Tittle: The Anchis
.
.
Maaf karena kalian harus menunggu lama
Maaf karena fanfic ini hanya bisa update sebulan sekali
Dan
Maaf jika kalian harus membacanya dengan pelan-pelan dan berulang-ulang
.
.
Luhan baru kali ini merasakan langsung tidur di Igloo, meski tidak benar-benar tidur. Rebecca yang tubuh terus menggigil tampak terlelap tidur. Mungkin karena kelelahan. Sebenarnya mereka bisa pakai helicopter, apa daya anchis paling tua kedua ini takut ketinggian. Padahal Rebecca bisa menjalankan helicopter.
Si penguin kaisar juga sudah terlalap dengan posisi berdiri. Menurut Minseok mereka sebenarnya cukup dekat dengan wilayah Selatan. Namun mereka lebih baik masuk pada saat pagi hari. Dimana masyarakat Bangsa Lemuria sedang sibuk menyiapkan aktivitasnya.
"Maaf, aku menunda perjalanan kita," Minseok membuyarkan lamunan Luhan. Selain karena perkataannya tapi juga karena Minseok bergerak keluar dari Igloo. Otomatis, Luhan mengikuti langkah Minseok. "Tuan Kaisar bilang, mereka sudah menungguku."
"Siapa?"
"Aurora." Minseok tampak menunjuk langit hitam yang kini dihiasi warna kehijauan.
Luhan pernah melihat aurora meski lebih banyaknya ia tidak peduli. Sampai Minseok bersiul pelan dan aurora tersebut semakin memancarkan sinarnya.
"Bagian terpenting dari mekanisme aurora adalah angin matahari," ucap Minseok yang membuat Luhan mengangguk pelan. Luhan tahu angin matahari merupakan istilah dari sebuah partikel yang keluar dari matahari yang menggerakan sejumlah besar listrik di atmosfer (sabuk van allen). "Aurora untuk bangsa kami menunjukkan adanya seorang tamu dan bagi tamunya sendiri seperti ucapan selamat datang."
"Aurora itu tandanya kau diterima?" tanya Luhan yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Minseok.. "Aku jadi teringat Chanyeol." Gumam Luhan pelan.
Tiba-tiba Minseok tertawa pelan yang membuat Luhan mengerenyitkan dahinya.
"Aku jadi ingat perkataan Chanyeol," ucap Minseok yang membuat Luhan penasaran. "Dia bilang, tolong jaga kakakku yang cengeng." Minseok semakin terkikik saat menemukan raut wajah Luhan yang protes. "Dia orang yang baik, dia cukup terkenal dulu dengan julukan Sang Kesatria Tak Tersentuh."
Yaiyalah tak tersentuh, Chanyeol kan anchis. Bahaya kalau sampai bersentuhan. Kemungkinan besar mengapa para Anchis diam di medan perang karena tubuh mereka yang berbahaya jika tersentuh. Sekali tepuk bisa membuat seseorang lemas tak berdaya.
"Tunggu, jika kau mengenal Chanyeol kenapa Chanyeol tidak mengenalmu?" tanya Luhan dengan heran.
"Sebanarnya wajar jika kami tidak saling mengenal, dia itu kesatria sedangkan aku hanya seorang sipir," ucap Minseok pelan. "Tapi saat perang empat kerajaan, kami jadi sering bertemu dan sesekali berbincang," ucap Minseok dengan mengangkat bahunya dengan ringan. Luhan mengangguk karena dulu ia berarti melawan adik sekaligus pasangannya sendiri. "Kalau wajah dan tubuhku seperti ini, tentu saja dia tidak mengenalku."
"Kenapa?"
"Ini bukan wujud asliku."
Luhan sontak memundurkan langkahnya saat tanpa aba-aba tubuh Minseok berubah. Menjadi lebih tinggi besar dan berotot hingga kaos yang Minseok kenakan mengetat. Namun yang membuat Luhan terkesiap adalah dari leher hingga kepala Minseok ditumbuhi bulu kecokltan. Selanjutnya kepala Minseok berubah total menjadi kepala bison.
"Namaku Amos," ucap Minseok dengan suara yang sangat besar dan berwibawa. "Kalau seperti ini mungkin Chanyeol akan mengenalku," Minseok kini bersidekap dan menunjukkan tangannya yang berotot. Sedangkan Luhan hanya menatap Minseok dengan wajah piasnya. "Kenapa? Kaget ya?"
Luhan hanya menelan ludahnya pelan. Luhan jadi ingat dulu dia selalu memaksa Minseok. Menganggap Minseok taidak tahu apa-apa. Justru sebenarnya Luhan yang tidak tahu apa-apa. Dan saat Minseok mendekatinya, Luhan refleks bergerak mundur. Kelakuan Luhan tentu saja membuat Minseok heran.
"Kenapa?" tanya Minseok, ah ralat dengan wujud seperti ini cocoknya disebut Amos bukan Minseok.
"Aku sedang mengingat kebodohanku," ucap Luhan sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sedangkan Amos hanya memiringkan kepalanya dengan heran. "Pantas saja kau selalu bilang aku ini seperti anak kecil."
Dan pikiran lain menyentak tubuh Luhan dengan begitu saja. Wajanya bahkan bertambah pucat. Mungkin nasibnya akan seperti adiknya Drias (Yixing). Iya, Drias kan didominasi oleh pasangannya sendiri. Padahal Sehun itu hanya manusia biasa. Lah? Minseok? Sudah lebih tua, dari kalangan Bangsa Lemuria, gagah pula. Sedangkan Luhan? Tingginya saja tidak seberapa. Kalau wajah? Jelas sangaran Minseok versi asli.
Saking seriusnya, Luhan sampai tidak dasar jika Amos sudah kembali ke wujud seorang Kim Minseok. Bahkan tanpa tanduk dan sayap. Namun yang membuat Luhan terkejut, Minseok yang bertubuh lebih pendek berlari kecil menuju Luhan dan memeluk Luhan begitu saja.
"Eh? Eh?" Luhan jadi kelabakan sendiri mendepat serangn mendadak seperti ini.
Minseok melingkarkan kedua tangannya dipinggang Luhan. Mungkin karena wujud Asianya lebih pendek dari Luhan. Saat Minseok memeluk Luhan yang terjadi bibir Minseok membentur bahu Luhan.
"Jangan merasa terintimidasi," gumam Minseok dengan suara yang lebih halus. "Aku lebih nyaman dengan wujud seperti ini jika bersamamu."
Wajah Luhan yang tadinya pucat mendadak memerah hingga ke telinga. Luhan tidak tahu Minseok bisa juga seberani ini. Dibandingkan bingung memikirkan wujud asli Minseok yang cukup memukau. Atau mempermasalahkan siapa yang didominasi dan mendominasi. Luhan memilih untuk membalas pelukan Minseok yang tiba-tiba sambil mengusap pelan punggung Minseok yang seharusnya tertanam sayap.
Namun, sayup-sayup Luhan mendengar suara tawa Minseok yang tertahan. Luhan sontak saja ingin mendorong tubuh Minseok. Tapi Minseok langsung mempererat pelukannya sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Luhan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Luhan sambil mencekram kedua bahu Minseok.
Luhan terpaksa mendorong tubuh Minseok dengan keras. Dan tawa Minseok semakin pecah. Hingga Luhan mengguncangkan kedua bahu Minseok dengan kesal.
"Kau pasti menertawakanku!" bentak Luhan dengan nada sebal.
"Maaf.." keluh Minseok sambil mengeluh karena perutnya sakit. "Aku tidak tahan melihat ekspresimu," Minseok berkata sambil mengendalikan tawanya. Bahkan Minseok sampai mengeluarkan air matanya karena tertawa dengan cara yang berlebihan. "Kau begitu pucat saat melihat wujud asliku tadi." Ucap Minseok sambil menghapus air matanya dengan ibu jarinya.
"Aku hanya terkejut tadi!" elak Luhan sambil menghentakan kakinya dengan kesal.
"Aku tahu.. aku tahu.." ucap Minseok sambil mengambil nafas dalam-dalam. "Dan aku rasa nanti kau akan berpikir 1000 kali lipat jika akan melakukan hal-hal aneh padaku."
Luhan membelalakan matanya saat Minseok tersenyum dengan lebar. Tapi pada akhirnya Luhan tertawa pelan meski rasanya benar-benar menyebalkan memiliki pasangan yang bisa berubah wujud dengan seenaknya.
.
.
.
BYUUR!
"Kenapa kita mendarat di dalam danau?" keluh Chanyeol saat kepalanya menyembul ke permukaan danau.
"Karena danau ini gerbangnya." Jelas Jongin.
Setelah itu Jongin tidak mengatakan apa pun lagi karena tubuhnya mengigil. Kebetulan cuacanya memang sedikit dingin. Chanyeol dengan susah payah keluar dari danau sambil mengadahkan kepalanya.
"Hah? Banyak amat.." komentar Chanyeol yang tidak digubris oleh Jongin. "Baru kali ini aku melihat bulan lebih dari satu." Ucap Chanyeol pelan. Di bumi, ia biasa melihat satu bulan tapi di xαος, bulannya sampai ada enam sekaligus.
Tapi Jongin lebih heran lagi dengan keadaan Chanyeol yang sudah kering bergitu saja. Bahkan saat kedua kakinya baru selangkah menapaki tanah. Chanyeol masih berceloteh ini itu sampai akhirnya ia menemukan Jongin yang mengigil disampingnya.
"Kemari!" ucap Chanyeol sambil menarik tubuh Jongin.
Tidak hanya menarik tapi juga memeluk Jongin dengan erat. Jongin yang kedinginan hanya menurut hingga lambat laun tumbuhnya menghangat. Entah apa yang dilakukan Chanyeol hingga pakaian Jongin pun langsung kering begitu saja. Bahkan sampai tas dan isinya diperkirakan juga sudah kering. Tapi saat tubuhnya sudah mencapai suhu normal, Chanyeol tidak juga melepaskan pelukannya.
"Kau itu sekalian cari-cari kesempatan ya?" tanya Jongin dengan heran.
"Iya," jawab Chanyeol ringan. "Memangnya kenapa?"
Mendengar perkataan Chanyeol membuat pelupuk mata Jongin bergetar. Akhirnya Jongin mengangkat tangannya untuk mendorong wajah Chanyeol. Si Anchis bernama asli Earnes itu tentu mengalah.
Chanyeol kembali memilih untuk menatap kesekelilingnya. Ia pikir xαος tempat yang gelap, tak berbentuk dan tidak ada kehidupan. Tapi xαος yang disebut Jongin memiliki kehidupan, semisal air dan rumput yang ia pijak meski kini seketika mengering. Ini seperti bumi meski bulannya keterlaluan jumlahnya. Chanyeol jadi sedikit ragu dengan sebutan xαος untuk tempat macam ini.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol saat menemukan Jongin menggelar alas diatas padang rumput setinggi mata kaki.
"Kita istirahat disini," ucap Jongin pelan. "Besok pagi kita baru mencari kakakku," jelas Jongin. Namun Chanyeol hanya diam saja saat Jongin duduk bersila dengan santainya dihadapan danau yang gelap dan tenang. Chanyeol baru saja akan bertanya tapi Jongin memotong perkataan Chanyeol begitu saja. "Tenagaku terkuras hanya untuk mengirimmu kesini."
"Bukan itu masalahnya.." ucap Chanyeol dengan ragu. "Kau memangnya tidak takut diserang hewan buas?"
Jongin yang awalnya hendak berbaring langsung menatap Chanyeol dengan malas. Sepertinya Jongin harus menjelaskan beberapa hal mengenai xαος.
"Tidak ada hewan," ucap Jongin pelan. "Belum lagi ini sudah malam, tidak akan ada yang mau menyerangmu."
"Tapi.."
"Aku mengantuk!" rengek Jongin sambil merebahkan tubuhnya begitu saja. Bahkan Jongin memunggungi Chanyeol. "Kalau mau selamat, lebih baik tidur sekarang."
"Memangnya kenapa?"
"Kau akan tahu besok."
Baiklah, Chanyeol percaya. Lagi pula Jongin pernah terkurung disini. Chanyeol juga sebenarnya lelah. Belum lagi ia tidak bisa terbiasa dengan kekuatan Jongin yang suka pindah kesana kemari. Chanyeol sudah berusaha untuk tidur disamping Jongin. Biasanya jika ia tidur di luar ia melihat bintang yang bertebaran. Tapi kali ini ia melihat langit tanpa bintang. Adanya hanya bulan bulat berjumlah enam buah. Chanyeol jadi pusing sendiri melihatnya.
.
.
Rasanya Chanyeol baru tidur beberapa menit. Ia terbangun hanya karena cairan kental yang menetes didahinya. Saat ia membuka matanya yang ia temukan adalah mulut yang terbuka lebar dengan deretan gigi tajam. Dan iyuuuh~ cairan kental itu rupanya air liur. Tunggu?!
"Jongin!" teriak Chanyeol saat mulut itu hendak menelannya bulat-bulat.
Chanyeol langsung menggulingkan tubuhnya untuk menghindar. Sial, ia hampir ditelan oleh seekor singa dengan ukuran kurang ajar besarnya. Jongin terbangun dengan ketenangan yang mengagumkan. Saat Chanyeol menatap ngeri kumpulan singa yang tidak jauh darinya. Jongin malah tampak menendang wajah singa itu sambil melipat alas tidur keduanya dengan santai. Apa-apaan itu?! Jongin bahkan mengucek matanya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Chanyeol jadi stress sendiri melihat Jongin. Setiap singa itu hendak menerkam, Jongin terus berpindah tempat dengan kekuatannya. Sayang, Chanyeol tidak terlalu waspada, karena terlalu menikmati aksi Jongin yang membingungkan si singa. Seekor singa lainnya mengambil kesempatan untuk menerkam bahunya dan menacapkan taringnya dibahu kiri.
"Chanyeol!" teriak Jongin dengan terkejut.
Darah Chanyeol sudah merembes. Tapi Chanyeol hanya mencekram kepala singa yang tampak membelalakan matanya. Seperti yang sudah diperkirakan, bahkan saat singa itu menancapkan tarinyanya, tubuh Chanyeol secara otomatis menyerap aura dan energi singa itu dengan cepat. Jongin bahkan sampai menganga saat singa itu lambat laun mengering dan menghilang begitu saja.
"Terimakasih atas sarapannya," ucap Chanyeol dengan takzim. Namun sedetik kemudian Chanyeol menatap Jongin dengan tajam. "Choshek!" geram Chanyeol dengan kesal. Jongin sampai tersentak sendiri mendapatkan Chanyeol memanggil nama aslinya.
Chanyeol dengan langkah cepat mendekati Jongin yang juga tidak kalah cepat memundurkan langkah kakinya. Meski sempat-sempatnya Jongin mengambil tas gendongnya.
"Kau bilang tidak akan ada hewan buas yang menyerang!" seru Chanyeol dengan murka.
"Kalau malam hari memang tidak ada," ucap Jongin sambil memamerkan cengirannya. "Tapi beda kalau.. SIANG HARI!" Teriak Jongin.
Jongin kini malah membalikkan badannya dan berlari dengan kencang. Refleks Chanyeol jadi ikut berlari mengejar Jongin meski bingung.
"KENAPA KAU BERLARI?!" teriak Chanyeol.
"LIHAT DI BELAKANGMU!" balas teriak Jongin.
Chanyeol sontak berlari sambil menenggok ke belakang. Dan ia menemukan segerombolan singa mengejar keduanya. Bahkan terdapat dua singa yang siap menerjang dan menerkamnya. Chanyeol langsung menghentikan langkahnya dan dengan tiba-tiba ia pun merundukkan tubuhnya. Hal itu membuat kedua singa itu bertabrakan. Saking kerasnya tabrakan itu hingga salah satu singa jatuh terguling dengan kencang dan menabrak Jongin yang tengah berlari.
"Nah kan! Dapat balasannya!" seru Chanyeol sambil berlari menghampiri Jongin yang terjelembab dan jatuh dalam posisi tengkurap.
Jongin mengeluh pelan meski menerima uluran tangan Chanyeol. Saat mereka berdiri berhadapan, segerombolan singa besar sudah mengepung keduanya dengan tatapan marah dan geraman ala pemangsa. Mungkin mereka lebih bernafsu memburu keduanya karena Chanyeol sudah membunuh salah satu koloninya.
"Bahu kirimu masih mengeluarkan darah!" seru Jongin dengan terkejut. "Bukannya Anchis itu.."
"Luka kami memang bisa sembuh dengan sendirinya tapi tidak secepat itu," potong Chanyeol. Lagi pula taring singa itu menancap cukup dalam di bahunya. "Ngomong-ngomong kita terkepung loh!" Ucap Chanyeol untuk menyadarkan Jongin yang terus menatap lukanya.
Chanyeol menatap sekelilingnya dengan waspada tapi Jongin malah langsung menggenggam tangan Chanyeol. Hingga Chanyeol menatap Jongin dengan heran.
"Kita pindah tempat saja." Celetuk Jonging sambil menyengir lebar yang tanpa sadar membuat Chanyeol menoyor kepala Jongin.
"Bukannya dari tadi!"
Saat segerombolan singa itu berancang-ancang untuk melompat dalam kepungan. Jongin dan Chanyeol sudah menghilang begitu saja. Dan membuat segerombolan singa itu kebingungan karena kedua mangsanya menghilang secepat hembusan angin.
.
.
.
Luhan menatap heran gerbang Bangsa Lemuria. Luhan tahu bangsa Lemuria merupakan bangsa yang menakjubkan. Gerbangnya saja sebuah gunung es yang terbelah menjadi dua. Bayangan Luhan mengenai kawasan penguasa Selatan macam dongeng-dongeng dibuku, nyatanya benar. Mungkin karena sebagian penduduknya merupakan perpaduan antara tubuh manusia dan binatang. Jadi, yang Luhan lihat adalah sebuah pusat kota yang dipenuhi dengan pepohonan dan tumbuhan hijau. Bukan gedung pencakar langit macam kota manusia. Tapi yang paling mengagumkan adalah pakaiannya, pakaian penduduk ini memiliki desain yang masih amat kuno. Dengan bahan kulit binatang.
"Kenapa semua orang memberikan salam?" tanya Rebecca yang sibuk membalas salam setiap orang. Rebecca yang berjalan didepan Minseok dan Luhan sesekali menengok ke belakang saking bingungnya.
"Karena ada Tuan Kaisar disini," jawab Minseok sambil menunjuk penguin yang berjalan disamping Rebecca dengan dagunya.
"Ah! Tuan bisa saja," jawab penguin itu dengan suara malu-malu meski ekspresinya masih tampak datar. "Walau pun Tuan berubah wujud, penduduk kota tetap tahu siapa sebenarnya Tuan ini."
"Kau bilang, kau itu penduduk biasa," gumam Luhan dengan heran sambil menggenggam tangan Minseok sejak dari tadi. "Sepertinya tidak biasa."
"Tukang begal memangnya pekerjaan biasa ya?" tanya Rebecca dengan heran.
Luhan memiringkan kepalanya untuk berpikir. Membayangkan Minseok memenggal kepala seseorang dengan kampaknya membuat Luhan sedikir merinding. Sontak Luhan menggelengkan kepalanya. Saat mata Luhan bertemu dengan mata Rebecca, Luhan malah tertawa sambil meringis pelan.
"Tuan Amos ini penjaga salah satu pulau," ucap Tuan Kaisar sambil berjalan dengan gerakan lamban. "Pulau yang berisikan penjahat yang akan dihukum mati," lanjut penguin itu sambil membungkukan tubuhnya saat ada beberapa orang menyapa. "Tapi semenjak kekuasaan wilayah Selatan diganti, pulau itu kini menjadi tempat wisata."
"Tepatnya aku itu pensiunan," jelas Minseok sambil mengangkat bahunya dengan santai. "Rebecca kau akan bertemu dengan Sang Penguasa, jadi tolong jaga sikapmu."
Rebecca sontak melakukan gerakan hormat pada Minseok dengan posisi tubuh tegap. Hingga membuat penguin kaisar disampingnya hampir terjungkal saking kagetnya. Tapi Minseok hanya menggelengkan kepalanya sambil memaksa tangan Rebecca yang dalam posisis hormat untuk turun.
"Kau hanya perlu bilang iya atau mengangguk." Peringat Minseok yang membuat Rebecca menganggukan kepalanya. "Kalian berdua tolong tunggu disini, Tuan Kaisar tolong jaga Luhan dan Luhan kau jangan sembarangan menyentuh apa pun."
Luhan menganga mendapatkan perintah macam itu dari Minseok. Luhan jadi benar-benar dianggap seperti anak kecil yang hobi berkeliaran di mata Minseok. Tapi kekehan kecil Minseok membuat Luhan sadar jika Minseok hanya bercanda. Lebih tepatnya, menggodanya.
Baru dua langkah Minseok dan Rebecca menaiki tangga menuju tempat Sang Penguasa Wilayah Selatan. Tiba-tiba Minseok membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya pada Luhan. Awalnya Luhan bingung tapi ia menatap Minseok penasaran sambil menyambut uluran tangan Minseok.
"Aku akan mengenalkanmu pada Penguasa Selatan," Minseok tampak menatap Luhan dengan tatapan panjangnya. "Aku rasa dia penasaran denganmu," kemudian Minseok menatap penguin yang tengah berdiri menyandar di sebuah patung besar. Patung perpaduan antara lelaki gagah dengan kepala gajah bergading panjang dan tajam. "Tuan, bisakah kau menunggu kami sendirian?" tanya Minseok.
"Tentu saja," ucap penguin kaisar itu sambil mengangguk. "Lagi pula aku orang yang cukup setia."
Luhan tidak mengerti artinya. Tapi Minseok hanya tertawa sambil mengangguk.
"Maksudnya kita jangan sampai membuatnya bosan menunggu." Jelas Minseok.
.
.
.
"Saat ini aku benar-benar berharap ada Drias (Yixing) disampingku," keluh Chanyeol yang merasa mual karena lagi-lagi ia harus melintasi dan melanggar hukum ruang dan waktu. "Aku tidak akan terbiasa dengan ini semua."
Jongin hanya diam sambil melilitkan perban dibahu kiri Chanyeol. Mereka kini berada disebuah gua untuk bersembunyi dari hewan buas. Namun mata Jongin menemukan luka bakar di bahu yang kini tengah ia obati. Jongin sejak tadi penasaran, kenapa Chanyeol bisa mendapatkan luka bakar seperti itu padahal Chanyeol adalah pengendali api.
Keluhan Chanyeol masih berlanjut dan itu wajar untuk Jongin. Meski ya.. pada akhirnya ia pun hanya bisa menghela nafas.
"Maaf.." ucap Jongin pelan hingga membuat Chanyeol tersentak hebat.
"Bukan begitu maksudku," ralah Chanyeol buru-buru. "Aku hanya.. kau tahu, aku memiliki hobi mengeluh."
Jongin menaikan sebelah alisnya saat Chanyeol menatapnya dengan sungguh-sungguh sambil menganggukan kepalanya. Tatapannya itu yang malah membuat tawa Jongin pecah. Ada kalanya Jongin ingin menukar posisinya dengan kakaknya yang terkurung disini. Karena yang pantas untuk bebas itu kakaknya bukan dia. Mungkin karena itu juga Jongin rela untuk mati demi kakaknya. Dan mungkin Jongin juga rela melanggar janjinya pada Chanyeol. Ia bukan tipe orang yang akan menumbalkan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri.
"Jangan berpikir seperti itu," ucap Chanyeol pelan sambil memakai kembali kaosnya yang bolong. "Kalau kau berniat untuk diam disini sendiri, agar bisa memulangkan aku dengan kakakmu, itu bukan keputusan yang benar."
Jongin tentu berniat untuk membantah tapi Chanyeol langsung membungkam mulut Jongin dengan perkataannya lagi.
"Karena aku dan kakakmu pasti akan melakukan berbagai cara untuk bisa membuatmu keluar dari tempat ini."
Jongin hanya tersenyum dengan perkataan Chanyeol. Oh ya, Chanyeol harus ingat ia berpasangan dengan seorang pria yang sama keras kepalanya. Chanyeol ingin kembali meyakinkan Jongin untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu. Tapi Jongin memubungkam Chanyeol dengan cara yang mengejutkan. Memeluk tubuh Chanyeol dari belakang. Jongin harus berlutut dan mengalungkan tangannya di leher Chanyeol yang tengah duduk bersila.
"Aku dengar, dengan sentuhan, penyembuhan Anchis juga akan lebih cepat." Perkataan Jongin tentu dianggukan oleh Chanyeol. Memang begitu cara kerja tubuh mereka. Bersentuhan. "Dulu aku pernah disembuhkan oleh kakakmu, aku harusnya berterimakasih padanya bukan menghajarnya."
Perkataan Jongin cukup membuat pertanyaan baru di kepala Chanyeol.
"Aku sebenarnya sedikit heran, kenapa kau sefanatik itu dengan anchis?" tanya Chanyeol yang membuat Jongin menolehkan kepalanya untuk menatap wajah Chanyeol meski hanya sebagian. "Dulu kau juga hampir mengirimkan kakakku kesini." Ucap Chanyeol sambil menolehkan kepalanya. Kini keduanya saling bertatapan.
Namun Jongin langsung menatap lurus kedepan. Entahlah, Jongin jadi sedikit gugup jika harus bertatapan sedekat itu.
"Karena selain aku, hanya anchis yang bisa bebas datang kesini," jawab Jongin dengan suara yang dibuat kalem. "Aku tidak mengerti apa alasannya, tapi dulu adikmu dengan mudah mengeluarkanku dari sini," perkataan Jongin tentu membuat Chanyeol mengerutkan dahinya dengan terkejut. "Tapi dia salah orang, harusnya kakakku bukan aku."
"Salah orang?" tanya Chanyeol dengan nada tersinggung. Maksud Chanyeol, memangnya nyawa Jongin tidak ada harganya.
"Karena kakakku itu pewaris dari penguasa.. tepatnya dia yang akan dinobatkan sebagai Sang Penguasa Wilayah Timur Tengah," jelas Jongin yang membuat Chanyeol menatap Jongin dengan heran. "Aku hanya seorang anak campuran dari keturunan dewa dan manusia biasa."
"Aku rasa kau salah mengenai Anchis," ucap Chanyeol yang membuat Jongin tersentak. Keduanya kembali saling bertatapan. Chanyeol tanpa sungkan mengusak kepala Jongin sambil tersenyum lebar. "Aku rasa Zitao bisa kesini karena dia pengendali waktu sama sepertimu yang memiliki kekuatan teleportasi."
"Maksudnya?"
"Kalian berdua itu memiliki kekuatan yang dapat melawan hukum ruang dan waktu, oleh karena itu kalian bisa dengan mudah datang kesini."
Jongin sontak membulatkan mulutnya dan berkata. "Ah! Benar juga." Gumam Jongin sambil mengangguk pelan.
Toh, Chanyeol pun ingat betul jika adiknya itu kalau bosan suka seenaknya pindah ke waktu lampau dan kadnag juga ke masa depan. Tapi Zitao lebih suka ke masa lampau. Misalnya ke zaman purba, ke zaman peperangan atau zaman dimana Korea Selatan masih di jajah Jepang.
Tapi melihat ekspresi Jongin yang tampak termenung, cukup membuat Chanyeol kembali mengusak kepala Jongin sambil tertawa geli.
"Dasar bodoh."
.
.
Sama seperti penjara pada umumnya. Gelap, pengap dan sepi. Yixing yakin Sehun terkurung tepat disebelahnya. Karena sejak tadi anjing yang bisa berubah yang dipanggil Jiro itu tampak berdiri tepat di tengah-tengah antara ruangnnya dengan ruangan disamping kanannya. Jadi ia yakin Sehun ada disamping kanannya.
"Apa yang dikatakan orang itu benar?" untuk beberapa jam tadi. Yixing bisa bernafas lega saat Sehun memberikan pesan singkat padanya. Meski itu berisi pertanyaan yang membuat Sehun berubah takut padanya.
"Iya, Leo benar." Jawab Yixing yang membuat Sehun tersentak kaget. "Apa kau mau mendengar alasanku? Kenapa aku menjadikan manusia sebagai mangsaku?" tanya Yixing.
Jika makhluk lainnya lahir, tumbuh dan berkembang. Berbeda dengan Anchis. Anchis lahir dari tangan seorang seniman patung, yang dibentuk sesuai dengan ukuran dan umur bayangan sang pencipta. Luhan yang dibayangkan berumur 23 tahun, Yixing 22 tahun, Chanyeol 21 tahun dan Zitao 19 tahun. Anchis tidak melalui tahapan berkembang. Ia lahir sebagaimana ia diciptakan bentuknya.
Luhan, Chanyeol dan Zitao lahir ditempat yang aman. Dikelilingi oleh Para Penguasa. Zitao yang ditemukan oleh Penguasa Timur, Luhan oleh penguasa Barat dan Chanyeol yang memang lahir di gunung bersalju tepat di dekat gerbang penguasa Selatan. Sedangkan Yixing? Ia lahir ditengah masyarakat Jepang tepatnya di sebuah hutan angker yang sekarang disebut hutan Okigahara.
Semua anchis lahir dengan berbekalakan satu hal. Nama. Yixing tahu namanya Drias, namun ia tidak tahu asalnya dari mana. Dan makhluk macam apa dia itu. Hingga masyarakat Jepang mengatainya seorang iblis penghisap energi manusia yang akan bunuh diri di hutan tersebut. Awalnya ia hanya dianggap sebagai iblis atau monster. Tapi sekelompok biksu datang untuk menangkapnya dan mengurung Yixing. Tentu saja Yixing disiksa dengan berbagai cara agar 'roh jahat' yang ada didalam diri Yixing menghilang. Tapi tidak ada cara yang bisa membuat Yixing berhenti menghisap energi makhluk hidup. Hingga akhirnya kelompok biksu dan beberapa masyarakat memutuskan untuk membakarnya hidup-hidup.
"Saat aku akan dieksekusi mati, Leo datang untuk menyelamatkanku," jelas Yixing yang membuat Sehun termenung. "Leo merupakan pewaris Penguasa Utara, karena itu juga energi dan auranya tidak bisa terserap olehku," Yixing diam sejenak untuk mendengar respon Sehun. Tapi Sehun hanya diam saja. "Untuk pertama kalinya aku menyentuh manusia tanpa menyakitinya."
"Tapi dia bukan manusia."
Yixing tersenyum pelan sebelum berkata. "Ya, kau benar, dia bukan manusia." ulang Yixing dengan pelan sambil mendongakkan kepalanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau menjadikan manusia sebagai mangsamu."
"Bukankah sudah jelas," pancing Yixing yang membuat Sehun panik. "Karena aku membenci mereka," jawab Yixing dengan tenang. "Aku benci dianggap monster oleh manusia," Yixing yang awalnya menengadahkan kepalanya kini menatap Jiro dengan tatapan datar. "Kau tahu kenapa saat pertama kali kita bertemu, aku menyanggupi permintaanmu untuk membunuh sekelompok mavia?" tanya Yixing yang membuat Sehun terlihat gugup. "Karena aku sudah terbiasa dan.."
"…"
"MARAH!" ucap Yixing dengan tegas dan keras sambil menatap Jiro dengan tajam.
Sehun tentu tersentak kaget tapi Jiro bahkan lebih kaget hingga merubah wujudnya kembali seperti manusia. Jiro sontak mendekati sel Yixing sambil menatap Yixing dengan tidak kalah tajam. Sebelum Jiro bertanya, Yixing sudah menggeram dengan kesal.
"Jangan memandang pasanganku dengan tatapan mesummu!" ancam Yixing sambil menggerutukkan giginya. Yixing bahkan melompat begitu saja dari atas ranjang. Kedunya kini saling bertatap dengan pandangan bengis. "Aku marah karena manusia sendiri bahkan sanggup menjadi moster dan memperlakukanmu dengan begitu keji, ditambah kau itu pasanganku," ucap Yixing yang tentu didengar jelas oleh Sehun. Lagi, Yixing menatap Jiro dengan tajam meski manusia hibrida itu tampak menatap Yixing dengan bingung. "Karena itu aku berani membunuh mereka semua untukmu."
Jiro sudah bersiap-siap jika Yixing mencoba untuk kabur dari sel. Meski itu tidak mungkin. Namun suara kikikan Sehun membuat keduanya menengok ke arah Sehun. Jiro jelas bisa melihat Sehun yang tengah duduk bersila diatas kasur. Sedangkan Yixing terhalang oleh dinding yang kokoh.
"Aku bingung," bisik Sehun yang membuat Yixing berdiri menghadap tembok. "Sebenarnya kau itu sangat mencintaiku atau justru kau sangat membenciku?" tanya Sehun yang membuat Yixing tersenyum tipis. "Aku sebenarnya selalu bingung berhadapan denganmu." Kini Sehun duduk sambil memeluk kedua lututnya.
"Kenapa kau itu selalu memilih kata-kata vulgar?" tanya Yixing yang membuat Sehun menengok ke dinding dimana Yixing dipenjara. "Kau tentu tahu jawabannya, karena aku tidak pernah membencimu."
Jiro menatap keduanya dengan bingung. Karena baik Yixing maupun Sehun saling bertatapan dan melempar senyum seolah tidak dihalangi dinding sama sekali. Jiro tidak tahu kenapa Yixing berbicara dengan lantang sedangkan Sehun hanya berbisik kecil. Hingga suara langkah kaki membuat Jiro kembali ke wujud anjingnya.
"Sebenarnya penjara ini tidak diperbolehkan untuk menggunakan alat komunikasi apa pun," ucap seseorang dengan pelan. Jiro memundurkan langkahnya saat orang itu tampak berjalan menuju pintu sel Yixing. "Aku tidak tahu jika kalian bahkan bisa melakukan telepati."
Yixing berdecih pelan hingga menbuat Sang Penjaga tanpa segan-segan masuk ke dalam sel penjaranya. Yixing tidak sempat menjaga jarak sampai akhirnya Leo menarik tangannya ke belakang dan membenturkan tubuhnya ke dinding. Yixing menggeram kesakitan saat Leo menjambak rambutnya dengan keras hingga kepalanya mendongak. Belum lagi Leo malah menaruh kaki kanannya diantara kedua kaki Yixing.
"Kau masih tidak mau meminta maaf padaku?" tanya Leo yang membuat Yixing memejamkan matanya karena menahan sakit. Ia tidak bisa bergerak sama sekali. "Setelah kau meninggalkanku, dengan seenaknya kau datang bersama pasanganmu," geram Leo dengan kesal. "Apa kau tidak merasa bersalah sedikit pun padaku?!" teriak Leo sambil membenturkan kepala Yixing ke dinding dengan sekuat tenaga.
Dinding penjara ini sebenarnya terbuat dari beton yang kokoh. Hanya sengan sekali benturan, Leo sudah menghasilkan sebuah lengkungan di dinding tebal tersebut. Maka wajar jika sekarang wajah Yixing dipenuhi oleh darah yang berasal dari dahi dan hidungnya yang patah. Tidak cukup sampai disitu, Yixing yang sudah jatuh terduduk harus menerima tendangan yang membuatnya terhempas dan kembali membentur dinding, meski kali ini tidak membuat dindingnya kembali hancur. Darah kembali keluar namun kini keluar melalui muntahan yang menjijikan.
Yixing bisa mendengar suara Sehun yang berteriak panik sambil memanggil namanya. Selain itu juga ada suara ricuh dari penghuni sel lain yang seolah menikmati tontonan. Meski akhirnya suara riuh itu berhenti karena suara gonggongan Jiro yang entah artinya apa. Yixing sudah tidak bisa bergerak atau tepatnya ia memang tidak mau bergerak. Leo belum puas hingga akhirnya menarik rambut Yixing hingga membuat tubuhnya terangkat berdiri. Yixing sudah siap menerima serangan lain. Tapi Jiro yang sudah berubah menjadi manusia langsung memaksa Leo untuk melepas cengkramannya.
"Kau memang Sang Penjaga, tapi ini tempat kekuasaanku," ucap Jiro dengan lantang. "Kau bisa memerintahku diluar, tapi tidak disini," Jiro kembali berkata sambil memapah Yixing yang terluka parah. "Tolong, jangan buat keributan disini."
"Awas! Kau bisa..!"
"Ah ya! Dia kan.." Jiro menatap Yixing dengan heran dan menatap tubuhnya dengan tatapan bingung. "..aku tidak merasakan apa pun," ujar Jiro sambil membaringkan Yixing diatas ranjang. "Dia tidak menyerap energiku."
Yixing hanya diam saja saat Jiro mulai membersihkan wajahnya yang dipenuhi oleh darah. Dan Yixing juga tidak berusaha untuk menyembuhkan lukanya dengan kekuatannya. Bisa berbahaya jika Leo tahu jika Yixing memiliki dua kekuatan sekaligus. Meski pun, Leo juga tidak tahu jika Yixing punya kekuatan dari para dewa-dewi Penguasa Barat. Leo tahu jika Yixing tidak bisa menyerap energi dan aura lagi saja sudah masuk ke dalam taraf gawat.
Karena penjara ini memiliki kamar mandi disetiap selnya. Maka Jiro tidak terlalu bersusah payah untuk membuang air bekas membersihkan wajah Yixing yang kini dipenuhi oleh warna merah. Jiro mendelik pelan saat Leo menjongkokan dirinya dan mengusap pelan rambut Yixing yang tengah berbaring di atas ranjang. Jiro sebenarnya tidak perlu sampai melakukan ini pada tahanannya. Tapi Yixing itu berbeda dan Jiro rasa.. Leo memang punya dua kepribadian yang bertolak belakang. Jiro hanya sedikit khawatir jika ada tahanannya yang mati dihajar di selnya sendiri.
"Apa yang terjadi padamu?" kini Leo bertanya dengan suara lembut. "Biasanya lukamu akan cepat sembut dan sekarang kau juga tidak bisa menghisap energi siapa pun," Leo kini menatap rambut Yixing yang dipenuhi dengan debu. "Aku suka rambut panjangmu yang dulu."
"Maafkan aku." Bisik Yixing yang membuat Leo langsung beranjak berdiri dan memunggungi Yixing.
"Apa yang akan terjadi jika besok aku mengeksekusi mati pasanganmu?" tanya Leo dengan tiba-tiba.
Yixing tahu ini akan terjadi. Leo cukup terkejut saat menemukan suara Yixing yang begitu tenang.
"Aku juga akan mati."
"Kalian bukan pasangan seperti legenda manusia serigala yang jika pasangannya mati maka manusia jadi-jadian itu pun akan mati." Ejek Leo yang membuat Yixing mengangguk.
"Aku memang tidak akan langsung mati, mungkin beberapa hari kemudian, beberapa minggu kemudian, bisa jadi beberapa bulan kemudian aku baru akan benar-benar mati."
"Kenapa?"
"Karena satu-satunya cara agar aku bisa bertahan hidup, hanya dengan menyentuhnya."
Ada istilah, mengungkapkan kelemahanmu pada musuhmu sendiri itu berarti kau tengah bunuh diri. Namun apa bedanya jika Sehun besok harus mati karena kecerobohan dan rasa percaya diri yang berlebihan. Nyatanya ia tidak bisa mengelamatkan apa pun justru mengantarkan Sehun ke dalam jurang kematian.
"Apa pun alasannya aku akan tetap.."
"Kau yang memutuskan," potong Yixing yang membuat Leo membalikkan badannya. "Tidak akan ada yang bisa merubah keputusanmu kan?" tanya Yixing yang membuat Leo menatap Yixing dengan tajam. "Lagi pula aku sudah cukup puas tidak dianggap monster lagi," ucap Yixing sambil menatap temboh pemisah antara dirinya dengan Sehun. "Saat kami kesini, kami sudah siap dengan segala resikonya."
"Kalian sekarang ingin memamerkan kemesraan kalian dihadapan kematian?" tanya Leo dengan sarkasme.
"Tidak, karena ini bukan pertamakalinya nyawa kami berada di ujung tanduk."
Terdapat jeda yang begitu lama saat Yixing dengan berani menatap wajah Leo yang tampak marah.
"Jangan harap aku akan termakan dengan kebohonganmu itu," ucap Leo sambil berjalan meninggalkan Yixing yang diikuti oleh Jiro. "Kau bahkan sangat membenci manusia dibandingkan apa pun."
"Kenapa kau tidak membunuhku saja?" tanya Yixing yang membuat Leo menghentikan langkahnya. "Jika kami dihukum karena aku pernah mengkhianatimu, kenapa harus dia yang menanggung kesalahanku?"
"Ini hukuman yang sangat pantas untukmu," jawab Leo sambil tersenyum tipis. "Akan terlalu mudah untukmu jika kau dihukum mati," jelas Leo yang membuat Yixing menatapnya dengan tatapan bingung. "Aku juga ingin kau merasakannya, bagaimana rasanya jika orang yang paling berharga direbut oleh orang lain, bagaiman rasa sakit yang akan kau terima saat kau terus mengingatnya namun kau tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi, dan yang lebih penting bagaimana rasanya ditinggalkan."
Yixing melebarkan tatapannya saat Leo menatapnya dengan tatapan menggelap. Kemarahan dan rasa terkhianati begitu jelas terpancar dari mata Leo. Hingga Yixing hanya bisa memalingkan wajahnya dengan gugup. Namun sedetik kemudian, rasa gugup itu menghilang begitu saja. Kali ini Yixing dengan berani membalas tatapan Leo sambil tersenyum singkat. Dan membuat Leo membelalakan matanya.
Tidak, Yixing datang ke daerah Penguasa Utara bukan untuk mati. Tapi untuk menghentikan pengulangan sejarah yang membuat empat penguasa saling berperang. Yixing sejak dulu yakin Anchis dilahirkan bukan hanya untuk menjadi monster penghisap aura. Mereka pun memiliki andil sebagai makhluk yang lahir di bumi.
Leo menganggap itu hanya aksi sok kuat dari Yixing. Namun saat langkah dan pandanganya bertemu dengan Sehun. Leo juga menemukan senyuman yang sama, tergambar jelas di wajah Sehun. Bukan, itu bukan senyuman meremehkan atau apa pun. Itu senyuman yang menunjukkan jika mereka punya rencana.
"Ya, kami datang kesini dengan penuh rencana dan pertimbangan," ucap Sehun sambil menatap Leo dengan tajam. "Apa kau pikir kami datang kesini dengan tangan kosong?" tanya Sehun yang membuat Leo membalas tatapan Sehun. "Kau harusnya lebih tahu sifat Yixing dibandingkan aku."
.
.
.
"Zitao! Zitao!" Panggil Kyungsoo sambil menepuk pelan pipi Zitao.
Zitao langsung terbangun dengan napas terengah. Dan tubuh basah karena keringat.
"Air." Keluh Zitao pelan.
"Kau berkeringat parah," Kyungsoo mengambil gelas besi berisi air dan menyerahkannya pada Zitao. "Kau bermimpi apa?"
"Entahlah, aku tidak ingat," gumam Zitao pelan. "Yang pasti bukan hal yang menyenangkan."
Kyungsoo hanya tersenyum kecil melihat Zitao yang kembali merebahkan tubuhnya. Kini mereka sudah berada di sebuah oasis besar. Tempat terdembunyi untuk para penduduk Penguasa Timur Tengah.
"Bagaimana keadaan Chanyeol dan Yixing ya?" Gumam Zitao pelan.
Kemarin ia masih bisa berkomunikasi dengan Luhan dan ayahnya. Mereka tampaknya baik-baik saja.
"Kau itu kelihatannya cuek tapi ternyata perhatian juga orangnya."
Zitao tersenyum pelan dengan komentar Kyungsoo. Kini Kyungsoo dengan tenangnya merebahkan kepalanya di dada Zitao. Tanpa risih sama sekali dengan keringat yang membasahi tubuh si anchis paling muda.
"Aku rasa Rebecca juga baik-baik saja," gumam Zitao sambil mengusap pelan kepala Kyungsoo. "Yixing mungkin dalam keadaan krisis tapi dia punya otak yang cerdik," ucap Zitao yang membuat Kyungsoo mendongakkan kepalanya untuk menatap Zitao. "Tapi aku lebih khawatir dengan pasangan bodoh yang ada di xαος."
"Bodoh?" Tanya Kyungsoo heran.
"Kakakku itu bodoh tapi pasangannya jauh lebih bodoh lagi, aku sampai lelah sendiri menghadapi kebodohan mereka."
Kyungsoo hanya diam mendengar keluhan Zitao yang lumayan panjang berhiaskan kata bodoh.
"Tapi mereka punya satu kelebihan yang menguntungkan mereka," ucap Zitao sambil tertawa pelan yang membuat Kyungsoo menatapnya dengan heran. "Mereka itu kuat dan barbar, sangat cocok dengan kondisi xαος yang tak menentu."
Kyungsoo benar-benar tidak berkomentar. Ia hanya beranjak duduk disamping Zitao yang tampak menghela nafas dengan keras. Namun entah karena alasan apa. Kyungsoo merunduk pelan dihadapan Zitao. Meletakkan tangan kanannya di dada Zitao. Dan dengan gerakan perlahan mengecup bibir Zitao yang kini menatap Kyungsoo dengan terkejut.
Serius! Zitao terkejut setengah mati sampai wajahnya memerah total.
"Kau terlihat kacau," gumam Kyungsoo pelan. "Kau bukan tipe orang yang cerewet."
"Dan kau membuatku diam dengan cara klasik yang menyenangkan." Celetuk Zitao yang membuat Kyungsoo melebarkan mulutnya. Pura-pura kaget meski pada akhirnya tertawa dengan suara renyah.
"Jadi, kita harus mencari berapa orang lagi?" Tanya Zitao.
"Totalnya ada dua belas orang yang akan menjadi pewaris," ujar Kyungsoo pelan. "Kita sudah menemukan tiga orang disini, satunya ada di Utara dan satunya lagi ada di xαος."
"Berarti terdapat tujuh orang lagi, dan kemungkinan besar ada di wilayah Tengah."
Zitao kini beranjang dari ranjang. Mereka berada disebuah bangunan berbentuk kubus yang terbuat dari batu. Zitao menemukan tiga orang yang kemarin mereka temukan tengah berkumpul membuat sebuah lingkaran. Latihan dasar yang sering Zitao lihat karena Kyungsoo dan Rebecca setiap paginya akan melakukan ritual macam itu. Biasanya disebut dengan meditasi. Ketiga orang itu kini mengubah wujud mereka menjadi orang Asia. Dan Kyungsoo memberikan nama samaran untuk ketiganya. Penyamaran yang menguntungkan jika berhadapan dengan manusia tapi tidak untuk para penguasa lainnya.
Paling menonjol dengan kepintarannya adalah pria bernama Namjoon, anak dari Atum, pewaris Sang Matari. Dua pewarisnya lagi adalah sepasang kakak beradik, anak darI Dewi Sekhmet, dewi ahli perang dan pemburu. Adiknya bernama Suga si ahli perang dan kakak perempuannya bernama Amber si pemburu.
Zitao sontak melambaikan tangannya saat ketiganya tampak selesai dengan ritualnya. Zitao sebenarnya cukup terpukau dengan ketiga ahli waris Timur Tengah yang terlihat sangar. Belum lagi yang wanitanya. Si kakak besar yang berpenampilan layaknya seorang pria.
"Kita harus memastikan semua pewaris yang tinggal disini tanpa bersisa," ucap Kyungsoo pelan sambil menghampiri Zitao. "Dan kita akan berkumpul di wilayah Tengah, bergabung dengan kedua orang tuamu, juga dengan Bastet dan Tartaros."
"Kau tahu, hubungan kita itu sangat rumit ya?" tanya Zitao sambil terkekeh pelan.
"Paman!" teriak Suga sambil melambaikan tangannya pada Kyungsoo. "Aku baru ingat, dua anak dari Paman Amon tinggal di perbatasan sungai Nil," ucapnya sambil memandang kakak perempuannya. "Siapa namanya ya kak?" tanya Suga sambil menggaruk tengkuknya dengan pelan.
"Yang aku tahu, yang pria seorang pengendali bumi, sedangkan yang perempuan dinobatkan sebagai Sang Pencipta seperti ayahnya." Ucap Namjoon dengan suara beratnya.
"Aku rasa, lebih baik kita mencari mereka berdua sekarang juga." Kali ini si kakak besar bernama Amber yang berbicara.
"Ya, kau benar, setelah kita sarapan," ucap Kyungsoo pelan sambil tersenyum lebar. "Ayo masuk! Aku akan membuat sarapan untuk kalian!"
.
.
.
"Sepertinya kita akan menjadi besanan." ucap Yifan sambil tertawa pelan.
Kini mereka berempat tengah berjalan menelusuri perbukitan yang rimbun. Biasanya penduduk penguasa Timur Tengah lebih suka hidup di daerah terpencil jika memilih tinggal di wilayah Tengah. Atau memilih sebuah pedesaan yang dipenuhi oleh penduduk lansia.
"Besan kita adalah mantan kekasih dari anak dan menantu kita," ucap Joonmyeon yang membuat Baekhyun tersentak kaget. "Aku bercanda, jangan dianggap serius." Kekeh Joonmyeon yang malah membuat Baekhyun semakin merasa tidak nyaman.
"Zitao bilang, diperkirakan terdapat lima pewaris yang berada di Wilayah Timur, berarti kemungkinan besar terdapat lima pewaris juga yang berada di Wilayah Tengah."
Jelas Yifan yang berjalan disamping Joonmyeon. Sedangkan Tartaros dan Baekhyun berjalan didepan keduanya.
"Aku dengar, anak dari Ma'at, Mut dan Neith, tinggal bersama di Jepang," ucap Baekhyun yang berusaha sangat keras untuk tidak terlihat gugup. "Aku rasa mereka pun akan tahu dimana temannya yang lain."
"Apa mereka semua pria atau wanita?" tanya Joonmyeon.
"Anak dari Ma'at dan Neith seorang pria, sedangkan anak dari Mut seorang wanita." Jawan Baekhyun.
"Ah~ sama sepertimu ya?" celetuk Joonmyeon pelan.
Tartaros bersumpah. Sejak tadi Joonmyeon senang sekali menggoda Baekhyun. Tapi Tartaros yakin Joonmyeon melakukannya bukan karena Baekhyun yang sebenarnya seorang wanita berparas cantik. pasti karena hal lain.
"Aku sebenarnya penasaran pada istrimu," jelas Joonmyeon pada Tartaros yang seolah bisa membaca pikirannya. "Kenapa seorang Tartaros, Anubis bahkan anakku Zitao bisa jatuh hati padanya." Ucap Joonmyeon dengan penasaran. "Pasti ada hal lain, meski harus aku akui, istrimu memang wanita yang cantik."
"Oh! Sudahlah!" seru Baekhyun dengan kesal. "Mau sampai kapan kalian menyindirku?" tanya Baekhyun dengan muak. Baekhyun jadi menyesal untuk menyetujui saran Tartaros untuk bergabung dengan Yifan dan Joonmyeon.
"Kami hanya penasaran!" seru Joonmyeon dan Yifan bersamaan.
"Apa aku harus merubah wujudku menjadi pria lagi?" tanya Baekhyun sambil menatap Tararos. Tapi si Dewa yang berasal dari Penguasa Barat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Jadi sebenarnya kau itu perempuan atau laki-laki?" tanya Joonmyeon.
"Bastet itu dewi bukan dewa." Jelas Yifan yang membuat Joonmyeon menganggukan kepalanya.
Baekhyun tahu Joonmyeon hanya pura-pura tidak tahu. Baekhyun dengan tiba-tiba membalikkan tubuhnya dengan cepat hingga rambut panjangnya menampar pelan wajah Joonmyeon yang tepat berada dibelakangnya.
"Kalian mau sampai kapan..?!" Baekhyun menghentikan pertanyaannya karena Joonmyeon tampak menyentuh wajahnya sendiri dengan terkejut. "Kau kenapa?"
"Rambutmu." Ucap Joonmyeon pelan.
"Persis iklan shampoo ya?" gumam Yifan pelan.
Joonmyeon sontak terkikik pelan. Sedangkan Tartaros hanya menggelengkan kepalanya dengan mulut berkedut. Jelas sekali Tartaros tengah menahan tawa. Kalau tertawa ia bisa menyinggung istrinya yang sedikit sensitif.
"Dasar gila!" keluh Baekhyun dengan kesal.
.
.
.
TBC
.
.
Penjelasan
Sepertinya akan banyak sekali cast disini. Kalau memakai nama asing, kayanya bakalan bingung. Jadi saya memutuskan untuk mengambil nama dari idol lain yang saya rasa cukup cocok jika saya masukkan ke dalam fanfic ini. Dan ah ya! Maaf saya masih simpan kakaknya Jongin.. hehe
Note Author
Saya harap kalian makin bingung dengan fanfic ini. Kayanya ni fanfic bakalan panjang banget. Tapi saya akan berusaha untuk membuatnya sesingkat mungkin. Maaf ya kalian harus menunggu sampai sebulan lebih. Kalau kalian bingung, kalian bisa langsung tanya aja di kotak review.
Seperti biasa, terimakasih banyak untuk reviewannya, terimakasih sudah menceklis kotak follow dan favorit. Salam ketok pintu untuk para Silent Reader. Dan Selamat Datang! Untuk para reader yang baru datang dan baru sempat mampir.
Special Thank's to..
Kyungie Y. Yang, sayakanoicinoe, askasufa, , Lukailukaidelapan, steffifebri, ucinaze, babyjunma, Maymfa10, GaemCloud347, laxyovrds, MinhyoPark94, ohkim9488, Kim Jonghee, Chica Shiori, , onespoonfulloppa, onespoonfulloppa, cute, Exilezee, RyuuNa, YooKey1314, vns99, miyuk, Ema620, Genieaaa, Devia921, homin lover, Sukha1312, Mieettee, elferani, ten, Annisand, hunkai98, KalunaKang61, rraplesia ra, HamsterXiumin, kanginna, maggita4849, egggyeolk, farewell, mey2renesme, , nuurhasanaah, sukha1312, ariska, azmisama97, .1, jihyunk16, kingofwinner, baecoffee, xx1031, Hannoid, raphlesia1, ParkDKSchild, AnnisaN, qwertyxing, nickie, hnana, XiuminShock, CuteEvil300799, zarahime5, nandaXLSK9094, R110898, aNOnime9095, Lian exoL m, ceekuchiki,PLF, hnana, dan para Guest yang sepertinya lupa nyantumin namanya :)
.
.
Terimakasih untuk mau bersabar
Ah ya.. kemarin ada yang minta buat update tanggal 8 Februari
