Tim dekor eksklusif Hitsue. Jeng jeng jeeeng~

Katanya sih tim dekor terulung dan terunyu sepanjang sejarah SMA Hitsue. Terdiri dari lulusan-lulusan gemilang beranggotakan Miwa Taishi, Morikawa Katsumi dan Izaki Yuuta, bonus Mbak Tokura Misaki sebagai tenaga bantuan yang (kayaknya terpaksa) ikutan nimbrung.

Gedung Foo Fighter, pertengahan musim gugur.

"Wah—hiasannya manis dan bikin hati menghangat, deh," tutur Asaka. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru hall. "Sampai gak ngenalin lagi mana lokasi pesta kawinan, mana playgroup—"

Ya, tentu saja, siapa yang nggak akan mengira ini playgroup atau tempat penitipan anak hilang kalau dekorasinya meriah ala pesta ulangtahun begini, dengan warna Baby-blue dan pink pucat mendominasi, pita-pita menggelung di sana sini, serta meja-meja makan yang penuh dengan boneka-boneka lucu.

"Tolong, deh," Miwa memijit keningnya. "Kayaknya Kai sama Aichi itu mau nikah, kan, ya? Bukan mau bikin usaha tempat penitipan anak?"

"Ya, siapa tahu, kan?" Izaki ngeles. "Setelah menikah, mereka akan hidup berdua, terpisah dari kota ini dan membuka panti asuhan, mengasuh anak-anak yang kurang beruntung bersama?"

Plot cerita mana itu?

"Miwa-senpai! Sudah kupasang lampu hiasan pesananmu!" Morikawa berseru bangga, sambil tunjuk-tunjuk bagian atas. Misaki geleng-geleng kepala.

"Okedeh," Miwa Taishi memijit keningnya. "Men, sahabat kita yang tampan dan berani-Kai Toshiki-akan melepas masa lajangnya, dan kita sebagai sahabat-sahabat yang baik pun ambil bagian dalam pengaturan properti dan tempat pesta."

"Dia harus sungkem sama gue," sahut Morikawa membusungkan dada. Izaki hanya membuang napas, merasa dekorasinya tak lebih parah dibanding Morikawa. "Gue udah capek-capek nyariin properti dekorasinya, kayak bunga, lampu, sampai lagu-lagunya."

"Iye. Minggu lalu gue emang bilang tolong cariin lampu kelap-kelip yang warnanya bisa berubah-ubah itu, biar acara nikahan mereka meriah sedikit," Miwa merasa capek, jari telunjuknya mengarah ke atas. "TAPI BUKAN LAMPU DISKO-! KAI MA AICHI TUH MAU NIKAH, PLIS, BUKAN MAU DUGEM-"

" Kalau yang kaya lampu Natal itu udah abis, adanya lampu itu ... lagian nikah sama dugem kayaknya sama-sama senang, deh."

Tokura Misaki, satu-satunya makhluk waras di sini merasa ingin cepat pulang dan nonton Yuttaran. Ada pemain baru, loh, betewe, Rati Curti namanya.


Bersambung


Halooo. Apa kabar? #yha

Maaf, dua minggu belakangan saya nggak update karena sakit, dan ada masalah RL dan CW juga huhuhu. Lalu saya mau ngasih tahu juga, minggu depan apdetan fanfic ini mungkin ditunda dulu, soalnya author sibuk ngurus event KaiAi di FB XD oh iya, chapter selanjutnya chapter akhir dan bakalan panjang. Jadi sabar nunggu yaaa x))

Btw selamat menunaikan Ibadah Puasa. Semoga amal-ibadah kita diterima dan dilipatgandakan di bulan yang suci ini. Author juga mau minta maaf kalau sekiranya punya kesalahan ya )


.

.

"Akhirnyaaa selesai juga urusan dekor-mendekor," Miwa menghela napas, merasa usaha tim dekornya pantas mendapat penghargaan Adipura(?),

Herannya, lampu dikso dan boneka-boneka itu tetap dibiarkan pada tempatnya. Katanya, sih, biarin aja, biar suasana acara pernikahannya beda aja—padahal cuma malas membereskannya, kan?

"Eh tunggu, itu boneka-boneka apa, kok kayaknya familiar?" Miwa menunjuk satu meja, persis di sudut kiri. Belum sempat disahut, lampu gedung sudah kedap-kedip. Udara dingin menelusup membungkus kulit. Sontak merinding ketika suara angin dari AC terdengar bagai bisikan-bisikan yang sayup-sayup. Seketika lampu sorot menyala, menerangi meja di depan sana, berisi sepasang boneka yang tengah duduk berhadapan.

Seluruhnya kabur terbirit-birit seraya histeris; "ASTAGAAA ITU ANNABELLE DAN BRAHMS!"

"BANGSAT KENAPA ADA CHUCKIE JUGA-!"

"ITU YANG DI ATAS PANGGUNG JELANGKUNG BUKAN SIH?"

Sekali lagi, kita masih berada di acara [Masih Dunia Nikahan Pasutri VG(?)]

.

.

RnR?