Disclaimer: Hetalia: Axis Powers © Himaruya Hidekaz.
Warning: MULUT ARTHUR.
Summary of the previous chapter: Italy membunuh France untuk membalas dendam Holy Roman Empire, sebelum berlanjut untuk mengontak Liechtenstein dan membujuknya untuk membunuh dirinya sendiri (dan berhasil). America menghilang, berikut dengan Italy yang dituduh sebagai penculiknya. Hingga pada suatu hari, Germany mendapatkan telepon darinya yang menyuruhnya untuk pergi ke Venesia dan menghadapinya langsung. Yang terjadi selanjutnya: Pride and Prejudice.
Chapter 9: Pride and Prejudice
Dia disambut oleh Romano yang telah berdiri di balkon pintu, lengan disilangkan seperti seorang bos mafia (yang tidak perlu dikatakan lagi memang adalah pekerjaannya). Mata sekeras batu amber,dengan warna sehalus batu amber, dengan tubuh serapuh batu amber, dan dengan hati yang hidup selama batu amber, tak hancur-hancur, letih dengan dunia.
"Roma-,"
"Diamlah, otak kentang, jangan bertanya," dia masih bisa mendengar retaknya suaranya yang biasanya selalu dipenuhi amarah yang sekarang nihil pada pembicaraan kali ini, sebagaimanapun Romano telah berusaha menyembunyikannya dengan alis coklatnya yang dikerutkan. "Kau tidak akan dapat jawaban apa-apa dariku."
Tanpa ragu-ragu, langsung ia balas dengan satu pertanyaan mantap, "Karena kau tidak mau atau karena kau tidak tahu?"
Sesaat Romano terdiam dan memilih untuk berbalik badan sehingga hanya punggung kecilnya yang ditatap oleh mata biru Germany, sedang ia membuka pintu mansion dengan jari-jarinya yang kecil. Setelah pintu kayu itu benar-benar terbuka seutuhnya dengan suara rengekan daun pintu yang membuat merinding—menampilkan koridor gelap yang tidak mengizinkan mata melihat sejauh lebih dari lima meter, barulah Romano membalasnya dengan suara yang letih tanda menyerah,
"Betapapun aku benci disamakan olehmu, aku mengaku bahwa aku sama tidak tahunya denganmu."
Hanya itu saja—Romano tidak berkata apa-apa lagi, dalam kebungkaman memasuki koridor gelap yang depa dan meninggalkan Germany sendirian di luar. Tapi dia sudah mengerti, ooh, betapa mengertinya dia tentang perasaan itu—seolah-olah tatapan mata dan gerak tubuh bisa berkata-kata bagai sajak—sehingga tanpa kata-kata pula ia mengikuti Romano berjalan di belakangnya. Dan tidak—pintu tidak tertutup sendirinya seperti apa yang biasanya terjadi di sebuah rumah gelap bergaya gotik yang ada di buku-buku. Germany menutup pintu itu sendiri dengan satu tangannya, tetapi tetap suara deritan kayu diadu dengan keramik yang ditimbulkan oleh pintu penghalang matahari luar itu bagai teriakan sepi di malam senja. Misterius, tidak ada yang tahu siapa, dan begitu sendirian.
Intinya sama saja.
Dia mendongak, dan menemukan bahwa Romano telah jauh ada di depan sana, hampir tak terlihat lagi dengan pandangan matanya yang begitu terbatas pada kegelapan ini (apa-apaan itu, sang pemilik rumah membiarkan saja dirinya dan tamunya berkeliaran di dalam rumah tanpa satupun penerangan, sehingga terlihat bahwa mansion milik keluarga Vargas yang terletak di Venesia ini seperti rumah gelap bergaya gotik yang penerangannya hanyalah lampu redup yang entah kenapa absen pada situasi kali ini? Memang klise, tetapi Germany tahu bagaimana perasaan sang tokoh karakter yang berada dalam situasi seklise ini). Jadi cepat-cepat kakinya melangkah untuk mengejarnya.
Romano memang belum berjalan terlalu jauh –walau memang kegelapan yang menyelimuti mereka berdua memberikan ilusi yang berkata lain-, tetapi, dalam singkat waktu jarak antara mereka berdua yang ia lalui hanya dalam beberapa detik, Germany telah berhasil menemukan satu pertanyaan yang sejak dua minggu lalu berdiam di benaknya, tak bisa dijawab.
"Ada di mana kalian selama dua minggu ini?"
Sambil tetap berjalan dengan gema suara kaki 'tuk, tuk, tuk,' yang dibantu dilemparkan oleh dinding-dinding di sisinya, Romano memutar wajahnya ke samping untuk melihatnya yang masih mengikuti di belakang. Lalu, jawabnya dengan nada pelan, dengan nada yang pasti akan terdengar arogan kalau saja tidak sedang berada dalam situasi seperti ini, "Ada di sini."
Bagaimanapun juga, dia tidak memperkirakan jawaban itu. Germany mengangkat alis emasnya.
"Kalian berdua tidak ada di sini. Kami semua sudah mengeceknya sampai ke ujung-ujung mansion. Kecuali kalau maksudmu 'ada di sini' yaitu 'ada di Italy'."
Dan kali ini, barulah Romano menyeringai cukup satir. "Tidak pernah dengar tentang konsep ruang bawah tanah, otak-kentang?"
Begitu pula dengan Germany—yang mampu memperlihatkan sebuah ekspresi agak sengit mendengar jawaban Romano yang memprovokasi. "Tentu saja. Ruang bawah tanah yang letaknya di tengah-tengah ruang penyimpanan rum, tersembunyi di gentong-gentong anggur yang masih penuh terisi. Pintunya kayu, dengan gagang besi yang agak karatan. Kurasa kami tidak sebegitu bodohnya sampai bisa melewatkan hal seperti itu."
"Pssh, sudahlah," Romano menyelanya dengan sebuah dengusan sombong sambil menggoyang-goyangkan tangannya tanda meminta untuk segera mengabaikan subjeknya saja. "Kau tidak tahu apa-apa—yah, namanya juga ruang bawah tanah; didesain agar orang lain tidak tahu. Mmm. Kurasa Veneziano tidak memberitahumu tentang hal itu."
Ya, kan. Kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu apa-apa tentang Feliciano, bahkan sampai tidak mengerti tentang masalah orang yang kau bilang kau 'cintai' ini. Kau—
Germany cepat-cepat menolak suara itu sebelum dia sempat berkata-kata lebih jauh. Tidak sekarang. Jangan sekarang. Jangan—jangan…
Diamlah!
…
Lalu semuanya terasa hening. Sekali lagi, hanya ada gema suara kakinya yang berjalan. Dia berhasil menghalau suaranya –sebentar- tetapi ia yakin 'dia' tidak akan menyerah begitu saja. Tetapi apa yang bisa dilakukannya, kecuali membiarkan Romano mengantarnya ke sebuah koridor yang berbelok tajam? Suara-suara yang hilang diserap oleh kedua orang yang berjalan dengan rasa antagonisme masing-masing terhadap yang lain (dan satu terhadap sesuatu di dalam dirinya), terjebak dalam benaknya sendiri. Suara yang ada hanyalah suara hati masing-masing, yang terdengar begitu keras di tengah-tengah suasana seperti ini. Tentu saja, hanya terhadap orang itu sendiri, tidak terhadap orang yang lain.
Saat-saat seperti inilah yang membuatnya tidak merasa nyaman—baiklah, dia mengaku, takut. Karena pada saat-saat seperti inilah suara-suara di dalam kepalanya bisa terdengar paling keras—orang itu, maksudnya—tidak ada lagi halangan apapun untuk berteriak seperti orang gila.
Dan yang paling menyeramkan adalah: tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri.
Sekali lagi, itu membuatnya takut.
(Hembusan napas lelaki yang ada di depannya terasa berat. Dan dipaksakan)
Takut.
"Kau takut, Romano."
Romano berhenti. Dan barulah Germany tersadar bahwa lelaki itu telah mengepalkan tangannya sedari tadi—terlihat dari warna merah muda yang menghilang dari kulitnya yang telah menjadi seputih susu. Dia membalikkan wajahnya. Sesaat Germany melihat wajah ketakutan seorang Italy yang menangis ketika England menginvasi tanahnya pada saat perang dulu—saat ia melihatnya menyerah dalam tangan-tangan dan pistol-pistol para personifikasi negara Sekutu yang diarahkan padanya. Tapi itu bukan dia. Dia Romano, bukan Veneziano. Kemiripannya dengan adiknya –yang bukan kembarannya!- terkadang membuatnya merasa tak nyaman.
"Apa?"
Romano menatapnya dengan pandangan kesal—penuh amarah. Kedua alisnya mengernyit turun, dan mata ambernya berkaca-kaca seperti permata yang basah ditetesi air. Ia seperti ingin berteriak padanya, tetapi hal itu tidak dilakukannya. Oh, malah jauh dari itu.
"Kenapa harus kau, Beilschimdt...?"
Romano melemparkan dirinya ke Germany.
Tidak—tidak. Bukan melemparkan dirinya lalu menabraknya dengan serangan kepala spesial a la Romano, atau memukulnya di perut dengan melompat untuk menambah kekuatan hantamannya—Romano memeluknya. Benar-benar melingkarkan tangannya di sekitar pinggangnya dan membenamkan kepalanya ke dadanya.
"Ro-Roma-,"
"Selamatkan Veneziano."
Ia mengatakan hal itu dengan suara berat, dan Germany merasakan pelukan Romano semakin dieratkan ke tubuhnya, membuatnya mengernyit kesakitan untuk sesaat—ternyata memang benar rumor bahwa personifikasi kedua bagian negara Italia mempunyai kekuatan yang tidak seharusnya dipandang sebelah mata, yang sayangnya tak pernah mereka perlihatkan sama sekali di medan perang—
—"Veee. Bukannya tidak mau, tetapi aku tidak menemukan alasan untuk berperang, Ludwig. Atau mengangkat pistol. Aku tidak mau menghabiskan tenagaku untuk sesuatu yang tidak didasarkan alasan apapun untuk melakukannya. Eeh, vee? Perintah bos? ...Aku tidak menyukai status quo seperti itu. Aku melakukan hal yang kumau, yang kuanggap benar, bukan karena perintah orang lain—vee! Yaa, Ludwig! A-air! Air buat masak pastanya tumpah kemana-mana..."
Mereka butuh alasan untuk melakukan sesuatu. Bukan perintah ataupun status, tetapi emosi dan perasaan.
"Veneziano—Feli... Si bodoh itu... A-aku tahu dia sering sekali menahan tangis! Bodoh... Bodoh... D-dia sering sekali mencoba menyembunyikan dirinya—menangis."
Bagaimanapun juga, mereka masih manusia. Bisa merasakan senang dan sedih. Kebahagiaan dan kesakitan.
Dia membalas pelukan Romano dengan menaruh satu tangannya di pundaknya, sedang Lovino yang bergetar menahan tangis tidak pernah sekalipun melepaskan pelukannya dari tubuh Ludwig.
Aku tak pernah tahu, Feliciano, pikirnya sedih sambil menatap ke langit-langit koridor mansion Vargas yang terlihat lembab dan kotor.
Ya, kau tak pernah tahu, Ludwig. Hanya aku yang tahu. Hanya aku, karena aku adalah orang yang di—
"...Aku akan mencobanya, Romano," mulainya pelan sambil melepaskan tubuh kecil Romano dari pelukannya. Personifikasi setengah bagian selatan dari negara Italia itu menggeram kecil sambil tetap menundukkan mukanya—paling tidak ia tidak ingin terlihat begitu lemah di hadapan 'otak-kentang'-nya. Dan Germany tahu bahwa ia bukan seorang personifikasi Spanyol, sehingga ia membiarkannya begitu saja. "Tidak. Aku akan melakukannya."
Romano mengangguk walau masih terlihat agak sesenggukan. Ia menghapus bulir-bulir kristal mata yang ada di pipinya dengan punggung tangannya, lalu mengangguk sekali lagi, sebelum berputar arah sehingga Germany kembali lagi diperlihatkan punggung yang lemah itu.
"...Aku tidak akan bilang terimakasih, otak-kentang. Itu pekerjaanmu—itu kewajibanmu untuk menjaga Veneziano, sialan."
Kau tidak melakukan pekerjaan itu dengan baik.
Germany mengangguk, walau ia tahu bahwa Romano tidak bisa melihatnya. "Ya."
Sisa perjalanan mereka menyusuri koridor itu hanya diisi dengan keheningan. Tak lama, sebelum Germany menyadari bahwa ini adalah koridor yang disusurinya beberapa minggu yang lalu bersama dengan Japan untuk mencari Italy yang (ia pikir) bersembunyi di sini. Dan memang benar saja, Romano menuntunnya menuju pintu yang dahulu diintipnya bersama Japan. Pintu yang berdiri sendirian di ujung koridor, yang ia ingat hampa oleh satupun perabotan rumah.
Ia ingat melihat sosok misterius yang duduk di tengah-tengah ruangan ini pada saat itu. Sosok misterius yang tidak lagi ditemuinya pada saat pencarian mereka bertujuh mengikuti kejadian menghilangnya America dan Italy.
Kebanyakan dari fitur tubuhnya ditutup oleh sebuah kain hitam panjang yang jatuh sampai ke lantai marmer yang tampak dingin. Ia tampak memakai…topi hitam bermodel aneh yang mendiami kepalanya—hanya memperbolehkan mereka untuk melihat sedikit dari rambutnya yang tak tertutup oleh topi aneh itu—rambut dengan warna pirang seperti gandum ranum yang telah matang di sore hari—
"Fratello? Itu kau?"
Itu suara Italy.
Ia memang tidak bisa melihatnya sekarang, tetapi pada saat ini Romano menutup matanya rapat-rapat setelah mendengar suara dari adiknya. Alisnya mengernyit ke bawah—begitu pula dengan bibirnya yang berkerut lebih daripada biasanya. Romano menelan pelan-pelan air liur yang telah ditahannya di kerongkongan sedari tadi, dan menghela napas lamat-lamat.
Dia mendengar suara napas Romano yang berat.
Romano membuka pintu kayu yang ada di depannya.
Bukan sosok misterius berpakaian jubah hitam itu yang ada di sana, tetapi Feliciano, duduk di atas sebuah meja kayu yang kelihatan ringkih, berpakaian hanya sebuah kemeja berwarna biru tua yang agak terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil. Kakinya dibiarkan bergoyang-goyang di udara. Ia menimang-nimang sebuah pisau yang baru saja mulai merekahkan karat, memutar-mutarkannya dengan tangan kanannya. Senyumannya tidak tampak psikotik—malahan terlihat benar-benar senang secara tulus.
Dia merasakan sedikit kerinduan begitu melihat wajah Feliciano Vargas. Hampir tiga bulan tidak bertemu, tetapi dia masih Feliciano yang dicintainya. Tapi Ludwig pun tahu dia sudah bukan lagi Feliciano yang dulu. Feliciano yang dulu tidak akan menyunggingkan senyum yang tampak setengah-setengah seperti itu.
Entah itu membuat keadaan ini menjadi lebih baik atau lebih buruk, Ludwig masih belum tahu.
"Kulihat kau juga membawa Ludwig, Fratello." Feliciano tersenyum, kakinya bergoyang. "Aku senang kau bisa datang, Ludwig. Aku sudah menunggumu dari tadi. Aah, dan Fratello? Kau boleh pergi. Aku dan Ludwig harus membicarakan sesuatu yang sedikit…privasi di sini."
Romano seakan-akan ingin secepatnya mengambil langkah seribu dari sana, karena ia cepat-cepat berbalik ke arah koridor untuk melakukan apapun yang ingin dia lakukan yang tidak menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan masalah ini semua. Tetapi sebelum Romano sempat menginjakkan kakinya di luar ruangan, Germany telah menggapai lengannya terlebih dahulu.
"Dia tetap di sini," katanya tegas. Feliciano hanya melihatnya dengan ekspresi datar. Tetapi Romano cepat-cepat berteriak menolak.
"Apa-apaan, otak kentang! Lepaskan tanganku, sialan—," tetapi Germany merespon teriakan dan umpatan Romano itu dengan meremas pergelangannya lebih erat lagi.
Romano melihat tangan pucat yang meremas pergelangannya itu. Dia merasakan sakit, walaupun seketika itu pula ia mengerti. Dia menggigit bibirnya, mengerti dengan jelas apa yang dimaksudkan oleh Germany meremas tangannya itu, tetapi menimbang-nimbang dua pilihan yang sekarang bernaung di pikirannya. Germany tahu dua pilihan itu: pergi dari sini dan berpura-pura tidak melihat apapun yang telah dilakukan oleh adiknya, atau tetap tinggal di sini dan mendengar apa yang akan dikatakan oleh adiknya. Ia tahu bahwa Romano ingin tahu penjelasan dari segala hal yang telah dilakukan Italy—hanya saja Germany tidak tahu apakah dia mempunyai keberanian untuk melakukannya, mendengarnya.
Dan dia merasakan Romano berhenti melawan untuk melepaskan diri dari genggamannya. Germany menatap balik ke arah Italy, yang menghela napasnya—bukan terdengar lelah atau apa.
"Ya sudahlah. Tidak ada bedanya juga, sih, Fratello ada di sini atau tidak," katanya sambil mengedikkan kedua pundaknya.
Germany mengangguk berterimakasih. Baiklah. Dia memang tidak terlalu berharap banyak dengan keberadaan Romano, tetapi setidaknya ada seseorang yang dapat menemaninya di sini. Mungkin namanya seperti support moral, walaupun dia tahu Romano, dengan cara lain atau apapun, tidak akan pernah mendukungnya.
Tetapi keberadaannya di sini saja, tahu bahwa dia tidak sendiri, membuatnya nyaman.
Dia menutup matanya, merasakan kehangatan tangan Romano menyebar ke seluruh kulitnya. Dia menarik napas dalam-dalam. Dia akan melakukan ini, bukan? Ya, kalau tidak dia tidak akan mendapatkan jawabannya selamanya. Personifikasi negara Jerman itu melepaskan napas yang telah ditariknya, dan memulainya dengan sebuah pertanyaan yang paling ingin diklarifikasikannya: "Kenapa kau…membunuh France dan Liechtenstein?"
Bukannya tidak peduli dengan America atau apa; dia tidak pernah terlalu dekat dengannya selain menjabat sebagai salah satu anggota G8. Alfred hanyalah…yah, Alfred. Dia tidak bisa mendeskripsikan seorang Alfred selain sebagai personifikasi sebuah negara adikuasa. Itu saja.
Sedangkan, France dan Liechtenstein. France. Mendengar namanya pada buku-buku sejarah yang dulu Prussia sering ajarkan padanya, Germany pertama kali mengenal France pada saat Perang Dunia 2. Memang mereka melewatkan waktu bersama* hanyalah sebentar, tetapi beberapa percakapan di malam hari secara sembunyi-sembunyi dari bosnya membuktikan bahwa Francis bukanlah semua hal yang terlihat di depannya. Ya, France punya pikiran yang cukup 'kotor'; dia suka melemparkan candaan yang tidak seharusnya dikatakan pada saat rapat internasional, tetapi ternyata di balik itu France adalah seorang pendengar yang baik, yang di dalam matanya merefleksikan pikiran seorang lelaki tua bijaksana yang telah menanggung berbagai kewajiban di masa lalu—yang masih terus ditanggungnya sampai sekarang. Dan Liechtenstein. Pirang seperti dirinya—bagai gandum ranum yang matang di sore hari, dengan mata hijau yang seindah jamrud yang baru saja digali. Dia seorang gadis manis. Masih lemah. Belum bertumbuh fisik dan juga mentalnya. Hei, dia berbicara tentang personifikasi negara yang hampir mati saat Perang Dunia 2—yang jikalau tidak diselamatkan oleh Switzerland pada saat itu—mungkin hanyalah tinggal namanya saja yang tersisa pada buku-buku sejarah setebal kamus yang tak pernah tersentuh oleh tangan manusia. Terlupakan, seperti Prussia.
("Mungkin sekarang 'aku' sudah tidak ada-," kata lelaki berambut putih itu pada suatu hari. "Tapi Prussia—dan Ksatria Teutonik, tentu—akan hidup selamanya dalam pikiran para sejarawan-sejarawan awesome yang pintar dan hebat dan—dan—dan—uuh, kau tahu maksudku, West! Viva la Prussia!")
"Seseorang menyuruhku, Ludwig. Dia, orang yang benar-benar penting bagiku." Jawabnya, yang membuat Germany berhenti berpikir untuk sesaat. Ludwig menatap mata coklatnya yang menerawang ke tempat kosong di sebelahnya. Dia menyipitkan matanya, dan Feliciano berlanjut, "Alasannya... Alasannya kenapa ia menyuruhku untuk membunuh mereka, karena... karena... dia ingin mengembalikan semuanya seperti sedia kala, dunia yang sudah gila ini. Dan 'sedia kala' yang dia—tidak, kami berdua inginkan itu tidak ada Liechtenstein... Juga tidak ada France yang matanya gelap oleh kekuasaan tanah. Tidak, tidak. France yang kami kenal... adalah France yang, yang...baik."
"France adalah orang yang baik," bantahnya. "Dan kalau kau ingin bilang bahwa dia tidak seperti dulu, itu karena semua orang berubah. Termasuk kita."
"Kurasa dia berubah menjadi lebih buruk, no?" Feliciano mengedikkan bahunya. "Fratello Francis...dia melukai-nya. Dia melukai Reicher..." (Germany mendengar Romano menahan napasnya di belakang. Itukah...?) "Dia melukai Reicher... Reicher... Francis membuatku kehilangannya. Aku kehilangannya selama hampir sepuluh abad, Ludwig. Aku tidak bertemu dengannya... Dan, dan... Dan ketika aku bertemu dengannya lagi, dia lup-," Feliciano menggelengkan wajahnya. "Dia menyuruhku untuk membunuh mereka."
"Kau gila?" Ia membalikkan badannya dan melihat bahwa Romano telah melepaskan diri dari genggamannya (yang membuatnya sadar bahwa ia belum melepaskan genggamannya sedari tadi, melihat bahwa sekarang pergelangan tangan lelaki berambut coklat tua itu tampak sedikit merah). Ia tidak bisa menentukan ekspresi wajah itu menunjukkan antara ketidakpercayaan atau rasa jijik-kesal-marah-entahlah! Mata amber Romano mendelik dan seperti berteriak tidak percaya, kedua alisnya diturunkan seperti sewaktu ia marah. Mulutnya terbuka lebar, bergerak-gerak kecil seperti ingin mengucapkan sesuatu. "Fe-Feliciano... Kau buta apa? D-dia, Reicher—sudah mati sejak beratus-ratus tahun yang lalu—kau tahu, kau...kau tahu wine sialan itu tidak melukainya... Francis membunuhnya!"
"Dia tidak mati." Balasnya tak sampai Romano selesai mengambil napas. Sekarang mata coklat itu yang mendelik marah, dan bahkan jika ia tidak mengenal Italy lebih baik dari sekarang, Germany sudah akan mengira bahwa irisnya berwarna merah bata. "Reicher belum mati. Reicher...," Germany melihatnya menyelip turun dari atas meja, tetapi ia melakukannya dengan pelan-pelan bagai seseorang yang baru saja sembuh dari penyakit kronis dan sedang akan memulai berdiri dari atas ranjang setelah berbulan-bulan terkurung. Atau mungkin setengah sadar, melihat bagaimana ia berjalan agak goyah ke arah dirinya dan Romano berdiri.
Ia menggeram, dan tangannya bergerak ke kantong yang ada di celananya. Kosong. Germany mendecak dan mengumpat di dalam hatinya. Kenapa ia tidak mempersiapkan pistol terlebih dahulu? Ia memang seharusnya tidak terburu-buru, tapi mau bagaimana lagi—
Tidak. Tahan dirimu, Germany. Tahan, pikirnya sambil menutup mata, lalu menarik napas dalam-dalam.
Dia tidak akan bisa 'menyelamatkannya' dengan cara kekerasan seperti yang ingin dilakukannya. Tidak—cara kekerasan seperti itu malah akan membuatnya menjadi lebih 'takut'. Germany mengerti tentang hal itu, jikalau bertahun-tahun bekerja menginterogasi para tawanan perang telah memberinya suatu pelajaran.
Tetapi begitu ia membuka matanya, mata birunya bertemu dengan sebuah telapak tangan.
"Hey! Feli, aku berbicara kepadamu—!"
Perkataan Romano menghilang dibawa angin, tidak sedikit pun diindahkan olehnya ataupun Italy yang sekarang telah menyentuh pipinya dengan telapak tangan yang tadi dilihatnya. Ia bertatap-tatapan dengan pemilik bola mata berwarna coklat, yang sekarang terlihat seperti batang kayu pohon tundra yang kaku karena kedinginan. Kesepian.
Dan juga, tangan yang menyentuh pipinya itu dingin, tidak seperti tangan seorang Italy biasanya yang selalu disinari oleh kehangatan sinar matahari negara Mediterania yang terang. Dia hampir-hampir tidak bisa mengingat kehangatan yang ada di dalam telapak tangan Feliciano. Benar-benar berbeda dengan tangan Lovino yang tadi ia pegang. Padahal tidak sampai tiga bulan ia merasa kehilangan Feliciano Vargasnya, tetapi hal itu sudah terasa sangat, sangat lama sekali... Rasa kehangatan kulitnya itu...
"Ludwig, kenapa kau ada di sini?" katanya sendu sambil menangkup pipinya dengan kedua tangannya. "Kau tidak seharusnya ada di sini."
Ya, Ludwig, kenapa kau ada di sini? Kau tidak seharusnya ada di sini.
Dia menambahkan, "Kau harus pergi."
Kau harus pergi.
Diam. Diam. Diam. Kau, diamlah. Diamlah.
"Pergilah sekarang, Ludwig. Atau... atau..."
Atau aku akan membunuhmu.
Diamlah!
Kau tidak akan membunuhku. Aku tidak akan tunduk kepadamu. Aku tidak akan berakhir seperti Liechtenstein—malahan, aku akan menghilangkanmu dari sini.
Aku sudah berjanji, aku takkan kalah darimu. Aku akan menyelamatkan Feliciano. Aku. Aku.
Aku... "Tidak mau."
Keras kepala.
Dia merasakan kedua tangan Feliciano yang menyentuh pipinya tersentak. Dan melihat wajahnya, Italy terlihat terkejut dengan perkataannya. Tetapi Italy tidak berkata apa-apa, dan itu memberikannya kesempatan lagi untuk berbicara lebih lanjut.
"Aku... tidak bisa pergi, Feliciano. Aku sudah berjanji, pada Lovino, pada Japan—," pada diriku sendiri... "-bahwa aku akan menyelamatkanmu."
Dia meremas tangan itu. Dan menatap Italy lekat-lekat.
"Aku tidak bisa pergi, ketika Italy di sini masih membutuhkan pertolonganku."
Sesaat terdengar sebuah suara melengking yang bergema di udara—suara-suara seperti kuku yang digesek di atas papan tulis kapur yang akan membuat rasa ngilu dan bulu romamu berdiri. Ia menunduk, secara refleks menutup matanya sendiri dan bergetar sesaat ketika suara itu mencapai telinganya, dan hal yang ia tahu berikutnya adalah suara pintu kayu di belakangnya yang hancur berkeping-keping, dan sesosok lelaki berambut hitam telah berada di depannya. Pecahan-pecahan kayu tersebar di sekelilingnya; di atas, di bawah, dan di kedua sisinya. Lelaki itu telah memasang sebuah katana di depannya, dengan tubuh yang seakan-akan berhenti di udara—seakan-akan mengumpat pada sang waktu—walau ia tidak bisa membawa pedang itu untuk turun lebih jauh lagi, karena Italy telah menahannya dengan pisau kecilnya sendiri.
Tahu bahwa ia tidak akan menang dalam adu pedang, Italy segera meregangkan kakinya dan menendang Japan tepat di perutnya. Tendangan itu membuat lelaki Asia itu terselip ke belakang dan menabrak tubuh Germany, membawa mereka berdua jatuh ke bawah dengan suara berdebam yang jelas timbul dari punggungnya yang langsung berciuman dengan lantai. Krak! A-ah, sakit sekali! Tapi tak lewat sepersekian detik dari hal itu ia melihat sesosok tubuh –kali ini jauh lebih besar daripada Japan- melayang melewatinya. Kali ini ia benar-benar mendengar suara melengking yang membuatnya semakin merinding, dan menutup matanya rapat-rapat seakan-akan hal itu dapat mengecilkan suara itu.
Tapi di depannya, kedua orang yang ada di sana tampak tak mempedulikan suara besi yang bertampar dengan besi yang membuat bulu roma merinding. Kedua wajah orang itu dipenuhi dengan senyum puas, sedang tangan-tangan yang cekatan beradu kecepatan untuk menusuk/membanting satu sama lain.
"Waaah~, Komrad Italy~! Aku tak pernah tahu bahwa kau punya ketrampilan dengan pisau yang cukup...mengesankan~," kata Russia sedang tangannya tak pernah berhenti melayangkan pipanya untuk berusaha melayangkan hantaman.
"Vee~, terimakasih, Russia!" Balasnya sambil tersenyum, dan tiba-tiba saja Italy telah mengacungkan sebuah pistol tepat ke pelipis Russia. "Tapi kau tahu, bermain dengan pisau bukan satu-satunya ketrampilan yang kupunya, loh..."
"Atau tidak, Italy. Lepaskan pistol itu atau kutembak."
Datang dari arah pintu dengan mengokang sebuah senapan di pundaknya, mata hijaunya terbakar seperti pohon dalam kobaran api—England. Di sebelah kirinya terdapat Prussia, yang segera membantu dirinya dan Japan untuk berdiri dari lantai (ia mengerang kecil). Begitu pula dengan Spain yang segera memeluk Romano dari belakang—dan untuk kali ini saja, Romano tidak berteriak minta dilepaskan.
Tetapi perhatian Italy, yang sekarang berdiri berlawanan dengan ke tujuh orang* tersebut, tersedot ke arah senapan yang dipegang oleh England dengan erat.
"SA80*...," Italy bergumam, matanya membulat lebar. Sesuatu yang Germany anggap mirip dengan kekaguman malah membuat England menggeram lebih keras. Italy mengangkat salah satu alisnya tak percaya. "Ya ampun, kau berlebihan, England! Sampai membawa senapan seperti itu ke sini... Sudah seperti sedang berhadapan dengan teroris, ya? Aah, jangan bilang, kalian berdua juga membawa senapan, Prussia, Spain*?"
Pada saat yang bersamaan, Prussia dan Spain mengeluarkan sebuah pistol dari kantong masing-masing. Mereka berjalan menjauhi samping kiri dan kanan England, sekarang melingkari personifikasi negara bagian utara Italia itu dengan ancaman tembakan dua buah pistol dan senapan. "Mmm, nggak. Walau sebenarnya aku dan Antonio ingin membawa pedang dan kapak, sih. Tapi sayang sekali-," Prussia menggeleng sambil tersenyum penuh kejahilan, tetapi Spain yang ada di sebelahnya tetap mempertahankan wajah seriusnya, mata berwarna coklat tak pernah sekalipun berpindah dari targetnya yang ada di depan—adiknya tersayang: Italy Veneziano! "Rasanya repot, ya. Dan juga udah nggak zaman. Kita sudah bukan Ksatria Teutonik ataupun bajak laut lagi, Feli."
Italy tersenyum sedih. "Sayang sekali."
Germany menyipitkan matanya. Maksudnya 'mengembalikan ke sedia kala' itu?
Kedua alis England mengernyit lebih dalam, sehingga membuat hampir setengah dari wajahnya termakan olehnya. "Ya, ya. Sayang sekali, Italy Veneziano. Cepat lepaskan pistol itu dari tanganmu atau—,"
"Aaah, ya, ya. Aku mengerti. Atau kau akan membunuhku atau apalah, Inghilterra." Suaranya saat memanggil nama England dalam bahasanya sendiri datar, seperti bagaikan seseorang yang sedang memanggil kenalannya. Dengan tenang, kelima jari-jarinya yang lentik melepaskan dirinya dari gagang pistol itu. Pistol itu jatuh ke lantai, menghasilkan sebuah suara dentingan yang tidak mengenakkan. Tapi tak lama sesudahnya Italy menyeringai ke arah England yang membuatnya terkejut sesaat. Menyeringai seperti seekor kucing Cheshire—atau psikopat, dengan mata coklatnya yang mendelik ke arahnya seperti hyena yang mengintai buruannya.
"Hahaha... Apa kau marah, Arthur~? Ahaa~! Oh, ya, kau pasti marah, ya. Kau memang orang yang pemarah, sih. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang United Kingdom yang sekarang sendirian? Aah, maaf. Kau memang selalu sendirian, iya, 'kan, Arthur? Maksudku, kau hanya ditemani oleh Francis dan Alfred, 'kan? Aah, maaf, aku lupa, Arthur~! Francis dan Alfred, 'kan,sudah—MATI!"
Italy tertawa terbahak-bahak oleh karena perkataannya sendiri. Di lain pihak, hal itu membuat Germany ketakutan. Dia hanya bisa melihat laki-laki berambut coklat itu tergelak-gelak seperti psikopat dalam kengerian. Rahangnya terbuka lebar seakan-akan akan lepas dari engsel tengkoraknya, dan kedua mata berwarna coklat yang biasanya hangat itu mendelik ke arahnya seakan-akan akan keluar dari soketnya kapanpun juga.
Dan perkataan itu pula... Alfred...sudah mati?
"Kau—aku bersumpah, Italy. Aku bersumpah aku akan dengan senang hati menjatuhkan nuklir ke atasmu yang membuatmu menunduk di depanku untuk meminta ampun sambil menjilati sepatu—BERHENTI TERTAWA, BANGSAT!"
"Hahahaha! Ooh, maaf! Apakah aku membuatmu kesal, vee~?" olok Italy setelah tawanya akhirnya mereda. "Vee~? Kau tidak mau menembakku sekarang dengan senapanmu, England? Tak biasanya kau punya emosi yang dapat dikendalikan~."
England mengokang kembali senapan yang ada di pundaknya. Matanya merah, dan urat-urat nadi mulai muncul di leher dan juga pelipisnya. "DIAMLAH! Kau—aku menyuruhmu untuk diam, bangsat! Kau tahu aku punya emosi, 'kan? 'Kan! Aku akan dengan senang hati membunuhmu sekarang!"
"Atau tidak~!" Entah ia mengambilnya dari mana, tetapi tiba-tiba saja, di tangannya yang lain yang tidak mengenggam pisau, dikeluarkannya sebuah benda hitam berbentuk bulat. "Atau kita semua mati."
Germany dengan cepat membeokan apa yang ada di pikiran mereka semua yang berdiri di ruangan itu: "Granat?"
"K-kau tidak akan mungkin melakukan itu, Feli!" teriak Spain. Walaupun begitu, tangan yang memegang pistolnya bergetar ketakutan.
Italy kembali tertawa menanggapi teriakan Spain.
"Kau benar. Aku hanya menggertak; ini bukan granat."
Dan kemudian membanting benda bulat itu ke tanah.
Seketika itu pula ruangan itu langsung terisi oleh asap. Dan juga suara rentetan peluru yang ditembakkan secara asal.
Suara peluru itu akhirnya berhenti juga. Dan terdengar dari suara tembakan yang berentet-rentet tanpa ada sedikitpun interval waktu, Japan menyimpulkan bahwa Englandlah yang menembak terlebih dahulu. Dia tidak mendengar suara tembakan pistol, jadi Japan pikir Spain dan Prussia tidak menembak.
Tetapi asap ini belum menghilang juga. Asap yang ia kenal dengan baik.
"Itu tadi—," Japan terbatuk-batuk untuk sesaat, sambil menggoyang-goyangkan tangan di depannya untuk menghalau asap yang berkumpul. "Bom asap."
"Bukannya itu salah satu mainan yang kau punya, дa, Japan?" tanya Russia, sama sekali tidak terpengaruh dengan asap yang ada. "Apa namanya, ninja, дa?"
Japan memalingkan mukanya dari pandangan Russia, merasa sedikit bersalah. "...Saya pernah memberikan beberapa kepada Italy-san. Dia memintanya, katanya, untuk bermain-main saja. Saya memberikannya karena bom asap tidak berbahaya. Ta-tapi... Saya tidak menyangka kalau akan dipakai seperti ini... Italy-san pasti sudah kabur sekarang." Dia menghela napasnya. "Ini salah saya."
"Jangan begitu, Japan." Spain telah berdiri di sebelahnya, dan pada saat itu, asapnya mulai menipis. "Tidak akan ada yang dapat menyangkanya. Setidaknya, kita semua tidak bisa."
Dia mendengar Arthur berbicara, "Kemana si bangsat itu kabur? Aku benar-benar akan menguliti-,"
"Arthur-san!"
Ada suara batuk-batuk yang membuat asap di sebelahnya terbawa angin ke depan.
"Maaf. Aku—,"
"Tidak apa-apa." Germany. "Dan jangan langsung menembak kalau lain kali ada bom asap. Semua orang yang melakukan hal itu di film langsung mati, tahu." ...Prussia.
Dan pada akhirnya asap itupun menghilang juga, dan, memang benar, Italy sudah tidak lagi berada di tempatnya,
digantikan oleh sebuah lubang besar yang menganga di dinding di depan mereka.
Prussia maju ke depan dengan tangannya terangkat ke atas, seakan-akan lubang besar di depannya hanyalah sebuah ilusi dinding asli yang dicat bagaikan sebuah lubang hitam. Tapi bau lumut dan lembab dan mawar tua yang menyeruak dari dalam lubang hitam itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia salah.
"Ruang bawah tanah... yang lain." Matanya menyipit dan Prussia mengambil langkah mundur. Oleh karena itu pencarian mereka seminggu yang lalu tidak dapat membuahkan hasil apapun. Ruang bawah tanah yang terdapat di bagian tempat penyimpanan rum dan anggur hanya untuk menyesatkan mereka semua. Kalau kata salah seorang penulis novel misteri, "Red herring." Sebutnya datar.
"Romano," Dia mendengar Germany mulai berbicara. "Apa ini?"
Romano berjalan ke depan, memperhatikan lubang itu dengan muka sedih, dan menjawab, "Ini... Ini ruangan—tidak, gua bawah tanah yang dibangun oleh kakek dulu pada saat dia masih hidup. Tempat ini sangat besar sampai-sampai kami berdua tidak pernah melihat ujungnya. Dari catatan yang kami temukan di sana –ditulis oleh kakek-, katanya saluran ini menghubungkan seluruh Italia... Dari Seborga sampai Sisilia." Dia membalikkan badannya untuk menghadap keenam orang yang ada di sana dan mengangguk, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain. "Veneziano menyuruhku bersembunyi di sini, bersama dengan America. Si bodoh itu berbohong. Si hamburger itu masih hidup."
Matanya membelalak mendengar perkataan Romano sebelumnya. Ia merasakan napas yang sudah ia tahan-tahan sejak lalu akhirnya keluar dengan lega dari hidungnya. Hanya untuk sesaat dalam masa-masa seperti ini, ia memperbolehkan bibirnya untuk membentuk sebuah senyum penuh kelegaan.
"Jadi... America-san...,"
"-masih hidup?" Ah. England telah menyelesaikan perkataan itu untuknya. Dia melirik ke samping dan menemukan bahwa personifikasi dari negara Eropa itu pun memiliki ekspresi kelegaan yang sama di wajahnya—kalau tidak lebih bahagia. Mata hijaunya yang akhir-akhir ini terlihat lelah itu berkaca-kaca, mengingatkannya pada saat-saat sore hari sehabis hujan, dimana dedaunan yang menggantung di atas cabang-cabang sekelompok pohon yang ada di rumahnya bersinar diselimuti oleh lapisan kristal bening bernama air. "Masih hidup..."
Japan melihat senapan angin yang sedari tadi dipegang erat oleh lelaki berambut pirang itu jatuh begitu saja ke atas lantai, berikut pula dengan pemegangnya yang sekarang berdiri di atas kedua lututnya. Bulir-bulir air menuruni pipinya, yang cepat-cepat ia sembunyikan dengan kedua tangannya yang menangkup kepalanya. England mulai terisak-isak. Japan berjalan perlahan ke arahnya, sebelum berlutut seperti England dan mulai mengurut punggungnya yang basah karena keringat.
"Alfred... Alfred masih hidup...," isaknya. Japan tahu England tidak bisa melihatnya sekarang, tetapi ia menemukan dirinya mengangguk menanggapi pernyataannya. "Ya, Arthur-san. Alfred-san..., Alfred, masih hidup."
Alfred...masih hidup.
Dia tidak bisa lebih bahagia daripada sekarang!
"Baiklah. Berhenti menangis-menangisnya sekarang, ayo." Japan mendongak dan menemukan Prussia berdiri menjulang di depannya, sambil menjulurkan tangannya. Mata merahnya berkilap penuh tekad. "Kalau tidak kalian tidak akan bisa bertemu dengan America lebih cepat."
"Дa, Komrad ex-Prussia benar. Kita harus segera mengejarnya." Japan melihat 'ex-Prussia' mencoba menahan emosinya untuk tidak langsung menggampar bekas personifikasi Uni Soviet itu, terlihat dari tangannya yang berkedut-kedut kecil. "Dan kalau kata Komrad Italy –yang ini- benar, berarti ex-Komrad Italy –yang kabur itu- bisa dengan mudahnya kabur ke mana saja. Aku ingin cepat-cepat bertemu China~, jadi kupikir sudah sebaiknya kita memulai pencarian, дa? Aah. Dan Komrad Italy-." Russia berjalan ke arah Romano, yang bergidik ketakutan ketika lelaki personifikasi negara Rusia itu menempelkan tangannya yang dibalut glove abu-abu di atas pundaknya yang jauh lebih kecil. "Kurasa kau cukup tahu selak-beluk labirin bawah tanah ini, дa? Kuyakin kau bisa memimpin kita mencari ex-Italy, дa?"
"Jangan panggil dia ex-Italy, matahari sia—uugh!" Japan melihat Spain menyikut Romano tepat di bagian rusuknya. Dia mendengar bermacam-macam kata Italia yang tidak bisa ia pahami (dan lebih baik tidak mau ia pahami), sebelum Romano menggeram seperti seekor serigala yang buruannya direbut oleh serigala (Siberia) yang lain, dan menjawab pelan, "Ya."
Russia menganggukkan wajahnya, senyum terpoles di bibirnya, sebelum membalikkan badannya, jubah dan juga syal berwarna masing-masing krem dan ungu tua berkibar karena angin. Ia menghadap ke sisa personifikasi negara yang masih berdiri di sana. "Baiklah kalau begitu, Komrad! Mari-?"
"Ayo." England telah berdiri di sebelahnya. Tangannya telah kembali memegang senapan angin yang tadi telah terjatuh. Sekarang pegangannya tegap dan erat, seperti seorang tentara.
"Che," Prussia terlihat sedang mengisi ulang kembali isi peluru dari pistolnya. Terdengar suara 'cklik' dan butiran selongsong peluru kosong yang berdenting ke tanah sebelum disandarkannya pistol itu ke pundaknya. "Gehen wir*."
"Romano..." Spain memeluk personifikasi Italia Selatan itu dengan erat, yang berhasil menimbulkan warna bunga mawar untuk merekah di kedua pipinya yang gembul. Tetapi tidak seperti biasanya, ketika Romano akan dengan cepat menendangnya jauh-jauh dan berteriak untuk tidak pernah mendekatinya lagi, malahan ia tampak mendapatkan kenyamanan dari pelukan negara Mediterania itu. Tangannya yang berwarna coklat oleh karena matahari bergerak ke atas, ke arah kedua tangan Spain bertemu di depan lehernya. Romano meremas tangan Spain erat-erat, dan mengangguk. "Aku akan menghajar si bodoh Veneziano itu... Pasti..."
Japan menutup matanya dan menghela napas, mencoba menstabilkan dirinya sendiri. Ia mencium bau asap—tentu bekas dari bom asap yang tadi telah diledakkan oleh Italy. Tetapi di sela-sela bau asap yang mulai menghilang itu tercium bau lembab dari ruangan bawah tanah yang ada di depannya. Bau ini mengingatkannya pada lumut-lumut yang ia dulu sering injak-injak pada saat musim gugur di hutan dekat Hokkaido. Pada saat ia kecil dahulu, bermain membentuk lingkaran dengan Korea dan China sambil bertelanjang kaki.
"Jangan ulangi kesalahan masa lalu, Kiku—tidak, Japan. Tetapi pergilah, sebagai Kiku."
Dan membuka matanya.
"Germany-san."
Permata biru itu bertukar pandang dengan batu onyks.
"Pimpin jalannya, Romano."
Mengikuti Romano, mereka memasuki tempat itu.
~to be continued
Note:
*bersama: Ya, memang France pada saat PD2 adalah salah satu kekuatan utama Sekutu, tetapi maksud dari kalimat ini mengarah ke Vichy France, yaitu bagian selatan Prancis yang saat itu dikuasai oleh/menganut asas Nazi Jerman.
*tujuh orang: Germany, Japan, England, Russia, Italy Romano, Spain, dan Prussia. Narasi dari sudut pandang Italy Veneziano, France meninggal di chapter yang lalu, America menghilang, dan China terluka.
*SA80: MKII, senapan angin untuk angkatan bersenjata Inggris.
*...Prussia, Spain?: Mengacu kepada senapan angin Heckler & Koch G36, yang dipakai oleh Bundeswehr dan angkatan bersenjata Spanyol.
*Gehen wir: Seperti yang ada di Hatafutte Parade-nya Germany, 'Ayo pergi'.
A/N: SAIA BENAR-BENAR MINTA MAAF. Baiklah, hiatusnya kelewat lama, ya? Uum. Maaf banget. Entah kenapa akhir-akhir ini saia tidak ada niat untuk melanjutkan cerita. Uuh... Yah, oleh karena itu saia menyelipkan sedikit summary dari chapter yang lalu untuk sekadar mengingatkan reader. Heh.
Dan, uh, ya, saia inginnya ngepost ini sebelum saia berjibaku melawan ulum xD Heh. Bagi yang sedang ingin melawan ulum pula, saia ucapkan selamat berjuang, ya~ :D
Tunggu updetan saia berikutnya, mungkin sehabis ulum 2 minggu lagi: Chapter 9.5: Trial and Tribulations!
