahan aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa lembar foto, itu adalah foto dirinya yang dipotret setiap tahun mulai dari ultahnya yang ke 5. Semuanya berada di rumah sakit ini. Tapi ia tak pernah menunjukkan wajah bahagianya, senyumnya seakan mengandung butiran air mata yang siap menetes.

"Rika anak yang sangat ceria. Meskipun ia tak bisa bicara, tapi entah bagaimana, rasanya ia bisa berkomunikasi dengan mudah kepada orang lain." sang suster mulai bercerita.

"Apa itu benar? Apa benar Rika tak bisa bicara?"

Melihat ada nada tak percaya, suster wanita paruh baya itu mengambil sesuatu dari laci meja dan memperlihatkannya kepadaku. Sebuah kotak kayu yang tak terlalu besar, namun cukup berat. Aku membukanya.

"Rika… selalu menyukai KISS." Aku membelalakan mata, melihat isi kotak itu. "Terutama kau."

Foto-foto KISS saat masih debut, kegiatan fans meeting kami, acara talk show, semuanya ada di sini. Seakan menjadi agenda kegiatan kami selama ini. Dan…banyak sekali fotoku di sana. Aku bukannya ingin sombong atau besar kepala, tapi biasanya dalam sebuah band, yang paling dikenal adalah vocalist-nya. Jadi aku tak terlalu berpikir akan ada orang yang menyukaiku.

"Sejak kecil Rika selalu berada di sini, ia sudah bosan. Ia ingin segera mengakhiri kebosanan ini."

Aku bisa membayangkannya. Perasaan Rika yang selalu menatap sisi kota dari jendela rumah sakit. Rika yang selalu memikirkan bagaimana caranya untuk terbang ke langit. Ia seperti burung yang terkurung. Ah, mungkinkah karena itu ia terlihat sangat senang semalam?

Kakiku melangkah menuju jendela. Aku mengintip dari sisi dimana—kupikir—Rika biasanya berada. Kembali aku tersadar, bahwa supermarket tempat kami pertama bertemu berada di bawah kamar Rika. Itukah sebabnya ia bisa langsung menemuiku?

"Penyakitnya telah merenggut sebagian dari kehidupannya. Caranya berkomunikasi, kesempatannya untuk bersekolah, bahkan…kesempatannya untuk mencintai seseorang."

Rika, kenapa kau datang padaku? Kenapa kau menemuiku malam itu. Kenapa kau berada di sana? Apa yang ingin kau sampaikan padaku?

"Tapi, pada hari ia keluar untuk membeli sesuatu ke supermarket… Rika pulang dengan wajahnya yang bahagia." sang suster meneruskan kegiatannya membereskan kamar itu. "Sejak hari itu ia bersikeras ingin keluar."

"Sayangnya, semalam kondisinya sangat kritis. Dokter mengatakan mungkin ia tak akan bisa bertahan sampai besok." suster itu terlihat menahan air matanya. "Sesaat sebelum ia memejamkan matanya…"

"Aku akan menonton pertunjukkan Kiba-kun besok."

"Dengan alat bantu bernafas, dan berbagai peralatan lain menempel pada tubuhnya, ia mengatakan hal seperti itu." bisa kulihat kini sang suster mengusap air matanya.

Aku melirik kertas lainnya yang berada di dalam amplop. Ada sebuah surat yang ditulis tangan. Mungkinkah itu pesan Rika?

Konichiwa, Kiba-kun.
Saat kau membaca surat ini… aku yakin aku sudah pergi.

"Hik.. maaf. Saya permisi dulu."

Aku mengangguk membiarkan suster itu berlalu pergi. Kembali aku mengalihkan perhatianku pada lembaran surat yang kupegang.

Sejak umurku 5 tahun, aku sudah mengenal apa itu yang namanya rasa sakit.
Aku tak menyalahkan siapapun atas rasa sakit ini, tapi aku ingin mereka tahu kalau aku kesakitan. Aku sempat berpikir untuk mengakhiri semuanya. Ya, semuanya.

Tapi…

Perasaan aneh mulai memenuhi hatiku.

Aku berubah pikiran sejak hari itu.
Kau mungkin lupa, aku pernah sekali datang ke konser KISS. Saat itu yang kulihat bukan Sasuke-
kun atau Karin-san yang sedang bernyanyi.
Tapi aku melihatmu.

Kiba-kun, kau terlihat bersinar di atas sana.
Sosokmu sangat indah, bahkan aku sampai tak mendengarkan lagu kalian.
Saat tersadar, konser telah bubar. Mungkin kau bisa menyebutnya cinta pada pandangan pertama?

Ah, itu pasti tak masuk akal bagimu.

"Pertemuan denganmu pun sudah cukup tak masuk akal bagiku." tambahku entah pada siapa.

Sejak saat itu aku berpikir, aku ingin mengenalmu.
Tapi bagaimana? Aku hanyalah satu dari berjuta fans KISS di luar sana.
Ditambah lagi aku terkurung dalam sangkar ini, aku tak memiliki banyak waktu.

Saat kulihat kau di depan supermarket bersama anjingmu, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke sana.
Aku tak berharap banyak, setidaknya aku ingin lebih dekat denganmu. Itu saja.

Dan malam itu aku merasa… waktuku telah habis.

Kiba-kun, semangat ya!
Aku tahu hidup ini kadang tak adil, tapi aku saja bisa melaluinya. Kau pun pasti bisa.
Orang bilang… ketika jatuh cinta, kau akan mendengar sebuah lagu.
Ini adalah lagu yang kudengar saat aku bersamamu. Apa kau mendengarnya juga?

Kasumi Rika—

"Dasar gadis bodoh~"

Mungkin sekarang Rika sedang menertawakanku di atas sana. Tapi biar saja, kuakui dia adalah gadis terkuat yang pernah kukenal. Gadis pertama yang bisa menyentuh hatiku dan membuatku penasaran padanya.

Aku memejamkan mata, membiarkan angin menerpa tubuhku dan membelaiku dalam kelembutannya. Aku bahkan belum mengatakannya padamu, bahwa aku…

"KIBA!"

Glup

Mataku terbuka tiba-tiba. Kini kulihat sosok Shion yang berdiri di hadapanku sambil berkacak pinggang. Ia mengerutkan bibirnya menatapku penuh kejengkelan. Ah, ni di basecamp KISS? Apa barusan aku bermimpi? Tumben sekali aku memimpikan Rika.

"Shion, kenapa kau baru membangunkanku? Lihat, hari sudah sore."

"Ck, aku sudah lelah memanggilmu."

Aku hanya terkekeh melihat gadis SMP itu menggerutu tak jelas sambil memakai jaketnya. Aku pun menggendong bassku dan kami bersiap pulang.

-ooOoo-

"Hoaaammmss~"

Sepertinya aku belum puas tidur. Aku masih ingin berbaring di ranjangku yang empuk bersama kawan-kawan (re : guling dan bantal) setiaku di rumah. Aku juga merindukan Akamaru. Kapan ya terakhir kali aku jalan-jalan denganya? Lain kali kubawa jalan ah.

"Shion lama sekali."

Kenapa juga aku harus menunggu bocah itu? Dan kenapa ia harus ke supermarket di saat seperti ini? Wanita memang merepotkan. Aku menegadah ke langit. Padahal baru beberapa menit yang lalu hujan turun sangat deras, sampai membuat bulu kuduk merinding. Kini langit cerah sekali seakan tak pernah terjadi apapun.

I applaud your courage
[
Aku bertepuk tangan atas usahamu]

Dheg

Ah? Suara ini…

I'm talking about the treasure that is irreplaceable
[
Aku bicara tentang harta yang tak tergantikan]

Now spread your hands and fly high
[
Sekarang lebarkan tanganmu dan terbang tinggi]

"Rika?"

Kau kah itu? Aku menoleh, mencari sosok yang menggumamkan nyanyian ini. Ini nyanyian Rika, ya. Aku yakin benar. Rika pernah memberikan kertas berisi not dan lirik dari suara yang didengarnya. Itu pasti suara hati Rika.

Aku bangkit dari dudukku. Aku tak melihatnya, tapi aku bisa merasakan ia ada di sini. Menari seperti malam saat terakhir kali aku melihatnya. Merentangkan sayap, seakan terbang ke langit.

Because you'll surely
[
Karna kau benar-benar akan]

Fly up to this sky
[
Terbang ke atas langit ini]

Even if you get hurt a few times
[
Meskipun kau terluka beberapa kali]

Rika, kalau memang benar kau ada di sini… maka dengarkan apa yang ingin kukatakan. Semua yang telah terjadi antara kau dan aku mungkin tak ada yang mengetahuinya, ini akan jadi rahasia kecil kita. Karna hanya aku yang bisa mendengar nyanyian itu, maka saat aku ingin mendengarnya, kau harus datang. Mengerti?

There's just one important thing
[
Hanya ada satu hal penting]

Ini mungkin kisah cinta tersingkat yang pernah ada. Mungkin aku terlihat tak mengingatmu sama sekali. Tapi kau tahu sendiri, setiap saat aku selalu mendengarnya. Lagu cinta darimu. Ah, tidak. Lagu cinta kita berdua.

"Oy, Kiba!"

Kulirik sampingku, Shion kini membawa banyak sekali bungkusan sambil menarik lengan bajuku.

To keep on dreaming
[
Untuk terus bermimpi]

"Kau ini belanja apa saja? Sudah seperti ibu-ibu, belanja sebanyak ini." Sindirku sambil meraih bungkusan di tangan Shion. "Membawa barang seberat ini, pantas saja kau tak tumbuh-tumbuh."

"Apa?!"

Aku terkekeh. Kamipun melanjutkan perjalanan. Sama-samar masih kudengar suara nyanyian itu. Tak akan pernah lupa meski berpuluh-puluh tahuan lamanya. Kisah cintaku yang berakhir ironis. Meskipun tak sepenuhnya buruk juga.

Please don't close off your heart
[
Kumohon jangan tutup hatimu]

Orang bilang… ketika kau jatuh cinta, kau akan mendengar sebuah lagu.
Meskipun tak ada yang bernyanyi atau bermain musik di sana.

Lalu… lagu seperti apa yang kau dengar ketika kau jatuh cinta?

For you
[
Untukmu]


-The End-


fuah minna~
Maaf kalo slide story-nya gaje, sebenernya Shera cuma pingin bikin chap khusus Kiba.
Sayang sekali kan kalau dia jarang keluar~ xO

Maaf juga karna Shera harus men-delay BxS sampai besok~ ;'(
Semoga kalian nggak kecewa ya~
dan untuk persiapan besok, Shera pasti akan berikan yang terbaik! Pasti!
nantikan ya~

See you tomorror,
Give me a mark (review) about this? Thanks
Keep Trying My Best!

Shera.