Last chapter. Inilah chapter yang aku buat dengan penuh penghayatan, karena betapa bahagianya aku, mulai dari publish sampai saat ini, para readers masih terus setia membaca fic ini. Walau aku ga bisa bales ripiunya satu2, tapi aku selalu senyum dan gumamin kata 'ARIGATOU!' utk readers yang udah ripiu, juga para readers yang mungkin baca tapi gak ripiu, aku tetep makasih.

Hingga kini, udah chap terakhir, aku tetep berterima kasih sama kalian, dan aku selalu berharap endingnya dapat memuaskan readers. Sudah aku putuskan, endingnya... Silahkan dibaca dulu. XD *dikeroyokmassa*

.

.

.

"Karena itulah... Karena cinta mereka hanya akan membuat sengsara,"

"Sekarang ini berbeda, Aouyama!" Fugaku angkat bicara. Keduanya saling bertatapan, "Sekarang ini Sakura tengah hamil darah daging Uchiha, tak akan ada masalah lagi di antara mereka." ucap Fugaku menatap Aouyama begitu lekat. Fugaku benar-benar serius, selain untuk Sasuke dan keluarganya, Fugaku melakukan ini karena rasa sayangnya pada Sakura.

"Kami mohon," Mikoto sedikit membungkukkan badannya.

Aouyama diam sejenak, membuat semua yang di ruang itu menunggu keputusannya. Meski Fugaku, Mikoto, dan Azuki setuju, tapi kepala keluarga ini yang akan memutuskan jawabannya. Tapi akhirnya Aouyama berdiri dari duduknya dan perlahan berjalan dari sana.

"Maaf,"

Dan Aouyama pun lanjut melangkah menuju kamarnya, membuat Azuki menahan tangis, Mikoto juga hanya bisa tercengang, sementara Fugaku mununduk dengan raut wajah menyesal. Kenapa masalahnya bisa sampai sejauh ini? Keluarga Uchiha ditolak.

Naruto © Masashi Kishimoto

Datte, Kimi Ga Warau Kara © AsaManis TomatCeri

WARNING : AU, OOC(maybe), OC, Typo, Alur mondar-mandir(?), dan sejenisnya.

Rated : M

PERINGATAN PENTING : Fic ini hanya untuk 17+ dan untuk di bawah 17 tahun, silahkan klik 'back'!

Sudah diperingatkan masih tetap dibaca? Oke, dosa ditanggung masing-masing.^^

DON'T LIKE? DON'T READ, PLEASE!

ENJOY...!

.

.

.

Datte, Kimi Ga Warau Kara : CHAPTER 10 (Final Chapter)

Pintu kamar ditutup oleh Aouyama, "Maaf," ulangnya, "biarkan aku mempertimbangkannya dahulu..." lanjutnya yang pasti sudah tidak akan terdengar lagi oleh orang-orang di luar sana. Ternyata Aouyama bukannya menolak, tapi ia ingin mempertimbangkannya lagi. Bukankah berarti masih ada harapan?

Sebagai seorang ayah, itu sudah sewajarnya Aouyama khawatir pada putrinya. Cobaan hidup anaknya begitu berat, andai ini memang titik masalah selama ini, Sakura pasti takkan menderita lagi. Memang benar ini sudah selesai, tapi jika Sakura dipisahkan untuk tidak bersama Sasuke, apa Sakura selanjutnya tidak akan menderita, bahkan cucunya... Tapi trauma selama ini membuat Aouyama tidak bisa kembali percaya pada keluarga Uchiha.

Kini ayah dari Haruno Sakura itu bimbang...

Sementara di luar, Fugaku masih berdiam diri, menyesali semua kecerobohan putranya yang membuat kekacauan hingga seperti ini. Tapi menyerah bukanlah pilihan Uchiha saat ini, apapun yang terjadi, Fugaku akan terus berusaha agar Aouyama mau merestui hubungan anaknya.

Di sebelah Fugaku, Mikoto juga berdiam diri dengan raut wajah sedih. Sebagai seorang ibu, ia merasa gagal mendidik anaknya. Kini Sakura hamil, anak dari Sasuke. Tekankan itu. Bagaimana bisa ia melakukan ini kemudian, apa dengan mudah ia menyerah untuk bertanggung jawab? Tidak, itu bukanlah sifat Uchiha.

Azuki mengelap air matanya yang tadi sempat tumpah, ia tak mungkin menangis berlama-lama. Ia hanya shock dengan jawaban suaminya tadi. Tapi ia kenal betul siapa suaminya, ia yakin suaminya saat ini sedang memikirkan ucapannya sendiri, Aouyama pasti memikirkan masa depan Sakura. Maka Azuki mencoba mengangkat wajahnya, menatap dua orang yang duduk berhadapan dengannya.

"Tenanglah, aku yakin suamiku tidak semudah itu membiarkan Sakura terpisah dengan Sasuke." ucap Azuki tersenyum pahit. Fugaku dan Mikoto menengok berbarengan, mereka mengerti, yang merasa paling berat posisinya saat ini bukan hanya mereka, tapi juga Azuki.

Mikoto tak kuat menahan perasaannya. Ia segera menggenggam tangan Azuki yang berada di meja, "Azuki-chan, aku mohon, bicarakan kembali pada Aouyama-kun..." Mata Mikoto sudah berkaca-kaca.

"Aku mengerti perasaan kalian, tanpa diminta, aku pasti akan membicarakannya pada suamiku." kata Azuki. Fugaku sedikit membungkukkan badannya, "Mohon bantuannya."

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Ruang kamar yang sepi hanya terdengar suara-suara kecupan yang menggoda. Di kamar, asal suara itu terdengar jelas. Di ranjang berukuran sedang, tengah duduk pria tampan memangku wanita yang tengah ia lumat bibirnya. Tangan kanannya ia lingkarkan di pinggang si wanita, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menekan kepala wanita itu agar terus menerima ciuman panas darinya. Sementara wanita itu hanya bisa pasrah dan kedua tangannya terus mencengkram baju lawan ciumannya.

Namun ternyata wanita Haruno itu menyerah, entah sudah berapa menit ia begini, cukup kehabisan nafas. Akhirnya ciuman panas itu berakhir, membuat nafas keduanya sedikit terengah-engah. Sedetik kemudian, Sakura melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke, dan menatapnya dalam-dalam.

Hari sudah mulai gelap, dua jam lalu Sasuke sudah mendapat telepon bahwa kedua orangtuanya akan pulang besok karena ada urusan entah apa itu, mereka akan menginap di Hotel. Dan sekarang, Sakura buka mulut, "Sasuke-kun, sudah malam..."

"Lalu?"

"Aku harus pulang, ayah dan ibu pasti mencariku."

Memang sudah cukup lama Sakura di sini. Bayangkan saja, sejak pagi ia menyaksikan tanda tangan perceraian Sasuke dan Ino, siangnya ia tetap di sini untuk makan bersama Sasuke berdua, dan sore hingga saat ini ia masih terus bertahan di kamar Sasuke.

Sasuke mendekap erat tubuh Sakura, "Jika kau pulang, ayahmu akan melarangmu untuk bertemu lagi denganku..."

"..." Sakura diam atas pernyataan Sasuke. Memang benar, mungkin jika Sakura pulang nanti, ia akan dikurung di rumah dan ayahnya akan melarang dirinya untuk bertemu lagi dengan Sasuke. Tidak mau, Sakura tidak mau lagi jika harus dipisahkan, semua ini sudah cukup. Ini bukanlah kisah Romeo dan Juliet, karena hanya ayah Sakura saja yang menentangnya.

Sakura mengangkat kepala Sasuke dengan memegang pipi tirusnya, hingga mata mereka saling bertemu. Sakura menatap Sasuke begitu sendu, "Jika begitu, tolong bawa aku pergi, Sasuke-kun... Agar kita tetap bisa bersama..."

Pria emo itu tersihir oleh ucapan sang Haruno. Dan berikutnya, tubuhnya berbalik, ia menidurkan wanita itu di ranjangnya perlahan, diiringi dengan ciuman panas mereka yang berlanjut.

.

.

.

"Kau lihat sendiri, bahkan Sakura tidak pulang malam ini! Itu pasti karena Sasuke yang mencuci otaknya!"

"Mencuci otaknya apa? Dari awal Saku-chan memang mencintai Sasuke! Dia pasti sudah bisa menebak kau takkan merestui hubungannya!"

Malam sepi, sudah tiba saatnya di mana semua orang di daerah itu tidur untuk beristirahat. Namun tidak untuk kediaman Haruno. Di mana semua rumah telah gelap dan hening, salah satu rumah justru terdengar pertengkaran yang begitu serius. Memang tidak sampai terdengar keluar atau sampai ke tetangga, tapi jika diperjelas, suara mereka yang adu mulut itu cukup dimengerti. Mereka sedang bertengkar karena masalah putrinya.

Di salah satu kamar dekat ruang tamu, di sanalah tepatnya suara adu mulut terjadi. Di dalam, Aouyama tengah berdiri menatap kesal istrinya yang duduk di ranjang berhadapan dengannya. Aouyama tak melepaskan pandangan kesalnya meski itu istrinya. Sebagai seorang suami dan ayah yang baik, menurut Aouyama ini adalah hal wajar jika ia marah dengan istrinya yang selalu memanjakan anaknya.

"Sakura hamil. HAMIL, AZUKI! Yang membuatku marah adalah kecerobohan mereka yang melibatkan kita juga sebagai orangtua!" bentak Aouyama.

"Yang kita butuhkan sekarang bukanlah keegoisan! Jika kau menggunakan egoismu, itu akan menambah beban Saku-chan yang seharusnya telah selesai!—"

"AZUKI!" Sang kepala keluarga tak mampu menahan untuk meninggikan suaranya. Ini adalah pertama kalinya ia bertengkar dengan istrinya setelah sekian lama tak pernah terjadi pertengkaran hebat. Azuki menunduk sedikit takut, tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan membuat hati suaminya luluh.

"Bagaimana jika akhirnya Sakura melarikan diri bersama Sasuke? Mereka itu akan melakukan apapun agar mereka bisa bersama!" kata Azuki.

"KAU TIDAK MENGERTI APA-APA!"

Wanita berambut merah muda itu mencengkram dadanya masih sambil menunduk, "Kau yang tidak bisa mengerti... bagaimana perasaan seorang ibu melihat anaknya menderita..." Azuki mengangkat kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca kali ini, "tak ada satupun ibu yang membiarkan anaknya menderita, Aouyama..."

"Justru karena aku tahu Sakura menderita, aku ingin PENDERITAAN itu tak usah hadir dalam hidup kita!"

Azuki menggeleng atas perkataan suaminya, "Kau salah. Sasuke bukanlah penderitaan Saku-chan!" kata Azuki menatap tajam Aouyama. Walau air matanya telah meleleh, tapi wajahnya begitu tegar meyakinkan suaminya jika perkataannya adalah benar. "Coba kau fikir, bukankah jika Saku-chan tak mencintai Sasuke, dia takkan mau dihamilinya? Kau fikir lagi..., Saku-chan adalah seorang dokter, jadi dia bisa menggugurkan bayinya kapan saja saat tahu ia hamil..."

"..."

"Tapi... Tapi kenapa Saku-chan tak melakukannya?" Azuki masih menatap tajam Aouyama dengan berlinang air mata, dan Aouyama juga masih menatap tajam Azuki, namun kali ini diam tak mampu membalas ucapan istrinya. Azuki kembali buka mulut dengan nada yang bergetar, "Saku-chan melakukan itu... KARENA DIA MENCINTAI SASUKE!" Kali ini, Azuki yang membentak.

Aouyama terdiam dan masih tetap dengan posisi berdiri seperti itu. "Saku-chan yakin jika anak dalam kandungannya itu akan menjadi tali hubungannya dengan Sasuke!" ucap Azuki lagi-lagi meremas dadanya seperti menahan sesuatu yang pedih di dalamnya, "Aku seorang ibu... Hiks... Aku mengerti bagaimana perasaan wanita yang sedang mengandung. Dia akan mencintai kandungannya seperti dia mencintai ayah dari kandungannya... Aku merasakan itu saat aku mengandung Saku-chan... Hiks..." Perlahan suara Azuki mengecil, wajahnya yang tegar langsung berubah menjadi penuh kesedihan, membuat siapapun yang mendengar ucapannya menjadi tersentuh.

Dan tentu saja, hati seorang Aouyama luluh dengan ucapannya. Mungkin ini memang karena egonya, mungkin ini memang karena ia trauma dengan penderitaan anaknya selama ini. Jika ia di posisi anaknya, entahlah... Mungkin ia juga akan merasakan sakit yang sama seperti Azuki. Ia pria, jadi memang mungkin ia tak mengerti rasa sakit itu.

Tapi Aouyama mempunyai istri, yang bisa menyampaikan rasa sakit padanya walau hanya lewat kata-kata. Karena seketika hatinya teriris mendengar ucapan Azuki. Memang rasa kesalnya tak akan luluh begitu saja, tapi dibanding itu, penderitaan lebih sakit dari ego. Jika ego, hanya akan berlangsung sesaat, kemudian hilang dengan sendirinya. Tapi jika penderitaan, itu bisa menyakiti hati begitu lama. Dan mungkin selamanya.

Cobalah buka hati lebih dalam lagi. Sebenarnya rasa amarah Aouyama bukanlah karena Sasuke. Tapi karena sakit menyadari pahitnya hidup Sakura...

Setetes, dua tetes, jatuh pada lantai. Membuat Azuki membulatkan matanya, menyadari itu adalah tetesan air mata suaminya yang kini sudah menunduk. "Maaf, aku adalah ayah yang payah..."

Aouyama bukannya melarang hubungan Sakura, tapi hanya trauma. Karena ia merasa gagal menjadi seorang ayah.

: : : Datte, Kimi Ga Warau Kara : : :

Kicauan burung pagi hari masih terdengar, bernyanyi untuk pagi yang cerah ini. Kediaman Haruno. Sudah damai seperti biasa setelah semalam sempat terjadi keributan suami-istri itu. Kini di ruang tamu kediaman itu sudah ada empat orang-orang seperti kemarin. Orangtua Sakura, dan orangtua Sasuke. Memang orangtua Sakura yang menelepon meminta agar Mikoto dan Fugaku datang kembali ke rumahnya. Pembicaraan sesungguhnya dimulai.

Aouyama selaku kepala keluarga membuka pembicaraan. Jujur saja, sebenarnya orangtua Sasuke takut untuk mengatakan sesuatu. Ya, mereka juga sebenarnya ada yang ingin dibicarakan, tapi sebaiknya nanti, setelah Aouyama selesai bicara.

"Fugaku, aku minta maaf atas kelakuanku kemarin." ucap Aouyama membungkukkan badannya. Awalnya Fugaku dan Mikoto agak terkejut, tapi mereka sudah bisa menebak apa maksud dari semua ini.

"Aouyama, apa itu berarti...?"

"Ya," Aouyama memandang lekat Fugaku, "aku telah memutuskan untuk membiarkan Sakura untuk bersama Sasuke."

Mikoto yang paling merasa senang mendengar itu. Tiba-tiba ia menahan tangis haru dan terus membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih, Aouyama-kun. Aku tahu kau pasti mengerti." kata Mikoto.

Aouyama ikut membungkuk. Ini memang sudah seharusnya, ini pilihan yang tepat untuk anak-anak mereka. Bahkan untuk calon cucu mereka. Mikoto dan Fugaku bersyukur, dan kali ini benar-benar bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Karena ia yakin Sasuke juga berfikir begitu.

"Aku sadar, kemarin itu hanyalah emosi. Justru aku akan menyesal jika sampai putriku mengalami penderitaan karena egoku sendiri." ucap Aouyama penuh penyesalan. Tapi tenanglah, semua akan baik-baik saja mulai dari sini. Tapi baru Azuki menyunggingkan senyum dan akan mengatakan sesuatu, Fugaku buka mulut. Ingin mengatakan sesuatu yang sedatitadi ia ingin sampaikan.

"Aku benar-benar merasa terhormat karena kau mau menerima Uchiha lagi, Aouyama. Aku ucapkan terima kasih." Fugaku lagi-lagi membungkuk, namun sirat wajahnya mulai berubah, "Tapi daripada itu..." Fugaku memberi jeda pada kalimatnya.

Mikoto ikut menjadi berubah, sirat matanya kini menjadi serius kembali, membuat kedua orangtua Haruno itu mulai gelisah. Fugaku melanjutkan bicara, "Sasuke melarikan diri dari rumah. Dan aku yakin, ia membawa Sakura."

Itulah yang sedari tadi ingin Fugaku katakan. Kalimat yang sukses membuat Aouyama dan Azuki tercengang seketika. Fugaku sendiri bisa berkata begitu karena saat pagi buta ia dan istrinya pulang ke rumah, rumah sudah kosong. Dan perasaan tidak enaknya benar, benar jika ternyata saat ia melihat kamar Sasuke sudah kosong, kopernya tak ada, dan lemari yang terisi baju itu berkurang setengahnya.

"Apa...?" Ibu dari Haruno Sakura, menutup mulut dengan kedua tangannya, panik mulai menggerayangi benaknya. "Apa yang harus kita lakukan? Di mana mereka? Di mana—"

"Azuki, tenanglah." Fugaku mencoba membuat tenang sahabatnya yang sudah benar-benar panik.

"Bagaimana aku bisa tenang? Sakura sedang hamil saat ini!" ucap Azuki terkesan membentak Fugaku. Kemudian pandangannya beralih pada suami yang duduk di sebelahnya, "Sekarang kau lihat? Karena kita terlambat sedikit saja mereka sudah pergi!"

"..." Aouyama diam.

"Aku sudah mengirim beberapa orang untuk mencari mereka. Aku yakin mereka belum jauh dari sini!" kata Fugaku meninggikan suaranya, membuat Azuki segera menengok ke arah pria itu. "Jadi tenangkan dirimu, dan ikut kami." lanjutnya.

.

.

.

"ASTAGA! Kau benar-benar gila! Kau datang ke sini?!"

Keterkejutan Itachi tak bisa tertahan tatkala mendapati sosok adiknya di depan pintu rumahnya, ia langsung memeluk tubuh adiknya melepas rindu. Baru beberapa saat lalu bel rumah berbunyi dan Itachi mengira itu adalah kedua orangtuanya. Tapi siapa sangka jika saat pintu dibuka ternyata adalah sang adik yang... membawa Sakura?

Itachi langsung melepas pelukannya dan langsung memeluk Sakura sama rindunya, "Imouto-ku, Sakura-chan. Aku merindukanmu!"

"Aku juga rindu kak Itachi." ucap Sakura balas memeluk Itachi.

Tapi... Tunggu, Itachi teringat satu hal. Segera saja ia melepas pelukannya dan menatap Sasuke dan Sakura bergantian. Kali ini Itachi tidak tertawa atau tersenyum. "Bagaimana kalian bisa berada di sini? Kalian mau menjengukku, tapi kenapa hanya berdua?" tanya Itachi. Memang benar Itachi sedang sakit makanya kemarin ia tak bisa datang di acara perceraian adiknya.

"Aku akan menceritakannya di dalam." kata Sasuke. Itachi menggangguk dan langsung masuk ke dalam bersama Sasuke dan Sakura. Barang sesaat, Sakura melirik Sasuke. Ia takut untuk mengatakannya pada Itachi. Bagaimana jika Itachi tak mau menerima mereka yang melarikan diri? Namun ketakutan Sakura terjawab sudah oleh genggaman tangan Sasuke yang meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.

Di sinilah mereka sekarang. Kota Paris tempat Itachi tinggal bersama istrinya, Konan. Memang rumahnya tak semewah rumah yang Fugaku dan Mikoto tinggali, tapi setidaknya rumah ini dibangun oleh hasil uang Itachi sendiri untuk tinggal bersama istrinya. Sayangnya saat ini Konan tak ada di rumah karena tetap harus bekerja.

Setelah sampai di ruang tamu, banyak yang Itachi tanyakan pada Sasuke dan Sakura. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga masalah yang mereka alami sampai seperti ini. Bahkan sampai-sampai kehamilah Sakura mendahului istrinya. Hampir saja Itachi meninju adiknya yang bodoh itu karena kecerobohan kecil yang membuat panik sekeluarga hingga hampir setengah tahun ini.

Dan tentu saja Sasuke pun bercerita jika ia melarikan diri dan membawa kabur Sakura pada malam hari untuk segera ke Bandara, dan sampailah mereka di Paris. Tapi tujuan sebenarnya bukanlah untuk melarikan diri, hanya untuk menyadarkan ayah Sakura jika Sasuke bersungguh-sungguh untuk mencintai Sakura, menghidupi Sakura dan juga anaknya. Sayangnya mereka terlalu cepat mengambil keputusan hingga tidak tahu jika ayah Sakura sudah merestuinya.

Itachi tertegun dengan keputusan adiknya. Mungkin orang akan berfikir ini keputusan yang gila, tapi dengan kegilaan inilah, Sasuke akan berhasil menyelamatkan cintanya. Itachi pun akhirnya berfikir untuk membiarkan Sasuke dan Sakura di sini sementara, karena bagaimanapun orangtua mereka pasti akan mencari. Lagipula mereka bukan warga negara ini, jadi hanya sementara saja. Itachi memang selalu memberikan yang terbaik untuk adiknya.

Maka Itachi tersenyum setelah selesai Sasuke bercerita. "Kau sudah dewasa ya, Sasuke." ucap Itachi membuat Sasuke sedikit terkejut, tapi kemudian balas dengan senyum spesial untuk kakak kesayangannya. Benar kan, semua akan baik-baik saja.

Itachi memejamkan matanya masih sambil tersenyum, "Sakura-chan,"

"Ya?"

"Berapa usia kandunganmu?" tanya Itachi mulai mengangkat wajahnya, kemudian menatap perut Sakura yang duduk berhadapan dengannya.

Sakura sedikit tersipu. Jujur saja, ia merasa sudah benar-benar menjadi adik ipar Itachi. "E-eto... Sudah lima bulan." jawab Sakura salah tingkah.

"Wow," Itachi memasang wajah terkejut meski sebenarnya ia sudah bisa menebaknya. Sekarang ini, sepertinya saat yang tepat untuk menggoda mereka. Begitulah fikir Itachi. Itachi sedikit terkikik, "Berarti Sasuke, kau melakukannya saat pertama kali Sakura-chan datang ke Paris, ya."

Sasuke mulai mengalihkan pandangannya karena wajahnya yang memerah, begitupun Sakura yang langsung menunduk malu. Karena ucapan sang kakak memang benar, mereka melakukannya saat pertama kali dan tak menyangka langsung menghasilkan buah kecil.

"Kau subur juga ya, Sakura-chan." goda Itachi membuat keduanya makin memerah dan keringat dingin. "Bodoh, kau itu jangan bicara yang tidak-tidak!" ucap Sasuke yang justru dibalas gelak tawa Itachi.

.

.

.

Hanya dengan menunjukkan selembar foto, Fugaku mencari Sasuke dan Sakura di beberapa Kepala Stasiun Kereta kota Konoha, Kepala Pelabuhan, dan Kepala Bandara. Entah kenapa perasaan Fugaku mengatakan mereka pasti berniat untuk meninggalkan Konoha. Dan benar saja, mereka yang sedang duduk gelisah di dalam mobil serempak tersadar dari lamunan mereka karena ketukan kaca mobil. Itu adalah orang suruhan Fugaku yang ditugaskan mencari Sasuke dan Sakura.

Fugaku membuka kaca mobil, dan lelaki berjas hitam itu segera membungkukkan badannya memberi hormat, "Kami ingin memberi informasi, tuan muda Sasuke dan nona Sakura membeli tiket pesawat ke Paris. Itu info kuat dari Kepala Bandara yang mengatakannya, identitas mereka tertulis jelas, mereka berangkat malam tadi." ucap lelaki itu tegas.

Keluarga Uchiha dan Haruno yang mendengar itu serempak terkejut setengah mati. Sampai berani seperti ini mereka pergi? Fugaku yakin, Sasuke pasti pergi ke rumah Itachi. Segera saja ia menenangkan diri dan memejamkan matanya, "Siapkan pasport, kita akan segera pergi ke Paris."

: : : Datte, kimi Ga Warau Kara : : :

Pukul 21:30, cukup malam. Di dalam sebuah kamar sederhana bercat kuning gading, tengah duduk wanita rambut pink sambil menghadap ke cermin, rambut halusnya kini tengah disisiri oleh wanita berambut biru dengan gerakan halus.

"Wanita hamil itu tidak boleh banyak fikiran, jadi kau jangan banyak fikiran, Sakura." ucap Konan membuat Sakura tersadar. Ternyata memang melamun.

"Hehehe... Ehm... Aku hanya teringat seseorang saja, kak. Dulu... aku sering sekali disisiri seperti ini oleh sahabatku..."

Konan berhenti sesaat menyisiri rambut Sakura, "Hm, Ino namanya, ya?" tanya Konan asal, membuatnya bisa melihat wajah Sakura yang terkejut di pantulan cermin. Konan tersenyum, "Aku mengetahuinya dari Itachi. Tentu saja kau pasti merindukannya, kan." Konan selesai menyisir rambut Sakura hingga benar-benar licin, setelah itu ia duduk di pinggir ranjang dan berhadapan dengan Sakura yang masih duduk di meja rias Konan.

"Apa berarti kakak juga tahu tentang...?"

"Ya, Itachi menceritakan semua masalahmu dan Sasuke," ucap Konan masih tersenyum. Ah, tentu saja Itachi menceritakannya, Konan itu istrinya.

Konan yang melihat Sakura kembali diam langsung menggenggam tangannya, "Tapi yang penting sekarang semua sudah selesai, kan."

Sakura menatap wanita Uchiha itu yang kini tersenyum manis. Konan benar, semua sudah selesai. Tadi itu hanya perasaan yang sekilas lewat mengingat kejadian-kejadian lalu. Sekarang itu, Ino sudah bisa menerima semua. Sakura langsung membalas senyum Konan dan mengangguk, "Iya. Terima kasih, kak."

Tok, tok, tok.

Baru mereka tertawa-tawa kecil, ketukan pintu membuat kedua wanita itu menengok berbarengan. Segera saja Konan bicara, "Masuk." suruhnya. Pintu terbuka, menampakkan sosok Itachi yang... entah kenapa sedikit panik. Setelah sosok Itachi terlihat jelas karena pintu telah dibuka lebar, yang pertama kali ia tengok adalah Sakura.

"Ayah dan ibu datang," ucap Itachi sukses membuat Sakura beku, "bersama orangtuamu, Sakura-chan. Mereka tahu kau ada di sini." lanjut Itachi membuat Sakura semakin pucat. Secepat itukah mereka datang? Konan yang melihat Sakura seperti itu langsung mengeratkan genggaman tangannya, "Ayo, Sakura. Kau bisa melewatinya."

Maka Sakura menggangguk meyakini kata-kata Konan. Setelah itu ia berdiri, mengambil nafas dalam-dalam, dan mulai berjalan bersama Konan dan Itachi. Konan benar, jika masalah Ino saja ia bisa selesai, Sakura dan Sasuke pasti sanggup untuk melewati ini. Sakura sudah bisa menebak, orangtuanya kali ini pasti akan marah besar, tapi biarlah, Sakura pasti bisa mengatasi semuanya. Karena ia yakin, kedua orangtuanya sangat menyayangi dirinya.

Langkah demi langkah, Sakura terus berdoa. Tuhan itu menyayangi semua umat manusia yang berusaha. Sakura dan Sasuke sudah berusaha sampai sejauh ini, maka Sakura makin yakin usahanya selama ini tidak akan sia-sia. Hingga sampai di ruang tamu, Sakura bisa melihat di sana sudah berdiri kedua orangtuanya dan orangtua Sasuke.

Dan ternyata Sasuke sudah ada di samping Sakura, ia baru keluar dari kamar Itachi yang tak jauh dari sisi tangga. Sakura menengok sekilas, kemudian akhirnya mereka bersama-sama berjalan ke arah ruang tamu. Mungkin orangtua mereka sangat khawatir hingga mereka di ruang tamu berdiri, tidak duduk di sofa.

Konan dan Itachi berdekatan di belakang Sasuke dan Sakura, wajah Itachi sudah was-was, takut-takut akan ada perdebatan besar antara adik dan orangtuanya itu. Tahu kan, Sasuke itu mudah emosi. Walau Itachi berfikir Sasuke sudah mulai berfikir dewasa, tapi tetap saja khawatir.

Sementara Sasuke mulai menggandeng tangan Sakura kuat-kuat, Sakura bisa merasakan jika Sasuke juga sangat yakin bisa menghadapinya, Sakura harus kuat. Ia menengok, melihat ekspresi ibunya yang khawatir, ayahnya yang... entah marah atau khawatir, sulit diartikan. Membuat Sakura mulai keringat dingin.

Aouyama, yang pertama kali langsung mendekati Sasuke dan Sakura. Tanpa basa-basi Aouyama menatap Sasuke tajam. Pandangannya dapat diartikan, ia tak suka putrinya dibawa pergi begitu saja. Sasuke yang menyadari tatapan itu balik menatap. Bukan menantang, tapi yakin.

"Aku akan tetap bersama Sakura apapun yang terjadi!" ucap Sasuke tanpa diminta. Aouyama tak memperdulikan, dan justru kini pandangannya beralih pada putrinya. Sakura yang mendapati tatapan tajam dari sang ayah masih berusaha untuk bisa menghadapinya meski sangat menegangkan. Ini baru pertama kalinya Sakura harus menentang ayahnya. Begitulah fikirnya.

Tangan Aouyama menggenggam kasar tangan Sakura, membuat Sakura sedikit meringis. Mau tak mau, Sasuke melepas genggaman tangannya. Karena ia yakin ini adalah urusan antara ayah dan anak. Meski ia juga pasti ada sangkut pautnya. Tapi satu, Sasuke akan tetap berada di samping Sakura.

Mata tajam itu, genggaman kasar itu, baru kali ini Aouyama memperlakukan Sakura seperti itu. Sakura sudah sangat gemetar, ia mengira-ngira, mungkin setelah ini ayahnya akan menamparnya, mengusirnya agar tidak usah kembali ke rumah, atau apapun yang akan—

"Jangan membuat orangtuamu khawatir..."

Sakura terkejut. Secepat kilat, kini tubuhnya sudah ditarik untuk berada dalam dekapan sang ayah, kemudian kata-kata itu keluar begitu saja dengan lirih, berbeda dengan tatapannya tadi. Apa maksudnya? Bahkan Sasuke hanya bisa diam mendengar ucapan itu. Begitupun Itachi dan Konan, terkecuali Fugaku, Mikoto, dan Azuki, yang memang sudah tahu apa yang akan dilakukan kepala keluarga Haruno itu.

"Ayah—"

"Harusnya kau tak perlu nekat melarikan diri. Tanpa kau melakukannya..." Aouyama terus menciumi puncak kepala Sakura, "...ayah akan merestui hubunganmu, nak."

Setetes air mata jatuh begitu saja dari kedua iris klorofil Sakura, dan terus mengalir menjadi aliran sungai kecil di pipi. Matanya masih membulat, hatinya terasa panas, entah bagaimana ia harus menyampaikan perasaannya. Tapi kata-kata ayahnya itu benar-benar membuat jantung Sakura hampir berhenti. Senang, bercampur haru.

Azuki tak mau ketinggalan momen itu, ia langsung mendekati Sakura dan ikut memeluknya. Terserah Sakura akan dibilang seperti mayat hidup karena masih diam tak bergerak di pelukan ayahnya. Ibunda Sakura memeluknya begitu lembut. Dapat mereka dengar, isak Sakura mulai terdengar, "Apakah... aku sedang bermimpi?"

Azuki mengusap kepala putrinya itu, "Tak ada satupun orangtua yang tega membiarkan anaknya menderita terus-menerus, sayang..." ucap Azuki berlanjut dengan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.

Sakura tiba-tiba langsung jatuh berlutut di hadapan kedua orangtuanya itu, dengan cepat ia menundukkan kepala, "Tolong maafkan aku, ibu, ayah... Aku telah banyak melakukan dosa pada kalian, tolong... Hiks... Maafkan aku..." ucap Sakura sesenggukan, membuat suasana di sana semakin pilu.

Ibunda Sakura segera mengangkat bahu Sakura untuk berdiri, dan Sakura menurutinya. Sakura dapat melihat wajah Azuki begitu penuh kasih sayang, menghangatkan hatinya. "Apa kau fikir kami orangtua egois yang tidak bisa memaafkan anaknya?"

Mendengar itu, Sakura menghambur ke pelukan Azuki, dan Aouyama ikut kembali memeluk Sakura. Kini momen keluarga Haruno dapat disaksikan oleh keluarga Uchiha di sana.

Sasuke sendiri tidak tahu harus bagaimana menyampaikan perasaannya. Ia juga seperti Sakura, terasa seperti bermimpi. Saking gembira dan terharu, kakinya terasa lemas hingga ia jatuh berlutut seperti Sakura tadi. Tidak, ini bukan mimpi, karena pantas saja sedari tadi kedua orangtuanya tak tampak serius. Mungkin ini juga saatnya... Saatnya Sasuke harus mengeluarkan kata-kata yang mewakili semua perasaannya.

"Maaf..."

Azuki dan Aouyama melepas pelukannya, begitupun Sakura, karena mereka semua menengok ke arah Sasuke yang sudah berlutut itu menundukkan kepalanya. Di hadapan semuanya, kedua orangtuanya, kakak dan kakak ipar, dan terutama keluarga Haruno, akan menjadi saksi penyesalan Sasuke. Telah membawa masalah kecil dan menjadi rumit, melibatkan banyak orang untuk ikut terlibat dalam benang masalah yang kusut.

"Maaf..." ulang Sasuke. Kali ini lebih lirih, dan itu membuat hati Aouyama begitu tersentuh. Ia tahu, Sasuke adalah pria bertanggung jawab, dan ialah yang memang seharusnya menjadi pendamping Sakura.

Maka Aoyama mendekatinya, kemudian mengulurkan tangannya sambil tersenyum, "Bangunlah, Sasuke."

Sasuke yang melihat sebuah tangan di depan matanya itu sedikit terkejut, apakah ia masih pantas dimaafkan? Dan jawabannya adalah 'ya' setelah ia mendongakkan kepala, ia melihat senyum Aouyama yang begitu tulus. Ia pun menyambut tangan Aouyama untuk berdiri, dan setelah berdiri Aouyama langsung memeluknya erat.

Awalnya mungkin terasa canggung, tapi akhirnya Sasuke balas memeluk Aouyama. Mungkin terlihat bodoh jika Sasuke menangis, tapi memang air mata sudah keluar dari mata Uchiha bungsu itu. Begitupun Aouyama, ia menangis haru sambil menepuk-nepuk pelan bahu Sasuke.

"Maafkan aku, paman."

"Ya, aku memaafkanmu. Sudah memaafkanmu."

Melihat adegan mengharukan di depan mata, membuat mata Konan sudah berkaca-kaca sambil tersenyum, begitupun Itachi yang ikut tersenyum sambil memejamkan matanya. Adiknya kini benar-benar telah sampai di puncak penderitaannya yang berakhir bahagia. Begitu pula Fugaku dan Mikoto, ibu dari kedua putranya itu kini menangis haru di pelukan Fugaku yang juga tersenyum tipis.

Akhirnya semua menghela nafas, melepas semua beban yang ditanggung di punggung mereka. Terutama Sasuke dan Sakura. Kini mereka telah melepas pelukan dari Azuki dan Aouyama, kini mereka saling berhadap-hadapan, berpegangan tangan dan saling menatap. Semua yang ada di sana menjadi saksi, cinta kedua insan itu mulai bersemi kembali setelah sempat tertunda karena suatu bencana.

Dari sini, Sasuke dan Sakura akan melanjutkan yang telah tertunda. Terus bersama, menjalani kisah selanjutnya yang akan lebih indah, bersama si kecil dalam kandungan itu, yang cepat atau lambat akan lahir, tumbuh dan menjadi bukti bahwa ialah ikatan cinta mereka. Buah hati mereka.

.

"Aku merindukanmu, Sakura."

.

"Sasuke-kun, tenanglah! Ini aku, Sakura!"

.

"...Maksudku, ya, tujuan kami dari awal ke sini selain mengundang teman-teman Itachi ke Paris, kami ke sini juga memang untuk menjadikan kau tunangan Sasuke."

.

"Aku ingin... kau memilikiku... Kumohon, Sasuke-kun... Miliki aku seutuhnya..."

.

"Je t'aime, Sakura."

.

"A-aku... Ingin pertunangan kita dibatalkan saja..."

.

"Aku... Sekarang ini sudah akan melupakanmu..."

.

"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal jika kau mengandung anakku? Dan kenapa kau menyembunyikan hal yang kau ketahui? Ino hamil oleh Sai dan bukan aku. Tapi kenapa kau membiarkannya?"

.

"Jika kau pulang, ayahmu akan melarangmu untuk bertemu lagi denganku..."

.

Semua telah selesai. Masalah, kesedihan, dusta, yang terus berlarut-larut menjadi penderitaan. Ternyata ada ujung dari semuanya. Karena Tuhan memang adil. Siapa umatnya yang berusaha, maka Tuhan akan memberikannya jalan keluar dari masalah.

Semua telah menjadi pelajaran, jika masalah kecil bukan berarti diremehkan, karena sekecil apapun masalah bisa menjadi besar dan membawa bencana.

Semua telah usai menjadi kenangan. Belajar dari masa lalu, kemudian jalani hari ini untuk lebih baik, dan berdoa untuk hari esok, dan seterusnya.

Karena kini semua kembali tersenyum. Bukan senyum dusta, kepahitan, atau apapun, tapi senyum yang tulus dari hati, dan hanya diberikan pada orang tertentu. Jika salah satu dari mereka bertanya, kenapa semua bisa terjadi? Mereka akan menjawab: Karena..., kau tersenyum untukku.

Dengan berpelukan, Sasuke dan Sakura bersatu, menuju impian cinta mereka untuk bersama-sama.

.

.

.

~ OWARI ~

.

.

.

Datte, Kimi Ga Warau Kara by AsaManis TomatCeri

© 2013

.

.

.

OMAKE

Pesta makan malam diadakan meriah di restoran kota Paris setelah dua minggu lalu Sasuke dan Sakura datang ke rumah Itachi. Saat semua sedang bercerita, tertawa bahagia seperti dulu, sebelum saat-saat sulit mendatangi hidup mereka. Tapi di tengah kemeriahan, tiba-tiba ponsel Sakura berdering.

"...dan Sakura—"

"Maaf, kak Itachi, aku harus ke toilet sebentar." ucap wanita berambut merah jambu itu langsung berdiri dari kursinya. Karena memang saat ini ia sedang mengobrol dengan Itachi. Karena Sasuke sibuk mengobrol dengan Fugaku dan Aouyama entah apa itu, Mikoto, Azuki, dan Konan juga sedang mengobrol entah apa itu.

"Oke." jawab Itachi seadanya. Segera saja Sakura berjalan cepat ke arah toilet yang tidak jauh dari sana, kemudian mengambil ponselnya yang ada di tas kecil merah marun miliknya.

Ia lihat, di layar ponsel, yang menelepon Naruto. Langsung saja ia segera tekan tombol hijau dan mengarahkan speaker ke lubang telinganya. "Halo,"

"SAKURA-CHAAAN!"

Sakura menjauhkan ponsel dari telinganya. Hampir saja ia tuli mendengar teriakan kegirangan itu. Setelah merasa tak berteriak lagi, Sakura kembali mendekatkan ponsel di telinganya, "Ada apa? Jangan teriak-teriak, BODOH!" omel Sakura.

"Sakura-chan, kau di Paris, kan—aku tahu dari gosip—jadi tidak bisa meneleponmu lama-lama, tarifnya mahal!" seru Naruto dari seberang sana.

"Iya, iya, ada apa?"

"Istriku, Hinata...," suara Naruto kembali kegirangan, "dia positif hamil! Aku akan menjadi ayah!"

"ASTAGA! Benarkah?! Ya ampun, selamat!" Sakura melompat kegirangan sambil terus menelepon. Untung toilet sepi, jadi tak ada yang melihatnya. Bahagia sekali mendengarnya, sahabat baiknya itu sudah akan memiliki anak. "Lalu mana Hinata, aku mau bicara."

"Dia sedang diberikan vitamin oleh dokter di dalam, aku masih di rumah sakit selesai memeriksa Hinata. Ah, ya, di sini ada Ino ju—. HALO, JIDAAAAT~" Tiba-tiba suara Naruto berubah jadi pekikkan keras yang tak asing untuk Sakura. Sakura tersenyum, "PIG! Aku rindu padamu!"

"Ah, berlebihan. Baru dua minggu lalu kita bertemu."

"Hahahaha. Kau tidak rindu padaku?" goda Sakura. Ino mendecih dari seberang sana, "Iya, sudahlah. Hei, aku harus bicara padamu!"

"Apa?"

"Sepertinya aku tidak bisa menunggu lama untuk menikah dengan Sai, jadi aku tarik ucapanku yang lalu untuk menunggu lama agar menikah lagi." kata Ino dengan mudahnya mengucapkan itu. Sakura kaget setengah mati mendengarnya. "Kau itu gila? Apa kata orang-orang nanti?"

"Ya, terserah. Lagipula aku akan menikah bukan di Konoha, tapi di Tokyo! Aku akan tinggal di sana bersama Sai~"

Sakura sweatdrop mendengar Ino berbicara seperti itu. Yah, sahabat pirangnya ini terkadang memang tidak sabaran. Akhirnya Sakura menghela nafas, "Terserah kau sajalah... Tapi kau mati jika nanti tidak memberi tahu kapan tanggalnya tiba!" ancam Sakura membuat Ino tertawa di seberang sana.

"Tentu saja nanti aku akan memberitahumu, dan kau yang akan mati jika tidak datang ke pernikahanku! Jangan lama-lama di Paris, aku ingin curhat banyak padamu!"

"Aku pasti datang, pig. Iya, minggu depan aku pulang."

"Ya, harus. Dan lalu...," Ino memberi jeda sesaat, "kapan kau akan menikah? Apa Sasuke-kun belum melamarmu?" Pertanyaan Ino sukses membuat wajah Sakura memerah.

Memang belum, tapi nanti Sasuke pasti akan melamarnya lagi. Pasti.

.

** FIN **

.

AKHIRNYA... Dengan ini ficnya HAPPY ENDING~ X'D Maaf untuk yang minta sad ending, karena selain polling, beberapa review dan PM sangat kuat minta aku buat pilih happy ending. Maaf, ya.

Dan... Aku tahu kalian pasti teriak "UAPAAA, ENDINGNYA ABAL BANGET!", tapi beneran ini aku buat dengan sepenuh hati dan penuh harapan agar readers puas... #ciebahasanya *nangisgelundungan*

Dari awal fic ini dibuat, sampai chapter terakhir, banyak banget review yang ngebangun semangatku, aku seneng banget walau ga bisa bales review kalian satu-satu. Aku tetep baca ripiu sepatah kata kalian dari yang concrit, kasih semangat, saran, sampe flame semua aku baca terharu. Karena berarti kalian peduli sama fic aku. Makasih banyak. X')

SPECIAL THANKS :

.77, Retno UchiHaruno, Ayano Futabatei, naomi, hima sakusa-chan, nadja violyn, Mey Hanazaki, Tsurugi De Lelouch, Kithara Blue, el, Xiao Demon, Guest, Gin Kazaha, Guest, uchihana rin, SakuraChiha96, Supergalsaiya, Deauliaas, me, yuri, Mizuira Kumiko, poetrie-chan, selphie, akasuna no ei-chan, SiwonWife, maria, Guest, Doremi saku-chan, Song HyoRa137, Tsukiyomi Aori Hotori, Fivani-chan, birumenanti, Hikari Matsushita, Arakafsya Uchiha, HIMEKA 30, Karasu Uchiha, Baka Iya SS, Asakura FoYuuki, Luvahulic, , pink cherry, aoi, , sasusaku kira, Carine Vavo, Anka-Chan, Nadya harvard, cutebabygyu, viekha chu.

Dan yang numpang lewat aja, arigatou.^^

I love u, all! Jangan bosan dengan karya-karya aku yang lain, ya. Sampai jumpa di fic lainnya~ :')

Perlu sekuel?

R

E

V

I

E

W

?