Title : Black Flower
Author : Sulis Kim
Main : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Hyuna ( JJ nephew )
Other
Rate : M
Genre : Romace, Action, Sad, Family.
WARNING
GS, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.
Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.
Para pemain dalam FF saya milik diri mereka sendiri dan ini hanya Fanfiction karya saya sendiri. Maaf jika ada kesamaan kejadian dan adegan di dalamnya.
Don't like Don't read.
Alwasy keep the faith.
Happy Reading ...!
Ketika itu Jaejoong sadar. Hyuna membutuhkan figur seorang Ayah, dia memang memiliki Changmin tapi pemuda itu bukan Ayahnya, Hyuna sering bermanja manja dengan adiknya tapi tidak sama seperti yang dilihat di hadapanya saat ini.
Darah ayah dan anak memang tidak bisa ditipu. Hyuna memerlukan seorang Ayah yang bisa memanjakan dan menjaganya. Selama ini anaknya itu tidak mendapatkan kasih sayang kedua orang tua yang layak. Hati Jaejoong seakan diremas, putrinya yang malang.
Ataukah pikiran itu timbul hanya sekedar alasan bagi dirinya untuk dapat menikah dengan Yunho. Tanpa mempertimbangkan Seunghyun dan Ayah mertuanya.
"Apa kau akan terus beridiri disitu, Merpati."
Yunho sudah duduk disofa dan Hyuna sudah menghilang bersama Yuri. Sepertinya ia melamun lagi.
Dengan tampang tanpa dosa Yunho menepuk sofa disebelahnya. Mengisyaratkan Jaejoong untuk duduk disana.
Jaejoong tidak akan melakukan hal itu. Jadi, ia mengambil tempat duduk di sisi lain meja. Mata setajam musang milik Yunho masih terus mengawasi setiap gerakan sekecil apapun yang di lakukan Jaejoong.
"Berhenti memandangku dengan mata kurang ajar dan mendamba seperti itu, Jung."
"Ah, aku senang kau tahu aku mendambakanmu," Pria itu mencondongkan tubuh di atas meja, kearah Jaejoong. "Mendambakan ciuman yang sama seperti tadi malam."
Punggung Jaejoong menegak. Kehangatan yang intim menjalar kesetiap indra dalam tubuhnya. Tidak ia pungkiri Ia juga menginginkan hal itu. Namun ia berkata. "Dalam mimpimu." ia berharap mengatakan kata itu dengan tegas, bukannya suara lirih syarat kepasrahan.
Yunho menyerigai dari tempat pria itu duduk. Ia Yakin Jaejoong juga menginginkanya, hanya saja perasaan wanita itu masih ragu untuk mengakuinya. Juga, perkataan Ayah mertua Jaejoong yang mengikat Jaejoong dengan tali kasat mata dalam pernikahan yang sudah berakhir empat tahun silam.
Kedua tangan Jaejoong bertumpu di atas paha, menggenggam erat ujung kaos wanita itu dengan gelisah. Jaejoong masih juga takut kepadanya. Yunho harus mencari cara untuk mencairkan suasana yang sedingin es ini.
Memperhatikan seluruh ruangan Pandangan Yunho berhenti di sebuah foto di atas nakas. Jaejoong Hyuna dan Changmin. Terlihat jelas foto itu masih baru, mungkin diambil setelah mereka kembali ke Seoul.
"Foto yang indah."
Jaejoong mengikuti arah pandangan Yunho. "Foto itu kami ambil ketika mengantar Hyuna kesekolah untuk pertama kalinya." Seulas senyum mengembang di bibir Jaejoong, kemudian menghilang ketika mata mereka kembali bertemu.
"Bolehkah aku melihat lihat album Hyuna ketika putriku masih kecil, aku ingin melihat bagaimana gadis itu tumbuh dari tahun ke tahun." Mata musang Pria itu syarat akan kesedihan. Jaejoong mengerti perasaan itu, karena ia merasakan perasaan yang sama. Penyesalan karena tidak dapat melihat putrinya tumbuh dewasa dari hari kehari.
"Tentu," Ia meminta Yunho mengikutinya sesisi lain ruangan. Ruang baca atau semacamnya.
Begitu banyak buku di lemari yang menyatu dengan dinding, buku sejarah biologi, bisnis dan berbagai novel juga buku kedokteran dan banyak lagi. Kedua sisi dinding dan beberapa rak buku seperti perpustakaan kecil.
Seakan mengerti dengan pikiran Yunho Jaejoong berkata. "Ayah dan ibuku suka membaca apapun yang dapat mereka baca." Jaejoong ingat ketika kecil mereka sering membaca di ruangan ini.
Jemari Jaejoong menyusuri pungung buku di rak kecil di atas meja. Menarik dua album di antara album album lain, Album yang lebih besar dari yang lainya dan menyerahkan album itu kepada Yunho. "Ayah mertuaku mengirimkan foto Hyuna setiap minggu kepadaku, tidak peduli dimanapun kami berada, Seunghyun Oppa mengumpulkan semua foto Hyuna dan menjadikanya beberapa album dan sebuah VCD kalau kau mau akan aku memberikan copy-nya untukmu."
"Tentu aku ingin, Hyuna adalah putriku." Sengaja Yunho menyentuh jari Jaejoong ketika wanita itu menyerahkan Album besar itu untuknya.
"Itu benar. Bagaimanapun juga Hyuna hanya tahu Seunghyun lah satu satunya Ayah kandungnya"
Perasaan tidak suka merayap kehati Yunho. "Apa kau ingin aku mengatakan kepada Hyuna bahwa akulah Ayah kandungnya, dengan senang hati aku akan melakukanya."
Pandangan Jaejoong merambat ke mata Yunho yang berubah menggelap. Pria itu marah.
Menyadari dirinya begitu mengerti akan reaksi Yunho Jaejoong merasa takut. Ia tidak begitu mengerti apa yang di pikirkan Seunghyun selama dua tahun kebersamaan mereka ketika bertatap muka. Akan tetapi Yunho begitu terbuka dengan perasaan pria itu membuat Jaejoong begitu memahami pria itu hanya dalam waktu beberapa bulan mereka mengenal.
Yunho memutus kontak dan mengambil tempat duduk di sofa tidak jauh dari jendela yang terbuka, langit sudah akan gelap diluar sana. Menaruh Album lain di atas meja ia membuka album lainya dan merebahkan punggungnya ke punggung sofa.
Jaejoong mengambil Album lain dan memilih tempat duduk disisi pria itu tanpa berpikir panjang. Yunho bahkan tidak menyadari wanita itu duduk disisinya. Ia terlalu larut melihat foto bayi yang masih belum bisa membuka mata dalam gendongan Jaejoong. Jaejoong masih memakai pakaian rumah sakit begitu pula Hyuna dalam balutan handuk putih yang membungkus tubuh kecilnya.
"Foto itu diambil oleh Changmin setelah Hyuna lahir."
Jemari lentik Yunho menyentuh dinginya permukaan foto putri kecilnya. Sungguh menakjubkan putrinya tumbuh di dalam rahim wanita yang ia cintai namun sekaligus tidak dapat ia milikki. Yunho bahkan tidak tahu jika benih yang ia tanam membuahkan hasil. Sungguh ironis.
Begitu banyak penyesalan yang ingin ia tebus untuk kedua wanita paling berharga dalam hidupnya ini. Sampai ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk dapat membahagiakan Jaejoong dan putri mereka.
Lembaran berikutnya hanya ada foto Hyuna. "Usianya satu bulan ketika aku dan Seunghyun oppa berada di Canada, Papa mengirimkan foto itu untuk kami." Yunho tidak mendengar kelanjutan cerita Jaejoong. Untuk pertama kalinya Ia mengabaikan ucapan wanita itu.
Putrinya, sangat menakjubkan, berapa kalipun Yunho berpikir masih sangat mendebarkan mengetahui ia memiliki seorang putri yang sudah cukup besar untuk di ajak bermain. Tak sekalipun Yunho berpikir ia akan memiliki seorang bayi, tubuh kecil yang mungkin bergerak nyaman dalam dekapanya. Ia merasa iri karena Sunghyun pernah menggendong putrinya meski beberapa kali sebelum Sangwoo merebut putrinya yang malang.
Kesadaran akan hal itu membangkitkan amarah Yunho. Ia berjanji, pria tua itu akan membayar atas semua kebahagiaan yang direnggut dari Jaejoong juga kesedihan putrinya. Membayangkan Hyuna tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya membuat jari Yunho tanpa sadar meremas sampul album itu sampai buku jarinya memutih.
"Bajingan itu akan membayar semuanya, aku akan menghancurkanya dengan perlahan sampai pria tua itu tidak bisa mengeluarkan air mata ketika menangis memohon ampun kepadaku."
Ucapan pria itu mengagetkan Jaejoong. "Tidak, kau tidak boleh menyakiti Papa." Tanganya terangkat untuk menyentuh lengan Yunho dan meremasnya. "Berjanjilah padaku, kau tidak boleh melakukanya. Papa hanya merasa semuanya tidak adil untuknya, Seharusnya aku mengandung cucunya, darah daging Seunghyun." Hati Yunho terasa teriris melihat wajah Jaejoong yang sudah berlinang air mata.
"Aku tidak menyesali kehadiran Hyuna, aku berayukur memilikinya. Akan tetapi apa yang dimiliki Papa, tidak ada." Jaejoong menggeleng, cengkraman tanganya terlepas. "Papa kehilangan putra satu satunya, aku mengalami koma dan tidak ada siapa siapa lagi yang dimilikinya selain Hyuna." Wanita itu terisak. "Ku mohon, Yunho. Jangan sakiti Papa, sudah cukup ia kesepian karena kehilangan Seunghyun dan sekarang kita menjauhkan Hyuna darinya."
"Hyuna putriku, jae. Dan juga putrimu, pria itu tega menjauhkan Hyuna darimu hanya untuk mendapatkan keturunan yang kau sebut darah daging putranya," Yunho berkata cukup keras sampai Jaejoong beringsut dari tempat duduknya menjauh.
"Pria tua itu menjauhkan Hyuna darimu, ibunya."
"Dan apa yang kau lakukan, dan kenapa kau tidak mencari tau tentang kehamilanku ,menghitungnya dan mencurigai Hyuna adalah putrimu sebelumnya." Pertanyaan Jaejoong menusuknya begitu telak menghunus pisau belati tepat di jantung. Tentu saja Jaejoong menyalahkanya, seharusnya ia mencari tahu bukanya bersembunyi karena rasa bersalah yang begitu besar.
Tanganya terangkat untuk menyentuh wajah Jaejoong. "Aku takut menyakitimu seandainya aku muncul kembali di hadapanmu, aku tidak pernah mencari tahu bagaimana keadaanmu sampai aku mendengar berita kecelakaan itu."
Tuhan, Yunho lebih suka melihat tubuh berkelimangan darah dari pada melihat Jaejoong menangis. "Pleas,,, jangan menangis. Aku tidak pernah berurusan dengan wanita yang menangis terutama dirimu, aku tidak suka melihat air mata sialan itu." Yunho mengulurkan tangan untuk memeluk Jaejoong.
Jaejoong menampik tangan Yunho. "Seandainya kau tidak memaksakan dirimu dihari pernikahanku semua tidak akan berakhir seperti ini,,," Ia kembali terisak, suara Jaejoong nyaris teredam tangisnya. "Mungkin aku akan bahagia bersama Seunghyun dan dia tidak akan kecelakaan." Dan tentu saja tidak akan ada Hyuna, putrinya yang begitu lucu dan Jaejoong tidak pernah menyesali akan hadirnya Hyuna. Akan tetapi ia tidak akan mengatakan itu untuk saat ini kepada Yunho.
Jemari Yunho menghapus jejak liquit di kedua wajah Jaejoong. "Maafkan aku, maaf." Suaranya serak syarat akan penyesalanya yang begitu dalam.
Tidak ada gunanya menyesali masa lalu, bukan?
"Menikahlah denganku, kita besarkan Hyuna dengan kasih sayang dan cinta yang selama ini belum pernah putri kita dapatkan sebelumnya." Yunho menyatukan kening mereka. "Kita bangun keluarga yang bahagia, keluarga yang selama ini kau inginkan. Apapun akan aku berikan untukmu, cintaku, hatiku, tubuhku juga kebahagiaanku."
Jaejoong mencoba menyerap apa yang baru dikatakan pria itu. Meski ini bukanlah pertama kali Yunho memintanya untuk menikah, namun debaran didadanya selalu melonjak setiap kali Yunho mengungkit tentang menikah dengan pria itu.
Bayangan tentang masa depan yang Yunho janjikan tampak mengiurkan, cinta, keluarga, bersama, selamanya. Itu pula yang ia harapkan ketika memutuskan untuk menikah dengan Seunghyun, akan tetapi semua berakhir bencana yang menghasilkan Hyuna hanya itu kesalahan terindah yang tersisa. Dan itu juga berkat campur tangan pria yang kini berada di hadapanya ini.
Mungkinkah?
Hanya membayangkan kemungkinan pria itu akan membawa kebahagiaan yang ia cari selama ini membuat dada Jaejoong berbunga bunga. Ia menginginkan kebahagiaan itu, hanya saja ia belum begitu yakin. Tetapi ia cukup yakin untuk melangkah maju dan mencoba.
Kedua tangan Jaejoong terulur untuk menarik kerah kemeja Yunho, menarik pria itu kearahnya dan memiringkan sedikit kepalanya sendiri untuk menempelkan bibir di atas bibir Yunho yang sedikit terbuka.
Mata Yunho terbelalak terkejut. Untuk pertama kalinya Jaejoong menawarkan diri dengan ciuman ini. Ciuman itu terasa asin, ketika Jaejoong kembali terisak, bibir wanita itu bergetar di bawah tekanan lembut bibirnya.
Yunho tetap tidak bergerak, membiarkan Jaejoong memimpin karena ia ingin wanita itu sadar jika ia membutuhkan Yunho lebih dari yang Jaejoong bayangkan. Hati Yunho bersorak gembira ketika bibir Jaejoong terbuka untuk membujuk bibirnya agar membuka diri, ciuman itu terasa begitu pasif namun tak dapat mencegah gairah Yunho untuk muncul kepermukaan.
Geraman keluar dari tenggorokan Yunho dan detik berikutnya ia melahap bibir wanita itu dengan rakus dan terburu buru, kedua bibir itu saling bertaut memberi menerima dan berbagi. Menarik Jaejoong lebih dekat dengan dekapan lenganya yang kuat sampai ia sendiri takut ia akan meremukan tubuh kecil Jaejoong.
Pintu ruang baca terbanting terbuka begitu keras disusul suara celotehan Hyuna. Yunho melompat menjauh detik itu juga. Ia mengumpat kenapa putrinya datang disaat yang begitu berharga, ketika Jaejoong mungkin akan menerima lamaranya.
Gadis kecil itu berlari kearah mereka dengan wajah cerah sehabis mandi. Aroma sabun mandi anak anak menyebar keseluruh penjuru ruangan.
"Lihatlah boneka beruang ini, Samcon membelikan ini untuk Hyuna." Gadis kecil itu merangkak naik kesofa, duduk di antara Yunho dan Jaejoong.
Mata bambi yang sama dengan milik sang ibu menatap Yunho dengan sorot mata bangga karena memiliki banyak boneka untuk ia pamerkan. Miris, putrinya adalah salah satu dari anak anak yang kekurangan cinta kedua orang tuanya.
"Masih banyak lagi di kamar Hyuna. Apakah paman ingin melihatnya?"
Butuh beberapa saat untuk Yunho menyerap apa yang gadis kecil itu ocehkan, dan beberapa waktu untuk meredakan gairahnya.
Yunho mengangkat Hyuna dan mendudukan gadis itu di pangkuanya. "Oh, sayang kau datang di waktu yang sangat tepat untuk mengganggu." Mencubit hidung kecil Hyuna. Dan mendapat pekikan bahagia dari gadis kecilnya . "Kau bahkan menertawakanku."
"Beruang ini sangat mirip dengan paman." Cengiran kecil yang menghangatkan dada Yunho.
"Kalau begitu berikan pelukan untuk beruang yang satu ini, juga ciuman sayang seperti yang Hyuna lakukan untuk beruang yang saat ini Hyuna peluk. "Oh, bahkan Yunho cemburu kepada sebuah boneka.
Mengabaikan sepasang Ayah dan anak itu Jaejoong mencoba menetralkan debaran jantungnya yang menggila. Ia tidak menyesali apa yang baru saja ia lakukan, menarik Yunho untuk mendapatkan ciuman pria itu.
Astaga, betapa murahan dirinya sampai mencium Yunho dengan begitu antusias sama seperti ciuman ciuman yang Yunho berikan selama ini. Dadanya naik turun ketika bernafas, mencoba meredamkan debaran didadanya yang menggila.
Bangkit dari kursi Jaejoong seakan melompat dan berjalan kearah pintu." Aku akan menyiapkan makan malam." pintu tertutup di belakang wanita itu.
Senyuman kemenanangan tak luput dari bibir Yunho ketika mengingat ciuman Jaejoong barusan. Sialan, ia menginginkan wanita itu kembali dan menciumnya penuh gairah sama seperti yang Jaejoong lakukan sebelum putri mereka datang mengganggu. Tentu saja, hal mustahil untuk dapat ia rasakan kembali ketika Hyuna berada dalam ruangan yang sama.
"Paman memeluk Hyuna terlalu erat, tidak ,,,bisa ber,,,nafas." Suara Hyuna di antara tubuh mereka membuat Yunho kembali sadar.
Ya Tuhan, apa yang ia lakukan. "Sayang maafkan aku." ia mendaratkan ciuman di hidung kecil Hyuna. Dasar, putrinya yang manis, ia malah tersenyum menunjukan giginya yang rapi.
"Mr. Jung, makan malam sudah siap." Yoona berbicara lewat pintu. "Hyuna sayang, ikut denganku ..."
Ketika Yunho bangkit Hyuna tidak berniat melepaskan pelukanya di leher Yunho. "Biarkan aku yang menggendongnya." Berjalan melewati pintu Yunho membiarkan Hyuna tetap mencekik lehernya dengan pelukan yang benar benar kuat.
"Kau akan membunuh Paman jika terus memeluk leher paman Yunho, Hyuna." Mereka telah tiba di meja makan.
Sengaja Yunho duduk di sisi kanan Jaejoong tempat biasanya kepala rumah duduk. Jaejoong tidak memprotes bahkan tidak merasa terganggu dengan hal itu. Yunho mendudukan putrinya di sebelah kursinya. "Betapa bahagianya aku ditemani dua wanita cantik untuk makan malam."
Yunho dapat melihat rona di wajah Jaejoong sebelum wanita itu berpaling untuk mengambil sesuatu yang tidak di perlukan. Oh, tenyata wanita itu lebih cantik ketika merona. Pikiran nakal Yunho berkelana membayangkan Jaejoong berbaring di atas ranjang dengan wajah merona setelah percintaan panjang mereka ... Stop.
Sialan Jaejoong juga ciuman wanita itu tadi. Kini ia harus puas dengan hasil yang buntu dan hasrat yang tak tersalurkan. Dua jam lagi ia harus terbang ke Rusia untuk urusan yang tidak bisa di wakili oleh siapapun. Jadi ia harus sabar menunggu beberapa hari kedepan dan kembali membujuk Jaejoong untuk menerima lamaranya. Yang ia yakini tidak akan di tolak wanita itu.
Makan malam dengan Yunho sudah berakhir beberapa jam yang lalu, makan malam terburuk yang pernah Jaejoong alami seumur hidupnya.
Pria itu menggoda Hyuna namun mengabaikan dirinya, Yunho membantu Hyuna makan dan tidak sedikitpun berusaha mengambilkan sayur yang ia inginkan, sangat berbeda dengan Yunho yang menciumnya di ruang baca. Yunho benar benar tidak lagi menatap wajahnya sampai pria itu pergi tanpa sebuah ciuman perpisahan seperti yang pria itu berikan untuk Hyuna.
Oh, ia mengharapkan ciuman itu. Sialnya tidak akan terjadi disaat ada Hyuna bersama mereka.
.
.
.
Suara pintu di ketuk kemudian pintu terayun terbuka. "Apa aku menganggumu, Cantik." Tanpa menunggu jawaban Jaejoong, Changmin masuk dan menutup pintu.
Jaejoong meninggalkan jendela dalam keadaan terbuka dan duduk di sofa panjang yang telah di duduki adiknya. Beringsut di sisi sang adik ia merebahkan kepalanya di pundak Changmin. "Bagaimana makan malam kalian, aku harap pria itu tidak membuat masalah." Tentu saja Changmin sudah mendapatkan cerita dari Yoona dan Yuri, mereka menggambarkan kunjungan Yunho dengan begitu detail kecuali di dalam ruang baca yang tertutup sampai Jaejoong keluar dengan mata memerah dan bibir bengkak.
Oh ia membayar mereka untuk itu juga. Ia tertawa dalam hati.
Tidak perlu menduga apa yang mereka lakukan di dalam sana. Karena memang itulah yang terjadi. "Katakan padaku apa yang akan kalian lakukan?"
Menarik kepala dari pundak Changmin, ia menatap adiknya itu dengan alis terangkat. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak mungkin kalian akan terus seperti ini bukan? Lambat laun kalian akan tua, hyuna akan tumbuh dewasa dan juga kau membutuhkan seorang suami untuk menjaga kalian."
"Tapi aku sudah menikah,"
"Dan suamimu meninggal, kau janda. Janda muda yang saat ini menjadi berbincangan seluruh kota karena kebangkitanmu dari kematian dan muncul kembali dengan kecantikan yang sudah matang di usiamu yang sekarang." Changmin memotong. "Kau tidak bisa terus hidup untuk masa lalu, kakaku sayang."
Tentu saja, hari akan terus berjalan dan siapapun tidak dapat mencegah hal itu. "Aku tidak tahu semua orang membicarakanku, dan hanya karena kejadian kemarin malam aku muncul sekali di hadapan publik,"
Senyuman Changmin mengembang. "Dengan gaun sexy dan jangan lupa kau meninggalkan Red Castel bersama Jung Yunho. Bajingan tampan yang sudah lama tidak muncul di depan kamera juga muncul di hari yang sama bersamamu."
Wajah Jaejoong berubah pucat, kekhawatiran menjalari benaknya. "Apa kata mereka, bagaimana pendapat Papa. Dia tidak menelfonku sejak kemaren malam,"
"Apa yang dapat dia lakukan, putranya sudah meninggal, kau tidak lagi menjadi istri dari Seunghyun sejak dia meninggal." Bahkan Changmin membenci Sangwoo, karena merenggut masa kecil Hyuna dan menjauhkan gadis kecil itu dari ibunya. Namun ia tetap diam, karena tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga sang kakak.
"Itu tidak benar, Papa tetap Ayahku dan dia..."
"Pria bajingan yang tega menjauhkan Hyuna darimu, aku ingin lihat apa pria tua itu berani menyentuh Hyuna setelah Yunho tahu hal yang sebenarnya."
Tentu saja Ayah mertuanya itu akan mempertahankan Hyuna, bagaimanapun Hyuna adalah cucunya. "Hyuna bukan cucu kandung pria tua itu, kau harus mengingat itu." Ujar Changmin yang sudah membaca pikiran Jaejoong.
"Dan lagi, aku tidak yakin Yunho akan diam saja membiarkan Hyuna jauh darinya,"
"Dia sudah berjanji tidak akan merebut Hyuna dariku."
Sialan, pikiran kakaknya itu masih juga belum terbuka. Dokter benar tentang cara pikir Jaejoong yang berhenti di umur dua puluh satu tahun, empat tahun yang hilang adalah masa kedewasaan yang sebenarnya.
"Dia sudah berjanji tetapi bagaimana kalau dia menikah dengan wanita lain, karena kau terus menolaknya. Tentu saja Yunho menginginkan Hyuna tinggal bersama mereka,"
Changmin merasa bersalah ketika melihat wajah kakaknya semakin pucat. Ia harus mendorong Jaejoong untuk maju, Yunho benar benar mencintai Jaejoong dan ia melihat itu dari cara Yunho menatap sang kakak.
Memikirkan Yunho akan menikahi wanita lain membuat Jaejoong cemburu. Pria itu sudah melamarnya tidak mungkin menikah dengan wanita lain, bukan? Tetapi ia sudah menolak Yunho berkali kali. Bagaimana kalau Yunho putus asa dan memilih mengejar wanita lain yang lebih cantik darinya.
"Yunho sudah melamarku, tidak mungkin dia ..dia" tengorokanya tersekat. Oh Yunho tidak boleh melakukan itu.
" Dan kau menolaknya, semua orang tahu." Meskipun terdengar kejam ia menambahkan. "Yunho pria tampan kaya bajingan yang dapat memberi perlindungan siapapun yang menjadi istrinya, jangan lupa Yunho akan menjaga wanita yang dicintainya seumur hidup. Kau sudah melihat kehidupanya beberapa bulan ini, Yunho adalah pria bertanggung jawab yang di impikan para wanita."
Jaejoong terpancing. Ia mulai tidak tenang memikirkan kemungkinan Yunho menikahi wanita lain. Tidak, Yunho tidak boleh menikahi wanita lain dan merebut Hyuna darinya.
"Chwang apa yang harus aku lakukan?" Ia gelisah di tempat duduknya. Dan bergerak kesana kemari dengan kedua tangan yang meremas satu sama lain.
"Perbaiki hubungan kalian, dan terima lamaranya." Ini ide gila tapi Changmin tetap berkata." kalau perlu goda Yunho."
Mata Jaejoong mendelik horor, tentu saja ia tahu apa kata dari menggoda. Yunho sering melakukan hal itu ketika mereka hanya berduaan di satu tempat.
Membayangkan ia akan menggoda Yunho seperti ciuman tadi membuat wajah Jaejoong merona. Hilang sudah wajah pucat wanita itu. Astaga, haruskan ia melangkah sejauh itu?
~TBC~
PENGUMUMAN kami para Author kece(?) membawa Yunjae kedalam negeri dongeng. Dan di rangkum dalam sebuah buku oleh sepuluh Author kece lainya.
Judul : Yunjae Fairy Tales (Hard Cover)
Author : Nara Yuuki, Jaeho Love, Gothic Lolita, Misscelyunjae, Sherry Kim, My Beauty Jeje, Snow Queen BabyBoo, Yoori Michiyo, KimRyan 2124, dan Puan Hujan.
Harga : 109.000
Bonus : Tas lucu, Pin/ Ganci
Halaman : -/+ 450
Sinopsis : Menyusul
Paket souvenir : 135000 -edisi terbatas-
Harga belum termasuk ongkir.
minat hubungi Author.
Fb : Sherry kim
Line :Ziyakim
Batas PO 10 November
Membeli buku sudah termasuk donasi berbagi sebesar 5000 untuk mereka yang kurang mampu dan sekolah sekolah yang membutuhkan.
