Chapter 11
Langit telah mengenakan jubah bintangnya dan bulan telah menampakkan diri di tengah ribuan kemilau bintang. Angin malam berhembus, mengelilingi penjuru Sanctuary, membawa pergi sisa-sisa keriuhan sore. Malam itu, Sanctuary kembali menjalani rutinitasnya. Rea menatap Sanctuary dari puncak bukit dekat pintu masuk menuju Sanctuary.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu di Colosseum tadi? Tentang, ketidaktakutanmu terhadap kematian?"
"Sejujurnya, Shion. Aku tidak takut bukan karena telah ribuan kali aku melihat nyawa menghilang. Tapi juga karena aku telah mengalaminya puluhan ribu kali."
Kemudian, ia menatap Sanctuary lekat-lekat.
"Dan bila hari itu tiba, aku tak layak mendapatkan ratap tangis kalian, para saint. Karena aku bukanlah bagian dari kalian. Aku telah membuat kalian menderita dengan keputusan yang aku pilih dan aku telah menipu kalian. Dan aku pun tak menerima teriak permohonan kalian untuk mengubah keputusanku atas caraku mengakhiri hidupku".
Angin malam kembali berhembus dan awan gelap mulai menghiasi langit.
"Huh? Perasaan apa ini?" Rea menatap langit dalam diam. Bulan pun mulai bersembunyi di balik awan secara perlahan. Sebuah perasaan yang tak asing menghampiri Rea. "Huh? Cosmo ini.. Mungkinkah keduanya akan bangkit?" Bulan sedikit demi sedikit menampakkan diri kembali dari balik awan. "Tidak. Tidak mungkin secepat ini mereka bangkit. Bahkan 'ia' pun belum menunjukkan pergerakannya. Tapi-.." Rea kembali menatap Sanctuary, kemudian ia menghela nafas. "Zaman ini berbeda dengan 200 tahun yang lalu. Aku tak bisa menganggap peristiwa yang sama akan terulang kembali. Setidaknya, dapat kuasumsikan zaman ini nampak lebih mudah dari 200 tahun yang lalu. Aku harus memastikan intuisiku ini". Rea mulai melangkah menuju Sanctuary. "Aku harus memberitahu Shion setidaknya".
"Hhhaaa… Lelah sekali.. Ternyata Sanctuary sangat luas ya.."
"Hahaha.. Iya. Dan masih banyak bagiannya yang belum kami tunjukkan kepada kalian. Untuk hari ini, sampai di sini dulu. Akan kami tunjukkan kuil-kuil kalian sehingga kalian bisa beristirahat".
"Baiklah.. Terima kasih, Aiolos, Saga.."
"Sama-sama.. Ayo.."
"Hheehh.. Punggungku rasanya mau patah..", ujar Deathmask sambal merenggangkan tubuhnya.
"Jangan melebih-lebihkan keadaanmu, Deathmask..", sahut Shura.
"Ehhh.. Aku serius, Shura..! Aku tidak melebih-lebihkan keadaanku ini.."
"Hahaha.. Mau dikata apa.. Kau mendapatkan lawan ujian yang sulit".
"Tuh kan.. Saga saja berkata begitu.. Berarti, rasa lelahku ini tidak dibuat-buat.."
"Terserah.."
"Omong-omong.., apakah kalian berdua pernah melawan Rea?"
Sontak, pertanyaan yang dilontarkan Aphrodite membuat Aiolos dan Saga menghentikan langkah mereka.
"Eemm.. Tidak pernah. Kami hanya pernah diminta Pope untuk melatih dia tapi dia jarang sekali hadir dalam latihan. Dapat dikata, selama dua tahun dia berada di sini, hanya sekitar satu bulan dia hadir saat latihan".
"Heh?! Uso da!* Lalu.., dari mana dia memiliki kekuatan seperti itu kalau dia jarang mengikuti latihan?!"
"Entahlah. Kami pun tak tahu. Karena, Pope juga membiarkan dia untuk tidak mengikuti latihan".
Aiolos merasakan pergerakan ke arah Kuil Aries, sontak ia memalingkan wajah ke arah pergerakan itu.
"Eeh?! Rea!"
"Hhhmm? Aiolos?"
"Hhhuueeehhhh!"
"Eehh.. Dia tidak mendengar apa yang kita bahas kan..?", bisik Aphrodite kepada Shura dan Deathmask.
"Entahlah.. Semoga saja tidak".
"Dari mana saja kau? Aku tak melihatmu seharian", tanya Aiolos seraya menghampiri Rea.
"Bukan urusanmu".
"Hhmm.. Omong-omong, Deathmask ingin mengucapkan terima kasih padamu".
Rea melirik Deathmask dari balik pundak Aiolos.
"Hmph.. Kuucapkan selamat kepada kalian bertiga", ujarnya seraya melanjutkan langkahnya.
"Kau mau ke mana?"
"Bukan urusan kalian", balas Rea.
"Aahh.. Kau sudah kembali?", sambut Shion ketika melihat Rea.
"Aku sudah memberikannya jawaban".
"Lalu? Apa katanya?"
"Tak ada jawaban darinya. Kuanggap, dia tidak mengurusi keputusanku".
"Hhhmm.. Dingin sekali kau terhadap ayahmu? Aku tau kau kesal terhadap dia dan dia bukanlah dari pihak kami, tapi.., dia tetap saja ayahmu."
"Aku tidak peduli".
Shion pun menghela nafas. "Aku tak bisa memaksamu mengenai topik ini. Adakah hal lain yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
"Ada dua hal yang ingin kuselidiki".
"Eeehh? Ini.., suara Rea..?" Aiolos menghentikan niatnya untuk memasuki Pope Chamber begitu menndengar percakapan Rea dengan Shion. "Apa yang mereka bahas?"
"Dua hal?"
"Pertama, aku akan mengunjungi tempat yang tersegel itu. Aku harap, kau dapat memberitahuku secara pasti di mana tempat tersebut. Yang kedua, aku akan pergi ke tempat yang kuasumsikan sebagai gerbang menuju dunia itu yang berada di dunia manusia".
"Huh?"
"Baiklah.. Akan kutanyakan pada rekanku dulu mengenai tempat yang tersegel itu. Kapan kau akan berangkat?"
"Malam ini juga".
"Eehh.. Tidakkah kau beristirahat terlebih dahulu di sini? Kau baru saja menjadi lawan di ujian kelayakan kemudian pergi menemui ayahmu. Tidakkah kau lelah?"
"Sejak kapan aku dapat beristirahat?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Shion teringat akan sesuatu hal. "Aaahh.. Maaf, aku lupa. Mimpi-mimpi buruk itu selalu mengganggu tidurmu".
"Mimpi buruk?"
"Kapan kau akan kembali?"
"Tidak dalam waktu dekat. Kemungkinan aku akan kembali bulan depan".
"Baiklah.. Berikan aku waktu untuk menghubungi rekanku itu. Akan kuberitahu padamu ketika aku menemukan jawabannya".
"Hhhmm.. Temui aku di tempat biasanya", ujar Rea seraya meninggalkan Pope Chamber.
"Eehh..? Dia akan keluar. Lebih baik aku bersembunyi". Kemudian Aiolos menuju ke salah satu pilar dan bersembunyi. Nampak Rea keluar dari Pope Chamber dan pergi menuju ke suatu tempat. "Ke mana dia akan pergi? Lalu, apa maksud dari yang ia bicarakan dengan Pope tadi?" Aiolos menatap Rea dari balik pilar. "Aku harus menyelidikinya. Aku sudah merasa heran dengan identitas aslinya semenjak ia tiba di Sanctuary dua tahun yang lalu. Semoga kali ini, aku mendapatkan informasi yang berguna".
"Huh? Tempat apa ini? Aku baru tahu kalau ada tempat tersembunyi seperti ini di Sanctuary".
Aiolos mengikuti Rea dan sampailah dia di sebuah tempat yang tak pernah disentuh maupun diketahui oleh para Saint. Tempat itu merupakan tempat yang tertutup, dikelilingi oleh dinding-dinding batu yang terjal dan tinggi. Tak heran bila tak seorang pun mengetahui tempat tersebut. Dan berkat kondisi tempat yang seperti itu pula, Aiolos menemukan tempat persembunyian yang tepat sehingga ia masih dapat melihat Rea tanpa diketahui olehnya.
"Apa yang dia lakukan di tempat seperti ini? Apakah selama ini dia selalu mengunjungi tempat ini?"
Kemudian, nampak sesosok perempuan berbalut aura biru muda di samping Rea.
"Eh? Siapa dia?"
"Hisashiburi* nee.., Rea-san.."
"Hisashiburi".
"Ada apa kau memanggilku lagi? Ada yang ingin kau ceritakan kepadaku?", tanya sosok biru muda itu dengan nada yang ceria.
"Hhhaahh.. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku akan mengikuti intuisiku untuk memastikan beberapa hal".
"Hhhmm..? Beberapa hal? Seperti?"
"Apakah 'mereka' sudah bangkit atau belum?"
"Heh? Cepat sekali?!"
"Aku masih belum tahu pasti apakah mereka sudah bangkit atau belum. Maka dari itu aku ingin memastikannya".
"Ooohh.. 'Mereka' tersegel dalam kotak itu bukan? Dan setahuku.., kotak itu juga diberikan label Athena.."
"Ya. Aku tahu. Aku hanya mendapatkan perasaan kalau sebentar lagi 'mereka' akan bangkit".
"Hhhmm… Begitu ya.."
"Maaf.. Aku hanya akan mengikuti intuisiku saja. Dan.., Holy War akan tetap terjadi seperti dahulu".
"Tidak apa. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Kita memang terlahir untuk mengambil andil dalam Holy War dan mempelajari tentang dunia manusia. Dan, kita tidak diharuskan untuk turut serta dalam Holy War hingga akhir. Malahan kita akan tiada sebelum Holy War berakhir".
"Huh? Sosok itu.., apakah sesosok roh..? Holy War..? Maksudnya, perang melawan Hades?"
"Aiolos? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ah! Pope Shion?!"
Shion menatap Aiolos kemudian menatap ke arah Rea dan sosok biru mudah tersebut.
"Kau membuntutinya?"
"…"
"Aku tahu, banyak di antara kalian yang penasaran dengan identitasnya", ujar Shion tanpa memalingkan tatapannya dari Rea. "Setiap 200 tahun sekali, akan lahir seorang seperti Rea, mereka yang mendapat karunia khusus. Mereka terlahir di dunia ini untuk menjalankan sebuah misi penting. Namun, sebelum menjalankan misi tersebut, mereka harus mengalami kehidupan seperti manusia biasa. Paling tidak kehidupan seperti kita para Saint". Kemudian, Shion menatap Aiolos kembali. "Kuharap kau dapat mengerti setelah kuberitahu identitasnya padamu".
Aiolos membalas tatapan Shion dengan tegang.
"Rea…, dia adalah-.."
*Uso da!?: serius!?(dalam konteks seperti di atas dpt diartikan sebagai: serius?!. dalam beberapa hal dapat diartikan: bohong atau bualan atau something like that)
*Hisashiburi: lama tak jumpa
