Oke, untuk acara melihat para kegiatan seme-uke favorit kita…yang saya yakin semuanya gak sabar nunggu, karena pairing kali ini adalah fairing favorit sebagian besar fans Hetalia…(mungkin), akan segera dilakukan.

Untuk pasangan pertama kita kembali terbang ke benua Eropa, ke sebuah negara yang berbatasan dengan Polandia dan Switzerland, negara yang cukup punya peran dalam perang dunia, Jerman. Tepatnya di sebuah negara bernama Berlin…

"HATSSHYIHH!"

Suara bersin terdengar bergaung di sebuah rumah mewah berwarna crem pucat dengan atap merah. Di sebuah kamar tidur, seorang pemuda Italia berambut cokelat kemerahan terbaring lemas di atas ranjang. Di sebelahnya duduk seorang pemuda Jerman berambut pirang dan bermata biru dingin yang sedang meletakkan sebuah handuk kecil di kepala pemuda Italia itu.

"Sudah kubilang jangan main hujan! Akibat hujan, beberapa kota di negaramu kena banjir dan akibatnya ekonomi negaramu jadi morat-marit dan kamu sakit, kan! Padahal sudah kuperingatkan masih saja kau main hujan, akibatnya begini, kan?" kata pemuda Jerman itu mengomel layaknya ibu-ibu.

"Maaf, ve~" seru pemuda Italia itu lemah dengan tampang memelas~banget.

Yak, pasangan ini…mungkin pasangan paling canon di Hetalia. Gak akan ada yang menyangkal hubungan di antara mereka berdua sudah lebih dari sekedar teman. Bahkan hubungan kedua negara ini sangatlah spesial, sampai ada orang yang menyatakan kalau negara yang paling dipercaya Jerman itu adalah Italia. Ini hint yang sudah paling bener menyatakan kalau dua orang ini pasangan takdir! Dari segala segi! Dan kalau benar Germany itu Holy Roman Empire, maka jelaslah bahwa Hidekaz Himaruya dan Tuhan sudah menakdirkan mereka menjadi pasangan sehidup semati dari dulu mereka masih chibi sampai sekarang! Ah, author malah curcol, maafkan author ini. Mari kita kembali ke pasangan ini, pasangan GermanyNorthItaly, dua orang personifikasi negara bernama Ludwig Beilschmidt dan Feliciano Vargas.

Feliciano meraba-raba meja di sampingnya dan mengambil selembar tisu dari kotak tisu di sebelahnya. Dia segera meletakkan tisu itu menutupi hidungnya saat dia bersin untuk yang kesekian kalinya.

Ludwig menghela napas dan mengusap keringat di dahi pemuda Italia itu. Dia mengambil thermometer yang tadi digunakannya untuk mengukur suhu tubuh Feliciano dan melihat hasilnya.

"36, 5˚" kata Ludwig datar. "Sudah turun dari kemarin malam, tapi kau masih demam". Dia memandang jam tangan yang terpasang di tangan kirinya. "Tapi gawat, nih. Aku harus berangkat ke kantor sebentar lagi dan aku tidak bisa bolos kerja karena aku sedang sibuk-sibuknya. Jadi tidak ada yang bisa merawatmu". Ludwig kelihatan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau aku telepon kakakmu dan Antonio untuk merawatmu?" tanyanya.

"Tak usah, ve~aku baik-baik saja, kok" tolak Feliciano pelan.

"Tapi…"

"Lagipula kalau fratello ada di sini, dia akan menceramahiku habis-habisan, ve~. Dan aku tidak mau mendengarnya ve~" kata Feliciano sambil kembali bersin. Dia memandangi pacarnya sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, ve~. Aku sudah baikan, kok. Aku bisa bertahan beberapa jam tanpa Ludwig"

Ludwig memandangi Feliciano dengan tatapan ragu.

"Tidak apa-apa. Kau pergi kerja saja. Aku akan istirahat dan tidur dengan tenang layaknya orang sakit harusnya bersikap" kata Feliciano.

"Ludwig menghela napas. "Baiklah, kalau begitu". Dia segera bangkit dari duduknya. "Aku akan buatkan sup hangat untukmu dulu" katanya sambil berjalan ke luar kamar dan pergi ke dapur dan meninggalkan Feliciano yang berbaring sambil menghela napas, menikmati sinar mentari pagi yang hangat yang menyusup dari jendela di sebelahnya.

Tidak berapa lama kemudian, Ludwig kembali berjalan masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk sup hangat dan gelas dan poci berisi air, beserta dengan bungkus obat. Dia meletakkan nampan itu di meja di samping ranjang.

"Oke, aku harus pergi ke kantor sekarang. Pastikan kau makan supnya, ya. Habis itu kau harus minum obat. Setelah itu kau harus istirahat dan jangan lakukan apa pun. Aku akan berusaha pulang lebih cepat" kata Ludwig sambil mengambil jaketnya dan memakainya.

"Oke, ve~" kata Feliciano sambil tersenyum lemah.

"Baiklah, aku pergi dulu. Kau baik-baik ya" kata Ludwig sambil mencium lembut dahi Feliciano sebelum berlari keluar rumah. Tidak lama kemudian, terdengar deru mesin mobil yang menandakan kalau Ludwig sudah berangkat ke kantornya.

Feliciano menghela napas. Dia segera mengambil nampan di meja di sampingnya dan memakan sup hangat yang dibuatkan Ludwig untuknya. Hangat sup itu mengalir di tubuhnya, memberikan perasaan nyaman saat memakannya.

Dia segera menghabiskan sup itu, meletakkan kembali mangkok yang sekarang kosong itu di nampan di sebelahnya dan meminum obatnya sebelum kembali berbaring. Matanya perlahan-lahan bergerak ke arah sisi ranjang di sebelahnya. Sisi ranjang yang biasanya ditempati oleh Ludwig.

Feliciano segera berguling di ranjang hingga mencapai sisi ranjang yang selalu dipakai Ludwig dan membenamkan kepalanya di bantal milik Ludwig, menghirup aroma tubuh Ludwig yang ada di bantal itu. Aroma itu membuatnya nyaman. Hanya mencium aroma itu, Feliciano seperti bisa merasakan Ludwig ada di sebelahnya.

Feliciano perlahan-lahan membuka matanya yang sedaritadi tertutup. Belakangan ini, Ludwig terlihat terlalu sibuk bekerja. Bahkan sepertinya…dia terlalu memaksakan diri. Yah, sebenarnya pada dasarnya sendiri Ludwig memang orang yang tergolong workaholic, dia bisa bekerja tanpa henti kalau saja Feliciano atau Gilbert tidak menyeretnya pergi dari meja kerjanya. Tapi…belakangan ini, jelas sekali kalau Ludwig itu sudah kelewatan keras bekerja. Bayangkan saja! Dia berangkat kantor pagi-pagi sekali dan baru pulang menjelang tengah malam!

Feliciano menghela napas, sebenarnya dia tidak bisa memprotes tindakan Ludwig. Bagaimanapun, pemuda German itu bekerja keras juga untuk dirinya. Dia berusaha agar setidaknya pekerjaannya yang menumpuk itu bisa selesai dengan cepat, agar setidaknya di akhir-akhir bulan dia tidak harus bekerja dan bisa menghabiskan waktu sepanjang hari bersama Feliciano. Tapi…kalau begini, dia merasa bersalah juga.

Feliciano kembali berbalik dan menatap langit-langit kamar. Seberapa pun dia ingin melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan Ludwig padanya, dia tahu tak ada yang bisa dia lakukan. Dia tidak lebih rajin, apalagi lebih pintar dari pacarnya itu, membuat apa pun yang dia kerjakan, mungkin bisa dikerjakan setingkat lebih baik oleh Ludwig.

Feliciano tertegun sejenak. Apa ada hal yang bisa dilakukannya dengan sangat hebat? Sehingga bisa meringankan beban Ludwig? Ya, setidaknya bisa menghibur perasaan kekasihnya itu? Meringankan perasaannya di tengah-tengah kesibukannya?

Tiba-tiba mata Feliciano tersentak terbuka. Sebuah senyum perlahan-lahan tersungging di wajahnya. Ada. Ada satu hal yang bisa dia lakukan lebih dari siapa pun juga di dunia ini. Dia hanya bisa berharap kalau apa yang dilakukannya bisa cukup membuat Ludwig senang di tengah-tengah semua kesibukan yang dibebankan padanya.

Feliciano memakai jaket wool yang ditinggalkan Ludwig untuknya di tepi ranjang dan berjalan pergi dari ranjang. Kakinya membawanya keluar kamar, terus, dan terus. Hingga akhirnya dia berdiri di depan sebuah ruangan yang penuh dengan kanvas, kertas gambar, dan cat-cat air.

Ruangan tempat dia biasa melukis.

Feliciano mengambil sebuah buku sketsa dari meja di ruang lukis itu, beserta cat air, palet, pensil, dan kuas. Dia membawa semua itu ke ruang tamu dan duduk di atas sofa sambil menyalakan televisi. Dia segera membuka buku sketsanya. Tidak butuh waktu lama hingga jari-jari tangannya lincah menari-nari di atas kertas itu, menciptakan lukisan indah yang akan membuat kagum siapa pun yang melihatnya. Setelah selesai, dia segera mencelupkan kuasnya ke dalam cat airnya dan menyapukan kuas itu di gambarnya, membuat gambarnya semakin indah dan terlihat hidup. Setelah dia menyapukan goresan kuas terakhirnya di kertas itu, Feliciano tersenyum puas melihat hasilnya.

Setelah lukisannya kering, dia segera berjalan ke arah kamar kerja Ludwig. Dia segera mengambil amplop yang biasa dipakai Ludwig untuk mengirimkan surat-surat pentingnya dan memasukkan lukisan yang dibuatnya ke dalamnya. Setelah menyegelnya rapat, Feliciano menuliskan alamat kantor Ludwig dan mengeposkannya di kotak pos di depan rumah. Dia yakin dengan menggunakan amplop itu, lukisannya akan dianggap dokumen penting dan pasti akan dikirim ke kantor Ludwog hari itu juga. Dan kemungkinan besar, lukisannya akan sampai di kantor Ludwig tepat tengah hari nanti, di puncak kesibukan Ludwig.

Sekarang dia hanya berharap, Ludwig tidak akan memarahinya karena melakukan sesuatu yang dianggapnya tidak berguna dan tidak penting sama sekali, dan membuatnya membuang-buang waktu dengan percuma.

Sementara itu di kedutaan German…

Ludwig menghela napas panjang. Dia menyandarkan diri di punggung kursi yang didudukinya dan memejamkan matanya sejenak. Dia kemudian membuka matanya dan memandangi tumpukan dokumen yang ada di sebelahnya. Dia merasa seberapapun dia berusaha mengurangi tumpukan itu, tumpukan itu tidak berkurang sedikitpun.

Dia mengambil cangkir kopi di sebelahnya. Bau harum kopi langsung menyeruak dari dalam gelas itu saat perlahan-lahan dia membawa kopi itu mendekati bibirnya dan menghirup isinya. Hangat kopi itu memberikan sedikit tenaga untuk kembali menyelesaikan tugasnya yang serasa tidak pernah selesai itu.

Baru saja dia ingin mengerjakan kembali dokumennya, terdengar sebuah ketukan di pintunya. Ludwig mengangkat pandangannya dari lembar dokumen yang dipegangnya dan berkata. "Masuk!".

Tidak lama kemudian, pintu di hadapannya terbuka, dan sekretarisnya, seorang wanita Jerman masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat. "Maaf, tuan Beilschmidt, tapi surat ini baru datang tadi. Surat ini dialamatkan untukmu" katanya sambil menyerahkan amplop cokelat itu kepada Ludwig.

Ludwig memandang amplop cokelat itu sejenak sebelum menganggukkan kepalanya dan berkata "Terima kasih, kau boleh pergi" katanya. Wanita itu membungkuk hormat sejenak sebelum melangkah keluar dari kantor Ludwig.

Ludwig memandangi amplop cokelat itu dengan heran. Siapa yang mengiriminya surat? Rasanya tidak ada dokumen penting yang dilupakannya.

Sambil mengerutkan alis, Ludwig membuka amplop itu, begitu dia membukanya selembar kertas surat meluncur keluar. Ludwig mengambil kertas itu dan mengamatinya. Sebuah surat untuknya.

Ludwig.

Aku tahu saat ini kau pasti sedang sibuk-sibuknya. Aku minta maaf kalau aku jadi membuang-buang waktumu. Tapi aku ingin kau menerima lukisan ini.

Kau selalu memaksakan diri bekerja. Aku mengerti kalau kau melakukannya demi kita berdua, tapi kau tahu, Ludwig, bisa berada di sisimu saja aku sudah bahagia. Kau tidak perlu memanjakanku. Yah…mungkin aku memang manja padamu, tapi yakinlah, semua itu kulakukan karena aku mencintaimu, dan terus mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku ingin selalu bersandar padamu. Karena itu…aku bersikap manja padamu. Aku ingin membuktikan pada dunia dan pada diriku sendiri, kalau kau tidak akan membenciku bagaimanapun sikapku.

Aku tidak pernah berguna dalam hal apa pun bagimu. Aku selalu merepotkanmu. Aku selalu membuatmu repot mengurusku. Setiap hari, keberadaanmu bagaikan sebuah hal mutlak di hidupku. Kau satu-satunya hal yang pasti di hidupku. Kau alasanku untuk hidup. Kau mungkin…satu-satunya orang yang berjanji…tidak akan pergi dari hidupku.

Aku bukan orang sombong yang bisa berkata 'kau bisa bersandar padaku di saat kau susah', atau 'kau bisa menceritakan apa pun padaku. Aku akan berusaha membantumu' padamu di saat kau membutuhkanku. Aku tak bisa melakukan apa pun dengan benar. Aku tak punya kekuatan…untuk menjadi tempat bersandar bagimu. Aku hanya bisa memberikan cintaku padamu…hanya perasaan cinta padamu itu satu-satunya kebanggaanku.

Hanya lukisan ini satu-satunya hal yang bisa kuberikan padamu. Lihatlah lukisan ini dengan mata dan hatimu. Karena lukisan ini bukan hanya sekedar goresan pensil dan kuas. Aku melukis lukisan ini dengan rasa cintaku di setiap goresannya. Rasa syukurku karena memilikimu terpatri dalam setiap goresan kuasnya. Rasa bahagiaku karena memilikimu di setiap sapuan warnanya. Dan keinginanku untuk berbahagia denganmu di dalam objeknya.

Aku berharap begitu kau menerima lukisan ini, kau tidak akan memarahiku. Aku tahu lukisan ini bukanlah hal yang berguna seperti yang selama ini kau inginkan. Tapi…hanya ini…satu-satunya hal yang kupikir bisa kulakukan untuk sekedar meringankan bebanmu.

Aku mencintaimu Ludwig. Seumur hidupku. Dulu, sekarang, dan nanti aku akan terus dan terus mencintaimu.

Salam hangat dan penuh sayang

Feliciano.

Ludwig memandangi isi surat itu sejenak sebelum mengalihkan perhatiannya kembali ke amplop cokelat yang sedaritadi dipegangnya. Dia menemukan dua lembar kertas gambar di dalamnya. Dia segera mengeluarkan kertas itu dan memandangi isinya.

Pemandangan yang tergambar di kertas itu mempesona dirinya. Membuatnya terhipnotis, memuji keindahan lukisan itu.

Lukisan dirinya dan Feliciano sewaktu kecil. Duduk bersandar di sebuah batang pohon di tengah-tengah warna-warni bunga di ladang bunga rumahnya. Mereka bersantai di tengah langit biru yang sesekali dihiasi dengan awan-awan putih yang berarak. Angin lembut menggoyangkan kelopak-kelopak bunga beraneka warna itu, membuat mereka seakan-akan menari menikmati kebahagiaan mereka berdua. Daun-daun beterbangan, menciptakan sebuah suasana romantis saat dedaunan yang terbang itu menyatu dengan warna-warni bunga dan birunya langit.

Feli, atau ChibiItalia, sebutan dirinya di masa itu, duduk bersandar di bahu Holy Roman Empire, dirinya di masa lalu. Tangan mereka saling bertaut, jari-jemari saling menggenggam erat jemari milik yang lain. Senyum damai tersungging di bibir mereka saat mereka saling bersandar, dengan mata terpejam, mungkin pergi menuju dunia mimpi yang indah, dimana hanya ada kedamaian dan mereka berdua sebagai penghuninya. Tidak ada perang, hanya ada cinta.

Di bawah lukisan itu terdapat sebuah tulisan. Tulisan itu berbunyi…

Seperti dirimu yang selalu mencintaiku…aku juga selalu mencintaimu sejak tahun ke 500…

Pandangannya beralih ke lukisan satunya. Di sana terlihat dia dan Feliciano, yang tumbuh remaja, kira-kira seumur mereka sekarang. Mereka berjalan di tengah hutan di musim gugur. Feliciano tertawa sambil memeluk lengannya erat dan menyandarkan kepalanya ke bahunya. Wajahnya terlihat sangat bahagia dan damai. Dedaunan berwarna orange tua berjatuhan menerpa mereka. Warna orange tua dedaunan yang berjatuhan itu berbanding kontras dengan warna langit mendung musim gugur yang berwarna abu-abu pucat. Di bawah lukisan itu kembali tertera sebuah tulisan dari Feliciano.

Orang-orang mengatakan musim gugur adalah musim cinta. Saat aku bersamamu, aku mempercayai hal itu.

Mata Ludwig tidak bisa berpindah dari kedua lukisan itu. Dia terus memandang lukisan itu, terhipnotis dengan lukisan itu. Lukisan itu tampak begitu nyata, bagaikan sebuah foto, yang diambil oleh tangan professional. Warna-warni cat air menyatu begitu indah, menciptakan pelangi warna yang sangat indah. Dia bisa merasakan perasaan Feliciano saat dia melukis lukisan itu. Perasaan cinta yang dalam dari kekasihnya itu terpatri dengan jelas di dalam lukisan itu.

Lukisan itu seolah-olah membawanya pergi dari kantornya. Lukisan itu bagaikan sebuah lorong waktu, yang membawanya kembali ke masa lalu. Saat-saat dia memeluk, menggandeng, dan mencumbu Feli. Saat dia bisa bercinta dengan Feli, tanpa ada apa pun yang menghalangi mereka. Saat-saat yang sungguh, sangat dirindukan oleh Ludwig.

Ludwig memasukkan kedua lukisan itu ke dalam laci mejanya dan menguncinya. Kedua lukisan itu adalah harta berharganya. Tidak akan dia biarkan siapapun merusak lukisan itu apalagi menghancurkannya.

Tanpa pikir panjang, Ludwig bangkit dari kursinya dan segera memakai jaketnya. Dia segera berlari keluar dari kantornya dan meminta ijin kepada bosnya untuk pulang. Dia ingin pulang, kembali ke sisi Feliciano. Dia sungguh ingin berada di sisi kekasihnya itu.

Tidak butuh waktu lama bagi Ludwig untuk tiba di dalam mobilnya dan menyetir mobilnya pulang. Beberapa menit kemudian, dia tiba di rumahnya. Dia segera memarkir mobilnya dan berjalan ke arah pintu rumahnya.

"Aku pulang. Feli?" tanya Ludwig sambil memasuki rumah.

"Ve~Ludwig?" tanya Feli yang saat itu duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Wajahnya yang pucat masih dihiasi senyum manis saat dia berdiri untuk menyambut kekasinya itu.

Ludwig tersenyum lembut dan memeluk kekasihnya itu saat Feliciano berdiri di hadapannya dan mencium dahinya lembut. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil meraba dahi Feliciano yang masih sedikit terasa panas.

"Aku baik, kok, ve~. Tumben kau pulang cepat, Ludwig, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Feliciano sambil memandang kekasihnya itu.

Ludwig menggelengkan kepalanya sambil mengusap rambut cokelat kemerahan Feliciano. "Aku minta ijin untuk pulang cepat" katanya.

"Ve~apa kau terima lukisanku?" tanya Feliciano pada Ludwig.

Ludwig tersenyum dan mendaratkan bibirnya di dahi Feliciano sekali lagi. Bibir itu terasa dingin di kulit Feliciano yang hangat karena demam. "Ya. Terima kasih. Itu hadiah yang sangat istimewa" katanya.

Dia kemudian membungkuk untuk mencium pipi Feliciano. "Aku juga bahagia, Feli…bisa mendapatkanmu sebagai kekasihku. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini". Tanpa mereka sadari, jarak bibir mereka menjadi semakin dekat dan dekat…hingga akhirnya…

"Aku mencintaimu, Feli. Kau adalah orang terpenting untukku" kata Ludwig. "Dan aku berjanji untuk selalu mencintaimu…untuk selamanya…". Dia pun menyegel janji itu dengan mempertemukan bibirnya dengan bibir Feliciano. Ciuman itu hangat dan lembut, menunjukkan betapa Ludwig ingin menepati janji, bukan, sumpah yang baru saja dibuatnya pada Feliciano. Dia bersumpah akan selalu mencintai Feliciano.

Karena Feliciano adalah hidupnya. Alasannya untuk terus berdiri tegak di dunia ini. Tanpa Feliciano, dia hanya raga kosong tak berjiwa. Dia tak punya arti hidup di dunia ini.

Beberapa menit kemudian, mereka melepaskan ciuman mereka. Mereka saling berpandangan. Bola mata cokelat bertemu dengan biru sapphire. Dalam bola mata itu terpatri dua hal terindah untuk mereka.

Cinta dan kehangatan untuk yang lain. Bukti bahwa mereka saling mencintai.

"Bagaimana kalau kita makan siang? Apa yang kau inginkan?" tanya Ludwig sambil menggandeng tangan Feliciano ke arah dapur.

"Pasta, ve~" kata Feliciano sambil tertawa kecil.

Ludwig tersenyum dan mendudukkan Feliciano di salah satu kursi di ruang makan. "Baiklah" katanya.

Bisa bersama dengan orang yang paling mereka cintai…begitu dekat dengan mereka…bisa merasakan hangat tubuh mereka…melihat sorot mata hangat mereka…merasakan rasa manis bibir mereka…

Itulah kebahagiaan terbaik dan terindah untuk Ludwig dan Feliciano.


Sekarang kita tinggalkan Berlin dan menuju kota di ujung benua Eropa, di seberang negara Italia, negara yang berbatasan dengan Perancis, Spanyol. Kita terus menuju ke sebuah rumah mewah bertingkat di tengah kota Madrid…

"APA-APAAN NIH, TOMATO BASTARD?" terdengar sebuah jeritan marah berkumandang di rumah mewah itu di malam yang dingin di pertengahan musim dingin Februari.

Seorang pemuda Italia berambut cokelat berdiri di depan pintu. Tangannya memegang sebuah tas belanja supermarket yang berisi bahan-bahan makan malam. Mata cokelatnya berkilat marah melihat pemandangan di hadapannya. Pemuda ini adalah personifikasi negara South Italy, sekaligus kakak Feliciano tapi sama sekali tidak manis macam Feli, Lovino Vargas.

Pemandangan tiga orang lelaki bergelimpangan di lantai ruang tamu. Botol-botol bir dan wine berserakan di sekitar mereka. Tiga lelaki itu meracau gak jelas sambil tertawa-tawa. Jelas hanya ada satu penjelasan soal tingkah tiga lelaki ini. MABUK.

Siapa tiga lelaki yang dimaksud itu? Ya siapa lagi kalau bukan tiga sekawan yang sering disebut Bad Touch Trio gara-gara hobi mereka selalu saja berbuat masalah, Gilbert Beilschmidt, Francis Bonnefoy, dan tentu saja, personifikasi negara Spanyol, Antonio Fernandez Carriedo.

Antonio mengangkat kepalanya yang daritadi terkulai di punggung sofa mendengar jeritan uke-CORET maksud saya, sahabatnya tercinta. "Hola, mi hermano~" katanya sambil tertawa cekikikan kayak orang gila dengan wajah merah karena pengaruh bir.

"JANGAN MI HERMANO GUE! APA-APAAN NIH, TOMATO BASTARD!" seru Lovino kesal pada Antonio.

"Gak awesome banget sih. Jangan teriak-teriak kenapa?" kata Gilbert sambil meminum bir yang entah sudah berapa banyak ditenggaknya malam itu.

"GUE NGGAK ADA URUSAN SAMA LOE, POTATO BASTARD!" seru Lovino pada Gilbert. Dia berjalan dengan kesal ke arah dapur untuk menyimpan belanjaannya sekaligus menenangkan diri. Berusaha sebisa mungkin berada jauh-jauh dari para biang masalah yang sedang mabuk itu.

"Dia pergi juga. Si makhluk gak awesome itu" kata Gilbert sambil membuka handphonenya dan sibuk mengetik sms untuk menjelaskan kemada dia pergi kepada seseorang. Sama siapa? Ya pasti sama ukenya yang moe itu, Matthew. Yang bilang siapa itu Matthew, gue bakal minta Nesia nyantet orangnya. Enak aja pake bilang siapa itu Matthew. Matthew itu cowok paling imut di Hetalia tahu!.

"Tapi si Lovino itu jadi makin imut saja ya~" kata Francis sambil menggoyangkan gelas winenya. Antonio hanya diam sambil memakan cake cokelat di piringnya dan Gilbert masih asyik bersms ria dengan Matthew.

"Hei, Antonio, bisa kau pinjamkan Lovino beberapa hari? Dia lumayan pantas untuk dipertimbangkan sebagai salah satu cowok yang diburu. Memang dia sedikit kasar, tapi itu intinya. Membuatnya jinak adalah tantangan tersendiri. Lagipula dia imut. Bayangkan saja, wajahnya saat—"

WUSSH, JLEB!

Gilbert yang sedaritadi tidak mendengarkan omongan kedua sahabatnya itu mendongak dari layar handphonenya untuk melihat asal suara mendesis yang didengarnya tadi.

Dia melihat sebuah garpu menancap di punggung kursi yang diduduki Francis. Garpu itu menancap dengan posisi yang sangat mengancam. Hanya beberapa centi dari wajah Francis.

"Ah, maaf, tanganku licin" kata Antonio sambil tertawa-tawa. Dia mengambil garpu yang menancap itu sambil masih tersenyum manis dan memutar-mutar garpu itu dengan riang sebelum meletakkannya di atas piringnya yang kini bersih, mengabaikan pandangan gugup kedua sahabatnya.

"Hmmm…kenapa?" tanya Antonio sambil tetap tersenyum, memandangi kedua sahabatnya yang memandanginya dengan pandangan gugup.

"Ah…eh, tidak ada apa-apa? Jadi, bagaimana pertanyaanku tadi? Soal Roma—"

JLEEEBBB!

Kembali sebuah peranti makan terbang ke arah Francis, dan kembali menancap dekat wajah Francis. Tapi kali ini jauhhh~lebih ekstreme. Kenapa? Soalnya alih-alih garpu kali ini yang menancap dengan begitu seramnya di punggung kursi itu adalah sebuah pisau! Bayangkan saudara-saudara, PISAU! Dan jaraknya pun sangat mengancam, hanya beberapa mili dari wajah Francis. Seandainya Antonio lebih melempar pisau itu ke kanan, setengah mili~aja ke kanan, telinga Francis pasti bakalan tinggal setengah.

Gilbert yang melihatnya langsung menjauh dari Antonio. Dia mengkeret di ujung sofa. Sementara Francis meneguk ludah dengan gugup. "Em…An…Antonio?" katanya.

"Oooppsss…sepertinya tergelincir dari tanganku" kata Antonio sambil tetap~tersenyum. Kedua sahabatnya merinding melihat sorot mata Antonio. Mata hijau itu sudah tidak menyorotkan pandangan hangat lagi. Yang ada hanya pandangan dingin dan haus darah.

Yak, sepertinya Oyabun kita tercinta kembali ke mode conquistadornya! Dia sudah kembali menjadi dark Spain!

Antonio memiringkan kepalanya, memandangi pisau yang ada di hadapannya sebelum sebuah senyum sadis, yang sukses membuat Gilbert dan Francis menggigil ketakutan, mekar di bibirnya. "Sepertinya aku meleset" katanya sambil mengambil pisau yang tertancap di punggung kursinya dan membawanya ke leher Francis, membawa logam dingin itu menyusuri leher Francis.

"Kau tahu Francis, jika ada orang yang berani menyentuh Lovi, seujung jari saja, aku tidak akan berbaik hati" kata Antonio sambil menjilat bibirnya dengan gaya psikopat yang menikmati penyiksaan buruannya. "Akan kusiksa mereka hingga mereka tidak akan lagi bisa mengerti apa artinya rasa sakit itu. Aku tidak akan membunuh mereka, tentu saja. Itu terlalu baik hati. Aku akan membiarkan mereka hidup dan sadar saat aku menggores tubuh mereka dengan pisau ini, akan kubiarkan mereka merasakan sakit yang luar dan biasa dan menjerit sekeras-kerasnya dengan penuh ketakutan". Antonio meraih tangan Francis yang gemetaran dan meletakkan bagian tumbul pisau yang dipegangnya di jari-jari Francis, yang sukses, membuatnya semakin gemetar. "Akan kucungkil kuku-kuku tangan mereka, kemudian memotong-motong jari mereka. Satu demi satu. Dengan lambat, membiarkan proses sakitnya bertahan lebih lama". Lalu dia mengelus pipi Francis. "Lalu aku akan memotong telinga mereka, dan kemudian menguliti mereka sedikit demi sedikit."

Lalu tiba-tiba saja, dengan begitu cepat, aura gelap Antonio lenyap, dan dia kembali menjadi Antonio yang lembut dan hangat, dengan senyum manis kembali tersungging di bibirnya. "Tapi tentu saja itu hanya situasi jika, mana ada sih, yang mau mendekati Lovi. Siapa juga yang mau dibentak-bentak oleh dia? kalau tak punya hati lapang sepertiku dan Feli? Gak banget, deh" kata Antonio sambil tertawa-tawa riang.

Suasana di ruang tamu itu sumpah tegang banget. Gilbert dan Francis gemetaran sambil memandang Antonio. Wajah mereka asli putih pucat, seputih-putihnya. Rasanya ruang tamu itu berubah menjadi kuburan karena sunyi dan dinginnya.

Saat itulah Lovino berjalan memasuki ruang tamu. "Hey, tomato bastard, apa yang kau inginkan untuk—". Dia menyadari sunyi di ruang tamu itu dan memandang bingung. "Ada apa? Tumben kalian gak berbacot ria seperti biasanya" tanyanya.

Antonio hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa kok, Lovi sayang~. Ah, untuk makan malam aku mau—"

TING TONG!

Suara bel rumah berbunyi di rumah besar itu. Lovino menghela napas dan berjalan menuju pintu depan. Begitu dia membukanya, dia melihat seorang pemuda Canada berambut pirang berdiri sambil memeluk seekor beruang putih. "Matthew…?" tanyanya.

"Em…Gil ada? Kata Gil dia ada di sini. Aku hanya mau bertemu sebentar…"

"Mattie!" seru Gilbert sambil berlari ke arah kekasihnya itu dan memeluknya. "Kamu ada perlu apa sama aku yang awesome ini? Kita bicarain sambil makan pancake di rumah, ya? Kita pulang, yuk!" katanya. Sepertinya dia bahagia karena mendapat alasan untuk segera angkat kaki dari rumah Antonio. Dia, sumpah, ketakutan sekali dengan sisi dark sahabatnya itu.

"Eh, tumben? Biasanya kau pasti menginap…" kata Matthew heran pada pacarnya itu.

"Hari ini aku yang awesome ini ingin menghabiskan waktu bersamamu" kata Gilbert sambil menggenggam tangan kekasihnya itu. Dia segera berlari untuk mengambil jaketnya. "Oke, aku yang awesome ini permisi! Aku mau pulang bareng pacarku tercinta yang awesome! Adios!". Dia segera melesat keluar dari rumah Antonio sebelum pemuda Spanyol itu berkata sesuatu dan menyeret Matthew pergi bersamanya.

Francis pun ikut bangkit dari duduknya. "Ah, aku baru ingat. Hari ini aku ada janji dengan Sey…oke, aku juga permisi pulang" kata Francis sambil memakai mantelnya dan ikut berlari keluar.

Lovino memandang bingung kepada dua orang sahabat seme… KEMBALI CORET…sahabatnya itu. Dia memandangi Antonio yang masih duduk di sofa sambil tersenyum. "Kenapa dengan mereka?" tanyanya.

Antonio tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Entahlah, kenapa ya?" gumamnya (sok) polos. Antonio segera mendatangi Lovino dan memeluknya, membuat wajah Lovino agak bersemu merah. "An…Antonio?". Sekarang Lovino agak khawatir juga dengan keadaan pemuda Spanyol ini. Kenapa tiba-tiba dia jadi aneh? Apa minum terlalu banyak?

"Aku tak akan melepaskanmu…" gumam Antonio sambil tetap memeluk Lovino. Dia serius dengan ancamannya pada Francis tadi. Tak akan dia biarkan siapapun mengambil Lovinya. Lovino adalah miliknya, sekarang dan sampai kapanpun. "Aku mencintaimu, Lovi…"

Lovino baru saja mau menyembur Antonio saat tiba-tiba saja Antonio lemas di pelukannya. Dia memandangi wajah Antonio dan melihat kalau mata Antonio tertutup. Dia sudah tertidur. "Yah, malah tidur, dasar tomato bastard konyol" kata Lovino sambil mengalungkan lengan Antonio di bahunya dan membawanya ke kamar tidurnya di lantai atas.

Begitu sampai di kamar tidur, sinar bulan menyinari kamar itu dari tirai jendela besar yang terbuka. Sinar bulan itu memberikan sinar lembut. Lovino segera menjatuhkan Antonio ke atas ranjang, dan menyelimutinya. Setelah selesai, Lovino kembali memandangi wajah pemuda Spanyol itu.

Sinar bulan menyinari wajah Antonio yang tertidur lelap, memberikan ekspresi wajah damai di wajah pemuda Spanyol itu. Rambut cokelatnya memantulkan sinar keperakan rembulan yang lembut. Wajahnya seperti anak-anak.

Anak-anak yang kelelahan sehabis bermain dengan sahabatnya dan pulang mencari ibunya untuk tidur di pangkuannya.

Tanpa sadar, Lovino membuarkan sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya. Dia mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Antonio, menyibakkan rambut itu dari dahi Antonio. Tangannya perlahan-lahan turun menuju pipi Antonio, sebelum semakin turun menuju bibir merah Antonio yang terbuka.

Lovino mengelus kelopak bibir kemerahan itu dengan jarinya, menautkan jari-jarinya di kelopak merah yang sedikit basah itu. Bau wine dan bir sedikit tercium dari bibir merah itu.

Lovino membungkuk dan mencium dahi Antonio, merasakan hangat tubuh itu di bawah bibirnya yang dingin. Ciumannya perlahan-lahan semakin turun, menuju ke hidung, pipi dan akhirnya…

Menuju bibir Antonio.

Lovino mencumbu bibir merah itu dengan lembut, merasakan rasa manis tomat dan rasa bibir Antonio sendiri. Dia menjilat kelopak bibir itu, membiarkan bibir itu basah dengan air liurnya.

Setelah beberapa saat, Lovino melepaskan ciumannya di bibir Antonio. Dia tersenyum dan mencium dahi Antonio sekali lagi sebelum berdiri. "Aku juga mencintaimu, Antonio…" gumamnya sebelum pergi meninggalkan kamar itu.

Meninggalkan Antonio yang tengah bermain di alam mimpi di dalam kegelapan kamarnya yang hanya samar-samar diterangi sinar rembulan…menuju ke kamarnya sendiri.

Untuk menyusul Antonio menuju ke alam mimpi. Menemani kekasihnya itu bercinta di alam mimpi milik mereka berdua…


Author note:

Maaf~ banget ya semuanya, tadinya saya mau nulis semua pairing sampai selesai, tapi ternyata pas saya tulis Wordnya jadi 25 halaman lebih, dan itu bahkan belum selesai, makanya saya bagi jadi dua bagian supaya gak terlalu panjang dan para reader juga gak bosan bacanya. Makanya chapter ini khusus GerIta ama SpaMano aja dulu! PruCan dan USUKnya di chapter depan!

Buat para reader yang udah mengharapkan PruCan ama USUK, sekali lagi sorry~banget ya! Janji, akan segera saya selesaikan! Jadi tunggu dengan sabar ya!

Ah, buat pasangan GerIta, sebenarnya saya masih gak yakin apa Germany itu Holy Roman Empire apa bukan, tapi di fanfic ini tolong percaya aja kalau Germany itu Holy Roman Empire. Soalnya kalau nggak, ceritanya jadi gak jalan, hehehe…

Seperti biasa, minta maaf untuk ke OOC an karakter!

Dan seperti biasa, minta reviewnya ya! XD

Sekian dan Happy Valentine! Ah, dan Antonio~ Oyabun, happy birthday! Maaf, ucapan ultahnya jadi telat dua hari~Gak papa kan~! Maaf ya~~