Balasan Review:

Fic of Delusion
Kalau Delu-san kasian, kenapa gak Delu-san aja yang meluk Lyon? :v #peace

Viaaaagruvia
Boleh gak gamparnya pake kulkas? Biar beku sekalian :'v
Beneran baper? Ah, aku kurang yakin dengan chap 10 kemarin hiks. Tapi syukurlah! XD
Nah, Bagaimana Juvia membuat Gray jatuh cinta kembali? Heee, jawabannya RAHASIA! *ditendang Via.

NOVI
Silahkan timpuk, Naomi ikhlas sekaleee *tawa nista
Naomi tetap update kok, jadi tetap pantengin fic LT Naomi ini ya dan jangan lupa kasih semangat selalu ke author gaje ini. Hehe

DaneshaFir
Semoga setelah baca chap ini, Danesha jadi semakin kasian sama Juvia. :v
daaaaan please jangan teror Naomi hiks~

ROSIANA
Yosh! Pasti tetap update kok, daijoubu :)
Waaah, malah Naomi yang males makan kalau lagi nulis fic ini. Wkwkwkwk
Terima kasih semangatnya :3

DeaR
Juvia sama Lyon? Eum, boleh. Nanti Naomi pikirkan #smirk

Guest
Sudah dilanjut, selamat membaca~

L-2
Wuaaaah, kita senasib nih, Naomi juga jom.. Ah Lupakan! XD
Gapapa kok, yang penting tetap ngikutin fic ini aja, Naomi senang sekali. Terima kasih ya. Selamat membaca~


~ Based on Fairy Tail by Hiro Mashima ~

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pairing : Gray, Juvia

Rate : T

.

A Fairy Tail Fanfiction Story

-Lewat Telepon-

Chapter 12 : Model Berbandana Putih


Sebuah truk bermuatan semen baru saja memasuki kawasan gedung yang sedang dalam proses pembangunan. Badan besar bus itu membuat semua pekerja segera menyingkir dari mulut gerbang dan memilih tempat lain untuk melanjutkan istirahat selepas sarapan pagi mereka beberapa saat lalu. Bus yang mengangkut puluhan ton semen itu, kemudian menanggalkan diri setelah menurunkan beban beratnya. Dan disusul truk pengangkut muatan lain untuk masuk. Kegiatan riuh pikuk penuh abu dan berbahaya itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kuli bangunan, arsitek, sipil dan pekerja konstruksi bangunan. Terkecuali delapan orang mahasiswa teknik arsitektur beserta dosen pembimbing mereka yang saat ini tengah menatapi pekerjaan itu sambil menelan ludah. Yah, ini kali pertama bagi mereka terjun ke lapangan tempat pembangunan berlangsung. Biasanya para calon arsitek itu menghabiskan waktu dengan mengamati konstruksi bangunan, model, desain atau bangunan utuh lainnya. Tapi kali ini, mereka terjun untuk melihat langsung pekerjaan itu. Ralat, bukan melihat tapi ikut membantu.

Ke delapan mahasiswa itu terlihat menghela napas setelah selesai memakai peralatan lengkap dan seragam sama halnya dengan kuli lain. Bahkan salah satu gadis termungil di kelas mereka terlihat baru saja menelan ludah sanking tak menyangka akan melakukan hal ini. Baginya, selama ini menarikan pensil untuk merancang sesuatu adalah hal yang mudah. Tapi terjun ke lapangan seperti ini, tak pernah terbayang di pikirannya.

"Kau takut, Chelia?" Goda surai durian dengan nametag Sting di depan dadanya. Ia tertawa sambil menyikut siku gadis itu.

"Tentu saja tidak! Aku sangat bersemangat!" Balasnya bohong. Sting malah tertawa lepas melihat pancaran wajah gadis disebelahnya yang jelas-jelas berbohong.

"Hahahaha. Aku tidak menyalahkanmu kalau kau takut, dasar perempuan!" Cibir Sting dengan nada menyebalkan.

"Apa yang salah dengan perempuan?!" Pekik Chelia tak terima. Matanya langsung berubah tajam seperti biasa. Hal yang paling bisa membuat Sting tertawa terbahak-bahak.

Plak! "Sudah hentikan, Sting!" Celetuk Rougu tiba-tiba setelah melayangkan jitakan ke kepala durian itu. "Kau juga Chelia. Ini bukan kampus. Jaga sikapmu!" Lanjutnya masam.

"Kenapa menyalahkanku, jelas-jelas si Durian bodoh ini yang cari gara-gara." Kesalnya.

"D-Durian? Siapa yang kau sebut durian 'ha, pendek?" Balas Sting tak terima.

"Hentikan!" Seru Rougu lagi seraya menjauhkan kedua wajah teman setim-nya itu dengan kedua tangannya. "Haaah, tidak di kampus, tidak disini, kerja kalian bertengkar terus." Kesal Rougu kali ini. "Kalau kalian begini terus, aku doakan kalian jodoh!" Celetuknya sembari berlalu melewati dua sejoli yang masih saja memasang tatapan tajam satu sama lain.

"Tidak sudi!" Ucap Chelia dan Sting nyaris berbarengan seraya menoleh menatap kepergian Rougu.

Mendengar pekikan barusan, Rougu hanya menekan-nekan dahinya. Ia selalu pusing jika melihat kelakuan Chelia dan Sting yang selalu saja begitu setiap hari. Dan entah kenapa, setiap mata kuliah mengajukan kelompok, mereka berempat tak pernah terpisahkan. Termasuk Lyon satu lagi. Rougu menghela napasnya kemudian, begitu melirik kedua sejoli itu lagi-lagi terlibat adu mulut. Kalau di pikir-pikir, bukan hanya Sting yang suka berdebat dengan Chelia, dirinya bahkan mungkin Lyon juga. Meski jelas-jelas satu kelas tahu kalau Chelia menyukai Lyon, tapi tak bisa di pungkiri kalau mereka juga sering berdebat parah. Dan sejujurnya, dari pada dengan si Lyon yang tak pernah melihat Chelia, lebih baik gadis itu bersama Sting saja. Entah kenapa Rougu selalu berpikir begitu. Ia sedikit menyandarkan tubuh pada dinding batu tepat disamping Lyon.

"Kau diam saja hari ini. Ada apa?" Tanya Rougu tanpa menoleh kearah orang bersangkutan.

Lyon bergeming. Meski matanya masih fokus pada ponsel yang sejak selesai ganti baju berada lekat di tangannya. Tak menunggu jawaban dari bibir Lyon, Rougu mendekatkan diri ke tangan Lyon, melirik sejenak layar ponsel itu dan sedikit terlonjak.

"Ultear?" Tanyanya bingung. "Ada apa dengan model terkenal itu?" Tanya Rougu yang sontak membuat Lyon mengerjap.

"Kau mengenalnya?" Kaget Lyon. Kali ini ia menggeser pandang ke Rougu.

"Siapa yang tidak mengenalnya?! Cantik, ideal, sexy, yaaaah, seperti gadis idaman para laki-laki, bukan?" Ujar Rougu sembari menggeser pandang lurus dan menimbang perkataannya.

"Hm. Kau benar." Ujar Lyon kemudian. Mendengar kalimat yang jarang terlontar dari bibir laki-laki yang jarang sekali membahas wanita itu membuat Rougu sedikit kaget. Ia kembali menggeser pandang pada Lyon.

"Kau menyukainya?" Tanya Rougu yang membuat dahi Lyon berkerut.

Sontak ia menjauhkan ponsel dari depan wajah dan tertawa lebar. "Hahaha. Tidak terlalu. Aku hanya penasaran dengannya." Lagipula, untuk apa aku menyukai teman kecil paling cerewetku ini? Tawa Lyon hambar.

Melihat respon dari wajah Lyon, Rougu malah mendengus. "Oi, bilang saja kalau kau nge-fans dengannya. Hahahaha.. Kau sama saja seperti Sting kalau begitu." Tawa Rougu balik.

"Cih. Sudah ku bilang tidak." Balas Lyon malah kesal. Tapi, dia sedikit kaget mengetahui fakta kalau Sting nge-fans dengan teman kecil nya itu.

"Hei, kalian semua, kemari!" Teriak dosen pembimbing mereka dari ujung sana bersamaan dengan manajer pembangunan bangunan itu. Mendengar suara parau sedikit berat barusan, membuat kedelapan mahasiswa UC itu terlonjak. Dengan sigap mereka berlarian menghampiri dosen. Termasuk Lyon yang langsung berlari setelah meletakkan ponsel didalam loker pekerja disebelahnya. Dari dalam loker itu, perlahan terdengar bunyi nada beep diiringi dengan getar berkali-kali.


UC Gallery

Meldy memandangi dua orang yang tengah berceloteh panjang didalam ruangannya. Sejak kaget setengah mati, bahkan hampir mati melihat orang yang tak seharusnya berada di Crocus itu ada didepannya, Meldy tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Mendadak, suasana ruangan yang tak mencengkram ini membuatnya lupa bagaimana cara berbicara. Bagaimana cara duduk. Bagaimana cara mengatupkan mulut. Dan bahkan bagaimana cara mengedipkan mata. Yang jelas saat ini, ia tak habis pikir melihat dua orang yang tengah bersenda gurau sambil mengerjakan pekerjaannya.

Kedua orang itu duduk di kursi depan meja Meldy dengan tumpukan kertas berisi data-data barang dan satu komputer didepan sana. Tak lupa dengan se-cup Moccalatte dan se-cup Kopi pahit yang menemani keduanya. Entah ada badai apa, tapi Meldy sungguh tak bisa berkomentar apapun melihat mereka sangat akrab begitu.

Aaah, ini bencana! Kenapa Ul-chan disini? Dan apa-apaan mereka berdua itu? Aaaaargh, Tuhan, aku harus apa?

Meldy terlihat tak berekspresi didepan pintu sana. Meski wajahnya datar dengan mulut sedikit terbuka, tapi tak bisa ia elakkan jantungnya tengah berdetak melebihi batas, dadanya bergemuruh dan pikirannya acak-acakan.

"Hahaha, tapi sayang sekali kau tidak mendesain lagi." Ujar gadis berbandana putih itu.

"Oh, ya, Ultear, kenapa kau ke Crocus? Urusan pekerjaan ya?" Tanya Juvia setelah meneguk Moccalatte-nya.

"Em, aku sedang tidak ada pemotretan untuk dua bulan kedepan ini sih sejujurnya. Aku kesini hanya untuk bertemu dengan..."

"Ul-chan!" Potong Meldy memekik seluruh ruangannya. Kedua gadis didepannya kontan tersentak dan beralih menatap ratu UC Gallery yang keberadaannya hampir tak terasa sejak bermenit-menit lalu.

"Ada apa Meldy-chan? Kenapa berteriak? Kau membuatku kaget." Protes Ultear seraya mencibir bibir.

Meldy tergagap. Ia juga bingung kenapa suaranya refleks keluar begitu saja. Sejak tadi, meski hanya diam, Meldy tak menutup telinga mendengarkan pembicaraan mereka. Dan untung saja, ia bisa mengeluarkan suara di timing yang pas.

"A-a-ah, ada yang ingin aku bicarakan padamu, bisa ikut aku sebentar?" Ajak Meldy yang sejujurnya mengalihkan perhatian Juvia dan Ultear dari pertanyaan dan jawaban mematikan yang barusaja mereka berdua bicarakan.

"Kenapa tiba-tiba?" Kesal Ultear dengan menggembungkan wajah. "Kau menganggu obrolan seruku dengan Juvia." Lanjutnya. Meldy terkekeh hambar. Ia berjalan mendekati Ultear dan segera menarik tangannya.

"Sudah ikut saja." Kata Meldy seraya membawa gadis itu keluar ruangan.

Juvia hanya diam, tak mengeluarkan suara maupun gerakan. Hanya menatap Meldy dan Ultear sampai mereka tak terlihat lagi dari pintu kaca bening itu. Kemudian mengedik bahu seraya tersenyum sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.


Meldy membawa Ultear sampai ke balkon lantai dua, menutup pintunya rapat-rapat agar tak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka. Ultear dengan santai mengikutinya saja, tanpa mengeluh lagi seperti sebelumnya. Model itu berjalan sampai ke tepi balkon, merasakan udara luar membelai wajahnya lembut, ia sedikit menoleh ke dasar halaman UC Gallery sana, dan kemudian menghela. Ia menggeser pandangnya segera begitu merasakan Meldy telah selesai mengatupkan kedua pintu di belakang sana seraya melipat tangan di bawah dada.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Meldy-chan?" Tanya Ultear.

Meldy menoleh menatap wajah gadis yang sejak SMP sudah menjadi teman baiknya itu dan membalas, "Kenapa kau disini?" Tanya Meldy balik yang membuat Ultear mengernyit.

"Pertanyaan macam apa itu? Ya, tentu saja pulang!" Serunya tak terima. Pertanyaan Meldy barusan benar-benar membuatnya heran. "Memangnya kenapa?"

Meldy menghela dan memijit sedikit dahi dengan ujung jemarinya. "Kenapa kau tidak bilang apa-apa padaku? Bukannya kau bilang kau baru akan pulang bulan depan?"

"Ah iya soal itu.. hehehe." Ultear malah nyengir sembari mengelus belakang kepalanya.

"Kau membohongi kami?" Terka Meldy tak percaya. "Astagaa Ul-chan." Kali ini gadis berambut pink terang itu benar-benar tak habis pikir melihat orang di depannya.

"Aku hanya ingin membuat kejutan untuk kalian. Kenapa? Kau kelihatan tidak suka!" Kesal Ultear begitu melihat raut wajah Meldy semakin kusut.

"Bukan begitu!" Timpal Meldy secepat mungkin. Ia paling takut kalau sampai membuat Ultear kesal. "Hanya saja.." Ini sudah di luar perkiraan ku dan..

"Jangan bilang kalau kau juga membohonginya?" Lontar Meldy seketika begitu teringat satu hal.

Ultear tersenyum lepas. Ia mengangguk mantap. "Um! Aku ingin buat kejutan untuknya!" jawab Ultear memekik. Meldy kontan membelalak sekarang. "Dia selalu bertanya, kapan aku ke Crocus, kapan aku pulang, kapan kembali. Aku jadi kesal. Tapi, aku tahu, dia pasti rindu padaku." Lanjut gadis itu sembari bergumam. Sedangkan Meldy jelas-jelas ingin menghantukkan kepalanya ke dinding sekarang.

"Ah, benar juga!" Kerjap gadis berambut gelap itu tiba-tiba. Ia kembali menggeser kepalanya menatap Meldy. "Jangan beritahu apapun soal ini padanya ya, Meldy-chan!" Senyum Ultear. Meldy masih tak tahu harus menjawab apa selain mengangguk hambar.

"Aaaah, aku sudah tidak sabar ingin melihat ekspresinya nanti!" Teriak Ultear sembari membentangkan kedua tangannya.

Meldy masih diam. Sungguh, gadis itu benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


Hari sudah semakin siang, UC Gallery terlihat lebih sibuk dari biasanya. Termasuk Meldy yang sekarang kepalanya makin sibuk berpikir keras. Ia tak henti-hentinya menatap Juvia dan Ultear bergantian. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa mereka bisa sedekat itu. Kalau di pikir-pikir, Juvia memang ramah dan Ul juga begitu. Tapi, keramahan mereka berdua bisa membawa bencana bagi keduanya. Siapa sangka ini akan terjadi. Meldy benar-benar ingin mengutuk hari ini rasanya. Terlebih lagi, sejak tadi ponsel yang berada di tangannya tak henti-henti melantunkan nada operator yang sama. "The number your calling is not active dan blablabla segala macam tetek bengeknya yang membuat Meldy ingin sekali membanting ponselnya kelantai saat itu juga. Tapi, Aaaargh, mana mungkin ia melakukannya. Banyak nomor clien dan beberapa perusahaan besar disana, jika rusak tamat sudah riwayatnya.

Lagipula, kenapa juga disaat genting begini nomor pria terdingin termenyebalkan yang menyulut bencana ini terjadi tidak aktif juga sejak pagi tadi. Kalau saja bisa, Meldy ingin mencekik leher pria itu sekarang juga. Meski Ultear jelas-jelas melarang Meldy memberitahukan hal ini, tapi mana mungkin Meldy tak memberitahukan hal segawat ini. Bisa-bisa pria itu memenggal kepalanya atau mungkin terjadi sesuatu yang lebih parah.

"Ada apa, Meldy-san? Kau terlihat kusut sekali hari ini." Tanya Juvia yang membuat Meldy terlonjak kaget. Hampir saja ia melompat dan menyampakkan ponsel kesayangannya. Sanking hebatnya pikiran terkutuk ini, ia sampai tak sadar entah sejak kapan Juvia berada di depannya.

"A-Ah, Aku hanya kurang istirahat. Kepalaku sedikit pusing." Jawab Meldy hambar. Daripada kondisi tubuhnya, ada hal lain yang lebih menyulut pikirannya.

"Kau tidak perlu memaksakan diri sampai seperti itu, Meldy-san. Istirahatlah, aku akan mengurus semua yang ku bisa." Ujar Juvia sambil tersenyum.

"A-Ah, ti-tidak apa-apa. Aku bosan kalau diam saja. Hehe." Jawab Meldy lagi. Ia benar-benar tak sanggup menyembunyikan banyak hal dari gadis didepannya ini. Tapi, ck, sejak awal dia sudah terlanjur berbohong pada Juvia. Bagaimana sekarang? Masalah sudah didepan mata. Bagaimana menyelesaikannya? Ia berharap pria itu ada disini dan segera membawa Ultear pergi atau mengalihkan perhatian gadis biru ini dari segala hal buruk yang mungkin terjadi.

"Yasudah." Balas Juvia berlalu sembari membawa sekardus baju ke meja di dekat Ultear sana.

"Hei, Juvia." Panggil Ultear begitu Juvia tiba disebelahnya. Gadis berambut gelombang laut itu menoleh setelah meletakkan tumpukan baju yang baru saja ia bawa ke atas meja. "Kau benar-benar tangan kanannya Meldy-chan?" Lanjutnya tak percaya.

Juvia bergumam panjang. Sejujurnya ia tak tahu harus seperti apa menjawab pertanyaan itu. Terlebih sejak awal ia memang tak berniat masuk ke dunia desain lagi. Apalagi, harus menjadi tangan kanan fashion designer se-Crocus itu.

"Kau bilang kau tidak bisa merancang lagi kan? Aku sedikit aneh kenapa Meldy-chan menjadikanmu tangan kanannya. Perasaan, selama ini Ratu cerewet itu lebih suka mengerjakan pekerjaannya sendiri tanpa bantuan orang lain." Cibir Ultear seraya meraih bungkusan baju yang sedang di pilah-pilah gadis disebelahnya.

"Eeem, aku juga tidak tahu. Meldy-san sendiri yang mengatakannya. Sejak awal, aku juga ingin bertanya soal itu." Jawab Juvia tersenyum simpul. "Tapi, daripada dibilang tangan kanan mungkin aku lebih cocok dibilang perusuh. Hahaha." Tawa gadis itu yang mengundang tautan di dahi Ultear.

"Perusuh?"

Juvia mengangguk. "Aku banyak menghancurkan barang sejak bekerja disini. Sejujurnya aku tidak berencana melakukan itu, tapi aku benar-benar tak bisa membawa tubuhku di ruangan penuh mesin jahit seperti ini. Aku berharap Meldy-san memecatku saat itu juga, tapi dia malah tertawa menanggapinya. Aku jadi kesal sendiri."

"Heee? Separah itu kah?" Tanya Ultear tak percaya.

Juvia mengangguk lagi. Ia kembali menyusun baju-baju ke dalam kardus. "Tapi sekarang kau terlihat baik-baik saja." Ucap Ultear kemudian yang membuat Juvia mengerjap. Ia berhenti memasukkan barang dan menatap Ultear kembali. Mendapati raut serius di wajah gadis itu membuat Juvia kembali menggeser pandang ke baju.

"Hm. Aku juga.. merasa begitu." Aku Juvia seraya tersenyum. Tepatnya, sejak kapan? Juvia benar-benar tak sadar dirinya sudah jauh berubah seperti ini. Tak gemetar saat mendengar suara tenunan benang, mesin jahit, robekan kain, dan bahkan saat memegang jarum jahit. Tubuh Juvia berdesir. Sedikit banyak, ia tidak lagi mengenang rasa sakit di butik Ibu dulu. Segala macam ngiangan suara, raut wajah, dan kondisi buruk sebelas bulan lalu, tak lagi sering menghampirinya. Apa karena Gray-sama sudah kembali atau memang aku masih menyukai 'dunia' ini? Lirihnya bingung.

"Tapi, yang kulihat sepertinya Meldy-chan sangat mempercaiyaimu, Juvia. Kau tahu, kau orang pertama yang berhasil membuatnya seperti itu, yaaah, selain aku. Hahaha." Tawa gadis bertubuh ideal itu seraya membantu Juvia dan beberapa orang disekitar menyusun baju ke dalam kardus.

"Pfft. Kau membuatku tersentuh Ultear." Balas Juvia menahan tawa. "Tapi sepertinya kau salah besar, Meldy-san masih sering mengerjakan semuanya sendiri. Aku hanya mengamatinya dan melakukan apa yang diperintahkannya saja. Haha."

"Itu lebih baik daripada harus di usir seperti yang sering dia lakukan padaku." Timpal Ultear seraya mendecak. Jelas sekali terpancar raut kekesalan diwajah mulusnya.

Juvia malah tertawa melihatnya, meski buru-buru gadis itu kembali menoleh kederetan baju dan mengecek ulang barang-barang itu sesuai daftar data yang diberikan Meldy tadi pagi.

"Oh ya, Juvia." Pangil Ultear mendadak yang membuat Juvia sedikit menggeser pandang. "Kau percaya tidak kalau Meldy-chan pernah meninggalkan dunia desain selama setahun?" Tanya Ultear dengan senyuman menggoda.

Juvia menautkan alis. Ia ingin berkata tidak, tapi ekspresi Ultear sungguh membuatnya penasaran. "Hahaha, aku anggap itu tidak." Jawab Ultear tertawa. Hal itu makin menambah kesan penasaran bercampur bingung pada diri Juvia.

"Kau tahu, Meldy pernah menjadi manajerku selama setahun. Karena itu, dia meninggalkan dunia desain hanya untuk mengikuti kemana pun jadwal kerjaku."

"Eh? Benarkah? Tidak bisa dipercaya." Ujar Juvia begitu saja.

Ultear mengangguk-angguk. "Sungguh. Tapi hanya satu tahun sebelum dia berhenti dan kembali ke Crocus." Jelas Ultear.

"Eh? Kenapa begitu?" Tanya Juvia bingung.

"Em, ada masalah besar waktu itu." Jawab Ultear dengan senyuman ambigu. Juvia terenyak. Kali ini wajah gadis dihadapannya benar-benar terasa berbeda. Hal itu membuatnya enggan melontarkan pertanyaan kembali, meski sejujurnya ia masih penasaran dengan 'masalah besar' yang baru saja dikatakan Ultear.

"Ah, lupakan! Aku tidak ingin membicarakannya." Lanjut Ultear begitu tak mendengar respon dari gadis disebelahnya.

"Jadi..." Gumam Juvia panjang. Ia kembali fokus pada kertas di tangannya. "Kau tidak punya manajer sekarang?" Tanya Juvia mengalihkan pembicaraan.

"Tentu saja aku punya!" Jawab Ultear memekik. Mendengar nada suara gadis disebelahnya kembali normal, Juvia sedikit menghela lega. "Sekarang, pacarku yang menjadi manajerku. Hihi."

"Eh?" Kaget Juvia.

"Manis, bukan?" Gadis itu tersenyum dengan sangat manis. "Yah, orang-orang menganggapnya begitu sih. Hahaha." Tawa Ultear lagi. Ia mengambil sebungkus baju dan memperhatikannya sedikit lama.

"Tapi sejujurnya, kami tidak semanis yang mereka bilang." Cibir Ultear. Juvia hanya diam sembari menunggu keluh-kesah atau mungkin omelan dari bibir bak sakura itu. "Pacarku itu, pria yang tak berperasaan!" Dengus Ultear yang membuat Juvia berada diantara kaget dan ingin tertawa mendapati ekspresi model didepannya.

"Pfft. Kenapa?" Tanya Juvia. Terlihat sekali ia tengah menahan rasa geli di perutnya.

"Dia itu tertalu dingin, cuek, dan menyebalkan!" Kesal Ultear. "Ah, tapi, aku rasa itu yang menarik darinya. Hahaha. Aku sayang padanya." Ultear mengeluarkan cengiran lebar yang membuat Juvia ikut tertawa.

"Sepertinya, aku memahami perasaanmu. Hahaha."

"Tidak mungkin. Pacarku itu pria yang langka, tahu!"

"Ah, sejujurnya, pacarku juga seperti itu." Ujar Juvia di tengah tawanya.

"Eh, Juvia punya pacar?"

"Tentu."

"Tidak bisa dipercaya! Aku ingin melihatnya!"

"Boleh. Hahaha. Aku yakin, pacarku lebih tampan dari pacarmu." Goda Juvia.

"Tidak ada yang bisa menandingi pacarku, kau tahu!"

"Hahahaha.."


Pukul 16.00

Matahari tampak makin terik meski sudah tak berada tepat diatas kepala lagi. Para kuli dan pekerja bangunan terlihat semakin banyak menumpuk keringat di dahi sampai seluruh tubuh mereka. Beberapa katrol dan crane berjajar mengangkut material bangunan bergantian. Debu tanah, semen dan puing-puing material terasa memenuhi udara. Membuat asupan oksigen sedikit tertutupi oleh zat-zat yang tak mengenakkan pernapasan tersebut. Namun, hal itu sudah sangat biasa bagi para pekerja. Terkecuali beberapa mahasiswa UC yang baru saja mengganti baju mereka serempak begitu mendengar dosen menutup praktek lapangan mereka hari ini.

Lyon membenarkan sedikit ujung kacing lengan kemeja biru nya sembari berjalan mendekati tumpukan barang-barang mereka yang berada didekat Loker pekerja sana. Dari kejauhan terlihat Rougu, Chelia dan beberapa teman sekelasnya yang lain menunggu disana. Mereka semua sibuk membicarakan sesuatu yang tak terdengar sampai ke telinga Lyon akibat suara bising peralatan bangunan sekitar. Bahkan suara langkah yang nyaris mendekati Lyon tertutupi suara bising itu.

"Oi." Sentak seseorang tiba-tiba seraya menepuk sedikit bahu Lyon. Pria berambut ubanan itu tersentak meski tak ia perlihatkan. Dengan santainya, ia menoleh segera ke pemilik suara sentakan barusan.

Sting. Satu nama yang menjelaskan rupa pria berambut spike durian teman setimnya itu. "Kau diam saja hari ini. Kenapa? Bertengkar dengan Chelia?" Pertanyaan itu untuk yang kesekian kalinya membuat bola mata Lyon memutar.

Tak hanya Rougu yang bertanya seperti itu pagi tadi, Chelia dan beberapa teman sekelasnya yang lain juga ikut bertanya saat mereka sibuk bekerja bangunan tadi. Dan hal itu benar-benar membuatnya muak.

"Tidak." Balas Lyon ketus. Memang apa salahnya kalau ia hanya diam? Selama ini yang membuatnya banyak omong hanyalah karena Chelia selalu menganggunya. Tapi, kalau Lyon pikirkan lagi, dia memang bukanlah tipe orang dingin seperti sepupu terkutuknya itu.

"Ah, kau ini." Geram Sting mendengar balasan barusan. Siapa pun tahu ada yang aneh dengan si putih ini. Tapi, tak mungkin Lyon membeberkan apa yang terus menjadi buah pikirnya kemarin malam.

"Hoi. Kalian lama sekali." Protes Rougu setelah melihat kedatangan kedua pria paling terakhir kembali usai ganti baju. "Hahaha, sorry." Balas Sting seraya nyengir.

Sementara Lyon tak bergeming dan hanya berjalan lurus menuju tas dan lokernya.

"Aku sudah membicarakannya. Mereka semua setuju." Celetuk Rougu lagi sambil melemparkan kepalan tangan ke bahu Sting.

"Ho? Hahahaha, bagus lah kalau begitu. Gildarts-sensei bagaimana?" Tanya Sting setelah mengalihkan pandangannya dari tas ke Rougu.

"Tadi, Chelia sudah memberitahunya. Sensei bilang, dia akan menyusul setelah urusannya disini selesai." Cengir Rougu. Hal itu sukses membuat Sting melepaskan grins.

"Yosha!" Teriaknya girang sembari mengepalkan tangan.

Suara dua orang yang berhasil memenuhi pinggir lahan pembangunan itu, tak membuat Lyon mengalihkan pandangannya maupun menajamkan pendengarannya. Pria berambut putih itu hanya fokus pada loker didepan. Setelah merogoh kunci dari saku celana, secepat mungkin ia membuka loker itu dan secepat mungkin pula ia ingin melihat ponselnya yang tertidur didalam sana.

Lyon menyingkirkan jaketnya yang tergeletak tepat hampir memenuhi isi loker. Mengambil ponselnya dan segera membuka kunci layar hitam itu. Saat itu juga, sesuatu mendadak menjalar deras didalam dadanya begitu mendapati ada sebongkah cloud notification email didepan layar ponsel itu. Tak menunggu apapun, ia langsung membukanya.

Betapa kagetnya pria berambut putih itu setelah membaca apa yang ada didalam pesan itu. Matanya membelalak sangat lebar, bahkan lebih lebar dari saat mengetahui keberadaan Gray.

"Oh ya, Sting, aku belum memberitahu Lyon. Dia masih berada di ruang ganti bersamamu tadi." Ujar Rougu setelah membenahi barang-barangnya.

"Ah, tenang saja, dia pasti ikut!" Balas Sting dengan senyuman. "Ya kan, Lyon?" Lanjutnya sembari mengalihkan pandang pada Lyon dan merangkul sedikit bahu pria itu. Tak mendengar jawaban apapun dari mulut orang yang tepat berada disebelahnya, membuat mata Sting yang sempat menyipit, ia buka lebar menatap Lyon.

"Hei Lyon!" Panggil Sting kemudian. Lyon sama sekali tak bergeming. Matanya masih fokus pada layar ponsel. Hal itu membuat Sting semakin heran. "Hei, Lyon. Kau kenapa?" Tanyanya lagi dengan lantang membuat beberapa mata beralih kearah mereka sejenak. Kali ini Lyon mengerjap. Suara barusan membuatnya tersadar dengan apa yang sedang ia tatapi. Tak menunggu apapun, dengan sesegera mungkin, Lyon meraih tas dan memasukkan barang-barangnya dengan paksa.

"Maaf, aku buru-buru!" Seru Lyon menepis tangan Sting seraya menanggalkan langkah dari tempat itu. Sting terlonjak, tepisan barusan membuat tubuhnya nyaris terjerembab dan mendadak kaku mendapati reaksi tak biasa barusan. Seluruh mata terheran mengikuti Lyon yang kini berlari sekencang mungkin menuju mulut gerbang sana.

"Lyon?" Ucap Chelia bingung. Matanya tak berhenti menatap mulut gerbang meski pria berambut putih itu sudah tak berada disana. Sting masih belum sadar dengan apa yang baru saja dilakukan Lyon. Matanya bahkan masih belum mengerjap sanking tak menyangkanya.

"Ada apa dengannya?" Tanya Rougu kemudian disusul kedikan bahu singkat dari Sting.


Secepat mungkin Lyon masuk kedalam mobilnya yang terparkir di dekat Stasiun kecil kota itu. Sanking tak sabar menginjak pedal gas, Lyon sampai membanting pintu mobilnya kasar meskipun belum duduk sempurna diatas bangku. Bahkan ia tak lagi berpikir untuk menggunakan sabuk pengaman. Dengan segera, setelah menyodorkan kunci ke dalam lubang dibawah setir, Lyon menginjak pedal gas nyaris penuh.

Aku sudah berada di Crocus sekarang. Ada apa, Lyon? Temui saja aku di UC Gallery.

Isi email yang baru saja ia baca beberapa menit lalu, kembali terngiang jelas di kepala. Membuat Lyon makin menggertakkan giginya tak karuan diiringi deru aneh yang kian menggebu didalam dada. Apalagi dengan jam terkirimnya email itu yang membuat Lyon makin menggemuruhkan kekesalan.

Kali ini, Lyon berhasil keluar dari lapangan parkir itu. Begitu melihat jalanan kosong tak terjamah satu kendaraan pun, pria itu makin menginjak pedal gas penuh. Bahkan pria yang selalu memegang teguh kata hati-hati itu, tak memperdulikan keadaannya lagi dan melaju melebihi batasan yang biasa selalu ia tanamkan. Disela-sela pandangannya pada jalan didepan sana, Lyon dengan lihai mengambil bluetooth earphone yang tak pernah menjauh dari jok mobil dan segera menengakannya.

Setelah mencari keberadaan kontak gadis yang paling disayanginya saat ini, Lyon langsung menghubunginya. Tapi mendadak, suara operator yang melantun jelas di telinga Lyon membuat pria itu nyaris membanting earphone dan menambah kecepatan secara tak sengaja.

"Kenapa tidak aktif?!" Geram Lyon kasar. Suara baritone-nya menggelegar ke seluruh penjuru mobil. Wajahnya mendadak padam. Kesal dan amarah memenuhi sekujur tubuhnya. Merasa tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar, dengan geramnya Lyon kembali menghubungi nomor itu. Tapi..

The number you're calling is not active or out of code area. Please try again later.

"Aaaaargh!" Kali ini Lyon nyaris kalap. Ini benar-benar menginjak pedal gas sampai kecepatan maksimum. Bahkan ponsel di ujung tangannya ia lempar ke depan kaca mobil. Pria itu bukan marah karna tak bisa menghubungi gadisnya, hanya saja ia sangat marah jika mengetahui apa yang ditakutkannya saat ini tengah menimpah gadis itu. Ia takut. Takut sekali.

Juvia.. Geram Lyon dengan dahi penuh kerutan. Kalau saja bisa, kalau saja bisa! Lyon ingin melakukan teleport ke Crocus sekarang juga.

Napas Lyon semakin tak karuan kian emosi menyulut seluruh tubuhnya. Pikirannya semakin acak-acakkan. Keringat bercucuran keras meski AC mobil menyala deras. Giginya tak henti berdecit. Dadanya terus memburu. Semua hal itu benar-benar nyaris membuatnya kehilangan kendali diri.

Tapi, buru-buru Lyon menghempas desah napas kuat. Menenangkan pikiran, karena ia tahu mengikuti emosinya hanya akan memperburuk keadaan. Yang pasti ia memang harus segera sampai ke Crocus apapun yang terjadi. Hanya saja saat ini, ia harus tenang. Ya tenang. Tapi, Ck. Lyon memukul gagang setirnya. Mana bisa ia tenang kalau sudah separah ini keadaannya. Bahkan pria itu menyesal pergi keluar kota pagi tadi.

Kalau saja Lyon berada di Crocus, kalau saja hari ini tidak ada kuliah lapangan, kalau saja... lagi-lagi Lyon memukul setir. Sungguh, ia tak sabar ingin cepat-cepat menginjakkan kaki di Crocus.

Lyon menghempas desah napas lagi. Tenang Lyon. Tenang..

Ia sekuat mungkin mencoba mengatur napas. Berhenti menyulut pikiran dengan hal-hal buruk dan menggantinya dengan sesuatu baik yang mungkin saja terjadi. Yah, meski kemungkinan itu hanya 0%. Tapi, Lyon harus!

Mendadak, sebuah kilatan terlintas begitu saja di kepalanya. Lyon mengerjap. Tak menunggu apapun, ia kembali meraih ponsel yang tergeletak didepan kaca dan segera menghubungi seseorang.


Meldy membenamkan kepalanya pada meja kerja. Tubuhnya belum bergerak seinci pun sejak Ultear meminta izin padanya untuk membawa Juvia berkeliling Crocus satu jam lalu. Ia tak lagi dapat berpikir jernih setelah mendengar Ultear dengan seenak jidatnya berkata 'Kami berencana melakukan double date, Meldy-chan. Kalau kau mau ikut, mungkin kami bisa mengubahnya menjadi triple date. Tapi sebelum itu, aku sarankan cari pacar dulu ya. Hahaha.'

Hal itu sungguh membuat Meldy ternganga amat lebar. Ia tak tahu harus menjawab apa dan bereaksi seperti apa. Tapi jika itu benar-benar terjadi, habis sudah semuanya. Dan dari semua hal itu, yang masih menyulut pikirannya adalah pria itu sama sekali tak bisa ia hubungi. Meldy benar-benar frustasi sekarang.

Tiba-tiba saja, ponsel yang tak jauh dari pucuk pink itu melantun lantang, membuat Meldy dengan siap siaganya langsung mengangkat telepon itu tanpa pandang buluh.

"Gray! Kau kemana saja!?" Teriak gadis berambut pink itu lantang yang membuat seseorang diujung sana sedikit mengelus pangkal telinga.

"Ini aku, Meldy-san." Balasnya datar.

Meldy terkesiap. Ia menghentikan puncak kekesalannya dan mengubah ekspresi 180 derajat. "Eh, Lyon?"


Air pancur terlihat berjajar rapi ke seluruh mata memandang. Dengan sepersekian detik waktu, air yang berada di ujung selang itu naik dan menyembur keluar bersamaan dengan indahnya. Membasahi lantai marmer cream yang membentang luas hingga 30 meter didepan sana. Sebagian lantai dipenuhi air hingga mencapai betis, dan sisanya berupa jalan setapak yang hanya tergenang air sampai tepi tapak kaki. Cipratan air yang terus keluar dari bibir selang itu, membuat udara sekitar terasa lebih sejuk. Dingin yang terasa menyegarkan. Dan bahkan sesekali membuat baju dan tubuh basah.

Di hari penuh aktivitas ini, taman itu tak terlihat banyak dijamahi warga. Hanya beberapa pasang kaki yang meninting sepatu/sendal mereka untuk sekedar refreshing menikmati air yang melantun beriringan. Cahaya jingga dari raja siang diatas sana yang hampir dekat dengan persemayangannya, terpantul gemulai ke semburan air itu. Membuat sebagian besar air tampak berkelap-kelip penuh warna pelangi bak prisma yang sengaja membiaskan cahaya. Sungguh, pemandangan yang membuat dua gadis berambut hampir senada merasa nyaman berada di tengah-tengah hamparan air ini.

Keduanya berjalan melintasi jalan setapak yang airnya membahasi ujung tapak kaki mereka. Melewati berbagai bentuk air pancur yang mulai membahasi sedikit demi sedikit tubuh dan berjalan dengan gemulainya. Ulah air yang menyembur tinggi ini, membuat keduanya nyaris tertutupi. Hanya banyangan sekilas yang terlihat dari sisi lain air sekitar. Hal yang sangat pas bagi model itu untuk tidak dibondongi para pers maupun penggemarnya.

"Haaaah, aku suka sekali tempat ini!" Pekik Ultear merentangkan kedua tangan lebar.

"Ini pertama kalinya aku kesini." Aku Juvia memandangi sekitar.

"Eh? Benarkah?" Tanya Ultear memastikan. Juvia hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah gadis itu yang kini tengah meliriknya. "Jaa, kalau begitu kau harus mengingat hari ini seumur hidup. Jarang-jarang 'kan kau bisa refreshing seperti ini dengan model terkenal sepertiku." Ledek Ultear penuh percaya diri.

"Hahaha. Tentu saja! Aku tidak pernah melupakan kesan pertama berada di tempat yang baru ku datangi." Senyum Juvia.

Ultear ikut tersenyum melihat lengkungan manis di wajah gadis sebelahnya. "Ah, Juvia. Kau membuatku sangat senang hari ini." Ujar Ultear seraya menyodorkan sebelah tangan ke percikan air pancur di kanannya.

"Eh?" Mendengar hal itu, Juvia jadi sedikit bingung.

Ultear malah tertawa pelan melihatnya. "Aku jarang sekali mengobrol dengan orang lain seperti ini." Aku gadis itu. Juvia malah makin bingung mendengarnya. "Semenjak Meldy-chan sibuk dengan pekerjaannya, dia jarang punya waktu untuk jalan-jalan atau sekedar mengobrol denganku. Apalagi kalau di tempat kerja, mereka selalu membicarakan soal make-up, kecantikan, baju, dan segala macam hal yang membosankan. Terlebih, aku tidak boleh asal bicara dengan mereka. Kalau itu sampai terjadi, aku bisa di teror gosip-gosip aneh. Ugh, menyebalkan!" Runtuknya.

Juvia terperangah mendengar lontaran kesah dari Ultear. Sepertinya, menjadi orang yang terkenal, bukanlah hal yang menyenangkan. Melihat bibir Ultear mengkerucut−mencibirkan setiap kekesalan hatinya, Juvia malah tersenyum. Entah kenapa, sikap gadis ini sedikit membuatnya merasa nyaman. "Kalau begitu, kau boleh membicarakan apapun padaku mulai sekarang." Kata Juvia yang membuat Ultear menoleh.

"Eh?"

Juvia mengangguk mantap dalam senyuman. "Selama kau berada di Crocus, aku akan menjadi temanmu untuk bicara. Apapun itu, ceritakan saja padaku. Aku dengan senang hati akan mendengarkannya." Senyum Juvia. Ultear tak bisa mengedip matanya. Sesuatu mendadak mengalir didalam relung dadanya. Selama ini, jika ia pulang ke Crocus, seluruh pekerja UC Gallery biasa bertanya bagaimana rasanya menjadi model atau sekedar mengaguminya saja. Tapi, kali ini, Ultear benar-benar bahagia bisa kembali ke Crocus dan bertemu gadis berambut gelombang laut ini.

Dengan sigap, Ultear menghamburkan diri ke tubuh Juvia. Mendekap erat gadis itu seakan air mata mau tumpah dari pelipisnya. "Aaaa, Juvia. Aku senang sekali! Terima kasih." Balas Ultear memekik dalam senyuman.

Juvia tersentak. Untuk yang ketiga kalinya hari ini, Ultear memeluknya sangat erat. "Ugh, Ul, A-Aku ti-dak bisa ber-napas."

"Ah!" Ultear seketika tersentak dan menjauhkan tubuhnya secepat mungkin dari Juvia. Begitu merasakan udara kembali masuk ke dalam dadanya, Juvia sedikit melirik gadis itu. Ultear terlihat innocent meski ia hampir saja membunuh orang lain. Sepertinya kekagetannya tadi bukanlah karena ucapan Juvia barusan.

"Oh, ya, Juvia. Bagaimana kalau double date yang kita rencanakan kita lakukan disini saja?" Seru Ultear yang mendarat telak kepikiran Juvia.

"Eh, disini? Sekarang?" Tanya Juvia tak percaya. Ultear mengangguk-angguk mantap dengan penuh senyuman. "Ayo hubungi mereka!" Jawabnya sembari merogoh ponsel di tas.


"Ugh. Handphone ku benar-benar lowbat." Keluh Juvia menyandarkan punggung pada bangku taman yang didudukinya. Sejak bermenit-menit lalu matanya tak pernah lepas dari layar ponsel silver itu. Berulang kali ia mencoba untuk menghidupkannya, tapi ponsel itu selalu berteriak nada yang sama disusul redupan cahaya layar yang rasanya membuat Juvia makin kesal. "Argh, aku sampai lupa men-charge handphone gara-gara pergi pagi-pagi buta tadi." Runtuknya.

Sementara Ultear yang duduk disebelahnya juga ikut memasang tampang yang sama. Sejak tadi, ponsel 'buah pir tergigit' itu terus melekat di depan matanya dan melantunkan nada operator yang sama.

"Kenapa nomornya tidak aktif juga? Dasar menyebalkan!" Hempas Ultear begitu menjauhkan ponsel dari daun telinga. Juvia tersentak. Ia menoleh menatap Meldy.

"Kenapa?" Tanyanya.

"Ugh. Pacarku itu, kebiasaan. Paling sulit kalau di hubungi." Kesalnya seraya menjauhkan ponsel dari depan wajah.

Mendengarnya entah kenapa membuat Juvia ikut merasakan rasa jengkel Ultear sekarang. "Ah, pacarku juga begitu."

"Eh? Benarkah?"

Juvia mengangguk. "Un. Dia pernah tidak menghubungi selama berbulan-bulan dan itu menyebalkan." Kesal Juvia.

"Itu lama sekali. Kalian bertengkar?"

"Tidak, aku tidak tahu. Dia menghilang begitu saja." Jawab Juvia seraya mengkerucutkan bibir.

"Jadi kalian putus?"

Juvia mengedik lagi. "Tidak. Aku tetap menunggunya dan beberapa hari yang lalu dia kembali. Aku senang sekali. Aku sangat merindukannya. Dia juga masih mencintaiku seperti dulu kok." Senyumnya kali ini.

Ultear tak mampu mengedipkan kelopak matanya. "Wow, kau benar-benar hebat." Mendapat pujian seperti itu, semburat tipis menjalar ke pipi Juvia.

"Tidak juga. Aku pernah mencurigainya." Aku Juvia sembari tersenyum hambar.

"Menurutku itu wajar. Kalau aku berada di posisimu, mungkin aku akan minta putus setelah bertemu dengannya." Cibir Ultear.

"Aku sangat mencintainya, Ultear." Timpal Juvia. Wajahnya benar-benar tersenyum tulus.

"Itulah mengapa aku bilang kau hebat." Balas Ultear sembari nyengir.

Juvia ikut tertawa mendengar hal itu. Sungguh, ia sangat bahagia mendengarnya. Selama ini, orang-orang hanya menganggapnya menyia-nyiakan waktu, bodoh atau apapun. Ini kali pertama Juvia mendapat pujian seperti itu dari orang lain.

Ultear kembali menggeser pandangnya ke ponsel. Menekan point terkirim di touchscreen itu dan kemudian menyandarkan punggu dibangku seraya menghela.

"Jadi bagaimana dengan double date kita?" Tanya Juvia bingung. "Sepertinya, aku akan memperkenalkan pacarku padamu lain waktu saja. Dia pasti masih kuliah sekarang."

Ultear tak membalas tatapan Juvia. Ia menengadahkan kepala keatas, melihat langit yang terasa kian menjingga.

"Aku baru saja mengirim pesan padanya. Semoga setelah ponselnya aktif, dia akan segera kesini." Balas Ultear. "Kau mau menunggunya bersamaku, kan?" Tanya Ultear kemudian. Kali ini ia menggeser manik matanya menatap Juvia.

Juvia tersenyum. "Tentu. Lagipula aku tidak ada kerjaan sekarang." Jawabnya.

"Yosh! Semoga dia cepat datang! Aku tidak sabar ingin memperkenalkannya denganmu." Ujar Ultear seraya menggeliatkan tubuh.


Langit terlihat semakin menjingga kala jarum panjang jam terus meluncur turun. Sudah hampir petang. Lampu-lampu jalan disekitar taman terlihat menyala beriringan. Sudah hampir dua jam Juvia dan Ultear menunggu disini. Tapi tanda-tanda kehadiran orang yang disebut-sebut Ultear sejak pagi tadi, belum terlihat juga. Dan kekesalan gadis itu sudah nyaris menyentuh ubun-ubun.

Tapi, menunggu kali ini bukanlah hal yang sangat membosankan seperti biasanya. Hampir seluruh waktu mereka habiskan sambil bercerita satu sama lain, jalan-jalan kembali di taman air pancur itu dan kemudian makan es krim. Benar-benar aktivitas yang jarang sekali dilakukan model yang setiap harinya selalu bergelayutan dengan kamera, lighting, dan gaun-gaun indah. Dan tentu saja ini menyenangkan.

Sekarang, mereka berdua sedang berjalan di jalan setapak kecil tak jauh dari kerumunan air yang terasa kian mendingin saat angin malam mulai berhembus. Membuat keduanya cepat-cepat menjauhkan kaki dari lantai marmer yang terasa sedingin es itu.

"Dia tidak datang?" Tanya Juvia menggeser manik matanya menatap Ultear.

Ultear mendecak. Rasanya ia benar-benar sudah muak menatap ponsel putih ini. "Dasar bodoh!" Runtuk Ultear memaki layar ponselnya. Hal itu membuat Juvia tertawa pelan.

Tiba-tiba saja, ponsel Ultear mengerjap. Disusul suara lantunan musik RnB yang nyaring menepis suasana sepi. Juvia menghentikan tawanya, ia menatap Ultear yang kini terlihat terlonjak dan buru-buru meletakkan ponsel di depan telinga.

"Ul, kau dimana?" Nada suara dingin itu terdengar menyebalkan ke telinga Ultear. Bola mata gadis itu refleks memutar diiringi dengan Juvia yang sedikit terkesima mendengar suara samar dari balik ponsel itu.

Ultear menghela. Manik matanya ia geser ke ujung ponsel yang terlihat di kanan kepalanya. "Kau kemana saja? Aku lelah menunggumu, kau tahu!" Runtuk gadis itu kesal. Mendengar suara omelan Ultear yang terkesan kesal bercampur manja, membuat Juvia mendengus lucu dan menggeser pandang ke depan. Tapi mendadak matanya terkesiap begitu mendapati siapa yang tengah berlari di ujung jalan sana.

"Aku di.." Suara Ultear langsung tercekat begitu matanya menatap depan. Juvia tertegun. Entah ada angin apa, ia tak menyangka orang itu berada tepat didepan matanya.

Senyuman manis langsung terulas di depan wajahnya.

"G-"

"Gray!"

-to be continued-


Yash, Naomi kembali! Hehe
Bagaimana chap kali ini? Menggantung? Ahak! Naomi sengaja banget buatnya :v wkwkwk *Padahal sudah ku tulis lebih panjang dari ini hoho #digampar
Oh ya, mau nanya nih, apa alur fic ini terlalu lambat? Atau terlalu banyak bertele-tele? Tolong di comment yak. Sejujurnya aku merencanakan fic ini tamat di chap 15. Tapi, malah konflik besarnya baru akan dimulai. Hiks. Jadi aku gak bisa memprediksi kapan tamatnya. Ya ampun T.T Daaaan satu lagi, semakin menulis fic ini, entah kenapa aku semakin jatuh cinta dengan karakter Lyon yang ku buat sendiri. Apa ada yang merasakan hal yang sama denganku? :') Aku harap bukan hanya diriku. Hahaha
Pokoknya terima kasih sudah membaca. Dan mohon dukungannya dengan memberikan review ya Mina-san, soalnya Naomi punya rencana untuk ngeposting fic ini langsung sampai end, biar kelar! Soalnya aku mau fokus kuliah *sudah mendekati semester tua hiks! T^T
Tapi masih rencana. Wkwkwk.. jadi didukung ya.. Review kalian membuat ku semakin semangat menulis loh hihi.
Yosh, udahan deh bacotnya. Hahaha..
See you next chap Mina-swaaaan :3