Disclaimer:
Hetalia © Himaruya Hidekaz
Genre: Romance/Drama/Family/Friendship
Warning: OOC, OCMale!Indonesia, sho-ai, typos
Summary : Perjuangan Indonesia sebagai pekerja keras agak mata duitan karena hidup susah dan merasa bertanggung jawab untuk masa depan keluarganya, yakni sang ibu tiri Ukraina dan kedua adik tirinya, Singapura dan Taiwan, setelah meninggalnya sang ayah.
Perhatian : Cerita ini fiksi, hanya untuk hiburan belaka. Alur cerita dan penokohan di dalamnya hanya imajinasi penulis. Jika ada personifikasi yang jadi pelayan, raja, bangsawan, petani, direktur, karyawan atau bahkan sudah mati tidak ada hubungannya dengan negara aslinya.
xXx
Alternate Universe Hetalia : Indonesia Story
xXx
~Ch 10 : Siapakah Pemuda Itu?~
"Amerika, ini titipanmu," ucap Belanda kepada Amerika yang kebetulan bertemu saat baru sampai.
"Oh, thank you!" Amerika menerimanya dengan senang lalu menoleh kanan kiri mencari tempat yang aman untuk menyantap burgernya, bahaya kalau ketahuan nanti dikuliti Belarusia atau disihir Inggris. Belanda hanya menghela napas melihat kelakuan ayahnya lalu berjalan kembali ke kamarnya.
"Tunggu!" Belanda berbalik menoleh ke arah Amerika yang memanggilnya.
"Jangan dipikirkan berlebihan, pesta itu untuk bersenang-senang," lanjut Amerika sembari menepuk pundak Belanda.
"Apa aku terlihat sedepresi itu?"
"Tadi kulihat moodmu sedang buruk."
"Iya memang ada banyak hal yang terjadi."
"Maka dari itu aku mengatakan tidak usah dipikirkan berlebihan."
"Aku tidak apa-apa, sungguh," jawab Belanda dengan senyum tak biasa.
"Ada apa ini? Senyum-senyum begitu, jangan-jangan terjadi sesuatu yang bagus."
"Begitulah," ucap Belanda tidak berani melihat langsung ke ayahnya yang kepo, "eh? bukannya itu Belarusia?" ucap Belanda asal ngomong.
Mendengar itu Amerika langsung pamit kabur sebelum terjadi pertumpahan darah. Sang raja berlari sambil memeluk bungkusan hamburger dan kola dan sesekali melihat kanan-kirinya sebelum kembali berlari. Belarusia memang menakutkan tapi tidak harus sampai seperti itu kan?
"Selamat datang pangeran." Belanda hampir berteriak kaget mendengar suara Belarusia yang tiba-tiba menyapa di sampingnya.
"I-iya, ada apa?" ucap Belanda sambil mengelus dada nyaris jantungan mendadak.
"Pangeran mendapat pesan untuk segera menemui Tuan Selandia Baru," lanjut Belarusia.
"Iya, terima kasih," jawab Belanda singkat. Belarusia membungkuk untuk pamit kembali bekerja.
'Ternyata dia bisa normal juga.' Belanda menghela napas lega lalu mencari Selandia Baru. Belanda sendiri juga mau buat perhitungan tentang masalah wartawan wanita tadi.
"Yo, Belanda. Ada apa?" tanya Australia ketika melihat Belanda masuk ke ruang kerja Selandia Baru.
"Aku mencari Selandia Baru, di mana dia?"
Tidak menjawab, Australia hanya menunjuk ke sebuah pintu di sampingnya. Mengerti maksud Australia, dia masuk ke ruangan itu.
"Oi, Selandia Baru. Ada apa mencariku?"
"Pangeran! Kebetulan sekali," ucap Selandia Baru muncul dari ruangan kecil dengan kelambu hitam di sana. Seperti untuk tempat cetak foto film.
"Aku juga kebetulan, ada banyak hal yang ingin kutanyakan."
"Silahkan duduk pangeran," ucap Selandia Baru melongok dari dalam ruangan berkelambu itu.
Lalu Belanda duduk di sebuah kursi kayu di samping meja kayu kecil berisi berkas-berkas pekerjaan Selandia Baru.
"Apa maksud dari membiarkan wartawan tadi mengancamku?" tanya Belanda langsung, tangannya bermain-main dengan kertas di depannya.
"Itu bukan hal yang mengancam, dia hanya ingin mewawancarai pangeran."
"Tapi aku tidak suka caranya."
"Mungkin gara-gara tuan selalu menolak wawancara. Aku rasa dia juga terpaksa," jawab Selandia Baru, kali ini dia berjalan keluar dari ruangan berkelambu hitam itu.
"Kau membelanya?"
"Tidak, bukannya tuan juga mendapat keuntungan?" ucap Selandia Baru tersenyum, "tentang pemuda ini," lanjut Selandia Baru sambil menunjukkan foto pemuda yang membuat Belanda penasaran.
"B-bagaimana bisa?"
"Tenang, untuk masalah ini tidak akan kulaporkan. Ini masalah pribadi."
"Lalu untuk apa kau mencetak foto ini."
"Oleh-oleh untuk tuan."
Belanda tersipu malu melihat lagi foto Indonesia yang sedang tersenyum ramah saat melayani pelanggan di meja kasir. Foto yang jelas diambil diam-diam ini memiliki sudut yang pas, pencahayaan bagus, hingga orang yang di dalam foto tampak bersinar, em, mungkin di mata Belanda aja terlihat begitu.
"He? Manis juga, siapa dia?" ucap Australia tiba-tiba. Dia mengintip dari belakang bahu Belanda lalu dengan cepat merebut foto itu.
"Oi, kembalikan itu!" teriak Belanda menyadari fotonya direbut tiba-tiba.
"He? Kayaknya aku pernah lihat dia."
"Kau tahu tentangnya?"
"Tidak, mungkin aku akan ajak kencan dia dulu untuk mencari tahu."
Ucapan Australia itu sama saja dengan menyulut pertengkaran serius dengan Belanda. Ingin rasanya menonjok Australia sekarang tapi Belanda berpikir, apa haknya untuk marah dan melarang dia 'menemuinya'? Namanya saja dia belum tahu. Perang pikiran di dalam kepala Belanda membuat wajahnya makin memerah, entah dia malu atau menahan marah.
"Australia, jangan seperti itu." Akhirnya Selandia Baru ikut bicara.
"Iya-iya," jawab Australia santai lalu meletakkan foto itu di meja. Untunglah kali ini Australia tidak seusil biasanya, lalu segera bergegas keluar. Belanda juga pergi dari ruangan itu bermaksud kembali ke kamarnya sambil membawa foto itu.
~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~
"Spanyol, ini sortirannya."
"Iya, letakkan di rak paling kiri Indonesia," ucap Spanyol yang bertugas mengantar surat hari ini. Indonesia melakukan apa yang diminta, memasukkan surat sortirannya di rak-rak kecil yang berguna memisahkan surat sesuai daerah alamat tujuan.
"Kau semangat sekali Indonesia, ada apa?" tanya Spanyol.
"Iya, kemarin terjadi hal bagus," jawab Indonesia nyengir. Tidak mungkin dia gembar-gembor kalau kerja di tempat Hungaria. Harga diri dipertaruhkan.
"Oo? Jangan-jangan gara-gara kencan kemarin?" ucap Hungaria yang tiba-tiba muncul. Indonesia tahu kalau Hungaria sengaja bilang begitu, meskipun ia tahu yang membuat Indonesia bahagia adalah gajinya saat kerja sampingan di toko kemarin.
"He?! Kencan? Indonesia sudah punya pacar? Aku juga mau," ucap Spanyol agak lebay.
"Pendekatanmu masih kurang, Spanyol. Jika nembak Romano sekarang kau hanya akan ditolak," ucap Perancis sambil membawa sebuket bunga anyelir.
"Tega benar kau Perancis. Ngapain bawa-bawa bunga?" tanya Spanyol.
"Pemberian adikku, mungkin bagus untuk menghias kantor," jawab Perancis. Spanyol menerima bunga tersebut.
"Jadi, siapakah pacar Indonesia ini?" tanya Perancis merangkul pundak Indonesia.
"Bukan! Malaysia itu cuma sepupuku," sanggah Indonesia.
"Jika Malaysia dengar dia pasti nangis lho," goda Hungaria lagi.
Indonesia diam gagal paham.
Hungaria tepok jidat dengan ketidakpekaan Indonesia. Kekurangan uang membuat pikirannya hanya fokus cari uang.
"Indonesia, bisa tolong antar surat-surat ini?" ucap Spanyol sambil memberikan setumpuk surat yang sudah dibendel rapi.
"Aku sih tidak masalah tapi bukannya ini tugasmu?" jawab Indonesia menerima surat-surat itu.
"Maaf, tiba-tiba ada urusan penting. Alamat surat itu dekat kok," jawab Spanyol lagi. Lalu memberikan seragam jaket kurir ke Indonesia.
"Aku berangkat mengantar sebentar," pamit Indonesia.
"Ups! Topinya jangan lupa," ucap Spanyol tiba-tiba lalu memasangkan topi seragam kurirnya ke kepala Indonesia. Indonesia merengut tidak senang dengan sikap Spanyol barusan.
Indonesia berangkat mengantar surat dengan sepeda kantor dan Spanyol dari jendela kantor melihat ke arah Indonesia yang mulai menjauh. Lalu pandangannya beralih ke semak-semak di dekat jendelanya. "Ada perlu apa nona? Sampai ngumpet di situ?" ucap Spanyol ke sosok yang meringkuk di semak-semak dekat jendela.
Sosok yang dipanggil terkejut bukan main tidak berani mendongak. Padahal dia tidak melakukan apa-apa selain diam mendengarkan percakapan mereka. Si Spanyol ini tajam juga instingnya. Tangannya memeluk tasnya dengan erat dan gemetaran tetap menunduk tidak menanggapi Spanyol.
"Siapa dia Spanyol?" tanya Prussia melihat Spanyol memasuki kantor dengan orang asing. Melihat wajah asing membuatnya penasaran, sedangkan si gadis hanya mengangguk pelan walaupun tampak gugup.
"Ah! Dia kenalanku, sepertinya ada yang mau dibicarakan. Aku pinjam ruang tamunya," jawab Spanyol lalu menarik gadis itu ke ruang tamu kantor.
"Terima kasih sebelumnya," ia membungkuk dan berterima kasih karena tidak melaporkannya ke pihak berwajib, "Kenapa kau mau membantuku?" tanya gadis itu.
"Jadi kau lebih ingin aku laporkan polisi?" raut wajah Spanyol agak bingung. Si gadis menggeleng dengan cepat tidak ingin mendapat masalah dengan pihak berwajib.
"Maaf sebelumnya, namaku Belgia dan ini kartu namaku," Spanyol menerima kartu nama tersebut.
"Wartawan?! Apa ada orang kantor yang terlibat kasus?" teriak Spanyol lebay.
"Bukan-bukan! Sebenarnya ada seorang klienku meminta menyelidiki orang ini," ucap Belgia sambil menunjukkan sepotong gambar hasil jepretannya yang menunjukkan gambar Indonesia.
"Ini tidak mungkin! Meskipun anak itu perlu uang, dia tidak akan melakukan tindakan ilegal. Aku bersumpah, dia orang baik-baik," ucap Spanyol kaget mendengar kabar bahwa Indonesia sedang dibuntuti wartawan. Dia tak percaya bahwa Indonesia telah melakukan tindakan melanggar hukum. Prasangkanya buruk banget?
"Tenang dulu! Bukan seperti itu! Jangan seenaknya menyimpulkan," Belgia ikut panik melihat Spanyol yang menganggap targetnya adalah tersangka pelaku kejahatan.
"Sebenarnya klienku jatuh cinta dengan anak ini," bisik Belgia ke arah Spanyol. Dalam hati Belgia meminta maaf kepada pangeran karena menggunakan alasan itu untuk memuluskan tugasnya. Tapi syukurlah hal itu bisa membuat Spanyol diam sejenak.
"Wah! Bisa tolong jelaskan lebih rinci," ucap Hungaria tiba-tiba saat memasuki ruang tamu dengan nampan berisi teh dan cemilan di tangannya. Sepertinya malah Belgia yang diwawancarai mereka berdua.
Sementara itu Indonesia dengan giat mengantar surat hingga akhirnya surat terakhir sedang menuju tujuan akhirnya. Kayuhan sepeda Indonesia berhenti di sebuah mansion yang cukup besar, di depan mansion ada sebuah kereta kuda berhenti sepertinya masih ada tamu di rumah itu. Sedikit merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju pintu untuk mengantarkan surat terakhir.
Sesaat sebelum menekan bel rumah tersebut, Indonesia dikejutkan dengan munculnya seseorang dari balik pintu. Seorang gadis cantik berambut panjang dikepang, gaun yang ia kenakan sederhana tapi tidak menurunkan wibawanya. Sebuah bunga anyelir yang mekar sempurna menghiasi rambutnya selain pita di rambut depannya. Indonesia terdiam sejenak melihat gadis cantik yang baru kali ini dia lihat. Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh ke arah Indonesia. Tidak ada percakapan hanya saling memperhatikan.
"Bunga yang bagus," ucap sang gadis berlalu menuju keretanya yang sudah menunggu.
"Bunga yang bagus? Apa maksudnya?" gumam Indonesia bingung. Lalu pelayan yang ada di pintu depan menunjuk sesuatu di kepala Indonesia. Penasaran Indonesia mengambil topinya dan benar saja, ada sebuah bunga anyelir besar disematkan di topinya.
'Pasti ulah Spanyol,' pikir Indonesia dalam hati. Pantas saja saat mengantar surat semua pemilik rumah tersenyum geli, ternyata gara-gara bunga ini. 'tapi bunganya bagus, aku biarkan saja,' pikir Indonesia lagi. Lalu menyerahkan surat terakhir dan kembali ke kantor.
Kembali ke "Awesome Prussia Company"
"Ternyata kau teman pemilik restoran itu? Pantas saja aku merasa pernah melihatmu," ucap Hungaria setelah Belgia menceritakan tentang dirinya lebih lanjut.
"Jadi, siapa klienmu yang jatuh cinta dengan Indonesia," bisik Hungaria semakin mendekat ke Belgia. Tiba-tiba berubah jadi obrolan gosip cewek.
"Maaf, itu rahasia," tegas Belgia, "hmm, jadi namanya Indonesia," Belgia menulis di catatannya.
"Uuh, pelit sekali kau. Aku tidak akan beritahu yang lain kok."
"Tidak bisa, maaf Hungaria. Begini-begini ada kode etik yang harus dipatuhi," ucap Belgia memberikan alasan, entah ngarang atau bukan.
"Kalau kau benar-benar ingin tahu tentangnya tanyakan saja langsung. Iya kan Indonesia?" Spanyol tiba-tiba mendongak ke arah pintu. Ternyata Indonesia sudah berjalan masuk ke ruang tamu dengan muka marah.
"Spanyol! Kau apakan topiku tadi? Malu banget tahu, sampe diketawain orang," teriak Indonesia sambil memukul Spanyol dengan topinya.
"Maaf-maaf, soalnya tadi Perancis bawa bunga itu ke kantor. Iseng aja aku pasang ke topiku ternyata yang pakai kamu," jawab Spanyol sambil ketawa. Indonesia ga serius mukul Spanyol jadi ga sakit.
"Kalian berdua berhenti!" ucap Hungaria yang sukses membuat mereka diam.
"Oh iya, Belgia, kenalkan, ini yang namanya Indonesia." Hungaria berdiri di samping Indonesia untuk menariknya maju sedikit. Indonesia hanya mengangguk, nyengir ketemu cewek cantik.
"Teman Hungaria kah?" tanya Indonesia menoleh ke arah Hungaria.
"Benar sekali! Dia adalah wartawan baru untuk percetakan khusus, dengan begini artikel untuk edisi berikutnya bisa lebih banyak dan memuaskan." Hungaria menjawab dengan bangga, entah tambahan setingan itu dia dapat dari mana. Indonesia hanya ngangguk-ngangguk memahami kerjaannya nanti akan tambah banyak dan dapat gaji lebih. Belgia sendiri masih melongo karena terkejut dengan ucapan Hungaria yang tiba-tiba tanpa ada perundingan sebelumnya.
"Tunggu dulu! Apa maksudmu? Pake bohong segala?" protes Belgia ke Hungaria sambil bisik-bisik.
"Supaya tidak bohong kau jadi wartawan sungguhan di tempatku, dengan begitu kau otomatis berteman dengan Indonesia karena dia juga kerja sambilan di tempatku," jawab Hungaria.
Belgia berpikir sejenak. Dia pikir tidak ada salahnya menjadi wartawan di tempatnya, jarang-jarang dapat pekerjaan tiba-tiba. Padahal kalau nyari kerja susahnya minta ampun dan ini harus dipandang positif. Apalagi berteman dengan targetnya akan mempermudah mencari tahu tentangnya.
"OK, aku mau jadi wartawan untukmu tapi freelance ya," jawab Belgia masih bisik-bisik. Hungaria memberikan jempol tanda setuju, akhirnya percetakan khusus Hungaria bertambah personilnya. Win-win solution! Saling menguntungkan alias simbiosis mutualisme!
Setelah itu Belgia dan Indonesia ngobrol sebentar untuk perkenalan. Tidak hanya Indonesia, Belgia jadi kenal dengan orang-orang di "Awesome Prussia Company". Selamat ya Belgia! Menuju langkah awal menjadi wartawan sungguhan. Orang-orang di perusahaan itu baik-baik meskipun rada aneh. Harap maklum ya Belgia.
~Bersambung~
~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~
Yesss! Rayakan chapter ke sepuluh ini, ha ha! Baru chapter 10 udah girang nih author. Setiap chapter yang bisa update itu harus disyukuri, ngeditnya perlu waktu dan usaha.
Sebenarnya Belgia tidak ada di kerangka awal tapi dimasukkan ke cerita setelah beberapa chapter awal sudah dibuat. Setelah menambahkan karakter Belgia otomatis terpikir untuk memasukan karakter Luxembourg juga. He he he biar lebih rame, Benelux komplit.
Kira-kira bagaimana cerita author dari chapter 1 sampai 10? Apa kelihatan banget perbedaan penulisannya? Kalau mau jawab di kotak review.
Apa karakter Indonesia terlalu biasa dan mengikuti arus? Kadang terpikir untuk membuat Indonesia lebih tegas. Yang punya masukan silahkan isi di kotak review ya (^-^)/
Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review^^
Sampai bertemu di cerita selanjutnya^^
