Disclaimer : Masashi Kishimoto
Makasih banyak buat yang udah review :
# RyunkaSanachikyu : ciiieeeeee yang reviewnya berapi-api banget ciiieeeee #apaan sih# kekekeke kan biar greget, impian semua cowok dibawah umur kan masuk club (survey dari mana luthor?) soal itachi…uhuhu sesungguhnya itachi itu nggak cinta makyuubi, soalnya dia cintanya sama author! Yeah, dilarang protes *digorok* makasih banyak semangatnya, makasih juga read reviewnya :D and salam kenal balik…
# Yamamoto : ah, makasih banyak semangatnya XD maaf update ngaret huueeee T.T makasih banyak read reviwanya ya :D
# Fujoshi Girl : ahaha uke dah mbak bro XD aku bales keduanya dah…btw, sankyuu buat read reviewnya :D
#diebleNoAngeloNero : ohohoho iya masama mbak bro XD fujoshi edan? Gak papa gak papa, karena author termasuk di dalamnya kakakakakaka #malah bangga# makasih banyak read reviewnya ya :D
Makasih juga buat yang udah log in : Ineedtohateyou/alta0sapphire/Uuvai yagami/mifta cinya/ ChukheNalu 4ev/ rylietha. kashiva/ URuRuBaek/ versetta/ putry. regina. 54/ zaladevita/ Dark Kitsune 9 makasih banyak read reviewnya :D
.
.
.
Chapter 12 : Tegami
.
.
.
"Gyaaa! Sasuke-teme! Itu jus milikku…!" raung si surai pirang sambil berusaha merebut segelas jus yang tengah diminum cowok bersurai hitam yang dipanggilnya Sasuke itu.
"Urusai Naruto-dobe, harusnya kau senang. Ini sama saja indirect kiss," balas Sasuke pada cowok pirang di hadapannya.
"Che, kan enakan yang direct kiss, sini kembali—…" seakan baru menyadari apa yang barusan dikatakannya, Naruto langsung terdiam dengan wajah yang langsung semerah kepiting rebus.
"Hoo…direct kiss eh?" seringai Sasuke, ia langsung mencondongkan wajahnya ke Naruto. "Dikabulkan."
"T-teme…ma-maksudku bukan…" Naruto memejamkan matanya erat untuk menerima ciuman Sasuke, tapi setelah beberapa saat, Naruto membuka matanya kembali karena Sasuke tak kunjung menciumnya. Begitu ia membuka mata, yang dilihatnya justru tatapan Sasuke mengarah ke tempat di belakangnya, Naruto mengikuti arah tatapan Sasuke dan mendapati Itachi tak begitu jauh dari mereka tampak sedang berbicara di telefon enah dengan siapa.
"Ne~ aku Cuma ingin tahu kabarmu, apa kau baik-baik saja?" terdengar ucapan Itachi meski tak begitu jelas. "Kyuu…" terdiam sejenak. "Telefon aku kalau kau menerima pesan ini," lanjutnya lalu menutup telefon, wajahnya terlihat sayu, hingga matanya menangkap bayangan Sasuke dan Naruto, ia tersenyum.
"Aw aw, sorry. Sepertinya aku mengganggu moment penting," cengirnya lalu kembali memasuki mansion.
"…" Sasuke tak merespon, lalu beralih bertanya pada Naruto setelah Itachi lenyap dari pandangannya. "Oi, Dobe. Dimana Kyuubi? Kurasa Itachi-nii sudah beberapa hari mencoba menghubunginya tapi—…" ucapan Sasuke terhenti saat melihat ekspresi manyun Naruto, ia mendesah lelah. "Kau ini," sentilnya pada hidung Naruto. "Segitunya ingin ciuman?"
Blush…
"Ha—Hah? Ap-apa maksudmu Teme! Seenaknya saja! Aku tidak—…"
Chuu…
Sasuke membungkam bibir Naruto dengan bibirnya, hanya sebuah ciuman ringan dan sesaat.
"Aku akan menciummu lagi kalau kau beritahu aku dimana Kyuubi," ucap Sasuke, tetap menjaga jarak antar wajah mereka begitu dekat.
"Si-siapa yang mau dicium lagi olehmu Teme!" Naruto menyingkirkan wajah Sasuke dengan tangannya.
"Soal Kyuubi?"
"Hng…" terdiam sesaat. "Entahlah…kurasa dia bertingkah aneh sejak kita pulang dari club waktu itu. Dia jadi tidak suka berbicara, dan…yeah, selalu terlihat murung. Tapi setiap kali kutannya kenapa dia jawab tidak apa-apa."
"Sekarang dia dimana?"
"Well, sebenarnya…kemarin dia sudah pulang. Maksudku, dia sudah pergi dari rumahku. Aku tidak tau dia pulang atau kemana, dia juga tidak memberitahu Kaa-san dan Tou-san, jadi kami kira ya paling dia pulang ke—…mmmnnhh…" Naruto tersentak saat tiba-tiba Sasuke menciumnya. Ya, kali ini sebuah ciuman basah. Ia melahap bibir Naruto dan mengusapnya dengan lidahnya yang hangat, hingga lidah Naruto menyambut ciumannya dan membawa mereka ke dalam ciuman yang lebih dalam.
~OoooOoooO~
Itachi baru saja mematikan handphone nya saat Sasuke memasuki kamar.
"Masih belum dapat kabar darinya?" tanya Sasuke dan duduk di tepi ranjang di mana Itachi berbaring dan bersandar di kepalanya.
"Yeah…" jawab Itachi singkat dan menutup majalah yang tengah dibacanya.
"Aku dapat alamat Kyuubi dari Dobe," Sasuke menyodorkan secarik kertas. "Sebaiknya kau kesana besok. Naruto bilang lusa Kyuubi akan pergi entah kemana karena dapat pekerjaan baru."
Itachi tampak mengerutkan dahi lalu menghela nafas. "Besok aku harus ke luar negeri."
"Hah?"
"Dokter menyarankan Kaa-san untuk dibawa ke rumah sakit di sana. Jadi untuk beberapa hari ke depan aku akan di sana menjaga Kaa-san."
"Chee! Lupakan saja! Memangnya wanita itu masih bisa sembuh? Kau harus lebih mementingkan Kyuubi!"
Itachi hanya tertawa lalu menyentil dahi Sasuke untuk kemudian berlalu ke kamar mandi. Sasuke terdiam menatap alamat Kyuubi.
"Well, mungkin aku saja yang kesana."
~OoooOoooO~
Sasuke menghentikan mobilnya di depan salah satu rumah di jajaran perumahan elite. Ia turun dari sana bersama Naruto. Naruto segera berlari ke gerbang dan menekan bell, beberapa saat kemudia seorang security menghampiri.
"Oh, Naruto-sama. Sudah lama tidak bertemu, silahkan masuk," sambutnya seraya membukakan gerbang.
"Hu um. Oia, Kyuu-nii ada?" tanya Naruto.
"Ah? Eh? Etto…beliau bilang beliau nggak ada. Bilang saja sedang ke peternakan atau apa begitu," jawab si security.
"Oh…gitu," jawab Naruto. "Gitu Sasuke. Gimana?"
Twitch!
Empat siku-siku muncul di kepala Sasuke dan matanya sudah menghitam di balik poni emo-nya.
"'dia bilang dia nggak ada' eh?" Sasuke mengulangi ucapan security itu.
"DASAR SECURITY BEGOO—…"
"ELU YANG BEGO! KELUAR CEPEETT!" omel Sasuke pada intercom dimana Kyuubi barusan mengomel pada security nya.
"Mau apa kau kesini!" omel Kyuubi masih lewat intercom.
"Che! Sopan sekali mengakal tamu mu bicara lewat benda macam ini!"
"Be-berisik! Kan aku sudah bilang aku mau ke peternakan! Cepat katakan maumu karena aku buru-buru."
"Peternakan eh? Baguslah, kita bisa ngobrol santai sambil menikmati semilir angin padang rumput."
"Huh? E—itu…argh! Sudahlah! Pulang sana!" sudah tak ada suara lagi, hingga beberapa saat kemudian sebuah motor melesat dari tempat parker dan melewati Sasuke seenaknya.
"Teme! Jangan kabur brengsek!" omel Sasuke dan segera memasuki mobil. "Ayo Dobe!"
"Wkwkwkwkwk," tawa Naruto seraya memasuki mobil dan memasang sabuk pengaman.
"Apanya yang lucu Dobe!" kesal Sasuke sambil menjalankan mobilnya.
"Baru kali ini aku mendengar ada Teme memanggil orang lain Teme wkwkwkwkwk," dan sebuah jitakan mendarat di kepala Naruto.
Sasuke memacu cepat mobilnya mengikuti jejak motor Kyuubi, dan tak berapa lama motor Kyuubi terlihat sudah tak begitu jauh. Sasuke menyeringai dan nyaris menginjak pedal gas nya makin kencang saat Naruto melarangnya dan malah menginjak pedal rem.
"Dobe! Apa yang—…"
"Teme, kalau jalan di peternakan hati-hati," ucap Naruto.
"Huh? Apa maksud—…" belum selesai ucapan Sasuke, ia sudah mengerti dan harus ber-sweatdrop-ria saat mendengar suara sapi dan beberapa detik kemudian serombongan sapi menyeberangi jalan.
"Jadi…benar-benar…peternakan eh?" ucap Sasuke datar yang mengira alasan Kyuubi tadi Cuma alasan yang dibuat-buat.
"Huh? Memangnya ada peternakan bohongan Teme?"
Twitch!
Sasuke Cuma kesal sendiri.
"Tapi ngomong-ngomong Dobe…" Sasuke menggeram. "KAPAN INI AKAN SELESAI!" omel Sasuke karena antrian sapi yang lewat tidak selesai-selesai juga.
"BHahahahahaha," Naruto malah tertawa.
Pim…Pim…!
Sasuke membunyikan klaksonnya, tapi yang ada malah sapi-sapi itu berhenti dan menatap ke arah mobil Sasuke, seolah bertanya-tanya benda apa yang barusan berbunyi itu.
"BWAHAHAHAHAHAHAHA," tawa Naruto makin kencang saja. "Sasu…hahaha…Sasuke…liha—…mmnh…" Naruto bungkam saat bibir Sasuke mengunci bibirnya.
"Diam Dobe, aku sedang kesal," bisik Sasuke dengan sebuah seringai tipis. "Atau…kau memang ingin dicium olehku eh?" dan tanpa Naruto menjawab, Sasuke sudah kembali menawan bibir Naruto dengan sebuah ciuman basah.
"Mnnhh…Sasu-ke…" lirih Naruto saat Sasuke melepas pagutannya, jarak antara merka masih begitu dekat. "Sepertinya…sapinya sudah pergi…"
Tapi Sasuke tak bereaksi, bukannya kembali pada kemudinya, entah sadar atau tidak, ia malah menggerakkan bibirnya untuk meraih leher Naruto. Naruto hanya bisa terbelalak saat ia merasakan sapuan bibir Sasuke di lehernya.
"Ahh…" ia mendesar diluar kesadarannya saat perlahan lidah basah Sasuke menyentuh kulit sensitifnya. "Sasu…nhh…" Naruto mendesah tak menentu saat Sasuke mengulum lehernya, sesekali menggigitnya pelan. "Sasu…henti—…"
Pim! Pim!
Suara klakson mobil membawa Sasuke kembali ke alam sadarnya, ia menarik bibirnya dari leher Naruto dengan buru-buru.
"Sorry…" ucap Sasuke dan kembali melajukan mobil, ia menutupi bibirnya dengan punggung tangan, dan bisa Naruto lihat pipi Sasuke sedikit memerah, sementara Naruto? Tentu saja ia masih merona hebat dan langsung memalingkan wajah, tak berani menatap Sasuke. Jantungnya saja masih berdegup begitu kencang sampai ia takut kalau Sasuke akan mendengar degupan jantungnya.
Mereka menuju peternakan milik Kyuubi—dengan arahan gugup dari Naruto—Sasuke memarkirkan mobilnya di halaman peternakan.
"Ah, Kyuubi-sama tadi ke padang rumput," ucap seseorang yang mereka tanyai. Mereka pun segera ke peternakan, melihat ke arah padang rumput luas dimana di sana sini terlihat banyak sapi yang tengah merumput.
"Ah, itu Kyuu-nii," ucap Naruto saat melihat seseorang yang tengah menunggang kuda sambil menggiring sapi-sapi supaya tidak merumput terlalu jauh. Sasuke nyaris saja melangkah kalau Naruto tak mencekal lengannya.
"Jangan bilang kau tidak bisa menunggang kuda," ejek Naruto seraya melirik kuda yang ditambat tak jauh dari mereka.
Twitch!
Sasuke pun segera menghampiri kuda itu diikuti Naruto yang nyengir nista, dia ingin lihat keahlian berkuda Sasuke. Tapi begitu sampai di dekat si kuda, Sasuke Cuma diam saja.
"Kenapa?" tanya Naruto.
Gh…
Sasuke tak menjawab. "K-kau duluan saja," ucapnya kemudian.
Naruto langsung nyengir nista. "Ow ow, ternyata Sasuke-sama ingin diberi contoh cara berkuda nih?"
"H-huh? Apa maksudmu eh? Aku Cuma memberimu kesempatan untuk duluan! Kalau tidak mau ya sudah," Sasuke menghampiri kuda itu lalu menaikkan satu kakinya ke pedal naik sehingga kuda yang akan dinaikinya agak terusik dan Sasuke agak panik karenanya.
"Pfftt…Hmph…!" Naruto tampak tengah menahan tawa. Sasuke Cuma bisa mendengus kesal lalu menaiki kudanya dengan kikuk, diikuti Naruto yang menaiki kuda satunya lagi dengan mulus.
"Ayo jalan!" semangat Naruto lalu menyentak tali kokang kuda nya, ia melaju dengan cepat. Sasuke mengikuti cara Naruto, tapi sepertinya ia menyentak terlalu keras dan…wwwuuusshh….! Kudanya melaju begitu cepat dan bahkan menyalip kuda Naruto.
Dari kejauhan, Kyuubi melihat Sasuke menghampirinya dengan kecepatan menggila, ia pun terbelalak dan segera memutar kudanya, tapi sebelum sempat menyentak maju, sapi-sapi menghalanginya sehingga ia tak bisa bergerak.
"Gyaah…ayolah…! Hush hush!" Kyuubi mencoba mengusir sapi-sapi itu tapi gagal, ia semakin panik saat kuda Sasuke sudah begitu dekat dengannya. "Hwaaa…bagaimana ini! Bagaima—…"
Wwuusshh…!
Krik!
Kalimat panik Kyuubi tak selesai saat kuda yang dinaiki Sasuke melesat melewatinya begitu saja.
"Kyuu-nii…" panggil Naruto seraya menghampiri Kyuubi.
"Hei, si bodoh itu kenapa?" tanya Kyuubi datar.
"Haha sepertinya dia belum pernah naik kuda, tapi keren juga langsung bisa melaju sekencang itu," cengir Naruto. Kyuubi langsung menatap horror dan tanpa kata menyentak kokang kudanya mengikuti Sasuke.
"Lho, Kyuu-nii? Kenapa? Mau balapan dengan Sasuke?" tanya Naruto seraya menyejajarkan laju kudanya dengan Kyuubi.
"Kau bilang dia belum pernah berkuda kan?"
"Hu um, dan dia sudah bisa melaju secepat itu. Bukannya hebat?"
"ITU NAMANYA KEHILANGAN KENDALI, DOBE!" omel Kyuubi.
"EEEEEHHHH…..?!" cengok Naruto seakan baru sadar.
"Kuso! Kalau dia mati bukan hanya peternakan ini yang disalahkan, tapi aku juga bakal dibunuh sama Itach—…" Kyuubi tak melanjutkan ucapannya begitu menyadari apa yang barusan akan dikatakannya. Ia menambah kecepatan kudanya dan berhasil memperpendek jarak kudanya dengan kuda Sasuke. "Oi, soko no teme! Tarik talinya supaya berhenti!" teriak Kyuubi. Ia melihat Sasuke malah menyentak tali kudanya. "BUKAN DISENTAK! DITARIK BEGO! DITARIIIKKK!"
Sasuke kali ini menarik tali kudanya, tapi karena mendadak, kuda itu pun berhenti dan bediri pada kedua kaki belakangnya sambil meringkik keras. Sementara Sasuke yang tidak siap langsung terjatuh dari punggung kuda.
"Cih!" Kyuubi segera menghentikan kudanya lalu turun dan menghampiri Sasuke yang kini pingsan. Ia menggendongnya ala bridal style lalu kembali menaiki kudanya.
"Kyuu-nii," panggil Naruto.
"Tidak apa-apa, kurasa dia Cuma pingsan karena shock, tidak ada luka serius. Ayo kembali ke peternakan," komando Kyuubi dan menghentak kudanya kembali diikuti Naruto.
"Ugh…" Sasuke membuka matanya lalu berusaha bangkit, beberapa bagian tubuhnya terasa perih, dan ia mendapati sikunya sudah dibalut perban putih, begitu juga dengan lutut kirinya. Ia melihat sekeliling, ia berada di bangku panjang di bawah salah satu pohon rindang samping peternakan. Angin semilir begitu sejuk disana.
"Ah, Sasuke…" dilihatnya Naruto menghampiri bersama Kyuubi sambil membawa sekeranjang buah dan beberapa botol susu.
"Yo," sapa Kyuubi pendek. Sasuke tak menjawab, hanya membiarkan Naruto dan Kyuubi mengambil tempat di sampingnya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Naruto.
"Hn…" gumam Sasuke seraya membetulkan kembali celananya yang digulung sampai lutut.
"Dasar nekat," cibir Kyuubi.
"Apaan sih Kyuu-nii, jangan mengejek Sasuke dong!" bela Naruto.
"Dan kau juga! Bisa-bisanya menyuruh dia berkuda. Ini bukan mainan Naruto."
"Hehe, habis sudah terbiasa dengan Sasuke-segala-bisa, jadi kukira yang ini juga tidak masalah," cengir Naruto.
"Cih! Lupakan saja," dengus Sasuke. "Kyuubi, soal Itachi—…"
"Ah, ini ada susu. Sebaiknya kau minum," potong Kyuubi.
"Oi! Aku tidak…"
"Juga ada buah-buahan. Aku mau mengurus sapi dulu, Naruto, temani dia ya…"
"Oi!" sentak Sasuke dan menarik lengan Kyuubi yang nyaris melangkah. "Berhenti menghindar, Teme!"
Kyuubi melepaskan tangan Sasuke dan kembali melangkah, sementara Sasuke beralih mengambil handphone nya dan meletakkannya di telinga. "Hallo, polisi. Aku mau melapor, peternakan—…"
"GYAAHHH!" Kyuubi langsung menghentikan aksi Sasuke. Ia menghela nafas lelah lalu duduk di akar pohon. "Jadi…apa?" tanyanya manyun tanpa melihat ke arah Sasuke.
"Kenapa kau sekarang menghindar darinya huh?" tanya Sasuke dan duduk di samping Kyuubi, membiarkan Naruto menikmati makanannya sendiri.
"Aku Cuma…butuh waktu sendiri," Kyuubi beralih memeluk lututnya.
"Butuh waktu? Memangnya apa masalah kalian? Maksudku, kukira hubungan kalian baik saja, kau saja yang tiba-tiba menghilang setelah dari club waktu itu."
"…baik-baik saja…eh?" gumamnya. "Yeah, memang. Dan terlalu baik-baik saja."
"…?"
"Ne~ Sasuke, kalau kau sedang berduaan dengan Naruto, apa yang kau lakukan?"
"…"
"Lalu…kalau kau berjalan berdampingan dengan Naruto…apa yang kau lakukan…?"
"…jadi maksudmu…"
"Yeah, walau kami pacaran, dia sama sekali tidak pernah memperlakukanku sebagai pacarnya. Dia memang baik, tapi perlakuan baik yang ia tujukan padaku itu, sama dengan perlakuan baiknya kepada semua orang. Aku jadi kesal sendiri, dan aku mulai berpikir kalau dia tidak menyukaiku dan punya seseorang yang dia sukai selain aku. Dan saat dugaan itu menguat, aku benar-benar marah padanya. Lalu…aku berpikir lagi, sejak awal memang akulah yang mengajaknya jadian tanpa pernah bertanya apa ada orang lain yang dia sukai. Saat aku memikirkan itu aku merasa kalau aku tidak berhak marah padanya."
"Kenapa tidak kau coba tanyakan langsung padanya?"
"Well…aku pernah memikirkan itu. Tapi, mungkin aku terlalu takut mendengar jawabannya, atau aku sendiri tidak tau apa yang ingin kudengar darinya sebagai jawaban."
"…lalu…apa yang kau maksud dengan 'saat dugaanku menguat'? apa yang membuatmu yakin kalau aniki memang memiliki orang lain yang disukainya?"
"…" Kyuubi tak menjawab.
"Oi!"
"Argh! Apa sih! Tentu saja kan, karena aniki-mu itu terlalu banyak penggemarnya," ucap Kyuubi seraya bangkit. "Sudahlah, aku sibuk. Kalau sudah tidak ada perlu silahkan pulang."
Sasuke Cuma bisa menghela nafas, lalu sebelum bangkit, ia menemukan lipatan kertas di sampingnya. Sepertinya terjatuh dari saku Kyuubi tadi, ia segera mengambil kertas itu sebelum Kyuubi menyadarinya, ia lalu menyembunyikannya di saku kemeja. "Dobe, ayo pulang," ucap Sasuke seraya bangkit.
"Argh, teme! Tapi aku belum selesai makan," manyun Naruto tapi menurut dan menghentikan makannya.
"Kami pulang dulu, maaf sudah merepotkan," ucap Sasuke.
"Yeah," jawab Kyuubi malas. "Tapi ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan sejak tadi."
"Hng…?"
"Hubungan kalian…sudah sejauh mana?" tanya Kyuubi sambil mengetuk lehernya sendiri sebagai tanda menunjuk sesuatu di leher Naruto. Naruto melirik lehernya dan langsung blushing berat mengingat kejadian tadi saat Sasuke menjilat lehernya.
"H-h-huh—…huh…ja-jangan bilang ada kissmark nya," gagap Naruto.
"Yare yare, baru jadian beberapa hari saja kalian sudah sampai ke tahap itu," goda Kyuubi.
"B-b-b-bu—bukan begitu Kyuu-nii…ta-ta-tadi…anoo…ituu…Sasuke! Bantu aku menjelaskan dong!"
"Huh? Memangnya apa Dobe? Aku memang memberikan tanda itu di lehermu kan? Jadi apa masalahnya?"
"Gyyaaaaa…..!" jerit Naruto sambil memegangi kepalanya. "Sasuke jahaaattt!" jeritnya lebay dan berlari pergi.
"Hhh…" Sasuke Cuma bisa mendesah lelah. "Aku pulang dulu," ucapnya seraya melangkah. "Oh ya satu lagi," ia menghentikan langkahnya. "Seandainya dugaanmu benar aniki memiliki orang lain yang ia sukai, tapi dia menerimamu menjadi pacarnya, bukankah itu artinya dia lebih memilihmu dari pada orang itu? Apa fakta itu saja belum cukup? Karena kalau aku…meskipun Naruto menyukai orang lain, asal dia menerimaku jadi pacarnya, aku akan terus menjalani hubunganku dengannya, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku dan membuatnya melupakan orang yang disukainya itu," ucap Sasuke lalu melangkah menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan.
~OoooOoooO~
Sasuke menghentikan mobilnya di depan rumah Sasuke, tapi untuk beberapa saat Naruto tak bergerak.
"Ada apa?" tanya Sasuke.
Naruto tak menatap Sasuke.
"Hng…?" Sasuke membelai lembut pipi Naruto, membuatnya merona.
"A-aku…ma-masih ingin bersama Sasuke," Naruto memberanikan diri.
"Yeah aku juga," ucap Sasuke. Tapi ia ingin tahu isi kertas tadi, dan sepertinya Naruto tak perlu tahu isinya. "Tapi aku ada urusan," ia mengecup pipi Naruto lembut. "Besok kan bisa ketemu di sekolah."
"Kalau di sekolah kan kita tidak bisa apa-apa!"
"Apanya yang tidak bisa? Itu kan kau saja, aku sih tidak masalah kalau semuanya tahu kita sudah jadian."
"Teme! Kau kan sudah janji! Kita akan merahasiakan hubungan kita."
"Oya? Aku tidak pernah janji tuh," jawab Sasuke santai.
"Ugh…pokoknya jangan sampai ada yang tahu. Nanti club kita…sekolah kita…"
"Iya iya cinta," ucap Sasuke lalu mengulum lembut bibir Naruto. Sebuah ciuman lembut yang tidak menuntut. "Aishiteru…" bisiknya.
Naruto Cuma bisa blushing, lalu dengan sedikit keberanian lebih, ia mengecup singkat bibir Sasuke sebelum keluar dari mobil dan berlari menuju rumah dengan wajah super merah. Sasuke tersenyum tipis lalu menyetir pulang, begitu sampai, ia langsung menuju kamarnya dan membating diri di ranjang. Itachi tidak ada, mungkin sudah pergi ke luar negeri mengantar Kaa-san-nya.
Diambilnya kertas tadi dari saku kemejanya, kertas itu sudah penuh selotip. Terlihat jelas kalau kertas itu sudah disobek menjadi ribuan keping tapi lalu disatukan kembali sebisanya. Pasti orang yang melakukannya benar-benar menganggap kertas itu berharga karena masih berusaha membuat kertas itu utuh kembali mengingat sobekannya yang tak terhitung. Sasuke mengernyit saat melihat kalau tulisan di kertas itu adalah tulisan tangan Itachi, ia membacanya…sebuah surat…ya, surat cinta. Surat cinta Itachi yang ditujukan untuk…
"Pain?" gumam Sasuke saat membaca kepada siapa surat itu ditujukan. Ia merasa pernah mendengar nama itu tapi ia lupa kapan dan dimana.
Sasuke lalu bergegas menghubungi Itachi. "Sedang senggang?" tanya Sasuke begitu telefonnya diangkat. "Tidak, hanya saja…ah, bisa kau online lewat skype?...Oke…" Sasuke lalu bergegas menyalakan laptopnya dan segera online melalui skype dan melakukan video call dengan Itachi.
"Ada apa?" tanya Itachi. Pemandangan di belakangnya adalah gedung rumah sakit.
"Well, mungkin kau mengenali ini," ucap Sasuke lalu menunjukkan surat tadi ke kamera.
Deg!
Ekspresi Itachi tampak terkejut, bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu tapi batal. Ia terdiam cukup lama. "Da-dari mana kau dapatkan itu?" tanyanya kemudian.
"Apa itu penting?"
"Tidak—…hanya saja…hanya saja…"
"…?"
"…hanya saja…surat itu harusnya sudah hancur sejak sudah sangat lama…" air mata tiba-tiba mengalir dari sudut mata Itachi. "Sorry…" ucapnya dengan suara bergetar, ia berusaha menutupi bibirnya yang gemetar itu dengan punggung tangan. "Tapi, serius Sasuke…dari mana kau dapatkan itu? Kenapa benda itu masih ada? Aku yakin dulu aku sudah…" suaranya terdengar parau. "sorry…" ucapnya sekali lagi sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
Sasuke terdiam untuk beberapa lama, ia mengingat ucapan Itachi tadi. "'Harusnya sudah hancur sejak sudah sangat lama', eh?" gumam Sasuke lalu menuju lemari dan mengobrak-abrik map untuk mencari album kenangan Itachi saat SMU. Ia mencari-cari nama 'Pain', tapi ia sama sekali tak menemukannya. Ia baru ingat kalau dulu Itachi mengikuti kelas akselerasi, jadi dari kelas satu langsung ke kelas tiga, jadi mungkin saja 'Pain' ini menjadi satu kelas di belakang Itachi. Sasuke pun Cuma bisa mendesah lelah, sekarang apa ia harus mengobrak-abrik dokumen sekolah SMU Itachi dulu hanya untuk menemukan 'Pain' ini?
Sasuke menumpuk kembali dokumen tadi ke dalam map lalu mengembalikannya ke lemari, hingga sebuah foto terselip keluar dari salah satu halamannya. Sasuke melihat foto itu, sekelompok remaja berseragam SMU, ia melihat aniki-nya di tengah, ia melihat wajah-wajah lainnya dan…Sasuke mengernyit saat merasa mengenali beberapa dari mereka. Cowok bersurai merah, cewek bersurai violet, dan…cowok bersurai jingga, sama seperti rambut Kyuubi. Sasuke tersentak, ia baru ingat kalau ia berpapasan dengan mereka di club waktu itu, dan dia baru ingat kalau cowok bersurai merah waktu itu memanggil si surai jingga dengan nama Pain.
"Baiklah, akan aku cari tahu," ucap Sasuke.
.
.
.
~To be Continue~
