K A R A K U R A H O S P I T A L
Theme Song: Anata ni Aitakute by Seiko Matsuda
Disclaimer: BLEACH © Tite Kubo
Chapter. 11
Pukul 18.25, Cielo Resto
Terlihat sebuah Restoran mewah di mana Ichigo masuk ke sana. Pakaian Ichigo sudah rapi dan siap bertemu ayahnya dan Inoue bersaudara. Sebenarnya bingung juga, apa yang akan mereka bicarakan? Andai saja Ichigo tidak berada di restoran ini, mungkin saat ini dia sudah berada di rumah Rukia menonton TV, makan, dan ngobrol dengan gadis itu. Tapi, apa boleh buat? Tak mau membuat ayahnya cerewet, tak mau membuat Inoue kecewa, dan tak mau membuat kakaknya Inoue datang sia-sia ke Jepang hanya untuk bertemu Ichigo. Setelah menghela nafasnya, Ichigo benar-benar masuk ke restoran mewah itu.
Dilihatnya sebuah meja dengan 4 kursi yang 3 diantarnya sudah diisi oleh ayahnya, Inoue, dan kakaknya, Sora. Ichigo pun mendekati meja itu. Sang ayah yang menyadari kedatangan putranya pun bersorak gembira.
"Putraku datang! Oh~!" seru ayah Ichigo, Isshin Kurosaki.
"Apa kabar Kurosaki-kun?" tanya Sora.
"Baik, Kak Sora. Kakak sendiri?" tanya Ichigo.
"Baik, terimakasih,"
"Konbawa Kurosaki-kun! Akhirnya Kurosaki-kun datang juga!" kata Orihime dengan gembiranya. Gadis itu kini tersenyum selebar-lebarnya.
"Ah Inoue, konbawa," jawab Ichigo yang kemudian pun ikut duduk bersama mereka.
"Sebenarnya ada apa? Kalian mau mendiskusikan tentang piknik bersama, yah seperti tahun lalu," kata Ichigo yang seperti mengulang-ulang memorinya. Ichigo pun meminum air putih yan telah disiapkan di depannya.
"Sebenarnya kami ingin membicarakan tentang... PERTUNANGANMU DENGAN ORIHIME-CHAN!" seru Isshin yang berhasil membuat Ichigo tersedak.
"Ugh! Uhuk... Uhuk...! Apa!" kata Ichigo yang habis tersedak.
"Ku-Kurosaki-kun tidak apa-apa?" tanya Orihime khawatir. Wajah Ichigo seketika menjadi pucat.
"Maksudnya bagaimana, Ayah!" tanya Ichigo pada Ayahnya yang masih saja senyam-senyum sendiri.
"Mungkin kau sedikit kaget, Kurosaki-kun." ucap Sora. Sora pun menyiapkan ancang-ancang untuk menjelaskan.
"Kau tahu saat kau dan Orihime SMP? Kami sudah bermaksud untuk menikahkanmu dengan Orihime. Apalagi Orihime sering bilang jika kau lah orang yang selalu melindunginya. Aku sangat percaya padamu, Ichigo. Aku percaya jika kau akan menjaga baik-baik adikku," jelas Sora. Orihime yang melihat kakakknya berbicara tentangnya dan Ichigo pun menjadi malu karena bahagia. Pipinya kini merona merah sambil tersenyum malu-malu. Ichigo masih kaget dan diam.
"Keinginan terbesar Ibumu juga jika kau menikah dengan Orihime-chan, Ichigo," lanjut ayahnya.
"Ibu?" mata Ichigo kini membulat dengan sempurna. Sangat kaget, benar itulah yang dirasakannya.
'Ibu? Kenapa harus Ibu yang menginginkan? Kumohon Bu, aku sudah memiliki orang yang kucintai...' kata Ichigo dalam hatinya. Apakah Ichigo bisa menolak setelah tahu Ibunya juga menginginkan dia menikah dengan Orihime? Tidak, bagaimana pun juga Ichigo tidak bisa menerima pertunangan itu. Tapi, itu adalah keinginan terbesar Ibunya, Ibu yang selalu dipatuhi Ichigo. Kini hatinya sangatlah bimbang. Tak apakah jika sekali saja Ichigo tidak menuruti Ibunya?
"Jadi, kau mau menerima pertunangan ini?" tanya Isshin.
"Entahlah, tolong beri aku waktu..."
"Oh, begitu. Baiklah, kita akan bertemu lagi untuk membicarakan ini. Maaf, kelihatannya aku harus segera berangkat ke Singapore," kata Sora.
"Silahkan, Sora-kun," kata Isshin. Sora pun berdiri kemudian menyalam tangan Isshin lalu Ichigo. Kemudian, dikecupnya kening adiknya. Orihime pun membalas kecupan Sora dengan memeluknya.
"Hati-hati ya, Kak?" kata Orihime.
"Tentu adikku,"
Sora pun melangkah pergi meninggalkan Ichigo, Isshin, dan Orihime. Orihime kini wajahnya berubah merah lagi. Sesekali dia melihat Ichigo yang sedang memakan makanannya. Dia tersenyum. Rona merah masih jelas terlihat di pipinya.
"Setelah ini kita akan melakukan apa, Orihime-chan?" tanya Isshinn.
"Ah.. Ehn... Terserah Kurosaki-san, hehehe," jawab Orihime.
"Begini saja, kita jalan-jalan bertiga? Bagaimana Hime-chan?" tanya Isshin sambil tersenyum manis pada Orihime.
"Ide bagus! Menurut Kurosaki-kun bagaimana?" kata Orihime pada Ichigo.
"Terserah..." ucap Ichigo malas.
Kini mereka memakan makan malam mereka. Isshin selalu saja mengoceh dan Orihime pun menanggapi semua ocehan Isshin. Ichigo hanya dia dalam kebimbangan. Haruskah dia menuruti keinginan Ibunya? Mata Ichigo tertunduk kebawah. Sepercik rasa sedih kini menghantuinya. Sedih dan bersalah. Dia merasakan rasa bersalah ketika harus memilih salah satu pilihan. Dia akan merasa bersalah kepada Ibunya jika dia tak menyetujui pertunangan itu. Tapi, dia juga akan merasa bersalah jika dia harus meninggalkan Rukia. Lalu, manakah yang harus dipilih Ichigo?
Pukul 23.30, Kediaman Kuchiki
Rukia kini berada di rumah kakaknya yang juga memang rumahnya. Dilihatnya kamarnya yang bernuansa kamar bak bangsawan eropa. Aroma cherry-mint masih saja melekat di setiap sudut kamarnya. Kelihatannya setiap hari pelayan menyemprotkan wangi kesukaannya itu. Bersih dan nyaman, itulah yang dirasakannya saat berada di kamar berwarna pink bercampur merah tua dan ungu yang sangat terasa sudah 3 bulan lebih Rukia meninggalkan kamarnya yang mewah itu.
Walau hampir tengah malam, dia tak kunjung memejamkan matanya. Memang yang dirasakannya tidak enak badan. Namun sungguh dia tak bisa memejamkan matanya. Padahal dia rasa dia sudah sembuh total dari demamnya. Tapi, ujung-ujungnya dia sakit lagi. Rukia rasa baru kali ini dia sakit tak sembuh-sembuh seperti sekarang ini. Padahal, dulu biasanya kalau dia sakit hanya sampai sehari atau setengah hari sudah sembuh.
"Huh..." Rukia menghela nafasnya. Tiba-tiba kepalanya pusing lagi. Dia pun memutuskan untuk tidur saja.
Beberapa saat kemudian Rukia dapat memejamkan matanya. Suara langkah kaki bersepatu pun terdengar. Tapi, itu sama sekali tidak membuat gadis itu terganggu. Gadis itu tetap terlelap jauh ke bawah alam sadarnya. Pintu kamarnya pun terbuka. Kakaknya yang memandangi Rukia dari pintu hanya dapat memberikan tatapan serius dan mengandung kesedihan. Byakuya pun kini memutuskan untuk meninggalkan gadis itu dengan raut wajah yang penuh kekecewaan.
Di tempat lain, Ichigo yang kini sedang berada di apartemennya, belum memejamkan matanya. Dia tidak bisa tidur karena memikirkan kedua pilihan yang kini diberikan kepadanya. Apakah keyakinan Ichigo untuk menolak pertunangannya dengan Orihime akan tetap bertahan setelah tahu surat terakhir dari ibunya? Ibunya berpesan jika dia sudah menganggap Orihime seperti putrinya sendiri dan dia ingin putranya, Ichigo agar menjaga Orihime. Namun, bagaimanakah dengan Rukia?
Isshin tadi memberikan secarik surat untuknya. Secarik surat usang yang menandakan bahwa surat itu sudah termakan oleh waktu. Dibacanya perlahan surat itu dan surat itu berhasil membuat air matanya menetes. Seorang Ichigo Kurosaki menangis?
Orihime sedang termenung di kamarnya. Sebenarnya ada perasaan yang amat senang ketika dia akan ditunangkan dengan pangeran impiannya. Sejak kecil memang Orihime sering ditindas oleh teman-temannya yang iri kepadanya. Yang hanya bisa dilakukan Orihime adalah hanya menangis. Tapi, ada seseorang yang telah membuatnya lebih kuat. Dia adalah Ichigo yang kini telah menjadi dokter yang handal. Orihime tersenyum kembali. Pipinya memerah mengingat masa-masa indah ketika Ichigo menjaga dan melindunginya.
"Inoue, sudah kubilang jangan menangis! Itu membuat mereka akan semakin menindasmu!"
Suara Ichigo waktu itu pun masih sangat diingat Orihime. Gadis itu tertawa mengingat masa-masa itu. Dia berhenti tertawa dan mengambil sebuah bingkai cantik yang di dalamnya telah diletakan sebuah foto seorang pemuda. Pemuda itu tak lain adalah Ichigo.
"Kurosaki-kun, andai saja kau tahu betapa aku sangat, sangat, sangat menyukaimu. Sangat mencintaimu..." Orihime tersenyum kembali. Dikecupnya pria yang ada di bingkai itu.
Esoknya...
Rukia membuka matanya. Entah kenapa pandangannya menjadi kabur. Tapi, lama-kelamaan dia bisa melihat dengan jelas lagi.
"Rukia?"
"Kyaaaaaaa!"
BRUAAAK
Rukia terjatuh dari , itulah yang dirasakannya.
"RUKIA?" teriak seseorang.
"Ichigo? Kenapa kau? Bagaimana kau? Kakak kok bisa?" tanya Rukia tidak jelas. Ternyata yang membuatnya kaget ketika dia membuka matanya adalah Ichigo. Tentu saja Rukia kaget melihat seorang lelaki yang begitu serius memandangnya ketika dia baru saja bangun tidur.
"Aku ditelpon kakakmu untuk kemari! Kau ini ya sangat membuatku kaget, Cebol! Kau ini makan apa sih? Bisa-bisanya pingsan begitu!" teriak Ichigo.
"Aku juga tidak tahu! Setahuku aku sudah sehat-sehat saja!" jawab Rukia tidak mau kalah. Ichigo yang melihat Rukia masih terjatuh di bawah pun mengangkatnya hingga ke ranjang. Rukia melihat wajah Ichigo yang terlihat bermasalah. Rukia pun khawatir.
"Ada masalah Ichigo? Kau bisa menceritakannya padaku." kata Rukia. Ichigo pun hanya tersenyum kemudian mengecup kening Rukia yang sudah tidur di ranjang.
"Bodoh, sempat-sempatnya menghawatirkan seseorang saat keadaannya sendiri seperti itu." kata Ichigo sambil tersenyum. Senyuman yang memang jarang terlihat dari seorang Ichigo Kurosaki dulu.
"Kau tidak kerja?"
"Aku cuti, cebol. Aku mau istirahat, empat bulan ini aku harus masuk dan lembur terus ,"
"Hah? Memang jam berapa sekarang! Aku terlambat ke rumah sak-"
"Matsumoto-san memberimu cuti untuk beristirahat penuh." jawab Ichigo sebelum Rukia menyelesaikan perkataannya.
"Itu tidak bisa! Aku kan baru bekerja, masak cuti? Aku mau-"
"Bisa saja! Sekarang berbaringlah!" kata Ichigo sambil menahan Rukia untuk tidur. Saking kuatnya cengkraman Ichigo, sampai-sampai membuat Rukia tak bisa bergerak.
Rukia hanya menurut dan berbaring. Ia tampaknya agak kesal dengan sikap Ichigo. Namun dia tak bisa apa-apa kecuali cemberut saja. Dilihatnya wajah Ichigo lagi. Rukia melihat Ichigo sedang mempunyai masalah. Tapi, Rukia tahu jika laki-laki itu tak mau dirinya tahu masalahnya. Mungkin belum saatnya Rukia tahu. Itulah yang dipikirkan Rukia.
Sesaat kemudian terdengar ketukan pintu. Ichigo membiarkannya masuk. Ternyata yang datang adalah seorang pelayan membawa sarapan untuk nonanya, Rukia. Ichigo menyuruh pelayan itu untuk menaruh sarapan Rukia di meja samping ranjang Rukia. Setelah pelayan itu meletakan sebuah nampan yang diatasnya sudah tersedia sarapan untuk Rukia, pelayan itu kemudian pergi. Ichigo mengambil sebuah mangkuk dari nampan itu dan ternyata isinya adalah bubur.
Dengan mengangkat-angkat dagunya kepada Rukia, keliahatannya Rukia sudah mengerti jika dirinya disuruh duduk oleh Ichigo. Rukia dengan wajah yang cemberut hanya menuruti perintah sang dokter itu. Ichigo pun mengambil sesuap bubur dengan sendok. Ichigo kembali menggunakan bahasa tubuhnya dengan membuka-buka mulutnya. Rukia pun juga mengerti. Dia pun ikut membuka mulutnya.
"Pintar." kata Ichigo setelah melahap suapannya.
"Aku memang pintar dan kau memang bodoh." kata Rukia bangga. Tapi, yang aneh Ichigo sama sekali tak menghiraukan. Padahal biasanya dia marah jika dipanggil bodoh. Rukia pun juga ikut tak menghiraukannya.
Berkali-kali Ichigo nyaris menyuapkan makanan ke muka Rukia. Tapi, untung saja Rukia dapat mencegahnya.
"Hei, kau sebenarnya tidak mau kan menyuapiku? Jujur saja, aku juga bisa makan sendiri!"
"Ah? Maaf Rukia. Ok, buka mulutmu lagi. Aaa," kata Ichigo yang hendak menyuapi Rukia. Rukia langsung menghentikan Ichigo dengan menggenggam tangannya.
"Jujurlah padaku Ichigo. Ada masalah apa? Apakah tentang pertunanganmu itu?"
"Kau tahu tentang itu? Argh! Bagaimana kau tahu tentang itu?"
"Inoue sudah memberitahukanku dari tadi pagi. Ichi, dengarkan aku. Aku sama sekali tak keberatan jika kau bertunangan dengannya. Lagi pula lebih baik kita akhiri hub-" kata-kata Rukia terhenti ketika melihat Ichigo berdiri.
"Bagimu mudah Rukia! Kau tak tahu dari sudut pandangku itu sangat susah!" seru Ichigo marah sambil beranjak pergi dari kamar Rukia.
"Ichigo!" panggil Rukia. Tapi sayang Ichigo telah keluar kamar. Rukia tak dapat menahan air matanya lagi. Kini dia terisak.
"Ini tak mudah Ichigo. Sangat berat bagiku... Semakin aku ingin melepasmu semakin aku menginginkanmu..." Rukia menekuk lututnya dan melatakan keningnya di atas lutut.
5 New Message
From: Midget-Midgey-Chan
25/06/2010 09:05
Hei! Apa maksudmu pergi seperti itu! Bodoh!
From: Midget-Midgey-Chan
25/06/2010 09:10
Hoi! Jawab aku!
From: Midget-Midgey-Chan
25/06/2010 09:17
Kenapa kau tak angkat telponku, Baka!
From: Midget-Midgey-Chan
25/06/2010 09:30
Kenapa kau yang jadi marah padaku? Harusnya aku yang marah karena kau akan bertunangan dengan wanita lain! :(
From: Midget-Midgey-Chan
25/06/2010 09:45
Baiklah! Jika kau tak mau balas pesan maupun telpon, baiklah! Itu bukan yang kau inginkan? Tak usah balas pesanku! Senang!
Itulah pesan yang diterima Ichigo ketika dia membuka handphone-nya. Pesan itu membuat dia tertawa , Ichigo belum mau membalas pesannya sekarang. Dia ingin lihat bagaimana reaksi Rukia ketika dia tidak sama sekali membalas pesan Rukia. Pasti sangat kesal tentunya.
Ichigo memutuskan untuk menonton tv saja. Tapi, belum sampai dia menganti chanel, bel apartemennya sudah berbunyi. Dia pun memutuskan untuk membuka pintu. Dibukanya pintunya, ternyata yang datang adalah...
"Rukia? Bodoh! Kau kan sedang sakit! Ayo pulang!"
"Setelah tak membalas atau mengangkat telponku kini kau mengusirku! Baiklah! Ternyata sia-sia aku ke sini!" kata Rukia langsung berbalik arah dan berjalan menuju lift dengan gontai. Rukia berjalan dan hendak jatuh, tapi untung saja Ichigo berhasil menangkapnya.
"Sok kuat,"
"Apa? Aku mau pulang! Aku benci kau! Kau menyebalkan! Kenapa aku harus menyuruh supir pulang! Terpaksa naik bus! Sia-sia!"
"Haha, bilang saja mau aku rawat di apartemenku," kata Ichigo seperti mengejek.
"Tidak, biarkan aku pulang! Itu maumu kan?"
"Kau ini sensitif sekali." kata Ichigo sambil mencangking Rukia dengan tangan kirinya seperti barang saja.
"Hei! Lepas! Aku mau pulang...!"
Akhirnya mereka telah sampai di apartement Ichigo. Ichigo menutup pintu kemudian menguncinya.
"Aku mau pulang!"
Akhirnya Rukia dibawa Ichigo ke kamarnya lalu diletakan di ranjang dengan ukuran king size.
"K-Kau mau apa! Aku sedang sakit tahu!"
Ichigo mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia. Semburat merah pun muncul di pipi Rukia. Wajah Ichigo kini mendekati leher Rukia. Wajah Rukia tambah memerah saja.
"Aku ingin kau... "
"Berbaring di sini dan istirahat!" seru Ichigo lumayan keras.
"Kau bisa mebuatku tuli!"
"Kamar tamuku sangat kotor dan belum sempat kubersihkan, tuan putri. Jangan ke manapun, kalau kau tak menurut aku akan membantaimu!"
Rukia pun langsung berbaring dan lagi-lagi Ichigo membuatnya kesal. Ichigo pun naik ke ranjang dan duduk bersandar di samping Rukia.
"Kenapa kau disitu?" tanya Rukia. Ichigo pun mengambil sebuah remot di sampingnya. Kemudian menghidupkan tv layar plasma-nya. Digantinya satu-persatu chanel lalu akhirnya dia telah menemukan chanel yang dicarinya.
"Nonton World Cup," kata Ichigo sambil menyeringai dengan senyum nakalnya. Rukia pun hanya membalasnya dengan 'oh' saja. Tiba-tiba Rukia merangkul tubuh Ichigo yang ada disampingnya sambil duduk bersandar. Ichigo yang melihatnya pun hanya tersenyum.
"Aku mau tidur," kata Rukia sambil tersenyum simpul kemudian memejamkan matanya.
'Sungguh hangat kurasakan tubuhnya. Membuatku tak sadar diri jika aku masih ada di bumi. Dapatkah kumerasakannya setiap detik?'
Bersambung...
A/N: Tenang-tenang Minna, Rukia-chan Cuma sakit biasa kok!*teriak dari puncak Himalaya-plak-*. Wehehehe next chap persaingan akan dimulai!*Jeng! Jeng! Jeng!* Tapi tenang say, Orihime tidak jahat kok kaya tokoh anatagonis di sinetron-sinetron, OOC dunk. (T_). Maaf jika ada typo. Salam kenal dan salam hangat yang belum kenal Nica*ga penting*. Saya munafik jika bilang tak butuh review. Karena review, Nica dapat terus mengamati perkembangan fic Nica. Thank you so much for your review and read this chapter of course :D
Q: Ehn, Nica ga tahu apa itu abal...*bego* Jadi, apakah itu abal? Nica merasa sangat senang jika ada yang mau menjawabnya, arigatou...
s
See Ya Next Chap and Have a Nice Day, Minna.
