Chapter 11 :We Met Again
Title : That's Should Be Mine
Author : Davidrd
Chapter : Chapter 11
Pairing : Meanie
Genre : Angst, drama, romance
Note :
Happy reading dan mari berbaper-baper ria! Jangan lupa komen chingudeul!
.
.
Empat tahun kemudian
Jeon Wonwoo, super model asal Korea Selatan menggebrak dunia pertunjukan. Setelah fashion show empat tahun yang lalu, namanya langsung melejit dan berbagai tawaran iklan segera diperolehnya. Dalam waktu empat tahun juga, pemuda yang dikenal karena kepiawaiannya di dunia modeling itu menyimpan rasa untuk seseorang yang sekarang entah ada di mana.
Pemuda berwajah datar itu mendesah pada ruangan kamarnya yang serasa hampa. Entah kenapa selama empat tahun ini, orang itu masih terus-menerus ada di dalam pikirannya. Ia tidak bisa berpaling pada orang lain, bagaimanapun caranya. Ia merindukan setiap detail kehadirannya, setiap inchi bagian tubuhnya, setiap kehangatan yang ia berikan. Ia merindukan semua dari orang itu.
Dipandanginya figura foto yang terpampang di meja dengan perasaan merindu. Gambar dua pemuda yang terlihat sangat bahagia. Seorang yang lebih tinggi merangkulkan lengannya ke bahu Wonwoo dan tersenyum amat lebar ke kamera menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya.
"Mingyu, I miss you so much," ucap Wonwoo dengan lirih pada ruangan yang hampa.
Kring kriing
Handphone yang tergeletak di atas bedside table berbunyi dan mengagetkan Wonwoo yang sedang sibuk melamun. Diraihnya benda berwarna putih itu,"Yoboseyo."
"Wonwoo-ya, cepatlah ke rumah sakit!" suara panik Jihoon dari seberang saluran membuat sang model yang sedianya sedang memikirkan pria pujaannya turut panik,"Waegurae?"
"Soonyoung kecelakaan, segeralah kemari eoh?" Jihoon yang biasanya galak dan sering ngomel sekarang terdengar sedih dan suaranya seperti terisak-isak.
Tanpa berpikir dua kali, ia menyambar jaket, kunci mobil, dan dompet yang ada di atas kasur kemudian berlari keluar dari apartemennya. Jihoon dan Soonyoung yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandung memang menjadi prioritas bagi Wonwoo karena mereka berdua yang telah menjadi sahabat dan teman saat sang model jauh dari orangtua. Mereka selalu menghibur, menemani, dan membantu Wonwoo dalam segala hal, termasuk mencoba membantu Wonwoo melupakan Mingyu. Walaupun Wonwoo tidak tahu bahwa Jihoon-lah yang telah mengusir Mingyu (yah walaupun the arrogant model pergi juga karena kemauannya sendiri).
Sesampainya di rumah sakit, Wonwoo segera memarkirkan mobilnya di basement parkir dan beranjak menuju lobi rumah sakit. Kaki jenjang pria yang sekarang menjadi supermodel ini membawanya ke depan lift. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Wonwoo menelepon Jihoon untuk mengonfirmasi bangsal dan nomor kamar Soonyoung dirawat.
Wonwoo menghentakkan kakinya karena tidak sabar menunggu pintu lift terbuka. Dia sangat khawatir akan keadaan Soonyoung sekarang ini. Ketika pintu lift terbuka dia segera masuk dan memencet tombol lantai dimana Soonyoung dirawat.
"Ayolah, tidak tahukah kalau aku sedang khawatir seperti ini? Seharusnya lift ini bekerja lebih cepat," tanpa sadar Wonwoo menggerutu di dalam lift. Beruntung saja dia seorang diri, jika tidak betapa memalukannya kalau orang-orang melihat sisi kekanakan supermodel Jeon Wonwoo.
"Apakah semua persiapan sudah selesai Hansol-ssi?" tiba-tiba saja Wonwoo mendongakkan kepalanya dan mencari-cari asal suara itu. Suara yang diketahuinya dan akan selalu diingatnya di dalam hatinya, kapan pun dan dimana pun. Saat pintu lift hampir menutup, Wonwoo melihat dua orang berpakaian resmi berjalan keluar dari lift di sebelahnya. Betapa terkejutnya ketika dilihatnya pria yang berjalan di depan adalah pria yang selama ini dirindukannya. Refleks saja Wonwoo menahan pintu lift dan diambilnya langkah seribu untuk mengejar kedua pria yang sekarang hanya berada beberapa meter jauhnya.
.
.
Wonwoo POV
Apa aku tidak salah dengar? Apa aku sedang bermimpi sekarang? Suara itu, suara itu kenapa terdengar di saat seperti ini? Kenapa aku masih belum bisa melupakan Kim Mingyu? Kenapa aku sangat mencintainya seperti ini? Semuanya membuatku jadi gila.
Aku yang sedari tadi mengayunkan kaki kananku karena bosan menunggu lift yang tidak kunjung tertutup segera menghentikan kegiatanku. Kedua tanganku yang tadinya berada di dalam saku celana sekarang kukeluarkan karena aku ingin tahu siapa sebenarnya orang yang memiliki suara hampir sama dengan Kim Mingyu. Kudongakkan kepalaku dan kulihat ke luar lift dan betapa terkejutnya ketika dua orang pria berjalan keluar dari lift di sebelahku. Keduanya berpakaian rapi, mengenakan jas, berdasi dan sangat tegap. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah bahwa pria yang berjalan di depan adalah Kim Mingyu.
Jantungku rasanya berhenti berdegup saat mengetahui bahwa suara yang kudengar benar-benar berasal dari Mingyu. Betapa aku sangat ingin berteriak memanggil namanya. Tanpa sadar kedua tanganku menahan pintu lift yang hampir menutup dan bergegas melangkahkan kakiku ke arah kedua pria yang sudah tidak jauh dariku.
Tetapi tiba-tiba aku berhenti saat melihat seorang anak kecil juga berlari ke arah Mingyu dari arah berlawanan. Dan yang membuatku lebih kaget saat anak kecil itu berteriak,"APPAAAAA," dan Mingyu menyambutnya dengan hangat. Dia mengulurkan tangannya dan mengangkat anak kecil itu sambil tersenyum. Setelah diciumnya pipi chubby si anak, Mingyu menggendongnya di lengan kemudian membisikkan sesuatu di telinga anak itu.
Empat tahun sudah aku menunggu momen ini, momen dimana aku bisa kembali bertemu dengan orang yang selama ini selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Tapi, bukan ini yang kuharapkan seutuhnya. Benar, memang aku ingin sekali bertemu bahkan memeluk Mingyu, tapi tidak ketika dia bersama anaknya. Tidak, semuanya tidak benar. Bagaimana bisa dia meninggalkanku dan menikah dengan orang lain, bahkan sampai mempunyai anak.
Di dalam suratnya yang diberikan pada Seokmin dengan jelas dia mengatakan bahwa dia telah menjadi gay karena aku. Kenapa sekarang keadaannya menjadi begini. Aku selalu berharap bahwa saat aku kembali menemuinya, kami akan bisa hidup bahagia berdua, bukannya membuatku sedih begini.
"Wonwoo-ya!," seseorang memanggil namaku dan aku menoleh, membuatku bertatapan langsung dengan Jisoo hyung. "Why are you crying?" suara khawatir sang gitaris membuatku tersadar bahwa aku telah mematung di radius lima meter dari Mingyu dan anaknya, dan sekarang aku menangis tanpa sadar. What a pittiful sight.
"Ah, mwo?" kikuk karena tertangkap basah menangis di hall rumah sakit aku hanya bisa mengelak dan menunduk. Jisoo hyung yang berada di sebelahku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak mengerti apa yang terjadi padaku. "Hyung, mana Seokmin?" secepatnya aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar Jisoo hyung tidak menanyakan lebih lanjut tentang apa yang barusan dilihatnya.
"Oh, dia mengambil keranjang buah untuk Soonyoung di mobil. Dia menjadi pelupa sekarang ini, hm gejala penuaan," canda Jisoo.
"Hyung, bagaimana bisa kau menyebut pacarmu sendiri pelupa?"
"Biarkan saja, memang kenyataannya begitu kok. Oh ya, ayo ke kamar Soonyoung!" ajak hyungku yang super imut itu.
"Tapi Seokmin?"
"Dia bisa jalan ke sana sendiri. Dia kan bukan anak kecil."
"Siapa yang anak kecil?" si hidung mancung datang dan mengagetkan kami berdua membuat Jisoo hyung segera menutup mulut dan memasang tampang imutnya. "Aniya. Hm, itu kami sedang membicarakan tentang anak kecil itu," Jisoo hyung asal saja menunjukkan jarinya ke arah Mingyu dan anaknya. Kami semua menatap ke arah yang ditunjukkan dan Seokmin tercengang saat melihat pemandangan itu.
"He's back," walaupun lirih, tapi aku bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh pemuda tampan yang memiliki tatapan setajam elang ini.
"Nugu?" dengan polosnya Jisoo bertanya pada kekasihnya. "Aniya hyung, ayo kita segera ke kamar Soonyoung hyung. Jihoon hyung pasti sudah menunggu kita dari tadi," aku segera menyambar lengan dongsaengku yang super tinggi dan sedikit menyeretnya dari TKP. Aku tidak ingin Jisoo hyung tahu tentang hal ini, apalagi kalau sampai ia menceritakan kejadian ini pada Jihoon. Aku tahu kalau sahabatku yang sangat protektif terhadapku itu kurang suka terhadap Mingyu.
End of Wonwoo POV
.
.
Mingyu POV
Rumah sakit. Aku tidak pernah menyangka bahwa hal seperti ini terjadi dalam hidupku. Aku yang berniat untuk pergi dan tidak kembali ternyata harus kembali ke Seoul karena suatu alasan yang sudah tidak mungkin kupungkiri. Ayahku sekarat di rumah sakit. Ya, kata sekarat memang keterlaluan ketika digunakan untuk menggambarkan keadaannya, apalagi beliau adalah ayahku sendiri.
Suatu pagi saat aku sedang sibuk menyiapkan diri untuk berangkat kerja ibuku menelepon dan mengatakan kalau ayahku sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit. Ibuku menangis dan memintaku untuk pulang dan menemuinya. Dia khawatir kalau sampai ayahku meninggal aku tidak menemuinya. Ibuku berkata bahwa ayahku menyesal telah memperlakukanku seperti budak karena selama ini aku merasa tidak punya kebebasan. Beliau ingin memperbaiki hubungan kami, dan kedua orangtuaku juga sudah memaklumi perihal orientasi seksualku.
Jadi di sinilah aku setelah kembali dari Boston. Ibuku mengusulkanku untuk mengambil alih kendali perusahaan karena ayahku tidak mungkin melakukannya dengan keadaan yang demikian. Aku sekarang sadar bahwa apapun yang kulakukan aku masih punya keluarga dan mereka yang sangat berharap banyak padaku. Perusahaan ayahku sudah berdiri sejak kakek buyutku pertama mengembangkannya. Dari yang dulunya hanya perusahaan kecil hingga menjadi besar, bayangkan saja betapa banyak keringat, usaha dan kerja keras yang telah dilakukan. Dan karena sekarang aku adalah pengangguran tidak ada salahnya aku bekerja di perusahaan.
Hari ini aku menyempatkan waktu luang untuk menjenguk ayahku yang keadaannya semakin memburuk hari demi hari. Aku datang ke rumah sakit tidak sendirian, tetapi bersama sekretarisku, Choi Hansol. Walaupun kami hanya mengunjungi ayahku dalam waktu singkat, tapi aku merasa puas karena setidaknya ayahku bisa melihat anaknya menjadi penurut sebelum semuanya terlambat.
"APPAAAAA," teriakan seorang anak mengagetkanku yang baru saja keluar dari lift. Hansol yang berjalan di belakangku menghentikan langkahnya dan aku melihat ke depan tepat saat seorang anak berlari ke arahku. Hm, anak kecil itu adalah keponakanku. Dia anak dari sepupu jauhku Lee Chan. Dia sangat senang memanggilku appa, katanya appa lebih mudah untuk diucapkan daripada samchun.
Aku lekas menggendong Chan dan mencium pipi gembilnya yang selalu membuatku gemas. Dia benar-benar anak kecil yang lucu dan menggemaskan. "Orenmanida Chanie?" aku berkata padanya.
"Ne, appa. Ehem, umma told me not to call you appa again."
"Waegurae?" aku tersenyum melihat ekspresinya yang lucu seakan dia kehilangan mainan terbaiknya. "Umma said that people will think of you as my appa if I keep calling you appa. Huhuhu, should I call you samchun then?" matanya berkaca-kaca membuatku ingin tertawa sendiri melihat tingkat anak ini.
"Okay, maybe your umma is right. So call me samchun from now on Chan-ah. Your appa will be mad if he know that you are calling me appa."
"Ani, appa is a good people. Appa won't get mad at you samchun."
"Aha, there you are calling me samchun."
"Ooops, maybe samchun and umma is right. I'll call you samchun then dia memeluk leherku dengan erat membuatku sedikit terbatuk. "Uhm, mind to release your hand form my neck Chanie?"
"Uh?" dia sedikit bingung dan menatapku dengan mata bulatnya,"You choke me baby",dia tersenyum malu setelah mengerti alasan kenapa aku memintanya mengendorkan pelukannya.
Tiba-tiba saja makhluk mungil di lenganku diam tak bergerak. Hal itu membuatku khawatir dan segera kucubit pipinya untuk mengembalikan perhatiannya padaku. "Waegurae?"
"That uncle there, he is crying," ucapnya sambil menunjukkan jari mungilnya ke sesuatu di belakangku.
"Yah, jangan menunjuk-nunjuk begitu Chan-ah, tidak sopan!"
"Tapi, dia menangis. Paman yang ada di sana menangis," Chan kembali mencoba mempertahankan pendapatnya. Wah, anak ini benar-benar mirip dengan ibunya yang keras kepala. Aku menoleh untuk memastikan apakah yang dilihatnya adalah benar, namun yang kulihat hanyalah sesuatu yang membuatku shock. Di sana, berdirilah Wonwoo bersama dengan Jisoo hyung. Mereka berdiri membelakangiku sehingga kemungkinan untuk melihatku sangatlah kecil.
Segera kupalingkan wajahku dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Hansol yang sedari tadi diam saja sekarang terdengar khawatir,"Mingyu-ssi, something's wrong?"
"A-ani," aku menggelengkan kepala berusaha memastikan bahwa sekretarisku berhenti khawatir. "Kajja!" aku mengajak orang kepercayaanku itu keluar dari rumah sakit begitu aku mendengar suara Seokmin dan Jisoo. Aku tidak mau mereka tahu bahwa aku sudah kembali ke Seoul. Aku belum siap untuk kembali bertemu dengan mereka, terutama Wonwoo walaupun aku selalu memimpikan saat ini terjadi.
End of Mingyu POV
.
.
Malam setelah Wonwoo pulang dari rumah sakit, dia merebahkan badannya di kasur dan memejamkan matanya rapat-rapat. Bagaimanapun caranya ia mencoba untuk menghilangkan bayangan kejadian di hall rumah sakit, tetap saja bayangan itu kembali ke pikirannya, bahkan tiap detik dan tiap menit bayangan itu bertambah nyata dan jelas. Dia bisa mendengarkan suara Mingyu dan suara anak kecil yang memanggilnya appa itu.
Dia ingin berteriak, tapi tidak bisa. Dia ingin menangis, tapi rasanya menangis hanya akan membuatnya semakin sedih dan ia tidak mau tenggelam dalam kesedihan tak berujung yang hanya akan merugikan dirinya sendiri. Tidak ada yang akan peduli padanya, kecuali teman-teman dan keluarganya. Tapi, dia tidak ingin mereka mengasihaninya. Frustasi karena bayangan-bayangan itu bukannya menghilang, dibukanya matanya dan disambarnya kunci mobil yang baru beberapa saat lalu dilemparkannya ke atas kasur.
Wonwoo menghentikan mobilnya di tepian sungai Han dan menghela napas panjang sebelum memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Namun, tanpa disangka-sangka ketika ia baru saja keluar dari mobilnya, ia langsung beradu pandang dengan Kim Mingyu. Pemuda yang tengah berjalan-jalan itu menghentikan langkahnya dan membeku di tempat.
"Wonwoo," ujarnya lirih, sangat lirih bahkan jika orang yang diajak bicara tidak membuka lebar-lebar telinganya, kata itu tak bisa didengar.
"Mingyu," Wonwoo yang mendengar perkataan pria di hadapannya itu hanya bisa membeku. Tapi, bayangan Mingyu dan anaknya di hall rumah sakit kembali muncul di pikirannya seolah mengingatkan bahwa pria di hadapannya itu sudah mempunyai istri dan anak yang sedang menunggunya di rumah.
Wonwoo menggelengkan kepalanya seolah berusaha mengusir bayangan itu, namun usahanya gagal. Bahkan sekarang di telinganya terdengar seruan-seruan yang menyuruhnya pergi menjauh dari Mingyu. Dibukanya kembali pintu mobil dan sebelum sang model sempat masuk ke dalam Mingyu menarik tubuhnya dalam pelukan.
Mingyu memeluk tubuh Wonwoo erat. Dia tidak ingin melakukan kebodohan untuk kedua kalinya. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Dia hanya ingin Wonwoo. Dia ingin Wonwoo ada di dekapannya dan tidak lupa dia ingin menyatakan perasaannya dan permintaan maafnya secara langsung.
"Gyu, let me go!" Wonwoo berusaha memberontak dari dekapan Mingyu, tapi pemuda berambut hitam pekat yang pernah menjadi sunbaenya itu justru semakin mempererat pelukannya.
"Hyung, please let me say something," suara Mingyu yang terdengar lemah membuat Wonwoo mendongakkan kepalanya sehingga mereka kembali bertatapan. Betapa terkejutnya pemuda yang kini berambut kecoklatan itu ketika mengetahui mata pria di hadapannya berkaca-kaca menahan airmata.
"I'm sorry. Aku benar-benar menyesal dan ingin minta maaf," dia berucap pelan dan saat Wonwoo berhenti memberontak dilepaskannya dekapan itu membuat sebulir airmata jatuh di pipi Kim Mingyu.
"Gyu," tanpa sadar ibu jari Wonwoo mengusap air mata yang menetes di pipi mantan sunbaenya. "I'm sorry aku telah membuatmu menderita. Selama ini aku telah merampas kebahagianmu, aku telah menyiksamu lahir dan batin, fisik dan mental Wonwoo hyung," Mingyu menundukkan kepalanya saat mengakui semua perbuatannya. Dia merasa sangat kotor berada di dekat Wonwoo. Dia merasa dirinya sangat kecil di hadapan sang model.
"Gyu, it-it's okay. Gwaenchana," hati Wonwoo luluh saat melihat pria di hadapannya sangat hancur. Dia tidak pernah menyangkan bahwa Kim Mingyu menyesali semua perbuatannya secara langsung di hadapannya sekarang ini.
"Hyung, I deserve to die. If you wanna kill me, go ahead!" sekali lagi Mingyu berujar.
"Don't be stupid Gyu. You don't deserve to die. You deserve something better," Wonwoo berusaha menenangkan orang yang ingin dijumpainya selama empat tahun ini dengan memegang kedua tangannya.
"Did you forgive me? After what I did to you?"
"Ne, I forgive you," jawab Wonwoo membuat Mingyu tersentak dan langsung memandang mata sipit yang selalu terbayang di ingatannya,"for a long time agoGyu. Aku sudah memaafkanmu sejak lama," Wonwoo menambahkan.
"Gyu…I –I LOVE YOU."
TBC
Thanks for:
Mshynngts, Re-Panda68, mikiminee, sebut saja mawar, jeonwonyet, auliaMRQ, Ara94, nisaditta, 17MissCarat, Rlike, Nyanyanyanya, whiteplumm, Esca callahan, iamjcks, Hyunchaannn, fxznaexo, Khasabat04
Yang sudah meluangkan waktunya untuk sekedar komen. Sekali lagi gomawo.
