DUNIA BARU KITA
Bukan Dunia Seperti Ini
"Ada apa?" Tanya Gaara segera begitu dia, Ino dan Sai sampai di tempat Naruto terlempar oleh tinju Sasuke.
"Tidak ada apa-apa." Bohong Naruto yang tak ingin memperpanjang masalah. Walau bukan pertama kalinya Naruto beradu tinju dengan Sasuke, entah kenapa kali ini tinju Sasuke terasa berbeda di hati Naruto.
"Tidak apa-apa kepalamu!" Omel Ino.
"Bibirmu terluka, Naruto!" Dengan sadar Ino mengangkat tangannya, mengelus lembut dengan jempolnya sudut bibir Naruto yang masih menyisakan sedikit darah.
Naruto yang baru saja kembali ingatannya, lumayan terkejut dengan perlakuan lembut Ino padanya. Padahal saat berada di Konoha, Ino dan Sakura suka sekali berteriak kesal dan memukul kepala jabriknya.
"Aku baik-baik saja, Ino." Naruto menurunkan tangan Ino dengan sedikit melirik Sai yang tak menampakkan ekspresi berarti. Tentu saja selain merasa aneh, Naruto juga tak ingin mendapatkan tinju yang kedua dari Sai karena taijutsu anggota tim 7 paling baru itu tak kalah hebat dari Sasuke.
"Ayo kita kembali." Naruto menangkap pergelangan tangan Hinata, menyeret adik kembarnya itu tanpa memperdulikan ekspresi kaget Hinata karena tersentak tiba-tiba.
Ino saling bertukar pandang dengan Sai dan Gaara.
"Ada apa sih?" Tanya Ino dengan ekspresi bingung.
"Entah." Jawab Gaara singkat. Sai hanya mengendikkan bahu. Tapi detik berikutnya, Sai menatap punggung Naruto dan Hinata dengan kening berkerut. Entah kenapa perasaannya tak enak. Nalurinya yang terlatih sebagai seorang ANBU membuatnya merasakan seperti akan ada hal besar yang terjadi.
"Ittai, Nii-chan." Rengek Hinata saat genggaman tangan Naruto mengerat.
"Siaaaal!" Umpat Naruto yang sepertinya tak benar-benar mendengar rengekan sakit dari Hinata.
Naruto begitu takut jika ingatan Sasuke kembali dalam keadaan perasaan yang kacau seperti sekarang. Bagaimana jika kemarahan Sasuke semakin menjadi dan Uchiha Sasuke kembali berbuat kerusuhan di dunia baru mereka yang damai. Selain itu Naruto mengkhawatirkan keselamatan Sakura. Bukan Naruto tidak mempercayai Sasuke, tapi bagaimanapun juga, Sasuke pernah 2 kali hampir membunuh Sakura.
Sebenarnya bukan maksud Naruto menyatakan cinta pada Sakura. Naruto hanya ingin Sakura tahu perasaannya. Oke. Mungkin sama saja artinya. Tapi yang jelas Naruto tak pernah bermaksud mengganggu hubungan Sasuke dan Sakura. Lagipula semuanya tak direncanakan Naruto sebelumnya. Semua mengalir begitu saja.
"Kenapa dunia ini rumit sekali, ttebayou!" Naruto tanpa sadar semakin mengeratkan genggaman tangannya yang sebenarnya sudah erat pada pergelangan tangan Hinata.
"Sakit!" Hinata melepas kasar genggaman Naruto.
Merasakan sesuatu yang menghentak tangannya kasar, Naruto refleks berhenti berjalan dan menatap Hinata dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Jujur saja Naruto kaget Hinata bisa bertindak kasar seperti sekarang.
"Hinata?" Gumam Naruto masih terselimuti rasa kaget.
"Cukup sudah kau mengabaikanku, Naruto-kun!" Walau tak terdengar isakan tangis, tapi air mata tak kunjung berhenti mengalir dari mata perak Hinata.
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto tak mengerti.
"Kenapa kau tak pernah memberitahuku jika kau menyukai Sakura-san?" Tanya Hinata dengan tatapan seorang gadis yang memergoki kekasihnya berselingkuh di depan mata.
Seharusnya Naruto tak terkejut mendengar pertanyaan Hinata karena memang seingat Naruto, di dunia baru mereka, Naruto tak pernah menunjukkan rasa sukanya lagi pada Sakura. Tentu saja itu karena Naruto sadar jika sebenarnya telah tumbuh rasa sayang dihatinya untuk Hinata.
"Hinata, jangan memperumit keadaan." Naruto membalikkan tubuh, menghindari tatapan menusuk yang dilancarkan Hinata padanya karena merasa bingung harus memberi penjelasan seperti apa pada Hinata yang belum mendapatkan ingata ninjanya.
"Jangan pergi!" Teriak Hinata saat Naruto kembali melangkah dan berada sedikit jauh darinya.
"Aku tahu kau menganggapku adikmu." Suara tangis Hinata berhasil menghentikan langkah Naruto. Naruto mengumpat dalam hati baru memahami bagaimana perasaan Sasuke saat melakukan hal yang sama pada Sakura dulu.
"Aku tahu aku tak pantas mengatakan hal seperti ini."
"Tapi aku juga seorang gadis, Naruto-kun."
"Jadi jangan mengabaikan perasaanku seperti ini. Hiks. Hiks." Hinata tak lagi mampu menahan isakannya.
"Kau pasti tidak tahu!"
"Tapi aku bukan saudara kembarmu!"
"Aku hanya anak malang yang ditemukan ayah dan ibu di depan rumahmu." Naruto membulatkan mata, merasa tak yakin dengan pendengarannya sendiri.
"Karena itu abaikan status kita! Izinkan aku memberitahumu perasaanku sekali ini saja!" Teriak Hinata penuh emosi diantara tangisnya.
"Aku men…" Mata indigo Hinata terbelalak kaget saat Naruto memeluknya erat untuk menghentikan kelanjutan kalimat Hinata.
Yang membuat Hinata kaget sebenarnya adalah karena Naruto dapat membunuh begitu saja jarak antara dia dan Naruto yang sebenarnya terlampau jauh bagi pemuda jabrik itu untuk bisa tiba-tiba memeluknya seperti sekarang. Naruto seperti baru melakukan suatu perpindahan tubuh yang sangat cepat.
"Sudah aku bilang jangan memperumit keadaan, Hinata!" Satu tangan Naruto menekan kepala biru Hinata pada dada bidangnya, membuat Hinata mampu mencium bau citrus dari tubuh Naruto.
"Aku sudah berjanji akan menjadi kakakmu."
"Jadi biarkan aku menjalankan peranku sampai kita kembali." Walau tak benar-benar memahami maksud Naruto, tapi Hinata tak bisa membantah. Pelukan Naruto pada tubuhnya terlalu erat.
"Jadi, Hinata. Aku mohon. Jangan pernah lagi mengungkapkan apapun perasaanmu padaku sekarang." Tetesan air mata Hinata membasahi kaos bagian dada Naruto. Hinata tak menyangka sedikitpun jika ternyata Naruto diam-diam memahami perasaan cinta Hinata pada Naruto sebagai seorang gadis. Hinata juga merasa seperti Naruto sudah menolak cintanya sebagai seorang gadis.
Tentu saja Naruto tahu dan tak akan pernah melupakan perasaan Hinata padanya. Bagaimana bisa lupa jika Hinata mengungkapkannya disaat-saat genting bagi mereka berdua. Saat keduanya berada dalam pilihan untuk hidup dan bertahan, atau mati mengenaskan di tangan Pein.
"Maafkan aku."
"Sekarang biarkan aku menyusul Sas..."
Naruto terbelalak kaget saat sedikit demi sedikit sekelilingnya memutih, seperti sebelum Naruto terjebak dalam dunia baru yang membingungkan ini.
'Ti-tidak. Jangan lagi.' Teriak Naruto dalam hati sebelum dunia baru Naruto menjadi putih bersih, dan Naruto merasakan pusing yang luar biasa dalam keadaan masih memeluk Hinata.
Detik selanjutnya Naruto tak mampu merasakan apapun. Tak mampu mendengar apapun. Semua hanya putih.
oOo oOo oOo
"Ada apa, Sai-kun? Kenapa kau melamun?" Ino menarik lengan baju pendek Sai, berusaha mengembalikan kesadaran Sai.
"Tidak ada." Sai tersenyum palsu dan menggeleng sekali, tak ingin membuat khawatir gadisnya.
Drrrt… Drrrt… Drrrt…
Getaran ponsel Gaara sukses menarik perhatian Ino, yang merasa heran bagaimana Gaara bisa mendapatkan sinyal ponsel, dan menyelamatkan Sai dari rentetan pertanyaan Ino yang pasti sangat merepotkan.
"Maaf, aku pergi dulu." Pamit Gaara.
"Ya, baiklah." Jawab Ino yang sedang memiringkan kepala pirang berkuncir kudanya.
Walau sudah berjalan sedikit jauh, tapi Sai masih tak melepaskan tatapan tajam obsidiannya pada punggung Gaara. Sementara itu perhatian Ino berhasil tercuri oleh langit Kiri yang mulai berubah gelap.
"Duke! Kita baru saja melewatkan bagian paling indah dari matahari terbenam." Gerutu Ino.
"Ayo kita kembali, Cantik." Ajak Sai. Ino menoleh dan menatap Sai kesal.
"Hey! Kita tidak sewaktu-waktu berada dalam suasana romatis seperti ini dan kau melewatkannya begitu saja?" Ino berkacak pinggang di depan Sai.
"Kita bisa melihatnya lagi besok." Sai memberi alasan.
"Ayo kita kembali ke villa." Bujuk Sai.
"Ada apa, Sai-kun?" Tanya Ino melembut. Perasaannya merasakan saat ini Sai sedang mengkhawatirkan sesuatu entah apa.s
"Perasaanku tak enak." Ino mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban Sai yang ambigu. Dua tahun mengenal Sai di dunia baru mereka, belum pernah sebelumnya Ino melihat wajah Sai yang seserius sekarang.
"Baiklah." Ino mengalah, tak ingin Sai terlihat semakin gusar.
Sai berjalan dengan menggenggam tangan mungil Ino, bersyukur gadisnya ini menjadi penurut. Seharusnya Ino senang dan segera bermanja-manja dengan Sai karena tak setiap saat Sai berinisiatif menggenggam tangannya lebih dulu, tapi hati kecil gadis ini merasa tak berada dalam waktu yang tepat untuk melakukannya.
"Apa kau mengkhawatirkan sesuatu, Sai-kun?" Tanya Ino lembut. Sai bergeming. Sepertinya pemuda berkulit pucat ini terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Walau kepalanya terpenuhi rasa penasaran, Ino memutuskan untuk ikut diam.
"Eh?" Kaget Ino saat Sai tiba-tiba menghentikan langkahnya, kali ini wajah kekasihnya itu terlihat menegang.
"Sai-kun, apa yang…" Sebelum sempat melanjutkan pertanyaannya, Sai membawa Ino tenggelam dalam pelukannya, seolah merasa takut gadis bunganya itu menghilang dari kehidupannya.
Blush!
Wajah Ino merona merah. Hampir dua tahun bertunangan dengan Sai, ini pertama kalinya Sai bersikap yang menurut Ino sedikit agresif.
"Tidak lagi!" Gumam Sai yang mengeratkan pelukannya pada tubuh kurus Ino.
"Sai-kun, ada apa?" Tanya Ino dengan suara berbisik.
"Kenapa kau se…"
"…yang ter…"
"….-kun?... Ka…"
Suara Ino semakin lama semakin tak dapat jelas terdengar oleh Sai. Yang bisa dilakukan oleh Sai hanya semakin mengeratkan pelukannya pada Ino. Dunia baru ini membuat Sai mampu merasakan cinta seorang gadis. Cinta yang sebelumnya terasa asing untuknya. Untuk seorang anak yatim piatu dan seorang anggota ANBU Root sepertinya. Sai tak ingin semua kebahagiaan yang didapatkannya di dunia ini hilang begitu saja.
'Kami-sama, jangan hapus dunia ini!'
'Aku sudah berusaha menjadi orang baik. Pada kakakku, guruku, teman-temanku.'
'Dan khusus Ino, aku selalu memperlakukannya dengan sopan.'
'Aku bahkan belum pernah menciumnya.'
Tak ada yang bisa dilakukan Sai selain pasrah pada apapun yang akan terjadi bahkan tanpa dia tahu apa sebabnya. Dan sebelum dunia baru Sai menjadi putih bersih, Sai merasakan pusing yang luar biasa.
Detik berikutnya Sai tak mampu merasakan apapun. Tak mampu mendengar apapun. Semua hanya putih.
oOo oOo oOo
"Moshi-moshi," Gaara mengangkat panggilan masuk pada ponselnya.
"Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas."
"Aku masih ada di Kiri, Manajer."
"Aku tidak dengar."
"Hn?"
"Malam ini?"
"Kau bilang aku bisa pulang besok."
"Apa?!" Suara Gaara tiba-tiba mengeras. Mengalahkan suara debur ombak di depannya.
"Jangan bercanda seperti ini hanya untuk membujukku kembali lebih awal."
"Aku tidak menyukainya!" Raut wajah Gaara semakin menegang dari sebelumnya.
"Moshi-moshi!"
"Moshi-moshi!"
Gaara menatap ponselnya kesal. Sinyal ponsel yang tiba-tiba didapatkannya, sekarang tiba-tiba hilang begitu saja. Tak masalah sebenarnya dibawah kondisi Gaara tak mendapatkan kabar dari manajernya jika semalam Matsuri tertabrak sebuah bis saat berusaha melarikan diri dan sekarang dalam kondisi kritis di Rumah Sakit International Konoha.
Gaara mengangkat satu tangannya. Pasir kering yang ada di depan Gaara terangkat dan menggumpal dengan sendirinya kemudian melayang mendekat pada Gaara. Walau beberapa menit terlewat, Gaara tak kunjung menaiki gumpalan pasir cakranya.
Gaara menyadari sesuatu. Tak mungkin Gaara melayang diatas pasirnya agar bisa melaju cepat kembali ke Konoha. Sangat besar kemungkinan ada pesawat terbang yang lewat di atas langit. Melayang di atas tanah atau bahkan melompatpun memiliki resiko yang sama. Bagaimana jika ada orang yang memotretnya? Bukan hanya seluruh Jepang. Bisa saja ini akan menjadi berita internasional apalagi Gaara termasuk dalam jajaran artis muda terkenal dan berbakat di Jepang.
'Apa yang harus aku lakukan?' Pikir Gaara frustasi.
"Kuso!" Gaara membanting gumpalan pasirnya kasar. Membuat pasir-pasir berterbangan tak tentu arah disekitarnya.
Bayang-bayang kenangan yang dibuatnya bersama Matsuri di dunia baru mereka bergantian berputar di dalam kepala Gaara yang berdenyut-denyut.
"Matsuri." Gumam Gaara yang hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat-erat menahan amarah menyesali ketidakberdayaannya di dunia baru ini.
Hampir saja Gaara mewujudkan impiannya. Hidup penuh cinta bersama teman-temannya, bersama Ibu dan kedua saudaranya, dan Matsuri untuk mencari tahu perasaannya terhadap muridnya itu.
Tak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya jika dia tiba-tiba saja merindukan Suna. Merindukan negaranya yang sebenarnya. Sungguh memalukan tak mampu menggunakan kekuatan ninjanya yang diatas rata-rata ini hanya karena takut oleh sebuah kamera. Karena matanya yang terpejam, Gaara tak menyadari jika dunia barunya sedikit demi sedikit menjadi putih bersih.
"Arrgh!" Gaara jatuh terduduk saat tiba-tiba pemuda bertato ai ini merasakan pusing yang luar biasa.
Detik berikutnya Gaara tak mampu merasakan apapun. Tak mampu mendengar apapun. Semua hanya putih.
oOo oOo oOo
"Shikamaru!" Panggil Temari kesal pada Shikamaru yang lebih sibuk dengan gamenya.
"Ya." Jawab Shikamaru tanpa menoleh sedikitpun pada Temari yang mengerucutkan bibirnya kesal.
Kepalang tanggung memang bagi Shikamaru. Sebentar lagi dia akan bisa melampaui level Naruto dan menjadi peraih level tertinggi. Gaara berada dua tingkat dibawahnya. Sai berada satu tingkat dibawahnya. Sasuke? Jangan tanya Sasuke jika menyangkut game. Uchiha jenius itu tak berkutik dengan dunia game. Bahkan untuk lolos level satu saja pemuda emo itu tak kunjung bisa. Sasuke dipaksa untuk menerima tawa mengejek dari keempat temannya dan hampir saja joystick Sai rusak karena dibanting Sasuke yang merasa kesal.
"Antarkan aku." Pinta Temari.
"Kemana?" Tanya Shikamaru masih saja acuh tak acuh.
"Gak jadi!" Jawab Temari ketus.
"Hahhh…" Shikamaru mau tak mau menekan tombol pause.
"Kau ini merepotkan sekali." Komentar Shikamaru yang memutar tubuh dalam posisi duduk dan menatap Temari sedikit kesal.
"Mau diantar kemana?" Shikamaru mengulang pertanyaannya. Temari membuang pandangan. Kok malah Shikamaru yang berbalik kesal padanya.
"Baiklah. Baiklah. Aku salah mengacuhkanmu." Shikamaru beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Temari yang duduk di tepi ranjang kamar laki-laki.
"Temari!" Panggil Shikamaru. Temari bergeming. Masih tak mau memandang Shikamaru.
'Dia ngambek.' Batin Shikamaru.
Sreeet…
"Huaaa…" Pekik Temari saat tanpa aba-aba Shikamaru menggendongnya seperti seorang pengantin baru.
"A-ap-apa yang kau lakukan, baka?!" Pipi Temari merona tipis. Shikamaru menyungging sebuah seringai geli.
"Mengantarmu ke kamar mandi sebelum kau ngompol." Shikamaru mulai melangkah dengan ringan, seolah Temari tak sedikitpun menjadi beban baginya.
"Darimana kau tahu aku ingin ke kamar mandi?" Tanya Temari bingung.
"Hanya menebak saja. Kau tak mau berhenti bergoyang ke kanan dan ke kiri." Jawab Shikamaru jujur.
"Baka!" Temari memukul pelan dada Shikamaru karena merasa malu.
'Ya, untunglah dia tidak mengipasku.' Batin Shikamaru dalam hati.
Hanya butuh beberapa belas langkah bagi Shikamaru untuk mengantar Temari menuju kamar mandi karena memang setiap kamar dalam villa Sai memiliki kamar mandi dalam ruang.
Shikamaru menurunkan tubuh Temari perlahan di dalam kamar mandi, sementara Shikamaru sendiri mempertahankan posisinya berada di luar pintu kamar mandi.
"Nah, apa kau mau pipis atau…"
"BAKA!"
Bruak!
Shikamaru melotot kaget karena Temari membanting pintu kamar mandi keras-keras. Tentu saja Temari merasa malu dengan pertanyaan Shikamaru yang terlalu vulgar menurutnya.
"Duke! Aku kan hanya bertanya." Shikamaru berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar mandi.
"Mendokusai!" Gerutu Shikamaru.
2 menit menunggu Temari, tiba-tiba Shikamaru sadar jika sedikit demi sedikit sejauh pandangan matanya, kamar laki-laki memutih satu per satu bagian seperti sebuah puzzle yang terambil.
"A-apa yang terjadi?!" Jantung Shikamaru berdesir khawatir. Shikamaru ingat sekali bahwa sebelum terjebak dalam dunia genjutsu Sasuke ini, Shikamaru mengalami hal yang sama seperti sekarang. Daerah sekitarnya tiba-tiba memutih dengan sendirinya.
Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.
Shikamaru mengetuk pintu kamar Temari dengan panik.
"Temari! Kau dengar aku?! Buka pintunya!"
Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.
"Temari! Jawab aku!" Shikamaru mengetuk pintu kamar mandi semakin keras saat Temari tak kunjung menjawabnya.
"Arrgghh!" Shikamaru berhenti mengetuk pintu. Laki-laki berkuncir tinggi ini menyandarkan kepalanya di pintu kamar mandi, saat Shikamaru merasakan pusing yang luar biasa.
Semakin lama dunia baru Shikamaru menjadi putih bersih, dan Shikamaru tak tak mampu merasakan apapun. Tak mampu mendengar apapun. Semua hanya putih.
oOo oOo oOo
"Hoooaaammm…." Kakashi menguap malas berjalan menuju ranjangnya.
Liburan musim panas terasa membosankan kali ini. Sial sekali Kakashi yang seorang guru tak bisa ikut kabur dari sekolah musim panas seperti yang dilakukan oleh para rookie.
"Kapan bocah-bocah itu kembali ya?" Kakashi berdiri diam di depan meja kecil disamping tempat tidurnya. Kakashi mengangkat dan menatap sebuah figura berisikan foto murid-murid I-A yang dibuat beberapa saat sebelum liburan musim panas dimulai. Sebuah senyum disungging laki-laki berambut perak ini saat menangkap foto Sasuke, Sakura, Naruto dan Sai yang tersenyum bahagia dengan gaya khas mereka masing-masing.
Kakashi mengembalikan figura tersebut ke tempat semula di atas meja.
"Apa yang dilakukan anak-anak itu di Kiri ya?" Tanya Kakashi pada dirinya sendiri.
"Aku harap Naruto tak berbuat heboh karena ingatannya kembali."
"Semoga dengan kembalinya ingatan Naruto, akan lebih mudah mengembalikan ingatan Sasuke." Kakashi mulai memejamkan matanya.
Walau matahari baru saja terbenam, Kakashi entah kenapa tiba-tiba merasakan kantuk yang sangat.
"Shizu…" Gumam Kakashi. Tak tahu ada angin apa tiba-tiba saja senyuman Shizune berkelebat cepat dalam pikirannya.
Tak butuh waktu lama bagi Kakashi untuk kemudian terlelap dalam tidurnya. Kakashi bahkan tak menyadari jika dunia barunya sedikit demi sedikit menghilang dan tergantikan oleh suasana putih bersih.
oOo oOo oOo
"Sasuke-kun!" Entah kali ke berapa Sakura berteriak memanggil nama Sasuke tanpa mendapatkan tanggapan sedikitpun dari pemuda emo di depannya.
"Berhenti!" Sakura mulai berlari kecil berusaha memperpendek jaraknya dan Sasuke.s
"Aku bilang berhenti!" Sakura melepas sandal jepit kirinya cepat dan dengan sekuat tenaga melemparkannya tepat di belakang kepala Sasuke.
Sasuke memutar kepala cepat menatap kesal sandal jepit yang seenak jidat di lemparkan Sakura ke kepalanya yang berharga. Sasuke tak bisa menghentikan api amaterasu yang tiba-tiba membakar sandal jepit Sakura. Sasuke sendiri sempat merasa kaget karena terlalu emosi sampai mengeluarkan jutsunya di depan Sakura yang belum mendapat ingatan ninjanya sama sekali.
"Si-si-siapa kau?" Tanya Sakura dengan suara bergetar ketakutan. Sasuke bergeming. Otaknya berfikir keras, sedangkan mata mangekyonya tak bisa lepas dari sandal jepit Sakura yang naas.
"Ngggh…" Sasuke menutup mata kirinya. Tanpa berkacapun Sasuke tahu kemungkinan amarahnya yang memuncak merangsang cakra spesial di otaknya. Mungkin saja Sasuke berhasil membangkitkan kembali rinnegannya. Walau itu masih sebuah tebak-tebakan bagi Sasuke.
"Siapa kau! Apa yang kau lakukan pada Sasuke-kun!" Teriak Sakura kembali saat tak mendapatkan perhatian dari Sasuke. Sasuke masih dengan kepala tertunduk, berbalik menghadap Sakura.
Dengan gerakan pelan Sasuke mulai mengangkat kepala ravennya. Menatap Sakura dengan kedua mata mangekyo sharingannya. Di kejauhan sana, Sakura semakin bergetar ketakutan. Tak mampu mengeluarkan sepatah katapun karena terlalu shock.
"Kupikir aku bisa memperbaiki hubungan kita di dunia baru ini." Sasuke melangkah pelan maju mendekati Sakura yang gemetar ketakutan di tempatnya berdiri.
"Tapi aku salah."
"Rasanya tetap menyakitkan berurusan dengan cinta." Wajah Sasuke berubah dingin. Wajah dingin yang menakutkan karena baru sekali Sakura melihat Sasuke dengan wajah seperti itu di dunia baru mereka.
"Ja-jangan men-de-kat." Sakura mulai berjalan mundur karena Sasuke semakin dekat dengannya.
"Naruto. Aku tahu dia menyukaimu sejak kecil."
"Tapi aku tak tahu rasanya menyakitkan mendengar si brengsek itu mengakui perasaannya padamu."
"JANGAN MENDEKAT!" Teriak Sakura keras dan ketakutan.
"Padahal dia aku anggap sebagai satu-satunya sahabatku, Sakura!"
"Jangan…" Suara Sakura semakin bergetar ketakutan.
Slap…
Duk.
Sakura terhenyak kaget saat tubuhnya yang berjalan mundur menabrak Sasuke yang menggunakan shunshinnya untuk berdiri di belakang Sakura dan menghentikan semua pergerakan gadis itu.
"Bukan dunia seperti ini yang aku inginkan!" Kata-kata dingin dari Uchiha Sasuke membuat dunia baru disekitarnya perlahan berubah warna menjadi putih.
Detik selanjutnya perlahan namun pasti Sasuke tak mampu merasakan apapun. Tak mampu mendengar apapun. Semua hanya putih.
oOo The END oOo
Pasti banyak yang bertanya-tanya, kok udah end?
*PD banget. Haha
Gomen Minna, Cand kehilangan ide cerita asli Cand karena itu daripada alurnya semakin gak jelas dan berhenti di tengah jalan, Cand pilih buat stop cerita ini sampai disini. Sebenarnya bukan benar-benar stop. Mungkin lebih tepatnya memperbaiki cerita ini dari awal. Entah kenapa buat genre AU rasanya lebih complicated ^^
Terima kasih buat dukungan, kritik, dan sarannya.
Aishiteru minna :*
Balas review nih :
Khunee-Chan : "Iya ini genjutsu Sasuke dari rinnegan dan perasaan terpendam Sasuke. Hehe. Dunianya emang genjutsu tapi semua yang terjadi dirasakan nyata sama para rookie kok Khunee-chan jadi jangan sedih ya. ^^ Terima kasih banyak buat dukungannya selama ini :D"
Yuri-san : "Sudah update ^^"
Mantika-san : "Loh kok ketawa? Cemburu itu gak enak loh #eh, curhat :p"
Hinata-san : "Haha. Terima kasih dan maaf, Hinata-san :D"
Tampan-san : "Yups ^^"
Anna-san : "Arigatou, Anna-san ^^"
Cicikun : "Iya, tonjok aja Sasuke si Naruto! Biar nanti Cand yang gemes ini punya alasan cipok km #loh? Haha. Geje seru."
Annisa-san : "Hehe, iya ini sudah diupdate. Jangan lupa reviewnya ya, Annisa-san ^^ Arigatou."
Ome-chan : "Hahaha, kangen baca reviewmu, Ome-chan."
Alluka-san : "Ini sudah diupdate, Alluka-san. Dan sepertinya pertanyaanmu sudah terjawab. Hehe."
Kimura-san : "Wah untung bukan Cand yang digigit, hihihi :p"
Noer-san : "Iya gak pa2. Terima kasih banyak ya buat reviewnya. Salam kenal juga, Noer-san ^^"
Angel-san : "Wah maaf ya, Angel-san. Ceritanya Cand putus dulu sampai disini :'( Tapi tenang saja, Cand bakalan bertanggungjawab sama km kok. #Lha?!"
Queen-san : "Wah akhirnya ada juga yang koment pair lain selain Sasusaku dan Naruhina. Huhuhuhu *menangis haru. Arigatou gozaimasu buat dukungannya dan pujiannya dan reviewnya, Queen-san ^^ Sakura sebenarnya mulai sedikit suka, tapi authornya saja yang sedikit geje. Maaf ya mengecewakan -_-"
Velha-san : "Tergantung jam nya gan. Klo pagi cowok, kalo malam cewek #bencong ciiiin LOL"
Yuan-san : "Hahaha, iya Cand sadar kok. Trima kasih untuk kejujurannya Yuan-san ^^ *menangis geje di pojok kamar #lho?!"
Hanazonorin-san : "Authornya juga payah -_- putus cinta jadi geje #eeeh kok curhat."
Hq-san : "Hahahaha, Cand senyum2 sendiri baca reviewmu, Hq-san. Abis marah-marah km seperti malu-malu. Hihihihi."
Yuli-san : "Menurut Cand, Cand buat Sasuke terlalu berlebihan. Gomen, Sasuke-kun ku sayang."
Mastin-san : "Arigatou ^^"
Hikari-san : "Iya, maaf ya Cand NHL dan SSL."
Luca-san : "Keluarga Hyuuga ada di fic sebelah judulnya Tadaima #hohoho promosi fic!"
Feigun-san : "Eh, beda ya? Genjutsu Sasuke apa gak sama aja dunia buatan Sasuke?"
Alluka-san : "Hinata kok jadi cengeng banget ya, Gomen Hinata-chan :'("
Reader-san : "Arigatou ne, Reader-san. Entah kenapa Cand ngerasa chap sebelas ancur gara-gara pikiran lagi error nyoba buat humor. Haha."
Cherry-san : "iya ini udah di update. Jangan lupa tinggalkan jejak review ya, Cherry-san ^^"
Author Note :
See you at Dunia Baru Kita Shippuden.
Hahaha *tambah gak jelas Cand iki.
