Mijung masih setia menemani Woobin yang sedang memilah beberapa baju ditoko itu. Mijung memang disana namun pikirannya melayang jauh dari tempat ia berpijak. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana reaksi Wonwoo setelah bertemu dengan kakaknya. Selain itu Mingyu pun mungkin akan sedih mendengar perihal rencana Woobin yang akan membawa Wonwoo kembali ke Jepang.

"Mijung?" Suara berat Woobin membangunkan Mijung dari lamunannya. Ia menoleh pada laki-laki itu lalu tersenyum. "Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja." Mijung memberi senyum terbaiknya kemudian mulai berjalan diantara pakaian-pakaian ditoko tersebut. "Bagaimana dengan yang ini?" Mijung menunjukan sebuah kemeja berwarna hitam dibagian atas dan putih dibagian bawahnya. Woobin memperhatikan kemeja tersebut lalu tersenyum tipis dan mengangguk.

"Kau punya selera yang bagus" Woobin menghampiri Mijung lalu mengambil kemeja itu dari tangannya, "seperti biasa."

"Aku juga ingin membeli sesuatu untuk adikku." Gumam Mijung sembari matanya berkeliling, mencari sesuatu yang cocok untuk adik laki-lakinya.

"Kim Mingyu?"

"Ya. Kebetulan aku hanya punya satu adik laki-laki." Woobin tertawa mendengarnya, kemudian laki-laki itu pergi ke kasir untuk membayar, diikuti Mijung. "Ayo cari hadiah lain untuk adikmu, aku yang bayar. Hadiah perkenalan." Woobin tersenyum tipis lalu mulai berjalan keluar dari toko itu bersama Mijung.

.

.

.

.

.

.

Wonwoo tengah berdiri di depan kompornya. Satu bungkus ramyun telah masuk ke dalam tempat masak, hanya tinggal menunggu beberapa menit lagi dan ia dapat memuaska hasrat-ingin-makan-ramyun-nya. Hari ini ia datang terlambat ke sekolah dan tidak sempat membuat bekal makan siang, uang sakunya tertinggal, dan lebih parahnya lagi Mingyu tidak berada di sekolah hari ini karena harus mengikuti turnamen kualifikasi sepak bola bersama timnya. Kesialan yang tak berujung, gerutu Wonwoo sepanjang hari. Ia bersyukur karena paling tidak, Lee Jihoon mau memberikan sepotong roti untuknya ketika jam makan siang.

Wonwoo terus menatap wadah masak yang mengepulkan asap. Ia menghirup wangi khas Shin Ramyun yang semakin membuatnya lapar. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Segera diraihnya benda pipih itu dari atas lemari pendingin. Sebuah pesan masuk dari Kim Mingyu.

Mingyu : 'Kau sudah makan? Aku merindukanmu~ Ayo bertemu saat kau bekerja!'

Wonwoo menggeleng perlahan. Lalu dengan cepat membalas pesan tersebut.

Wonwoo : 'Jangan coba-coba menemuiku saat jam kerja. Lagipula hari ini kau butuh istirahat. Kau ada dimana?'

Diletakannya smartphone itu diatas lemari pendingin. Ia menoleh dan mienya siap untuk disantap. Dengan segera ia membawa panci kecil itu menuju meja makan. Ia kembali untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Ia menyalakan layarnya namun tak ada pesan masuk.

"Aneh. Biasanya ia sangat cepat membalas pesan dariku."

Ia pun duduk dan mulai makan. Wonwoo terus bergumam tentang betapa lezat ramyun yang ia nikmati saat ini. Berlebihan mungkin namun jangan salahkan ia karena laki-laki bermarga Jeon itu begitu lapar. Ia menyesap kuah yang tersisa dari panci itu dan makanannya pun habis. Tepat setelah itu ponselnya berdering, Kim Mingyu meneleponnya.

'Aku mencium bau ramyun.'

"Hah? Apa?"

'Buka pintunya, hyung.'

Wonwoo terkesiap namun dengan segera ia berjalan setengah berlari menuju pintu masuk. Perlahan ia membukanya dan tepat seperti dugaannya, Kim Mingyu berada disana. Masih menggunakan seragam sepak bolanya serta sepatu kesayangan bernama "Jjungmong", ia tersenyum lebar sembari masuk tanpa diperintah. Wonwoo menatap sinis sang pacar lalu menutup pintu dan mengikuti Mingyu yang berjalan menuju sebuah sofa. Mingyu duduk bersandar sembari membuka sepatunya. Wonwoo duduk pada sofa lain didekatnya.

"Kau ini benar-benar penuh kejutan."

"Aku tau kau merindukanku." Mingyu menyengir lebar.

"Demi Tuhan. Kim Mingyu, kau masih punya rumah. Kenapa kau datang kesini?" Suara Wonwoo menggema dirumah besar itu. Si tersangka sama sekali tidak mengubris dan kemudian berbaring. "Astaga, anak ini benar-benar." Wonwoo menggerutu kemudian berjalan menuju dapur. Ia mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin kemudian kembali menghampiri Mingyu yang tengah menutup matanya. Wonwoo dengan sengaja menempelkan botol itu pada pipi Mingyu, dan sukses membuat laki-laki bertubuh tinggi itu tersentak.

"Hyuuuung" Mingyu merajuk kesal. Wajahnya terlihat kelelahan, dan untuk sesaat Wonwoo merasa menyesal membangunkan anak itu. Mingyu menatap minuman ditangan yang lebih tua lalu mengambilnya sembari duduk bersandar.

"Bagaimana pertandingan hari ini?" Wonwoo memulai percakapan. Ia memilih duduk disebelah Mingyu dan mulai membongkar isi tas sang pacar.

"Biasa saja. Aku sudah memperkirakan kemenangan hari ini. Kami lolos ke babak selanjutnya." Mingyu kembali menenggak minuman dingin itu.

"Ah~ jadi kau lolos. Kapan kau akan bertanding lagi?" Wonwoo tengah memeriksa kotak makan Mingyu. Habis. Wonwoo tersenyum. Anak itu sudah makan, paling tidak perutnya terisi setelah lelah bertanding.

"Besok pagi." Mingyu melirik Wonwoo yang sibuk dengan kegiatannya sendiri. "Aku sudah memakannya. Tenang saja."

"Anak pintar." Wonwoo mengusak rambut Mingyu yang sudah berantakan. Mingyu tersenyum menampilkan gigi taringnya yang panjang lalu melirik jam tangannya. Sudah hampir jam 7 malam.

"Hyung, aku mau mandi."

"Baiklah. Kau ingin sesuatu?" Mingyu terlihat berpikir sesaat lalu tak lama ia tersenyum.

"Aku menginginkanmu." Sembari mengeluarkan smirk andalan keluarga Kim.

"Dasar mesum!" Wonwoo melempar kaus ganti Mingyu dari tangannya dan tepat mengenai wajah sang pacar. Mingyu tertawa kemudian bergegas untuk mandi, namun sebelum masuk ke kamar mandi ia berteriak. "Buatkan aku susu cokelat, hyung!"

Wonwoo pun berjalan ke dapur untuk membuat susu cokelat. Tak butuh waktu lama susu cokelat itu siap. Kemudian Wonwoo membawa susu itu menuju ruang tengah sembari menunggu Mingyu yang sedang mandi. Wonwoo memainkan ponselnya hingga sebuah telepon masuk dari nomor tidak dikenal menghubunginya.

'Wonwoo? Ini aku Minjung.'

"Noona? Ada apa?"

'Kau ada dirumah? Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu.'

"Noona tau rumahku?"

'Tentu saja, sayang. Noona akan sampai sebentar lagi, jangan pergi kemana-mana, kau mengerti?'

"Baiklah. Hati-hati dijalan, noona."

Tak lama sambungan telepon terputus. Wonwoo menatap ponselnya sesaat kemudian mengalihkan pandangannya pada Mingyu yang ternyata sudah selesai mandi. Mingyu menatap wajah laki-laki berwajah datar itu sesaat kemudian menyalakan televisi.

"Kau memberikan alamatku pada kakakmu?" Wonwoo bertanya sembari memperhatikan acara yang diputar oleh televisi. Mingyu menoleh sesaat setelah meminum susu cokelatnya.

"Tidak. Memang ada apa?" Mingyu mengernyit menatap sang lawan bicara.

"Aneh. Mijung noona sedang dalam perja-"

Belum selesai Wonwoo bicara, bel rumahnya berbunyi. Mingyu dengan segera pergi untuk membuka pintu sementara Wonwoo enggan untuk mengikutinya dan memilih untuk kembali bersandar pada sofa. Pintu dibuka oleh Mingyu dan muncullah sosok sang kakak.

"Selamat ma- Astaga! Apa yang kau lakulan disini?" Mijung menatap sang adik yang berdiri tepat di depannya. Mingyu hanya tersenyum menampilkan giginya kemudian tatapannya beralih pada sosok lain disebelah Mijung.

"Oh annyeonghaseyo." Mingyu memberi salam pada sosok tersebut yang dibalas senyum tipis.

"Mingyu, kau lama sekali." Tak lama Wonwoo muncul dan begitu melihat tamu yang datang ia berhenti berjalan.

"Kau terlihat semakin tinggi." Sosok asing itu tersenyum pada Wonwoo. Sementara Wonwoo hanya diam menatap sosok tersebut.

"Ayo masuk, jangan berdiri saja disini." Mingyu mempersilahkan keduanya masuk lalu mereka berjalan menuju ruang tengah diikuti Wonwoo.

"Woobin, ini adikku, Kim Mingyu."

"Kalian sangat mirip, aku sudah menebaknya sejak ia membuka pintu." Woobin tersenyum sembari menatap Mingyu. "Kau berteman baik dengan Wonwoo?"

"Untuk apa kau kesini?" Wonwoo memotong percakapan itu dengan tiba-tiba. Woobin menoleh pada sang adik kemudian tersenyum.

"Bagaimana kabarmu?"

.

.

.

.

.

.

"Apa tidak apa-apa meninggalkan mereka disana?" Mingyu menatap jalanan yang sepi. Mijung yang duduk dibelakang stir masih fokus pada jalanan. "Noona" Mingyu kembali memanggil sang kakak.

"Aku tidak tau, Mingyu." Gadis bertubuh tinggi itu menghela napas. "Hubungan mereka tak pernah baik, jujur saja."

"Aku merasa bodoh." Mingyu bergumam lalu membuka kaca mobil, menghirup udara malam yang menyegarkan. "Rasanya banyak hal yang belum aku tau dari Wonwoo hyung."

"Kalian pacaran ya?" Pertanyaan itu membuat Mingyu menoleh. Dilihat wajah Mijung yang tidak menunjukan raut jahil atau bercanda seperti biasanya.

"Ya."

"Mingyu. Aku rasa kalian harus putus." Mingyu dengan wajah kesal menoleh pada sang kakak. "Wonwoo akan kembali ke Jepang bersama Woobin." Mijung menghela napas setelahnya.

"Apa?" Mingyu lama berdiam hingga akhirnya kembali bicara. "Noona, bisa turunkan aku di rumah Jihoon?"

Mijung melihat wajah sang adik yang begitu muram, ia mengangguk lalu segera mengantar Mingyu ke rumah sahabatnya itu. Hanya butuh 10 menit dan tanpa bicara sepatah kata pun, Mingyu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Jihoon. Mijung menatap punggung Mingyu yang hilang dibalik pintu rumah kecil itu lalu setelahnya ia pergi.

"Aku rasa aku mulai gila, Jihoon." Mingyu bergumam. Ia berbaring diatas kasur lantai Jihoon, sementara si pemilik rumah sedang mengerjakan tugas sekolah mereka. "Wonwoo hyung akan pindah ke Jepang."

Jihoon menoleh lalu menutup bukunya. Ia bergeser hingga duduk disamping Mingyu. "Apa yang terjadi? Ceritakan padaku."

"Woobin hyung datang dari Jepang, dia kakak dari Wonwoo hyung. Hubungan mereka tidak begitu baik dan Woobin hyung ingin membawa Wonwoo hyung kembali ke Jepang." Mingyu menghela napas untuk kesekian kalinya. "Aku...entahlah...aku bingung."

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Jihoon ikut berbaring di sisi Mingyu. Tangannya dijadikan tumpuan bagi kepalanya.

"Aku tidak tau. Mungkin aku hanya akan menerima keputusannya." Mingyu bergumam lalu bangun dari tidurnya. Ia mengusap kasar wajahnya. "Aku benar-benar akan gila."

"Apa kau tidak ingin menahannya?"

"Ingin. Sangat. Tapi aku tidak bisa. Woobin hyung lebih berhak menentukan apapun dibanding aku." Suara Mingyu memelan.

"Ada satu hal yang membuatmu dan Woobin hyung punya hak yang sama." Jihoon bergumam. Si pria bertubuh kecil itu menatap langit kamar yang ditempeli gambar-gambar bintang yang berpendar saat gelap.

"Apa itu?"

"Kalian sama-sama mencintai Wonwoo sunbae."

"Bagaimana kau mendapatkannya?"

"Apa?"

"Jawaban itu." Mingyu penasaran. Temannya itu memang punya jalan pikir yang berbeda.

"Terlintas begitu saja. Ada apa?" Jihoon mengernyit sesaat.

"Kau cerdas."

"Kau tau aku kan." Jihoon berucap sombong.

"Lalu" Mingyu berucap menggantung, Jihoon menoleh pada bocah raksasa itu. "Apa? Aku harus menahannya? Apa itu tidak apa-apa, maksudku Woobin hyung mungkin punya maksud membawa Wonwoo hyung bersamanya." Suara Mingyu memelan. Ucapannya tidak sejalan dengan apa yang ia mau, yang sebenarnya adalah 'apapun yang Woobin hyung maksud jika itu harus menjauhkanku dari Wonwoo hyung, aku menentangnya dengan keras'. Jihoon juga tau itu. Tapi memang dasar Mingyu amatir soal cinta.

"Terserah lah." Jihoon berguling kembali ke posisi awalnya, duduk mengerjakan tugas.

Mingyu kembali berbaring lalu tidak lama memainkan ponselnya. Ia punya niat untuk cari hiburan. Hiburan adalah teman-temannya. Jadi ia sekarang vidcall dengan Minghao. Minghao terlihat sedang diluar rumah.

"Kau dimana, Hao?"

"Aku merasa diperhatikan, Kim." Mingyu memutar matanya, dasar bodoh. "Di toko waffle dekat toko sepatu Jungguk."

"Mau apa? Cepat ke rumah Jihoon."

"Jelas saja untuk beli waffle, bodoh. Nanti. Pesananku belum datang. Kau bersama Jihoon?"

Mingyu memutar ponselnya hingga si kecil Jihoon terlihat.

"Jihoon-ah! Kau mau waffle?"

Jihoon menoleh

"Oh kau, samakan dengan pesananmu saja."

Ponsel diputar kembali kearah Mingyu, tepat saat itu ia dapat melihat punggung sepupu tercintanya.

"Kalian sedang kencan ya?!" Mingyu heboh.

"Kencan apa, bodoh? Aku tidak sengaja bertemu dengan Jun hyung."

"Berikan ponselnya pada Jun hyung."

Sekarang wajah Jun yang terlihat.

"Ada apa, Mingyu?"

"Hyung, ada masalah." Mingyu berubah serius. Jihoon sampai melirik sesaat. Jun tanggap lebih cepat dari biasanya.

"Kau dimana?"

"Rumah Jihoon. Datang saja kesini bersama Minghao."

"Baiklah."

Sambungan diputus. Namun tak lama Wonwoo menghubunginya. Mingyu tegang, sungguh. Baru kali ini ia merasa tegang hanya karena telepon masuk dari Wonwoo. Ia ingat wajah dingin Wonwoo saat ia dan Mijung meninggalkan kakak berardik Jeon tadi. Mingyu tidak pernah tau Wonwoo bisa punya ekspresi se-tidak-bersahabat itu.

"Kim Mingyu"

"Kau baik-baik saja, hyung?"

Wonwoo menghela nafas.

"Jangan bahas itu dulu"

"Oh maaf hyung." Mingyu berdiri dan keluar dari rumah kecil Jihoon untuk mendapat privasi

"Kau sudah dirumah?"

"Belum, aku pergi ke rumah Jihoon" Mingyu menendang kaleng cola di dekat kakinya.

"Apa yang kau lakukan? Ini sudah malam." Wonwoo berdecak kesal, Mingyu tersenyum bodoh.

"Pacarku perhatian sekali."

"Dasar Kim Mingyu bodoh"

"Ya, aku juga menyayangimu, hyung."

"Jangan pulang terlalu malam, besok kau harus bertanding lagi kan? Kau juga menggangu waktu istirahat Jihoon."

"Baiklah Nyonya Kim."

"Tuan, bodoh. Dan Jeon bukan Kim."

"Nanti akan kuganti"

"Terserah apa katamu saja" Padahal Wonwoo sudah tersenyum tak kalah bodoh. Mingyu selalu berhasil memperbaiki moodnya.

"Aku anggap kau setuju" Mingyu tertawa pelan.

"Ini cara melamar paling payah, asal kau tau saja"

"Apa aku harus memasukan cincinnya ke dalam wine? Atau membuat tulisan 'will you marry me?' dengan bunga mawar?"

"Itu norak!"

"Hmm" Mingyu berpikir. Benar-benar berpikir. "Akan kucari cara yang bisa membuatmu terkejut"

"Aku tunggu itu" Wonwoo tersenyum manis di balkon kamarnya.

"Aku mencintaimu, hyung" Mingyu tersenyum. Tak lama mobil Jun muncul.

"Aku tau, Mingyu" Wonwoo benar-benar lupa kalau suasana hatinya tadi buruk sekali.

Mingyu menutup sambungan telepon kemudian menghampiri mobil sepupunya.

"Jihoon didalam?" Minghao keluar dari mobil membawa bungkusan waffle. Mingyu mengangguk kemudian Minghao pergi.

"Apa yang terjadi?" Jun menyodorkan sekaleng cola yang langsung diterima Mingyu.

"Kakaknya akan membawanya ke Jepang" Mingyu bersandar di sisi depan mobil.

"Apa dia mau?"

"Entahlah. Dia belum mau membicarakan hal ini."

"Lalu apa maumu?" Jun menenggak cola di tangannya.

"Sebenarnya aku ingin menahannya, tapi aku memikirkan maksud kakaknya, mungkin ia punya alasan yang baik."

Jun tersenyum lalu menepuk bahu Mingyu.

"Kau banyak berubah, Gyu. Kau semakin dewasa setelah dekat dengan Wonwoo."

Mingyu tersenyum lalu menenggak colanya.

"Pacarku itu, luar biasa"

"Ya, untung saja waktu itu aku tidak jadi mendekatinya"

"Apa? Kau mau mendekatinya?" Mingyu sebenarnya tidak terkejut lagi. Wonwoo itu tipe ideal Jun, dia tau.

"Tadinya, tapi Minghao lebih membuatku penasaran"

"Eih" Mingyu tertawa pelan.

"Kalian bicara apa sih?" Jihoon muncul bersama Minghao.

"Tidak ada" Jun menjawab.

"Jihoon, kau mau kerja?" Mingyu memperhatikan temannya yang rapi menggunakan kemeja putih dan celana panjang hitam.

"Ya, kau mau menginap atau apa?"

"Tidak, aku mau pulang saja." Mingyu masuk untuk mengambil tasnya.

"Hey, kalian pacaran ya?" Jihoon melirik Minghao. Yang dilirik kaget.

"Tidak/Belum" Minghao dan Jun punya jawaban berbeda.

"Eih semua orang sedang berbunga-bunga" Jihoon berdecak.

"Ayo pulang, hyung" Mingyu muncul membawa tasnya. "Lee Jihoon, jangan sampai kau tertidur saat jam pelajaran besok pagi" Mingyu mengacak tatanan rambut Jihoon, menghasilkan decakan kesal dari pria bertubuh kecil itu.

Jun sudah masuk kedalam mobil bersama Minghao. Sementara Jihoon menahan tangan Mingyu.

"Apa lagi?"

"Apa Mijoo baik-baik saja?"

Mingyu tersenyum.

"Ajak dia bicara jika kau penasaran." Mingyu menepuk bahu Jihoon lalu masuk ke dalam mobil.

.

.

.

.

.

.

.

"Hyung, kau dimana? Aku sudah sampai di cafe" Seokmin mondar-mandir di depan cafe sambil menelepon Soonyoung.

'Aku dalam perjalanan, Seokmin'

"Oh baiklah. Kau ingin sesuatu? Biar aku pesankan" Seokmin berjalan masuk ke dalam cafe kecil itu.

'Hmm red velvet?'

"Dasar fanboy"

Soonyoung tertawa kemudian.

'Cheese cake saja'

Kemudian Seokmin memesan.

"Baiklah. Cepatlah sampai, ada beberapa materi yang tidak aku mengerti" Seokmin memilih sebuah tempat yang dekat dengan jalan utama.

'Kau mengganggu waktu belajarku tau' Suara Soonyoung lebih terdengar merajuk daripada protes, menurut Seokmin.

"Suaramu itu membuatku semakin ingin bertemu, hyung" Seokmin tersenyum menatap jalanan.

'Eih Si mulut manis Seokmin telah kembali'

Seokmin tertawa setelahnya.

'Kututup ya, sebentar lagi aku sampai'

"Baiklah"

'Aku menyayangimu'

Seokmin tersenyum semakin lebar.

"Aku lebih menyayangimu, hyung"

Soonyoung menutup sambungan telepon. Sementara Seokmin duduk menatap orang-orang yang lewat.

"Tuan, ini pesanannya"

Seokmin menoleh lalu tersenyum.

"Terima kasih"

Tak lama terdengar suara keras dari luar cafe. Suara itu begitu keras hingga membuat semua orang di sekitar tempat itu terkejut. Sebuah taxi baru saja bertabrakan dengan mini truk yang melintas berlawanan arah dengannya. Pecahan kaca jatuh berhamburan di aspal. Orang-orang yang melintas berhenti ditempat mereka. Seokmin juga menyaksikan tabrakan naas itu, ia bahkan lupa bernapas sesaat.

Diantara kepulan asap, pintu taxi yang sudah hampir hancur itu terbuka. Seseorang keluar dari sana, tubuhnya terluka parah. Orang-orang yang melihatnya bahkan berpikir jika orang itu dapat berjalan keluar dari taxi yang hancur itu adalah sebuah keajaiban. Sementara sang supir taxi sepertinya tewas ditempat, ia tidak bergerak dikursi pengemudi. Si penumpang yang berhasil keluar itu berjalan gontai menuju trotoar, orang-orang disekitar tempat itu berjalan mendekatinya lalu memapahnya. Seorang wanita paruh baya bahkan segera menelepon ambulance. Seokmin memperhatikannya, si penumpang taxi itu.

Deg

Deg

Deg

Deg

.

.

.

.

.

Mata itu, Seokmin mengenalnya. Bahkan ketika mata orang itu sulit untuk tetap terbuka sementara darah dari kepalanya terus mengalir, Seokmin tau.

Seokmin bangun dari duduknya, berjalan keluar dari cafe dengan setengah berlari lalu menerobos kerumunan orang yang menutupi si penumpang.

Ia sampai dibaris terdepan, dan apa yang dia lihat sekarang adalah hal yang paling tidak ingin ia lihat seumur hidupnya.

"Tidak... ini tidak mungkin"

Seokmin bahkan merasa tidak dapat lagi berpijak.

"Soonyoung!"

.

.

.

.

.

.

Seokmin masih disana. Sekarang ia histeris, menangis dan berteriak meminta orang-orang memanggil ambulance. Wanita paruh baya yang memang sudah menghubungi ambulance berusaha menenangkannya.

"Hyung, kau akan baik-baik saja" Seokmin bergumam dengan terisak. Tangannya terus menggenggam tangan Soonyoung.

Soonyoung diambang kesadarannya. Tubuhnya terasa remuk redam. Kepalanya benar-benar pening sekaligus perih. Ia juga tidak pernah tau hanya untuk bernapas saja sesulit ini. Ia jadi berpikir, akankah ia selamat? Apa ini akan jadi menit-menit terakhirnya? Ia sedih. Banyak hal yang belum ia capai. Ia belum berterima kasih pada orang tua angkatnya, ia juga belum bisa menunjukan betapa ia menyayangi orang yang saat ini menggengam tangannya, yang terus tersenyum untuknya di masa-masa sulit, dan yang paling ia sesali adalah dia belum bisa bertemu dengan saudara kembarnya.

Mereka berpisah diumur 6 tahun. Ia sangat ingin bertemu dengan saudaranya lagi. Memberinya kasih sayang layaknya seorang kakak. Ya, Soonyoung lahir lebih awal dari saudaranya. Tiba-tiba ia teringat rupa saudaranya, senyumnya, caranya tertawa, caranya memeluk Soonyoung.

Soonyoung ingin menangis tapi ia tak lagi punya banyak tenaga.

"Hyung, lihat aku" Seokmin masih sama, ia terus menangis. Soonyoung dengan sisa tenaganya menatap laki-laki pemilik senyum cerah itu.

"Jangan tutup matamu, hyung. Lihat aku saja. Kau mengerti hmm? Lihat aku, hyung. Lihat aku" Seokmin semakin erat menggenggam tangannya, seakan takut Soonyoung akan pergi jauh darinya.

"Nak, ponsel temanmu berdering" Seorang pria datang menghampiri Seokmin dengan membawa serta ponsel Soonyoung yang terlempar beberapa meter darinya. Nama Mingyu tertera di layar ponsel itu.

"Hyung, aku mau-"

"Mingyu, tolong Soonyoung hyung. Tolong dia" Seokmin menangis pilu.

"Astaga, Seokmin? Apa yang terjadi?!"

Ambulance datang saat itu juga. Beberapa petugas segera menurunkan sebuah ranjang untuk mengangkut tubuh Soonyoung. Seokmin tidak melepaskan tangan Soonyoung. Ia masuk ke dalam ambulance untuk menemaninya.

"Demi tuhan, Seokmin jawab aku!"

"Mingyu, datanglah ke Rumah Sakit Daeguryo. Aku akan menceritakan semuanya disana." Seokmin menutup sambungan telepon lalu menatap Soonyoung yang mulai menutup matanya.

"Kumohon selamatkan dia" Seokmin terus menangis dalam perjalanan ke rumah sakit.

Sementara itu, Mingyu yang baru saja sampai dirumah langsung mengambil jaketnya dan pergi dengan terburu-buru.

"Kau mau kemana lagi?" Mijoo datang dari arah dapur.

"Ada sesuatu yang terjadi dengan Soonyoung hyung. Dia ada di rumah sakit." Mingyu memakai jaketnya sembari mencari kunci mobil sang kakak.

"Apa? Ada apa dengan Soonyoung oppa?"

"Aku tidak tau makanya aku akan ke rumah sakit sekarang. Kau tolong hubungi adiknya Soonyoung hyung. Katakan Soonyoung hyung ada di Rumah Sakit Daeguryo" Mingyu mendapatkan kunci mobil kakaknya dan segera pergi.

.

.

.

.

.

.

Seokmin benar-benar kacau. Matanya sembab dan pakaiannya penuh bercak darah. Ia duduk di koridor tepat di depan unit gawat darurat. Ia tidak lagi menangis, namun tatapannya kosong. Di ambulance saat mereka hampir sampai, petugas ambulance panik karena tiba-tiba saja detak jantung Soonyoung melemah. Soonyoung juga kehilangan kesadarannya. Beberapa kali petugas menggunakan alat kejut jantung untuk memacu kerja jantung Soonyoung.

Seokmin diam saja sampai Mingyu datang dengan wajah paniknya.

"Lee Seokmin!"

Seokmin menoleh dan akhirnya ia menangis lagi. Entah untuk ke berapa kalinya.

"Mingyu" Seokmin menatap sahabatnya itu. "Mingyu, Soonyoung hyung...dia...kami..."

"Hei dengar aku" Mingyu memegangi bahu sahabatnya itu. "Soonyoung hyung akan baik-baik saja. Kau harus percaya itu."

Tangis Seokmin mereda. Mingyu menunggu sampai Seokmin siap bercerita.

"Aku dan Soonyoung hyung, kami akan bertemu di cafe. Aku ingin menanyakan beberapa materi yang tidak aku mengerti. Tiba-tiba..." Seokmin memberi jeda, ia menghela napas lalu kembali bicara.

"Tiba-tiba ada tabrakan antara sebuah taxi dan mini truk di depan cafe." Seokmin mengusap wajahnya kasar. "Dan ternyata Soonyoung hyung menumpangi taxi itu."

"Aku menyaksikan semuanya bagaimana ia keluar dari taxi dengan darah di sekujur tubuhnya" Seokmin menangis lagi. "Ya tuhan, rasanya aku tidak berpijak lagi saat melihatnya."

Mingyu tidak dapat bicara. Jika ia berada di posisi Seokmin dan menyaksikan Wonwoo kecelakaan, mungkin ia bisa pingsan dalam sekejap. Mingyu menepuk-nepuk punggung temannya itu. Percuma. Seokmin masih gelisah, begitupun dia.

Tak lama seorang laki-laki dan wanita paruh baya datang bersama seorang anak perempuan. Mingyu kenal mereka. Itu adalah orang tua angkat Soonyoung bersama Soonmi, adik tiri Soonyoung. Mata ibu Soonyoung sembab akibat menangis. Ayahnya datang dengan wajah tak kalah panik. Soonmi terus menangis memanggil kakaknya.

"Mingyu, bagaimana ini bisa terjadi?" Ayah Soonyoung langsung bertanya.

"Soonyoung hyung mengalami kecelakaan, paman" Mingyu menjelaskan dengan hati-hati. Ibu Soonyoung menangis histeris. "Taxi yang ia tumpangi bertabrakan dengan mini truk"

"Ya tuhan, putraku, Soonyoung!" Jerit ibu Soonyoung.

Tiba-tiba dokter yang menangani Soonyoung keluar dari ruangan. Semua orang menoleh lalu menghampiri sang dokter.

"Bagaimana keadaan putraku?" Tangis ibu soonyoung tidak juga berhenti.

"Maaf, saat ini pasien dalam keadaan koma. Pasien mengalami pendarahan di otak akibat benturan keras, dan retak tulang iga. Kami belum bisa melakukan apapun karena kesadaran pasien belum kembali. Jika dalam 72 jam pasien belum juga sadar, kami akan merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih besar."

"Tolong selamatkan Soonyoung, kumohon. Aku akan bayar berapa pun, tapi tolong selamatkan putraku." Ayah Soonyoung mulai menangis.

Seokmin lemas, ia berpegangan pada Mingyu dan dengan sigap Mingyu memegang bahu sahabatnya itu. Seokmin bahkan sulit bernapas dan kepalanya pening.

"Kuatkan dirimu, Seokmin." Bisik Mingyu.

Ibu Soonyoung semakin histeris saja. Ia terus memanggil nama putranya. Ayah Soonyoung berusaha menenangkan Soonmi yang terus menangis. Di tengah tangisnya, ibu Soonyoung mengambil ponselnya lalu terlihat menghubungi seseorang.

"Nak, datanglah ke Rumah Sakit Daeguryo sekarang..." Ibu Soonyoung bicara ditengah isakannya, terdengar suara panik dari orang yang ia hubungi.

"Saudaramu, ia kecelakaan. Sekarang...sekarang ia belum bangun, nak. Cepat kesini dan suruh ia bangun. Katakan padanya untuk bangun." Tepat setelah itu ponsel ibu Soonyoung terjatuh dan ia jatuh pingsan. Ayah soonyoung segera memanggil suster untuk membawa sang istri.

"Mingyu, tolong jaga Soonyoung sebentar." Pesan laki-laki paruh baya itu. Mingyu mengangguk.

"Mingyu, apa yang akan terjadi?" Gumam Seokmin, tatapannya kosong kearah pintu dimana Soonyoung dirawat.

"Semua akan baik-baik saja. Berdoalah agar Soonyoung hyung cepat sadar." Mingyu menghela napas.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Langkah kaki itu tergesa-gesa mendekati tempat Mingyu dan Seokmin duduk. Hingga si pemilik langkah itu berhenti tepat di depan Mingyu.

"Jihoon?"

"Dimana dia?" Mingyu terkejut. Untuk apa Jihoon kesini dan yang lebih mengejutkan lagi, Jihoon menangis. Ia bertanya dengan suara terisak.

"Apa yang kau-"

"Dimana dia?!" Jihoon histeris. Mingyu memeluk sahabatnya itu, berusaha menenangkannya. "Dimana Hoshi?"

"Hoshi? Siapa yang kau maksud, Jihoon?"

"Kwon Soonyoung, saudara kembarku." Jihoon bergumam dalam isakannya.

.

.

.

.

.

.

Maaf buat kalian lama menunggu. akhirnya jadi chapter 12 da aku minta maaf lagi karena meanie moment mungkin kurang disini, maafeu~ karena soonseok juga jarang muncul jadi chap ini spesial soonseok yeay

...

Chap 13 sedang dalam proses dan aku sedang memikirkan sebuah cerita fantasy, wdyt?