.
Naruto Masashi Kishimoto
Warning T rated
Genres : Romance/Drama/Fantasy/Tragedy
Main Pair : SasukeXHinata
Side pair : GaaraXHinata/TsunadeXJiraiya/KakashiXSakura
Sorceress And The Knight
-08001-
-Counter Attack-
.
Konoha Akademi
Waktu yang tersisa hanya tinggal 1 menit. Semua menanti kedatangan Shion dengan tegang dan waspada. Kesunyian segera menyergap meskipun saat itu hampir seluruh murid sedang berkumpul.
Tapi, sampai waktu yang ditetapkan sudah lewat beberapa detik dari batasnya, penyihir itu tak kunjung muncul.
1 menit….
2 menit….
3 menit….
Sampai pada akhirnya 5 menit terlewati, Shion tidak juga memasuki aula. Hal ini tentu membuat mereka semua keheranan (sekaligus lega).
"Hey, apa yang terjadi? Kenapa dia tidak muncul juga?" Salah satu murid berbisik, bertanya pada temannya.
"Mana aku tahu!" Balas sang teman dengan tatapan yang tetap fokus ke depan.
"Aneh…, seharusnya dia sudah datang 'kan…," celetuk salah seorang murid laki-laki yang kira-kira berusia 15 tahun.
"Biarkan saja. Bukankah ini jadi lebih baik?" Timpal seorang murid perempuan.
"Apa yang terjadi…? Kenapa dia tidak datang juga?" Tsunade juga ikut bertanya-tanya.
Seketika keheningan yang tadi tercipta selama beberapa menit, pecah akan suara-suara para murid yang menanyakan tentang kehadiran Shion.
"Biar aku saja yang memeriksa ke depan untuk memastikan." Jiraiya dengan sukarela menjadikan dirinya relawan untuk keluar, melihat apakah Shion benar-benar ada di luar, atau tidak saat ini.
"Jiraiya, hati-hati," ucap Tsunade.
"Kau tenang saja."
Jiraiya akhirnya keluar dengan diiringi berpuluh tatap pasang-mata yang memandangnya dengan perasaan harap-harap cemas. Tak lupa sebagian dari mereka turut berdoa, semoga Shion dan para pengawalnya tidak ada di depan.
.
.
10 menit berlalu, Jiraiya yang pergi mengecek keadaan depan akhirnya kembali sambil berkata, "Shion dan para pengawalnya tidak ada di depan. Mereka seperti tidak pernah datang kemari sebelumnya."
Desah napas lega terdengar di seluruh sudut ruangan di aula. Masing-masing dari mereka mengucap syukur dalam hati karena mereka telah terhindar dari bencana.
"Kalau Shion tidak ada di sini…, lalu di mana dia sekarang…?" Pertanyaan Hinata cukup mewakili hampir semua murid yang ingin menanyakan hal yang sama.
"Entahlah, tapi yang jelas sesuatu telah berubah," jawab Tsunade sambil melirik sosok pemuda yang belum diketahui itu. Ya, sesuatu telah berubah. Apa yang seharusnya terjadi kini telah terganti. "Lalu, apa sekarang kau bisa menjelaskan siapa dirimu, atau setidaknya siapa namamu?" Tanyanya kemudian.
Semua orang terdiam dan pusatnya terfokus pada pemuda berambut merah itu. Tentu saja mereka juga ingin tahu siapa sebenarnya penyelamat mereka ini. Dia tak mungkin hanya sekedar iseng datang ke akademi dan menjadi penyelamat, karena itu terlalu beresiko.
"Namaku…, Sasori..." Pemuda itu tampak ragu saat sedang menyebutkan namanya.
"Sasori…?" Hinata merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia merasa seperti déjà vu.
Pemuda itu tak banyak bicara selain memberitahukan namanya. Hal ini membuat Naruto merasa jengkel. Menurutnya pemuda itu memiliki maksud yang tidak baik.
"Kau itu kalau menjelaskan jangan setengah-setengah! Bikin orang curiga dan penasaran saja!" Naruto membentak pemuda yang baru diketahui namanya itu dengan jengkel.
"Naruto, hentikan! Dia punya hak untuk tidak menjelaskan, anggap saja sebagai balasan karena telah menolong kita semua di sini." Jiraiya melerai Naruto yang hampir saja menggunakan kekerasan.
"Tch, menyebalkan…." Pada akhirnya Naruto mengikuti apa yang dijkatakan Jiraiya.
"Lagipula, ada hal yang lebih penting yang harus dipikirkan," ucap Jiraiya dengan serius.
"Kita harus memikirkan cara untuk menghadapi Shion setelah ini," sambung Tsunade.
"Kita harus bergerak lebih dulu sebelum Shion datang kemari untuk menyerang," sambar Hinata dengan tiba-tiba disaat yang lainnya sedang berpikir. "Hanya menunggu sampai dia datang kemari tidak akan membuat suatu perubahan," sambungnya dengan mantap.
"Sebenarnya aku sependapat dengan Hinata," timpal Ino yang setuju dengan pendapat Hinata. Menunggu tidak akan menghasilkan apa-apa. Jangan harap berniat untuk menjebak Shion. Gadis itu adalah seorang penyihir. Dia pasti tahu jebakan sekecil apapun yang dipasang untuk menyerangnya.
"Tapi itu terlalu beresiko, dan sangat mungkin akan terjadi kegagalan," balas Tsunade tidak yakin dengan apa yang diusulkan oleh Hinata dan Ino. Saat ini wanita itu sedang mencari cara aman.
"Aku rasa untuk melawan Shion memang harus dilakukan secara frontal. Karena, benar yang dikatakan Hinata. Menjebaknya di akademi tidak akan berpengaruh apa-apa terhadapnya."
Pada akhirnya Sasuke ikut bicara dan membela usulan Hinata dan Ino agar Tsunade mau memikirkan lagi mengenai penyerangan itu. Sebenarnya Tsunade tetap ragu, tapi setelah Jiraiya mengatakan kalau ia setuju dan meminta agar diberi kesempatan, maka Tsunade akhirnya mengalah dan menyetujui ide itu.
"Baiklah, aku kalah suara," ucapnya sambil menghela napas pelan.
"Nah, kalian sudah dengar 'kan. Misi ini akan aku berikan pada Sasuke, Ino, Kiba, Naruto, Tenten, Lee dan Shikamaru. Sasuke kau akan menjadi pemimpin di antara mereka. Pergi ke Sunagakure dan…, bunuh Shion," perintahnya pada ke-7 ANBU muda tersebut.
"Kami akan melakukan yang terbaik!" Naruto menepuk dadanya.
"Serahkan saja pada kami!" Sambar Kiba.
"Kami akan bekerja-keras!" Lee mengacungkan jempol.
"Kalau begitu ijinkan aku ikut. Aku rasa kalian butuh seorang petunjuk jalan di Sunagakure dan tempat itu adalah Negara kelahiranku," ujar Hinata yang meminta untuk diikut-sertakan dalam misi tersebut.
"Hinata, aku titip mereka kepadamu." Jiraiya tersenyum melihat tekad dari putri Hyuuga tersebut. Hinata seakan mewarisi sifat bijak, pemberani dan keras-kepalanya sang ayah, Hyuuga Hiashi yang sempat berkawan dekat dengannya 20 tahun lalu.
"Sasuke, jaga semua anggotamu baik-baik dan buat setiap keputusan dengan bijak. Cari jalan yang paling terbaik di setiap kondisi, kau mengerti?"
"Aku mengerti. Terimakasih atas nasehatnya."
"Nah, silahkan kalian semua mempersiapkan diri untuk misi ini. Kita akan berkumpul lagi di sini jam 5 sore nanti."
"Lalu, bagaimana dengannya?" Naruto melirik sinis ke arah Sasori yang masih berdiri di sana.
"Aku tidak akan mencampuri urusan kalian," jawab pemuda itu dengan sikap acuh tak acuhnya. "Apa yang kalian lakukan saat ini hanya sia-sia. Membunuh Shion tidak akan mengubah apapun," lanjutnya terlalu yakin.
"Apa maksudmu bicara begitu, hah!?" Naruto menggeram. Cukup sudah ia menahan kesabarannya sejak tadi.
"Kalau kau tidak membantu apa-apa lebih baik diam saja. Jangan bicara yang tidak-tidak. Lagipula, kita tidak akan pernah tahu kalau belum mencobanya!" Timpal Lee yang juga merasa tersentil untuk memarahi pemuda itu.
"Sudahlah, jangan dengarkan dia. Lebih baik kita kembali ke asrama dan bersiap-siap." Ino menengahi agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan.
Jiraiya membubarkan para murid untuk kembali ke asrama. Sasuke dan kawan-kawannya pun ikut bergegas kembali untuk mempersiapkan diri pada misi selanjutnya. Sasori, pemuda misterius itu tiba-tiba saja sudah tidak ada di tempat ketika Tsunade mencoba mencari untuk berbicara padanya. Wanita itu merasa ada sesuatu yang ganjil padanya. Kekuatan waktu yang dimilikinya kenapa begitu mirip dengan kekuatan yang dimiliki oleh Sakura.
Meski wanita itu sudah berkeliling, Sasori tetap tak ditemukan. Jiraiya akhirnya meminta wanita yang sudah dinikahinya selama 20 tahun itu untuk beristirahat, karena Tsunade terlihat tegang, cemas dan gelisah. Ia dapat mengerti kekhawatiran yang saat ini dirasakan oleh Tsunade. Mereka akan segera berhadapan dengan Shion. Tapi Jiraiya sadar, Tsunade cemas bukan karena Shion adalah seorang penyihir yang sangat ditakuti untuk saat ini. Melainkan status Shion yang tak bisa terbantahkan.
"Tsunade istirahatlah. Sepertinya kau membutuhkan tidur," ucap Jiraiya agak khawatir saat melihat wajah pucat Tsunade. Wanita itu pasti sedang banyak pikiran.
"Aku rasa kau benar. Tidak baik juga masalah ini kupikirkan terus-menerus." Tsunade mendesah pelan, mencoba untuk membuat dirinya sendiri tenang.
"Mari kuantar kau ke kamar."
Otogakure
Sementara itu di Otogakure Sakura terlihat resah. Sejak hari pertamanya datang ke Negara kecil itu, ia tak henti-hentinya menyalahkan diri atas semua kejadian yang telah terjadi. Gadis itu merasa sebagai sumber bencana yang patut untuk dimusnahkan agar semua masalahnya beres dan tak ada lagi pihak-pihak yang mengincar dirinya, peperangan atau sejenisnya.
"Sigh…." Gadis itu mendesah pelan, duduk termenung sendirian di dalam sebuah ruangan tamu sederhana.
"Apa anda sedang berpikir lagi, Nona Sakura?" Sapa sebuah suara.
"Begitulah, Kakashi-san," balas Sakura yang sudah sangat familiar dengan suara itu. Bahkan ia tak perlu melihat lagi siapa yang sedang berjalan menghampirinya dari arah samping.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Aku telah membuatkan Anda coklat panas. Silahkan diminum untuk menyegarkan pikiran." Kakashi meletakkan sebuah cangkir porcelain berisi coklat panas kesukaan Sakura di atas meja.
"Terimakasih…," gumamnya.
Kakashi kemudian duduk pada salah satu sofa beludru berwarna hijau di depan gadis merah-muda itu. Sakura terdiam kembali sambil menenggelamkan diri dengan coklat panas buatan Kakashi kesukaannya. Meneguknya perlahan-lahan, seolah menikmati setiap tetes dari coklat panas yang masuk ke dalam tenggorokannya. Kakashi memerhatikan gerak-gerik gadis yang sudah dikawalnya sejak 5 tahun silam. Saat itu Sakura merupakan seorang gadis remaja 15 tahunan yang begitu energik. Tapi lihat sekarang, gadis itu sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang begitu tegar. Perasaan yang awalnya bagaikan seorang kakak kepada adiknya lambat-laun pun berubah (usia mereka terpaut 4 tahun tahun).
"Nona Sakura…, kalau anda sedang memikirkan sesuatu lebih baik diucapkan agar tidak menjadi beban…," ucapnya dengan lembut, memancing Sakura untuk berbicara. Jujur saja, dia tidak terbiasa melihat Sakura yang diam begini. Sesulit apapun kondisinya, Sakura biasa selalu ceria.
"Terkadang aku berpikir…," Sakura menghela napas sejenak, "kenapa aku tidak mati saja untuk menghentikan semua kekacauan ini…," lanjutnya yang mendapat respon keras dari Kakashi.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Semua orang berjuang untuk melindungimu. Jadi, jangan sekali-kali berpikir untuk menyerah! Kita harus berjuang bersama-sama!"
Sakura tertegun setelah mendengar apa yang diucapkan Kakashi. Untuk pertama kalinya ia melihat pria yang biasa begitu datar dan tenang dalam menghadapi sesuatu (bahkan saat mereka dalam kondisi bahaya sekali pun) menjadi begitu menggebu-gebu emosional. Gadis itu menatap Kakashi dengan agak lama dan membuat pria tersebut terdiam dan menjadi canggung.
Tak lama, Sakura tersenyum tipis sambil berkata, "terimakasih Kakashi, karena selama ini kau selalu peduli padaku." Bagaikan tersengat aliran listrik, degup jantung Kakashi jadi berdetak lebih kencang saat melihat senyum menawan itu.
Namun momen kebersamaan mereka berdua harus terusik dengan kedatangan seorang pria gemuk yang masuk ke dalam ruangan tamu dengan wajah tegang bermandikan keringat.
"I-ini gawat! Seseorang yang bernama Orochimaru sedang mencarimu dan dia menuju kemari. Lebih baik kalian cepat pergi dari sini!"
"Orochimaru katamu?"
"Nona Sakura, lebih baik kita pergi dari sini."
"Cepatlah! Kami akan berusaha menghadangnya di depan!"
Kakashi bersiap untuk membawa Sakura pergi. Ia sudah menggenggam tangan mungil gadis itu erat-erat agar tak lepas darinya. Tapi tampaknya Sakura memberikan reaksi yang berbeda. Gadis itu sepertinya memiliki pemikirannya sendiri.
"Sudah cukup! Aku tidak mau terus berlari. Untuk kali ini saja biarkan aku menghadapi Orochimaru dan menanyakan siapa dia dan apa yang ia inginkan dariku."
Sakura melesat cepat keluar, ke arah pintu bagian depan. Melepaskan genggaman kuat Kakashi. Laki-laki berambut silver itu hanya bisa pasrah dan mengejar Sakura dari belakang. Yah, meskipun terkenal akan kelembutannya, terkadang Sakura bisa menjadi sangat keras, sekeras batu karang.
Sorenya, AKademi Konoha
Sesuai dengan waktu yang ditetapkan, para ANBU yang diberikan misi untuk pergi ke Sunagakure termasuk Hinata kini tengah berkumpul lagi di aula.
"Apa kalian semua sudah siap?" Tsunade menekankan kata-kata itu agar mereka tak lupa kalau misi yang mereka jalani saat ini adalah misi yang sangat serius.
"Kami siap!" Balas para ANBU muda itu bersamaan (kecuali Shikamaru dan Sasuke).
"Ingatlah, kami tidak terlalu peduli dengan hasil dari misi ini. Tapi, berjanjilah kalian kembali tanpa kurang satu orang pun," ucap Jiraiya, mengingatkan agar mereka semua tidak terlalu agresif dan dapat berpikir lebih matang saat menjalankan misi tersebut, juga untuk saling menjaga satu sama lain.
"Tenang saja! Kami pasti bisa menghabisi Shion dan kembali dengan selamat!" Balas Naruto yang diiringi dengan senyum lima jarinya.
"Kalau begitu, berangkatlah dan hati-hati."
Sasuke, Ino, Tenten, Kiba, Naruto, Lee, Chouji, Shikamaru, beserta Hinata akhirnya pergi meninggalkan akademi Konoha. Ke-9 orang itu berniat untuk memasuki Sunagakure melalui desa Mizukage, salah satu desa terpencil yang ada di Sunagakure dengan melewati jalan rahasia yang terhubung dari Otogakure. Di desa itu, Hinata sudah menghubungi Neji yang juga akan ikut membantu dalam misi penyerangan diam-diam ini.
Sementara itu Tsunade dan Jiraiya masih belum beranjak dari aula. Tsunade, menatap ke arah depan sekolah dengan tatapan sendu.
"Tsunade…."
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Tapi ini tentu berat bagiku…."
Wanita itu membalikkan tubuhnya ke arah samping. Menatap wajah pria yang berdiri di sebelahnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagaimana mungkin…, bagaimana mungkin aku memerintahkan mereka untuk membunuh satu-satunya Putri kita, Shion…," ucapnya dengan getir. Kemudian aira-matanya mulai tumpah secara perlahan-lahan.
"Tsunade…." Jiraiya memeluk wanita itu dengan penuh kasih. "Kau tak sendiri menghadapi ini, Tsunade. Ada aku…, aku akan selalu menemanimu, bahkan dalam keadaan yang terburuk sekaligus. Jadi…, kuatkan hatimu…."
TBC
A/N : Sorry for late update. Sibuk sama Duta.
