Disc:

Naruto: Masashi Kishimoto

High School DxD: Ichiei Ishibumi

.

.

.

Jumat, 21 Juli 2017

.

.

.

DISTANCE

By Hikasya

.

.

.

Chapter 11. Hidup bersama selamanya

.

.

.

Mendengar pengakuan jujur dari Le Fay itu, sungguh mengejutkan Naruto. Koneko juga terkejut dan membelalakkan kedua matanya bersamaan...

ZLUB! ZLUB! ZLUB!

Jarum-jarum beracun itu sukses menancap di perut Naruto. Naruto menghentikan larinya mendadak lalu perlahan-lahan tumbang ke belakang.

BRUAK!!

Naruto terkapar dalam keadaan terlentang di jalan setapak itu. Ia sudah tak sadarkan diri usai mendapatkan serangan Le Fay yang terbilang sangat mematikan.

Menyaksikan pemandangan yang terjadi di depannya, Koneko begitu syok. Kedua bola mata keemasannya bergoyang-goyang seiring tetesan bening melimpah ruah dari sela-selanya.

"Na-Naruto-kun... NARUTO-KUUUN!!"

Dengan tenaga yang masih ada, Koneko mencabut paksa pisau yang menancap dari perutnya sehingga cairan merah keluar deras dari dalam luka akibat tusukan pisau itu. Pakaian di sekitar perutnya, juga ikut memerah karena menghisap cairan merah yang terus mengalir. Meninggalkan rasa sakit luar biasa, tapi Koneko tidak menghiraukan rasa sakit itu, yang penting dia mendekati Naruto sekarang.

Dengan bersusah payah, ia berjalan. Hingga mencapai ke tempat Naruto dan memilih duduk di samping Naruto. Memeluk tubuh Naruto dengan erat. Menangis tersedu-sedu.

"Hiks... Naruto-kun... Bertahanlah... Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang..."

Ia hendak mengangkat tubuh Naruto yang sudah melemah, tapi Le Fay malah datang mendekatinya.

"Untuk apa kau membawanya ke rumah sakit, The Black Girl?" tanya Le Fay dengan wajah yang tanpa ekspresi.

Koneko masih memeluk Naruto, menatap tajam pada Le Fay. Lantas berteriak keras.

"AKU BUKAN THE BLACK GIRL!!"

Tanda tanya besar hinggap di atas kepala Le Fay. Ia merasa bingung. Dilihat dari kerutan banyak di keningnya.

"Hei, apa maksudmu? Aku tidak mengerti," tanya Le Fay lagi.

"Aku bukan The Black Girl yang kau maksud...," jawab Koneko yang semakin menajamkan matanya."The Black Girl yang sebenarnya adalah kakakku, Kuroka."

Kali ini, Le Fay yang terkejut. Kedua matanya membulat sempurna. Dilihatnya, Koneko memasang wajah yang sangat mengeras.

"Kuroka-lah yang selama ini membunuh dan menjadi buronan polisi. Aku juga pernah dipaksa membunuh olehnya, tapi hanya sekali saja, saat mencoba menggantikannya. Tapi, aku tidak sempat membunuh orang itu, aku hanya membiarkannya pingsan sehabis aku pukul dengan sekuat tenaga. Bagiku... Membunuh itu adalah perbuatan yang sangat buruk dan aku tidak ingin menjadi pembunuh seperti kakakku...," Koneko mengutarakan semua isi hatinya sambil menangis bercampur marah."Aku ingin menjadi orang yang baik dan dicintai oleh lelaki yang mencintaiku. Itulah impianku setelah bertemu dengan Naruto..."

Pandangan mata Koneko yang semula menajam, berubah menjadi redup. Perhatiannya tertuju pada Naruto yang dipeluknya ini. Le Fay menjadi terdiam usai mendengarkan pengakuan Koneko yang sebenarnya, lalu menunjukkan sisi wajahnya yang iba.

"Berarti The Black Girl yang menemuiku kemarin itu... Jadi, dia..."

Koneko menoleh ke arah Le Fay.

"Itu pasti kakakku."

"Tapi, tinggi badannya persis sepertimu, Koneko."

"Mungkin... Itu rekan kerja kakakku. Namanya Vladi Gasper."

"Vladi Gasper?"

"Iya. Dialah ahli komputer yang bertugas mengelola website pembunuhan itu."

"Aku baru soal itu."

"Lalu pasti kakakku yang menyuruhmu untuk membunuh Naruto, kan?"

"Iya."

"Ukh... Dasar... Aku sudah duga ini..."

Koneko menggeram kesal dan berusaha mengangkat tubuh Naruto agar bisa dibawanya ke rumah sakit. Tapi, ia terkejut sekali setelah melihat perubahan tubuh Naruto yang sudah membiru. Wajah dan bibir Naruto sudah memucat sekali.

"Ah... Na-Naruto-kun...!"

Dengan terpaksa, ia meletakkan Naruto kembali ke bawah, persisnya kepala Naruto bersandar di dua pahanya. Tangisannya semakin memecah seiring dia berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Naruto. Bahkan memberikan napas buatan pada Naruto.

Le Fay terpaku melihat Koneko. Lantas ia berkata.

"Racun itu sudah menyebar cepat ke seluruh tubuhnya. Sehingga tubuhnya membiru. Tak lama lagi, dia akan mati."

Mendengar itu, Koneko terperanjat. Kemudian ia berteriak keras lagi.

"A-APA!? I-ITU TIDAK MUNGKIN!! NARUTO TIDAK AKAN MATI!!"

Le Fay semakin merasa iba saja melihat ekspresi Koneko yang sangat menyedihkan itu. Tangan kanannya merogoh kantong dalam mantel hitamnya dan dilemparkannya ke arah Koneko.

Sebuah botol plastik berukuran kecil sebesar ibu jari melayang bebas di udara lalu mendarat tepat di samping Koneko. Koneko menyadarinya dan mengambilnya.

"Itu adalah obat penawar racun," ungkap Le Fay.

"Obat penawar racun?" Koneko memperhatikan botol plastik itu dengan seksama di genggaman tangannya.

"Iya."

"Apa kau bisa dipercaya?"

"Percayalah. Aku tidak berbohong. Cepat minumkan obat itu pada Naruto. Kau mau Naruto mati ya?"

"Tidak! Aku tidak mau!"

"Kalau begitu, cepat lakukan!"

"Ya."

Atas permintaan Le Fay yang mendadak baik, Koneko bergegas membuka tutup botol itu. Kemudian meminum sedikit cairan obat penawar racun itu, tidak ditelannya, tapi diberikannya pada Naruto. Ia berpikir bahwa Naruto tidak akan bisa meminum obat penawar racun itu karena Naruto tidak sadarkan diri. Jadi, ia meminumkan obat penawar racun itu pada Naruto lewat mulut ke mulut. Itu sama saja dengan metode memberikan napas buatan melalui mulut ke mulut.

Sedikit demi sedikit, ia meminumkan obat penawar racun itu pada Naruto. Hingga obat penawar racun itu sudah habis, Koneko mulai merasakan perutnya yang semakin sakit akibat kehilangan banyak darah. Juga merasakan mata yang semakin memburam dan tubuhnya yang semakin melemah.

BRUK!

Secara perlahan-lahan, dia tumbang ke samping. Terkapar di jalan setapak itu bersama Naruto. Tidak sadarkan diri lagi.

Le Fay tersenyum dan kemudian mendekati mereka. Mengambil ponsel dari kantong mantel hitamnya untuk menghubungi seseorang.

"Halo... Ini rumah sakit Konoha Medical, kan? Ya, ada dua orang yang terluka di taman kota Konoha. Tolong, cepat kirimkan satu ambulance ke sini. Terima kasih."

Setelah berbicara pada petugas rumah sakit Konoha Medical, Le Fay mematikan komunikasi teleponnya itu. Memasukkan ponselnya ke dalam kantong mantel hitamnya lagi.

"..." entah apa yang dipikirkan Le Fay. Yang pasti, niatnya sekarang adalah menolong Naruto dan Koneko.

.

.

.

Sepasang mata saffir biru itu perlahan-lahan terbuka pada saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Suara seseorang yang amat dekatnya, yaitu...

"Kaasan..."

Begitulah ketika Naruto menyadari bahwa suara itu adalah ibunya.

Dilihatnya dengan sempurna sekarang, sang ibu tersenyum sambil menangis. Di samping sang ibu, ada sang ayah yang merangkul ibu dari samping. Ayah dan ibu berdiri di samping tempat tidur yang ditempati Naruto.

"Kaasan... Tousan...," kata Naruto yang tersenyum lemah.

"Syu-Syukurlah... Kau sudah sadar, Naruto...," sahut Kushina yang menyeka air matanya yang terus berlinang di dua pipinya."Sudah tiga hari ini, kau tidak sadarkan diri. Kami sangat mencemaskanmu, tahu."

"Dan kami baru saja datang ke sini setelah diberitahu oleh atasanmu," tambah Minato yang tersenyum.

"Oh, begitu."

Naruto semakin tersenyum saja. Kushina berusaha meredakan tangisannya dan Minato juga berusaha menghiburnya. Kemudian Naruto teringat sesuatu.

"Oh iya...," spontan ia bangkit dari baringnya, melepaskan jarum infus yang menancap di tangannya, dan menyibak selimut putih yang membungkus tubuhnya."Aku harus pergi sekarang!"

Orang tuanya pun tersentak dan melihat Naruto yang langsung turun dari tempat tidur. Naruto berlari cepat keluar dari bangsal itu. Sehingga membuat orang tuanya sangat panik.

"NARUTO!! KAU MAU KEMANA!?" teriak Minato dan Kushina bersamaan.

Tapi, Naruto tidak mempedulikan panggilan orang tuanya. Pikirannya terfokus pada Koneko. Sangat mengkhawatirkan keadaan Koneko. Karena yang diingatnya adalah perut Koneko terluka akibat tertusuk pisau. Juga sudah mengetahui kalau Koneko itu adalah The Black Girl. Padahal kenyataannya, The Black Girl yang sebenarnya adalah kakak Koneko, Kuroka.

Berlari cepat menyusuri lorong yang cukup ramai, Naruto tidak mempedulikan keadaannya yang masih belum pulih, padahal baru sadar, malah nekad untuk pergi mencari Koneko. Rasa sakit di perutnya, ditahannya demi bisa bertemu dengan Koneko lagi.

'Koneko-chan... Apa kau baik-baik saja?' batin Naruto yang celingak-celinguk, berharap menemukan Koneko yang juga dirawat di rumah sakit yang sama.'Walaupun aku sudah mengetahui kau adalah The Black Girl itu, tapi aku akan tetap peduli padamu.'

DUK!

Tiba-tiba saja, Naruto bertabrakan dengan seseorang saat melewati lorong yang bercabang empat. Naruto dan seseorang itu sama-sama mampu menyeimbangkan badan masing-masing sehingga tidak terjatuh. Lalu saling bertatap muka dengan ekspresi terkejut.

"Eh!? Naruto sedikit ternganga."Inspektur Kakashi..."

"Naruto..."

Seseorang yang ditabrak Naruto, yang tak lain adalah Kakashi, juga ternganga saat bertemu dengan Naruto. Ia juga berjalan tergesa-gesa sehingga tak sengaja menabrak Naruto. Begitu juga dengan Naruto, merasa tidak sengaja menabrak Kakashi.

"Maaf... Inspektur... Aku tidak sengaja menabrakmu...," ucap Naruto membungkukkan badannya berkali-kali.

"Tidak apa-apa, justru aku yang meminta maaf," Kakashi tertawa maklum di balik masker putihnya.

"Tapi... Aku yang salah..."

"Tidak. Aku yang salah."

"Ya sudahlah... Berarti kita sama-sama salah..."

Naruto tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kakashi juga tertawa kecil. Memilih untuk tidak berdebat untuk saat ini.

Orang-orang yang lewat di lorong itu, memperhatikan mereka berdua sekilas saja, kemudian sibuk dengan urusan masing-masing.

Naruto dan Kakashi kembali terlibat dalam percakapan serius di antara keributan di lorong tersebut.

"Ngomong-ngomong... Kau mau kemana, Naruto?" tanya Kakashi yang memperhatikan Naruto dengan seksama.

"Aku ingin pergi mencari Koneko," jawab Naruto cepat.

"Oh, Koneko ya? Dia sudah masuk penjara sekarang."

Naruto kaget setengah mati mendengarnya. Ekspresinya syok begitu. Kakashi heran melihat perubahan wajah Naruto.

"Kau kenapa, Naruto?"

"A-Apa yang terjadi sehingga Koneko bisa masuk penjara!?"

"Ya... Itu karena dia terlibat dalam kasus pembunuhan yang dilakukan The Black Girl. Dia sudah menceritakannya semua kebenarannya padaku setelah sadar dari pingsannya, bahwa kakaknya yang bernama Kuroka-lah, The Black Girl yang sebenarnya. Atas petunjuk darinya, kami berhasil menangkap Kuroka beserta rekan-rekannya yang bersembunyi di markas rahasia. Sekaligus Koneko menyerahkan diri pada kami dan mengaku terlibat juga dalam kasus pembunuhan ini."

Sekali lagi, Naruto terkejut lagi. Ekspresinya semakin syok. Tidak menduga jika Koneko memang terlibat dalam kasus pembunuhan yang dilakukan The Black Girl. Lalu Koneko bukanlah The Black Girl itu, melainkan Kuroka The Black Girl sebenarnya.

Kakashi juga menambahkan.

"Pendragon Le Fay juga menyerahkan dirinya pada pihak kepolisian. Atas petunjuk darinya juga, pihak kepolisian unit 3 bisa menangkap kelompok perampok bank itu. Tidak ada yang tersisa lagi. Semuanya sudah ditahan dan dimasukkan ke penjara. Tinggal diadili di meja hijau, tak lama lagi."

Kedua tangan Naruto mengepal kuat. Ekspresinya berubah total menjadi suram disertai kedua mata yang meredup. Kepalanya sedikit tertunduk. Tidak mampu berkata-kata lagi.

Hatinya bergetar karena merasa terpukul. Entah mengapa dia merasa sedih ketika mendengar kabar ini. Seharusnya dia merasa senang karena semua buronan sudah berhasil ditangkap. Itu berarti dia sudah sukses menjalankan misi ini. Tapi...

'Kenapa? Koneko-chan... Kenapa kau malah menyerahkan dirimu seperti itu? Kau itu bodoh sekali...," batin Naruto yang mulai merasa kesal sekaligus sedih.

Bersamaan Kushina dan Minato datang menghampirinya.

"Naruto!!" seru Minato.

"Kau mau kemana? Kau baru sadar, kan?" Kushina berkacak pinggang dan menunjukkan mukanya yang garang disertai rambut merah panjangnya yang berkibar-kibar seperti bendera."Kau mencemaskan kami, tahu!"

Saking kesalnya, Kushina menjewer telinga Naruto sehingga Naruto merasa kesakitan. Minato pun panik dan berusaha menenangkan Kushina yang dilanda kebakaran alias panas karena marah. Kakashi saja takut melihat ekspresi Kushina yang mengerikan, seperti monster begitu.

Semua orang yang melihat adegan itu, juga takut dibuatnya. Menyangka Kushina adalah orang gila yang lepas dari rumah sakit jiwa.

"Aduduh... Maaf... Maaf... Kaasan...," Naruto meringis kesakitan."Ha-Habisnya aku mencemaskan calon istriku sih. Makanya aku pergi mencarinya sekarang."

"Eh!? Calon istri!?"

Baik Minato, Kushina, maupun Kakashi, sama-sama memasang wajah yang bengong. Sehingga Kushina melepaskan tangannya dari telinga kiri Naruto. Naruto manggut-manggut dengan wajah yang sangat serius.

"Iya. Calon istri. Tousan dan Kaasan mau cepat melihat aku menikah, kan?"

Minato dan Kushina mengangguk kompak. Naruto tersenyum dan melanjutkan kata-katanya.

"Kalau begitu, aku minta bantuan kalian. Aku akan mengajak kalian berdua menemui calon istriku itu sekarang. Bagaimana?"

"Boleh. Ayo, kita pergi menemui calon istrimu itu!" Kushina yang menjawab disertai anggukan dari Minato.

Saat itu juga, Naruto merasa senang. Tawa lebar terukir di wajahnya yang sangat berseri-seri.

.

.

.

Koneko yang baru keluar dari rumah sakit Konoha Medical usai mendapatan perawatan lanjut pada luka di perutnya, kemarin itu, dikeluarkan dari sel tahanan oleh seorang polisi wanita. Ia dibebaskan atas jaminan dari seseorang yang baik hati. Koneko dinyatakan tidak bersalah. Kuroka, sang kakak, hanya tersenyum padanya ketika akan keluar dari tahanan sembari memberikan pesan terakhir padanya.

"Jagalah dirimu baik-baik, Koneko-chan. Tetaplah pada jalanmu. Jangan tiru perbuatan kakakmu ini. Lalu jika kau sudah menikah nanti, didiklah anakmu agar menjadi orang yang baik dan selalu berjalan di jalan yang penuh cahaya. Ingatlah pesanku ini..."

Itulah pesan dari Kuroka sebelum dia dihukum mati karena hukuman bagi seorang pembunuh adalah ditembak sampai mati di tempat.

Koneko tidak tega meninggalkan kakaknya di sini, tapi apa daya hal ini dia lakukan demi keselamatan semua orang. Kalau tidak dilaporkan pada polisi, maka Kuroka akan tetap membunuh. Karena itu, jalan satu-satunya untuk menghentikan Kuroka adalah melaporkan Kuroka ke polisi. Hingga pada akhirnya, hukuman mati yang diterima Kuroka sebagai balasan atas apa yang diperbuatnya.

"Maaf, Kuroka-nee...," kedua mata Koneko berkaca-kaca saat menyaksikan Kuroka yang berdiri di dekat dinding tahanan.

"Pergilah... Tidak apa-apa...," Kuroka tetap tersenyum."Maafkan aku juga ya."

"Hn. Aku memaafkan Kuroka-nee."

"Terima kasih, Koneko-chan."

Kuroka semakin tersenyum disertai air mata yang mulai berlinang di dua pipinya. Menyaksikan adiknya yang pergi dan keluar dari sel tahanan itu. Pintu tahanan ditutup dan dikunci rapat kembali oleh polisi wanita. Meninggalkan Kuroka sendirian di dalam cahaya temaram itu. Berteman kesunyian, sembari menunggu waktu kematian yang akan mendekat.

Koneko dibimbing polisi wanita menuju ke ruang pertemuan - dimana tahanan bisa bertemu dengan orang-orang terdekatnya. Koneko sangat terkejut setiba di sana, karena melihat Naruto sedang duduk bersama Minato dan Kushina di sebuah sofa. Lalu Naruto menyadari kedatangan Koneko itu.

"Naruto-kun...," Koneko menghentikan langkahnya bersama polisi wanita di sampingnya.

"Koneko-chan...," Naruto tertawa senang dan bangkit dari duduknya lalu berlari kecil mendekati Koneko.

Polisi wanita tadi mengangguk pada Naruto. Naruto juga mengangguk.

"Terima kasih atas kerja samanya," kata Naruto pada polisi wanita itu.

"Sama-sama," polisi wanita itu tersenyum."Saya pergi bertugas dulu."

"Ya."

Naruto meletakkan tangan kanannya di atas matanya untuk memberi hormat pada polisi wanita itu. Polisi wanita itu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Naruto. Kemudian ia berbalik pergi menuju ke tempatnya bertugas.

Hening selama satu menit.

Suara Naruto yang memecahkan kesunyian di tempat itu, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Menunjukkan tawanya yang lebar. Menandakan ia sangat gugup.

"Nah... Sekarang kau sudah bebas, Koneko-chan. Lalu ada yang ingin bertemu denganmu."

"Si-Siapa...?"

Koneko juga kelihatan gugup. Terbukti dari cara bicaranya yang terbata-bata. Naruto mengangguk dan menoleh ke arah belakang.

"Aku akan perkenalkanmu pada mereka," Naruto menunjuk ke arah Kushina dan Minato secara bergantian."Wanita yang berambut merah itu, Namikaze Kushina, ibuku. Pria yang mirip sekali denganku itu, Namikaze Minato, ayahku. Mereka sudah mengetahui siapa kau yang sebenarnya karena aku yang sudah menceritakan semuanya. Lalu mereka-lah yang menjaminkanmu agar bisa keluar dari penjara ini."

Koneko melihat ke arah orang tua Naruto. Orang tua Naruto datang mendekatinya sehingga membuat Koneko semakin gugup.

"Jadi... Kau yang bernama Toujou Koneko?" tanya Kushina yang tersenyum.

"I-Iya...," Koneko terbata-bata lagi."Sa-Salam kenal buat Obasan, Ojisan..."

"Panggil Kaasan dan Tousan saja," pinta Minato yang juga tersenyum disertai anggukan dari Kushina.

"Eh?"

Koneko ternganga dan menatap wajah Minato dan Kushina bergantian. Lalu pandangannya tertancap pada Naruto saat Naruto yang berbicara.

"Iya. Kau panggil saja orang tuaku dengan panggilan Kaasan dan Tousan. Karena kau juga akan menjadi bagian dari keluarga Namikaze..."

Naruto menggerakkan tangan kanannya untuk meraih tangan Koneko lalu digenggamnya tangan Koneko dengan erat. Melanjutkan kata-katanya itu.

"Aku ingin menikah denganmu. Orang tuaku sudah menyetujuinya. Benar, kan, Tousan, Kaasan...?"

Memandang ke arah Minato dan Kushina secara bergiliran, Naruto mengharapkan kepastian dari kedua orang tuanya itu. Kedua orang tuanya saling mengangguk kompak untuk membenarkan perkataan Naruto itu.

"Ya, itu benar...," jawab Minato dan Kushina yang kompak lagi.

Koneko merasa ragu dan memasang wajah yang kusut. Menatap Naruto yang kembali memandangnya.

"Ta-Tapi... A-Akukan orang yang tidak baik. Pernah mencoba membunuh dan sekarang sudah masuk penjara. Aku tidak yakin kalau..."

Koneko menghentikan pembicaraannya tatkala telunjuk Naruto menempel di bibirnya. Wajah Naruto cukup berdekatan dengan wajahnya.

"Ssst... Jangan katakan itu. Aku tidak suka...," ujar Naruto dengan nada yang sangat lembut."Siapapun dirimu, aku tidak peduli. Aku akan menerimamu apa adanya. Karena aku benar-benar ingin menjadi kau istriku."

Mendengar itu, Koneko terpaku. Kedua bola matanya bergoyang-goyang dan penuh cahaya. Hatinya tersentuh. Tidak menyangka Naruto benar-benar mau menerimanya meskipun dirinya sudah dipenuhi dengan dosa. Naruto tidak mempermainkannya. Naruto benar-benar tulus mencintainya.

"Awalnya aku memang pura-pura mencintaimu agar aku bisa mengoreksi informasi tentang The Black Girl darimu. Karena itu, aku menahanmu di apartemenku...," tambah Naruto lagi sembari menjauhkan telunjuknya dari bibir Koneko."Tapi, sekarang aku baru sadar bahwa caraku ini salah. Justru membuatmu terluka. Aku juga sadar bahwa aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Karena itu, maafkan aku atas kesalahanku selama ini."

Kedua bola mata Naruto berkaca-kaca. Sepertinya ia ingin menangis tapi ditahannya. Ia berharap Koneko memaafkannya dan mau menikah dengannya.

Tanpa pikir panjang lagi, Koneko mengangguk dan menyahut.

"Iya. Aku memaafkanmu, Naruto-kun."

"Benarkah?"

"Benar."

"Lalu kau mau menikah denganku, kan?"

"Mau."

"Serius?"

"Serius."

Koneko tersenyum simpul. Naruto tertawa lebar lantas menarik Koneko ke dalam pelukannya.

GREP!

Mereka berdua saling berpelukan dengan erat. Membuat Minato dan Kushina tersenyum senang plus terharu melihat mereka. Turut merasakan kebahagiaan yang tercipta di antara Naruto dan Koneko.

"Hiks... Aku terharu sekali...," Kushina malah menangis dan memeluk Minato.

"Aku juga... Huhuhu...," Minato malah ikut-ikutan menangis dan membalas pelukan Kushina.

Mereka berdua malah menangis konyol sambil berpelukan erat. Sehingga Naruto dan Koneko sweatdrop melihat mereka, tidak berpelukan lagi.

"Lho... Kenapa Tousan dan Kaasan malah menangis sih?" tanya Naruto yang ternganga.

"Habisnya sangat mengharukan. Huhuhu...," jawab Minato dan Kushina kompak.

"Naruto-kun... Orang tuamu lucu sekali...," Koneko tersenyum simpul dengan wajah yang berseri-seri.

"Hehehe... Mereka memang lucu sih," Naruto tertawa geli sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Kedua mata Koneko melembut. Hati Koneko merasa damai sekali. Kemudian ia merangkul lengan kanan Naruto dengan erat dan membisikkan sesuatu pada Naruto.

"Aku sangat mencintaimu, Pak Polisi."

Mata emas itu beradu pandang dengan mata biru. Senyuman terpatri di wajah Naruto yang sangat berseri-seri.

"Aku juga sangat mencintaimu, gadis pencuri hati."

Mereka berdua saling tersenyum antara satu sama lainnya dalam suasana yang seakan-akan dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran. Bersama Minato dan Kushina yang masih menangis konyol, mereka mulai merajut kasih yang akan terikat dengan benang merah. Akan selalu bersama untuk selamanya.

Jarak yang memisahkan antara Naruto dan Koneko karena kasus kriminal, pada akhirnya menyatu kembali. Tidak ada jarak lagi di antara mereka. Akan selalu berdekatan dan tidak ada lagi hambatan yang menghalangi mereka. Kebahagiaan yang kini diraih oleh mereka.

.

.

.

TAMAT

.

.

.

BALASAN REVIEW:

macan ternak: terima kasih ya. Ini sudah lanjut. Chapter yang terakhir.

N: oh gitu ya. Maaf, jika cerita ini membosankan. Terima kasih.

Rezaa: terima kasih banyak buat reviewnya.

Nggak, The Black Girl itu adalah Kuroka. Bukan Koneko.

The Spirit Of Wind: terima kasih banyak bayu.

Oh, gitu ya. Hehehe...

Scagtzy: terima kasih banyak ya.

.

.

.

A/N:

.

.

.

Saya tetapkan fic ini berakhir di chapter ini dengan ending yang bahagia. Plus word yang cukup panjang.

Terima kasih banyak yang sudah membaca, mereview, menfollow, dan menfavourite.

Saya undur diri dulu.

Bye.

Tertanda.

Hikasya

Sabtu, 22 Juli 2017