"Maknae! Berhenti main game! Ayo makan!"

"Maknae! Cepat bangun! Nanti kau terlambat sekolah!"

"Ya! Maknae! Pergi dari kamarku! Kerjaanmu hanya memberantak!"

"Cepat tidur, Maknae."

"Ya Tuhan… kenapa EXO harus memiliki maknae sepertinya."

"Itu milikku, Maknae!"

"Maknae!"

"Maknae!"

"Maknae!"

"Ugh…"

Kai merapatkan bantal yang menutupi kedua telinganya. Ia kesal dengan semua hyung dan noonanya yang selalu menganak-bawangkan dirinya. Mana enak, sih, selalu dijadikan anak bawang? Disuruh ini itu. Dimarahi seenak jidat. Makanya selama ini Kai selalu melawan dan menjelma menjadi evil maknae.

Berhenti berperlakukanku seperti anak kecil!

.

.

.

Kazuma House Production

proudly present…

.

.

.

Me Prometa

® 2013

.

.

.

"Kai, cepat habiskan sarapanmu," kata Kyungsoo.

Pagi ini dorm benar-benar sibuk. Semua member memiliki kegiatan masing-masing, bahkan Chanyeol, Kris, Xiumin, dan Luhan sudah menghilang sejak Kai bangun. Barusan Suho meninggalkan dorm. Bisa Kai lihat, Lay sedang memasukkan jaket ke dalam tas MCM-nya dan Kyungsoo mengikat tali sepatu. Mungkin hari ini hanya ia yang tidak punya jadwal sehingga ia bisa masuk sekolah.

"Jangan melamun!" hardik Lay saat gadis Changsa itu hendak mengambil minum. "Ayo, Kyung," ajaknya pada Kyungsoo yang baru selesai menyimpulkan pita di sepatunya.

Kyungsoo mengangguk. "Kai, kami pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu dan bawa kunci," pesannya sebelum benar-benar meninggalkan dorm.

"Hm…" gumam Kai meski ia yakin sekali Lay maupun Kyungsoo takkan mendengar.

Kai melirik jam dinding. Baru jam tujuh kurang sepuluh, masih ada waktu empat puluh menit sebelum bel sekolah berbunyi. Kai mengunyah sarapannya pelan-pelan. Ia sangat tidak mood makan pagi ini, mengingat ia hanya makan sendiri dan kejadian subuh tadi.

Kai menusuk-nusuk nasi di mangkuk dengan emosi. Memangnya kenapa kalau aku paling muda? Mereka selalu menganggapku anak kecil yang harus menurut pada mereka. Aku sudah besar. Januari tahun depan umurku sudah dua puluh tahun.

"Ya! Kai! Berhenti mengaduk-aduk makananmu seperti anak kecil!" seru Manager Hyung yang tiba-tiba masuk tanpa ia sadari.

Perempatan muncul di dahi Kai. Bahkan Manager Hyung pun menganggapku anak kecil, keluhnya dalam hati lalu menghabiskan semua lauk tanpa menyentuh nasi. Ia menenggak susunya lalu membuang nasi yang masih banyak dari mangkuknya dan membawa semua peralatan makannya ke tempat cuci piring.

"Ayo berangkat," kata Manager Hyung yang dari awal debut EXO selalu mengantar jemput Kai ke sekolah.

Kai memakai blazer kuning sekolahnya lalu menyambar tas nya. Ia mengikuti Manager Hyung turun ke basement. Van putih yang kemarin ia curi sudah siap. Ia langsung masuk dan menyamankan diri di kursi sebelah jendela. Kupingnya ia sumpal dengan earphone sementara matanya memandang ke luar.

Kai tidak terlalu memperhatikan sudah berapa lama ia duduk di mobil atau apa yang terjadi di luar sana. Tahu-tahu van putih itu sudah berhenti di depan gedung bertingkat enam warna merah bata, SOPA, sekolahnya. Kai segera memasukkan earphone dan ponselnya ke saku jas. Saat hendak turun, suara Manager menghentikannya.

"Nanti kau pulang jam lima, kan?" tanyanya.

Kai mengangguk. "Jemput saja di tempat biasa," katanya lalu turun dan menutup pintu mobil.

Seperti biasa, suara histeris nyaring langsung menyapa gendang telinganya. Kebanyakan dari para adik kelas tahun ajaran baru yang berteriak saat ia lewat. Mungkin karena Kai jarang masuk sekolah mengingat bagaimana sibuknya ia dengan EXO semenjak debut.

Kai berbelok ke kiri menuju lift di sudut barat sekolah, bagian dari SOPA yang jarang terjamah oleh para siswa-siswinya. Kebanyakan mereka menggunakan tangga dan lift di lobby utama. Tidak ada alasan khusus bagi Kai menggunakan lift ini karena ia sudah menggunakannya sejak tahun pertama bersekolah di sana, dua tahun sebelum debut.

"Tunggu!" seru seseorang saat pintu lift hampir tertutup.

Seorang namja berambut hitam segera masuk dan bersandar di salah satu dinding. Kai mengenalnya. Ia Sehun, teman sekelas dan sahabatnya. Mereka sudah lama kenal, namun sekarang jarang berhubungan. Lagi-lagi karena kesibukan Kai.

"Yo! Sudah lama tidak melihatmu," kata Kai menyapa Sehun.

Sehun memandanginya aneh. "Tumben kau bisa bangun. Tengah malam tadi kau ada di sana, kan? Bagaimana kau bisa bangun?" tanya Sehun ingin tahu. Setahunya Kai susah bangun. Sehun pernah beberapa kali menginap di rumah Kai. Lelaki berkulit hitam itu takkan bangun sebelum jam sepuluh kalau habis bergadang.

"Kalau kau tinggal bersama tujuh orang yang berlagak tua, kau akan tahu," kata Kai tanpa mau menjelaskan lebih jauh.

Bertepatan dengan itu, lift berbunyi dan pintu terbuka saat sampai di lantai lima. Kai dan Sehun berjalan bersebelahan sambil mengobrol ringan tentang materi pelajaran yang banyak Kai lewati.

.

.

.

.

.

Setelah Kai debut, semakin banyak orang yang mengaku sebagai temannya. Bahkan tak jarang mereka bertengkar karena memperebutkan posisi Kai sebagai teman siapa. Hal itu tidak hanya terjadi di kalangan anak laki-laki. Di lingkungan para siswi malah lebih parah. Setiap hari mereka berdandan, berlomba-lomba menarik perhatiannya.

Padahal sebelum debut hanya ada satu atau dua perempuan yang mendekati Kai. Teman pria Kai pun bisa dihitung dengan satu tangan. Salah satunya Sehun. Makanya istirahat Kai membiarkan Sehun menemaninya duduk menghabiskan makan siang di salah satu meja di bawah pohon trembesi dekat lapangan.

"Kau kenapa?" tanya Sehun dengan pipi menggelembung penuh makanan.

Kai menggeleng. Ia menyumpitkan tempura lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Hanya capek tiap hari latihan."

Sehun mengangguk-angguk. Sedikit banyak ia mengerti dengan apa yang Kai rasakan. "Kapan kalian comeback?"

"Rencananya bulan depan. Itupun kalau tidak ada masalah. Aku melihat lengan Kris Hyung biru semua setelah mempertahankan diri dari serangan perempuan itu. Perempuan itu siapa, sih? Kau mengenalnya? Dia ganas sekali. Aku sampai merinding melihatnya," kata Kai.

"Namanya Tao. Dari China. Aku juga tidak tahu dia bisa seperti gorilla lepas kandang. Tapi kalau kau sudah dekat dengannya, dia teman yang menyenangkan," kata Sehun.

"Kau menyukainya?" goda Kai.

Sehun menyeruput susunya. "Mana mungkin aku menyukai perempuan seperti itu. Mungkin aku akan menyukainya kalau di dunia ini hanya tinggal dia satu-satunya perempuan yang tersisa."

Kai tertawa sambil menonjok lengan Sehun main-main. "Jahat sekali, kau."

"Kau lebih jahat, Kkmajong. Menolak semua gadis di sekolah. Di angkatan kita saja ada sekitar tujuh puluh murid perempuan. Di kali tiga, berarti kau membuat dua ratus sepuluh perempuan di sekolah patah hati," balas Sehun. "Belum lagi senior-senior dulu."

"Mereka menyukaiku karena aku artis saja. Coba nanti setelah kau debut, mereka pasti lebih menyukaimu. Dulu saja dalam seminggu yang menyatakan cinta padamu ada tiga orang," kata Kai mengingat-ingat masa saat ia dan Sehun masih menjadi murid kelas sepuluh.

Sehun tidak bisa membalas karena yang dikatakan Kai adalah kenyataan.

"Pulang sekolah kau masih harus training, ya?" tanya Kai.

Sehun mengangguk. "Memangnya nanti kau tidak ada jadwal latihan?"

Sehun berdiri sambil membawa nampannya diikuti dengan Kai karena bel barusan berbunyi. Mereka harus segera kembali ke kelas mereka di lantai lima. Mereka mengantre bersama murid-murid lain untuk mengembalikan nampan ke dapur. Lalu mereka berjalan menuju lift yang biasa.

Mereka berjalan menuju kelas mereka di gedung utama setelah sampai di lantai lima. Setelah ini mereka punya jadwal kelas yang berbeda. Kai memiliki kelas menari, sedangkan Sehun memiliki kelas acting. Kai mengambil kaos dan celana training yang telah ia persiapkan.

"Pulang sekolah kau harus menemuiku!" pesan Kai sebelum kabur meninggalkan kelas dan Sehun yang sedang memegang satu jilid naskah.

Sehun jadi yakin, Kai memiliki masalah. Kalau tidak, Kai bisa jadi lebih rusuh hari ini.

.

.

.

.

.

Setelah Kai membawanya kabur dari sesi training, kini lelaki kulit tan itu malah menyodorkannya sekaleng soju. Jelas Sehun menolak. Mereka baru legal meminum soju tahun depan setelah usia mereka dua puluh tahun. Entah bagaimana cara Kai mendapatkannya, Sehun tidak mau tahu.

"Kau gila, Jong," kata Sehun berkomentar.

Kai tidak peduli dengan Sehun yang mewanti-wanti. Ia tetap meminum sojunya. "Aku benci pada mereka yang tiap hari menganggapku anak kecil! Akan kubuktikan pada mereka kalau aku sudah besar!"

Sehun menarik kaleng soju yang ada di tangan Kai lalu melemparnya ke Sungai Han yang ada di depan mereka. "Kau sudah mabuk!" kata Sehun, "kalau kau ada masalah, cerita. Bukannya mencoba mabuk! Ayo kuantar pulang ke dorm-mu!" kata Sehun yang mencoba mengalungkan tangan kiri Kai ke pundaknya namun ditepis.

"Aku tidak mungkin mabuk secepat itu, Oh Sehun. Aku bukan tipe one shoot seperti Lay Noona yang langsung mabuk saat disuguhkan secawan soju," ledek Kai sambil menyebut salah satu nama member EXO.

Sehun mendiamkan. Mungkin Kai baru ingin cerita, karena sejak tadi dia hanya diam. Mereka duduk di atas rerumputan tepi Sungai Han yang sepi. Langit sudah kemerahan, pertanda senja. Sudah sejak sejam lalu mereka kabur dari rutinitas harian mereka yang sangat melelahkan.

"Di dorm, aku selalu dipanggil Maknae. Ya memang aku maknae, tapi mereka kan bisa memanggilku dengan nama JongIn atau Kai. Aku lebih menghargai mereka memanggilku Kkamjong, daripada Maknae," keluh Kai. "Bahkan tadi subuh, Luhan Noona menyuruhku cepat pulang seperti aku ini bayi yang masih perlu tidur delapan jam."

"Kau memang butuh tidur, Kai," kata Sehun, "Luhan Noona tidak salah."

Kai mendengus. "Kau berkata begitu karena kau menyukainya. Coba saja kau menjadi aku yang bertemu dengannya tiap hari. Dia tidak ada manis-manisnya seperti yang semua fans katakan. Cuma tipe perempuan manja yang egois dan kekanakan."

Sehun tidak dapat membalas. Kai lebih mengenal Luhan dibandingkan dia. Jadi ia terima-terima saja saat idolanya dikatai seperti itu.

"Aku tidak mengerti apa yang fans lihat dari rusa jadi-jadian seperti dia." Kai menenggak soju dari kalengnya yang ke dua. "Mentang-mentang dia salah satu member tertua di EXO, dia seenaknya saja selalu mengataiku anak kecil. Xiumin Noona, Lay Noona, Kris Hyung, Suho Hyung, Chanyeol Hyung juga begitu."

"Kyungsoo Noona?" tanya Sehun mengira Kai lupa menyebutkannya.

Kai tertawa kecil sambil mengamati rumput di bawahnya. "Mungkin hanya dia yang tidak pernah memanggilku dengan sebutan Maknae. Itu pun kalau aku tidak salah ingat," kata Kai. "Tapi, entahlah. Mungkin dia juga menganggapku anak kecil seperti yang lain."

"Kyungsoo Noona pasti mengerti perasaanmu. Dia juga maknae, kan?" tanya Sehun sambil memandang siluet samping wajah Kai.

Lagi-lagi Kai hanya menyeringai kecil. "Mungkin. Siapa yang tahu?" tanya Kai acuh tak acuh. Wajahnya mulai memerah saat ia hendak membuka kaleng ketiganya. "Rasanya aku ingin membuka kedok sok innocent Si Rusa. Menyebarkan foto-foto gendut Si Mandoo. Mengatakan pada semua orang bahwa Suho Hyung dan Lay Noona berpacaran. Mengumumkan betapa brengseknya Chanyeol Hyung yang suka main perempuan. Dan betapa menggelikannya wajah dingin milik Kris, leader yang sama sekali tidak kukenal!" rancu Kai.

Sehun berusaha kembali menarik kaleng soju di tangan Kai dari pemiliknya. "Jong In, kau harus berhenti minum. Kau mabuk," kata Sehun lalu menumpahkan semua isi kaleng soju terakhir Kai agar temannya tidak minum lagi. "Akan kutelfon Chanyeol Hyung untuk menjemputmu." Sehun meraih ponselnya.

Tanpa berprikemanusiaan, Kai merampas ponsel Sehun lalu melemparnya ke Sungai Han sebagaimana tadi Sehun melempar kaleng sojunya. Sehun syok. Matanya melotot kaget. Itu adalah satu-satunya ponsel yang ia miliki. Mau beralasan apa ia pada orang tuanya? "Kau gila, JongIn!"

Kai tertawa. Dia benar-benar mabuk. "Untuk apa kau menelfon Si Tiang Brengsek yang mengaku-ngaku sebagai Happy Virus itu?" tanya Kai sambil memukul-mukul punggung Sehun kemudian berbaring di rumput sambil tertawa-tawa tidak jelas.

Sehun tidak bisa menoleransi Kai. Ia langsung menarik dan melingkarkan lengan kiri Kai ke pundaknya lalu membopong lelaki berkulit tan itu ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi yang kebetulan sedang melintas. Sehun tidak peduli pada Kai yang terus meronta minta dibiarkan saja di tepi sungai. Sekesal-kesalnya ia, mana mungkin ia melakukan hal itu? Ia menyuruh Sang Supir menuju gedung SM. Pasti ada member EXO yang sedang latihan atau setidaknya manager mereka pasti ada di sana.

Ia menyuruh supir taksi menunggu sebentar dan meninggalkan Kai di dalam sementara ia masuk ke dalam gedung perusahaan. Kebetulan sekali, ia bertemu Kyungsoo di lobby sedang menunggu van yang akan menjemputnya.

"Kyungsoo Noona!" panggilnya. Setelah jarak mereka dekat, ia membungkuk beberapa derajat.

"Ah, annyeonghaseyo. Kau siapa?" tanya Kyungsoo setelah balas bungkukkan badan. Kyungsoo dan ia memang tidak saling kenal.

"Aku Sehun, teman Kai. Sekarang Kai sedang mabuk," bisik Sehun, tidak mungkin ia membicarakan hal sensitif macam itu di tengah staff SM yang lalu-lalang di sekeliling mereka. "Sekarang dia masih ada di dalam taksi. Aku tidak mungkin membawanya keluar dari sana. Terlalu banyak fans di luar," jelas Sehun. Bias ia lihat mata Kyungsoo yang sudah bulat jadi semakin bulat seakan ingin keluar.

"Biar aku pulang ke dorm bersama Kai menggunakan taksi. Kau bisa pulang naik bus, kan?" tanya Kyungsoo. "Terima kasih sudah memberi tahu hal ini padaku, Sehun-sshi." Kyungsoo menunduk beberapa derajat dan dibalas Sehun dengan sedikit gugup.

Kyungsoo melangkah keluar. Benar seperti kata Sehun, banyak fans di luar. Kyungsoo berusaha tersenyum. Ia pun melihat taksi kuning yang sedang diparkir di pinggir jalan. Ia masuk ke dalam dan melihat Kai sedang tidak sadarkan diri. Ia menyuruh supir taksi menuju dorm mereka.

.

.

.

.

.

Ketika bangun, yang Kai rasakan hanya pusing dan mual. Ia langsung berlari menuju kamar mandi, memuntahkan semua yang ada di perutnya. Luhan yang mendengarnya dari ruang makan menyerngit jijik. Untungnya ia sudah selesai makan sejak tadi. Kalau sedang makan, mungkin ia akan melewati sarapannya.

"Dia pasti hangover," kata Chanyeol, "dia kan tidak pernah mabuk sebelumnya."

"Dia memang belum cukup umur untuk minum alkohol," kata Luhan. Gadis berambut pink itu melirik Kai yang sudah masuk ruang makan sambil menyeka bibirnya. "Masih kecil sudah berani mabuk. Kalau perusahaan tahu, kau bisa tamat."

Kai melirik Luhan sinis. "Berhenti menyebutku anak kecil."

"Kau memang anak kecil," balas Luhan cuek.

Kai langsung membanting sumpit, membuat suasana meja makan seketika mencekam. Enam pasang mata milik member EXO lain langsung mengarah padanya dan Luhan. Kai membalas tatapan itu satu per satu. Namun tatapan paling tajam ia lontarkan pada sepasang iris karamel Luhan yang sedang menatapnya datar.

"Kalian seenaknya saja menyebutku maknae dan anak kecil. Memangnya kenapa kalau aku maknae? Kenapa kalau aku yang paling muda di sini? Kalian tidak bisa seenaknya saja memerintahku ini-itu dan memanggilku Maknae. Panggil aku Kai!" seru Kai lantang. Emosi yang selalu ia tahan tak dapat lagi ia bendung.

Selapar-laparnya Kai sekarang, ia lebih mementingkan gengsinya. Ia meninggalkan meja makan tanpa sempat menyentuh makanannya. Ia menuju kamarnya untuk kembali tidur.

Lay dan Kyungsoo yang panik dengan perubahan mood maknae mereka. Kedua yeoja itu berjalan menuju kamar Kai dan Suho yang sudah ditutup Kai. Lay mengetuknya beberapa kali sebelum akhirnya masuk bersama Kyungsoo, diikuti Kris dan Suho di belakang. Chanyeol dan Xiumin menangkan Luhan yang ikut-ikutan emosi di ruang makan.

Kai berbaring sambil memeluk guling. Ia membelakangi para member sambil memainkan ponselnya, seakan tak mendengar mereka.

"Kai, kami minta maaf kalau selama ini kami memperlakukanmu seperti anak kecil," kata Lay dan tidak dijawab Kai.

Kyungsoo sudah duduk di pinggir ranjang. Sedikit banyak ia mengerti perasaan Kai karena Kyungsoo pun maknae di EXO-M. Meski Kyungsoo tidak merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh member lainnya. Kalau disebut imut dan seperti bayi oleh fans, itu sudah jadi makanannya sehari-hari.

"Kai," panggil Kyungsoo sambil menyentuh pundak namja itu. "… Benar apa yang dibilang Lay Eonnie, kami minta maaf kalau terlalu memperlakukanmu seperti anak kecil. Sekarang ayo makan. Kau belum makan sejak kemarin sore," bujuk gadis bermarga Do itu.

"Kalau kau ngambek seperti ini malah membuktikan pada kami kalau kau memang masih anak kecil," celetuk Kris. Pinggangnya langsung disikut Lay sementara Suho meninju lengannya. Ia pun meringis karena lengannya masih sakit sejak pertarung dengan Tao.

Kyungsoo memutar otak, apa yang harus ia lakukan untuk membuat Kai kembali menurut padanya. Ia mendapat ide. "Kai, kau bilang ada film yang ingin kau tonton, kan, minggu lalu? Ayo kita nonton berdua," ajak Kyungsoo dan langsung mendapat pelototan dari Kris. Bukan apa-apa, tapi kalau fans sampai tahu Kai dan Kyungsoo hanya pergi berdua, bisa-bisa rumor tidak sedap mengudara. Bukan tidak mungkin perusahaan akan mengambil langkah tegas untuk memisahkan mereka menjadi dua grup yang terpisah.

"Kurasa dia butuh waktu sendiri. Ayo sarapan, Kyung. Kita masih memiliki jadwal selain mengurusi dia," kata Kris dingin sambil menyuruh Kyungsoo untuk kembali ke ruang makan.

Benar apa kata Kris, mereka masih memiliki jadwal lain. Lay menarik tangan Kyungsoo untuk kembali ke ruang makan. Kai melirik mereka setelah ia ditinggal sendirian kemudian mendengus.

.

.

.

.

.

Sepertinya yang Kyungsoo janjikan, ia dan Kai pergi menonton film berdua. Mereka sengaja mengambil jadwal midnight show karena mereka berangkat dari dorm jam sembilan malam setelah latihan. Mungkin hanya Kyungsoo yang terlihat antusias, sedangkan Kai terlihat antara mau dan tidak.

Kai menyempatkan diri untuk menyambangi sebuah toko ponsel untuk membeli ponsel baru sebagai ganti ponsel Sehun yang ia buang ke Sungai Han. Ia membeli satu ponsel merk lokal keluaran terbaru. Sedikit mahal memang, tapi ini untuk temannya sekaligus permintaan maaf, ia rasa cukup setimpal.

Kai memperhatikan Kyungsoo. Gadis itu mengenakan tank top dilapisi baju basket dan rok mini warna hitam. Rambut panjangnya dikepang dua. Kyungsoo menggunakan helm merah muda di kepalanya. Terlihat aneh, namun itu membuatnya tidak dikenali.

Kai sendiri hanya memakai kaos Polo dan celana panjang. Ia mengenakan bando yang mengangkat semua poni di dahinya dan mengikat rambutnya yang mulai panjang. Kai hampir tidak pernah menggunakan rambut model ini kalau bukannya ingin keluar sendiri. Penyamarannya ini terbukti berhasil.

"Ini," Kyungsoo memberikan sebatang es rasa melon pada Kai.

"Terima kasih," kata Kai sambil mulai mengemut esnya.

Mereka berjalan berkeliling mall. Kyungsoo mulai bicara. "Kenapa waktu itu kau mabuk, Kai?"

Kai menunduk memperhatikan es-nya yang berwarna hijau susu. "Aku kesal selalu dianggap anak kecil. Terlebih Luhan Noona sering sekali mengataiku bocah dan Maknae."

"Tapi memang kau yang termuda, kan?" tanya Kyungsoo hati-hati berusaha menjaga perasaan Kai. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Pasti menyebalkan. Akupun pernah merasa seperti itu," Kyungsoo menepuk lengannya lembut, "bertindaklah sebagaimana kau ingin diperlakukan. Kalau mau dianggap dewasa, berperilakulah dewasa." Kyungsoo tersenyum manis.

Kai terpesona pada senyum Kyungsoo. Jantungnya dipaksa berpacu lebih cepat ketika dua mata bulat itu menyipit dan bibir tebal Kyungsoo melengkungkan senyum manis. Walaupun usia Kyungsoo hanya lebih tua setahun darinya, namun sikapnya sangat berbeda dengan hyungdeul dan noonadeul-nya yang lain. Kyungsoo jauh lebih dewasa di mata Kai daripada mereka semua.

"Kenapa kau mau repot-repot mengatakan hal ini, Noona? Bahkan Xiumin Noona pun tak mau menasehatiku sepertimu." Kai tertawa miris, "Mungkin karena dia sudah terlalu kesal dengan semua tingkahku selama ini, ya?" tanyanya sambil menerawang ke atas.

Mata Kyungsoo sudah kembali melebar, namun senyum belum sirna dari wajahnya. "Karena kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Neon… nae joahaneun namdongsaengieyo." Dapat Kai lihat pancaran mata Kyungsoo begitu jerni ketika mengatakan hal itu. Begitu tulus.

Kai meraih tangan Kyungsoo dan menggenggam jemari lentik Kyungsoo. "Noona, aku menyukaimu."

Kyungsoo kembali tersenyum. Mereka berjalan dengan Kyungsoo mengayunkan tangan mereka yang saling bertautan. "Aku juga menyukai Kai karena Kai adik lelaki kesayanganku." Mendengar hal itu, Kai langsung menghentikan langkahnya, membuat Kyungso ikut berhenti. "Ada apa?"

"Bukan itu, Noona. Aku sungguh-sungguh menyukaimu sebagai laki-laki pada perempuan. Bukan sebagai kakak dan adik," ucak Kai serius.

Lengkungan di wajah Kyungsoo perlahan berubah menjadi datar. Matanya kembali membulat selama beberapa saat. Tangan mereka masih bertautan karena Kai tak mau melepaskannya. Kyungsoo menunduk, menatap ujung flat shoes yang melapisi kakinya. Ia ragu untuk memandang wajah Kai.

"Noona…"

"Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu," kata Kyungsoo lalu mendongak menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. "Aku sudah menyukai orang lain."

"Begitu, ya?" bisik Kai lirih. Dunianya seakan berhenti berputar saat itu juga. Sebagian dirinya menyesal sudah mengatakan suka pada Kyungsoo. Kalau saja ia tidak mengatakannya, suasananya takkan menjadi canggung seperti ini.

Kyungsoo hanya berusaha jujur dengan tidak membalas perasaan Kai. Kalau ia membalas perasan Kai, ia bisa lebih menyakiti perasaan lelaki yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Lebih baik Kai sakit hati sekarang, daripada nanti membencinya karena sudah ia bohongi.

Kyungsoo menepuk-nepuk pundak bidang Kai. "Tapi aku akan terus menjadi kakak bagimu. Kau bisa cerita padaku kalau kau ada masalah. Atau pada temanmu yang bernama Sehun. Dia juga baik. Dia yang memberitahuku saat kau mabuk," kata Kyungsoo berusaha mengobati perasaan Kai. "Ayo masuk! filmnya sudah mau mulai."

Kyungsoo menarik tangan Kai menuju theater tiga.

Kai tidak bisa fokus pada apa yang ia tonton. Diam-diam selama film berlangsung Kai berkali-kali mencuri pandang ke arah Kyungsoo yang bahkan tidak berkedip memandang layar. Senyum miris terpantri di wajah Kai saat samar-samar ia melihat siluet wajah Kyungsoo.

.

.

Bagaimana kalau kubilang masalahku ada pada perasaan yang tak terbalas ini, Noona?

.

.

.

.

.

To Be Continue…

3.282 words

Karena saya bosen nyeritain KrisTao mulu, saya bikin side story ini. Hahaha… enggak, deng. Becanda. Ini memang bagian dari plot meskipun gak ada KrisTao maupun HunHan moment.

Ending-nya? Liat aja nanti. Hahaha…

Thanks to: KyuKi Yanagishita, Milky Andromeda, aiyu. Elfishypinocchiosuju, christalice, SiDer Tobat, jettaome, PrinceTae, fumiwari, Shim Yeonhae, chindrella cindy, evaliner, Guest, Jung Hyun Neul, vi, farahpark, ZiTao99, anykta, Kopi Luwak, dan semua yang sudah membaca, fave, alert. Arigato~

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

Finished at:

June 4, 2013

01.49 A.M.

Published at:

June 8, 2013

10.58 P.M.

Me Prometa © Kazuma House Production ® 2013