Summary : Len, Rin, dan Miku mendapat surat aneh dari si Otaku Kepsek. Namun, disaat mereka membuka surat itu... semuanya menjadi gelap.
"Mondaiji Gakuen"
.
Disclaimer!
If I own Vocaloid, I wouldn't write this Fanfic.
.
Warning!
A marathon of typos, and a lot of it... maybe...
Jika Anda mendapati kata "*mbeek*" di Fic ini, itu adalah sensor!
Waspada lah!
Waspada lah!
.
.
Don't like? Must Like! Hahahaha...
#gue serius!
.
[ All in normal PoV ]
Sebelumnya di Mondaiji Gakuen...
Setelah kejadian menggemparkan antara Yui, Yuki, dan si Maõ-sama...
"O-Oke... Seperti nya hanya kau dan aku yang tersisa."
"Ke-kenapa? Kau takut?"
"Takut? Siapa bilang?"
"Jangan khawatir, setelah ini kau juga akan menyusul teman0teman mu ke "V.I.R"."
"Kau yang akan ku kirim ke "V.I.R"!"
TING
~SWOOOOSSSHHHHHHH~~
-0o0-
Ruang bawah tanah – Kelas X-G...
"Waw... ini di luar perkiraan." Ucap seorang cewek berambut hijau, Gumi alias Shadow Master.
"Tentu saja..." Respon seorang cowok berambut hitam dengan wajah tenang, Rei a.k.a. Dark Paladin.
"Tak ku sangka mereka bisa mengalahkan anggota kelas X-E." Ucap seorang cewek yang wajah nya mirip dengan Rei, hanya saja dia memakai empat jepit rambut berwarna hitam, dia bernama Rui alias Holy Paladin.
"Tapi yang perlu kita waspadai adalah para murid baru itu. Ku lihat mereka mempunyai kemampuan yang setara dengan kelas X-C." Ungkap seorang cowok berambut hijau, Gimuya a.k.a. Gumo. (Gumiya : kode nama gue 'elit' banget yak... -_-)
"Ke Bekasi, kau benar sekali siih~." Respon sang Ketua yang mengamati akhir dari pertarungan.
"Tapi, ada satu hal yang mengaggu pikiran ku Ketua." Lanjut Gumiya serius.
"Ke Jepang ikut sumo, apa itu Gumo?" tanya sang Ketua kelas X-G.
"Teknik pedang yang dilakukan oleh cewek yang bernama Yuka, sepertinya Aku pernah melihat nya." Ucap Gumiya yang terlihat berfikir dan mengingat-ingat kembali teknik pedang yang dilakukan oleh Yuka.
"Tentu saja, itu adalah teknik pedang dari Komunitas Mizuhashi yang dikenal dengan 'Hadõ no Mai (Dance of The Way of Destruction)'." Jelas sang Ketua.
"Benar juga, bukan kah nama keluarga nya juga Mizuhashi?" ucap/tanya Gumi yang menyadari teknik pedang Yuka.
"Tapi, bukan kah Komunitas Mizuhashi sudah punah?" tanya Gumiya dengan alis terangkat sebelah.
"Punah? Apa maksud mu?" tanya Gumi heran.
Dari informasi yang Gumi kumpulkan, Komunitas Mizuhashi adalah Komunitas yang terkenal hingga kawasan LP-#plak!
Selain karena teknik pedang mereka, Komunitas ini juga terkenal karena memiliki kekuatan unik di mata mereka, Ao no Sharingan (Copy Wheel Blue Eye).
Namun, hingga beberapa tahun yang lalu, tidak ada kabar lagi dari Komunitas Mizuhashi. Banyak yang menduga kalau mereka terlibat perang antara anggota Komunitas mereka sendiri hingga menyebabkan kepunahan. Ada juga yang menduga kalau mereka menyebar ke seluruh dunia agar keberadaan mereka terjaga.
"Apa kau pernah mendengar tentang "Mizuhashi Massacre"?" tanya Gumiya kepada adik nya.
Gumi mengangguk, "Iya, tapi itu hanya rumor kan?"
"Tidak." Jawab Dark Paladin yang dari tadi diam.
"Tidak?"
"Itu adalah cerita yang sebenar nya." Lanjut Dark Paladin.
"Tidak mungkin..." Ucap Gumi kaget sambil menutupi mulut nya.
"Kenyataan nya memang begitu." Ucap Holy Paladin yang ikut bicara.
Seperti Gumi, Rui juga sangat mengagumi Komunitas Mizuhashi. Dia bahkan sempat dilatih teknik pedang Hadõ no Mai oleh anggota Komunitas mereka. Tapi karena teknik ini berpusat pada 5 aspek utama yaitu kelincahan, kecepatan, kekuatan, hindaran, dan pertahanan, sedangkan Rui hanya bisa menggunakan tiga unsur pertama, dia tidak bisa menguasai teknik Hadõ no Mai.
"Kalau kau ingin mengetahui lebih banyak tentang "Mizuhashi Massacre", datanglah ke perpustakaan sekolah, lantai tiga. Cari bagian "Mizuhashi Clan" lalu cari buku yang berjudul "Ulangan Semester" dan baca chapter 23." Saran Holy Paladin.
Gumi menatap Rui tidak dengan ekspresi yang tak terjabarkan, lalu mengangguk.
"Tapi, sepertinya masih ada dua orang yang bertahan dari peristiwa itu." Ucap Gumiya.
"..." Sang Ketua diam di tempat, tapi dilihat dari raut wajah nya, terlihat kalau dia sedang berfikir atas semua kemungkinan kenapa ada dua orang yang selamat dari peristiwa itu.
"Kalau cewek itu memang anggota dari Komunitas Mmizuhashi, itu artinya-" Ucap Gumi tapi kakak nya memotong nya.
"-mereka bisa membangun lagi Komunitas itu." Lanjut Gumiya.
Semua anggota diam menyerap informasi yang baru saja mereka terima.
Dengan hadir nya dua orang dari Komunitas Mizuhashi, terlebih berlawanan jenis, mereka bisa memulai lagi kebangkitan Komunitas mereka, dan itu akan dan pasti mengganggu rencana mereka di masa depan.
"Apa mereka akan menghambat rencana kita, Ketua?" tanya Gumiya memecah keheningan.
"Untuk level skill mereka sekarang, mereka tidak akan menjadi hambatan untuk rencana kita." Jawab sang Ketua serius.
"Mizuhashi atau bukan, rencana kita akan tetap berjalan lancar. Kalau pun mereka mengganggu, itu bukan masalah." Ucap Dark Paladin tenang walau sebenarnya dia tersenyum gaje di pikiran nya.
Dari laporan yang dibaca nya (yang diterima nya dari sang Ketua), salah satu dari mereka berdua memiliki Ao no Sharingan dan mampu mengalahlan Ayah dari sang Ketua. Kalau dia bisa mengalahkan anak itu, Dark Paladin yakin kalau dia akan mendapat hadiah dari sang Ketua.
Yang tidak diketahui mereka adalah kalau mereka berdua (Yuki dan Yuka) memiliki Ao no Sharingan.
"Bagaimana menurut Ketua?" tanya Gumiya.
"Ke Bekasi, tidak masalah siih~." Jawab sang Ketua.
'Nih Ketua makin gaje SANGAT!'
-0o0-
Leon VS. Len, Rin, dan Piko...
TING
Zrash!
Slash!
*sha**sha**sha*
"Hah... ha..."
"Hah..."
Piko kembali menyerang Leon. Dia menebas dengan pola menyilang dengan kedua pisau nya. Leon juga menyerang dengan pola yang sama, tapi lebih banyak bertahan akibat serangan Piko yang entah kenapa lebih kuat dari sepuluh menit yang lalu.
Angka di atas kepala Leon menjadi 51 akibat tebasan di perut nya, sedangkan Piko hanya 1.
'Darimana dia punya kekuatan ini!' seru Leon di pikiran nya sambil mundur ke belakang dalam posisi bertahan.
Dia mengamati Piko yang kembali siap menyerang nya.
'Padahal tadi kita seimbang, tapi kenapa seka-'
"HYAAAAAAAAAAA!"
Pikiran Leon terhenti akibat teriakan Piko yang menerjang ke arah nya dengan cepat, memaksa nya untuk menghindar.
"Diam di tempat agar Aku bisa menebas mu!" seru Piko frustasi karena tidak ada satu pun serangan nya yang berhasil mengenai lawan nya yang dengan gesit menghindar.
"Ada apa Piko... sudah lelah kah?" ejek Leon dengan smirk di wajah nya.
"*mbeek* lu!" seru Piko marah dan menyerang Leon.
"Heh, emosi nya labil, sama seperti seorang BakAuthor yang menulis Fic ini." Ucap Leon pelan dalam-Eh? Wait a moment!
"HAAAAAAAA!"
Piko menusuk ke depan dengan pisau di tangan kanan nya, tapi Leon bertahan dengan memposisikan kedua tangan nya membentuk huruf "X".
Tapi yang tidak diperhatikan oleh Leon adalah kalau Piko menarik kembali tangan kanan nya, lalu menebas menggunakan tangan kiri. Menghancurkan pertahanan Leon yang tidak siap menerima serangan dadakan dari arah samping.
'Shi-' Leon berusaha menghindar tapi terlambat.
"HAAAAAAAAA!" teriak Piko sambil menusuk Leon dengan tangan kanan.
"GWAAAHH!"
Leon terdorong kebelakang oleh serangan Piko yang masih berlanjut. Angka di atas kepala nya naik drastis menjadi 61 dan terus bertambah tiap detik nya.
'Bleeding Effect!' batin Leon panik.
-0o0-
"Bleeding Effect", sebuah efek yang akan diterima oleh pemain yang menerima serangan kritikal secara terus menerus dalam waktu yang singkat.
Daripada mendapat "Critical Poin", pemain akan mengalami peningkatan poin secara terus menerus tiap detik nya hingga mencapai nilai maksimal yaitu 100.
Dalam hal ini, serangan yang dilakukan oleh Piko kepada Leon adalah serangan kritikal, namun karena Piko terus mendorong Leon dengan serangan nya tanpa mencabut pisau nya, serangan kritikal berubah menjadi efek "Bleeding".
Untuk mendapatkan serangan kritikal juga mudah. Kau hanya perlu menyerang di bagian yang paling sensitif di anatomi manusia, seperti hati, jantung, liver, dan *mbeek*-#plak!
Hal yang lucu adalah, bahwa tidak ada cara untuk menghentikan efek "Bleeding" ini. Jadi, pemain yang terkena efek ini hanya punya 2 pilihan.
Pertama, kalah akibat efek "Bleeding" yang pastinya akan berakhir di "V.I.R" bersama si banci jejadian. Kedua, menyerang lawan hingga dia menang.
Meski begitu, pilihan "Surrender" masih berlaku, namun kebanyakan ego para pemain lebih tinggi dari pada menerima kenyataan di depan mereka.
-0o0-
"AAAAHHH!" Piko terus mendorong Leon dengan serangan nya.
'Kalau terus begini Aku akan kalah!' Batin Leon panik.
Kemudian Leon mencengkram tangan kanan Piko menggunakan kedua tangan nya, lalu melompat dengan lincah ke atas dan menendang wajah Piko dengana mantab. Setidak nya itulah pikiran Leon, kalau saja Piko tidak menghindar lebih dulu dan mencabut pisau nya lalu melompat ke samping kiri.
"Hah... haha..." Leon bernafas lega, namun efek "Bleeding" masih berjalan.
Angka di atas kepala Leon menajdi 81 dan terus bertambah tiap detik nya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Leon menyerang Piko tanpa henti. Piko berusaha bertahan namun tak dapat menahan serangan Leon yang tiba-tiba lebih ganas dari sebelum nya.
Piko mendapat serangan di lengan kiri, perut bagian samping dan kaki kiri, lalu mendapat tendangan di dada nya, hingga terpental ke belakang 5 meter. Angka di atas kepala Piko menjadi 58.
"HAAAAAAAA!" teriak Leon yang melompat ke arah Piko dengan "Twin Fang"-nya yang siap menikam.
Tapi insting bertarung Piko memaksa nya untuk berguling ke samping kiri, lalu menggunakan tangan kiri sebagai penyeimbang, dia melompat ke belakang dengan kedua kaki nya.
Leon yang terkejut hanya menatap horor ketika Piko melompat ke belakang sambil melempar pisau di tangan kanan nya dengan kecepatan Mach 2 ke arah Leon.
Zleb!
"Heart Shot!" seru Piko dengan senyum gaje nya.
Leon menatap pisau berwarna putih yang menancap di hati nya. Angka di atas kepala nya menjadi 99 tapi akibat efek "Bleeding", se detik kemudian menjadi 100. Membuat nya "Killed in Action" a.k.a. "K.I.A".
'Aku... kalah...' Batin Leon yang jatuh ke tanah.
Beberapa saat kemudian muncul lah sebuah perberitahuan di atas langit Mondaiji Gakuen.
[ Congratulation! Winner : X-F Class! ]
[ Overall : ]
/ Akaito(X-E) Vs. Kaito(X-F) : Win - Kaito, Lose by "K.I.A" - Akaito
Mayu(X-E) Vs. Miki(X-F) : Win - Miki, Lose by "Surrender" - Mayu
Leon(X-E) Vs. Len(X-F), Rin(X-F), and help from Piko(X-F) : Win - Piko, Lose by "K.I.A" - Leon, Unable to battle - Len and Rin
Lily(X-E) Vs. Miku(X-F) and Yuka(X-F) : Win - Yuka, Lose by " " - Lily, Unable to battle - Miku
IA(X-E) Vs. Piko(X-F) : Win - Piko, Lose by "K.I.A" - IA
Yui(X-E) Vs. Yuki(X-F) : Both player "K.I.A" by force ofMaõ-sama /
Melihat Leon yang tumbang, Piko tersenyum lega dan berteriak, "YEAAHH!"
"AR Mode~ End~!" seru Ann-sensei yang melihat kalau pertarungan telah selesai.
Bersamaan dengan itu, keadaan lingkungan sekitar kembali normal.
""V.I.R"~~..." Sebuah suara seperti lagu penuh rasa 'cinta' dan 'kasih sayang' terdengar hingga penjuru sekolah.
Datanglah si Maõ-sama dengan senyum gaje nya lalu menyeret Leon dengan paksa.
'Hah... untung bukan Aku...' Batin Piko lega.
-0o0-
Ruang bawah tanah – Kelas X-G...
Semua yang menonton di ruangan itu hanya diam.
Dari Gumiya yang terlihat kaget dengan mulut membentuk huruf "O", Gumi yang terlihat antara kaget dan senang, Rui yang senyum-senyum gak jelas, Rei yang tanpa ekspresi, hingga sang Ketua yang bergumam gaje.
"Ke Bekasi, ini semakin menarik siih~."
Semuanya sweatdrop.
'Seperti nya mereka bisa menjadi ancaman terhadap rencana sang Ketua.' Batin Rui.
'Ini di luar perkiraan!' seru Gumiya dalam pikiran nya.
'…' Rei tetap diam namun terlihat kalau dia sedang berfikir keras.
'Len...' Gumi terlihat senang entah kenapa, Rui yang melihat ekspresi Gumi hanya tertawa kecil.
"Mereka lumayan." Ungkap Rei menghancurkan keheningan di ruangan itu.
"Aku setuju." Ucap Rui.
"Ya..." Lanjut Gumi.
"Tapi, dengan begitu mereka bisa menjadi ancaman terhadap rencana kita." Ucap Gumiya dengan serius.
"Apa yang kau takut kan Gumo? Apa kau takut dengan kelas X-F?" ejek Rui dengan senyum gaje di wajah nya.
"Tentu tidak!" seru Gumiya protes.
"Hoo... begitu, bagaimana kalau kau pergi ke kelas X-F dan menantang mereka untuk uji coba pertarungan, hmm?" tantang Rei dengan smirk di wajah nya.
"..." Gumiya tidak menjawab melainkan menatap Rei dengan tajam.
Gumiya ingin sekali menonjok wajah si Dark Paladin, tapi orang bodoh pun tahu kalau itu tindakan yang percuma.
"Ke Bekasi, kalian berdua bisa diam gak siih~!" tegur sang Ketua.
"Ke Bekasi! Ketua kok makin gaje SANGAT SIIIH~~!" seru keempat murid di depan nya kompak, membuat sang Ketua menutup kedua telinga nya.
"Tenang saja, mereka tidak akan mempengaruhi rencana kita. Selain itu, Aku sendiri yang akan membereskan mereka jika mereka ikut campur." Ucap sang Ketua dengan nada serius.
"Sampai waktu nya tiba," sang Ketua berdiri dari kursi mewah nya lalu berjalan ke arah ruangan khusus yang ada di ujung lorong, "My OWN goal will be accomplished." Gumam nya sangat pelan hingga tak ada yang mendengar nya.
Keempat murid yang masih duduk di meja pertemuan hanya diam, hingga satu per satu pergi meninggalkan ruangan itu.
'Aku harus melaporkan ini ke Hiyama-san!' Batin Rui pergi meninggalkan ruangan itu tanpa ekspresi.
'Sepertinya Holy Paladin merencanakan sesuatu-' Batin Rei sedikit curiga, namun segera hilang ketika Rui masuk ke ruangan yang sangat digemari oleh sang BakAuthor.
Yup! WC. :D #plak!
-0o0-
Ruang "V.I.R"...
Banyak yang penasaran terhadap isi dari ruangan ini, namun tak ada satu pun yang ingin tahu atau pun ingin memasuki ruangan 'terajaib' ini.
"Satu menit di ruangan ini sama dengan satu jam di luar sana, jadi nikmati waktu kalian, mwahahaha!" ucap sang Maõ-sama mengamati penghuni baru ruangan ini.
Akaito, IA, Leon, Lily, Yuki, dan Yui hanya diam di tempat dan berkonsentrasi.
Mereka berenam di paksa duduk dan mengerjakan soal untuk 'Remidi', katanya si Maõ-sama.
Tapi kenapa mereka berkeringat? :D
Oh Aku lupa bilang, mereka duduk di tengah-tengah ruangan dengan api biru yang mengelilingi mereka dalam bentuk lingkaran. Duduk di atas papan yang jika mereka menjawab soal dengan salah, papan itu akan terbuka dan memaksa mereka untuk 'berenang' di kolam yang berada tepat di bawah mereka.
Kalau pun itu kolam biasa, mereka tak akan takut, tapi kolam itu ada penghuninya.
"Oh, dan jangan mengganggu ikan-ikan 'kecil' ku, hweehehehee..." Ucap si Maõ-sama sambil makan terong bakar, menonton para murid nya yang sedang berkonsetrasi dan berkeringat dingin.
'Oke... itu hanya ikan-ikan 'kecil...' Batin IA dan Lily berusaha meyakinkan diri mereka.
'Kok aku merasa ada yang gaje di bawah sana ya...' Pikir Yui bingung.
'Aku rasa definisi dari 'kecil' itu sangat berbalik dengan kenyataan...' Pikir Yuki yang berusaha menjawab soal di depan nya. Kata kunci:berusaha, 'Dan soal macam apa ini! Bupati Mars? Emang gue alien apa!'
'I can smell fishes there, wait... is it sharks? Piranhas? Electric Eels! Oh my God...' Batin Akaito makin berkeringat.
"Guys, if you have any ill feel toward me, I'm sorry." Ucap Akaito dengan air mata anime, yang dijawab anggukan oleh kelima orang lain nya.
"Yea."
"Aku juga."
"Tidak apa."
"Sama."
"Ok~."
Kemudian Akaito menjawab sebuah soal.
TET
Sebuah lampu berwarna merah menyala, pertanda kalau jawaban salah.
Akaito hanya bisa bergumam, 'Great..' sebelum papan yang menyangga tempat duduk nya terbuka dan memaksa nya tercebur dan 'berenang' dengan kumpulan ikan-ikan 'kecil' di dalam kolam.
BYUR
Bzzrrrrrtttt
"GWAAAAAAAAAAHH!"
Terdengar teriakan yang bisa di dengar hingga ujung ruangan. Diikuti tawa maniak di pinggir kolam serta ucapan rasa kasihan dari lima remaja yang entah kapan mereka akan 'berenang' juga.
-0o0-
Kelas X-F...
Setelah insiden di ruang "V.I.R", para murid yang "K.I.A" (atau pun yang dipaksa) dikembalikan ke kelas mereka masing-masing, atau karena sekolah sudah berakhir, mereka bisa pulang kerumah.
BRAK
Pintu kelas di buka paksa oleh seorang blonde bermata unik.
"Eh Yuki~, bagimana 'liburan' mu bersama Maõ-sama~?" tanya Yuka happy-go-lucky dengan senyum manis di wajah nya.
Tidak, itu bukan pertanyaan, tapi lebih ke rasa simpati dan... terhibur?
"Gue dipaksa 'berenang' dengan ikan-ikan 'kecil'..." Ucap Yuki horor.
"Ahahaha~" tawa seluruh kelas.
Sebelum Yuki makin makin stres, Piko meletakkan tangan kanan nya di bahu kiri Yuki.
"Sabar bro, Aku mengalami hal yang lebih 'indah' dari yang kau alami." Ucap Piko dengan wajah 'I-know-what-you-feel-bro'.
Yuki hanya mengangguk. Sekarang Yuki mengerti kenapa Piko beruban.
'Sepertinya Aku harus membeli cat rambut jika hal itu terjadi pada ku...' Batin Yuki menangis ala anime.
"Yuki, boleh kami betanya sesuatu?" tanya Miki.
Yuki dan Piko duduk di bangku masing-masing, "Boleh, apa?"
"Apa benar kalau kau dan Yuka itu dari Komunitas Mizuhashi?" Tanya Miki.
"Uh, ya... kenapa?" tanya Yuki lagi walau dia tahu jawaban nya.
"Em... apa benar kalau Komunitas kalian telah punah?" tanya Miki pelan.
Pertanyaan Miki membuat perhatian semua murid (min. Yuka) teralih ke arah Yuki yang diam. Mereka ingin tahu apakah berita tentang "Mizuhashi Massacre" itu nyata atau hanya "cover story" belaka.
Yuki diam sebentar lalu menoleh ke arah Yuka. Yuka mengangguk sebagai jawaban atas percakapan rahasia mereka.
"Uh, ya... hehe. Tapi 90% benar dan 10% salah." Jawab Yuki.
"Maksud nya?"
"Komunitas kami memang sudah punah, tapi masih ada yang tersisa dari kejadian itu." Jawab Yuki santai.
"Siapa?" tanya Miki lagi.
Semuanya sweatdrop.
'Nih anak tertular ke-baka-an nya Kaito kayak nya...' Pikir mereka minus Kaito dan Miki yang hanya menatap teman-teman nya heran.
'Kok perasaan gue gak enak ya...' Batin Kaito yang tiba-tiba berkeringat.
"Tentu saja, Aku dan Yuki." Ucap Yuka memecah keheningan.
"Oh." Adalah respon 'cemerlang' dari Miki.
Pada hari itu mereka semua (Min. Kaito dan Miki) sepakat untuk mencari psikolog untuk memeriksa keadaan teman se kelas mereka, dan jika perlu membawa nya ke UGD (Unit Gaje Darurat) di RSJ (Rumah Sakit (gak) Jelas) terdekat.
BRAK
Pintu kelas kembali di buka paksa. Kali ini menampakkan sesosok karakter berambut merah muda se pinggang sambil membawa-eh, menyeret seorang? seekor? Entahlah, yang pasti makhluk itu berwarna ungu dan terlihat berwarna biru.
"Ok Mondaiji-samaaa!" teriak Luka-sensei di ujung pintu kelas.
"Hari ini kita akan merayakan kemenangan PERTAMA kalian. Oleh karena itu, ayo kita rayakan di rumah... nya BaKaito! YEY!" teriak sang Wali Kelas sambil melompat bahagia, melupakan kalau dia adalah seorang Guru dan Wali Kelas, diikuti gumaman gaje seperti 'Akhirnya anak-anak ku tumbuh besar' dan 'Tak sia-sia aku menjadi Wali Kelas' serta 'Nih Wali Kelas keracunan tuna kayak nya!'. :D
Kemudian semua murid dengan bahagia pergi ke rumah Kaito, dengan sang pemilik rumah yang memohon dengan SANGAT agar hidup nya dibebaskan dari cobaan Sang Tuhan. :D
T~B~C
.
A/N
Akhirnya pertarungan gaje antara kelas X-E dengan X-F selesai dengan X-F sebagai pemenang. Namun, ancaman baru datang dari kelas X-G. Mampu kah mereka menghadapi para murid spesial itu?
Until then...
"BakAuthor Technique : Log Out!"
Yuki : ARGGHHHHH! DIA KABUR LAGI! *teriak di monas*
Yuka : ahahaha~ :D
Yui : bales review yang gak login~, lain nya lewat PM~.
To yuki angel
Entahlah, ahahah~
Tenang aja, Aku punya obat penawar ke-banci-an kok~ XD
Yuki&Yuka : *sweatdrop*
Arigatõ~
To Guest
Yey juga~ XD
Yuki&Yuka : *sweatdrop*
OK sudah update~
Arigatõ~
To Ersya
Maõ-sama keren... gak kebayang... :D
Digabung aja, jadi "Setan Ganas Banci Terong Taman Lawang"-#ditebas
Yuki&Yuka : *sweatdrop*
Arigatõ~
To Mizuki
Hai juga~, Master sudah log out jadi aku yang menggantikan~ XD
Yuki&Yuka : *sweatdrop*
Ok~ sudah update~
Arigatõ~
Yui : Ok, sekarang... Omake TIME! YEY! *loncat-loncat gaje*
Yuki&Yuka : *makin sweatdrop*
Yui : kali ini dari... Pak Subur si Tukang Bubur~ :D
Yuki : oh! Aku ingat dia!
Yuka : yang peran nya hampir terlupakan kan? :D
Pak Subur : *pundung*
Yuka : eh?
Yui : Ok, Aku baca~
Omake by. Pak Subur si Tukang Bubur
Suasana tegang di ruang bawah tanah kelas X-G.
"Apa yang kau takut kan Gumo? Apa kau takut dengan kelas X-F?" ejek Rui dengan senyum gaje di wajah nya.
"Tentu tidak!" seru Gumiya protes.
"Hoo... begitu, bagaimana kalau kau pergi ke kelas X-F dan menantang mereka untuk uji coba pertarungan, hmm?" tantang Rei dengan smirk di wajah nya.
"..." Gumiya tidak menjawab melainkan menatap Rei dengan tajam.
Gumiya ingin sekali menonjok wajah si Dark Paladin, tapi orang bodoh pun tahu kalau itu tindakan yang percuma.
"Ke Bekasi, kalian berdua bisa diam gak siih~!" tegur sang Ketua.
"Ke Bekasi! Ketua kok makin gaje SANGAT SIIIH~~!" seru keempat murid di depan nya kompak, membuat sang Ketua menutup kedua telinga nya.
"Tenang saja, mereka tidak akan mempengaruhi rencana kita. Selain itu, Aku sendiri yang akan membereskan mereka jika mereka ikut campur." Ucap sang Ketua dengan nada serius.
"Sampai waktu nya tiba," sang Ketua berdiri dari kursi mewah nya lalu bertepuk dua kali, "Musik~~."
Kemudian muncul lah rombongan marawis berpakaian serba hijau dari alam gaje dan mulai memainkan alat musik mereka.
"Mari kita semua~ Menari! Menari! Menari!" seru sang Ketua sambil menari gaje.
"Tari ubur-ubur~ tari ubur-ubur~ tari ubur-ubur~ tari ubur-ubur~" Lanjut sang Ketua yang makin menari gaje di atas meja.
Keempat murid di depan nya makin sweatdrop.
'Dan mereka bilang kalau kelas ini spesial...' Batin mereka.
Omake End
All Chara : *sweatdrop*
Tukang Bubur : *senyum gaje*
Nova : *facepalm*
SeeU : see you in the next-
Sang Ketua : Tari ubur-ubur~ tari ubur-ubur~ tari-#dor!
SeeU : *fyuuh*, ada yang keberatan? *smile*
All Chara&Nova : *geleng kepala*
