Title : Back to Tomorrow

Cast : JaeJoong Kim, Yunho Jung

Changmin Shim, Yoochun Park, Junsu Kim

Rating : General – Mature

Genre : Friendship, Angst, Romance

Author : Zee

.

.

Semua tokoh disini adalah milik Tuhan.

Aku hanya memiliki cerita saja.

.

.

~Back to Tomorrow~

.

.

PART 10

.

.

AUTHOR's POV

Yunho melirik jam tangannya. Pukul 8 malam, setelah pulang dari rumah sakit, dia kembali ke rumah JaeJoong untuk beristirahat dan menenangkan dirinya. Tapi telepon dari bumonimnya yang tiba-tiba saja datang ke Seoul, membuatnya harus membatalkan niat untuk tidur lebih cepat, karena kedua orang tuanya itu mengajaknya untuk bertemu di sebuah restoran di pusat kota.

Sepanjang perjalanan, dia sangat heran, karena kedua orang tuanya itu datang tanpa mengatakan padanya terlebih dahulu, dan mereka dengan tegas menyuruh untuk datang ke restoran yang sudah di tetapkan. Saat memasuki restoran tersebut, seorang waiters mengantarnya ke sebuah ruangan privat, hal itu membuat Yunho semakin heran. Dan keheranannya semakin tinggi karena di dalam ruangan tersebut tidak hanya ada bumonimnya, tapi juga ada Boa.

"Duduklah!" Perintah sang ayah. Yunho menurutinya, karena letak kursi yang kosong hanya di sebelah Boa, maka Yunho duduk di sebelah wanita tersebut. Boa memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Yunho sama sekali tidak minat melihat makanan yang tersaji di hadapannya. Entah kenapa firasatnya sedikit buruk sekarang. Terlebih dia harus melihat Boa lagi yang tadi siang memintanya untuk menikahinya. Ditambah lagi sekarang gadis itu duduk bersama dengan orang tuanya yang tampak serius sedaritadi.

"Ada apa tiba-tiba saja, Aboeji dan Omoni datang ke Seoul?" Tanya Yunho.

"Boa, sudah menceritakan semuanya pada kami." Ujar Mrs. Jung.

Yunho menoleh pada gadis di sampingnya yang tengah menundukkan kepalanya dalam diam sambil menggenggam garpu dan pisau untuk memakan steak di hadapannya. Kemudian dia mulai memandang serius kepada orang tuanya yang menampakkan gurat yang tidak bisa di tebaknya.

"Kau. Aku tidak pernah mendidikmu seperti itu." Mr. Jung bersuara agak keras, Yunho mengerenyit tidak mengerti, lalu kembali memandang Boa dan kedua orang tuanya secara bergantian.

"Aku tidak mengerti, apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" Tanya Yunho

"Kau bagaimana mungkin kau melakukan hal itu pada Boa, dan kau tidak mau bertanggung jawab. Memangnya apa kurangnya Boa? Dia baik dan cantik, dia jelas bisa membahagiakanmu. Mengapa kau membuatnya sedih? Kau harus menikahinya Jung Yunho."

"MWO?"

Yunho melebarkan mata elangnya, menatap tak percaya pada bumonimnya bahkan hingga mulutnya sedikit terbuka karena kaget, dia mengalihkan pandangannya pada Boa yang masih tidak mau bertatapan dengannya, hanya memandang lurus ke arah Mr dan Mrs. Jung saja. Yunho mengeram kesal, entah apa yang di katakan gadis itu pada orang tuanya hingga mereka bicara seperti itu dan menyuruhnya untuk menikah. Sungguh Yunho tidak habis pikir, sebenarnya apa yang di rencanakan oleh Boa.

"Apa maksudnya ini, aku bahkan belum menyentuhnya." Yunho tidak terima,

"Yunho!" Boa yang sedaritadi diampun mengeluarkan suaranya.

"Kau. Apa yang kau katakan pada mereka sebenarnya? Jangan mengada-ada." Yunho dalam hidupnya inilah pertama kalinya dia membentak seorang wanita. Yunho yakin sekarang bahwa gadis itu sudah mengatakan perihal kejadian malam sebelum kecelakaan JaeJoong terjadi, dan mungkin saja Boa melebih-lebihkan ceritanya hingga Bumonimnya sampai datang ke Seoul.

"Yunho!" Kali ini Mrs. Jung yang menegur Yunho.

"Kami tidak pernah mengajarimu untuk tidak pertanggung jawab." Ujar Mr. Jung dengan wajah tegasnya.

Yunho bangkit dari duduknya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, memandangi orang-orang di sekitarnya satu-persatu dengan tatapan nyalang namun penuh dengan kekecewaan.

"Jika aboeji dan omoni memintaku untuk bertanggung jawab. Mengapa aboeji tidak mengatakannya untuk JaeJoong? Aku bahkan sudah pernah menidurinya berkali-kali. Mengapa kalian tidak menyuruhku untuk menikahinya?"

Mungkin orang di luar ruangan tersebut bisa mendengar suara menggelengar dari seorang Jung Yunho.

"YUNHO!" Mr. Jung bersuara lebih lantang.

"Dia.-" Yunho menunjuk pada Boa.

"-Gadis ini, aku bahkan belum melakukan apa-apa padanya. Dan demi Tuhan aku tidak sadar apa yang sudah ku lakukan. Aku sampai matipun tidak akan menikahinya. Aku hanya mencintai JaeJoong."

Yunho kembali mengeluarkan suara tegasnya, menekankan kata-kata pada kalimat terakhirnya. Boa menundukkan wajahnya, menangis. Yunho melirik pada gadis itu sudah tanpa simpati lagi, gadis itu benar-benar sudah membuatnya sangat kecewa. Yunho pergi dari sana, tanpa menghiraukan teriakan panggilan dari bumonimnya.

Yunho mengendarai mobilnya dengan cepat, ingin rasanya menabrakkan diri ke pembatas jalan dan melunjur terjun bebas ke Sungai Han seperti yang JaeJoong alamni-ah, ani... mungkin lebih tepatnya seperti yang JaeJoong lakukan. Tapi Yunho tidak boleh melakukannya, matipun dia tidak akan tenang karena belum mendapatkan maaf dari JaeJoong.

Ponselnya sedaritadi berdering, menampilkan nama bumonimnya di layar sentuhnya. Yunho meraih ponselnya itu, lalu membuka kaca jendela mobil nya dan melempar benda persegi panjang itu begitu saja keluar, dipastikan ponsel itu akan hancur begitu mendarat di jalanan. Yunho benar-benar kesal hari ini.

.

.

Satu minggu sudah berlalu.

JaeJoong, namja cantik itu yang sudah mampu berjalan sendiri walau terkadang masih suka tersendat. Dia sedang menikmati udara musim semi di taman rumah sakit. Suaranya sudah mulai bisa keluar, tapi tidak boleh dipaksakan karena takut mengganggu kesembuhannya. JaeJoong duduk di bangku di bawah pohon rindang, menghadap danau buatan yang terhias indah oleh teratai.

Kelopak matanya yang indah mengatup, mulutnya bergerak-gerak mengikuti lirik lagu yang di dengarnya melalui earphone yang terhubung dengan ipod yang di genggamnya. Sementara hidungnya menghirup wangi pepohonan yang sangat khas di musim semi. Jantungnya masih berdenyut sakit, merindukan orang yang saat ini paling tidak ingin dia temui.

Namja bermata sipit itu bahkan tidak mengunjunginya selama satu minggu ini. Tidak pula menjenguknya diam-diam di kala malam tiba. Jangan dikira JaeJoong tidak mengetahui bahwa Yunho selalu datang setiap malam ketika semua orang sudah tidur. Radarnya selalu dapat menangkan sinyal kehadiran namja itu.

JaeJoong membuka matanya ketika mendapat tepukan di bahunya. Dia tersenyum lembut mendapati kedua dongsaengnya datang bersamaan. Junsu dan Changmin yang memberikan cengiran lebar andalan mereka pada JaeJoong. Beberapa saat yang lalu, dia memang bersama Changmin, namja cantik itu kemudian menyuruh Changmin untuk membelikan es krim untuknya. Dan kembali bersama Junsu, mungkin mereka bertemu tadi.

Junsu dan Changmin duduk di rerumputan hijau menghadap JaeJoong.

"Ini pesananmu, hyung." Changmin menyodorkan sebuah cup berukuran sedang pada JaeJoong yang memandangnya bingung, bukankah tadi dia meminta di belikan es krim.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu makan es krim?" Changmin menjulurkan lidahnya, lalu memaksa JaeJoong untuk menggenggam cup tersebut, si cantik malah memajukan bibirnya merasakan hangat di talapak tangannya yang menggenggam gelas cup itu. Junsu tertawa nyaring melihat JaeJoong yang kesal karena di kerjai Changmin.

Bibirnya semakin mengerucut ketika Changmin mengeluarkan cup yang dia yakini isinya adalah es krim dari kantung plastik yang di bawanya.

"Kau mau, Junsu?" Tanya Changmin

"Tentu." Jawab Junsu, Changmin menyodorkan satu pada Junsu.

JaeJoong mengayunkan kakinya, menghentakkan pada rerumputan di bawahnya. Memandang lapar pada es krim yang di genggam Junsu dan Changmin.

"Kau juga mau, hyung?" Tawar Changmin, mata JaeJoong langsung berbinar-binar, dia mengangguk dengan semangat. Lalu menadahkan tangannya ke arah Changmin.

"Tentu saja tidak akan ku berikan. Minum saja coklah hangatmu." Lagi-lagi Changmin mengerjainya.

JaeJoong menggelembungkan pipinya kesal, sedangkan Changmin dan Junsu tertawa melihat kelakuan hyungnya itu. JaeJoong terpaksa harus menelan ludahnya sendiri ketika melihat kedua dongsaengnya itu memakan es krim di depannya, sementara dia harus puas dengan coklat hangatnya.

.

"Apa kau merindukan Yunho hyung, hyung?" Tanya Changmin setelah menghabiskan cup es krimnya. Junsu langsung memberikannya tatapan tajam, tidak suka pada topik yang di bicarakan oleh Changmin.

"Jangan membicarakan dia!" Ujar Junsu dengan suara melengkingnya yang tiba-tiba.

"Ada apa denganmu? Mengapa kau bersikap begitu pada Yunho hyung?" Tanya Changmin tidak suka.

"Aku tidak suka membicarakan si brengsek itu, lagipula JaeJoong hyung tidak akan suka membicarakannya." Kata Junsu ketus, entah mengapa sampai sekarangpun emosi Junsu masih meletup-letup jika mendengar satu nama tersebut.

"JaeJoong hyung mencintainya, kau tahu itu." Balas Changmin tak kalah sengit.

JaeJoong memandangi kedua adiknya itu dengan tatapan tidak suka, tidak suka mereka membicarakan Yunho dan juga tidak suka mereka bertengkar hanya karena dirinya dan juga Yunho.

"Yeah, JaeJoong hyung mencintainya, dan si Jung itu mengkhianatinya." Celetuk Junsu, setelah mengatakannya pada Yoochun, apakah Junsu juga akan mengatakannya pada Changmin?

"Apa maksudmu, Junsu? Yunho hyung mencintai JaeJoong hyung, kau juga tahu itu, walau beberapa bulan ini sukapnya tidak baik tapi aku jelas tahu dia sangat mencintai JaeJoong hyung." Bantah Changmin.

Pancaran mata JaeJoong meredup, wajahnya berubah sendu. Hatinya berdenyut sakit, mengatarkan aliran rindu dan benci pada waktu yang bersamaan.

"Kalau dia mencintai JaeJoong hyung, tidak mungkin dia me-"

Srak...

JaeJoong bangkit, membiarkan selimut yang tadi menyelimuti kakinya jatuh begitu saja ke rerumputan nan hijau.

"Aku ingin kembali ke kamar." Suara lirih yang lebih mirip bisikkan itu akhirnya terdengar. Dia segera membalikkan badannya dan berjalan perlahan. Changmin dan Junsu saling berpandangan sengit sekilas, lalu bangkit bersama dan berjalan beriringan di sisi kiri dan kanan JaeJoong, membantu namja itu berjalan dengan memegang lengan JaeJoong.

.

.

JAEJOONG's POV

9 hari sudah, dia tidak pernah muncul di hadapanku.

Apakah dia sudah tidak peduli padaku? Apakah dia sudah tidak mencintaiku?

Aku membencinya, sangat membencinya karena perbuatannya, tapi mengapa hatiku selalu menantikan kedatangannya, kenapa telingaku selalu menunggu untuk dapat mendengar kata cinta darinya, kenapa bibirku selalu ingin bibir berbentuk hati itu untuk mengecupku, mengapa mataku rindu pada tatapan teduh matanya, mengapa tubuhku selalu mengingat hangat pelukannya.

Aku memandang pemandangan dari jendela kamarku, menghadap langsung ke arah halaman depan rumah sakit. Aku tidak tahu mengapa tapi mataku selalu meneliti setiap mobil yang memasuk ke pelataran parkir rumah sakit, hatiku selalu berdebar ketika ada mobil yang masuk, namun tanpa sadar aku menghela nafas ketika bukan mobilnya yang ku lihat.

Apakah aku sudah memaafkannya? Apakah aku sudah melupakan kejadian itu? Tidak.

Aku menggeleng pelan ketika sekelebat bayangan malam itu kembali datang dalam benakku.

Apakah aku harus memaafkannya? untuk semua kesalahannya? Kata-kata penyesalannya membuatku sakit, sakit karena mengingat kejadian tersebut, dan sakit melihatnya harus memohon maaf dariku. Aku tak pernah melihatnya memohon-mohon seperti itu. Apa yang harus aku lakukan. Jika berhadapan dengannya saja, emosiku langsung naik setekika, sakit hatiku langsung mencuat kepermukaan.

Aku harus bagaimana? Bisakah seseorang memberitahuku apa yang harus aku lakukan.

Aku menitikkan air mataku.

Tuhan.

Mengapa aku begitu merindukannya?

Mengapa aku masih merindukannya setelah semua perlakuannya padaku?

Grep.

Aku tersentak ketika ada seseorang yang memelukku dari belakang, aku dapat mencium aroma tubuhnya. Changmin. Buru-buru ku hapus air mataku.

"Kenapa menangis lagi, eum?" Tanya Changmin.

Kenapa namja ini bahkan begitu sensitif terhadapku. Aku menggeleng pelan, dia mempererat pelukannya, nyaman. Tapi entah mengapa rasanya tidak sehangat pelukan Yunho.,

"Kau merindukannya, eum? Kau merindukan Yunho hyung, aniya?" Dia bertanya lagi, aku terdiam, tidak menunjukkan reaksi apapun untuk menjawab pertanyaannya tersebut.

Changmin membalikkan badanku hingga menghadap ke arahnya. Dia mengusap wajahku dengan ibu jarinya.

"Lihat kau berbohong." Dia menghapus sisa air mata dari pipiku, aku tersenyum canggung, lagi-lagi aku terlihat menangis di hadapannya.

"Jika kau merindukannya, mengapa kau tidak memintanya menemuimu?" Tanya Changmin, tangannya sudah berpindah ke pinggangku, aku menggeleng pelan. Dia merengkuhku dalam pelukannya.

"Jangan keras kepala, hyung. Jika kau mencintainya, untuk apa kau mempertahankan egomu, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Aku memang tidak mengerti apa-apa, tapi apapun itu, pikirkanlah dengan kepala dingin, bicarakanlah dengan baik-baik. Disini tidak hanya kau yang terluka, tapi namja itu juga, dia sangat terluka, hyung. Entah sudah berapa kali aku melihatnya menangis seperti orang gila, menyalahkan dirinya sendiri."

Hatiku sakit, benarkah? Benarkah namja itu menangis untukkku? Benarkah dia juga terluka sama seperti diriku?

Dia membelai kepalaku, entah mengapa dadaku terasa sesak, hingga ku lesakkan wajahku di dadanya, kembali menangis di pelukan dongsaengku. Dia membiarkanku begitu saja, hanya diam sambil menepuk-nepuk pelan punggungku dengan tangan kirinya dan membelai belakang kepalaku dengan tangan kanannya.

"Dia ada di luar sekarang. Dia tampak sangat kacau, bicaralah baik-baik dengannya." Changmin melepaskan pelukannya setelah tangisku reda, dia berbisik dan tersenyum padaku lalu dia pergi meninggalkanku sendirian di ruangan ini. Ruangan yang terasa mencekam begitu seorang namja bermata setajam elang yang masuk, benar kata Changmin, dia tampak sangat kacau.

Jantungku berdetak cepat,

Kukepalkan jemariku, menahan luapan emosi yang belum mampu ku kendalikan ketika aku berhadapan langsung dengannya. Padahal tadi aku seperti sedang merindukannya, tapi sekarang kenapa malah jadi seperti ini?

Dia memandangku dengan tatapan sendu.

"Jae-" Panggilnya, dia tidak melangkah mendekat, hanya memandangku dengan berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Kami bertatapan, tapi kemudian dia memutuskan kontak mata kami.

Hatiku berdenyut sakit.

Mengapa dia melakukannya?

Apakah dia sudah tidak ingin melihatku lagi?

Apakah dia sudah benar-benar menyerah terhadapku?

Aku berjalan menuju sofa, karena kurasakan kekuatan kakiku sedikit melemah, entahlah mungkin virus 'luka' yang di edarkan oleh darahku membuatku seakan lumpuh, dan tak kuat menopang diriku sendiri.

Dia mengikutiku, mengambil tempat duduk di hadapanku.

Kami terdiam, tidak saling menatap.

Biasanya dengan seenaknya dia akan menghampiriku, mendekatiku, memelukku, menciumku, mengatakan cinta, maaf, dan penyesalannya. Tapi sekarang, dia hanya duduk diam di hadapanku tanpa menatapku dan mengatakan sepatah katapun.

Dia terus saja menundukkan wajahnya, meremas-remas jemarinya sendiri, tidak sekalipun melirik padaku, mulutnya tertutup rapat. Lama seperti itu, hingga membuatku jengah.

"Pergilah jika kau memang tidak mau bicara, aku ingin tidur." Aku beranjak dari dudukku, berjalan menuju ranjang rawatku.

"JaeJoong-ah, Aboejiku sakit."

Lihat, dia bahkan memanggilku dengan 'JaeJoong-ah' bukan dengan panggilan 'JaeJoonggie' atau 'baby' seperti yang biasa dia lakukan.

"Apa peduliku." Ucapku ketus, walau tidak bisa ku pungkiri aku juga khawatir pada ayahnya, walau dia pernah berkata kasar dan menghinaku, tapi walau bagaimanapun dia adalah orang tua dari –err, dari leader grupku.

"Aku akan menikahi Boa dalam waktu dekat ini."

Deg

Langkahku terhenti, kakiku lebih lemas dari yang tadi kurasakan, tanganku bergetar, aku meremas jemariku sendiri, meredam getaran yang datang dengan sendirinya. Lelehan hangat ku rasakan di kedua pipiku. Pandanganku mengabur, nafasku tercekat, dadaku sesak. Aku membungkan mulutku sendiri, agar isak tangisku tidak keluar, sementara tangan kananku menekan dada kiriku yang semakin sesak dan sakit setiap kali jantungku berdetak.

Benarkah tadi dia bilang dia ingin menikahi Boa? Pendengaranku tidak salah, bukan?

Tak lama kurasakan sebuah pelukan dari namja itu, namja yang sudah membuat lubang di hatiku, menyiram air garam pada luka yang belum mengering, menyayatnya lebih lebar. Bukankah pelukannya terasa hangat? Tapi mengapa justru tubuhku menggigil? Bukankah hatiku akan berdebar? Tapi mengapa hanya nyeri yang kurasakan? Bukankah pelukannya mampu membuatku tenang? Tapi mengapa aku sangat ketakutan sekarang?

"Mianhae, JaeJoong-ah." Bisiknya lirih.

Aku memberontak dalam pelukannya, hingga tubuhku terlepas, aku berbalik menghadap ke arahnya, membiarkan dia melihat cairan bening yang tak mampu ku hentikan keluar dari mataku. Aku mundur beberapa langkah, hingga mampu ku lihat matanya yang berkaca-kaca, apa artinya itu?

Aku tersenyum miris sekaligus sinis padanya.

"Yeah, sudah kuduga akan seperti ini jadinya. Aku pikir kau orang baik, Jung. Tapi nyatanya kau sama saja dengan namja lainnya." Entah kekuatan darimana, aku mampu mengeluarkan suara yang cukup besar dari biasanya.

"Jae-" Dia maju melangkah mendekatiku.

"Jangan mendekat!" Teriakku, tenggorokanku terasa sakit sekarang. Dia menghentikan langkahnya.

Cih, dia masih saja menatapku dengan tatapan khawatir seperti itu.

"JaeJoonggie, ku mohon jangan berteriak, aku mohon, pita suaramu masih be-"

"Jangan bersikap seolah-olah kau peduli padaku" Teriakku lagi, aku mengusap kasar wajahku, menyamarkan jejak air mata di pipiku, tapi percuma karena kristal bening itu tetap tidak mau berhenti mengalir. Aku dapat melihat bulir air mata menetes dari mata sipitnya. Aku mencengkram dada kiriku yang semakin sesak.

"Aku berlutut di hadapanmu, mencegahmu untuk mencari wanita lain. Aku mengaku salah, hingga aku berlutut di hadapanmu, aku mengaku salah karena tidak pernah mendengarkanmu kala itu. Sesampainya di Seoul, aku ingin meminta maaf, aku ingin memperbaiki hubungan kita, tapi apa yang kulihat? Kau mengingkari janjimu. Kau bercinta dengan orang lain, dan itu adalah sahabatku sendiri. Aku- Awalnya aku berpikir kau bersikap kasar memang benar-benar marah dan tidak ingin kami bersamamu, karena takut akan di perbudak oleh CEO itu, makannya aku selalu menuruti semua keinginanmu, tapi aku sadar, sampai malam itu, aku sadar, bahwa kau memang tidak menginginkanku ada di sampingmu, karena kau memang ingin bersama dengan gadis itu, bukan? Huh, bodohnya aku."

Aku tertawa, tawa yang entah kenapa meluncur begitu saja dari bibirku, tawa yang mengiringi laju air mataku yang semakin deras, suara tawaku perlahan menjadi isakan.

"Sungguh Jae, bukan seperti itu. Aku ti-"

"PERGI!" Aku berteriak sekuat tega.

"JaeJoong, ku mohon dengarkan aku dulu." Yunho mendekatiku, mencengkram kedua lengaku, aku tidak lagi dapat melihat dengan jelas karena bias akibat air yang mengenang di mataku. Aku memberontak, memaksanya melepaskan cengkramannya.

"Pergi! Dasar brengsek! PERGI!"

.

.

YUNHO's POV

Dia menjerit dan terus memberontak.

"Ku mohon jangan berteriak , Jae. Aku mohon."

Air mataku yang sedaritadi ku tahan kubiarkan jatuh begitu saja, hatiku benar-benar hancur melihatnya seperti ini, dia tidak mendengarkanku dan terus berteriak, memintaku untuk pergi.

Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan.

"Hyung ada apa?" Sebuah suara tenor terdengar dari belakangku.

"PERGI!" JaeJoong berteriak lagi, suaranya sudah mulai parau dan serak.

"Hyung?"

Changmin, namja itu yang tadi berbicara dengan JaeJoong agar namja cantik ini mau menemuiku, kini menarik JaeJoong ke dalam pelukannya, menjauhkannya dariku. JaeJoong menarik-narik rambutnya sendiri dengan kasar, Changmin harus bersusah payah menurunkan tangan JaeJoong, dan memeluknya erat agar tangannya tidak kembali bergerak ke atas untuk menjambaki rambutnya.

"Ada apa ini, hyung? Kau sudah berjanji akan bicara baik-baik dengan JaeJoong hyung, mengapa kau membuatnya seperti ini?" Changmin menantapku tajam, aku tidak terlalu menghiraukannya karena mataku fokus pada namja yang meringkuk di pelukan Changmin dengan tubuh yang bergetar, dengan suara tangis yang terdengar sangat pilu.

"Argh... Pergi! Pergi, argh ..."

JaeJoong menyentak tubuhnya sendiri, dia berteriak, terisak dan mengeram dalam waktu yang bersaman, dadaku sangat sesak melihatnya.

"Hyung tenanglah, hyung. Aku mohon."

Changmin terlihat sangat panik hingga dia semakin mengeratkan pelukannya.

"Argh ... argh... argh ..."

JaeJoong terus mengeram, aku memundurkan langkahku menjauh dari mereka, menjauh dari Changmin yang berusaha menggapai tombol di samping tempat tidur yang berfungsi untuk memanggil suster jaga, kemudian kembali memeluk JaeJoong yang terus memberontak, membuat gerakan kasar dengan tubuhnya, menggelengkan kepalanya dengan brutal.

JaeJoong semakin brutal menyentakkan tubuhnya, dia memukul-mukul punggung Changmin, sedangkan namja muda itu, terus memeluk JaeJoonggie, sesekali menepuk-nepuk punggung JaeJoong dan terus memohon agar JaeJoong tetap tenang.

Ya Tuhan

Mengapa jadi seperti ini.

Kemudian seorang dokter dan seorang suster datang, mereka langsung membantu Changmin untuk membopong tubuh JaeJoong ke atas ranjang. Aku kembali memundurkan langkahku, JaeJoong memberontak sambil tertidur, sayup ku dengar sang dokter menyuruh suster untuk memberikan suntikan obat penenang pada JaeJoong. Aku menghilang di balik pintuk saat sebuah jarum menusuk menembus kulit kekasihku.

Aku berjalan cepat keluar dari rumah sakit, kondisiku bertambah bertambah kacau dari sejak aku datang kesini, aku memanggil sebuah taksi dan menyuruhnya untuk membawaku ke rumah JaeJoong, tempat dimana selama hampir 5 bulan ini menjadi tempat tinggalku. Aku tidak ingin kembali ke dorm, tidak ingin mengingat kejadian malam itu yang menjadi malapetaka.

Harusnya tidak perlu sampai seperti ini. Seharusnya tidak harus seperti ini. Semuanya akan baik-baik saja, semuanya pasti akan baik-baik saja.

.

.

-flash back-

Seseorang menekan bel rumah JaeJoong berkali-kali. Demi Tuhan aku baru saja tidur satu jam, menyelesaikan syuting hingga dini hari dan sekarang siapa yang mengganggu tidurku. Aku bangkit, menyerenyit sedikit karena perih yang kurasakan di perutku sejak beberapa hari ini akibat tidak teratur makan.

Aku menekan tombol intercom, untuk melihat siapa yang datang.

Gezz.

Wanita itu, mengapa dia ada disini sekarang? Tidak puas juga dia mengadukan hal macam-macam pada kedua orang tuaku. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padanya, tidak mengerti bagaimana harus bersikap pada orang yang sudah ku anggap sebagai sahabatku. Bertanya-tanya mengapa dia berbuat seperti itu padahal dia jelas tahu aku mencintai JaeJoong, namun aku tidak mau ambil pusing, tidak peduli, sekarang fokus utamaku adalah JaeJoong dan pekerjaan menumpuk yang membuatku tidak bisa bertemu dengan kekaasihku seminggu ini.

"Aku sedang tidak ingin di ganggu" Ucapku jengah melalui intercom

"Tunggu, Yunho. Ini tentang aboeji. Aboeji sakit, Yun."

Deg

Spontan ku tekan sebuah tombol di permukaan mesin intercom itu untuk membuka pintu gerbang. Apa yang tadi dia katakan? Aboejiku sakit? Benarkah? Aku tidak pernah menghubungi mereka sejak pertemuan malam itu, aku membuang ponselku dan memilih untuk tidak mengenakan ponsel sementara waktu, untuk urusan pekerjaan, asisten majaner yang akan menjemputku kesini.

Tak lama muncullah orang yang belakangan ini semakin ku hindari.

"Disitu saja, jangan masuk terlalu jauh ke dalam rumah kekasihku." Ucapku mencegahnya melangkah lebih jauh memasuki ruang tamu rumah ini. Dia berdiri hanya beberapa langkah dari pintu masuk. Dia menatapku dengan pandangan sendu.

"Kau kemana saja, Yun. Aku terus menghubungimu, mengapa kau tidak mengaktifkan ponselmu?" Tanya Boa, aku mendengus kesal.

"Aku membuang ponselku, ada apa? Cepat katakan?" aku tidak ingin lama-lama bersama dengannya. Aku menyadarinya, setelah berpikir berulang-ulang, aku menyadari bahwa aku begitu bodoh selalu mendengarkan ucapan gadis yang ku anggap sebagai sahabatku tersebut. Mengapa selama ini aku bodoh sekali, Tuhan.

"Mengapa kau jadi seperti ini, Yun?" Dia tetap memandangku sendu.

"Sudah ku katakan jangan melangkah lagi." Aku mencegahnya melangkah mendekatiku, dia berhenti dan matanya mulai berkaca-kaca.

"Ada apa cepat katakan, jangan menggunakan nama aboeji untuk dapat menemuiku." Ucapku tegas dan dingin. Dia menggeleng.

"Tidak, Aboeji benar-benar sakit, kemarin lusa omoni meneleponku katanya aboeji masuk rumah sakit, dia-"

"Pergilah, aku akan ke Gwangju sekarang." Ucapku dingin, menyembunyikan kepanikanku.

"Aku ikut, Yun, ak-"

"Tidak!" Bentakku sebelum dia kembali bicara.

Aku berlari menuju lantai dua rumah JaeJoong, mengambil tas tanganku, memasukkan salah satu ponsel milik JaeJoong dan dompetku ke dalamnya, lalu bergegas lari keluar, aku melihat Boa masih berada di tempatnya.

"Yun" Panggilnya.

Aku menarik tangannya keluar rumah, dan baru ku lepaskan ketika sampai di luar gerbang, aku mengunci gerbang dan berlari ke jalanan yang lebih besar, mencari taksi. Tidak ku pedulikan Boa yang berteriak memanggilku, aku tidak peduli yang penting gadis itu sudah keluar dari rumah JaeJoong.

Selama perjalanan ke Bandara, aku mengecek jadwal penerbangan. Hanya ada satu penerbangan pagi ini dan tinggal first class, aku memesan tiket secara online untuk penerbangan pukul 10.05 pagi. Jemariku terus menyentuh layar sentuh ponsel dan mataku terus mencari penerbangan untuk kembali ke Seoul dari Gwangju. Malam ini aku ada pekerjaan dan harus tiba di Seoul lagi.

.

.

Aku mendarat di Gwangju memakan waktu 50 menit dari Seoul, setelah sampai di Gwangju aku baru mengingat bahwa aku belum tahu tempat di mana aboeji di rawat, maka ku putuskan untuk menelepon adikku dulu, setelah mengetahui tempatnya, aku langsung menaiki taksi dan menyuruh supir untuk membawaku ke rumah sakit yang diberitahu oleh adik perempuanku. Aku baru tiba di Rumah Sakit tempat Aboeji di rawat ketika sudah lewat makan siang. Ada sedikit kendala di perjalanan menuju rumah sakit tadi hingga aku tiba lebih siang. Padahal aku harus sampai di bandara sebelum pukul 16.25 sore nanti untuk mengejar penerbanganku kembali ke Seoul. Setelah itu aku harus sampai di lokasi syuting pukul 7 malam.

Ck.

Aku mengacak rambutku sendiri. Kepalaku benar-benar pusing memikirkan banyak hal ditambah lagi aku tidak sempat sarapan dan makan siang, juga tidak cukup tidur. Sedikit berlari melewati lorong rumah sakit untuk menuju ruang rawat Aboeji.

Kedatanganku tidak disambut baik oleh namja paruh baya yang terlihat lemas berbaring di pembaringan rumah sakit dengan infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya. Hanya omoni yang menyambutnya dengan senyuman lemahnya. Dan menanyakan keadaanku itupun hanya kujawab dengan senyuman.

"Untuk apa kau datang kesini?" Tanya aboeji ketus.

"Aboeji, aku-"

"Apa kau senang sudah membuatku jadi seperti ini?" Tanyanya lagi dengan nada sama dingin.

"Jangan pernah menemuiku lagi, kecuali kau membawa Boa sebagai istrimu atau kau lebih memilih melihatku mati." Aboeji memalingkan wajahnya

"Aboeji." Sungguh aku tidak menyangka Aboeji akan bicara seperti itu.

"Yeobo." Omoni mencoba untuk melunakkan hati aboeji, namun aboeji tetap diam tak bergerak.

Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Aboeji secara tidak langsung memintaku untuk memutuskan hubunganku dengan JaeJoong yang sekarang memang sudah di ambang ke hancuran dan menikahi Boa. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya gadis itu katakan pada Aboeji hingga membuatnya seperti ini.

Aku tidak ingin menikahi Boa. Aku tidak ingin menyakiti JaeJoong lagi, aku hanya ingin bersama dengannya sepanjang hidupku. Apa yang harus ku lakukan sekarang?

-end of flash back-

.

.

Entah sudah berapa gelas alkohol yang ku minum. Aku tidak peduli, kepalaku benar-benar pusing, bayangan JaeJoong yang histeris ketika mendengar pengakuanku selalu terbayang-bayang olehku, aku memukul dadaku berkali-kali agar denyut sakit yang kurasakan sejak tadi hilang, tapi malah terus bertambah sakit.

Sebuah cahaya penerangan menyilaukan mataku, aku bahkan tidak sadar jika di luar sudah gelap. Mataku samar menangkap sosok mungil yang selalu terlihat menggemaskan, sosok yang polos, namun akan berubah menyeramkan jika berhadapan denganku, Junsu.

.

.

AUTHOR's POV

Junsu mengeram kesal, karena mendapat kabar tentang keadaan JaeJoong dari Changmin. Setelah menghadiri sebuah acara yang memang sudah menjadi jadwalnya, dia langsung menuju rumah JaeJoong, tempat dimana dia akan menemukan orang yang menjadi penyebab memburuknya keadaan jaeJoong saat ini.

Junsu memukul stir mobil birunya beberapa kali. Dia tidak habis pikir apa yang sudah di lakukan oleh Yunho, hingga Changmin bilang bahwa JaeJoong hyungnya sempat histeris sore tadi. Ditambah lagi ketika sadar, JaeJoong hyung malah seperti orang tidak sadar, matanya terbuka namun pandangannya kosong, dia bahkan tidak merespon perkataan orang disekitarnya.

"Cih, apa maunya namja itu?" Gerutu Junsu.

Dia bersumpah pada dirinya sendiri, jika bertemu dengan Yunho, dia akan kembali menghajar lelaki tersebut, tidak peduli seperti apa nantinya, dia pasti akan memukul Yunho. Dia benar-benar kesal ketika tahu kondisi hyungnya itu memburuk, Junsu benar-benar kesal.

Junsu menekan kombinasi angka untuk membuka pintu rumah JaeJoong yang memang sudah di ketahuinya, dengan langkah cepat dia mencari Yunho di seluruh penjuru rumah, Junsu yakin sekali jika Yunho ada disana, karena mobil hitam Yunho terparkir di garasi mobil. Junsu menyalakan semua ruangan yang diperiksanya.

Dia menemukan Yunho di ruangan yang menjadi mini bar dirumah tersebut, duduk dihadapan meja bar, dengan keadaan yang mengenaskan, namun tak membuat Junsu luluh seketika dan bersimpati pada namja itu. Dia malah semakin kesal karena Yunho masih bisa enak-enakan minum padahal JaeJoong sedang menderita di rumah sakit.

"Ah, Jun-chan... Hik..."

Yunho melayangkan senyuman lemahnya, lalu memanggil Junsu dengan panggilan yang sering digunakannya jika mereka sedang berada di Jepang, dan di akhiri dengan cegukan karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.

"Apa kau mau minum denganku?" Yunho mengangkat gelasnya ke atas seperti ingin bersulan, lalu tersenyum lagi. Junsu mendengus kesal, di tahannya sekuat tenaga emosi yang tadi menguar dari dalam dirinya, dia tahu bukan hal yang baik jika memukuli orang yang sedang mabuk.

"Apa yang kau lakukan disini, sementara JaeJoong hyung menderita disana?" Junsu hanya bisa menyalurkan marahnya dengan membentak.

Yunho menaruh gelas itu kembali dimejanya, jari telunjuknya bermain, memutar di pinggiran gelas bundar tersebut, pandangannya berubah menjadi sendu, memandangi isi cairan berwarna merah di dalam gelas.

"Apa yang harus aku lakukan, Jun-chan..." Suaranya terdengar lemah dan sangat menyedihkan. Yunho terbatuk beberapa kali, kemudian menegak minumannya lagi.

"Apakah aku harus mati, baru dia akan memaafkanku?" Tanya Yunho lagi, dia sepertinya sudah benar-benar mabuk hingga ucapannya sedikit melantur.

"Jangan bicara yang tidak-tidak, Jung!" Teriak Junsu, walau bagaimanapun dia sempat bergidig ngeri jika memang sang Leader memiliki keinginan untuk mati, walau tidak bisa di pungkiri Junsu ingin sekali membunuhnya ketika mengetahui penyebab kecelakaan pada JaeJoong. Tapi tetap saja, dia tidak bisa membayangkan jika salah satu diantara mereka ada yang pergi meninggalkan dunia terlebih dahulu.

"Aku mencintainya, Junsu-ah, tapi mengapa dia tidak mengerti. Mereka bahkan memaksaku menikah dengan Boa. Apa yang harus ku lakukan?"

Junsu membulatkan matanya. Dia tidak mengerti dengan ucapan Yunho, tapi dia sangat kaget mendengar soal menikah dengan Boa. Jelas sekali Yunho terlihat sangat frustasi. Junsu mulai melunak, walau dia masih sangat membenci Yunho.

Dia memperhatikan Yunho dengan seksama, celana panjang santainya, kaos putih polos yang terdapat banyak bercak di bagian depannya, mungkin akibat minuman yang tidak sengaja tumpah di bajunya, rambut yang terlihat sangat berantakan, Junsu yakin Yunho kerap kali menjambak rambutnya sendiri. Bibir tebal yang tadi menyambutnya dengan senyuman juka terlihat sangat pucat, dan berkali-kali Yunho terbatuk.

"Uhuk..uhuk...uhuk...uhuk..."

Junsu mendengus kesal, melihat tingkah Yunho, dia baru saja ingin pergi karena percuma saja bicara dengan orang yang sedang mabuk, tapi suara benturan keras membuatnya kembali membalikkan tubuhnya. Dia tak melihat sosok Yunho duduk di kursi jenjang di depan meja bar. Dan betapa terkejutnya Junsu ketika melihat Yunho tergeletak di lantai.

"HYUNG!"

Junsu berlari menghampiri sosok Yunho.

Yunho tidak sadarkan diri, terjatuh dengan posisi tengkurap, Junsu membalikkan badan Yunho dan menaruh kepala Yunho di atas simpuhan pahanya. Jantung Junsu memacu dengan cepat, memacu perederan darahnya dengan deras, membawa kepanikan dalam dirinya.

Bagaimana tidak jika di lihatnya sekarang disekitar mulut Yunho terdapat darah, dan masih ada yang mengalir dari dalam mulutnya, matanya kembali melebar ketika melihat tangan Yunho juga berlumuran darah. Junsu benar-benar panik sekarang.

"Hyung... Yunho hyung... Hyung..."

Junsu terus berteriak memanggil nama Yunho, mengguncang tubuh lelaki itu, tapi tetap tidak ada respon dari Yunho, dengan susah payah, Junsu menaikkan Yunho ke punggungnya sendiri dan bergegas keluar rumah. Tujuan yang terpikirkan olehnya sekarang adalah Rumah Sakit. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih saking paniknya.

.

.

Junsu mengendarai mobilnya dengan panik, pasalnya jalanan sekarang sedang dalam kondisi ramai dan ada beberapa titik kemacetan menuju ke Rumah Sakit. Berkali-kali dia melirik namja yang terduduk tak sadarkan diri di bangku di sampingnya.

"Bertahanlah, hyung. Bertahanlah" Seakan-akan semua amarahnya lenyap begitu saja berganti dengan kekhawatiran. Dia menghubungin Yoochun yang saat itu baru saja tiba di rumah sakit untuk menjenguk JaeJoong, tempat tujuan Junsu, karena rumah sakit itu letaknya memang tidak jauh dari kediaman JaeJoong.

Junsu menjelaskan pada Yoochun tentang keadaan Yunho dan menyuruh lelaki cassanova itu untuk menunggu di depan pintu rumah sakit dengan membawa paramedis yang akan menangani Yunho. Junsu mengumpat setiap kali dia terjebak dalam trafic light.

Yoochun dan dua orang perawat menunggunya, begitu sampai di depan pintu lobi, Junsu langsung turun, dan memanggil Yoochun, dua orang perawat laki-laki, mendorong brankar ke depat mobil Junsu, lalu membantu Junsu untuk membaringkan Yunho di atas brankar. Yoochun tampak kaget melihat keadaan Yunho, bercak darah terlihat jelas di sekitar mulutnya, dan sebagian menempel di kaus putih yang di kenakan oleh Yunho.

Para perawat tersebut membawa Yunho masuk ke ruang UGD, sementara Yoochun dan Junsu menunggu dengan gelisah di luar ruangan. Ingatan mereka kembali melayang pada kejadian yang terjadi hampir 5 bulan yang lalu, mereka juga seperti ini, menunggu dengan gelisah di depan ruang UGD, menunggu hyung tertuanya.

"Apa yang terjadi Junsu-ah, mengapa Yunho hyung bisa seperti itu, kau memukulinya lagi?" Tanya Yoochun yang tak kalah panik dengan Junsu, Junsu langsung menggeleng mendengar pertanyaan yang lebih mirip dengan tuduhan tersebut.

"Tidak, sungguh aku tidak melakukannya. Tadinya, aku akan melakukannya, aku ingin memukulinya karena mendapat kabar kondisi JaeJoong hyung yang semakin buruk setelah bertemu dengannya"

Junsu mendesah, menyandarkan punggungnya ke tembok dia mengetuk-ngetuk tumit sepatu kaki kanannya ke lantai rumah sakit hingga menimbulkan suara berdecit akibat gesekan karet sepatu dengan lantai keramik. Junsu jadi merasa bersalah mengingat keinginan awalnya bertemu dengan Yunho tadi. Yoochun masih menunggu Junsu untuk bicara lebih detail, dia memperhatikan namja imut itu.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, begitu sampai di rumah JaeJoong hyung, aku melihatnya duduk di mini bar, ada beberapa botol alkohol di hadapannya. Dia mabuk dan bicara aneh, lalu dia batuk-batuk, dan saat aku mau pergi karena percuma mengajaknya bicara waktu dia mabuk, dia jatuh."

Junsu diam lagi, mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangannya. Wajahnya tertunduk.

"Saat aku menghampirinya, darah banyak keluar dari mulutnya."

Junsu kembali mengusap wajahnya, menghilangkan bayangan mengenaskan yang terjadi pada Yunho. Yoochun menghampiri Junsu, berdiri di hadapan Junsu, lalu menepuk pundaknya.

"Junsu-ah, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Mungkin setelah ini, pikiranmu tentang Yunho akan berubah."

Junsu mengangkat wajahnya, menatap namja cassanova itu dengan pandangan penuh tanya. Sementara Yoochun hanya tersenyum getir.

.

.

.

Tarik Bang Changmin

.

.

.

.

.

Te. Be. Ce.

.

.

.

Yorobun ... gomawo nee, udah mau terus baca ceritaku.

Adoh ... episode menistai Yunho itu paling susah di buat.

ekekeeke ..

.

.

Yorobun Saranghae /Chu

*cipok basah