Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU, BL, OOC

Pairing: Slight MinaKaka, hints KakaYama dan SasuNaru


Pandemonium: Revival

Chapter 11. ANBU


Present time, 7 Oktober 2011 ...

ANBU. Ansatsu Senjutsu Tokushu Butai. Special Assassination and Tactical Squad. Dibentuk pada masa perang yang berkepanjangan antara lima negara besar, Hi no Kuni, Kaze no Kuni, Mizu no Kuni, Tsuchi no Kuni, dan Kaminari no Kuni. Alat perang utama Konoha, pasukan pembunuh nomor satu yang kemampuannya bahkan ditakuti negara lain. Sampai setelah perjanjian damai yang mengakhiri perang ditandatangani, ANBU tetap berdiri sebagai salah satu aset militer Hi no Kuni.

Mereka menerima perintah dari Council, Dewan yang terdiri atas orang-orang berpengaruh dari berbagai kalangan di Konoha. Mulai dari anggota parlemen sampai para pialang bisnis. Hokage, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Konoha otomatis memiliki tempat dalam Dewan. Permintaan misi yang masuk akan melalui proses voting. Apabila disetujui, maka misi akan segera dilaksanakan.

Personel squad ANBU dipilih langsung oleh kapten dari masing-masing divisi, dengan persetujuan Dewan. Setelah melewati tahap itu, mereka akan melalui proses pelatihan dasar dimulai dari usia dini, biasanya sejak usia enam sampai dua belas tahun. Saat ini di Konoha, ada tiga divisi ANBU yang tersebar di tiga lokasi yang berbeda. Salah satunya yang dipimpin Kakashi, dengan total sepuluh anggotanya, bermarkas di Suna.

Dan berikut ini adalah sebuah cerita, bagaimana tragedi masa lalu membentuk keadaan di masa kini. Dari pengalaman seorang anak lelaki, yang seakan tidak pernah berhenti berlari, melawan kerasnya arus kehidupan. Walaupun takdir tanpa ampun turut mempermainkan perasaannya. Ketika hari berakhir, setidaknya ia bersyukur, menyadari bahwa esok hari dirinya masih bisa melihat mentari pagi kembali menyinari kota yang dicintainya ini.


Kakashi's Story: The 20 Years Arc, Darkside Of A Nation


23 Maret 1991, Markas Pusat ANBU ...

Hatake Kakashi mengangkat kepala dan memicingkan matanya. Di kejauhan ia melihat seorang anak lelaki bertubuh kurus dan berambut cokelat, berlari sepanjang koridor mansion bergaya klasik Eropa itu, bunyi sol sepatu ketsnya yang memukul lantai teredam oleh tebalnya karpet merah yang melapisi jalan di lorong. Matanya segera bertemu dengan salah satu dari dua figur familiar berpakaian rapi yang tengah duduk bersila, saling berhadap-hadapan.

Kakashi tahu, dengan rambut keperakan miliknya yang mencolok, berikut goggle yang melingkar manis di leher temannya, sudah cukup bagi siapa saja untuk mengenali mereka berdua pada pandangan pertama.

Anak lelaki itu menghampiri Kakashi, berlutut diantara senpainya dan bertanya, "Kakashi-senpai dan Obito-senpai lagi apa?"

"Berisik bocah, pergi sana. Kami lagi sibuk nih. Syuh ... syuh ..." Obito melambai-lambaikan tangannya, membuat gerakan mengusir.

Bibir bocah itu mendadak mengerut, "Obito-senpai kejam."

"Biarin." Jawab Obito sambil lalu.

Kakashi tersenyum melihat wajah ngambek juniornya yang lucu itu, "Hei, hei ... jangan begitu ah ... sini, Tenchan ..." ia mengisyaratkan pada Yamato untuk duduk di sebelahnya. Setelah Yamato duduk disana, Kakashi menempelkan telunjuknya di bibir dan berkata dengan suara berbisik, "Sshhh ... kau duduk manis disitu ya, jangan bersuara. Kita sedang dalam pengintaian." Sengaja ia tambahkan intonasi misterius dalam suaranya, berharap untuk memancing ketertarikan sang bocah.

"Woow ... kayaknya seru." Mata Yamato langsung berbinar-binar. Usaha Kakashi berhasil.

"Yup. Aku penasaran karena kali ini tidak diperbolehkan ikut rapat oleh Tou-san. Jadi kutempelkan transmitter dengan frekuensi rendah di dalam saku jasnya yang memungkinkan tidak adanya interference sehingga kita bisa mendengarkan conversation di dalam dengan jelas tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Ah, benda itu juga tidak menimbulkan reaksi feedback terhadap peralatan elektromagnetik yang lain. Barusan kucuri dengan mudahnya dari bagian IT. Orang-orang bodoh itu seharusnya update secara berkala security code mereka. Sekarang aku coba dulu receiver ini." Kakashi menyalakan radio kecil yang digenggamnya dan seperti yang sudah diharapkan, beberapa detik kemudian, terdengar suara percakapan dari sana. "Hm. Perfect."

Kakashi tidak menyadari bahwa apa yang baru saja dibicarakannya terdengar amat-sangat abnormal untuk keluar dari mulut anak berusia hampir sepuluh tahun. Terbukti juga dari respon temannya.

"Perfek apanya, bodoh. Aku tidak mengerti satu kata pun yang kau ucapkan." Gerutu Obito sambil menggaruk bagian atas kepalanya.

Kakashi mengembalikan tatapan si bocah bergoggle dengan ekspresi datar, "Kalau begitu, Uchiha-sama, sebutan bodoh itu kurang tepat, dong kalau dilayangkan padaku."

"Brengsek—"

"Maksudnya, Obito-senpai ... Kakashi-senpai sudah menyelipkan penyadap kedalam saku jas ayahnya tadi. Nah, penyadap itu canggih banget jadi nggak bakal bunyi-bunyi kalau kena sinyal balik dari handphone atau semacamnya. Dan sekarang kita bisa dengerin percakapan diruangan itu lewat radio penerima ini." Jelas Yamato, air muka dan nada bicaranya seperti sedang menjelaskan kepada teman sebayanya mengenai campuran rasa es krim apa yang menjadi favoritnya.

"Tepat sekali, Tenzou." Kakashi tersenyum.

"Oh. Begitu." Obito mengangguk-angguk tanda mengerti.

Kakashi menghela nafas, "Cih, kalah dengan bocah yang baru mau masuk sekolah."

"Kau itu, ya ... mentang-mentang jenius"

Kalimat Obito terhenti oleh teriakan bernada kemarahan dari radio penerima yang dipegang Kakashi. Serta merta ketiganya langsung diam, berusaha menangkap pembicaraan yang tengah berlangsung.

"Apa maksudnya ini, Danzo? ROOT katamu? Divisi Pelatihan? ANBU sudah punya divisi khusus untuk hal semacam ini!"

"Tenang dulu, Jiraiya-sensei. Aku yakin Shimura-san punya alasan tersendiri. Nah, aku juga ingin mendengarnya."

"Huh, kau tampaknya harus belajar banyak dari muridmu sendiri, Jiraiya."

"Brengsek. Cepat jelaskan."

"Aku melakukan ini untuk kemajuan organisasi kita juga. Kurasa kita tahu bahwa kapabilitas militer negara lain perlahan-lahan telah mulai menyusul kita. Di Mizu no Kuni sudah ada para Hunter yang fungsinya kurang lebih sama dengan ANBU. Karena itulah kita perlu mendidik generasi muda kita dengan cara yang lebih efektif dan efisien untuk meningkatkan daya tempur mereka."

"Dan metode pelatihan baru ini adalah ..." Kakashi mengenali suara itu. Uchiha Fugaku. Baru saja ditunjuk menjadi Commissioner General Kepolisian Konoha.

"Baca sendiri di map dihadapan kalian."

Hening sesaat. Kakashi menduga orang-orang didalam sedang menelusuri isi map yang tadi disebutkan oleh Danzo. Lalu tak lama kemudian ia bisa kembali mendengar suara tinggi Jiraiya.

"Aku menolak! Metode macam apa ini, jelas sekali tidak manusiawi kan."

"Jiraiya ada benarnya, Shimura. Lagipula apa kau sudah lupa kalau sebagian anggota ANBU masih remaja. Tidak bagus untuk perkembangan mental mereka." Kali ini argumen datang dari ayahnya, Hatake Sakumo.

"Kau bicara tentang manusiawi, Hatake? Kau lupa misi seperti apa yang mereka jalankan? Masih mau bermain dengan norma dan peraturan? Sungguh absurd." Danzo tertawa terbahak-bahak kemudian menambahkan, "Lagipula Sandaime juga sudah menyetujuinya, bukan begitu, Hiruzen?"

"Sarutobi-sensei!" Jiraiya tampaknya tidak mempercayai keputusan pemimpin mereka.

"Aku hanya berbuat yang aku anggap perlu bagi keutuhan dan keselamatan Konoha."

Setelah itu pertemuan berlangsung cukup lama, sebagian besar dihabiskan untuk membahas permohonan misi yang masuk. Perdebatan kembali timbul mengenai isu ROOT yang diributkan di awal tadi, namun Sandaime tidak menanggapinya dan memilih untuk mengakhiri rapat.

"Tapi, Sarutobi-sensei"

"Cukup Jiraiya. Argumen itu berhenti sampai disini. Keputusan untuk misi juga sudah dicapai. Pertemuan kali ini selesai. Kalian boleh bubar."

Suara palu diketukkan dengan keras ke meja, disusul oleh suara kursi yang bergeser dengan lantai marmer. Lalu pintu ruang rapat terbuka. Kakashi buru-buru mematikan radionya, berdiri dan merapikan pakaiannya. Obito dan Yamato juga melakukan hal yang sama. Dimasukkannya radio itu kedalam tas yang dibawanya. Tepat pada saat itu, seorang pria yang wajahnya mirip Kakashi, namun dengan tinggi dan perawakan yang jauh berbeda, berjalan menghampiri mereka.

"Kakashi, lama menunggu ya?" Pria itu meletakkan tangannya diatas tumpukan abu-abu keperakan yang menghiasi kepala anak lelaki satu-satunya.

Kakashi menggeleng, "Tidak apa-apa kok, Tou-san. Lagipula ada Tenzou dan Obito yang menemaniku," ditambahkannya sebuah senyuman di akhir kalimat itu. Sesuatu yang jarang terlihat, terutama di hadapan teman-teman sebayanya.

"Begitu ... ayo, kita pulang. Yamato juga sebentar lagi ada pelajaran dengan Sarutobi-sensei kan?"

"Ya, Sakumo-sama. Kalau begitu aku permisi dulu." Yamato membungkuk, tak lupa memberi salam kepada Kakashi dan Obito sebelum kembali berlari ke arah fasilitas pelatihan. Tak lama, Fugaku pun menjemput keponakannya, Obito. Dan mereka pun kembali ke kediamannya masing-masing.

.

.

.

Beberapa waktu setelah rapat berakhir, di suatu ruangan masih dalam Markas Pusat ANBU ...

"Jiraiya-sensei, mengenai hal tadi ..."

"Minato, berhati-hatilah dengan Danzo. Jaga murid-murid mu dengan baik, jauhkan mereka dari pengaruh busuknya. Karena kalau aku benar, kau dan bocah-bocah inilah yang akan menjadi harapan kita nantinya."

Minato mengangguk. Tanpa penjelasan lebih rinci pun ia mengerti apa yang dimaksud senseinya. Sebagai pasangan guru dan murid, mereka berdua berbagi visi dan misi yang sama.

"Dari sini, kuharap kau dan Sakumo dengan bantuan Fugaku didukung pihak kepolisian dapat mengontrol ambisi Danzo. Ular licik itu, aku yakin dia merencanakan sesuatu. Aku sedikit mengerti keputusan Sandaime di rapat tadi, pasti karena sebagian besar anggota parlemen juga mendukung direalisasikannya proyek ROOT ini."

"Baiklah. Percayakan padaku. Sensei konsentrasi saja untuk pemilihan anggota parlemen."

Jiraiya menghela nafas keras-keras mendengar kata-kata itu. Pemilihan anggota Parlemen Konoha. Hal yang merepotkan untuknya. Tapi apa boleh buat. Ia dan partnernya, Tsunade, telah memutuskan untuk terjun kedalam dunia politik demi menjaga keseimbangan pengaruh dalam Parlemen. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai penulis novel itu pun terpaksa meninggalkan pekerjaan yang ditekuninya sejak lama dan menyerahkan segala urusan dalam ANBU kepada anak didiknya, Namikaze Minato. Karena ia yakin dengan sepenuh hatinya, kalau Minato, pasti bisa mewujudkannya.

.

.

.

25 September 1991, Hatake Mansion ...

Hari itu hujan deras. Dan maksud dari deras disini adalah benar-benar deras. Berdiri sedetik saja diluar pasti sudah basah dari ujung rambut hingga kaki. Tak terkecuali bagi Kakashi yang baru saja pulang dari latihan beladirinya bersama Minato-sensei. Ia selalu menolak untuk diantar jemput oleh ayahnya, karena Kakashi menganggap kalau perjalanan pulang sendiri itu adalah bagian dari "pelatihan dan pengembangan dirinya sebagai seorang ANBU".

Jawaban yang waktu itu disambut Sakumo dengan tatapan heran sekaligus kagum.

"Tou-san, aku pulang!" Kakashi menutup pintu dibelakangnya, kemudian melepaskan dan melemparkan sepatunya yang basah sebelum masuk lebih jauh ke dalam rumah.

Aneh ... gelap sekali.

Saat itu sudah memasuki pukul delapan malam, tapi semua lampu dirumah belum dinyalakan. Padahal ayahnya ada di rumah. Bocah Hatake itu mencoba menyalakan salah satu saklar didekatnya.

Lampu tetap mati.

Gangguan listrik? Tidak mungkin, karena lampu dirumah-rumah lain sepanjang jalan pulang tadi menyala.

Kakashi terus menelusuri lorong panjang dan gelap menuju ruang kerja ayahnya di lantai dua. Diluar, suara petir yang bersahutan semakin menjadi-jadi. Langkah kakinya yang terseret menimbulkan jejak genangan air di lantai kayu.

"Tou-san?" Pintu dojo yang terbuka menarik perhatiannya. Mempersiapkan diri untuk yang terburuk, Kakashi menarik sebuah Glock 22 dari dalam tasnya. Dengan cepat ia mengisinya dengan peluru tipe 40 milik Smith & Wesson. Anak berumur sepuluh tahun membawa senjata? Memang diluar akal sehat semua orang, tapi hal itu sangat perlu, mengingat bagi anggota ANBU serangan bisa datang kapan dan dimana saja.

Petir yang menggelegar disusul cahaya dari kilat yang membutakan mata membuat Kakashi sesaat tidak dapat memfokuskan pandangannya kepada sosok yang terbaring diruangan bertatami itu.

Siapa?

Yang jelas, seorang pria terbujur kaku di tengah-tengah ruangan. Merasakan tidak ada bahaya didekatnya, Kakashi berjalan perlahan menghampiri sosok itu, langkahnya pendek dan penuh keraguan.

Larutan pekat dan hangat menyentuh kakinya yang sedikit beku karena air hujan, menghentikan langkahnya.

Apa ini?

Aku tidak bisa melihat apapun, sial.

Seakan menuruti perintahnya, tiba-tiba lampu kembali menyala, Kakashi memicingkan mata, berusaha membiasakan diri dengan intensitas cahaya yang mendadak menerpa pupilnya. Tak lama ia pun menyadari situasinya saat ini.

Darah segar, mengalir di sela-sela kakinya.

Hatake Sakumo, tergeletak bersimbah cairan kehidupannya sendiri di tengah-tengah ruangan itu. Di tangan kirinya masih tergenggam senjata yang menjadi signaturenya, White Fang, sebuah custom revolver dengan kaliber besar.

Kakashi tidak dapat bergerak, atau mengatakan apapun. Atmosfer berat yang menekan seakan membuat kedua kakinya terpaku, lidahnya kelu. Senjata yang dipegangnya jatuh ke lantai.

"Kakashi!" Teriakan seorang pria, diikuti derap langkah beberapa orang lagi memasuki ruangan.

Sejak kapan mereka masuk?

Kakashi tetap tidak bergerak. Bahkan ketika petugas medis mulai memeriksa jasad ayahnya. Sampai wajah yang familiar itu masuk ke area pandangannya dan sepasang tangan yang kuat menggenggam bahunya, "Kau tidak apa-apa?" Ketika muridnya masih tidak bersuara, Minato mencoba sekali lagi, "Kau bisa mendengarku, Kakashi? Kau tahu kan setiap ANBU memiliki alarm di rumah mereka masing-masing? Kira-kira beberapa menit yang lalu tak lama setelah latihan kita selesai, alarm dari kediaman Hatake berbunyi. Aku langsung secepatnya kesini."

Kakashi akhirnya mengangkat kepalanya, sepasang mata abu-abu gelap itu akhirnya terkunci dengan milik Minato, "Minato-sensei ... aku ... siapa yang melakukan ini? Setahuku, ayah tidak punya musuh. Rekan bisnisnya tidak mungkin ada yang berbuat seperti ini ... berarti ... posisi ini ..." ia tidak mampu mengeluarkan suara untuk meneruskan kalimatnya.

Bunuh diri?

"Tapi ... kenapa ..."

"Minato-sensei," sekarang suara Kakashi mulai bergetar, "Bisa tolong jelaskan padaku ... kenapa ... karena aku tidak mengerti. Aku ... sama sekali ... tidak mengerti..."

Namikaze Minato, mungkin untuk yang pertama kali dalam seluruh hidupnya, tidak tahu lagi harus berkata apa kepada muridnya. Berangkat dari situ, semua rutinitas seakan berjalan seperti sebuah skenario dalam film klasik yang buruk. Tapi sayangnya, dengan ending yang belum diketahui oleh para pemainnya.

Minato hanya berharap bahwa ia bisa hidup cukup lama untuk menyaksikan akhirnya.

.

.

.

14 Oktober 1995, Markas Besar ANBU ...

"Sensei!" Kakashi, sekarang 14 tahun, mendobrak masuk kantor Hokage. Ia masih mengenakan seragam ANBU nya, baru saja ia kembali dari rumah sakit. Perban tebal melilit bagian kiri atas wajahnya. Misinya tadi cukup sulit, sehingga ia mendapatkan sebuah cenderamata berupa luka memanjang di mata sebelah kirinya. Untung saja matanya masih bisa terselamatkan, tapi dokter berkata bahwa akan ada sedikit perubahan pada kondisi fisiknya.

"Bagaimana dengan Obito dan Rin?" Ia bertanya tanpa basa-basi, menjatuhkan semua formalitas yang biasanya tidak pernah absen dari nada suaranya ketika berbicara dengan atasannya. Ia mendengar dari rekan-rekannya kalau misi kedua temannya itu juga mengalami insiden, dan belum ada kabar lebih jauh mengenai status keduanya.

"Maaf Kakashi, tidak ada bukti kalau mereka selamat dari ledakan. Jadi aku terpaksa membuat status mereka KIA, Killed In Action." Namikaze Minato, yang baru saja ditunjuk menjadi Hokage keempat, menundukkan kepalanya, tidak mampu menatap wajah muridnya. Sudah berapa kali ia mengatakan pada Kakashi bahwa ia berjanji akan mengusut rentetan kematian ini, tapi pada kenyataannya ... nol.

Sekarang ia harus kehilangan dua muridnya lagi.

"Kakashi ..."

ANBU muda itu keluar dari ruangan begitu saja, menutup perlahan pintu dibelakangnya. Sampai diluar, ia bisa merasakan seluruh emosi mulai mengambil alih dirinya, tak mampu lagi jiwa remajanya menahan itu semua.

Dikepalkan tangannya sekuat tenaga, kemudian tinjunya melayang ke dinding di hadapannya.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Entah berapa kali ia mengulangi gerakan itu.

Yang ia sadari berikutnya, seseorang merangkulnya dari belakang, menghentikan gerakannya. Kakashi akhirnya memiliki waktu untuk melihat kerusakan yang ia timbulkan terhadap tangannya sendiri. Tangannya saat ini bisa dibilang hancur. Tidak mungkin ia memakainya dalam beberapa bulan kedepan. Ia bisa merasakan beberapa tulangnya patah atau retak, darah mulai menetes dari luka yang terbuka. Sarung tangan kulit hitam yang dipakainya ikut robek.

Tapi ia sudah tidak peduli lagi. Kalau sekarang harus mati sekalipun ...

Pikiran kekanakkan dan penuh amarah itu dihentikan oleh tangan kuat yang mencengkeram bagian atas lengannya.

Minato memutar tubuh Kakashi agar berbalik menghadapnya, menariknya kepelukannya. Erat. Kakashi bisa merasakan hangatnya nafas Minato yang berhembus diatas rambutnya, menggumamkan permintaan maaf. Saat itu, Kakashi terlalu lelah baik secara fisik maupun mental untuk melawan. Biarlah untuk sekali ini saja ... ia mengembalikan pelukan senseinya, berhati-hati agar tidak menyentuhkan tangannya yang terluka. Perlahan, di koridor yang gelap dan sunyi, tanpa suara dan tanpa bisa dihentikan siapapun, air mata mengalir dari kedua pasang mata kontras itu.

Permohonan yang sama, tanpa kata-kata ditinggalkan tak terucap di bibir masing-masing.

.

.

.

5 November 1996, Konoha International Hospital ...

"Maaf Kakashi, tapi nyawa Minato dan Kushina sudah tidak bisa diselamatkan lagi."

Kabar itu disampaikan Jiraiya kepada dirinya dengan suara dan wajah yang sama kelamnya. Kakashi sendiri sudah terbiasa dengan berita semacam itu, enam belas tahun, mentalnya tidak mudah lagi tergoyahkan oleh apapun. Pikirannya cepat melayang pada anak sensei-nya yang baru saja lahir dua hari lalu.

"Bagaimana dengan Naruto?"

"Yah, untuk melindunginya dari siapapun yang berbuat ini, mulai sekarang ia akan ditempatkan di panti asuhan biasa. Lagipula belum ada yang tahu kalau dia selamat dari percobaan pembunuhan ini."

"Jiraiya-sama, apa benar-benar tidak ada petunjuk lain?"

"Kakashi, yang bisa membantumu saat ini hanya klan Uchiha. Mintalah bantuan kepolisian, Fugaku akan lebih dari senang bisa membantu. Secepat mungkin, kau harus dapatkan dukungan mereka."

Satu persatu, mereka yang diharapkan dapat merubah keadaan, mulai berjatuhan. Saat ini Kakashi tahu kalau ia dan rekan-rekannya tengah berpacu dengan waktu. Perlombaan sia-sia yang tampaknya kali ini belum bisa ia menangkan.

.

.

.

26 April 2003, Kompleks Mansion Uchiha ...

Lima orang ANBU berkumpul di tengah kompleks Uchiha pada hari itu. Jarum jam menunjukkan beberapa menit lebih sedikit lewat tengah malam. Dua dari mereka melapor kepada kaptennya.

"Senpai! Sektor belakang juga, semua nya ..." Yamato dengan nafas yang terengah-engah karena habis berlari, melapor kepada Kakashi.

"Wilayah barat dan timur juga. Siapa yang berani melakukan ini? Pembunuhan masal ... terlebih lagi, klan Uchiha." Shiranui Genma, ANBU yang satu lagi mendekat sambil menyarungkan katananya.

"Tepat ketika mereka bersedia untuk membantu penyelidikan internal ANBU ..." Kakashi mengepalkan tangannya, frustasi. Melayang sudah pilihan bantuan terakhirnya, "Baiklah kalian berdua periksa kantor utama, siapa tahu masih ada orang yang selamat disana." Perintahnya.

Yamato, Genma dan dua orang sisanya langsung bergerak menuju tempat yang dituju. Kakashi hendak mengeluarkan PDA nya untuk memanggil bantuan dari pusat. Namun niatnya itu terhenti begitu ia mendengar gerakan dibelakangnya.

"Kakashi-san ..." Suara berat itu memecahkan keheningan.

Kakashi berbalik dengan cepat, sebuah handgun sudah terangkat tepat ke kepala si pemilik suara. Namun segera diturunkan senjatanya begitu ia melihat sosok itu.

Seorang ANBU. Ia memakai seragam lengkap yang bersimbah darah, topeng gagaknya pecah di beberapa bagian. Walaupun wajahnya masih tak terlihat, Kakashi tetap mengenalinya dengan baik. Beberapa kali ia bekerja sama dengan pemuda itu dalam kurun waktu setahun ini.

"Karasu," Kakashi menyebutkan code namenya, "Apa maksudmu? Kalau kau memakai seragam itu ... jadi ini semua, misi?" Kakashi menatap tidak percaya ke arah rekannya. ANBU yang diperintahkan membantai seluruh anggota klan Uchiha? Lebih lagi ... Itachi? Terlalu banyak hal yang tidak ia mengerti, terlalu sedikit waktu yang dimilikinya.

"Maafkan aku."

"Apa?"

"Tolong ... jaga Sasuke ..." nada bicara Karasu yang biasanya tanpa emosi dan terkendali itu pecah seketika, "Saat ini ... ia sedang tak sadarkan diri di rumahku. Kumohon ... Kakashi-san." Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, keberadaannya sedikit demi sedikit menghilang dalam asap hitam yang menjadi ciri khasnya.

Genjutsu.

"Itachi ..."

Derap langkah rekan-rekannya yang mendekat terdengar dari kejauhan. Cepat juga mereka kembali.

Yamato berhenti tepat disebelah Kakashi, "Senpai! Barusan ... Karasu?"

"Aku ... tidak tahu lagi, Tenzou."

"Senpai?"

Neraka.

Dunia ini dan semua yang ada didalamnya.

Kotor, busuk, menjijikkan.

Inikah kenyataan tempat ia hidup? Orang-orang seperti inilah yang ia berusaha untuk lindungi?

Hatake Kakashi membencinya dengan seluruh hidupnya.

Namun demi seluruh kepercayaan yang sudah diberikan kepadanya, Tou-san, Minato-sensei, Obito, Rin, Itachi ... sampai mati pun ia bersumpah akan mewujudkan dunia dimana tidak akan ada lagi orang-orang yang bernasib sama dengan mereka.


Kakashi's Story: The 20 Years Arc, Darkside Of A Nation - End -


Back to present time, 7 Oktober 2011 ...

"Setidaknya aku sudah memutuskan, sebelum aku berhenti, dengan kedua tanganku ini, akan kubongkar akar kebobrokan ANBU dan kulenyapkan eksistensinya dari muka bumi ini. Walaupun aku harus menukar nyawaku sendiri untuk mewujudkan hal itu."

Kalimat Kakashi yang terakhir membuat semua pihak yang ada di ruangan itu terdiam, tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Sebagian masih berusaha menyerap seluruh informasi itu kedalam otak mereka. Shino sedang menjelaskan kepada Kiba beberapa hal yang tidak ia pahami, begitu juga dengan Shikamaru terhadap Chouji dan Gaara dengan Lee.

"Lalu, mengenai Akatsuki?" Neji akhirnya angkat bicara.

Kakashi menggelengkan kepalanya, "Kalau untuk Akatsuki ... aku tidak tahu siapa yang ada dibelakang mereka. Yang pasti mereka baru aktif beberapa tahun belakangan. Tujuannya pun masih samar. Apakah merebut kekuasaan di Konoha atau menghancurkan ANBU ... sampai saat ini aku belum tahu pasti. Tapi kalau mereka sampai mengganggu rencana ini ... maka mereka tidak lebih dari penghalang lain yang harus disingkirkan."

"Jadi yang memerintahkan untuk menghabisi seluruh anggota klan ku ..."

"Ya, Shimura Danzo yang juga anggota parlemen itu. Ia menghasut para anggota parlemen untuk percaya bahwa pihak kepolisian yang dikontrol klan Uchiha ingin menggulingkan pemerintahan saat itu dan membentuk rezim baru."

"Uchiha memberontak? Tidak mungkin ... apa itu benar? Setahuku klan Uchiha sangat loyal terhadap Konoha." Gaara mengungkapkan pendapatnya, yang langsung dijawab oleh Yamato, "Yah ... walaupun bukti-buktinya tidak absolut, tapi penyelidikan kami mengarah ke fakta itu. Dan Karasu ... Itachi, kesetiaannya sejak awal adalah milik Konoha dan ANBU. Karena itu ..."

"Dia melakukannya, ya ... menghabisi klannya sendiri." Sambung Gaara.

"Cih ... si brengsek itu." Kiba menggeretakkan buku-buku jarinya, geram.

"Tapi tak kusangka Naruto-kun ternyata anak Yondaime Hokage ya," celetuk Lee, "Bagaimana perasaan Naruto-kun setelah tahu fakta itu?"

Naruto menundukkan kepala, mengacak-acak bagian belakang rambutnya dengan gugup, "... Sekarang masih bingung bagaimana harus menerimanya. Tiba-tiba sekali aku mendengarnya. Tapi yah, aku senang juga sih ..."

"Hm, tampaknya setelah ini aku harus menceritakan banyak hal padamu, Naruto ..." Senyuman tipis terbentuk di wajah Kakashi dan juga Naruto.

"Orangtua kami, kepala klan Hyuuga, Akamichi dan yang lainnya berarti juga tahu akan hal ini?" Tanya Shikamaru kemudian.

"Ya, saat ini kekuasaan Danzo sudah begitu besar sehingga ia mendapat kepercayaan dari mayoritas anggota parlemen. Memberontak sama saja dengan melawan pemerintah, walaupun Godaime ada di pihak kita. Jadi kami-kami ini yang tersisa memilih untuk menyusun kekuatan dari dalam untuk mempersiapkan ... ehm ... yah, bisa dibilang kudeta. Karena itu demi keselamatan kalian juga tidak dilibatkan dari awal."

"Tunggu dulu, berarti kalau ROOT sudah dikuasai Danzo, Sai bagaimana? Jangan-jangan dia mata-mata?"

Kakashi melirik Sai, mempersilakan bocah itu untuk menampik dengan suaranya sendiri keraguan temannya. "Ah, kalau untuk itu kau bisa tenang, Kiba-kun. Sebaliknya, aku ini sejak awal mata-mata untuk Kakashi-san. Karena aku juga punya alasan tersendiri untuk melawan ANBU."

"Ya. Sejak tragedi terakhir, pembantaian klan Uchiha, kalian sudah ditakdirkan dan dipersiapkan untuk perang ini. Aku sebenarnya ingin menunggu sampai kalian lebih dewasa lagi. Tapi karena campur tangan Akatsuki, semua kebenaran terpaksa harus kuungkapkan lebih awal."

"No problem, sensei! Oh, yeah! perang besar nih. Jadi kita akan melawan rekan-rekan kita sendiri. Asyik. Darah Inu sudah mendidih dalam tubuhku. Hahahaha ..." Kiba mulai tertawa.

"Ini bukan permainan, bodoh." Tukas Shino, memotong kegilaan partnernya yang salah tempat itu.

"Hm. Yang pasti setelah fakta ini keluar, keputusan selanjutnya kuserahkan kepada kalian. Aku sudah merencanakan ini sejak lama dengan beberapa rekan-rekan ku, termasuk Yamato. Sekarang terserah kalian ingin berpartisipasi atau tidak. Tidak perlu diputuskan sekarang juga, karena persiapan juga masih dalam tahap awal." Tegas Kakashi.

"Jangan bercanda!"

Semua mata langsung terpaku ke arah pemuda berambut raven yang mendadak berdiri dari kursinya dan meneriakkan kalimat barusan.

"Sasuke?"

"Jadi seluruh hidupku dipermainkan oleh organisasi brengsek ini? Semua nya ... sampai nii-san juga ..." Seluruh tubuhnya mulai bergetar saking marahnya, remaja Uchiha itu pun keluar dari ruangan tanpa berkata apa-apa lagi, membanting pintu ruang rapat dibelakangnya keras-keras.

.

.

.

"Sasuke! Tunggu!" Naruto berlari mengejar Sasuke, menarik sebelah bahunya untuk menghentikan langkahnya, "Kembalilah kedalam ... kumohon. Pembicaraan kita belum selesai ..." Pintanya.

Sasuke berbalik, menepis tangan Naruto dengan kasar, "Cukup! Naruto ... aku ... sudah muak dengan semua ini ..."

"Sasuke"

"Dengar baik-baik ... mulai sekarang, detik ini juga ... aku ..." ia terdiam sejenak, menarik nafas dalam-dalam seolah mempersiapkan diri baik-baik untuk mengucapkan kata-kata berikutnya,

"Uchiha Sasuke ... menyatakan keluar dari ANBU."


[Tbc]


Author's note: Aww, sliwer nih saya kebanyakan liat tulisan. Jadi inget pelajaran Kanji. Kalo menjelang ujian, mata saya mendadak cacingan kayak sekarang nih. Hmm ... awalnya berasa kayak baca textbook sejarah nggak sih? Apakah chapter ini membingungkan? Saya aja bingung ngetiknya :D Hampir sama sih dengan manganya. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut mengenai fakta-fakta yang sudah saya beberkan disini bisa lewat review atau pm, nanti saya bales satu-satu.

Nah, setelah membaca chapter ini, bagaimana kesan dan pesannya? Ada kritik atau saran? Harap dilemparkan langsung kepada saya. Kemudian berbahagialah yang menunggu bagian romance ... karena chapter berikutnya isinya romance semua ... hehehe ... #tebarconfetti

Reply review no account:

Yoichidea syhufellrs: Saya juga suka uke tsundere, uke tsundere ... playing hard to get, but that's what makes them so cute :D Kalo untuk tipe itu favorit saya Hibari Kyoyanya KHR ... hehehe. Sasu, sekarang di pikiran saya demi cerita ini fix jadi semenya Naru. Sama kayak Kaka yang fix jadi semenya Yama/Iru padahal sebenernya pengen banget saya bikin dia jadi uke :D

Lightning Fang: Owh, seneng ada nama baru selain yang biasanya review. Terimakasih juga udah baca fic yg satunya lagi. Mudah-mudahan betah ngikutin Pandemonium: Revival ini sampai akhir! Btw baru aja saya kasi cliffie lagi ya? :D

ORYblack: Maaf kemaren lupa dibales! Hiks... saya fokus nyelesein chapter kemaren itu sih. Lamaaa banget slesenya. Terimakasih buat read dan reviewnya.

Buat Ai HinataLawliet yang kemaren nambahin review lagi :D Kaka nekat nyatuin YamaIru dlm satu rumah? Itu sih kerjaan saya bukan Kaka ... hehehe. Iseng-iseng berhadiah siapa tahu nanti terjadi yang nggak" :P Tapi karena yang bersangkutan nggak keberatan jadi saya lanjutin aja #diraikiri+mokuton

Oke, sekian dan terimakasih! Happy belated SasuNaru Day, everyone!

Sei