Aku senang sekali banyak yang suka dengan ff sampinganku [From the Start], terima kasih sekali lagi atas Favorite, Follow dan Review kalian, terima kasih juga untuk Visitor dan Viewer yang mau membaca ff ini. Aku tau kalian sudah sangat greget-tan membaca ff ini, karena aku juga benar-benar mulai greget menulis ff ambigu, tapi kalian harus benar-benar sabar, dan menunggu.
Notice :
Aku mulai hobi nulis cerita maju-mundur dan PoV dari karakter yang berbeda.
Mohon maaf dan maklum dengan typo di chapter lalu, sekarang dan mendatang. Aku akan memperbaikki secepatnya. Tapi kalau lagi malas aku juga akan tetap memperbaikkinya, hanya saja dengan waktu yang sedikit lama.
Declaimer : Yuri on Ice not mine!
ada kemungkinan aku g' bisa update minggu depan, jadi aku update agak cepet, sebagai Author dengan kekuatan... THOR! *jdeeeeerr!*
Enjoy (0v0)b
-o0o-
Chapter 10
-o0o-
"Yuri, aku ingin kamu menikah dengan putri mahkota dari kerajaan Fairy di sebelah Utara" tanganku terhenti untuk menyuapkan pirozhkis kedalam mulutku.
Mataku menatap sosok yang ada di depanku, Lilia Baranovskaya, ratu dari Fairy yang tinggal di dalam hutan sebelah barat kerajaan Russia, mata zamrudnya menatapku dengan penuh ketegasan dan jelas mengatakan kalau dia tidak mau mendengar jawaban negative dari mulutku, aku menundukkan kepalaku, kembali menyuapkan potongan pirozhkis terakhir yang ada di piringku "aku… mengerti" sekilas aku melihat ada rasa puas dari wajahnya yang sedikit keriput dan di tutupi oleh make up super tebal.
Aku mengundurkan diri dari meja makan dan tebang keluar dari istana kecil yang tersembunyi di dalam pohon beringin yang sangat besar, kedua sayapku membawa tubuhku naik ke puncak pohon, di mana aku membuat kamar rahasiaku, bulan purnama selalu masuk kedalam tempat persembunyian kecilku ini, disini, adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa benar-benar istirahat, satu-satunya tempat aku bisa mengeluarkan semua perasaanku.
Saat setelah aku masuk kedalam, bulir air mata jatuh dari mataku, membuat sebuah aliran kecil di bawahnya, perasaan depresi dan stress bercampur aduk di dalam diriku '…tidak mau… aku tidak mau lagi menjadi boneka di dalam istana ini, aku muak dengan semua ini!' kemudian muncul sebuah ide gila dalam otakku, aku sempat meragukan ide gila tersebut, tapi dengan segenap keberanian dan tekad kuat, aku harus mewujudkan ide gila tersebut '…demi kebebasan'
-o0o-
"hah… hah…!" nafasku terus berpicu dengan cepat, setelah berhasil menyelinap keluar dari istana tempat aku tinggal, aku terbang sekuat tenaga menujuh ke arah selat timur, arah berlawan dari tempat tinggalku. Mana di sekitar sayapku sedikit menipis saat mulai memasukki kawasan kota yang di tinggali oleh Elf, aku tidak tau sama sekali di mana aku sekarang, tapi yang jelas sekarang, sayapku terasa mati rasa di udara dingin. Pelan namun pasti, aku terbang rendah di balik pepohonan, mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat tubuh dan sayapku hangat di sekitar pohon.
Pandanganku mulai menggelap "kuh…" kali ini sayapku benar-benar berhenti bergerak, aku tidak tau sebabnya, tapi aku bisa merasakan tubuhku mulai jatuh kebawah.
Di sisa kesadaranku, aku mempersiapkan diri dengan benturan yang keras dan sakit, tapi tidak, aku justru jatuh di sesuatu yang lembut dan hangat. Lelah dan rasa tegang dari tubuhku lepas sekatika merasakan kehangatan dari –entah apapun yang ini, tapi aku merasa sangat tenang dan rileks saat kulitku bersentuhan dengan sesuatu yang menjadi tempatku berbabaring sekarang.
-o0o-
"Yuratchka, sarapan" tidurku terusik oleh suara pria? Tunggu… PRIA?! Dengan gerak cepat aku membangunkan diri, mataku masih belum membiasakan diri dengan cahaya terang di sekitarku, saat semuanya sudah terlihat dengan sangat jelas, kali ini otakku yang memproses ke adaan di sekitarku.
'aah… iya… benar juga, tadi itu mimpi…' aku meregangkan kedua tanganku, di bawahku, Beka –er… Otabek terlihat sedang memakan sesuatu semacam roti "apa itu?"
"Baursaki*" Otabek merobek roti yang ada di tangannya menjadi sebuah potongan kecil, lalu memberikan potongan tersebut padaku, tanganku meraih potongan tersebut dan memakannya dalam pace pelan. Mataku memperhatikan sekitar, si gendut dan kakek tua tidak terlihat di manapun, yang ada hanya teman si gendut yang sedang bermain perang salju di kejauhan "Viktor dan Katsuki sedang berburu makannan"
Aku mengangkat sebelah alisku "kanapa?" tanyaku di sela gigitan roti yang sudah tinggal setengah di genggamanku.
"Katsuki masih belum biasa dengan makannan matang" ucap Beka sebelum dia menegak minuman yang setahuku bernama Aryan*.
"tapi dia bisa memakan roti dan sup yang ada di penginapan tadi pagi!" aku merasakan Otabek menganggukkan kepalanya pelan 'dia juga memakan roti yang aku bawa kemaren…'
"memang benar, tapi makanan yang kita konsumsi sehari-hari dengan makanan yang di konsumsi Warebeast berbeda, mereka memang bisa memakan yang kita konsumsi, tapi bukan berarti rasa lapar mereka terpenuhi…" Beka menuangkan minumannya di tutup botol dan memberikannya padaku yang masih duduk di atas kepalanya. Aku memasukkan potongan terakhir kedalam mulutku dan menerima pemberian Beka, langsung meminumnya sampai habis "…sama seperti dirimu yang sebenarnya tidak memerlukan makannan"
Aku terbang turun dari kepalanya dan meletakkan tutup botol yang aku pegang di telapang tangannya "...memang tidak, karena aku bisa hidup hanya dengan Mana yang masuk kedalam tubuhku, tapi itu hanya bertahan dalam beberapa hari" sayapku membawaku terbang mengitari Otabek yang mengemas sisa dari makanannya "tubuhku juga butuh energy dan nutrisi untuk hidup"
"dan begitu pula Warebeast, makanan utama mereka adalah daging mentah, daun herbal dan buah, tanpa ketiganya, mereka akan melemah dan..." Beka tidak melanjutkan penjelasannya, aku bisa menebak kelanjutannya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Walau wajah Beka –er… Otabek, tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, aku bisa melihat ada cahaya di matanya menghilang dan menunjukkan sorot mata sedih.
'aku tidak mau melihatnya bersedih…' dengan gerakan cepat, aku berubah menjadi sosok Elf, menyimpan sayapku di dalam tubuhku, untuk tidak menghalang pergerakanku dalam tubuh ini. Pelan, aku mengalungkan kedua tanganku di bahunya, memeluknya dari belakang. Tubuh Otabek sempat tegang sesaat, tapi kemudian melemas dan tangannya mengelus kepalaku pelan "…aku tidak mau melihatmu sedih, Beka" aku yakin dia sudah banyak menghadapi banyak kematian dalam pekerjaannya sebagai Paladin.
Otabek mengangguk singkat "terima kasih Yuratchka…" aku melepaskan pelukanku saat mendengar langkah kaki yang mendekat dari kejauhan.
"selamat pagi Yurio" aku melihat kearah belakang dan mendapati seekor serigala besar berwarna hitam dengan mata gold mercury yang menyala terang.
Aku melihat Viktor sedang duduk santai di punggung sang serigala "hei Yurio! Mau mencoba menaiki punggung Yuuri? Bulunya sangat hal –USGH!"
Brusgh!
Aku tidak membiarkan Viktor menyelesaikan kalimatnya setalah melancarkan tendangan sempurna hingga membuat tubuhnya jatuh di atas salju dengan posisi kepala duluan "Yurio! Jangan kasar pada Viktor!" aku hanya mendengus kesal dan mendudukkan diri di punggung si babi yang menatapku bingung dari sudut matanya, aku bisa melihat ada senyuman yang melebar di balik bulu pada rahangnya, aku melirik kearah lain, menghindari kontak mata si babi yang seperti tembus melihat kedalam pikiranku.
Beka tertawa singkat dan membantu Viktor untuk berdiri "sebaiknya kau menjaga Fairy-mu dengan baik sebelum dia membunuh seseorang"
"diam kau kakek tua!" aku bisa merasakan kibasan ekor di belakangku yang kemudian mengelus kaki kiriku dengan gerakan halus.
"Yurio, language" ucup si babi pelan tidak melihat kearahku, gerakan halus di kakiku terus bergerak naik turun dan kemudian berhenti saat yang bersamaan tubuhku merasa lebih rileks di atas punggungnya "pegangan"
"ha? Apa maksud –hwaaa?!" detik berikutnya dia lari dengan sangat cepat dan menembus sela-sela pepohonnan, mendekati para teman-temannya yang masih asik melempar salju satu sama lain. Tanganku menggenggam erat bulu di sekitar tengkuk lehernya.
"in coming!" teriak si babi sialan yang kemudian tiba-tiba berhenti dan membuat aku melepaskan peganganku dan terjungkal kedapan, punggungku jatuh di atas tumpukkan salju dan kemudian tawa riang menggema di sekelilingku.
"ooff! Itu benar-benar direct hit Yuuri!" ucap –yang aku duga si tikus hitam, di sela tawanya.
"sudah lama aku tidak melihat ada yang terjungkal dari punggung Yuuri-kun" ucap si cebol.
"tuan muda Yuuri, tidak boleh begitu! Kasihan Yurio!" dan kali ini aku bisa merasakan kalau aku di bantu untuk menduduk diri oleh si burung jadi-jadian.
"scanning selesai, tidak luka serius pada tubuh Yuri Plisetsky"
Aku duduk diam dan menundukkan kepalaku, tanganku mengepal erat, mengenggam tumpukkan salju dan kemudian melemparkannya dengan penuh amarah, hampir mengenai si tikus hitam "MATI KALIAN SEMUA!" aku menggunakan sihirku dan membentuk lebih banyak bola salju, kemudian melemparkan bola saju di sekitarku dengan kecepatan tinggi menggunakan sihir angin.
"WAAAA!" mereka semua lari dan menghindari setiap lemparan bola saljuku, aku makin memperbanyak jumlah amunisiku dan memperbesar bentuk mereka.
Untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, ini adalah rutinitas pagi yang paling mengesalkan.
-o0o-
Saat kami sudah sampai di Saint Petersburg, kami tidak langsung pergi berkeliling, justru langsung menuju arah mansion di mana Viktor tinggal "kalau begitu, aku dan Yuri akan kembali ke istana" ucap Otabek setelah sampai di depan pagar mansion.
Viktor mengangguk dan tersenyum pada Otabek "ok, bilang pada yang mulia kalau aku off untuk 1 minggu penuh"
Otabek mengangguk pelan dan melangkah pergi menuju arah istana, aku masih belum bergerak dari tempat dudukku di atas punggung si babi yang masih dalam bentuk serigalanya "Yuratchka…!" aku baru mulai bereaksi saat mendengar suara panggilan Otabek yang sudah sedikit jauh. Pelan, aku mulai turun dengan sangat berat hati, karena harus meninggal tekstur lembut dan hangat yang sudah menjadi salah satu favorite-ku.
"kami akan keliling kota besok" ucap Viktor secara tiba-tiba "kamu bisa ikut setelah mendapatkan persetujuan dari Otabek" lanjutnya, kali ini di iringi oleh kedipan mata –yang membuatku merinding dan jijik.
"berisik! Itu bukan urusanku! Lagi pula Otabek bukan orang tuaku! Terserah aku mau kemana!" aku berbalik dan meninggalkan mereka dengan langkah besar, dari kejauhan aku bisa mendengar seseorang yang mengatakan sampai jumpa besok, aku tidak tau dan tidak peduli siapa yang mengatakannya, yang jelas sekarang aku hanya perlu mengikuti Otabek kembali ke istana –ruang medis istana. Sepanjang perjalannan aku terus memikirkan perkataan Viktor 'Otabek bukan orang tuaku… kita hanya… teman' aku bisa merasakan dengan jelas ada rasa sesak dan sakit yang misterius di dadaku '…benar… teman, hanya teman…' mataku beralih melihat punggung Otabek yang berjalan dengan pace yang pelan di depanku '…dan aku yakin Otabek tidak mau merusak pertemanan kami…'
Semenjak si babi –m… Yuuri, meninggalkan kehidupan kami sekitar 10 tahun lalu, sikap Viktor kembali menjadi sebelum dia bertemu dengan Yuuri –setidaknya itu adalah pendapat dari Otabek, yang sudah mengenal Viktor dalam waktu yang lama. Awalnya aku bingung dengan apa yang Otabek maksud, karena aku hanya mengetahui hubungan Viktor dan Yuuri selama kurang dari 2 hari, tapi kemudian aku mengerti dengan apa yang Otabek maksud. Setelah berpisah dengan Yuuri, Viktor bertingkah sangat dingin dan selalu menjaga jarak.
Aku selalu di buat muak dengan senyum yang selalu terlihat palsu di mataku, terlebih lagi kebiasaan barunya hampir tidak tidur dalam beberapa hari, itu yang membuatku selalu mengunjunginya dalam 3 hari sekali, untuk memberikan potion buatan Otabek untuk membantunya tidur.
"Yura…?" aku mengangkat kepalaku saat suara Otabek memanggilku.
'sudah sampai…?' mataku menyusuri ruang medis yang terlihat sama sekali tidak tersentuh, aku melangkahkan kakiku menuju arah kamar mandi yang ada di pojok ruangan.
"aku akan pergi untuk memberikan laporan singkat pada yang mulia" Otabek berjalan ke arahku setelah menaruh barang bawaannya di atas meja kerjanya "…aku akan segera kembali" bisikkan dari suara husky-nya membuat jantungku berdetak sangat kencang, aku bisa melihat Otabek tersenyum tipis padaku, ibu jarinya mengusap pipiku singkat, dan kemudian pergi –menghilang di balik pintu.
Ada rasa bahagia dan hangat yang menjalar dengan pasti di dalam dadaku, wajahku benar-benar terasa panas sekarang. Pelan, aku menarik nafas dalam dan menggelengkan kepalaku 'tidak boleh… aku tidak boleh jatuh cinta pada Otabek… kita…' aku menelan semua rasa bahagian dan hangat dari sentuhan kecil yang di lakukan Otabek padaku, memaksa perasaan tersembunyiku untuk terus berada di pojok hati dan pikiranku, menjaga mereka agar tidak bisa keluar dan menyebar '…kita hanya teman…' semua perasaan itu berubah menjadi rasa sesak dan sakit ketika aku terus mengulang kata teman didalam otakku.
-o0o-
Tik Tok Tik Tok
Di ruangan medis yang sepi, aku hanya bisa mendengarkan suara dari jam yang ada di pojok ruang. Aku mendengus bosan dan menutup buku ke-3 yang sudah selesai aku baca 'lama… kemana dia pergi?' aku meregangkan kedua tanganku, meninggalkan meja kerja Otabek dan berjalan masuk menuju sebuah pintu di sebelah pintu kamar mandi.
Klek… blam
Di dalam ruangan ini adalah kamar pribadi Otabek, dindingnya berwarna coklat dengan sebuah jendela kecil, interior yang hanya berisi single bed, lemari baju dan beberapa tumpuk buku tebal di pojok kamar. Di atas kasur, ada sebuah jas putih milik Otabek yang biasa di kenakannya kalau sedang menangani pasien. Jas yang sama saat Otabek menyembuhkan sayapku yang robek di hari pertama kita baru saja berkenalan dengan satu sama lain. Aku mengambil kain putih tersebut dan mendekapnya erat, samar aku bisa mencium bau obat yang becampur dengan bau manis madu. Aku tersenyum pada diriku sendiri saat mengingat Otabek yang selalu membawa botol madu kemana-mana.
'Ini adalah snack'
Ucapnya dengan wajah dan nada yang sangat datar, saat aku menemukan sekitar satu lusin botol madu di laci meja kerjanya, sebulan setelah Yuuri pulang ke Jepang. Diam-diam aku memberikan Otabek sebuah nickname baru selain Beka "…Ota-bear…" ucapku pelan, menjatuhkan diri di atas kasur empuk dengan jas putih Otabek yang masih ada di dalam pelukkanku, tubuhku yang tegang perlahan mulai rileks dan lemas, aroma madu dan obat di sekitarku membuat aku mengantuk '…aku harap aku terbangun, sebelum Otabek kembali'
-o0o-
Hangat dan sangat nyaman, apapun yang memeluk tubuhku, aku merasa sangat nyaman di dalam pelukan hangat ini. tanpa membuka mataku, aku melingkarkan sebelah tanganku pada benda hangat yang memelukku.
…
'Tunggu sebentar, benda hangat? Yang memelukku?'
Aku membuka mataku, dan yang pertama kali aku lihat adalah kain hitam yang bergerak naik turun dengan pelan, lalu kemudian aku melihat sebuah tangan berotot yang memeluk tubuhku cukup erat tapi tidak sampai membuatku sesak. Aku dapat mendengar detak jantungku sendiri yang memberontak untuk mencoba keluar dari dadaku, pelan, aku mengarahkan pandanganku ke atas. Nafas dan jantungku berhenti dengan apa yang aku lihat, sosok yang membuat aku hampir gila selama beberapa tahun belakangan ini, sosok yang diam-diam membuat aku harus menyembunyikan perasaanku, dan sosok yang tertidur dengan rileks sambil memeluk tubuhku!
'ke –kenapa?! Kenapa bisa Otabek tidur –' otakku melakukan kilas balik dengan sangat cepat, kemudian wajahku memanas dengan sendirinya 'ASTAGAA! DEMI CELANA DALAM IBUKU, AKU BERSUMPAH KALAU AKU TELAH TERTANGKAP BASAH, TERTIDUR DI ATAS KASUR SAMBIL MEMELUK JAS-NYA!' tuhan, aku memang tidak percaya dengan keberadaanmu, tapi kenapa kamu memberikan cobaan seperti ini padaku?!
Aku kembali membuka pandanganku, memastikan sesaat kalau ini bukan mimpi. Untuk sekian lama, otakku memproduksi sebuah ide gila yang mungkin akan membunuhku dalam penyakit gagal jantung. Tanganku yang masih memeluk Otabek menyelip dan menyentuh kulit Otabek. Aku bisa merasakan otot di punggungnya yang padat di sekitar kulit pada jemariku. Pelan tapi pasti, aku memindahkan arah sentuhan dari jariku, kearah lekukkan otot perut Otabek, aku jelas bisa merasakan jariku bergetar saat menyentuh satu persatu pack yang terbentuk dengan sempurna di tubuhnya '…kumohon… jangan bangun' aku menarik tanganku dan mengarahkannya kearah wajah Otabek, menyentuh rahang di wajahnya yang kokoh "sleep well, Ota-bear" Pelan, aku menarik tubuhku naik dan dengan gerakan cepat, aku mencium bibirnya, walau hanya sekilas, aku bisa mencium dan merasakan rasa manis dari madu yang mungkin dia makan sebelum tidur.
Tidak mau tertangkap basah lagi, aku segera mengubah ukuran tubuhku menjadi ukuran Fairy dan terbang keluar kamar melalu sela fentilasi yang ada di atas pintu.
"…bagus… sekarang aku merasa sudah menjadi seekor Fairy yang mesum…"
A/N :
Tidak kuat? Ya, aku juga tidak kuat dan GATAL!
Aku bersumpah pada diriku sendiri kalau aku hampir gila menulis moment terakhir tadi. setelah menulis chapter ini, Perutku migrain, kepalaku encok dan mataku sembelit. Plus, aku menulis moment di atas sambil mendengarkan lagu intoxicated – lagu SP-nya crish.
Just review me if you need more GATAL moment! *lol*
*Baursaki : roti goreng *sedang malas menjelaskan resep, mirip ca'kue*
*Aryan : Yougort dan bawang putih, blender, dan… jreng! Siap minum!
Hope, See you next week! (0w0)b
