WARNING! OOC, AU, BL, (OC for Kim Bong Chul dan Jung Jinho) DLDR
Sorry for TYPOS, kekurangan terbesarku adalah typos yang bertebaran.
Maaf kalo ada yang salah ngetik, kalau sekirany keslahannya fatal, silahkan kasih tahu saya.
.
Enjoy!
Jung Yunho. aaah~ tanpa kusadari nama itu sudah menemaniku selama 5 tahun hidupku, tanpa sadar nama itulah yang telah menguasai hatiku. Beberapa tahun lamanya aku sempat mengelak dan membantah bahwa aku sama sekali tidak mencintaimu hanya untuk menutupi sebuah kebohongan besar. Padahal aku sudah terjerat dalam pesonamu sejak awal pertemuan kita.
Yunnie, mungkin selama pernikahan kita aku bukanlah istri yang baik untuk mu, aku selalu bersikap dingin dan egois. Tapi ketahuilah, dibalik semua sikap menyebalkanku itu, aku menyimpan cinta yang besar untukmu. Awalnya aku pikir semuanya akan baik-baik saja jika menjadikanmu yang awalnya kupikir orang yang tidak kucintai menjadi pendamping hidupku. Setidaknya hidup normal layaknya orang biasa bersamamu, aku bisa menyamarkan keberadaanku dari para agen dan kepolisian. Tanpa sadar aku sudah melibatkanmu ke dalam lingkaran hitam hidupku. Semakin hari perasaan itu semakin tidak terbendung, aku makin mencintaimu tiap harinya. Aku menikmati peranku menjadi istrimu, hingga aku hampir melupakan kemnyataan bahwa aku adalah seorang pembunuh.
Tidak terhitung nyawa manusia yang mati ditanganku. Aku adalah seorang iblis, bukan malaikat seperti pandanganmu selama ini. Kalau dipikir-pikir lucu juga, aku seorang pembunuh yang bisa membunuh seseorang tanpa belas kasihan. Tapi kenapa tiap kali berhadapan denganmu aku luluh begitu saja? Aku seorang pembunuh profesional tapi bahkan untuk membunuh cintaku padamu saja aku tidak sanggup.
Yun, jika aku masih diizinkan untuk bernafas aku ingin menjadi istri yang lebih baik untukmu. Istri yang selalu ada disampingmu saat pertama kau membuka matamu di pagi hari, Istri yang selalu memasakkan makanan kesukaanmu dan istri yang selalu menunggumu pulang kerja dan menyambutmu dengan pelukan cinta setiap hari. Tidak ada yang lain yang akan kulakukan selain mencintaimu setiap hari. Hahh~ tidak ada lagi yang lebih membuatku bahagia dari pada hal itu.
Tapi jika Tuhan memiliki rencana lain, aku akan membawa cintamu dalam tidur panjangku. Cintaku untukmu akan kubawa dalam tidur abadiku. Walau matamu tidak lagi bisa melihatku, aku tetap ada di sampingmu sebagai bayangan. Mengamatimu yang semakin hari semakin menua hingga kita bertemu lagi dalam keabadian.
Yun kumohon hiduplah dengan baik, jika mengingatku adalah hal yang menyakitkan untukmu dan bisa membuatmu menangis maka lupakanlah. 5 tahun hidup sebagai orang yang dicintaimu sudah cukup untukku. Tertawalah, tersenyumlah... jangan biarkan dirimu terpuruk dalam kesedihan, karena kesedihanmu hanya membuatku lebih menderita disini.
makanlah yang teratur karena lambungmu lemah (jangan makan mie instan), Tidurlah lebih awal (Jangan membuat alasan untuk tidur larut. atau aku akan mebunuhmu!) selalu ingatlah memakai baju hangat jika musim dingin tiba, dan jangan sampai terkena flu karena selalu tidur tanpa baju (Aku kesal jika selalu mendengar suara bersinmu). Jika merindukanku, Jangan memandangi fotoku sambil menangis, tapi pandangilah fotoku sambil menyanyikan lagu cinta. -.-"
Hiduplah dengan baik dan bahagia.
Jika kau menuruti keinginanku ini dan menjadi anak baik, mungkin aku akan berpikir untuk kembali padamu.
.
.
With Love
Istrimu yang teramat sangat Cantik SEDUNIA
Kim Jaejoong
PS: Tolong jaga jiji untukku, jika kau menelantarkannya, aku akan mendatangimu dalam mimpi untuk memukul wajahmu. hehe. Saranghae yeongwonhi my lovely husband.
.
.
dia tertawa kecil membacanya, surat itu selalu membuat perasaanya campur aduk, kadang tersenyum atau kadang berhasil membuatnya meneteskan air mata. Surat yang tidak pernah bosan ia baca selama beberapa tahun ini. Bahkan penampilan selembar kertas itu sudah usang dan kusut karena dia selalu membawa atau bahkan membacanya dimanapun berada, apa lagi ketika ia sedang merindukan istrinya, ia selalu tertidur sambil mendekap selembar surat itu didadanya. Surat itulah yang selalu bisa mengembalikan semangatnya untuk hidup jika ia sedang sangat terpuruk.
Yunho kembali melipat surat itu, lalu menyelipkannya didompet. ia memandang sebuah foto namja cantik yang terpajang sebagai foto dompetnya. Foto seorang namja cantik yang tersenyum lebar.
"Boo." lirihnya, kemudian mengecup foto itu.
Setelah itu Yunho kembali melanjutkan pekerjaan memasukan barang-barangnya kedalam tas ranselnya yang sempat tertunda tadi.
Tok tok tok
"Masuk!" Kata Yunho, yang kini tengah merestletingkan tasnya, saat dirasa sudah semua barang penting masuk ke ranselnya.
"Hyung! kau sudah siap?" Tanya seorang namja bersuara husky yang tak lain si Park Yoochun yang kemudian masuk kekamar Yunho.
"Hmm." Gumam Yunho mengiyakan.
"Ini tiket dan passportnya," Yoochun menyodorkan barang yang dimaksudnya, pada Yunho.
"Gomawo."
"Kenapa harus ke Hawaii? kalau pantai yang bagus sih, Jeju juga punya." Ujar Yoochun.
"Kau tahu sendiri tempat itu sangat indah bukan? seperti surga. Mungkin saja aku akan menemukan surgaku disana." Kata Yunho seraya tersenyum penuh arti.
"Iya, kau benar juga."
Yoochun lalu duduk di ranjang Yunho, ia memperhatikan Yunho yang kini tengah mengganti bajunya dengan T-shirt ketat berwarna hitam polos.
"Apa hyung benar-benar yakin akan pergi?" Terselip nada tak rela dari pertanyaan Yoochun. jujur saja, ia akan merasa kesepian jika Yunho yang sudah menjadi teman diapartemennya selama 1 setengah tahun harus pergi meninggalkannya.
"Hmm, aku tidak bisa lagi tinggal di kota ini, terlalu banyak kenanganku bersamanya di kota ini."
"Tapi hyung, mereka menginginkanmu kembali."
Yunho hanya tersenyum simpul mendengarnya, kini ia kembali memakai kemeja kotak-kotak melapisi t-shirtnya tadi. Yunho benar-benar tampak macho sekarang. Yunho yang sekarang bukanlah Yunho yang dua tahun lalu, yang selalu berpenampilan rapi. Jenggot dan kumis yang biasanya selalu dicukur rapi, kini ia biarkan bulu-bulu halus itu tumbuh liar. Rambut yang biasanya tertata rapi dengan wax, kini dibiarkannya terlihat berantakan, tapi walaupun begitu Yunho yang tampak berantakan seperti ini malah terlihat lebih tampan dan macho, apa lagi tubuhnya bertambah kekar sekarang.
"Mereka menginginkan aku kembali setelah memenjarakan aku selama lima bulan dan mengeluarkan aku dari badan intelejen? Yang benar saja." Yunho tertawa sinis. Ia masih ingat pada saat kematian Jaejoong, entah bagaimana tiba-tiba kepolisian datang ketempat itu dan menangkap Yunho. Yunho sempat mendekam selama lima bulan dipenjara karena dianggap sebagai tersangka pembunuhan Hangeng, dan ia juga dikeluarkan dari kesatuan badan intelejen korea selatan. Beruntung Yoochun, Siwon, Dongwook dan Donghae bersedia menjadi saksi. Belum lagi bukti keterlibatan Hangeng dengan Korea utara, yang diserahkan Jaejoong kepada Yoochun. Akhirnya Yunho dinyatakan tidak bersalah dan bebas.
"Maaf saja, aku tidak akan kembali ketempat itu." Tambah Yunho.
Yoochun diam, ia tidak ingin terlalu banyak berkomentar lagi, semenjak kematian Jaejoong, Yunho menjadi orang yang keras dan emosinya sedikit labil.
"Lalu apa hyung sudah menemukan Dongsaeng Jaejoong hyung?" Tanya Yoochun mengalihkan topik.
"Belum. mereka semua menghilang sejak kejadian hari itu. Bahkan menurut kabar yang kudengar, Mr. Kim tidak lagi tinggal di Jepang."
"Aneh." Gumam Yoochun.
"Hmm, kau benar. Ini memang aneh, sepertinya mereka menghindar dari sesuatu... atau ada sesuatu yang mereka sembunyikan." Yunho kembali tersenyum simpul. Ia mengenakan topi hitam dan kaca mata, lalu menyandang tas ranselnya bersiap untuk pergi.
"Aku pergi, jaga dirimu." Yunho membuka pintu kamarnya.
"Hyung!"
"Hmm?" Yunho kembali menoleh.
"Apa kau masih beranggapan bahwa Jongie hyung masih hidup?"
Yunho kembali mengangkat sudut bibirnya, mengulum senyum. "Tentu, kalau dia mati tidak mungkin dia menulis 'aku akan kembali padamu' dalam suratnya."
Yoochun tersenyum. "Baiklah , jaga dirimu baik-baik."
"Hmm." Gumam Yunho lalu keluar dari kamar.
Yoochun memandangi pintu kamar tempat Yunho keluar dengan tatapan sendu. Dia masih ingat pembicaraanya dengan Jaejoong terakhir kali, saat Jaejoong menelponnya dini hari untuk bertemu. Saat itu Jaejoong menyerahkan dokumen bukti keterlibatan Hangeng sebagai seorang mata-mata Korea Utara, Jaejoong juga memberikan surat tertuju untuk Yunho yang dimintanya untuk diberikan kepada Yunho saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Dan ternyata, apa yang dikatakan Jaejoong benar-benar terjadi, sesuatu terjadi padanya dan merenggut nyawanya. Yunho memang sempat drop berhari-hari semenjak meninggalnya Jaejoong, tapi saat pihak kepolisan melaporkan bahwa mereka tidak menemukan mayat Jaejoong di sungai itu, Yunho langsung tertawa, entah apa yang ada dipikirannya saat itu. yang jelas Yoochun masih ingat bagaimana tawa Yunho yang terpingkal-pingkal saat didalam penjara. Terlebih lagi saat Yoochun menyerahkan surat dari Jaejoong pada Yunho, Yunho seperti memiliki semangat hidup kembali, ia sudah jarang menangis, tapi sebagai gantinya ia selalu memandangi foto jaejoong sambil bernyanyi lagu cinta. Sepertinya Yunho benar-benar yakin kalau istrinya masih bernafas di dunia ini. Ia bisa merasakannya, kalau istrinya masih berpijak di bumi yang sama dan bernafas dengan udara yang sama dengan dirinya.
.
Sorenya Yunho tiba di Honolulu International airport, dari sana ia memutuskan untuk naik taksi menuju hotel. tidak terasa sudah dua tahun ia hidup tanpa Jaejoong. Dan hidup tanpa Jaejoong bukanlah sesuatu yang mudah untuk di jalaninya. Walaupun ia sudah mencoba bersabar dan tegar, Tapi tetap saja batinnya tersiksa setengah mati. Selama tiga tahun ini Yunho selalu memikirkan apakah istrinya benar-benar masih hidup atau... aah, ia tidak sanggup membayangkannya lagi. Ia hanya bisa mempercayai surat Jaejoong sekarang. Karena dalam surat itu secara tidak langsung Jaejoong berjanji untuk tetap hidup dan kembali padanya.
Kali ini Yunho mengabiskan waktunya berkeliling honolulu, diawali dengan tour ke pearl harbour, hingga menyaksikan festival aloha di honolulu downtown. Malamnya Yunho memutuskan berkeliling di salah satu pasar di honolulu. Ia berjalan-jalan sambil melihat-lihat pasar yang bisa di bilang tempat yang cukup menarik di hawai itu . Saat siang hari pasar itu akan beroprasi selayaknya pasar biasa, yang mana disana tersedia penjual sovenir khas Hawai, di pasar yang bergaya tradisional eropa itu juga tersedia toko pakaian, perhiasan dan parfum dengan dengan brand ternama.
Tapi di saat malam hari, pasar itu berubah menjadi selayaknya pasar malam tempat orang-orang bersenang-senang. Yunho berjalan menembus krumunan orang-orang yang sedang berdansa mengikuti musik khas Hawaii yang berasal dari gendang dan ukelele. dibagian tengah pasar, terdapat panggung kecil berbentuk bulat, dia atasnya terdapat para wanita yang memakai pakaian khas hawaii yang meliuk-liukan badannya menarikan hula dance. Yunho bisa melihat sebagian besar orang-orang disana adalah pasangan kekasih atau pasutri, ini bisa terlihat banyak di antara mereka yang bercumbu tanpa malu-malu.
Brugh
Tiba-tiba Yunho merasa seseorang menabraknya dengan kuat. Sesuatu yang dingin membasahi bajunya.
"I'm so sorry Mr! i'm so sorry." Ternyata yang menabrak Yunho adalah anak laki-laki berkulit hitam yang kira-kira umurnya atara 12 atau 13 tahun.
"Ah, it's oke. Are you oke?" Yunho malah balik bertanya pada anak itu.
"Yeah, i'm oke. Tapi tuan, bajumu basah dan kotor karena aku. Kumohon maafkan aku." Sepertinya anak laki-laki itu benar-benar merasa bersalah karena ia sudah menumpahkan minumannya di baju Yunho.
"Ah, tidak apa, nanti juga akan kering dengan sendirinya. Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Matthew. You can call me matt."
"Alright matt, apa kau bisa beritahu padaku, dimana aku bisa menemukan restaurant yang menyajikan makanan Korea disini? Yunho memutuskan bertanya pada anak itu tentang sebuah restoran yang di katakan laki-laki tua yang sadis, yang ia temui 2 minggu yang lalu.
"Korean restaurant?" Tanya anak itu memastikan. Yunho mengangguk.
" Kau bisa menemukannya di ujung pasar ini. tidak jauh dari mecusuar, ada sebuah rumah kecil yang menyediakan makanan Asia."
"Benarkah? bisakah kau mengantarku kesana?"
"Sure." Kata anak itu dengan mantap. lalu mereka berdua segera pergi menuju tempat yang di maksud.
.
Matt, mengantar Yunho sampai di sebuah cottage rumah kayu yang bercat putih. Cottage itu berdiri di pesisir pantai. Rumah itu terdiri dari dua lantai, yang bagian bawahnya di manfaatkan sebagai restoran kecil.
Yunho memasuki restoran kecil itu. Bunyi bell di pintu terdengar saat ia membuka pintu. tempat itu terlihat sepi, meja-meja tamu terlihat kosong. Yunho melihat seseorang sedang berdiri di counter order dengan posisi membelakanginya. Orang itu terlihat sedang sibuk melakukan sesuatu disana.
"Sorry sir, we're closed. You can comeback tomorrow." Orang yang diidentifikasi sebagai seorang laki-laki itu berkata pada Yunho tanpa berbalik menatap Yunho.
Yunho yang mendengar suara itu tersenyum. "Haah~ sayang sekali, padahal aku jauh-jauh datang ke tempat ini hanya untuk memakan masakanmu." Kata Yunho dengan suara manja yang dibuat-buat.
Orang yang sibuk di counter order seketika berbalik saat mendengar suara Yunho. Laki-laki berambut blonde itu ternganga saat melihat Yunho ada disana.
"Yu.. Yunho" Desisnya tertahan, wajahnya seketika berganti sumringah. Tanpa aba-aba, laki-laki itu berlari ke arah Yunho, lalu menerjangnya dengan pelukannya.
"Kau benar Yunhoku?"
"Tentu saja boo. Aku sangat merindukanmu, sayang."
Jaejoong sedikit meregangkan pelukannya untuk menatap wajah suaminya. "Aku juga. Aku sangat merindukamu setengah mati... hiks.. hiks." Ucap Jaejoong di akhiri dengan isakan kecil. Air matanya mengalir dari doe eyesnya yang indah.
"Hei, hei... kenapa mafia sadisku ini menangis, eoh?" Yunho sedikit terkejut juga istrinya yang biasanya dingin, egois dan tampak selalu tegar itu menangis. Selama Yunho menikah dengan Jaejoong, Yunho tidak pernah melihat Jaejoong menangis seperti ini di depannya.
"Aku pikir, aku tidak akan bertemu denganmu lagi.. hiks."
"Hey, seharusnya aku yang bilang begitu. Sejak kau jatuh dari jembatan itu, aku pikir aku sudah kehilanganmu selamanya." Yunho kembali menarik Jaejoong kedalam eratnya pelukannya.
"Tapi sekarang aku bersyukur kau masih hidup Boo. Sangat bersyukur."
Jaejoong tersenyum dalam pelukan Yunho. "Aku juga, sangat bersyukur masih diizinkan bernafas dan bertemu denganmu."
Yunho melepas pelukannya, berganti menangkupkan wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"Saranghae boo... Saranghae yeongwonhi." Ujar Yunho lembut sambil menatap kedua bola mata istrinya dengan lembut. kemudian ia mendaratkan bibir dikening Jaejoong.
"Nado... nado saranghae Yunnie" Balas Jaejoong lalu mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan mendaratkan ciuman lembut dibibir hati suaminya singkat.
mereka saling bertatapan dalam diam, menelusuri perasaan masing-masing lewat mata. Selama beberapa saat diam menyelimuti mereka, hanya ada suara deburan ombak dan angin laut yang berhembus kencang, hingga kedua bibir itu kembali menyatu dalam ciuman cinta yang mengalun lembut.
.
Yunho pov
Hal pertama yang aku lihat saat mataku terbuka di pagi hari ini adalah wajahnya. Wajah cantik yang semakin terlihat indah setelah sekian lama tidak bertemu. Walaupun dia lebih suka di sebut tampan, tapi aku lebih suka menyebutnya cantik. Itu karena alisnya, matanya, hidungnya bahkan bibirmya terlihat indah dan sempurna. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada makhluk didepanku ini berkali-kali. Dia begitu sempurna.
Tak lama, mata indahnya itu perlahan terbuka, ia tersenyum melihatku, begitu juga denganku.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanyanya dengan suara serak.
"Kau sangat cantik."
Dia sedikit cemberut mendengarnya. "Aku tampan."
"Aku tahu. tapi kau juga cantik."
Dia tersenyum mendengarnya. senyum yang manis sekali. senyum yang berhasil membuat jantungku berdetak berkali-kali lipat. Aaah... kenapa aku seperti remaja yang baru jatuh cinta begini.
"Hey!" Panggilku pelan.
"Hmm?"
"Aku jatuh cinta lagi padamu." bisikku.
"Benarkah?" Tanyanya. Aku menganggukkan kepalaku.
"Would you marry me?"
"Harus berapa kali aku menikah denganmu?"
"Bukankah kau bilang ingin memulai semuanya dari awal?" Aku membalas pertanyaannya dengan pertanyaanku.
Dia tersenyum lagi. "Jadi sekarang kau sedang melamarku?" aku mengangguk
"Di atas ranjang lagi?"
Aku baru ingat dulu aku juga melamarnya di atas ranjang. Bedanya saat itu aku melamaranya sehabis kami—ehem—kalian tahu lah. Tapi kali ini kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya tidur sambil berpelukan sampai pagi.
"Memangnya kenapa? itu ciri khasku." Aku melihat dia memutar bola matanya.
"Jadi, bagaimana?" Tanyaku tidak sabaran.
"Apa aku bisa berkata tidak?"
"Tentu saja tidak."
"Lalu kenapa masih bertanya? tentu saja aku mau. Berapa kalipun kau melamarku, jawabanku tidak akan berubah."
aku tersenyum. "Gomawo." Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
"Yun.."
"Hmm?"
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada di tempat ini?" Tanya Jaejoong sambil memulai sarapannya.
"Mertuaku yang mengatakannya padaku." Jawab Yunho.
Jaejoong mengernyitkan keningnya bingung. "Mertua?... maksudmu..APPA!" Seru Jaejoong tak percaya.
"Aku bertemu dengannya dua minggu lalu. Tak kusangka, ternyata dia lebih sadis dari pada kau. Dia menculikku di tengah jalan saat aku baru pulang kerja." Kemudian Yunho mulai menerawang mengingat kejadian dua minggu lalu. Dimana ia di culik paksa di tengah jalan saat sepulangnya dari tempat keranya yang baru, lalu di bawa ke sebuah tempat yang ia pun tidak tahu di mana itu. Karena saat pergi ke tempat itu mata Yunho di tutup dan tangannya terikat. benar-benar seperti korban penculikan.
Yunho pov end
.
flashback
Yunho merasakan lututnya terasa ngilu saat ia di hempaskan begitu saja ke lantai yang keras. Saat penutup matanya di lepaskan, hal pertama yang ia lihat adalah seorang laki-laki tua dengan setelan kimono berwarna hitam, sedang duduk bersila tidak jauh didepannya. Yang membuatnya menelan ludah gugup adalah pedang samurai yang sedang di elus (?) namja tua itu.
Selain laki-laki tua tadi, ternyata disekeliling ruangan yang bernuansa tradisonal Korea itu di kelilingi namja-namja berbadan kekar, yang bisa ditebaknya merupakan anak buah dari laki-laki tua didepannya.
Ehem
Yunho tersentak saat namja tua yang duduk didepannya berdehem dengan suara berat.
"Tinggalkan kami." Ujar laki-laki tua itu kepada anak buahnya. Setelah melepaskan tali yang mengikat tangan Yunho, Langsung saja para anak buah namja tua itu keluar meninggalkan Yunho berdua dengan bos mereka.
"Perkenalkan, namaku Kim Bong Chul, Ayah dari Kim Jaejoong."
"Ha?" Pernyataan laki-laki tua didepannya membuat Yunho kaget. hingga hanya kata 'Ha' yang keluar dari mulutnya.
"APA BEGITU CARAMU MEMBERI SALAM KEPADA MERTUAMU!" Bentak laki-laki tua itu, sambil mengacungkan samurainya didepan wajah Yunho, yang seketika membuat Yunho gelagapan.
"Jeo..Jeongseohamnida." Yunho langsung tegak dari duduknya, lalu memberi salam tradisional korea kepada orang yang mengaku ayah mertuanya.
Setelah memberi salam Yunho mulai memperkenalkan dirinya. "Namaku Jung Yunho, Aku suami dari anakmu Kim Jaejoong." Yunho membungkuk hormat.
"Jadi kau laki-laki lemah yang berani mempersunting anakku. Bahkan melindungi anakku saja kau tak becus."
Disindir seperti itu, Yunho merasa bersalah. "Maafkan aku Aboenim." Ujarnya lemah. Ia hanya bisa tertunduk didepan mertuanya.
"Aku memang suami yang lemah. Bahkan disaat terakhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Maafkan aku..."
"Apa kau tahu, sebenarnya aku sangat ingin membunuhmu sekarang?" Yunho semakin tertunduk dalam mendengar suara mertuanya semakin berat dan setengah menggeram. Ia sadar ia memang bersalah.
"Tapi sayangnya, aku tidak mau Jaejoong mendatangiku dan membombardir rumahku karena membunuh suami lemahnya." Tambah Mr. Kim.
Yunho terkejut mendengarnya. "Apa maksud anda, Jaejoongie masih hidup?"
"JADI KAU MENGHARAPKANNYA MATI?!" Mr. Kim kembali mengancungkan pedangnya kedepan wajah Yunho.
"A..animida. Aku hanya bingung dengan pernyataan anda tadi."
Mr. Kim menghela nafas. Matanya terus melancarkan tatapan intimidasi ke arah Yunho. "Dia masih hidup."
"Be..benarkah?" Yunho memberanikan diri menatap Mr. Kim.
"Disaat kau hanya bisa menangis, Aku menyelamatkannya. Aku membawanya ke Jepang lalu mengirimnya ke suatu tempat. Aku sengaja menyembunyikannya darimu, karena aku memang tidak setuju dengan pernikahan kalian."
Jujur saja, Yunho tidak terlalu peduli jika ayah mertuanya tidak menyetujui pernikahannya. Yang ada di otaknya sekarang adalah istrinya, yang katanya masih hidup. membuat Yunho bahagia mendengarnya.
"Tujuanku bertemu denganmu, adalah untuk ini!" Mr. Kim melempar sebuah map didepan Yunho.
Yunho mengambilnya lalu membacanya. Sesuatu yang berada didalam map membuat matanya membulat tak percaya.
"I..ini surat cerai?!" Yunho tercekat.
"Benar. Itu surat cerai. Dengan baik-baik aku memintamu untuk menceraikan Kim Jaejoong, anakku."
"Maaf aku tidak bisa." Jawab Yunho tegas, lalu meletakkan kembali map itu di lantai didepan tempatnya duduk.
Mr. Kim menghela nafas melihat Yunho yang sepertinya yakin sekali dengan ucapannya. "Aku tahu kau akan mengatakan itu. Tapi kau tetap harus melakukannya. Kau sudah tahu sendiri siapa kami sebenarnya. Aku tidak mau kau ikut campur terlalu jauh dalam keluarga kami. Ini untuk keselamatan dirimu sendiri. Jadi aku mohon, ceraikan Jaejoong."
"Maaf aku benar-benar tidak bisa, dan tidak akan pernah mau menceraikan Jaejoong."
"Kau benar-benar keras kepala!"
Yunho langsung bersujud di depan Mr. Kim. Ia menundukan kepalanya dalam. "Aku mohon aboenim, Jangan paksa aku menceraikan Jaejoong, jangan pisahkan kami. Aku sangat mencintai anakmu, aku tidak peduli nyawaku terancam atau tidak, bahkan aku rela mati demi anakmu. Justru aku akan mati jika aku berpisah dengan Jaejoong, karena aku tidak bisa hidup tanpannya." Kata Yunho dengan nada penuh permohonan.
"Kau ingin mempertaruhkan nyawamu untuk anakku? bodoh. Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Mereka akan terluka ika sesuatu terjadi padamu. kau pikir kau hanya hidup sendiri di dunia ini?!"
"Maka dari itu, biarkan kami menjalani hidup bersama. Jaejoong berjanji padaku akan mengulang semuanya kembali. Kami sepakat akan membuat hidup kami lebih baik dari sebelumnya. Aku mohon aboenim, restui kami. Aku sangat mencintainya, dia separuh jiwaku."
Raut wajah Mr. Kim tidak setegang tadi. Urat dikeningnya melemas seiring dengan permohonan Yunho yang cukup memelas. Tak lama kemudian ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Yunho yang masih menundukkan badannya di lantai. Mr. Kim mengambil map berisi surat cerai yang tergeletak di atas tatami lalu merobeknya membelahnya menjadi dua bagian. Yunho yang mendengar suara robekkan kertas mengangkat kepalanya.
sedetik kemudian ia kembali kaget saat Mr. Kim tiba-tiba memluknya. "Selamat datang di keluarga Kim, menantuku." Kata Mr. Kim sambil menepuk-nepuk punggung Yunho.
"A..aboenim" Gumam Yunho tak percaya.
Mr. Kim melepas pelukannya, lalu menyodorkan sesuatu pada Yunho, lebih tepatnya sebuah kertas. Yunho menerimanya lalu membuka lipatan kertas itu. Didalamnya tertulis sebuah alamat dengan tertanda tempat Hawaii, Honolulu.
"Cari dia, perbaiki hidup kalian dan hiduplah berbahagia bersama keluarga kecilmu." Mr. Kim kembali menepuk pundak Yunho.
"Terima kasih aboenim. Terima kasih banyak." Yunho menunduk hormat. Ia terharu sekaligus senang karena 3 hal hari ini. pertama, ia akhirnya tahu bahwa Jaejoong masih hidup. Dua, Ia mendapat restu dari mertuanya. Tiga, ia mendapatkan alamat tempat istrinya berada.
"Sekarang, bagaimana kalau kau menemani aku minum? Hanya menantu dan ayah mertua."
"Tentu." Jawabnya dengan senyum lebar.
.
"Begitulah." Yunho menyudahi ceritanya.
Jaejoong menatap Yunho dengan mata doe eyesnya yang berbinar kagum. "Jadi kau minum dengan ayahku?"
"Iya."
"Wah, ini tidak biasa."
"Kenapa?"
"Appa bukanlah tipe orang yang suka minum bersama orang lain secara pribadi selain denganku. Bahkan adik-adikku tidak ada yang pernah minum bersamanya."
"Benarkah? Kalu begitu aku sangat spesial untuknya."
"Iya. kau sangat spesial. Bahkan untukku kau berkali-kali lipat lebih spesial." Jaejoong mencium bibir suaminya lalu memberi lumatan singkat di sana.
Yunho tersenyum saat ia mendapat perlakuan seperti itu dari Jaejoong, Ia membalas dengan menggigit ujung hidung mancung istrinya dengan gemas, diakhiri dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Tapi tetap saja aku sangat berterimakasih pada appamu. Karena sudah menyalamatkanmu. Entah apa yang akan terjadi padaku jika kau benar-benar pergi dari dunia ini." Yunho meraih tangan Jaejoong, lalu menciumya.
"Terimakasih karena sudah bertahan hidup untukku."
Jaejoong yang mendengarnya tersenyum seraya mengangguk. Dia saja sangat bersyukur karena masih diizinkan bernafas serta kembali bersatu bersama suaminya. Tidak ada lagi hal yang lebih membahagiakan dari pada ini.
"Yun.."
"Hum?"
"Karena kau sudah menjadi anak yang baik selama kita terpisah, aku akan memberikan hadiah untukmu."
"Apa?"
"Sesuatu yang sangat kau impikan." Yunho mengernyitkan kening mendengarnya. Jaejoong turun dari ranjang, lalu meraih sebuah ponsel di atas meja nakas. Dia menelpon seseorang.
"Ya! sampai kapan kalian menculiknya? cepat kembalikan dia atau kubunuh kalian!" Jaejoong berteriak berbicara dengan seseorang di telepon.
"Siapa boo?" Tanya Yunho.
"Nanti juga kau tahu." Jawab Jaejoong. "Mandilah dulu Yun, aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
"Kau tidak membuka restoran?"
"Ani, aku libur hari ini untukmu." Jaejoong mencium suaminya sekilas lalu keluar dari kamar. Yunho mengulum senyum. aah... dia terlihat benar-benar bahagia.
.
.
Yunho keluar dari kamar Jaejoong dengan penampilan yang lebih segar setelah mandi. Ia berniat turun menyusul Jaejoong ke dapur, namun ia menghentikan langkahnya sejenak saat melewati sebuah kamar yang terbuka setengah pintunya.
'Kamar siapa?' Batinnya.
Kamar itu bercat biru langit dengan tirai jendela berwarna soft pink, terdapat banyak boneka beruang yang terpajang di atas buffet. ada juga mainan yang berserakan di lantai. Yang membuat Yunho makin bingung adalah, ada ranjang bayi di ruangan itu. singkat kata ini adalah kamar anak-anak.
Yunho harus menagih penjelasan dari Jaejoong. apakah istrinya itu tinggal bersama wanita di rumah itu.
Setibanya di lantai bawah, Yunho melihat Jaejoong tengah menata sarapan di salah satu meja yang ada di restoran itu.
"Duduklah Yun, kita sarapan bersama." Ajak Jaejoong.
Yunho menurut. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Jaejoong.
"Oh ya Boo, apa kau tinggal dengan seseorang disini?"
"Hmm? ani, aku sendiri." Jawabnya.
"Tapi kenapa diatas ada kamar anak-anak?"
"O..oh i..itu." Jaejoong bingung menjelaskan dari mana.
"HYUUUNG AKU DATANG!" Teriakan melengking itu terdengar bersamaan gemerincing pintu restoran yang terbuka.
Siapa lagi kalau bukan dongsaeng Jaejoong yang memiliki tinggi menjulang itu, aka Kim Changmin.
"Eh, Kenapa ada namja sialan ini disini?" Tanya Changmin sarkastik. well, ia memang sedikit tidak menyukai Yunho.
"Changminnn... Kau pilih saja, mau kukirim ke rumah sakit, atau langsung ke liang lahat?" Desis Jaejoong setengah menggeram.
Changmin berdecak mendengar ancaman Jaejoong. tentu saja dia tidak memilih keduanya, lebih baik dia menyapa kakak iparnya baik-baik.
"Anyoeng kakak ipar. Aku Kim Changmin." Ujar Changmin singkat tanpa menatap Yunho. Ia malah langsung duduk di salah satu kursi, lalu mencomot roti panggang yang di buat Jaejoong.
Suara gemerincing pintu kembali terdengar saat seseorang memasuki kedai. "Selamat pagi semua!" Teriak seorang namja manis yang baru saja tiba. Namja yang terlihat kesusahan mendorong kereta bayi sambil membawa perutnya yang sudah membesar.
"Yak! Tiang pabbo. kenapa kau meninggalkanku." Gerutu Kyuhyun yang semakin tampak manis dalam balutan pakaian untuk ibu hamil yang biasa di pakai yeoja. Kandungannya yang sudah beranjak 7 bulan itulah yang memaksanya memakai pakaian seperti itu.
Changmin langsung tegak dari duduknya lalu cepat-cepat menghampiri istri yang sudah dinikahinya hampir dua tahun itu.
"Mianhe baby." Changmin mengecup sekilas pipi Kyuhyun, lalu mengambil alih kereta bayi dari tangan Kyu.
Jaejoong yang melihatnya langsung menghampiri kereta bayi. "Hey, morning baby... apa kau merindukanku?" Kata Jaejoong sambil membawa balita yang berada di dalam kereta bayi ke dalam gendongannya. Bayi yang berada dalam gendongan Jaejoong tampak amat sangat menggemaskan. bayi mungil berbadan sintal itu tampak mengenakan baju beruang yang membungkus dari kepala hingga kakinya. Bayi itu tampak berlonjak kesenangan saat sudah berada di gendongan Jaejoong.
"Apakah menginap dirumah minnie ahjussi menyenangkan, hmm?" Jaejoong mencium bibir dan pipi bayi bertubi-tubi, menyesap aroma bayi yang lembut.
"Hey baby, coba lihat siapa yang datang." Jaejoong membawa bayi itu untuk berhadapan dengan Yunho yang masih berada di meja makan.
"Coba panggil, 'appa'."
Yunho mengernyit bingung mendengarnya.
"Ayo, panggil 'Appa'!" Kata Jaejoong lagi karena bayi itu diam saja sambil menatap Yunho dengan mata bulat nan beningnya.
"Mmaa..."
"Ani.. bukan 'eomma' tapi 'appa'."
"Mmaa..." Bayinya malah mengulang kata yang sama, karena memang hanya kata itu yang dia tahu.
"Boo.. apa maksudnya ini?" Tanya Yunho yang masih kebingungan saat melihat Jaejoong menyuruh bayi didalam gendongannya memanggil dirinya appa.
"Halo appa. Aku Jung Jinho, anak appa." Kata Jaejoong sambil menirukan suara anak kecil.
"Boo.." Oke, Yunho semakin bingung dibuatnya.
"Dia Jung Jinho Yun, anakmu... anak kandungmu."
Terkejut, bingung, bahagia, harus bercampur aduk dalam benak Yunho saat ini. Ia memandang Jaejoong dengan tatapan tak percaya, lalu beralih menatap bayi yang ada di dalam gendongan istrinya.
"Kau tidak bercanda, kan boo?"
Jaejoong menggeleng. "Ani. kau ingat kita beberapa kali melakukannya sebelum terpisah. dua minggu dari kejadian di jembatan itu, aku hamil. Walaupun saat itu kandunganku sangat lemah, tapi aku bisa melewatinya dengan baik berkat dukungan keluarga sekaligus juga karena kau."
Yunho mengambil alih Jinho dari tangan Jaejoong. "Hey baby, apa kabar? aku appamu." Yunho mengajak anaknya berbicara, walaupun hanya di balas Jinho dengan tatapan polos dari doe eyes yang diturunkan Jaejoong itu.
Yunho mencium kening, pipi Jinho bertubi-tubi, hingga anaknya tertawa karena merasa geli akibat jenggot dan kumis halus Yunho yang menggelitik kulitnya. Jaejoong juga ikut tertawa menyaksikan tingkah ayah dan anak itu. Ia bahagia melihatnya.
"Boo, maafkan aku karena tidak ada di sisimu saat masa-masa sulitmu. Aku memang suami yang mengecewakan."
"Aniya yun, ini bukan salahmu. Keadaan yang mengharuskan kita terpisah. Aku juga bisa bertahan selama ini karena dirimu. Mengingat dirimulah aku bisa merawat Jinho hingga sekarang." Tutur Jaejoong dengan lembut.
"Gomawo. Kalian memang harta berhargaku." Yunho mencium bibir Jaejoong lalu anaknya, dan mereka tersenyum bahagia bersama. begitu juga dengan pasangan Changkyu yang ikut tersenyum bahagia melihatnya.
Kini tidak ada lagi Hero si mafia yang pekerjaannya bergelimang darah. Sekarang yang tersisa hanyalah sosok Kim Jaejoong yang berperan sebagai istri dan ibu yang baik untuk kedua laki-lakinya, Jung Yunho dan Jung Jinho.
.
Lalu bagaimana dengan Junsu dan Kibum?
Junsu tetap tinggal di Seoul, karena namanya tidak tercatat di catatan kepolisian, Jadi ia hidup bebas di Seoul. Disana ia membuka toko bunga kecil-kecilan. Hingga suatu saat datang seorang namja tampan yang membeli seiikat bunga mawar. Saat namja tampan yang tidak lain adalah Park Yoochun itu tahu bahwa pemilik toko bunga itu adalah namja manis yang bernama Kim Junsu, Ia jadi rajin untuk membeli bunga di toko Junsu. Bukan untuk memberikan bunga kepada orang lain, tapi ia membeli bunga Junsu untuk diberikannya lagi kepada Junsu. Walaupun Junsu mengabaikannya, ia terus melakukannya hingga Junsu lelah sendiri mengabaikan Yoochun.
hingga suatu hari Yoochun berkata...
"Junsu-ah... mari kita mengulang semuanya dari awal."
dan Junsu menjawab...
"Baiklah."
.
Begitu juga dengan Kibum. Sebenarnya Kibum hanya saudara angkat dari Kim Jaejoong. Ia adalah anak yang di titpkan sahabat Mr. Kim. Kedua orang tuanya sudah meninggal dan Kibum sama sekali tidak memiliki saudara. Jaejoong dan Changmin menerima Kibum dengan senang hati. Dan jadilah sejak saat itu Kibum resmi menjadi anggota keluarga Kim.
setelah memutuskan untuk tidak lagi berkerja sebagai kaki tangan Mr Kim dan Jaejoong, Kibum melanjutkan kuliah di jurusan design yang sangat ia impikan di Seoul. Hingga suatu saat kehidupan damainya bertambah membahagiakan saat ia tak sengaja menumpahkan kopi di baju laki-laki yang ia tabrak di sebuh cafe. Kibum yang panik langsung meminta maaf sambil berusaha membersihkan baju namja tampan yang memiliki lesung pipi itu dengan tisu, namun namja yang di tabraknya malah memandanginya tanpa berkedip hingga beberapa saat kemudian namja itu berkata dengan cepat..
"Siapa namamu? berapa nomor handphonemu? Dimana alamatmu? mau kah kau menjadi kekasihku?" Tanya Namja yang ternyata adalah Choi Siwon itu.
.
Lalu Changmin dan Kyuhyun?
Bukankah diatas sudah saya jelaskan kalau mereka sudah menjadi sepasang suami istri sekarang? lebih tepatnya 5 bulan dari kejadian jatuhnya Jaejoong dari jembatan, Changmin dan Kyuhyun memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka pada ikatan pernikahan, itu berarti sudah 1 setengah tahun. Sebenarnya dahulu Kyuhyun hanya seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Ia berteman dengan Changmin saat keduanya masih duduk di bangku SMP. ia seorang ahli computer Dan ia juga bisa membuat alat-alat canggih yang kadang terlihat berbahaya. Hubungan pertemanan Kyuhyun dan Changmin berubah menjadi sepasang kekasih saat keduanya duduk di bangku SMA. Saat nenek Kyu meninggal, Changmin mengajaknya tinggal bersama di kediaman keluarga Kim. Dan Kyuhyun menyambut baik ajakan Changmin. Begitulah sebabnya kenapa Kyuhyun bisa menjadi kaki tangan Jaejoong.
Hidup Changmin dan Kyuhyun berjalan bahagia, bahkan di dalam perut kyuhyun sudah ada Kim twins didalamnya. Yah~ walupun begitu, rumah tangga mereka masih saja di bumbui dengan pertengkaran kecil yang terkadang terlalu dibesar-besarkan, tapi hal itulah yang malah membuat hubungan keduanya awet. Mereka memiliki cara sendiri untuk menjaga cinta mereka agar tetap bersemi, salah satunya, ya dengan bertengkar karena hal sepele.
Mereka sudah mulai menjalani kehidupan yang sebenarnya sekarang. Tidak ada senjata dan tidak ada darah yang tertumpah sia-sia. Yang ada hanya keluarga dan cinta yang mendominasi hidup mereka. Yunjae yang kembali mengulang kehidupan rumah tangga mereka untuk menjadi rumah tangga yang lebih baik yang di landasi kejujuran, kepercayaan dan cinta. Tidak ada lagi jarak di antara mereka yang terisi kebohongan-kebohongan, karena semuanya sudah di unkapkan dengan jujur pada satu sama lain. Changkyu yang baru menginjak kehidupan baru dalam ikatan suami istri, serta Junsu dan Kibum yang baru akan memulai kisah cinta mereka. Walau hidup mereka takkan selamnya mulus. setidaknya cinta mereka tetap selalu tulus.
Dan cerita ini pun berakhir dengan...
Cinta..
it means
HAPPY ENDIIIIIIIIIIIIIIING! #Teriak ala Changmin
.
.
Oh, for real... Jeogmall ghamsaheyo untuk kalian para readers or silent readers
Untuk kalian yg udah nungguin dengan setia cerita yg updatenya seabad, dan uda review cerita saya dari awal sampe epilog ini
untuk yg udah capek2 ngefave or follow cerita yang dari pertama kali gbung di ffn sampe sekarang baru tamat
untuk yg sllu ingetin a.k.a (nagih) untuk update ni ff baik di fb, twitt, or PM,
dan untuk dukungan yg selalu kalian berikan,saya bener-bener berterimakasih dan menghargai semuanya. #pelukreadersatusatu
Aku gak bisa kasih epilog yang lebih bagus dari ini... mianhe krena jangkauan otak saya terbatas. maaf juga untuk banyak kesalahan yg saya buat di tiap chap, baik typos or kesalahn kata.
I Love You Full Readers MWIM sampai jumpa di ff saya yan lain
pai pai ~.^
ps : Untuk masa lalu Junsu udah di jelasin di chap awal.
.
bonus for you my dear reader
'OMAKE
.
Siang hari yang cerah di Honolulu ibu kota dari Hawaii, pulau eksotis yang indah. Tempat tujuan para pasangan pasutri berbulan madu atau bahkan liburan keluarga. Begitu juga dengan Yunjae. Mereka tidak hanya berencana berbulan madu di pulau indah itu, tapi juga mereka melaksanakan pernikahan kedua mereka di tempat itu.
kali ini tidak seperti pernikahan Yunjae yang pertama yang hanya dihadiri orang tua dan kerabat Yunho, Pernikahan Yunjae hari itu di laksanakan di salah satu gereja di honolulu yang letaknya didekat pantai. kali ini dihadiri oleh kerabat dan beberapa teman dekat Jaejoong dari Jepang dan Seoul, ada juga beberapa relasi bisnis tuan kim. Selain itu datang juga Junsu dan Kibum yang didampingi kekasih masing-masing, yaitu Yoochun dan Siwon yang ternyata berhasil merebut hati mereka.
Awalnya orang tua Yunho sempat bingung karena pelaksanaan pernikahan Yunjae yang kedua tapi Yunho dan Jaejoong sudah menceritakan yang sebenarnya, walau awalnya mereka sempat shock, tapi akhirnya mereka tidak bisa menolak karena bagaimanapun Jaejoong sudah memberikan cucu yang sangat mereka tamu sudah hadir, pendeta juga sudah hadir, Suasana pernikahan sudah sempurna dan Jaejoong juga Yunho terlihat sudah rapi dalam balutan tuksedo pengantin. tapi, acara tidak kunjung dimulai, membuat para tamu undangan sudah tidak sabar lagi. Pasalnya penyebabnya adalah wali dari Jaejoong belum datang.
"Yun, kita laksanakan pernikahannya tanpa appa saja." Rengek Jaejoong pada Yunho. saat ini keduanya tengah berdiri di depan gereja menanti kedatangan Mr. Kim.
"Tidak. Appamu harus hadir. aku tidak mau pernikahan kali ini sama dengan pernikahan kita yang sebelumnya. semuanya harus lengkap kali ini."
Tekan Yunho lagi. Pasalnya sedari tadi Jaejoong merengek padanya agar prosesi pernikahan mereka segera dilaksanakan, mengingat tamu yang mulai tidak sabar."Tapi kasihan para tamu sudah lelah menunggu."
"Pokoknya kita laksanakan pernikahan setelah aboenim datang!" Kini suara Yunho lebih cemberut, dalam hati ia mati-matian merutuki appanya yang tidak kunjung datang. Entah apa yang sedang di lakukannya.
Baru saja Jaejoong berpikir untuk mencincang appanya, suara deru helichopter terdengar. Helichopter itu mendarat di tempat yang terbuka di lapangan gereja yang lumayan luas. Jaejoong memutar bola matanya malas.
"Tukang pamer." Gumam Jaejoong mencibir. Saat melihat ayah mertuanya sudah datang Yunho kembali masuk kedalam gereja untuk bersiap-siap berdiri di altar.
"Mianhe appa terlambat." Ujar Mr. Kim menghampiri anaknya.
"Appa mau berperang eoh?" Jaejoong menunjuk beberapa bodyguard appanya yang bertampang sangar dan berpakaian hitam-hitam di belakang appanya.
"Abaikan saja mereka." KatA Mr. Kim cuek lalu menggandeng tangan anaknya
"Apa kau siap?" Tanya Mr. Kim pada anaknya.
"Hmm." Angguk Jaejoong keduanya perlahan mengambil langkah untuk memasuki gereja.
Musik mulai mengalun saat Jaejoong mulai berjalan. Matanya lurus kedepan memandang suaminya yang tampan. Jaejoong tersenyum padanya, begitu juga dengan Yunho. Dimata Yunho, Jaejoong tampak sempurna dengan balutan tuksedo putih dengan mahkota bunga yang juga berwarna putih yang menghiasi rambut blondenya.
"Aku serahkan anakku yang cantik ini padamu. Kalau kau melukainya, peluruku akan menembus jantungmu!" Ancam Mr. Kim setegah berbisik di akhir kalimatnya.
Yunho tersenyum, "Ne. Percayakan padaku aboenim" Jawab Yunho yakin. Lalu ia segera membawa Jaejoong berhadapan dengan dirinya didepan pastur. Sedangkan Mr. Kim segera duduk di tempat yang telah disediakan untuknya.
"Hadirin sekalian, kita berkumpul di sini pada hari yang mulia, untuk menyaksikan penyatuan Jung Yunho dan Kim Jaejoong."
Kemudian pendeta itu menghadap ke Yunho . "Jung Yunho , Apakah anda bersedia menjadikan Kim Jaejoong sebagai seorang istri dan berjanji akan selalu setia dan melindungi, dalam suka ataupun duka, saat kaya ataupun miskin, saat sakit maupun sehat. Dan berjanji akan selalu mencintai dan saling menghargai selama kalian masih hidup?"
"Saya bersedia!" Jawab Yunho mantap. Matanya tidak pernah lepas dari sosok yang berada di depannya, yang kini tersenyum seperti dirinya.
"Dan anda, Kim Jaejoong. Apakah anda bersedia menjadikan Jung Yunho sebagai seorang suami dan berjanji akan selalu setia dan melindungi, dalam suka ataupun duka, saat kaya ataupun miskin, saat sakit maupun sehat. Dan berjanji akan selalu mencintai dan saling menghargai selama kalian masih hidup?"
"Saya Bersedia!" Jawab Jaejoong mantap.
"And now i pronounce you, as husband and wife. You may kiss." Ujar sang pendeta.
Yunho dan Jaejoong saling tersenyum bahagia. "I love You always." Ucap Yunho memandang lekat mata Jaejoong.
"I love you forever." Jawab Jaejoong tersenyum bahagia.
Kemudian mereka saling mendekatkan wajah lalu saling menempelkan bibir memberikan lumatan kecil dan singkat. Tidak hanya di bibir, Yunho juga mencium istrinya di kening dengan lembut sebagai Tanda bahwa ia begitu menyayangi sang istri. Riuh tepuk tangan dari para undangan menyambut kedua pasangan ini, namun disela-sela riuh tepuk tangan, suara tangis balita yang ada di pelukan Mrs. Jung terdengar.
Jaejoong segera mengambil alih Jinho dari tangan ibu mertuanya.
"Aigoo.. urie Jinho juga ingin di cium?" Tanya Jaejoong pada sang anak. Ia dan Yunho pun segera mencium anak mereka bertubi-tubi. Semua orang yang berada di dalam gereja terharu melihat keluarga kecil itu. Setidaknya si mafia sadis sudah berubah menjadi istri dan ibu yang penuh rasa cinta dan kasih sayang untuk kedua laki-lakinya.
"Acara selanjutnya... BEACH PARTY!" Teriak Changmin melengking membuat semua tamu berhamburan keluar gereja menuju pantai, karena itulah acara yang di tunggu-tunggu.
Sedangkan Jaaejoong yang masih berdiam diri didalam gereja saling melemparkan tatapan cinta. "Aku mencintai kau dan Jinho, kalian harta berhargaku." Ucap Yunho.
"Kami juga mencintaimu Yun. Sangat mencintaimu." Balas Jaejoong. Mereka kembali berciuman singkat lalu beralih mencium Jinho yang sedang berada di gendongan Jaejoong.
Tidak ada yang lebih membahagiakan dari berkumpul bersama keluarga kecilmu dan menjalani sisa hidup dengan bahagia.
END
.
Happy Yunjae day!
Next update - My Sleepless Namja
