SHIKIGAMI TWINS

Disclaimer:
Vocaloid bukan punya saya, tapi fanfiction ini milik saya!

Rating: T

Genre: Romance, Supernatural, Tragedy, Friendship, Action

Warning: GAJE, ALAY, OOC, ANEH, TYPO, DLL.

Note: DON'T LIKE? DON'T READ! Tidak menerima flame yang hanya bermaksud untuk menjatuhkan.

Summary:
"Kertas-kertas itu sangatlah berarti bagiku. Tapi ada yang jauh lebih berarti daripada kertas-kertas itu. Apakah itu?"

Author: Suu kembali!

Rin: Yosh! Semoga nggak buntu.

Author: Amin, amin. Semoga nggak buntu.

Rin: Kalau buntu, gimana?

Author: Ya, nggak lanjut.

Rin: Payah, ah.


Rin's POV

Nggak percaya! Aku nggak percaya! Iroha masuk ke sekolah yang sama denganku, sekelas denganku. Padahal dia yokai. Dan setiap yokai pasti membenci onmyouji. Apa aku salah? Tidak, aku tak percaya!

"Halo? Rin? Kau kenapa?" Iroha mengayunkan tangannya di depan wajahku. Aku langsung terbangun dari pikiranku sendiri.

"Eh, tidak apa-apa, kok," jawabku dengan senyuman yang dipaksakan.

"Oh?" balasnya sambil memiringkan kepalanya.

Aku mengangguk kecil. Aku baru sadar apa yang harus kulakukan.

"Eh, aku keluar dulu, ya. Ada urusan," ujarku pelan padanya. Kemudian aku melambaikan tangan dan tersenyum kecil padanya. Tanpa menunggu jawaban dari Iroha, aku berlari keluar kelas. Aku harus mencari Gumi. Semoga Gumi tahu apa yang terjadi.

BRUK!

"Aduh," aku mengerang. Aku sudah bertabrakan dengan orang dua kali pada pagi hari ini. Argh, sial.

"Rin? Kenapa buru-buru?" sapa sebuah suara yang familiar bagiku. Aku mendongak dan menatap ke orang yang berbicara padaku.

"Ah, Len. Aku mau cari temanku," jawabku singkat, bersiap pergi. Tapi Len menahan pergelangan tanganku. Aku menengok padanya dan memberikan tatapan bingung.

"Teman yang mana?" tanyanya.

"Gumi," jawabku singkat. Aku segera melepaskan pegangan tangan Len di tanganku dan berlari mencari Gumi. Gumi... Gumi... Semoga tak terlambat. Dia harus kuberitahu kalau Iroha masuk ke sekolah ini. Kalau tidak, mungkin segalanya akan kacau!

"Gumi!" Aku berlari sambil menghampiri seorang gadis dengan rambut berwarna hijau emerald. Gadis yang tak lain dari Gumi itu menengok ke arahku. Ia menghentikan aktivitasnya membetulkan rambutnya yang agak berantakan.

"Rin? Kenapa lari-lari? Wow wow, santai saja," ujarnya ketika melihatku terus berlari menujunya. Mungkin ia mengira aku akan menabraknya. Tapi aku memperlambat jalanku dan mengatur napasku dulu sebelum berbicara.

"Iroha... Nekomura Iroha..." Aku mencoba mengatur napasku yang tersengal-sengal.

"Atur napasmu dulu. Setelah itu baru bicara, kalau tidak percuma saja. Aku tak dapat mendengar apa yang kau katakan," ujar Gumi. Aku mengangguk pelan dan mengatur napasku.

"Nekomura Iroha, sainganmu mungkin? Masuk ke sekolah ini," aku memberitahunya datar. Gumi mengerutkan kening.

"Apa? Dia sahabatku," jawabnya singkat.

Aku menatapnya dengan pandangan kaget sekaligus tak percaya. A-Apa? Bagaimana ini? Dia yokai dan Gumi adalah onmyouji. Bagaimana bisa bersahabat?

"T-Tapi... Dia yokai..." Aku berusaha menjelaskan padanya, berharap Gumi salah mengatakan kalau Iroha adalah sahabatnya. Gumi menarik napas pelan dan menghembuskannya.

"Ya, dia yokai. Aku onmyouji. Aneh, bukan? Aku sendiri tak percaya. Saat itu kami bersahabat baik. Suatu ketika, ketika keluargamu membakar desa para yokai, aku ikut membantu. Kemudian ia mengetahui kalau aku yokai. Saat itu..."


Flashback

Gumi membakar rumah-rumah di desa itu. Sebenarnya ia tak tega. Tapi yokai tetaplah musuhnya. Kemudian ia mendengar suara tangis dari sebuah rumah. Dengan cepat Gumi memasuki rumah itu.

Rumah itu sudah setengahnya terbakar. Gumi terus mengikuti arah tangis itu. Hingga ia memasuki sebuah kamar yang sempit. Dan alangkah terkejutnya ia menemukan yang menangis itu adalah Nekomura Iroha, sahabatnya saat kecil.

"I-Iroha..." Gumi memanggil namanya pelan. Iroha menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia membuka kedua tangan itu dengan pelan dan menatap Gumi. Gumi menatapnya dengan pandangan sedih. Namun pandangan lemah Iroha seketika berubah menjadi tatapan sinis pada Gumi.

"Kau, sahabat yang kupercaya, ternyata seorang onmyouji," ujar Iroha dengan nada yang sangat sinis. Ia berubah menjadi wujud yokai yang sebenarnya. Dengan pakaian yang biasa ia pakai, tapi di bagian tangan muncul cakar-cakar tajam yang panjang. Di punggungnya terdapat bulu-bulu panjang yang tajam.

"Dan kau membakar desa ini, desa para yokai. Kau tahu kami semua ketakutan dan kehilangan?" teriaknya marah.

"Iroha, dengarkan aku dulu..." Gumi mencoba menjelaskannya pada Iroha.

Iroha langsung memotong ucapan anak itu dengan cepat.

"Berisik! Kau tidak tahu bagaimana menderitanya kami!" teriaknya dengan marah. Kemudian ia melempar sebuah bulu tajam yang berada di punggungnya ke arah Gumi. Gumi menjerit kecil ketika bulu itu menggores tangannya hingga mengeluarkan darah.

"Aku tak perlu sahabat sepertimu. Selamat tinggal," kata Iroha dingin. Kemudian ia keluar dari rumah itu dan membiarkan Gumi sendirian di sana. Tak peduli bagaimana nasibnya.

End of flashback


"Yah... Jadi begitu," Gumi mengakhiri ceritanya dengan sedih. Aku menatap Gumi dengan tatapan iba.

"Gumi, kau..."

"Ah, aku tidak apa-apa. Itu masa lalu, Rin, ingat? Bagaimana dengan kotak yang kuberikan padamu kemarin sebagai hadiah? Kau suka, kan?" potong Gumi cepat-cepat disusul berbagai pertanyaan.

Aku mengangguk pelan. Ya, aku menyukai hadiah darinya kemarin. Beberapa lembar shikigami ia berikan padaku. Tentunya sangat membantu.

"Ke kelas, yuk? Aku takut terlambat." Gumi melempar senyum padaku. Aku hanya mengangguk pelan.

Kemudian kami berdua berjalan menuju kelas.

.

.

"Rin dan..." Ucapan Len terputus ketika melihat aku memasuki kelas dengan Gumi.

"Len, ini Gu-"

"Oh, Gumi? Kau masuk sekolah ini juga?" Sebuah suara sinis memutuskan ucapanku. Aku menatap ke sumber suara itu. Nekomura Iroha. Ia duduk di meja sambil melipat tangan. Kemudian menatap Gumi dengan sinisnya.

Gumi menghela napas dan menatapnya pelan.

"Iroha, kita perlu bicara," ujar Gumi dengan serius.

"Bicara? Untuk apa? Semua sudah jelas, kan?" teriak Iroha dengan mata berapi-api. Gumi berbicara pelan padaku. Aku hanya mengangguk kemudian duduk di kursiku. Itu yang ia bisikkan padaku. Pagi ini kami hanya berempat. Aku, Len, Gumi, dan Iroha. Aku takut ada pertengkaran yang terjadi.

Len berbisik pelan padaku. "Ada apa, sih?"

Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.

"Tidak, kau salah sangka. Aku tidak membakar desamu itu dengan sengaja. Aku hanya..."

"URUSAI!" teriak Iroha dengan murka. Gumi tercengang kata-katanya diputuskan begitu saja.

"Aku benci padamu sejak dulu, Gumi. Aku benci padamu! Aku benci padamu. Aku harap kau hilang saja! Aku tak butuh sahabat penkhianat sepertimu! Mati saja kau! Mati saja!" teriak Iroha tiba-tiba. Wajahnya merah memancarkan amarah. Aku ketakutan melihat nada suaranya berubah secara tiba-tiba. Biasanya Iroha begitu manis menyampaikan kata-kata. Tapi kali ini ia mengerikan sekali. Begitu yandere. Seperti ingin membunuh Gumi dengan kedua tangan itu.

"Kau ingin aku mati?" ujar Gumi pelan.

Iroha menggertakan giginya. "Sudah jelas, bukan?" teriak Iroha. Tiba-tiba ia berubah menjadi wujud yokainya dan melemparkan sebuah bulu tajam pada Gumi.

"Gumi!" Aku berteriak kaget melihatnya. Dengan cepat Gumi melempar selembar shikigami sebagai penahan dari bulu tajam itu, agar tidak mengenai tubuhnya.

"Kau... yokai?" tanya Len tiba-tiba. Aku menatap Len dengan pandangan khawatir. Aduh... Kenapa Len harus menanyakan hal itu sekarang? Bagaimana kalau Len menjadi sasaran Iroha yang berikutnya setelah Gumi?

"Oh, akhirnya kau berbicara juga." Iroha tersenyum licik ke arah Len. Len mengerutkan kening.

"Ya. Dan seharusnya kau tidak bertarung di sini. Saat sekolah, apalagi di kelas! Pikirlah! Kau tak seharusnya bertarung di sini!" ujar Len dengan jengkel.

"Len, diam saja!" seruku takut. Iroha menatap Len dengan pandangan benci.

"Oh? Kau onmyouji, ya? Benar tidak tebakanku?" balas Iroha sinis.

Len mengangguk.

"Iroha, aku juga onmyouji," ujarku pada Iroha akhirnya. Iroha menatapku dengan pandangan murka.

"Kau juga! Kau juga menkhianatiku!" Iroha berteriak. Kemudian secepat kilat ia menyerang ke arahku sambil mengayunkan cakar yang berada di tangannya. Aku begitu kaget melihat gerakannya sehingga hanya dapat membeku di tempat.

Aku tak merasakan sakit. Perlahan aku membuka kedua mataku yang ditutup. Ternyata Len memelukku dan melempar sebuah shikigami untuk menghalangi Iroha. Wajahku memerah seketika.

"Jangan bertengkar di sini!" teriak Len marah. "Aku nggak akan membiarkanmu menyakiti Rin!"

Wajahku merona. Aku dapat merasakan wajahku juga memanas.

"Oh? Ya sudah." Iroha tersenyum sinis. Kemudian satu per satu temanku mulai datang ke kelas. Tak ada kecurigaan yang timbul di pikiran mereka.

Aku menghela napas lega lalu duduk di kursiku. Gumi memutuskan untuk duduk di belakangku. Sedangkan Len, seperti biasa duduk di sampingku. Iroha? Aku sudah nggak ngurusin dia lagi, dia bukan temanku. Tapi kalau kalian penasaraan, pokoknya dia duduk jauh dariku, Len, dan Gumi.

Aku menjalankan pelajaran dengan perasaan tidak enak. Bagaimana tidak? Sekelas dengan yokai di sini. Bukan cuma Iroha, ada Rinto, Lenka, dan Sukone Tei juga. Rasanya sangat tidak menyenangkan. Aku merasa mereka memperhatikanku.

Di antara mereka berempat... um... Aku merasa Iroha yang paling blak-blakan. Ia tak segan-segan membuat lubang di tubuhmu dengan bulu yang tajam di punggungnya maupun cakar yang berada di tangannya.

Lenka adalah yokai yang paling banyak bicara, menurutku. Sebenarnya ia biasa-biasa saja.

Kalau Rinto... um... tidak tau, deh. Tapi api yang keluar dari tangannya itu betul-betul membahayakan.

Sukone Tei, yang paling kubenci. Kenapa? Karena dia berusaha terus untuk memisahkanku dengan Len! (Author: Itu namanya penderitaan hidup. Rin: *mojok*) Ia selalu membawa pisau dapur serta pisau-pisau lainnya sebagai senjata. Um... Berbahaya.

Intinya aku BENCI semua yokai yang ada di kelas ini. Atau yang ada di dunia ini? Aku tidak tahu.

.

.

"Kita masih punya urusan," ujar Iroha dengan nada licik sambil mengelus-elus cakarnya yang mengkilap. Aku menelan ludah sedikit ketika melihat cakarnya yang sangat tajam itu. Sedangkan Len tampak was-was.

"Kenapa? Mau berurusan?" ujar Gumi dengan sikap menanatang secara tiba-tiba.

Kening Iroha berkerut. "Ya. Takut?" jawabnya sinis.

Gumi hanya cemberut. Kemudian ia menunjuk keluar jendela. "Kalo mau perang, jangan di sini. Di luar aja sana. Di kelas ntar barang-barangnya rusak semua," balasnya.

Iroha mengangguk sejenak. Kemudian ia menuju ke bawah dengan tangga.

Ya ampun! Yokai pake tangga? Biasa loncat aja juga bisa. Ya sudah. Aku temani, deh. Akhirnya kami semua turun lewat tangga menuju lapangan.

"Nah, mau berurusan di sini?" ujar Len dingin.

Iroha menatapnya sambil tersenyum licik. "Oh, ya. Ada masalah?"

Len menggeleng pelan.

"Kau sendiri, kita bertiga. Nggak takut kalah?" ujar Gumi tiba-tiba.

"Berisik! Aku nggak takut sama kalian! Aku bukan pengecut kayak kalian!" teriak Iroha.

"Iroha-nyan, aku di sini," ujar sebuah suara.

Kemudian seorang gadis yang sangat kukenal mendarat dengan pelan di samping Iroha. Iroha menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. Ya, itu Tei. Yokai yang sangat kubenci.

"Haha. Iroha-nyan tahu kau memang selalu setia, Tei-nyan," ujar Iroha. Nama panggilannya, kok, nggak enak banget didenger, ya? Biarin buat mereka, yang suka sama kucing. Aku nggak begitu suka, sih.

"Tentu saja. Sekalian aku menghabisinya," ujar Tei dengan licik. Ia melirikku dengan senyuman yang mengerikan. Aku jadi risih dibuatnya.

Dalam hitungan detik Tei sudah melemparkan sebuah pisau dapur ke arahku. Aku segera menghindar.

"R-!" Len ingin menyusul ke tempatku. Tapi Tei segera mengayunkan tangannya ke arah Len. Sebuah cahaya berwarna merah darah mengurung Len.

"Apa?" gumamku pelan.

Tei menatapku dengan pandangan sinis.

"Oh, ayolah, Rin. Aku ingin menantangmu sebentar. Kali ini saja. Kalau misalnya aku menang, Len akan jadi milikku. Tapi kalau kau menang, aku akan menjauhi kalian. Setuju?" ujarnya dengan nada suara licik.

Aku menatap ke arahnya dengan pandangan jijik.

"Oh? Kau mau menggunakan Len sebagai barang, begitu?" balasku marah padanya.

"Hm... Gimana, ya... Kau takut bersaing denganku? Takut kalah? Aku nggak akan memaksamu. Aku akan langsung mengambilnya," ujar Tei sinis sambil mendekat ke arah Len. Aku menatapnya dengan pandangan marah lalu melempar sebuah shikigami kecil di dekatnya. Tapi melesat. Oh, sayang sekali. Aku ingin sekali merobek lehernya itu.

"Kau pikir aku takut? Aku terima," jawabku masam.

"Oke," jawab Tei dengan senyum sinis.

.

.

TO BE CONTINUED


Author: Update~

Rin: Kayaknya makin lama fic ini makin gaje ._.

Len: Makin banyak genre action-nya.

Author: Tapi romance-nya nggak kurang, kan?

Rin: Um... Nggak, sih *blush*

Author: Ara... Ara... *geret Rin* Len, kau yang minta review, ya!

Len: Eh? Oke. Minta RnR, Minna~ *smile*