Disclaimer: I do not own Inuyasha!
A/N : Mari kita menghela nafas sejenak, chapter ringan ini berisi percakapan Sesshoumaru dan Kagome.
Burung berkicau bersahut-sahutan dengan riangnya, cahaya matahari pagi menerangi dari sela-sela dedaunan yang rindang. Kagome terbangun dengan kaget saat seekor kumbang dengan tidak peduli menari di wajahnya, menggelitik kulitnya. Dia meluruskan kakinya yang terasa kaku, tidak hanya kaki tapi seluruh tubuhnya. Tertidur karena kelelahan dengan tubuh tertekuk di tanah hanya dengan bersandar di pohon ternyata amat sangat tidak nyaman, pikirnya. Dia merentangkan kedua tangannya, menguap lebar, kepalanya menengadah ke langit. Sinar matahari yang silau membuat matanya memicing, dia menegakkan punggungnya, dia menggeram nyaman. Bunyi keretak terdengar saat dia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan sedikit tenaga lebih, dia selalu melakukan itu untuk mengurangi rasa pegal yang bergelayut di lehernya. Disaat Kagome itulah dia melihat Sesshoumaru masih dengan posisi yang sama bersandar di bawah sebuah pohon besar, matanya terpejam damai.
Kagome menyandarkan lagi kepalanya ke pohon, ingatan kemarin langsung menyerbu masuk ke otaknya, sedikit kedamaian yang baru saja ia rasakan langsung menguap begitu saja. Apakah semua itu telah terjadi ataukah itu hanya mimpi? Takigawa, miko, Sesshoumaru, dan pertarungan. Itu kenyataan! Kedua pedang itu masih di sisi tubuhnya, dia meraih kedua pedang itu dan menggenggam Yoarashi dan Odachi kuat-kuat. Apa yang terjadi kemarin bagaikan potongan-potongan memori yang buram dan kelam. Kebenaran yang belum ia temukan tidak terasa sakit lagi di dadanya, sepertinya ia sudah putus asa mencari kebenaran itu.
Dari apa yang dia tangkap kemarin, dia mengerti bahwa Takigawa memang mengenal bahkan mencintai ibunya, ibunya pernah tinggal sebagai tangan kanan Takigawa hanya itu yang dia ketahui. Potongan mozaik yang telah dia kumpulkan tidak lebih dari serpihan kecil dari gunung es yang masih tenggelam di lautan yang dalam. Namun di dalam hati dia menyakininya, kemungkinan besar ayahnya adalah Takigawa yang kini tinggal nama. Tidak ada sesal sama sekali yang mengisi hati Kagome telah membunuh ayahnya sendiri , itupun bila apa yang diyakininya itu adalah kenyataan. Sulit untuk merasa bersalah bila mengingat tajamnya kata-kata yang diucapkan oleh Takigawa.
Bila aku memang ayahmu pun aku tak akan mengakuimu sebagai anakku, kalimat yang telah terlontar itu menutup semua pilihan di hati Kagome. Andaipun dia benar ayahnya, Kagome tidak akan mau mengakuinya sebagai ayah setelah penolakan yang diterimanya. Memang Kagome terbiasa dengan penolakan dan kebencian karena dia adalah hanyou, tapi dia tidak akan memaafkan orang yang menelantarkan dia dan ibunya yang terkucil selama bertahun-tahun lamanya. Ingatan yang menyiksa itu membuat wajah Kagome meringis seperti menahan sakit, hatinya terasa kebas, seakan mati. Semua pertumpahan darah, luka, sakit, adalah hal biasa yang dilihatnya. Saat ini dia harus memulai lagi hidup hampanya dari awal, walaupun dia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana.
Mengingat Takigawa membuat bayangan miko berambut cokelat yang menolongnya kemarin kembali berkelebat. Cinta, ketulusan, dan pengorbanan miko itu dibalas dengan penghianatan Takigawa. Bagaimanapun juga peristiwa tragis itu terus terulang kembali di kepalanya. Wajah miko yang tersenyum memandang Takigawa, wajahnya saat meregang nyawa yang menahan sakit tetapi tersenyum tulus. Apakah itu yang disebut kedamaian? Apa yang dilakukan miko itu teramat bodoh menurutnya, tapi siapa dia untuk menghakimi orang lain? Dia tidak memiliki hak untuk itu karena tangannya sendiripun berlumuran dengan darah. Dia hanyalah seorang hanyou yang tidak pernah merasakan cinta selain dari ibunya. Kagome bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Dai youkai congkak yang sepertinya terluka cukup parah. Dia mengusir jauh bayangan yang terjadi diantara Takigawa dan miko itu dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dari semua hal yang terjadi satu yang dia yakini, dia tidak akan sebodoh miko itu! Itu adalah janjinya dalam hati.
Kagome berhenti saat Sesshoumaru sudah berjarak tiga kaki di hadapannya, ragu-ragu dia mendekat untuk meletakkan pedang Odachi di samping Sesshoumaru. Kedua matanya terpejam, tidak pernah Kagome melihat youkai dengan wajah sepertinya. Keindahan rupa yang dimilikinya bagaikan ciptaan Kami-sama yang terindah, dia sangat tampan. Dengan mata terpejam seperti sekarang tak ada sama sekali kesan kejam dan mematikan yang biasanya memancar dari dirinya, dia terlihat begitu damai. Kagome amat terpukau dengan apa yang dilihatnya, dia menelusuri kedua garis magenta di pipi Sesshoumaru dengan pandangannya. Penelusurannya bergerak ke telinganya yang meruncing lalu ke rambut silvernya yang panjang terurai terlihat begitu halus dan lembut. Baju pelindungnya telah hancur, pakaiannya yang terbuat dari sutra kotor dan robek di beberapa tempat, jejak pasti pertempuran hebat kemarin. Di pinggangnya bertengger dua pedang yang tersangkut di obi-nya, yang satu tak salah lagi pedang yang digunakannya untuk menyelamatkannya dan yang satu lagi dia gunakan untuk bertempur dengan Takigawa.
Dua pedangpun tak cukup untuknya dasar youkai yang serakah, pikir Kagome.
Mengapa dia tidak juga sadarkan diri sedangkan tidak ada luka yang jelas terlihat darinya? Apakah serangan Takigawa sekuat itu? Kagome mengutuk dirinya sendiri, pertanyaan itu telah ia ketahui jawabannya. Serangannya yang tak mengeluarkan sepenuh tenaga saja sudah membuatnya tak berdaya hingga dia harus ditolong miko itu, walau Sesshoumaru kuat tapi serangan petir Yoarashi pasti benar-benar berpengaruh kepadanya. Kagome mundur perlahan, dia tidak ingin menganggunya, lagipula monster di dalam perutnya sudah berteriak meminta persembahan.
Setelah melihat Sesshoumaru dia meneliti keadaannya sendiri yang tanpa disangka sangat kacau. Kimononya sudah tidak berbentuk seperti kimono, lubang memanjang kini menjadi hiasan. Kimono biru tua itu sudah berubah warna menjadi biru gelap bercampur coklat dan abu-abu. Darah, tanah, dan debulah yang menghiasinya. Kuncir kudanya sudah terlepas sebagian, rambut hitam legamnya mencuat dengan acak ke berbagai arah. Seluruh tubuhnya dilapisi oleh selapis debu, tanah, dan dedaunan kering yang menempel. Kagome memasang telinga berusaha mendengarkan dimana letak sumber air terdekat, akan sangat beruntung bila dia bisa menemukan sumber air panas. Telinga berbentuk segitiga miliknya bergerak kecil menghadap arah utara, Kagome pergi dengan satu lompatan cepat tanpa suara.
Sesshoumaru membuka mata saat bunyi gemerisik terdengar, tapi tidak ada siapa-siapa kecuali tupai yang memandangnya dengan takut sebelum mengambil sesuatu di hadapannya lalu memanjat pohon dengan cepat. Bau wanita itu walau tipis telah terdeteksi oleh penciumannya yang tidak dapat dibohongi. Belum lagi Odachi tak bersarung yang kini ada di sampingnya, adalah bukti jelas keberadaan hanyou itu disana beberapa waktu yang lalu. Sesshoumaru memandang pedang itu tanpa gairah, dia memikirkan Takigawa yang masih harus diselesaikannya, selain itu pikirannya dipenuhi oleh ribuan pertanyaan akan teka-teki baru yang Takigawa lemparkan kepadanya.
Apakah yang dikatakan Takigawa itu benar? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ketiga penguasa yang lain bersekongkol untuk membunuh ayahnya? Siapakah yang membunuh ayahnya? Ayahnya terlalu kuat untuk dikalahkan oleh salah satu dari mereka, apakah ibunya belum mengetahui yang sebenarnya? Sesshoumaru langsung membuang kemungkinan itu, Ibunya adalah salah satu dari garis keturunan inu yang terkuat karena itulah ayahnya menjadikannya pasangan. Sangat mustahil untuk menutupi kebenaran dari ibunya, dia bisa mengetahui apa yang ingin dia ketahui dari berbagai cara. Karakter dengan dominasi yang kuat, tipe yang disegani siapapun juga termasuk pasangannya. Dia harus segera mengkonfirmasi hal itu dengan ibunya secepat mungkin setelah dia sudah pulih.
Sesshoumaru memejamkan matanya, merasakan bagian-bagian mana saja tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih. Dampak serangan itu cukup besar hingga membuatnya lemah seperti ini, kekuatan petir dari pedang Takigawa sangat menyulitkan siapapun lawannya tidak terkecuali untuknya. Dia pasti sudah musnah bila saja dia tidak menyandang Tenseiga. Pedang yang tidak berguna untuk bertarung tapi pedang yang sangat bermanfaat dalam keadaan terdesak, walau bagaimanapun Sesshoumaru sama sekali tidak pernah mengalami keadaan terdesak sekalipun setelah ratusan tahun hidupnya. Dan pertarungan dengan Takigawa kemarin adalah satu-satunya pengalaman yang tidak menyenangkan, dia tidak akan menganggap remeh lagi lawan sekuat Takigawa.
Sejujurnya baru kali ini Sesshoumaru mengakui kegunaan Tenseiga miliknya, pedang itu memberikannya pertahanan yang terbaik yang dibutuhkannya. Kekuatan Tenseiga menyelimutinya saat petir Takigawa yang akan berdampak fatal tinggal beberapa milimeter lagi akan meraihnya. Tidak hanya itu, Tenseiga juga membantunya menghilangkan jejak keberadaannya dari penglihatan, penciuman, dan pendengaran sang lawan. Tenseiga akan membawanya ke tempat teraman untuknya memulihkan diri disaat-saat darurat. Tenseiga dan Bakusaiga adalah gabungan yang pas, sebuah serangan yang maha dahsyat dan sebuah pertahanan diri yang tidak tertembus sedikitpun. Sedangkan Odachi? Lagi-lagi dia berpikir ingin menyingkirkan pedang itu, setidaknya dia akan mencari tempat teraman untuk menghancurkan Odachi agar tidak dapat dimiliki oleh orang lain. Pikirannya terpotong saat mengingat siapa yang mengembalikan pedang itu ke sisinya, hanyou itu, tidak salah lagi dari aroma yang bisa diendusnya
-.
Kagome telah mencuci bajunya agar bersih dari segala kotoran yang menempel, dia menjemurnya di dahan pohon besar yang terpapar sinar matahari pagi. Sambil menunggu bajunya kering dia berendam, jiwanya menjadi lebih tenang setiap kali dia berendam. Kegiatan itu adalah sebuah kemewahan baginya, sangat jarang sekali dia bisa merasa tenang melakukan sesuatu. Entah mengapa hari ini menjadi berbeda baginya, seakan ini adalah hari pertama di hidupnya. Sinar matahari menghangatkan hatinya, nyanyian burung meneduhkan jiwanya. Bunyi gemericik air membuatnya tmerasakan kedamaian, dia seakan menyatu dengan alam. Dia hampir siap melepas dendamnya dan akan berusaha mewujudkan keinginan terakhir ibunya, hampir.
Setelah selesai berendam, kimononya sudah setengah kering, Kagome memakainya lagi dan siap berburu sarapan. Dia melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, buah yang tidak terlalu ranum itulah yang pas menurutnya. Kagome memetik empat buah, jumlah yang cukup untuknya. Baru saja di hendak melahap buah pertamanya, tiba-tiba dia teringat Sesshoumaru yang masih tidak sadarkan diri, walaupun dia tidak terlalu yakin apa yang dimakan olehnya. Sebagian besar youkai hanya melahap manusia, sebagian kecil suka melahap youkai lain atau hanyou seperti dirinya dengan alasan untuk memperoleh kekuatan lebih dari apa yang dimakannya. Dan sebagian besar lainnya suka melahap apa saja yang mereka temui entah itu hewan, buah-buahan, makanan manusia atau manusianya itu sendiri, dalam kata lain youkai itu melahap apa saja yang berada di depannya. Kagome tidak yakin Sesshoumaru termasuk tipe yang terakhir itu.
Kagome mengendap-endap di dahan pohon tidak jauh dari tempat Sesshoumaru bersandar, mengintainya sejenak sebelum melompat turun dan mendekatinya. Dia membawa beberapa macam buah, ikan yang telah dia bakar, dan air di wadah minum yang ditinggalkan oleh manusia di dekat sumber air panas yang tadi dikunjunginya. Entah apa yang dipikirkannya, melakukan semua itu untuk Sesshoumaru. Sepertinya Kagome tidak memikirkan lagi apa yang sedang dilakukannya, dia hanya mengikuti desakan di dalam dirinya.
Kagome sedikit terperanjat dengan apa yang dilihatnya, kimono sutra Sesshoumaru tidak lagi seperti saat ditinggalkannya. Tidak ada lagi kotoran atau sobekan di beberapa tempat seperti sebelumnya, semuanya sempurna seperti sedia kala lengkap dengan armor pelindung besi di dadanya, kecuali ketiga pedang yang kini ikut bersandar di batang pohon. Mata Sesshoumaru masih terpejam dengan damai seperti sebelumnya, Kagome terus berjalan mendekat tanpa sadar ia berhenti saat jarak mereka tinggal selangkah lagi. Dia berjongkok dihadapan Sesshoumaru lalu meletakkan semua yang dibawanya perlahan, matanya masih menatap lekat wajah dingin Dai youkai itu.
Mata yang terpejam itu serta merta terbuka, emas yang hangat menatapnya lurus ke mata Kagome dengan wajahnya datarnya. Jantung Kagome seakan hendak melompat keluar dari badannya, dia terkesiap. Mata Sesshoumaru beralih sesaat ke benda-benda yang dibawa Kagome di tanah, lalu pandangannya beralih kembali ke Kagome. Kagome mundur selangkah, lalu berbalik hendak pergi, saat itulah suara Sesshoumaru mencapai telinga anjingnya.
"Sesshoumaru ini tidak butuh kepedulianmu" dia membuang muka.
Kagome terdiam di tempat, tanpa berbalik dia menjawab "Kamu tidak perlu mengambilnya, bila tidak mau" Dia pikir dia itu siapa, heh? Batin Kagome berteriak dengan sengit.
"Aku tidak butuh balas budimu" ucapnya dengan nada yang sedingin dan sekeras danau di puncak musim salju.
Ugh, dia benar-benar youkai yang sangat menyebalkan! Semakin Sesshoumaru dingin kepadanya semakin dia merasa tertantang untuk lebih mengganggunya, tidak ada ketakutan sama sekali di diri Kagome. Keberaniannya itu bukan berasal dari Yoarashi yang kini terikat di obinya, tapi lebih karena rasa ingin tahunya yang besar kepada Sesshoumaru yang saat ini sepintas terlihat tidak berdaya.
Kagome berbalik, kedua tangannya berada di pinggangnya "Aku tidak merasa berhutang budi padamu" sentaknya dengan jengkel.
"Pergi!" seru Sesshoumaru.
"Jika aku tidak mau" tantang Kagome sambil tersenyum nakal.
Sesshoumaru menolehkan kepalanya, dia memandang Kagome dengan tatapan tajam tapi tidak berkata apa-apa. "Lakukan apapun yang kau inginkan" lalu dia membuang muka lagi, memandang jauh ke pepohonan.
Kata-kata Sesshoumaru seakan acuh tapi, rasa penasaran miliknya lah yang membuat dia membiarkan hanyou itu berada di sekitarnya. Bila dia mau, dia bisa saja bangun untuk mengusirnya, tapi itu tidak dilakukan karena itu akan sangat bertentangan dengan keinginan hatinya yang selalu haus akan sesuatu yang tidak dia pahami. Hanyou di hadapannya saat ini adalah salah satu misteri yang ingin dia pecahkan, dan hanyou itu menggenggam pedang Takigawa!
"Bagus kalau begitu" kata Kagome dengan nada riang.
Kagome duduk di hadapan makanan yang dibawanya, kedua kakinya bersilang. Dengan satu tangan dia menahan kimono diantara kedua pahanya, mencegah daerah pribadinya terlihat. Dia mengambil sebuah apel besar lalu melemparkannya kepada Sesshoumaru. Lemparannya dengan mudah ditangkap Sesshoumaru walau tanpa melihat ke arahnya. Kagome mengambil sebuah apel lagi lalu menggigit dengan satu gigitan besar yang menimbulkan bunyi nyaring.
Sesshoumaru memberikannya pandangan marah yang mematikan tetapi Kagome mengacuhkannya, dia sama sekali tidak memandangnya. Pandangannya terpaku kepada apel yang telah digigitnya, sambil mengunyah dia menelusuri bentuk apel itu, mengagumi bentuk cantiknya, warna indahnya, dan rasa manisnya yang selaras dengan itu semua. Sesshoumaru memandangnya sekilas dengan heran sebelum kembali menolehkan kepala ke arah lain selain ke arah mahluk di depannya yang benar-benar tidak menghormatinya.
"Kenapa kau tidak memakannya? Enak loh" Kagome melihat sekilas kepada Sesshoumaru yang menaruh apel itu begitu saja ke tanah.
Kagome menyodorkan ikan bakar yang ditaruhnya di atas selembar daun di hadapan Sesshoumaru. Setelah menunggu beberapa saat tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kagome mengangkat bahunya, lalu meneruskan lagi mengunyah apel di genggamannya.
"Aku tidak memakan makanan manusia"
"Lalu, apa yang kau makan? Sesshoumaru-sama" nama Sesshoumaru dan suffix yang digunakan Kagome diucapkan dengan nada yang meledek.
"Itu bukan urusanmu, wanita"
"Apakah youkai lain atau manusia?" tanyanya penasaran.
"Kau mengganggu" nada datar lain yang keluar dari mulu Sesshoumaru.
"Hm..." bola mata Kagome bergerak-gerak ke kiri atas, dia mengangkat bahunya. "Aku penasaran, apa yang masuk dalam kategori 'tidak mengganggumu' bila seseorang membawakanmu makanan dan minuman kau anggap itu sebuah gangguan?" untuk pertanyaannya yang ini Kagome tidak benar-benar mengharapkan sebuah jawaban dari mahluk angkuh seperti Sesshoumaru.
"Kau tahu, aku sangat iri denganmu. Bagaimana mungkin kau bisa bersih dalam sekejap? Aku menghabiskan waktu lama untuk membersihkan kimonoku dari sisa-sia pertarungan kemarin dan kau.." Kagome mengangkat kedua tangannya di udara dengan kedua telapak tangan menghadap ke atas, menunjukkan keheranannya.
Tidak ada jawaban terucap, Sesshoumaru benar-benar tidak mengindahkan Kagome.
Tindakan Sesshoumaru membuatnya sedikit kesal "Hei!" panggil Kagome, dia tidak mau repot-repot dengan menyembunyikan kejengkelan yang dirasakannya. "Apakah efek serangan Takigawa kemarin membuat telinga kau tidak dapat mendengar hah?"
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, wanita?" tanya Sesshoumaru dengan malas, ia hanya meliriknya sekilas dengan sudut matanya.
"Wanita, wanita" Kagome mendengus kesal "Aku punya nama tahu, namaku Kagome! Ka-Go-Me!"
Sesshoumaru masih memalingkan wajahnya.
Merasa diacuhkan Kagome kembali membuat apel ditangannya menjadi titik fokusnya, dia menggigit buah manis itu "Bila kau tanya apa yang aku inginkan? Aku hanya membawakanmu makanan, tidak ada niat lain yang kumiliki" Kagome berbicara dengan mulut penuh apel, dia menelan makanannya lalu balik bertanya "Bila kau bertanya mengapa aku mau membawakanmu makanan, itupun aku tidak tahu jawabannya" baru saja Kagome memberikan gigitan terakhir di apelnya saat Sesshoumaru bertanya.
"Apa yang kau inginkan dengan berusaha membunuh semua penguasa?" mata emas itu kini memandangnya tajam, menusuk.
Wajah riangnya menghilang, sisa apel itu dibuangnya kebelakang tubuhnya begitu saja. "Bila kau mengetahuinya pun kau takkan peduli" jawabnya dengan tegas, dengan suara yang sedikit pecah. Kagome menatap balik Sesshoumaru dengan mantap "Dan kau, apa tujuanmu menyerang semua penguasa wilayah?" Kagome balik bertanya.
"Hanya akan ada satu penguasa" Sesshoumaru masih menatapnya lekat-lekat, tatapannya tajam.
"Jadi, kau lah sekarang sang penguasa itu?" nada Kagome menyindir, satu sudut bibirnya bergerak-gerak kecil menahan senyum.
"Bagaimana pedang Takigawa ada di tanganmu, wanita?" dia tidak menanggapi sindiran Kagome yang sangat jelas.
Kagome berdecak, merasa sedikit kesal karena nama panggilan itu lagi yang Sesshoumaru gunakan untuknya. Dia memilah-milah apel lain yang ada di tangannya, dia mengangkat satu, lalu menggigitnya lagi sebelum menjawab pertanyaan Sesshoumaru.
"Pemiliknya sudah tidak ada lagi, lalu pedangnya aku ambil. Sederhana kan?" dia mulai mengunyah. "Mm... yang ini lebih manis" matanya bersinar-sinar memandang apel itu bagaikan memandang sebuah harta karun.
"Kau membunuhnya" sebuah pernyataan yang lain keluar dari mulut Sesshoumaru, tidak ada keterkejutan yang terlihat dari wajahnya bila dilihat secara sekilas.
Kagome menelan dengan susah payah, entah gigitannya terlalu besar atau kata-kata Sesshoumaru yang membuatnya tersedak. Dia memukul dadanya dengan tangan kirinya "Sepertinya, iya" katanya dengan acuh, dia mengambil wadah minum itu "Kau tidak mau kan? Kalau begitu aku minum" dia meminum sedikit.
Sesshoumaru marah dan merasa terhina atas kenyataan yang di dengarnya, hanyou itu tidak hanya selalu berada di jalannya tetapi juga mengambil semua tugas yang seharusnya dia lakukan. Matanya memicing, tangannya terkepal.
Kagome merasakan aura Sesshoumaru memancar dengan ancaman "Apa?" tanyanya polos, tapi otaknya bekerja keras bagaimana cara untuk menghindar dari lawan bicaranya yang pemarah bila dia menyerang mendadak.
"Kau memiliki pedang itu, kau penguasa wilayah Selatan sekarang" Sesshoumaru memalingkan wajahnya. "Aku akan membunuhmu segera setelah aku pulih, aku memberimu kesempatan untuk lari sekarang" nadanya penuh dengan janji untuk menjadikan apa yang dikatakannya menjadi kenyataan.
Tanpa di duga Sesshoumaru, Kagome malah tertawa kecil, tawanya merdu "Kau pikir aku ingin jadi penguasa wilayah, heh? Itu terdengar bodoh! Seperti aku membutuhkannya saja" dia berkata setelah tawanya usai. "Aku hanya menyukai pedangnya, kau boleh memilikinya bila kau mau" matanya bersinar jenaka.
"Berhenti menghinaku hanyou!" perintah Sesshoumaru tegas, membuat Kagome merengut.
"Kau tidak asik" dia bergumam. "Aku tidak terlalu butuh pedang untuk bertahan hidup, tidak sepertimu" Kagome memandang ketiga pedang Sesshoumaru dengan tatapan mengejek.
"Pergi!" kali ini nada Sesshoumaru lebih keras.
"Ada apa denganmu hah?" Kagome mencabut pedang dari ikatan di obinya, lalu melemparkannya ke samping Sesshoumaru. "Ambilah! Aku tidak membutuhkannya" baru saja Kagome berbalik ingin pergi, tiba-tiba sebuah tangan yang besar memerangkap kedua lengannya.
Tangan kiri Sesshoumaru melingkari dada Kagome, memenjarakan kedua lengannya. Sedangkan tangan yang lain menempelkan bilah pedang Yoarashi di leher Kagome yang halus. Yoarashi semakin menekan kuat di kulit Kagome, siap memuncratkan darah dari urat nadi di lehernya saat Sesshoumaru mengutarakan pertanyaannya dengan sungguh-sungguh "Katakan apa tujuanmu?" pedang itu terasa dingin saat menekan kulitnya, sedikit lagi di tekan kulit terluarnya pasti akan robek dengan mudah.
"Tujuanku adalah membalaskan dendam ibuku, satu-satunya tujuan hidupku yang telah tercapai! Kini aku sudah tidak lagi mempunyai tujuan hidup, kau ingin membunuhku? Silahkan" Kagome tersenyum sinis.
"Jangan terlalu menyanjung dirimu sendiri hanyou, kau akan dengan sangat mudah kukalahkan"
Nafas Sesshoumaru yang panas membelai bagian belakang telinga anjingnya, mengirimkan sinyal yang membuat seluruh rambut kecil di tubuhnya berdiri.
"Buktikan!" tantang Kagome.
"Tidak ada kebanggaan membunuh seseorang yang mengharapkan kematian. Menjauhlah dari jalanku!" perintah Sesshoumaru dengan suara baritone miliknya yang dalam.
"Aku tidak ingin berada dijalanmu" sentak Kagome " Dan aku pun tak tahu mengapa aku memperdulikanmu, youkai yang pernah berusaha membunuhku, dan melecehkanku!" semburnya berapi-api.
Satu sudut bibir Sesshoumaru terangkat sedikit untuk sekejap mata "Itu bukanlah sebuah pelecehan bila kau menikmatinya".
Telinga Kagome berkedut terkena nafas Sesshoumaru yang menggelitik, wajahnya memerah bila mengingat apa yang pernah dilakukan Sesshoumaru, apa yang pernah tubuhnya rasakan saat itu karena ulahnya.
"Aku tidak menikmatinya" Kagome gelisah menyadari situasinya saat ini, tubuh Sesshoumaru yang erat mendekap. Hidung dengan penciuman super itu tidak hanya dimiliki olehnya sendiri tapi juga dimiliki oleh Sesshoumaru. Kebohongannya akan dengan mudah terbongkar karena saat ini pun tubuhnya mempunyai reaksi spontan untuk menghianati kata-katanya, reaksi yang sangat dibencinya bila dia berada dalam jarak satu meter dari Sesshoumaru.
"Kau bohong"
"Kau sombong" ucap Kagome dengan ketus "Dan aku membenci youkai sombong sepertimu" imbuhnya, masih dengan emosi yang mulai bergolak.
Sesshoumaru membuat satu tarikan nafas cepat dan kuat "Aku bisa mencium bau kebangkitanmu"
Suara berat Sesshoumaru membuat Kagome bergidik. Jantungnya mulai berontak di rongga dadanya, dia sendiri pun bisa mencium bau dari cairan di bagian bawah tubuhnya yang semakin banyak keluar setelah mendengar kata-kata Sesshoumaru.
"Jangan lupa aku pernah menyelamatkan nyawamu, dua kali" Sesshoumaru berkata di telinga kiri Kagome, membuatnya merinding untuk alasan yang lain selain takut. "Dan seharusnya kau mengabdikan dirimu sebagai pelayanku seumur hidup atas rasa terima kasih karena telah kuselamatkan nyawamu, walau dengan pasti akan kutolak penawaranmu itu"
"Aku menjadi pelayanmu?" Kagome tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya berguncang "Itu akan terjadi bila gunung Fuji terbenam di dalam tanah, lagipula aku tidak memintamu menyelamatkanku" protesnya.
"Hn, kau benar" nadanya tenang.
Pedang yang menekan erat leher Kagome mulai mengendur, membuatnya bisa sedikit bernafas lega.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" tanya Kagome "Kau ingin membunuhku?"
"Tidak ada yang kuinginkan dari hanyou sepertimu, membunuhmu hanya akan mengotori tanganku" kata-kata Sesshoumaru perlahan, datar, namun menusuk hati.
Kagome marah mendengarnya, apakah darah seorang hanyou akan mengotori tangan seorang Dai youkai? Dengan cepat dia berbalik badan, walau dia masih terperangkap dalam lengan besar Sesshoumaru. Darah mengalir dari lehernya yang tergores tipis oleh pedang saat dia berbalik badan, pedang itu kini berada di leher belakang Kagome. Cakar Kagome berada di leher Sesshoumaru dengan posisi siap merobek, dia menatap lurus mata emas itu dengan garang.
"Kau ingin mati?" tatapan Sesshoumaru tertuju kepada tetesan darah Kagome yang mengalir turun ke dadanya, aroma darah wanita itu mengirimnya kembali ke ingatan saat mereka berada di gua.
"Iya, tapi setelah aku membunuhmu lebih dulu" suara Kagome mantap, tidak ada keraguan sedikitpun di kata-katanya.
Hening sesaat, yang terjadi selanjutnya tidak terduga. Pedang itu ditancapkan begitu saja ke tanah oleh Sesshoumaru, pandangan Kagome masih tertuju kepada pedang itu saat kedua lengan besar Sesshoumaru memenjarakan tubuhnya yang kecil.
"A,apa yang kau lakukan?" Kagome tergagap, dia meronta berjuang melepaskan diri dari perangkapnya.
Sesshoumaru sekuat tenaga berjuang melawan keinginan 'konyol' yang dia rasakan, keinginan untuk memeluknya dan tunduk kepada hasrat yang baru-baru ini muncul bila berada di dekat wanita itu. Kedua sudut alisnya berkumpul di tengah, dorongan yang ia rasakan begitu kuat. Baunya, tatapan marahnya, pipi yang bersemu kemerahan, bau darahnya begitu menarik dirinya untuk melakukan sesuatu yang akan dia sesali nantinya. Kagome, nama itu terus terngiang-ngiang di kepalanya saat ia mengucapkannya. Dia terlihat begitu rapuh bila dalam dekapannya, sepertinya dia tidak bersungguh-sungguh ingin lepas dari dirinya
"Kau ingin tahu apa yang ingin kulakukan atau kau ingin Sesshoumaru ini melakukan apa padamu?" Sesshoumaru bisa mencium bau kebangkitan Kagome yang tipis.
Kedua tangannya berusaha mendorong dada Sesshoumaru, "Aku tidak mengerti maksudmu" Kagome menggeram marah. "Yang aku mengerti adalah aku akan dengan sangat mudah mengalahkanmu karena tubuhmu yang masih belum sepenuhnya pulih,"
"Kau menghinaku hanyou" Sesshoumaru melepaskannya dengan satu hentakan yang kasar.
Kagome melompat mundur beberapa langkah, dia tertawa kecil "Buktikan kalau ucapanku salah dan hukum aku kalau kau bisa, youkai congkak sepertimu sesekali harus mencium tanah" tantangnya, matanya berkilat-kilat dengan semangat.
"Aku ragukan itu" Sesshoumaru menatap mata Kagome dengan tajam "Dengan mudah aku bisa membuatmu memohon kepadaku dan menangis dengan menyebut namaku" dagu Sesshoumaru terangkat, pandangannya penuh ejekan.
Entah mengapa kalimat yang baru saja keluar dari mulut Sesshoumaru terdengar bermakna ganda di telinga Kagome.
"Kalau begitu buktikan!" tantang Kagome berapi-api.
Kagome berdiri dengan posisi siap bertempur.
"Ambil pedang milikmu! Sesshoumaru ini tidak akan mau bertarung melawan seseorang yang tidak bersenjata apalagi seorang wanita" kemudian dengan sekejap pula dia sudah mundur beberapa meter di depan Kagome.
Sesshoumaru berdiri dengan gagah, sisa-sisa luka pertarungan kemarin seperti tak bersisa.
"Agar pertarungan ini menjadi semakin menarik, ayo kita bertaruh" usul Kagome dengan nada meledek.
Satu alis Sesshoumaru terangkat "Bukankah cukup nyawa menjadi taruhannya?" sebenarnya memikirkan hanyou itu mati saja sudah membuat sesuatu di dalam dirinya terusik, dia akan kehilangan sebuah objek yang bisa memberikannya kesempatan memenuhi rasa penasarannya. Sejak semula bila Kagome kalah sepertinya Sesshoumaru akan membuat alasan untuk mengampuni nyawanya.
Seakan menjawab pikiran Sesshoumaru, Kagome mengusulkan ide yang dia sendiri pikir gila "Aku akan menjadi pelayanmu bila kau bisa mengalahkanku, dan sebaliknya" membayangkan mempunyai pelayan pribadinya adalah Dai youkai penguasa wilayah Barat sangat menggelitiknya, ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak tapi dia menutupi semangatnya dengan sebuah seringai yang terpasang di wajah. Kalaupun Sesshoumaru tidak mau menerima usulnya lalu dia kalah kemudian terbunuh toh tidak apa-apa baginya, tidak ada lagi yang memberatkannya di dunia ini. Siapapun yang memenangkan pertarungan ini tetap Kagome lah pemenangnya.
Kedua kelopak mata Sesshoumaru terbuka lebar sepersekian detik lalu kembali ke wajah tenangnya seperti semula, usul Kagome mengejutkannya tapi ia menyanggupinya.
"Baiklah, Sesshoumaru ini tidak akan mengingkari janjinya, bila aku kalah aku akan memegang janjiku, begitupun denganmu" dia mengatakannya dengan sangat yakin. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalam dirinya bahwa dia akan memenangkan pertarungan dengan Kagome.
"Ayo, kita mulai kita lihat siapa yang akan memohon. Siapa yang tersudut dialah yang kalah" Kagome tersenyum lebar.
E/N : Minna-san penasaran gak sih sama apa yang dimakan Sesshoumaru? Di anime kan dia bilang gak makan makanan manusia, tp ngebayangin Sesshou yg anggun makan youkai lain gak bgt, klo makan manusia? Deket desa manusia aja dia jijik sama baunya apalagi makan manusia XD
Kalo gw penasaran bgt dan sampe sekarang belum ketemu jawabannya, dan mungkin memang gak ada jawabannya selain mengira-ngira.
Ini link forum di ffn tentang apa yang sebenernya dia makan, itupun gak ada jawaban pastinya tp tetep seru dibaca hehe :D topic/2675/123483/1/A-question-that-boggles-my-mind-What-the-hell-does-Sesshoumaru-eat
Thanks to Tamiino, Kimeka dan Kenozoik yankie. Minna saiko arigato ^.~
