Vovg : iya, sama… aku sendiri yang nulis aja ngerasa agak gimana gitu.. Thanks for Review :)
Sinta Malfoy : Tenang.. Ada rencana kok dibalik semuanya.. Thanks for Review :)
.
.
.
Disclaimer : Always JK Rowling.
A/N : Maaf lama bangeeeeet apdetnya, maaf banget. Lagi banyak tugas nih soalnya. Jadi, ini apdetnya special buat para readers.
.
.
.
Mereka –Severus dan Rovine berjalan dalam diam, membeluk di sudut dan Severus dan Rovine berhenti didepan gargoyle- patung batu besar yang jelek sekali.
"Lemon Drop!" kata Severus. Jelas ini adalah kata sandinya karena makhluk jelek ini mendadak hidup, melompat minggir, dan dinding dibelakangnya terbelah. Setelah itu munculah sebuah tangga spiral yang bergerak pelan seperti escalator.
Sampailah mereka dikantor Dumbledore, Severus mengetuk pintunya. Severus membuaka pintunya, untuk sesaat Rovine berpikir jika Severus akan masuk ke pintu itu dahulu, tetapi ia salah. Severus membukakan pintunya dan menyuruh Rovine masuk duluan. 'Aku suka pria ini, ia gentleman' batin Rovine. Ia terkekeh sendiri.
"Ah, Severus, Rovine, ada apa pagi-pagi datang kemari?" suara Dumbledore datar.
"Kami ingin berbicara sesuatu. Penting sekali." Balas Severus.
"Bisa kulihat, silakan duduk." Mereka berdua duduk bersebelahan dikursi yang sudah disediakan.
"Jadi?" ucap Dumbledore sambil memandang tajam kepada mereka berdua.
Severus mulai buka bicara, ia menghela nafas seolah banyak sekali beban berat yang sedang ia pikul sekarang. Tunggu, ia memang memikul beban batin yang berat. Yah, kalian pasti tau apa.
"Dia, Gadis Healer itu…." Ia terhenti.
"Oh ya, Sherina, ada apa dengannya?" tatapan Dumbledore semakin tajam dan menusuk kepada Severus.
"Dia..Dia anakku –anak kami." Ucap Severus, suaranya bergetar.
"Merlin Beard!" gumamnya pelan. "Kapan tepatnya kejadian 'itu' terjadi? Jangan katakana jika ini terjadi saat pesta wisuda malam itu, Mrs Blade?!"
"Sayangnya itu benar, Sir. Bagaimana anda tau itu?"
"Aku hafal setiap murid dan staf ku yang hadir. Kala itu, hanya kalian berdua yang tidak hadir pada pesta wisuda." Ucap Dumbledore enteng.
Rovine menundukan kepala, Severus masih diam mematung. "Awalnya, niatku hanya bertanya mengenai sebuah mantra yang dimiliki oleh Pangeran Berdarah Campuran. Namun semua berubah saat nafsu menyerang, aku meminta wiski api kepada Sev—profesor Snape. Awalnya ia menolak, tetapi aku memaksanya." Rovine terhenti.
Menarik nafas yang cukup panjang, akhirnya ia melanjutkan ceritanya. Dumbledore menunggu dengan sabar.
"Lalu, aku mabuk berat, arah pembicaraan aku mulai ngelantur dan aku tak bisa mengontrolnya lagi. Aku mulai mengatakan bahwa aku sudah jatuh cinta kepada Profesor Snape sejak tahun ke-empatku. Sementara Profesor Snape masih agak sadar, ia masih menyangkal kata-kataku, hingga akhrinya kami benar-benar mabuk dan itu semua terjadi, aku tak bisa mengingat apapun." Jelas Rovine.
"Lalu, apakau mengadopsikan anak kepada seorang penyihir Indonesia?" Tanya Dumbledore.
"Ya, itu benar. Sahabatku, Tristan, bersedia menjadi ayah baptis anak kami, kami pun dibantu oleh Willem mengadopsikannya kepada penyihir di Indonesia itu." Jelas Rovine.
"Aku rasa, ia merasakan hal yang sama denganku, ketika awal kami bertemu di Olivander 8 bulan lalu, aku merasa sangat mengenal Sherina, sebaliknya juga. padahal aku tak pernah bejumpa dengannya. Dan, saat penyerangan, ia menyelamatkanku. Ia menyelamatkan hidupku." Ucap Severus.
"Lalu, apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Dumbledore serius.
"Ia akan pergi ke kementrian lusa, kami tak ingin ia mengetahui semuanya dari kementrian, kami ingin ia tau dengan cara yang seharusnya. Selain itu aku khawatir keamanannya jika ia ke-kementrian dan mengetahui semuanya."
"Rencana yang bagus. Tapi kurasa, salah satu diantara kalian harus ke-kementrian hari ini juga. Dan satu hal lagi, kalian harus memberitahukan hal ini kepadanya. Ini penting sekali, apalagi ia sudah berusia 17 tahun sekarang. Ia membutuhkan figur orang tua." Saran Dumbledore.
"Pasti, kami akan memberitahukan hal ini. Secepatnya, dan sesempat mungkin. Aku tak tahan melihatnya dengan keadaan seperti itu." Balas Snape. Rovine mengangguk setuju.
"Sekarang, Mrs Blade silakan ke kementrian. Sebelum cuaca semakin memburuk."
Rovine mengangguk dan meninggalkan ruangan Dumbledore. Ia diikuti oleh Severus. "Er, Severus. Aku harus berbicara kepadamu." Ucap Dumbedore.
"Kementrian akan curiga hal ini." Balas Dumbledore.
.
.
Cuaca hari ini, sedang sangat tidak bersahabat, akan tetapi, Rovine memaksakan diri-nya untuk pergi ke-kementrian untuk menemui Willem. Severus tidak menemaninya karena perintah dari Dumbledore. Mengambil sejumput bubuk floo dan menyebutkan tujuannya. Ia mempunyai sebuah rencana yang lebih baik dari pada menyembunyikan fakta jika Sherina adalah anaknya, ia tahu, mungkin Sherina akan sedih ataupun kecewa kepada kedua orang tua kandungnya karena sudah mengadopsikan Sherina ke orang lagi, apalagi orang tua angkatnya berada jauh sekali dari negara kelahiran Sherina –Inggris. Tapi ini demi kebaikan mereka berdua, Rovine harus memiliki kehidupan yang mapan sebelum anaknya tumbuh dewasa, Sherina juga membutuhkan orang tua yang bisa benar-benar merawatnya, dalam artian orang tua yang lebih senior, bukan anak berusia 18 tahun.
"Kementrian Sihir." Teriak Rovine dari perapian. Dalam sekejap kobaran api hijau muncul dan menelan Rovine kedalamnya.
Ploop
Suara kobaran api dari salah satu perapian di Kementrian sihir berbunyi, diikuti dengan keramaian oleh orang-orang yang sibuk bekerja ataupun hanya sekedar iseng mengunjungi kementrian.
"Ada yang bisa saya bantu, Mrs?" tanya seorang resepsionis di kementrian.
"Ada, saya ingin bertemu dengan Mr. Harcrom. Ini penting." Ucap Rovine.
"Baik, silakan tunggu dulu. Saya akan menemui Mr Harcrom dulu." Jelas Resepsionis itu ramah.
"Tentu." Balas Rovine yang langsung duduk di kursi dekat resepsionis itu. Sementara Resepsionis itu menemui Harcrom di ruangannya.
"Selamat Pagi, Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Ia bilang ini penting." Ucap Wanita paruh baya berambut cokelat ikal itu.
"Oh, baik. Persilakan masuk saja, ya?" ucap Willem dengan nada semangatnya seperti biasa.
"baik, sir." Balas wanita itu langsung beranjak dari kantor Willem. Ia langsung menemui Rovine dan mempersilakannya menemui Willem. Ia masuk dan menutup pintu ruangan.
"Selamat pagi, Mr Harcrom." Sapa Rovine ramah.
"selamat Pagi, Mr Blade. Senang bisa berjumpa dengan Anda lagi. Ada yang bisa saya lakukan untuk Anda?"
"Saya juga. Jadi, kedatangan saya kemari, ada hubungannya dengan tujuan saya kemari 17 tahun lalu." Jelas Rovine.
"Oh, iya ya, ada apa memangnya?" tanya Willem ramah.
"Begini, jika ada seorang gadis bertanya siapa kedua orang tua kandungnya, tolong jangan diberi tahu. Saya ingin memberitahunya sendiri, dan juga ini demi keamanannya." Pinta Rovine.
"Wah, kalau seperti ini susah, biasanya butuh waktu 1 atau dua hari lagi karena saya juga harus mengkonfirmasikan hal ini ke beberapa menteri lain." Balas Willem.
"Eh, baiklah. Tapi saya mohon usahakan besok sudah keluar hasilnya." Ucap Rovine gugup.
"TEntu, Mrs. Akan saya usahakan semampu saya." Balas Willem.
"Baik, terima kasih, kalau begitu saya permisi." Ucap Rovine menjabat tangan Willem.
"Sama-sama, Mrs Blade. Senang bisa melihat anda lagi." Balas Willem.
Rovine membalasnya dengan memberikan sebuah senyum, ia masih terlihat cantik meskipun umurnya sudah hampir 36 tahun. Ia keluar meninggalkan ruangan Willem dan kembali ke kastil siang ini juga. Ia tentu tidak keluar masuk kastil seenak hidungnya, tapi tentu ia ijin kepada Dumbledore dulu.
Oh, Rovine dan Severus juga sudah berkata apa yang sebenarnya terjadi kepada Dumbledore sesaat sebelum ia pergi ke-kementrian. Dumbledore sangat terkejut mendengar jika Rovine dan Severus memilik seorang anak gadis dan anak itu yang kini menjadi staff nya sendiri. Walaupun ia memang sudah menduga sebelumnya jika Severus dan Rovine memiliki sebuah hubungan khusus.
-Selain itu-
Harry mengirim surat kepada Hermione tentang ajakan Sherina berlibur di Indonesia akhir tahun ajaran ini.
Dear Hermione Jean Granger.
Aku ingin tau, apakah kau mau pergi berlibur ke Indonesia bersamaku, Draco dan Sherina akhir pada musim panas ini. Tapi, mau ataupun tidak kau harus ikut, karena ini adalah satu-satunya kesempatan bisa berkunjung ke luar negri bersama-sama.
P.S. : Kau juga bisa mengajak kucingmu jika kau mau.
Lovely
Harry J. Potter
Ia melipat perkamen kecil itu dan memberikannya kepada Hedwig. Hedwig pun terbang keluar untuk mengantarkan surat itu. Sementara itu Sherina mengagetkan mereka dengan datang tiba-tiba tanpa ketukan atau apapun.
"Hai Harry, Draco, apakau ingat tentang ajakan Profesor Riddle minggu lalu. Kurasa kita harus bersiap kesana." Ucap Sherina.
"Blimey Hermione! Kau mengagetkan kami!" ucap Harry.
"maaf" ia meringis. "Ayo bersiaplah, sebentar lagi jam 5 nih." Ucap Sherina
"Oh, aku hampir lupa. Baiklah, ayo kita kesana." Ucap Draco.
Mereka pun bergegas menuju Three Broomstick untuk menepati janji mereka kepada Tom. Ok, Sherina hanya menganggap ini keluar bersama teman, bukan kencan atau apalah itu.
Saat mereka sampai disana, ternyata Tom sudah berada lebih dulu disana. "Hai kalian! Disini!" Ucap Riddle melambaikan tangannya untuk mengisyaratkan keberadaannya. Langsung saja mereka bertiga menghampiri Tom Riddle dan duduk disana.
"Sudah lama menunggu kami?" tanya Sherina.
"Tidak, aku baru saja disini." Jawab Tom. "Jadi, kalian mau minum apa? Aku yang traktir deh." Ucap Riddle.
"Aku ingin segelas butterbeer hangat saja." Jawab Draco.
"Sama." Ucap Harry dan Sherina bersamaan.
"Wah, kompak sekali." Goda Riddle.
Riddle pun bangkit dari tempat duduknya dan memesan kepada Madam Rosmerta 4 gelas butterbeer hangat untuk mereka ber empat.
"Jadi, apa rencana kalian untuk liburan akhir semester ini?" tanya Riddle.
"Aku berencana mengajak mereka untuk berlibur di Indonesia. Kau mau ikut?" tawar Sherina.
"Aku sebenarnya tertarik, akan tetapi ada tugas dari Hogwarts untukku dan harus ku kerjakan akhir tahun ajaran ini. Jadi, maaf aku tak bisa ikut kalian." Jelas Tom
"Tugas apa kalau kami boleh tau?" tanya Draco.
"Maaf, hanya aku dan Dumbledore yang boleh tau."
"Oh, baiklah kalau begitu." Balas Draco.
Tom mengangguk. "Kalian ingin berkenalan dengan piaraanku?" tanya Riddle.
"Kau punya piaraan?" Tanya Harry kaget.
"Kau kemana saja Potty?" Goda Tom. Ia merogoh saku jas hitamnya dan mengeluarkan ular yang sudah ia sihir menjadi kecil.
"Ini Nagini. Dia ular yang baik."
"Ohhhh.. lucu nyaa.." ucap Sherina.
"Kau mungkin akan lari jika melihat ukuran ular ini yang sebenarnya." Balas Tom.
"Bukankah memelihara ular dilarang?" tanya Harry.
"Memang, tetapi Dumbledore memberiku ijin untuk membawa ular ini kedalam kastil, asalkan tidak melukai siswa."
"Yah.. Semoga ia tak akan melukai siswa." Ucap Draco.
Mereka berada cukup lama di Three Broomstick, dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kastil sebelum makan malam dimulai. Meskipun mereka bukan siswa, mereka harus memberikan contoh yang baik untuk siswa.
.
.
.
TBC
.
.
A/N : Yahhh.. ini dia updatenya.. maaf update sangaaaaatt lama sekkaaalliii.. dan maaf karena Cuma sedikit sekali…
Draco : Gak usah lebay kali..
Author : Maaf, aku terlalu sedih meninggalkan penggemarku se lama ini…
Draco : Lebay dan pede banget sih lu..
Author : biarin..
Severus Snape : Read and Review!
