MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 12
.
.
.
.
Apartemen Luhan-Kyungsoo terasa sangat sepi hari ini, tidak ada aktifitas yang dilakukan oleh penghuninya. Kyungsoo jarang pulang, begitu juga hari ini. Hanya tinggal Luhan yang medekam di dalam kamar ditemani sepi yang belakangan ini setia menjadi kawannya.
Handphonenya tak lepas dari genggaman tangan Luhan. Ia menunggu kabar dari keluarganya. Menunggu kabar dari Sehun. Menunggu kabar dari Jongin. Atau entah siapa pun yang mau mengabari dirinya.
Luhan sendiri bingung apa yang harus ia khawatirkan sekarang. Keluargannya? Bukankah keluargannya sudah di urusi Sehun. Atau Sehun? Sehun yang tiba-tiba memutuskan hubungannya...bukankah dirinya hanya minta tolong membantu keluargannya? Kenapa Sehun memutuskannya? Apa karena dirinya jarang menjenguk? Atau karena appa Sehun menyuruhnya meninggalkan dirinya sebagai syarat menyelamatkan keluarganya? Ya pasti itu.
Luhan berhenti bergelut dengan pikirannya karena bel apartemennya berbunyi pertanda ada tamu yang datang. Sebuah kiriman paket. Luhan menerimanya tanpa ada perasaan curiga sedikit pun. Dengan santainya, jemari kurus Luhan perlahan membuka kiriman paket tersebut. Sebuah kotak berisi tiket penerbangan ke China dan sebuah undangan pernikahan. Undangan pernikahan siapa ini? batin Luhan.
Oh Sehun Do Kyungsoo.
Luhan membekap mulutnya sendiri. Ingatan Luhan berputar saat pertama kali memperkenalkan Kyungsoo ke Sehun. Beralih ke beberapa hari yang lalu saat Sehun kabur dan menginap di apartemen Chanyeol. Luhan ingat betul Kyungsoo selalu disana namun ketika dirinya datang Kyungsoo selalu berpamitan pergi keluar. Apa Kyungsoo cemburu padanya?
Lalu Sehun? Setiap kali Luhan datang, Sehun selalu sedang mengobrol dengan Kyungsoo. Dirinya tau jika Kyungsoo yang banyak merawat Sehun. Memapahnya, mengobati lukanya, bahkan mencucikan rambut Sehun...entah apa alasannya tubuh Sehun tidak boleh kena air untuk sementara waktu, padahal yang Luhan tau Sehun hanya dapat luka kecil. Apa Sehun juga menaruh hati pada Kyungsoo?
Luhan mengeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengenyahkan pikiran buruk pada teman dan mantan kekasihnya. "Tidak...Tidak..Kyungsoo dan Sehun tidak mungkin bermain di belakangku!" guman Luhan tanpa sadar mengigiti kukunya sendiri karena cemas.
Drrrtt...Drrttt...Drrtt.
"Luhanie, kau baik-baik saja?"
"Sedikit buruk. Ada apa, sunbae? Jika ingin memaksaku berkencan denganmu maaf sunbae - "
"Bukan itu. Aku sudah menyerah mengejarmu. Aku hanya khawatir padamu, Lu! Kau sudah lihat berita hari ini? Kekasihmu Sehun, Kyungsoo...dan Jongin..."
"Jongin!"
"Aku akan mengirimu link beritanya. Jika kau butuh teman, nomorku selalu aktif untukmu!"
"Terima kasih, Sunbae!"
2 pesan
HEBOHH! Putra Pengusaha Nomor 1 Korea Mendadak Mengakhiri Masa Lajangnya. Oh Sehun, pewaris utama Oh Corp dikabarkan telah menyebar undangan penikahannya bersama Do Kyungsoo. Diketahui pernikahan akan di selenggarakan secara tertutup bagi media dan hanya mengundang kerabat dekat saja. Oh Sehun yang termasuk jajaran pria tampan yang sering bergonta-ganti pasangan dan pasangannya banyak dari kalangan model membuat banyak warga Korea terkejut akan berita pernikahannya. Pasalnya calon istrinya (Do Kyungsoo-red) bukan dari kalangan model dan Oh Sehun sendiri dirasa masih terlalu muda untuk menikah.
Beredar Foto Calon Istri Oh Sehun Bersama Putra Perdana Mentri. Foto yang diambil di salah satu pusat perbelanjaan ini memperlihatkan Kim Jongin sedang membelai pipi seorang gadis yang diduga adalah Do Kyungsoo, yang dikabarkan segera melangsungkan pernikahan dengan Oh Sehun. Menurut kabar yang beredar di sosial media, Do Kyungsoo merupakan teman akrab Xi Luhan, yang sebelumnya telah digosipkan merupakan pacar Kim Jongin. Fakta ini membuat para netijen geram, "Bagaimana bisa dia merebut pacar sahabatnya, lalu menikah dengan Sehun? Dia gadis yang jahat!." Komentar lainnya bermunculan seperti, "Lho, bukankah Jongin dan Sehun juga berteman dekat? Jadi siapa yang dikhianati sekarang?"
Dua berita berhasil membuat Luhan merasa di tipu Kyungsoo. Luhan pikir walaupun Kyungsoo dimata orang lain adalah gadis jahat yang tak punya aturan dan bermulut pedas, tapi Kyungsoo tak pernah menghianati temannya. Namun rupanya dirinya salah menilai.
"Rupanya kau memang benar-benar seorang jalang, Kyung!"
.
.
MASK
.
.
Malam sebelumnya
Kyungsoo memegang gelasnya, menuangkan botol berisi minuman beralkohol. Sedangkan Jongin membuka kaleng sodanya, lalu menyeruputnya tanpa rasa curiga. Jongin hanya khawatir pada Kyungsoo yang tiba-tiba ingin minum-minum dan juga hubungan mereka yang belakangan ini menjadi agak kaku layaknya kanebo kering , karena kehadiran Luhan. Bukannya Jongin tidak merasakan perubahan sikap Kyungsoo, tapi di sisi lain Luhan membutuhkan dirinya.
"Kau kaget aku tiba-tiba disini?" Kyungsoo membuka pembicaraan sambil meminum minumannya sekali tegak. "Tolong jangan banyak minum. Perhatikan kesehatanmu!" ujar Jongin datar, lalu membuang kaleng sodanya yang sudah habis.
Tiba-tiba Jongin merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, "Kau bilang ini tidak ada alkoholnya, Kyung!" guman Jongin memegangi pinggiran meja dapur. Tubuhnya serasa panas, keringatnya mengucur deras, entah kenapa libidonya perlahan-lahan naik tanpa bisa di kontrol. Berimbas pada adiknya di dalam sana menjadi begitu tegang sampai sakit karena tertahan celananya.
"K-kyungg..Ngggghhh..." panggil Jongin yang padangannya mulai berkabut hasrat. Ia merasa sama sekali tidak nyaman, ia perlu melampiaskan rasa panas tubuhnya. "K-kau..."
Kyungsoo yang memakai dress berwarna hitam begitu menggiurkan di mata Jongin. Otaknya menyuruhnya terus mengingat janjinya untuk tidak menyentuh gadis itu lagi. Tapi tubuhnya memberontak dan berkhianat. Bahkan sekarang tubuhnya tanpa sadar mendekati Kyungsoo yang masih duduk di tempatnya.
Kyungsoo mulai terancam, ia pun berdiri mencoba membuat jarak dengan Jongin. Ia tak akan menyerahkan dirinya sebelum bernogoisasi terlebih dahulu. "Aku akan membantumu mengurangi rasa sakitmu, tapi sebelum itu beri aku uangmu. Aku membutuhkannya untuk suatu hal."
"K-kau sudah merencanakan ini, K-kyung? Karena uang?" ucap Jongin tak percaya dan berjalan maju yang membuat Kyungsoo terus berjalan mundur ke arah tembok.
"Baik, sekarang aku paham!" Jongin membuka laci meja, mengambil cek kosong lalu membubuhkan tanda tangannya disana. "Kau bebas menulis nominalnya! Tapi kau akan menyesal melakukan semua ini!"
Begitu Jongin selesai berucap, Jongin langsung menghimpit Kyungsoo ke dinding. Sepasang mata bulatnya tetap menatapnya tanpa rasa takut. Begitu suara zipper celana diturunkan, tangan Jongin mulai membelai pahanya lalu menurunkan celana dalamnya hingga jatuh ke lantai. Jongin yang sudah tidak tahan, memaksa salah satu kaki Kyungsoo terangkat dan menekuk di samping pinggangnya. Tangan Jongin dengan setia menahan paha Kyungsoo tetap pada posisinya. Lubang kemerahannya langsung jadi sasaran hentakan. Tanpa pelumasan.
"Aachhh...acchhhh...Ouuhhhh..oouuhhh...!" begitu suara desahan Kyungsoo yang semakin terdengar seperti ungkapan kesakitan seirama dengan sodokan Jongin yang semakin brutal. "Aa-akh...A-khh...Aa...aahhhh...Sssshhh...Jongin! J-Jonginnnnn..aahh!" kaki Kyungsoo yang menyangga dirinya untuk tetap berdiri semakin lemas. Tangannya mulai meremas bagian dada baju Jongin menyalurkan rasa sakitnya.
Namun Jongin tak membiarkan bajunya kusut. Hanya dengan satu tangan ia mencekal tangan Kyungsoo dan menahannya di atas kepala. "Aku Tuanmu sekarang, aku tak memberimu ijin menyentuhku!" geram Jongin dengan suara serak dan dalam. Bersamaan dengan itu Jongin semakin liar. Menciumi tengkuk dan bibirnya dengan kasar, tak segan-segan mengigit lidah atau bibirnya jika Kyungsoo berhenti membalas ciumannya. Waktu berjalan sangat lambat dan menyiksa bagi Kyungsoo.
"Sudah lelah berdiri, jalangku?" bisik Jongin terdengar begitu dingin tepat di telinga Kyungsoo. Kyungsoo hanya mengangguk lemah sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan, ia sudah pasrah mau di apakan pun teserah. Bahkan kini Jongin sudah menganggapnya jalangnya. "Kalau begitu setelah ini akan ku buat kau tak bisa berjalan dengan benar!" bisiknya lagi.
Setelah itu Kyungsoo merasakan tubuhnya yang lemas di seret ke arah kamar Jongin. Jongin duduk di pinggiran ranjang, sedangkan dirinya berlutut menghadap kejantanan Jongin yang masih tegang. Lalu kepalanya di tekan, memaksanya melahap daging berurat yang terus berkedut itu. Dirinya sampai tersedak beberapa kali, namun Jongin terus menekan kepalanya. "Hisap dan telan!" seru Jongin penuh penekanan.
Sampai mulut Kyungsoo kram dan penuh cairan kental yang turun mengotori leher sampai ke dadanya. Setelah itu Jongin menarik dan hempaskannya kasar ke ranjang. Tidak ada gendongan, tidak ada rayuan konyol seperti yang biasa Jongin lakukan. Bahkan Kyungsoo ragu jika Jongin akan berhenti jika ia memintanya. Mendadak dirinya menyesal mencampur obat perangsang pada minuman soda Jongin.
Dengan hitungan detik tubuh Kyungsoo menjadi telanjang, tak ada satu pun benang menutupi tubuhnya. Dressnya pun di sobek dan beralih fungsi sebagai pengikat tangannya di kepala ranjang. Ia buta akan rencana Jongin, sepertinya pemuda itu tak main-main kali ini. Jongin sudah sangat marah, Kyungsoo tak pernah melihat Jongin semarah ini.
Jongin juga membuat dirinya sendiri telanjang. Kyungsoo dapat melihat benda berurat itu terus tegak walaupun sudah melepaskan laharnya bekali-kali tadi. Jongin yang mulai mengukung Kyungsoo dengan nafas tersenggal-senggal karena tidak tahan dengan nafsunya sendiri yang begitu meluap-luap. Kejantannya menancap lagi kali ini varginanya dan payudaranya yang menjadi sasaran.
Menyodok kasar, menghisap, menggigit, menarik kasar putingnya, dan meremas. Kombinasi yang begitu menyiksa Kyungsoo yang terikat. Dirinya sampai mendongakkan wajahnya sambil memejamkan mata mersakan betapa perih dan sakitnya tubuhnya di koyak orang yang ia sukai selama ini.
Melihat Kyungsoo tidak mendesah dan terus meronta seperti menolak perlakuan Jongin. Membuat Jongin sakit hati bercampur kesal dan marah. PLAAKK! Tamparan keras di pipi Kyungsoo diiringi teriakan Jongin, "BERHENTI MENOLAKKU! DAN MENDESAHLAHHH!"
Namun bukan desahan yang di dapat Jongin melainkan sebutir air mata turun dari mata sayu Kyungsoo. Hanya satu tetes, yang tidak cukup jika di sebut tangisan namun cukup menggambarkan hati seorang gadis yang porak poranda.
Jongin berhenti sesaat. Rasa panasnya mulai menyergap lagi karena berhenti menyalurkan hasratnya.
"Sebenarnya apa yang ada di otak cantikmu itu, Kyung? Sebutkan saja yang kau butuhkan! Sudah kubilang aku mencintaimu bukan? H-huh? Kau pikir aku bercanda setiap kali mengatakannya?" seru Jongin dengan nada tinggi. Ia merasa terhina karena perasaanya selama ini hanya di anggap main-main oleh Kyungsoo, bahkan Kyungsoo tak pernah membalasnya.
"Kau pikir dengan begini aku senang? AKU JUGA SAKIT, KYUNG!" teriak Jongin. Kyungsoo sekarang benar-benar menangis, tidak lagi satu butir air mata ...mungkin ratusan bahkan ribuan sudah tumpah."Jika kau memintaku baik-baik, aku akan memberimu uang. Bukan malah menjebakku dengan melayani nafsu bejat sialan ini!" desisnya melihat kejantannya yang masih memenuhi lubang Kyungsoo.
Jongin kembali bermonolog menumbahkan semua perasaan di hatinya. "Sebenarnya berapa uang yang kau butuhkan sampai senekat ini? seratus juta won? Satu milyar won? Jawabbb aku, Kyunggg!"
Jongin yang mulanya berteriak marah sekarang tertawa merendahkan, "Apa semua ini untuk Chanyeol kekasihmu itu? Kau bahkan menjual villamu untuknya, apa kau menimbun uang untuk menyenangkan hatinya? Mau bekerja padaku dan kutiduri untuk membiayai hidup mewah kekasihmu itu? Hmmm?"
Kyungsoo menahan air matanya untuk jatuh lagi, dirinya menatap nyalang ke arah Jongin yang menuduhnya sembarangan. Sekarang waktunya dirinya angkat bicara. "Kau tak tau apa-apa tentang Chanyeol. Kalau aku memang menimbun uangmu untuknya kenapa? Kau keberatan? Setidaknya aku bekerja dan kau tiduri, bukan seperti Luhan yang memintamu cuma-cuma ! Siapa yang memanfaatkanmu sekarang! Atau jangan-jangan dia juga jalangmu Jonginnnn?"
PLAAKKK! Sekali lagi tamparan keras mengenai pipi Kyungsoo. "Jangan berbicara buruk tentang Luhan!"
Dada Kyungsoo naik turun mencoba untuk bersabar. Pipinya panas dan nyeri. "Bagaimana bisa aku tak bicara buruk tentangnya! Aku melihat semuanya...kau...berciuman dengan Luhan saat aku tak ada disini. Itu yang kau bilang mencintaiku?" sindir Kyungsoo.
Jongin jadi gelagapan. Namun Kyungsoo tak membiarkannya membela diri, ia terus memborbardir Jongin. "Sadarlah kau menyukai Luhan, Jongin! Kau hanya tak punya keberanian mendekatinya karena ia milik Sehun. Tapi setelah ia datang kau tak bisa menyukaiku lagi dan berhenti meniduriku! Di saat aku membutuhkan uang seperti ini kau malah berhenti meniduriku, apa kau membuangku? Kau benar-benar brengsek Jongin!"
"Ku akui aku mencium Luhan karena kelalaianku. Luhan kesepian dan aku terbawa suasana. Tapi asal kau tau Kyung, aku berhenti menidurimu bukan karena aku tak menyukaimu lagi, bukan aku bosan tubuhmu, bukan aku ingin membuangmu. Aku berhenti, karena takut menyakitimu dan membuat menangis seperti malam itu ketika kau memintaku menyetuhimu dengan kasar – "
"Aku menyukaimu sampai kau tipu seperti ini pun aku masih menyukaimu! Kau tak pernah mencintaiku! Tak sedikit pun bukan?!" teriak Jongin keras.
"Aku tidak menipumu!" elak Kyungsoo juga dengan berteriak .
"Apanya yang tidak menipuku? Kau selalu datang padaku, memberiku harapan dan tubuhmu padaku. Ku pikir kau hanya melakukannya untukku...tapi di belakangku ternyata ada Chanyeol. Kenapa kau tak katakan saja kau sudah milik orang lain?" ujar Jongin penuh emosi.
"Kami hanya berteman Jongin!" balas Kyungsoo tak sanggup lagi menerima tuduhan dari Jongin.
Dahi Jongin mengernyit mempertanyakan kata teman yang Kyungsoo ucapkan. "Berteman apanya? Kalian sering mandi bersama, di kampus bersama, tidur bersama, Luhan bahkan pernah melihatmu berciuman dengan Chanyeol tanpa malu-malu. Sebenarnya perasaanmu untuk siapa?" tanya Jongin sinis.
Kali ini gantian Kyungsoo yang mengernyitkan dahinya bingung. Tiba-tiba Jongin melepas penyatuan mereka dan turun dari ranjang mengambil sesuatu di atas meja. Sebuah benda persegi seperti sebuah surat undangan. "Ini! Undangan pernikahanmu yang baru saja di kirim. Sungguh aku bingung dengan perasaanmu dan apa yang ada dalam kepala cantikmu itu, Kyung!"
Undangan? Kyungsoo menatap undangan itu. Benar namanya dengan Sehun ada disana, tercetak dengan jelas. Jongin kembali naik ke atas ranjang. "Aku kecolongan dua pria sekaligus. Jika pun kalian di jodohkan, aku tidak tau apa yang membuatmu menerimanya. Aku orang bodoh yang buta akan perasanmu, Kyung! Jadi sekarang berhenti membuatku seperti orang dungu yang tak tau apa-apa!"
Jongin menarik nafasnya dan berucap lagi. "Aku tidak tau seberapa tinggi dosis obat perangsang yang kau berikan. Aku benar-benar tersiksa sekarang. Katakan kau mencintaiku! Maka aku akan menahan nafsu sialan yang menyakitkan ini sendirian, aku akan suka rela sakit asal kau membalas perasaanku."
Kyungsoo tak bisa membiarkan Jongin sakit karena ulahnya dan dirinya juga tak bisa menerima perasaan Jongin, bukan karena dirinya tak menyukai Jongin. Tapi keadaan memaksanya untuk mendampingi Sehun di pelaminan. Ia tak boleh egois mempertahankan Jongin disisinya. Jongin harus melepaskannya, walaupun dirinya harus di benci seumur hidup.
"Maaf, Jongin! Hatiku hanya untuk calon suamiku, Sehun! Terserah kau mengataiku gadis jahat karena mengambil Sehun dari Luhan. Aku menyukai Sehun, aku juga ingin menikah dengan orang yang kusukai."
"JANGAN MEMBOHONGIKU, DO KYUNGSOOO!" teriak Jongin begitu keras. Hatinya sangat sakit sekarang.
Kyungsoo menggigit bibirnya agar tak menangis lagi. "Mana mungkin aku menyukaimu...Gadis mana yang memilih pria yang menggunakan uang untuk memiliki tubuhnya, kau juga hitam dan mesum, tingkahmu juga menjengkelkan bahkan Xiumin-ssi saja mengakuinya, dan gadis mana yang memilih pria yang sudah menamparnya bahkan sampai dua kali di jam yang sama."
"Aku bisa menyiksamu karena ucapanmu, Kyung!" peringat Jongin.
"Lakukan apa yang kau mau. Aku sudah dapat uangmu. Kau boleh melakukan apa pun. Aku tak suka berhutang. Kau marah padaku bukan? Kau kesal padaku bukan? Ayooo, silahkan siksa aku! Namun setelah itu tolong berhentilah mencintaiku!"
Ya, berhenti mencintaiku Jongin! Aku hanya gadis jalang, sudah seharusnya kau membenciku.
Jongin benar-benar nekat kali ini. Hatinya hancur remuk tak berbentuk. Baru kali ini dirinya jatuh cinta, baru kali ini pula ia patah hati untuk pertama kalinya. Begitu sakit, apalagi gadis yang dicintainya memilih sahabatnya sendiri.
Bukan hanya lubang kewanitaan Kyungsoo yang jadi sasarannya namun juga lubang anal yang tak pernah tersentuh akhirnya hari ini juga harus terkoyak berdarah-darah. Jeritan Kyungsoo tak membuatnya bersalah maupun merasa puas. Perasaan Jongin hampa. Tak bisa merasakan apa pun.
Walaupun Kyungsoo menjerit sakit namun ia juga tak bisa marah dengan Jongin. Ini salahnya, apalagi melihat Jongin melakukannya dengan berlinangan air mata. Hati pria itu sedang kritis karena ulah dirinya. Ku doa kan kelak kita bertemu dalam keadaan lebih baik dan menertawakan perasaan konyol kita selama ini, ucap Kyungsoo dalam hati.
.
.
.
Chanyeol tak henti-hentinya memencet tombol bel apartemen Jongin. Harusnya ia sejak dulu tanya password apartemen Jongin pada Kyungsoo, jadi di saat genting seperti ini bukan hanya berdiri sambil memencet-mencet seperti orang bodoh. Sudah setengah jam Chanyeol disana, tapi tak juga di bukakan pintu.
Sehun yang baru datang menemukan Chanyeol seperti gelandangan menyedihkan. Berjongkok di apartemen orang sambil menangis karena kesal tidak di bukakan pintu, padahal Chanyeol sangat khawatir. Ia sampai ingin nekat menjual nyawanya pada Kris agar di tukarkan dengan password apartemen Jongin. Namun, ketika sadar pikiran bodohnya itu Chanyeol memukuli kepalanya sendiri. Merutuki kenapa dirinya malah teringat Kris di saat seperti ini.
"Dimana Kyungsoo?" tanya Sehun sedang dalam keadaan tergesa-gesa. Ia harus mengabari Kyungsoo secepatnya perihal pernikahannya yang hanya menghitung hari. Ia ingin memastikan Kyungsoo tidak menyesal jika nantinya menjadi istrinya. Namun ketika ke apartemen Chanyeol, hanya ada Baekhyun. Baekhyun bilang Chanyeol sedang menyusul Kyungsoo di apartemen Jongin dan wajahnya begitu panik.
"Di dalam, tolong bukakan pintunya! Kyungsoo pasti melakukan hal bodoh lagi!" jawab Chanyeol mengiba.
"Minggir!" perintah Sehun meminta Chanyeol segera menyingkir karena menghalanginya menekan password apartemen Jongin.
Sehun masuk dengan langkah lebar, ia sama cemasnya dengan Chanyeol. Kadang Sehun ingin mengumpat pada Jongin dan Kyungsoo, kenapa ada pasangan sebodoh mereka berdua. Mata tajamnya menyusuri semua ruangan apartemen Jongin. Menemukan botol minuman alkohol di meja dapur, kaleng soda di tempat sampah, dan celana dalam tergeletak tak jauh dari dapur.
Sehun langsung menuju kamar Jongin yang terbuka sedikit. Suara lirih sebuah tangisan mulai terdengar, Sehun langsung membuka lebar pintu kamar Jongin. Dugaannya salah itu bukan tangis Kyungsoo melainkan tangis Jongin. Waktu kecil Sehun memang sering melihat Jongin menangis tapi setelah dewasa seperti sekarang Jongin tak pernah menangis, tingkahnya saja menyebalkan begitu mana bisa ia menangis.
Jongin duduk di lantai bersandar pada kaki ranjang, menangis pilu tanpa mempedulikan keadaannya yang telanjang. Kyungsoo sama telanjangnya meringkuk dengan darah mengalir di daerah selangkangannya, tubuhnya di penuhi keringat dan tanda merah keunguan. Setelah di perhatikan lebih dekat tangannya terikat kain dan pipinya yang gembil terdapat bekas cap tangan hingga berwarna merah.
Jika begini keadaannya Sehun tak bisa memaafkan Jongin lagi. Kyungsoo ia serahkan pada Chanyeol, sedangkan Jongin adalah urusannya. Sehun membentak Jongin untuk berdiri, "BERDIRI! KUBILANG BERDIRII, KIM JONGIN!"
Sehun memaksa Jongin berdiri dalam keadaan telanjang. Mengabaikan benda mengantung seperti yang ia punya, ia tak punya cukup kesabaran untuk menunggu Jongin berpakaian dulu. "Apa begitu caramu memperlakukan wanita, Kim Jongin teman kecilku?"
"KAU APAKAN CALON ISTRIKU, BRENGSEKKK!" seru Sehun. Selanjutnya yang ada hanyalah suara pukulan yang dilayangkan ke Jongin dengan membabi buta. Bukan hanya sakit melihat Kyungsoo seperti itu. Namun juga merasa malu memiliki kawan seperti Jongin.
Jika di tanya perasaan siapa yang sakit? Sehun akan menjawab dengan lantang bahwa mereka berempat sama-sama sedang sakit sekarang. Begitu pun dirinya, Sehun juga sakit kala melihat Luhan berciuman dengan Jongin. Tapi bukan begini caranya.
.
.
.
Chanyeol sejak malam kemarin menunggui Kyungsoo yang di rawat inap. Sebenarnya hanya perawatan pada vargina dan analnya karena sampai pendarahan. Hari ini Kyungsoo di perbolehkan pulang jika keadaannya sudah membaik. Tangan Kyungsoo terus digenggam erat oleh Chanyeol. Dirinya sangat merasa bersalah sampai Kyungsoo seperti ini. Sudah ribuan kalinya Chanyeol memaki dengan kata 'bodoh' ke Kyungsoo.
"Apa masih sakit?" tanya Chanyeol ketika Kyungsoo terbangun dan ingin duduk saja. Kyungsoo mendadak meringis perih ketika posisinya sudah benar-benar duduk di ranjang. "Apa sangat parah?" tanya Kyungsoo dengan suara serak.
Chanyeol tidak mau menjawab. Kyungsoo membelai pelan wajah Chanyeol yang menunduk bersedih. "Kau tak salah apa pun, Chan! Ayo bantu aku berkemas, aku tak suka di rumah sakit! " Kyungsoo turun dari ranjang untuk berganti pakaian pasien dengan pakaian biasa yang Baekhyun bawa tadi.
Kyungsoo berjalan dengan tertatih ke arah kamar mandi namun langkahnya terhenti menengok layar televisi yang merupakan salah satu fasilitas di kamar tempatnya menginap. Kyungsoo melihat tayangan televisi yang sedang menanyakan berita tentang dirinya. Bukan berita pernikahannya yang membuatnya kaget melainkan berita dirinya yang Jongin. Kyungsoo merasa tak ada yang mengambil fotonya. Kyungsoo semakin shock dengan banyaknya tanggapan negatif dari masyarakat Korea.
Chanyeol langsung mengambil remote untuk mematikan televisi. Lalu memeluk Kyungsoo dari belakang. "Jangan terlalu dipikirkan berita itu," ujar Chanyeol pelan, memberikan kecupan di ujung kepala Kyungsoo. Kyungsoo mengelus pelan tangan Chanyeol yang ada di perutnya. "Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, Luhan pasti sangat membenciku sekarang. "
Chanyeol memejamkan matanya dan mempeerat pelukannya, "Sebagai temanmu, aku hanya mampu memberikan saran. Ambilah cuti kuliah seperti rencanamu dan hiduplah berbahagia dengan Sehun. Aku tau ini sulit, tapi setidaknya cobalah menerima Sehun. Sehun akan memaklumi keadaanmu, kurasa dia suami yang baik."
Kyungsoo membalikan badannya, melihat wajah Chanyeol yang masih memeluknya. "Kenapa kau menangis, Chan? " tanya Kyungsoo membantu Chanyeol mengusap air matanya. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedih saja... Hehehe, " Chanyeol memaksakan dirinya untuk tertawa walaupun matanya trus mengeluarkan air mata.
"Gantilah bajumu, kurasa Sehun dan hyungnya ada di depan. Akan kucarikan kursi roda, bagian bawahmu pasti sakit jika berjalan jauh, " ucap Chanyeol segera keluar dari kamar inap Kyungsoo.
Chanyeol menuju kafetaria rumah sakit menemui Sehun dan Suho, sekalian membelikan makanan untuk Kyungsoo. Chanyeol yang datang langsung diberondong pertanyaan oleh Sehun. "Apa yang sebenarnya yang terjadi? Kenapa Jongin meminta menyerahkan ini padamu? Dia berkata Kyungsoo melakukan semua itu agar dapat memperoleh cek ini untukmu, "
"Kurasa Jongin salah paham. Cek kosong ini bukan untukku. Banyak masalah yang Kyungsoo hadapi saat kau menginap di apartemen ku. Mungkin Kyungsoo tak memberitahumu karena sebanarnya ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, " ujar Chanyeol mencoba memberikan pengertian.
"Sekarang aku calon suaminya, Chanyeol-ssi!" seru Sehun mengingatkan.
Chanyeol mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh ke Suho yang ada disana. "Kau tak menceritakan apa pun padanya? "
"Aku hanya bercerita bagian Baekhyun dan pemindahan pengelolaan panti ke Kyungsoo, " jawab Suho sekenanya.
"Begini, Kyungsoo sedang mencoba meyelamatkan panti yang hyungmu tempati. Lahan itu milik Kris dan Kris mengancam akan melakukan penggusuran dan menjual paksa anak-anak panti - "
"Kris?" potong Sehun sambil memandang Chanyeol dengan pandangan menuduh.
"Jangan melihatku seperti itu, simpan kecurigaanmu. Intinya Kris meminta sejumlah uang untuk pembelian lahan dan untuk ganti rugi. Kau sudah mendapat detailnya dari hyungmu. Aku dan Kyungsoo sudah mengumpulkan uang namun masih kurang dan kau ingat ? Kau menyarankan meminta pada Jongin... Dan Kyungsoo melakukannya tapi dengan mengorbankan dirinya sendiri. Kyungsoo tak mau menerima uang cuma-cuma, " jelas Chanyeol panjang lebar.
Sehun jadi ingat saat ke markas Kris dan mendengar percakapan mereka. ".Kim Jongin putra perdana menteri yang membantu jalang itu melarikan diri." "Lupakan yang terakhir! aku akan bermain dengannya di akhir, gadisnya sedang menuju kepadaku. Sekarang Sehun tau yang dimaksud gadisnya adalah Kyungsoo.
"Lalu kenapa bekas minuman soda yang di minum Jongin ada obat perangsangnya?" tanya Sehun bingung.
"Kau mengorek-ngorek sampah?" Chanyeol bertanya balik dengan nada tak percaya.
"Aku hanya penasaran kenapa Jongin bisa sekasar itu... Jadi aku mengecek apa yang barusan ia minum dan kaleng sodanya ada bau obat perangsang. " Sehun menceritakannya dengan sedikit merasa malu karena mengorek sampah di dapur Jongin.
Chanyeol mengerutkan dahinya bingung, "Bukannya obat perangsang jika di campur minuman jadi tak bisa dikenali baunya?"
"Tsk... Aku hidup lama di dunia malam. Masalah seperti ini sangat mudah bagiku. Jika aku tak punya keahlian seperti ini, sudah banyak gadis di luar sana yang hamil karena berhasil menjebakku, " ujar Sehun
"Sepertinya kau perlu ku kurung di gereja," celetuk Suho.
"Ngomong-ngomong kalian sudah liat berita hari ini? " tanya Chanyeol menatap Sehun dan Suho bergantian.
"Appaku sendiri yang menyebarkan pada media, tapi soal foto Kyungsoo dengan Jongin aku tidak tau. Aku sangat kesal kenapa di saat seperti ini, foto itu bocor... Jongin juga pasti akan menuduh Kyungsoo," sahut Sehun langsung tau berita apa yang dimaksud Chanyeol.
"Haruskah kita menuntut orang yang menyebarkannya? Kurasa berita seperti ini akan cepat berlalu," komentar Suho.
"Tapi hyung, ini akan berdampak buruk pada Kyungsoo. Ingat Hyung, Kyungsoo akan jadi istriku sekarang," protes Sehun. " Tunggu... Tunggu... Jangan-jangan Kris juga.." tuduh Sehun.
" Jangan asal menuduh! " ujar Chanyeol sensi.
"Kris sudah melakukan banyak hal bukan? Menjual Baekhyun, mempekerjakan anak-anak panti sebagai pembuat senjata ilegal dan pelacur, membuat kecelakaan Sooman ahjussi dan keluarganya, menjual sel telur, membuntutimu di kamar mandi, mengincar Kyungsoo juga, dan sekarang memeras Kyungsoo. " Sehun dengan sabarnya menyebutkan keburukan Kris.
"Dia tidak memeras... Gereja dan panti asuhan itu memang tanah Kris."
"Dengan nominal yang tidak masuk akal dan ancaman penggusuran serta menjual paksa anak-anak panti. Dia juga minta ganti rugi karena tidak lagi mengirim anak-anak panti padanya. Dimana sisi baiknya? "
Chanyeol terdiam.
"Aku semakin mencurigaimu Chanyeol-ssi." Sehun memincingkan matanya pada Chanyeol. Chanyeol mendelikkan matanya malas pada kecurigaan Sehun yang berlebihan padanya. "Ya.. Ya... Ya.. Terserah kau saja, menuduh Kris juga tak apa. Aku hanya menghawatirkan Kyungsoo saja, ini bukti bahwa banyak yang tidak suka padanya,"
"Jika aku menemukan pelakunya. Akan ku telanjangi dan ku posting di forum gay," ancam Sehun penuh dendam. "Aku akan menjadi orang pertama yang memberikan like," sahut Chanyeol lagi merasa tersindir.
Ketiga pria tersebut segara kembali ke kamar inap Kyungsoo untuk mengantarnya pulang. Namun sekembalinya kesana, Kyungsoo sudah bersama Luhan. Sepertinya Luhan baru saja menampar pipi Kyungsoo karena tamparan bekas Jongin kemarin sudah sedikit menghilang. Kini pipi Kyungsoo kembali memerah lagi cap tangan.
"Apa yang kau lakukan disini, Lu? Bukankah keluargamu sudah aman dan appaku sudah mengirimu tiket?" tanya Sehun setengah berteriak.
"Hunnie!" cicit Luhan.
"Kyungsoo sedang sakit sekarang. Lebih baik pergilah jika tujuanmu kesini hanya memaki. Dan jangan datang kepernikahanku.." ucap Sehun dingin.
"Hunnie, kau mencintaiku bukan? Kenapa kau memilih Kyungsoo?"
Sehun menatap dalam ke mata Luhan."Kau sudah memilih menyelamatkan keluargamu padahal kau hanya perlu menunggu sedikit lagi maka aku dapat memepertahankamu dan menyelamatkan keluargamu. Tapi kau bilang kau sudah tak kuat lagi...yasudah, ini akhir hubungan kita."
"Seharusnya kau berterima kasih ke Kyungsoo. Akibat permintaanmu itu, Kyungsoo harus menerima perjodohannya denganku. Karena syarat appaku menyelamatkan keluargamu adalah aku harus menikahi Kyungsoo. Aku tidak masalah punya istri seperti Kyungsoo, tapi Kyungsoo... Kyungsoo punya orang yang ia cintai, bukankah tidak adil untuknya?"
"Dan asal kau tau Nona Xi...orang yang dicintai Kyungsoo adalah pria yang kau ajak bercium mesra di apartemennya." Sehun berhenti untuk menelan ludahnya kasar.
"Saat itu pun kau masih jadi kekasihku. Jika tak ada urusan lagi, kupersilahkan keluar Nona Xi Luhan!" usir Sehun secara halus. Sebenarnya Sehun tak tega mengatakan ini semua karena dulu dirinya juga sering bermesraan dengan wanita lain, jadi dirinya tak berhak marah.
Sehun memilih mengabaikan Luhan beralih membantu Kyungsoo duduk di kursi rodanya. Chanyeol dan Suho hanya bisa berdiri disana sebagai penonton. Mereka berdua sadar diri hanya sebagai figuran dalam adegan ini. "Mungkin sebaiknya kita tidak usah punya kekasih saja, Chanyeol-ssi, " usul Suho pada Chanyeol. "Kau saja, aku masih suka penis daripada dildo." balas Chanyeol asal dan berhasil membuat Suho melotot tajam.
.
.
.
Kyungsoo memasukan semua uang ke tiga koper besar. Inilah harinya, bahkan Kyungsoo sudah membuat surat bermaterai yang harus Kris tanda tangani sebagai bukti kepemilikan lahan. Kali ini Kyungsoo berada di apartemennya bersama Sehun, pria berwajah datar itu ikut memasukan beberapa uang ke dalam koper. Ia tak bertanya lebih lanjut, hanya menanyakan apa yang bisa ia bantu lagi.
"Luhan sudah kembali ke China," ujar Kyungsoo.
"Aku tau," sahut Sehun singkat.
"Hun, kurasa kita menempuh jalan yang salah. Aku bukan orang yang cocok mendampingimu - "
Klik! Koper itu pun terkunci. Sehun menghela nafas berat, "Chanyeol sudah menitipkanmu padaku. Bukankah Chanyeol temanmu paling dekat, dia percaya padaku. Aku harus menghargai kepercayaannya."
"Sehun!" tegur Kyungsoo. Bagaimana bisa hanya karena ada orang yang menitipkannya, lalu ia menurut saja.
Sehun menghempaskan dirinya duduk di sofa. "Pernikahan bukan melulu soal cinta saja. Asal seseorang mau berkomitmen hidup bersama dan saling mengharagi satu sama lain, kurasa itu sudah cukup. Kau pun kurasa juga berpandangan seperti itu, Kyung!"
Kyungsoo mengangguk membenarkan. "Tapi kau dan Luhan saling mencintai. Seharusnya kalian selalu bersama, punya anak yang manis seperti Luhan atau dingin sepertimu," gurau Kyungsoo.
Sehun tertawa renyah, "Ya Tuhan kita sudah sedekat ini kau masih menganggapku dingin. Jika semua orang yang mencintai selalu bersama, hyungku sudah jadi arwah sekarang, "
"...Dan walaupun nanti aku tak bisa punya anak semanis seperti Luhan, setidaknya aku yakin dia akan jadi anak yang pemberani. Tidak tampan sepertiku juga tak masalah. Anak kucing di jalan kau pungut jadi anakmu pun juga tak masalah, " lanjutnya.
"Arraseo... Arraseo... Aku hanya berpikir apa appa-mu sampai disini saja mengusik Luhan? Kudengar keluarga kekasih Suho-ssi saja sampai di bunuh semuanya. Firasatku mengatakan Luhan masih belum baik-baik saja sekarang. Jangan lengah, Sehun!"
Sehun berpikir sesaat, perkataan Kyungsoo ada benarnya. Tapi Kyungsoo membutuhkannya sekarang, sudah banyak berita miring tentangnya. Chanyeol juga tak bisa apa-apa lagi sekarang.
Kyungsoo membereskan semua kopernya dan menaruhnya di sudut ruangan."Tolong apa pun yang Chanyeol katakan padamu, seburuk apa pun nasib yang kuterima nanti. Tolong jangan membuatmu memilih jalan yang salah. Aku lebih kuat dari yang kau kira, jangan mengkhawatirkanku. Aku akan ikut senang jika kau juga hidup bahagia."
"Kyung, k-kau.. "
Kyungsoo menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, aku tidak tau apa-apa. Aku hanya merasa Chanyeol mengatakan sesuatu padamu, yang tidak ku ketahui dan itu menjadi beban moral untukmu."
"Pikiran ucapanku itu nanti saja. Sekarang anak-anak membutuhkan kita untuk segera diselamatkan dari si tonggos Wu Kris !"
"Tonggos-tonggos begitu dia cukup tampan, Kyung! Tanyakan saja pada Chanyeol, dia pasti setuju denganku."
"Aahh... Semoga Chanyeol tak memilih pacar semengerikan dia. Lebih baik dengan hyungmu saja, "
"Hyungku masih lurus, ngomong-ngomong."
"Ups... Maaf!"
TBC
(Mumpung ada sinyal saya post sekalian )
Khusus kali ini aja ya
