[REMAKE] Katie Ashley – The Proposition #2
.
.
.
Disclaimer: cerita sepenuhnya milik Katie Ashley, terjemahan indonesia dari buku aslinya sepenuhnya milik LoveReads.
.
versi HunHan yang saya remake, memiliki alur dan bahasa yang sedikit berbeda dari novel aslinya, TETAPI tetap tidak merubah inti ceritanya. alur, pemakaian bahasa, dan nama tokoh ada yang saya ubah. ff ini dibuat hanya untuk kesenangan semata. tidak ada unsur lain didalamnya.
.
luhan1220
.
.
.
The Proposal
.
.
Sehun tertawa atas rasa malu Luhan. Ia mengambil handuk, tetapi daripada menutupi tubuhnya dengan handuk, Sehun dengan sengaja menikmati waktu mengeringkan tangan dan badannya. Luhan tidak menghiraukannya dan tetap fokus buang air kecilnya. Setelah selesai, ia mencuci tangannya dan memutar mata ketika melihat Sehun masih saja telanjang.
.
.
.
Chapter 11
.
.
.
.
.
Luhan bangun di pagi hari dengan deringan nyaring telepon ditelinganya. Mengerlingkan sebelah matanya pada jam, ia tahu siapa yang menelponnya sepagi ini. "Selamat pagi nek." Luhan berbisik dengan suara khas orang mengantuk.
"Hai sayang. Maaf membangunkanmu sepagi ini, aku ingin tahu apa Sehun bisa datang kemari hari ini? Aku membuat casseroles untuk kalian dan bisa dipanaskan kembali nanti."
"Nenek, kau seharusnya merawat dirimu sendiri dan kakek, bukan aku!" protes Luhan.
"Apa salahnya dengan casseroles sayang? Lagipula aku tidak tenang jika kau dan bayimu tidak mendapatkan makanan yang baik dan sehat."
"Sehun pintar memasak nek. Jadi kau tidak perlu khawatir."
"Oke baiklah. Tapi Sehun tetap harus kemari mengambil casseroles sebentar saja ya, bagaimana?"
Melihat sekilas melalui bahunya, luhan mendapatkan Sehun masih ada ditempat tidur disampingnya. "Aku akan menanyakannya saat dia bangun."
Sehun langsung membuka sebelah matanya. "Aku sudah bangun."
"Apa itu artinya kau akan pergi ke rumah nenek untuk mengambil makanan untuk kita?"
"Tentu saja. Aku akan memakai pakaianku sekarang."
"Sehun akan berada disana agak siangan nek." Mendengar desahan Heechul, Luhan langsung menambahkan. "Dia perlu menyediakan sarapan untuk kami dulu lalu mandi."
"Baiklah kalau begitu. Aku mencintaimu, Xiao Lu."
"Aku mencintaimu juga." Saat Luhan menutup teleponnya, ia merengkuh ponsel itu kedadanya. Ingin merasakan pelukan Heechul lebih dari apapun. Tidak peduli apapun yang terjadi di hidupnya, hanya Heechul-lah yang membuat semua itu baik – baik saja.
Melihat kearah Sehun yang masih menempeli bantalnya, enggan untuk bangkit, membuat dirinya menghela nafas maklum kepadanya. "Kau tidak harus bangun tidur sekarang. Kau bisa kembali tidur Sehun."
"Sejujurnya, Aku masih sangat mengantuk. Tapi mengingat kita belum sarapan. . ."
"Tidak, aku masih merasa mual dipagi hari."
"Benarkah? Um, Baiklah kalau begitu, tolong pasangkan alarm pukul sepuluh, ya?"
"Hmm."
Saat Luhan bergerak kebelakang dalam selimut, Sehun bergerak cepat didalam selimutnya. Tangannya menyelinap kesekitar pinggang Luhan, memeluknya dari belakang. Menyusupkan wajahnya di lehernya. "Hangatkan aku."
Nafas Luhan tersentak saat ia menatap sekilas melewati bahunya pada Sehun. "Apa kau benar – benar kedinginan?"
Sehun membuka salah satu matanya dan memberikan seringai licik. "Mungkin."
"Uh-uuh, baiklah." Mereka baru saja memposisikan diri saat Haowen menendang dengan kerasnya. "Ooumph." Luhan langsung bergeser kekanan.
"Oh astaga, aku tidak mencoba untuk menyentuh payudaramu!"
Luhan terkikik. "Aku tahu kau tidak melakukannya." Ia mengambil tangan Sehun dan membawanya keperutnya dimana kaki Haowen menyendul. Sehun mengambil nafas dalam – dalam.
Saat Luhan menatap kembali padanya, wajahnya berekspresi murni kekaguman. Sehun menatap Luhan dan tersenyum. "Apa dia selalu seaktif ini setiap pagi?"
"Kadang. Biasanya, dia benar – benar aktif setelah aku makan."
Bahkan setelah Haowen tenang, Sehun tetap menempatkan tangannya diperut Luhan. Walaupun Luhan seharusnya memprotes, ia tidak melakukannya. Terasa terlalu nyaman dengan tangan Sehun disekitarnya.
.
.
.
Alarm berbunyi pukul sepuluh tepat, dan Sehun langsung bangun dari tidur singkatnya. Saat Sehun bangkit, Luhan mengira Sehun akan mandi, tetapi ia malah mengambil ponselnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menelpon Yixing noona."
"Kenapa?"
"Setelah pulang dari rumah nenek, aku perlu mampir ke toko makanan dan mencari beberapa barang. mungkin aku keluar lebih lama dari yang kupikirkan, dan aku tidak ingin kau sendirian Luhan."
"Kau tidak perlu melakukan itu, aku baik – baik saja."
Sehun menggelengkan kepalanya saat ia melangkah keluar dari kamar mandi. "Hallo, noona, bisa kau menolongku?" Luhan mendengar percakapan Sehun, tidak lama sebelum ia kembali kedalam kamar. "Yixing noona akan kemari. Um, Maaf, aku melakukan ini, aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu Lu."
Dada Luhan terasa tercekat pada kesungguhan yang tampak diwajah Sehun. Ia tak tahu kenapa harus melawannya sebegitu seringnya. Ia hanya harus berhenti dan menikmati kenyataan bahwa Sehun menjadi perhatian dan peduli padanya. "Baik, Yixing unnie bisa datang untuk mengasuhku."
"Bagus, mengingat kau tidak punya pilihan."
"Sehun–" Sehun mendekati Luhan lalu mencium pipinya. Ia menarik diri, dan bibirnya bergerak perlahan mendekati bibir Luhan. Saat Luhan melihat kedalam matanya, ia melihat hasratnya menyala terang. Sebagian dirinya ingin bergerak mendekat dan menciumnya, tapi sebagian dirinya yang lain tahu itu sangat beresiko. Meletakkan dadanya di dada Sehun, Luhan dengan lembut mendorongnya. "Kau harus pergi Sehun. Nenek sedang menunggumu."
Rasa sakit sesaat terlintas didalam matanya sebelum ia menganggukan kepalanya. "Baiklah kalau begitu." Jantung Luhan berdenyut saat ia melihat Sehun berjalan penuh kekalahan kedalam kamar mandi.
.
.
.
Sehun berkendara keluar kota menuju pegunungan. Hari sudah siang ketika ia tiba didepan rumah Hankyung dan Heechul. Ia menarik nafas saat berjalan kearah pintu depan. Pintu sudah terbuka ketika ia baru saja sampai diberanda. "Hai tampan! Senang bertemu denganmu lagi."
"Hai nek, senang bertemu denganmu." Seperti yang diperkirakan, Heechul langsung memeluknya dengan erat.
"Bagaimana keadaan Xiao Lu ku tersayang?"
"Dia kesal karena bukannya beristirahat, kau malah memasak untuknya." Hawab Sehun sembari melepas pelukannya.
"Dia anak yang manis." Heechul melambaikan tangannya menyuruh Sehun untuk masuk. "Ayo masuk dan ambil makanannya. Aku tidak ingin menahanmu terlalu lama dari Luhan."
Saat Sehun memasuki ruang tamu, matanya terkunci pada Hankyung yang sedang duduk di atas kursi goyangnya. Ia menelan ludah dan menguatkan diri menanti kemarahan Hankyung. "Halo, kek."
"Halo juga Sehun." Jawabnya sambil mematikan suara televisi yang sedang ditontonnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sedikit lebih baik kurasa."
"Sayang, silahkan duduk. Aku akan menyiapkan semuanya."
Sehun melirik ragu antara Heechul dan Hankyung. "Nenek yakin tidak perlu bantuanku?"
"Tidak, aku hanya perlu mengeluarkan casserole dari dalam oven."
Setelah Heechul berjalan menuju dapur, Sehun dengan terpaksa duduk di sofa dengan Hankyung yang sudah duduk diseberangnya. "Tenanglah Sehun, aku tidak akan menembakmu atau apapun itu. Pertama, aku ingin cicitku memiliki ayah dan kau tidak akan bisa memenuhinya jika kau mati. Kedua, aku mungkin melakukan banyak hal, tapi munafik bukan salah satunya."
"Apa?"
"Anggap saja aku masih muda dan bodoh, aku pernah melakukan kesalahan yang sama sepertimu."
"Jadi. . ."
Hankyung memutar bola matanya. "Seberapa jelas kau ingin rinciannya? Aku pemuda dua puluh lima tahun yang sombong. Hanya karena Heechul tidak memperhatikanku lagi karena kedua anak lelaki kami, aku hampir membiarkan seorang pelacur murahan merusak pernikahan kami."
"Butuh berapa lama sampai nenek memaafkanmu?"
"Sangat, sangat lama."
Sehun membuang nafasnya frustasi. "Aku berharap Luhan tidak melakukannya padaku."
Suara Heechul terdengar dari arah dapur. "Oke, sayang, ini sudah siap."
Saat Sehun berdiri, Hankyung memegang tangannya. "Dengar nak, kau harus tetap mencoba, Xiao Lu merupakan keturunan wanita yang keras kepala. Tapi aku tau dia sangat mencintaimu, jadi kalau kau benar – benar menginginkannya, maka kau harus terus berusaha mendapatkannya kembali."
Kata – kata menenangkan Hankyung membuatnya tersenyum. "Aku pasti akan melakukannya."
.
.
.
Saat Sehun kembali dari pegunungan, ia berhenti disebuah toko bahan makanan dan membeli beberapa belanjaan sebelum pulang ke rumah. Saat mobilnya memasuki pekarangan rumahnya, jantungnya tiba – tiba berhenti. Mobil Yixing tidak ada. Bergegas keluar dari mobil tanpa menutup pintu, Sehun berlari melewati garasi dan masuk dari dapur. "Luhan!" teriaknya.
Suara senapan dan ledakan terdengar olehnya. Memutar leher, dia melihat Minguk dan Daehan duduk disofa dengan sebuah konsol game ditangan mereka. "Dimana Luhan? Dan dimana ibu kalian?" desak Sehun tanpa mengucapkan kata halo.
Minguk menatapnya tak minat karena ia merasa Sehun sedang mengganggunya bermain. "Eomma dapat panggilan dari Universitas untuk meeting, jadi kami menjaga Luhan noona sampai eomma kembali."
"Oh. Bagus." Sehun menunjuk kearah garasi dengan jempolnya. "Minguk, Daehan, bisa kalian menolongku dengan membawa belanjaan dan makanan dari rumah halmeoni?"
Tidak ingin berdebat dengan Sehun, Minguk dengan enggan berdiri dan melangkah kearah dapur. Sehun dan Daehan mengikutinya dari dibelakang. Sehun membuka bagasi dan menunduk mulai menyerahkan belanjaan pada mereka. "Sehun samchon?" panggil Daehan tiba - tiba.
"Hm?"
"Apakah Sehun samchon akan menikah dengan Luhan noona?"
Sehun tersentak dan terbentur saat ia mengangkat kepalanya. "Aduh sial!" teriaknya saat pandangannya mulai berkunang – kunang. Ia kembali melanjutkan kegiatannya, dan Daehan masih saja menanti jawaban darinya dengan tatapan imutnya yang polos. "Daehan–"
"Tidakkah Sehun samchon mencintainya?" sembur Daehan dengan alis berkerutnya, tatapannya sangat serius, jika diingat dia hanya anak kecil yang masih berumur enam tahun.
"Oh, Tuhan." Gumam Sehun dengan mengacak rambutnya. ia mengernyit saat rasa sakit menusuk kepalanya. "Apakah eomma mu yang menyuruhmu mengatakan itu?"
"Tidak, samchon."
"Daehan-ah, semuanya rumit karena– aku bodoh dan melakukan sesuatu yang menyakiti perasaan Luhan noona. Perlu waktu baginya untuk memaafkan dan menerimaku kembali, hm."
Daehan membawa bawaannya disalah satu pinggulnya. "Sehun samchon akan memiliki bayi dengan Luhan noona, jadi Sehun samchon harus menikahinya, itu adalah bentuk rasa tanggung jawab sebagai seorang pria." Ucapnya masuk akal.
Sehun mengerjapkan matanya berkali – kali kearah Daehan. "Apakah kepalaku terbentur cukup parah dari perkiraanku atau apakah kau benar – benar bertingkah seperti orang dewasa, daripada seperti anak – anak?"
"Mungkin, Appa selalu bilang kalau aku bijaksana."
"Hahahaa~ aku rasa dia benar."
Minguk mengambil beberapa kantong lagi sementara Sehun dan Daehan berjalan kedalam rumah. Sehun meninggalkan mereka didapur dan berjalan kelorong. Suara tawa Luhan menghangatkan hatinya. Dengan suara bersenandung, ia mendengar Manse berteriak. "Haowen! Haowen! Menendanglah untukku!"
Berdiri di ambang pintu, Sehun melihat pemandangan itu dengan senyuman. Dengan Luhan yang memegang senter diperutnya dan tatapan Manse terpaku keperutnya, seakan – akan sedang menunggu sesuatu terjadi. ia memandang kearah Sehun dan tersenyum. "Hei, kau sudah pulang."
"Nenek mengirim salam dan berjanji akan berkunjung dalam seminggu."
"Dan kakek?"
"Masih sakit, tapi semakin membaik." Sehun menunjuk kearah Luhan dan Manse. "Apa yang kalian lakukan?"
"Mencoba tipuan cahaya." Jawab Manse tanpa melepaskan pandangannya dari perut Luhan.
"Tipuan cahaya?" ulangnya sambil berjalan mendekati mereka.
Luhan mengangguk. "Berhubung mata bayinya mulai terbuka di bulan ke enam, seharusnya dengan menempelkan senter diperut bisa membuatnya bergerak." Luhan tersenyum kearah Manse. "Dia tidak pernah merasakan bayi menendang, jadi dia mau Haowen melakukannya."
"Apa sudah beruntung, hm?"
Bibir Manse menekuk kebawah. "Belum."
"Jangan bersedih Manse-ah, Umm, mungkin kau membuatnya tidak nyaman atau sesuatu, Jadi bagaimana kau bisa suka kalau ada orang yang mengarahkan cahaya ke matamu?" Sehun menangkap dan menarik pergelangan kaki Manse agar turun dari tempat tidur. "Coba kita lihat bagaimana dia menyukainya."
Manse terkikik saat Sehun menarik kaosnya keatas dan menempelkan senter keperutnya. "Hentikan, Sehun samchon!" katanya saat menarik nafas.
"Apakah bayimu mulai menendang?" tanya Sehun.
Manse menarik turun kasonya. "Aku tidak punya bayi samchooon~"
"Oh, kau tidak punya?"
"Tidak! Hanya ibu – ibu yang punya bayi dalam perut mereka."
"Oh, aku mengerti." Sehun menggelitiki Manse, membuatnya tertawa dan menggeliat lagi.
"Hahaha~ ampun samchoon~ geli!"
"Apa? Aku tidak dengar."
"Ampuun~ Hahahaa~" sambil tertawa, berusaha menjauhkan tangan Sehun yang masih menggelitiki dirinya.
"Manse! Cepat kemari!" teriak Luhan.
Sehun menangkap pinggang Manse dan menariknya kembali pada Luhan. Luhan memegang tangan Manse dan menaruhnya diatas perutnya. Matanya membesar. "Sehun samchon, Haowen menendangku!"
"Dia pasti suka suara tawamu, karena itu yang membuatnya bergerak, bukan cahaya."
Manse melepaskan tangannya untuk bersandar kedepan dan mencium tempat dimana dia merasakan Haowen bergerak. "Aku cinta kau Haowen!"
Sehun tersenyum ketika melihat kilau dimata rusa milik Luhan. Ia sudah terbiasanya melihat perubahan hormonnya. Manse melihat kearahnya dengan terkejut. "Kenapa menangis Luhan imo?"
"Karena kau anak yang manis." Timpalnya, merangkul Manse ke pelukannya. Luhan mencium puncak kepala Manse, tidak luput dari perhatian Sehun kalau Manse memanggil Luhan dengan sebutan imo dan ia tidak membantahnya.
"Luhan imo?"
"Apa sayang?"
"Aku berfikir bagaimana bisa Haowen berada didalam perutmu?"
"Um. . ."
"Eomma bilang kalau Haowen anaknya Sehun samchon, jadi apakah dia yang meletakkannya disana?"
Daehan dan Minguk kemudian muncul dipintu masuk. "Aku juga penasaran tentang hal itu." Kata Daehan sembari duduk dipinggiran tempat tidur bersama Minguk disebelahnya.
Sehun menghela nafas dan memejamkan matanya. "Manse, darimana datangnya bayi perlu kau tanyakan pada eomma dan appa mu."
Alis Manse berkerut. "Kenapa? Apakah itu rahasia?"
"Tidak, hanya saja. Um. . ." Sehun memijat tengkuknya sambil mencari jawabannya. "Seperti ini. Ketika seorang pria dan wanita saling mencintai, cintanya akan tumbuh didalam tubuh wanita dan terciptalah bayi."
Mencerna ucapan Sehun, Minguk angkat bicara atas pemikirannya. "Jadi, Sehun samchon mencintai Luhan noona?" ketika Sehun berani melirik Luhan, Luhan memandang balik dengan mata membesar dan mulut terbuka. Meski dirinya sudah mengisyaratkannya setiap hari, tapi Sehun masih belum bisa untuk mengatakannya. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya dan memastikan hubungan mereka. "Hei, kalian, didapur ada brownies buatan nenek kalau kalian mau, ambillah."
Tanpa berfikir Manse langsung melompat turun dari tempat tidur sementara Minguk dan Daehan berlari kelorong. Saat mereka sudah sendirian, Sehun tersenyum pada Luhan. "Bagaimana penjelasanku?"
"Bagus, dan manis. Sampai – sampai dia percaya."
"Tapi apakah kau percaya?"
"Apa maksudmu?"
Jantung Sehun berdegup kencang. Ini saatnya. Sekarang atau tidak sama sekali. Ia melangkah maju dan membuka mulutnya. "Luhan, aku men–"
"OH SEHUN! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN MEMBERIKAN COKELAT PADA ANAK – ANAKU SEBEUM MAKAN MALAM!" teriak Yixing dari arah lorong menuju kamar dengan tangan di pinggang.
Sial! Momennya telah rusak. Sehun berbalik untuk melototi Yixing. Yixing menatapnya dengan wajah bersalahnya, ups. "Umm, diantara Manse dan Minguk, sepertinya aku tidak yakin ada brownies yang tersisa utuk Luhan."
Sehun mengacak rambutnya dan menghela nafas. "Aku minta maaf noona. Mereka membantuku mengangkat belanjaan, jadi aku pikir mereka bisa mendapatkan cemilan."
"kkk~ Kau dimaafkan kalau begitu." Yixing berbalik pada Luhan. "Semua baik – baik saja selama aku pergi?"
Luhan mengangguk. "Mereka pengasuh terbaik yang aku punya sejauh ini."
"Oh, baguslah kalau begitu. Um, kurasa aku dan anak – anak sebaiknya pulang." Kata Yixing, melangkah maju ketempat tidur dan mencium Luhan. "Jaga dirimu Luhan. Dan kau juga Sehun."
Melihat ekspresi penuh cinta Luhan, Sehun tidak bisa menahan senyumannya. "Tentu saja."
"Sampai jumpa." Ucap Yixing seraya melambaikan tangannya.
Sehun memandang Luhan untuk beberapa saat. Haruskah ia maju dan mengatakannya sekarang atau menunggu waktu yang tepat? Bunyi telepon Luhan kemudian membuatnya yakin untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.
.
.
.
Pada senin sore, Luhan baru saja bersiap untuk menonton secara meranathon dari salah satu seri lama favoritnya. Saat teleponnya berdering disampingnya dan melihat nama yang muncul dilayar, detak jantungnya berakselerasi begitu cepat mengancam akan menendang keluar dari dadanya.
From: Siwan
Apa kau begitu lancang untuk menanyakan bolehkah aku memeriksamu malam ini?
Luhan menggelengkan kepalanya saat ia membaca dan mengulang lagi teksnya. Dia selalu terdengar begitu berbeda dari laki – laki yang ia kenal, dia pria yang sangat baik dan bijaksana. Siwan sudah menelponnya dua kali untuk mengeceknya, tetapi belum membicarakan tentang keinginannya untuk datang.
To: Im Siwan
Tentu saja kedengerannya menyenangkan.
From: Siwan
Aku akan membawa mesin USG portabel, jadi kita juga bisa memeriksa si kecil.
Mendengar Siwan menyebut Haowen, jantung Luhan meleleh.
To: Im Siwan
Ah, terima kasih banyak
From: Im Siwan
Apakah jam lima terlalu sore? Aku harus pergi jam sembilan malam.
To: Im Siwan
Tidak apa - apa
From: Im Siwan
Oke, oiya apakah kau menyukai makanan India?
Luhan menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab.
To: Im Siwan
Sebenarnya, aku belum pernah memakan – makanan itu
From: Im Siwan
Owh begitu, Aku akan membawakannya untukmu dari restoran India favoritku.
To: Im Siwan
Oke, baiklah akan kucoba nanti
From: Im Siwan
Kirimkan saja alamatmu, dan aku akan menemuimu nanti.
Saat jari – jarinya mengetik alamat rumah Sehun, rasa jijik membanjiri dirinya. Apakah dia serius untuk mengajak pria lain ke rumah Sehun? Seorang pria yang kehadirannya berpotensi mengacaukan perasaanya terhadap Sehun.
"Ugh, kau seorang yang sangat buruk Xi Luhan!" keluhnya, kepalanya jatuh kembali diatas bantal. Mengapa segalanya harus menjadi rumit?
Sekarang Luhan harus mencari cara untuk memberitahu Sehun tentang Siwan yang akan berkunjung. Perutnya bergejolak membayangkan prospek itu. Untungnya, ia tidak perlu menunggu lama. Sehun muncul diambang pintu hanya beberapa saat kemudian ketika Luhan masih duduk sambil menatap layar ponselnya.
"Kau butuh sesuatu?"
"Tidak, aku baik – baik saja."
"Dengar, aku tahu kau membenciku karena sikap protektifku, jadi apakah kau baik – baik saja jika aku pergi ke kantor? Mereka tampaknya tidak memahami istilah 'cuti' ini sama sekali."
"Tidak, tidak apa – apa."
"Aku mungkin ke gym setelah itu. Aku pergi tidak lebih dari dua jam. Aku bisa membeli makan malam untuk kita pada perjalanan pulang nanti."
"Oh, Um, itu tidak perlu Sehun."
"Kenapa? Apakah kau tidak akan kelaparan?"
"Sebenarnya, sebentar lagi dr. Siwan akan datang untuk memeriksaku. Dia juga akan membawa makanan untuk makan malam."
Luhan menarik nafas saat alis Sehun menghilang tertutup rambut didahinya. "Kau memiliki kencan dengan lelaki itu malam ini?"
"Ini bukan kencan!" protesnya.
"Dia tidak hanya mampir untuk memeriksamu Luhan. Bajingan ini membawakanmu makan malam."
"Tidak, tidak seperti itu. Siwan tahu bahwa aku tidak ingin memulai segala sesuatunya sekarang. Dia hanya memeriksaku dan bersikap baik. Kau tahu, bersikap ramah dan lainnya."
"Tentu saja tidak terdengar seperti itu bagiku."
Mendengar nada Sehun yang keras, Luhan menatap selimutnya. "Ini rumahmu dan aku malah berdebat denganmu tentang masalah ini. Jadi, jika kau benar – benar merasa yakin tentang Siwan, aku akan memberitahu dia untuk tidak datang kemari."
Ketika Luhan berani menatapnya lagi, ekspresi Sehun sesaat melunak. "Maksudmu kau mau melakukan ini untukku?"
"Tentu saja aku mau. Beri aku sedikit kelonggaran untuk mempertimbangkan perasaanmu."
Sehun mengacak – acak rambutnya frustasi, semuanya terasa rumit dan memusingkan. "Dan kau yakin tidak akan memulai hubungan lebih dengannya?"
"Itu hal terakhir yang kubutuhkan untuk saat ini. Kita baru mengenal, dan dia masih seseorang yang baru untukku."
"Aku tidak suka bajingan asing ini menempel disekelilingmu."
Luhan memutar matanya. "Dia punya nama, Im Siwan. Jika kau mau meluangkan waktu untuk mengenalnya, kau akan menyadari dia bukan tipe pria yang mencoba untuk mengambil keuntungan dariku atau ingin melakukan seks denganku."
"Tidak, itu justru lebih buruk karena dia tidak melakukannya." Gerutunya.
"Apa?"
"Aku lebih suka dia menjadi pria brengsek yang mencoba masuk kedalam celanamu karena kau pasti akan membencinya dan mengatakan 'berani – beraninya kau melakukan itu!' seperti yang kau lakukan padaku dulu." Sehun merengut. "Tapi ini lebih buruk, karena dia pria terhormat yang tidak peduli kau sedang mengandung anak orang lain. Dia berbau komitmen, demi Tuhan. Sial! Kau mungkin akan langsung bertunangan dengannya pada saat ia pulang malam ini."
Setelah mendengar kata – kata Sehun, Luhan tetap membeku. Ketika mereka saling menatap selama beberapa detik yang menyakitkan, Sehun mendesah putus asa. "Baiklah. Biarkan dia datang dan memeriksamu."
"Dia tidak memeriksaku. Tapi dia memeriksa tanda – tanda vitalku dan juga membawa USG portabel untuk memeriksa Haowen."
"Luar biasa." gumam Sehun sebelum berjalan kearah pintu.
"Tidak bisakah kau berempati dengan apa yang kualami? Semua kebingungan yang aku rasakan tentangmu dan tentang kita dan semua ketidakpastian– kau merasakan hal ini juga, bukan?"
"Apakah kau menyindir bahwa apa yang ku alami sekarang adalah hal sama yang pernah kulakukan padamu?"
"Tidak, hanya saja–"
Sehun mengangkat tangannya keatas. "Aku telah berfikir panjang dan keras untuk membuat beberapa perbandingan, Lu. Karena pada akhirnya, kebingunganku sudah mengacaukan hal yang paling indah yang pernah kumiliki." Sehun menggelengkan kepalanya dengan sedih kearah Luhan. "Aku tidak ingin kau harus memulai hal yang sama."
Dada Luhan berasa runtuh mendengar kata – kata Sehun. Apakah Sehun benar? Apakah dia membuang kebahagiaan dengan kedua tangannya karena ketidakpastian bodohnya itu?
"Berapa lama aku harus pergi malam ini?"
"Sehun, kau tidak harus pergi. Kau dapat tinggal disini dan melihat bahwa tidak ada ynag terjadi diantara aku dan Siwan."
"Tidak, sebaiknya aku tidak berada di satu ruangan dengannya."
Luhan menghembuskan nafasnya. "Dia datang pukul lima, dan akan pergi ke tempat kerjanya pukul sembilan."
"Oke, Aku membawa ponsel jika kau membutuhkanku." Tanpa banyak bicara, Sehun langsung meninggalkan Luhan. Ketika pintu belakang dibanting, ia terkejut dan vivi datang ke kamar tidur memberinya pandangan 'apa – apaan ini'.
"Ya ya, itu semua salahku kan?"
Berjalan munuju ruang tengah, Luhan bersantai di sofa sambil membaca buku. Tidak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi. "Masuklah." Serunya.
Siwan mendorong pintu dan tatapannya langsung mengamati ruang untuk mencarinya. Ketika matanya bertemu dengan mata Luhan, Siwan tersenyum berseri – seri. "Hai, kau terlihat begitu cantik."
Luhan melirik pakaiannya kemudian kembali menatap kearahnya. "Benarkah?"
"Maksudku bukan pakaianmu. Tapi warna kulitmu terlihat sangat indah. Sepertinya bed-rest mu sangat membantu karena sekarang kau tampak sehat dan bercahaya."
"Terima kasih, senang mendengarnya."
Siwan tersenyum mendengarnya. "Oke kalau begitu aku akan mengambil tasku dan monitor, kita akan memeriksa bagaimana kondisimu."
"Oke, kedengarannya bagus."
Siwan menghilang keluar teras sejenak sebelum kembali dengan membawa tas medis hitam dan sebuah kotak besar yang ada handle-nya, menempatkannya disisi sofa. Kemudia ia melihat ke sekeliling ruang tamu, mengamati dekorasi dalam ruangan ini. "Kau memiliki tempat yang sangat bagus."
"Terima kasih, tapi sebenarnya ini bukan rumahku."
Ia duduk perlahan – lahan disofa dsamping Luhan. "Aku seharusnya menyadari kau tinggal dengan seseorang."
"Sebenarnya, ini rumah Sehun."
"Aku sendirian denganmu dirumahnya?"
"Aku minta maaf jika itu membuatmu tidak nyaman. Dia satu – satunya orang yang bisa merawatku."
"Tidak apa – apa."
Luhan bertemu dengan tatapan intesnya. Segala sesuatu yang ia rasakan tentang dirinya menjadi tertarik pada Siwan tampaknya terbang keluar jendela ketika ia menatap mata cokelatnya yang menggetarkan jiwa.
Siwan membalik pergelangan tangannya keatas dan mulai memeriksa nadinya. "Sedikit lebih cepat, tapi tampaknya baik – baik saja." Ujarnya. Membungkuk, ia mulai merogoh tas medisnya. Menempatkan ear tips stetoskop ditelinganya dan menempelkan diaphgram kedalam dada Luhan. Semua sikapnya profesional saat ia menginstruksikan. "Bernafaslah dengan normal."
Saat Siwan menggeser diaphgram didada Luhan, lengannya menyentuh payudaranya, dan ia menegang. Alis Siwan berkerut saat dirinya mendengarkan detak jantung dan paru – parunya. Kedekatan Siwan menyebabkan detak jantung Luhan semakin cepat. Aromanya seperti kayu, panas, dan tubuhnya, rambut hitam berantakkannya, Luhan ingin menjalankan jari – jarinya disela – sela rambutnya –semua itu membuat Luhan terganggu. Bernafas normal seperti yang diminta Siwan terasa sangat sulit.
Sebaliknya, Luhan berhasil menarik nafas yang sedikit terengah. Mata gelap Siwan beralih dari stetoskop ke mata Luhan. Ia melepas ear tips dari telinganya dan tersenyum dengan penuh arti. "Entah aku yang membuatmu gugup, atau kau harus kembali kerumah sakit karena pernafasan dan detak jantungmu tidak menentu."
Luhan merasakan rona kehangatan merayap dipipinya. "Tidak, sebenarnya itu. . . itu karenamu."
"Jadi, jika dr. Jongdae yang berada disini untuk memeriksa tanda – tanda vitalmu, kau tidak akan bereaksi seperti ini?"
"Tentu saja tidak."
Dengan menggeser tubuhnya, Siwan mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Matanya yang gelap menembus mata Luhan. "Dan mengapa aku membuatmu gugup, Luhan?"
Bibir Luhan terasa kering dan ia menjilati bibirnya. "Karena. . ."
Kau begitu amat sangat tampan, dan tubuhmu itu telah membuat hormon kehamilanku menjadi tak terkendali, membuatku memikirkan sesuatu tentang dirimu yang biasanya aku tidak pernah begitu. Namun selain dari hawa nafsu, kau pria yang baik dan penuh kasih sayang, dan jika diberi kesempatan, aku bisa melihat diriku jatuh cinta padamu.
Luhan menghembuskan nafas yang ia tahan. "Aku sudah mengatakan pada Sehun bahwa tidak ada apa – apa diantara kita. Tapi sekarang saat kau berada di depanku, menatapku. . . kau membingungkanku."
"Aku membingungkanmu?"
"Aku masih sangat peduli pada Sehun, tapi ketika aku bersamamu, aku mulai merasa. . . berbeda."
"Aku bisa berpendapat itu hanya sekedar faktor biologis, dan tubuhmu seolah mencari pasangan untuk melindungimu dan anakmu."
"Jika itu masalahnya, maka yang aku rasakan pada Sehun seperti itu kan?"
Ekspresi Siwan bertambah serius. "Jadi setidaknya aku memiliki kesempatan untuk merayumu?"
"Merayuku?"
"Hmm, kesempatan untuk merebut hatimu dengan merayumu, dengan anggur, dengan mengajakmu makan malam?"
"Tidak akan ada acara menikmati anggur, dalam masa bed-restku, dan acara makan kita akan menjadi agak terbatas."
"Ah, itulah sebabnya aku membawa makanan untukmu." Siwan bangkit dari sofa. "Sebentar aku akan mengambilnya dan kita akan memulai rayuan kita."
"Hahaha~ oke."
Siwan berhenti ketika ia sampai dipintu dan berbalik. "Selama aku memiliki kesempatan untuk memenangkan hatimu, aku akan mengambil apapun yang dapat kau berikan untukku."
Luhan mencoba untuk tidak kewalahan mendengar kata – katanya. Semua rencana yang dia berikan kepada Siwan adalah persahabatan, dan hanya itu. Tapi terlepas dari tubuhnya yang berkhianat ingin merasakan kebalikannya.
Siwan membawa dua tas besar dan kantong kresek berisi makanan ketika berjalan kembali memasuki pintu. Setelah meletakkan tasnya kebawah, ia berbalik kembali pada Luhan. "Sebelum kita makan, kita periksa dulu keadaan si kecil."
"Oke."
Siwan mengatur perangkat itu kemudian berbalik untuk mengangkat atasan Luhan. Secara naluriah Luhan mengulurkan tangannya untuk menepuk tangan Siwan, alis Siwan terangkat karena heran. "Maaf aku, aku hanya–"
"Aku tahu. Aku telah bersikap khonyol."
Luhan kemudian menggeser atasannya diatas perutnya dan menyesali fakta bahwa Siwan harus melihatnya seperti ini. Siwan menyemprotkan jelly dingin datas kulitnya, lalu menjalankan transducer diatas perutnya, dan gambar buram Haowen muncul dilayar. "Itu dia. Mungkin aku bisa menambahkan kalau Haowen juba baik disana."
Luhan fokus pada Haowen, tangan dan kakinya sedikit menggapai – gapai karena transducer itu tampaknya menganggu istirahatnya. Bahkan, ia memberikan dua tendangan dengan antusias untuk membuktikan dia ingin dibiarkan sendiri. "Detak jantungnya normal, dan semuanya terlihat baik termasuk plasentanya."
Siwan mendongak dari monitor untuk bertemu dengan tatapan Luhan. "Tidak ada lagi kontraksi atau rasa sakit, kan?"
"Tidak, semuanya baik – baik saja."
"Aku yakin setelah kau sudah melalui masa bed-restmu sampai minggu depan, kedepannya kau bisa berbahagia dan sehat menjalani sisa masa kehamilanmu."
"Aku sudah berharap dan berdoa untuk itu."
Dari tas medisnya, Siwan mengeluarkan handuk. "Oke, sementara kau membersihkan diri, aku akan mengambil piring dan sendok untuk kita."
Makanan yang dibawa oleh Siwan tidak membuat seleranya membaik, Luhan hanya sekedar mencicipi dan selebihnya dirinya merasa mual, dengan bau masakan kental karinya. Siwan hanya tersenyum maklum untuknya. Lalu membereskan semua tempat makan mereka.
"Jadi aku tidak bisa menjual makanan India kepadamu, ya?"
"Ku pikir sekarang aku lebih baik tetap dengan mengambil satu hidangan saja, dan tidak mencicipi semuanya."
Pager Siwan menginterupsi mereka. "Yang benar saja."
"Ada apa?"
"Sepertinya mereka membutuhkanku sedikit lebih awal malam ini." Siwan meraih tas medis lalu menuju pintu keluar. Vivi-pun mengikut dibelakangnya.
"Terima kasih kau bersedia memeriksaku dan membawa makan malam."
"Aku senang melakukannya, dan satu lagi aku berharap untuk mengulangi dikemudian hari. Tapi kupikir aku akan menunggu sampai kau sudah melewati masa bed-restmu untuk menerima 'rayuanku' lagi."
"Oke, kurasa kita bisa melakukannya."
Siwan mengelus dagunya sambil berfikir. "Um, apa kau suka opera?"
"Oh, Ya aku suka. Aku penggemar berat seni budaya."
Setelah mengambil dompet dari sakunya, Siwan mengeluarkan beberapa tiket. "Ini tiket pertunjukan opera minggu depan. Dan kau seharusnya sudah tidak pada masa bed-restmu Um, Apa kau ingin pergi?" melihat keraguan Luhan. "Hanya sebagai teman, Luhan."
"Terima kasih, aku akan menikmati pertunjukkan itu."
"Kalau begitu aku berharap bisa bertemu denganmu lagi minggu depan."
"Aku juga."
Siwan membungkuk lalu mencium dengan lembut pipi Luhan. Vivi mengangkat kepalanya dan menggeram rendah.
"Vivi!" Luhan menegur.
"Kurasa itu isyarat bagiku untuk pergi."
"Maafkan aku untuk vivi."
Siwan menggelengkan kepalanya. "Jangan minta maaf tentang apapun Luhan. Terlebih dari semuanya, jangan menyesali atas apa yang mungkin telah aku lakukan dan untuk semua yang aku rasakan malam ini."
Luhan menatapnya tak berkedip dan bergerak. "Tidak akan."
"Oke." Kemudian Siwan berdiri dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan, ia berjalan keluar pintu.
.
.
.
Pada jam sembilan malam, vivi mengangkat kepalanya dan menggonggong dengan riang. "Hmm, aku tebak itu artinya Daddy sudah pulang?"
Vivi mengibaskan ekornya dan berlari ke dapur. Bunyi bip dari alarm rumah memberitahunya akan kedatangan Sehun dibalik pintu. "Hei, boy. Apa kau menjaga benteng pertahanan selama aku pergi?" Sehun masuk ke ruang tamu dengan vivi menyalak disampingnya. "Omong – omong, bagaimana kencanmu?" tanya Sehun melemparkan kunci mobilnya diatas meja.
"Itu bukan kencan."
"Oh, maaf kalau begitu, nona mudah tersinggung." ejek Sehun, menghirup bau yang menguar diruangan. "Ugh, bau apa ini?"
"Siwan membawa makanan India untukku coba." Perut Luhan terasa mual saat memikirkan memakan makanan itu lagi. "Kau habis darimana?" tanya Luhan mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Aku habis mendapatkan kencan yang benar – benar panas."
Kepala Luhan tersentak menatapnya dengan mata terbelalak dan mulut menganga. Sehun telah bersama dengan wanita lain? Setelah semua yang telah ia katakan padanya sebelum pergi? Luhan mual dan hampir muntah. "Ka–Kau berkencan?"
Sehun mengangguk dan duduk dimeja nakas. Lututnya menyentuh Luhan, dan luhan melawan dorongan untuk menarik dirinya dari kedekatan dengan Sehun. "membayangkan pakaiannya, celana pendek, dengan bokong yang menggantung–"
"Celana pendek? Ini baru akhir oktober!"
"Aku belum selesai bicara."
Luhan menyilangkan tangannya didepan dada, ia gusar dan mendengus frustasi. "Baik."
"Dengan sepatu bot koboi, dan diatas itu semua, ia memakai atasan halter yang telanjang mulai dari. . ." Sehun menutup matanya dan menggeleng. "Ya Tuhan, dia sangat sexy!" mata Sehun terbuka dan lalu ia mengedipkan mata pada Luhan.
"Tidak ada gadis yang memakai. . . maksudmu, kau. . ."
"Hahaha~ aku menggodamu, Lu. Aku pergi kerumah Appa dan kami menonton pertandingan. Dan aku yakin sekali aku tidak keluar sengan seorang wanita."
Kemungkinan Sehun mempunyai kencan yang sesungguhnya membuat Luhan berada dalam badai emosi, bersamaan dengan rasa lega yang ia rasakan.
Ck! menyebalkan.
.
.
.
Air dingin membelit leher dan bahu Luhan yang telanjang saat ia memasukkan kakinya untuk bertahan dikolam nenek dan kakeknya. Luhan hampir bisa menyentuh dasar kolam jika ia mau menenggelamkan kepalanya. Saat ia memijakkan kakinya ke air, Sehun berenang mendekatinya, sinar pemangsa terlihat disorot matanya, sebuah getaran antisipasi melalaui diri Luhan.
"Apa kau kedinginan?" tanya Sehun.
"Sedikit."
"Kalau begitu biarkan aku menghangatkanmu." Sehun menarik Luhan dalam pelukannya dan membawa bibirnya ke bibir Luhan. "Mmm, kau terasa manis. . . sedikit lebih manis dari biasanya."
Luhan tersenyum dibibir Sehun. "Mungkin karena aku berhenti sejenak untuk makan kue sebelum aku datang kekamarmu."
Sehun terkekeh. "Hasrat tengah malam untuk makan dan seks, hm?"
"Ya."
"Aku pikir ini waktunya kita memenuhi hasrat kedua itu, ya kan?"
"Kumohon."
"Lilitkan kakimu disekelilingku sayang."
Luhan melakukan apa yang diperintahkannya. Sehun mendengus saat ia mulai berjalan menggendongnya dari tengah kolam ketepian. "Apa aku terlalu berat?"
"Tidak, tidak sama sekali." Gumam Sehun dengan kiki terkatup.
"Sehun aku bisa jalan sendiri, kau tidak harus menggendongku."
"Ini bukan karena kau terlalu berat. Hanya saja ini lebih sulit daripada yang kubayangkan saat diair."
"Tapi sekarang sudah pasti kau adalah pahlawanku." Lalu Luhan mencium pipi Sehun. Luhan mencium menyusuri rahangnya.
Sebelum menggigit dan menjilatinya, Luhan kembali kebibir Sehun. Ia memindahkan pinggulnya ke pangkal paha Sehun. "Sial!" gumamnya mencengkeram erat bokong Luhan dengan tangannya.
"Apa aku membuatmu keras?"
"Tentu saja."
"Bagus." Luhan mendorong lidahnya masuk diantara lipatan bibir Sehun mencari kehangatannya. Ia membiarkan lidah Sehun menari menggodanya. Lalu seperti menjentikkan saklar, mereka berubah saling menggoda menjadi saling menyerang mulut mereka.
Saat Sehun keluar dari tepian, ia memegangnya erat saat berlutut, "kau baik – baik saja?" tanya Sehun. Luhan mendongakan kepala padanya. Bulan purnama memancarkan sinar pelangi disekitar kepala Sehun, sejenak membuatnya tampak seperti malaikat.
"Aku baik – baik saja sekarang." Luhan melebarkan kakinya untuk mengijinkan Sehun mendekatkan jarak dianatara mereka. "Bercintalah denganku, Sehun."
Sehun menatap tajam mata Luhan, dan Luhan tahu fakta bahwa ia menggunakan istilah bercinta belum hilang di dalam diri Sehun. "Apapun yang kau mau sayang."
Ketika Sehun mendorong masuk padanya, Luhan menjerit dan mencengkeram erat bahu Sehun. Sehun bergerak perlahan, lembut dalam dirinya. Lidahnya mengikuti gerakan keluar masuknya yang lembut sementara tangannya menangkup salah satu payudara Luhan, membuat putingnya mengeras.
Saat Luhan merasa akan mencapai orgasme, Sehun merubah kecepatan dan mulai menghujam lebih keras, membuat pasir dan ranting dibawahnya menusuk punggung Luhan. Sehun mengguncangnya dalam pelukannya. "Tidak, jangan seperti itu. Bersikaplah lembut padaku, Sehun."
.
.
.
Perlahan Luhan tersedot keluar dari bercinta dipantai dan kembali dikamar Sehun. Seseorang mengguncangnya. Tidak, Sehun telah mengguncangnya. "Lu, bangunlah."
Kelopak mata Luhan bergetar terbuka menatap wajah Sehun yang khawatir. "Apa yang terjadi?" tanya Sehun melepaskan bahu Luhan untuk menangkup pipinya. "Kau mengerang. Aku pikir kau sedang bermimpi buruk atau sesuatu."
"Tidak, aku akan orgasme." Gumam Luhan masih belum sadar dari tidurnya, masih mengantuk.
"Apa?"
Mendengar suara Sehun di dunia nyata, membuat dirinya langsung terjaga. Luhan langsung menutupi wajahnya yang memerah dengan tangannya karena malu. "Ya Tuhan."
Sehun tekekeh disampingnya. "Lu, kau gadis nakal. Jadi apa kau mengerang karena bermimpi sedang melakukan seks?" Luhan tidak menghiraukannya, dan berguling kesamping. Menepuk – nepuk bantal dan menjatuhkan dirinya. "Tunggu sebentar. Saat kau berkata, 'Bersikaplah lembut padaku, Sehun', itu bukan tentangku yang membangunkanmu, kan?"
"Aku akan kembali tidur sekarang."
Sehun menyikut bahu Luhan dengan main – main. "Oh, ayolah Luhan akui saja. Kau bermimpi bercinta denganku, kan?" suara Sehun bergetar dengan kesenangan. "Aku pasti bersemangat sekali sampai bisa membuatmu orgasme." Luhan mendengus putus asa. "Aku heran kau bahkan bertanya seberapa bagus dirimu. Tidakkah kau berfikir kau selalu menakjubkan?"
Sehun melingkarkan tangannya dibahu Luhan, menggulingkan punggungnya. Dengan satu tangan disisi kepalanya, Luhan terjepit dibawah Sehun dan memaksanya menatap wajahnya. "Kau adalah satu – satunya wanita didunia ini yang ingin aku buat takjub ditempat tidur atau memberikan orgasme bertubi – tubi yang luar biasa nikmat." Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang lain, aku bersumpah."
Diliputi oleh perasaannya yang mendalam untuk Sehun dan masih belum pulih dari mimpi erotisnya, Luhan mengangkat tubuhnya dan memberi ciuman dibibirnya. Sehun langsung membeku, dan Luhan merasa seperti mencium patung marmer.
Ketika Luhan membuka mulutnya untuk menyelipkan lidahnya dibibirnya, Sehun perlahan mulai mencair. Tangannya yang telah membelai pipi Sehun menyelinap kerambutnya. Luhan menjalankan jari – jarinya melalui helaian halus, menyenak dan menarik rambutnya sama seperti yang Luhan lakukan dengan giginya pada bibir bawah Sehun.
Sehun memberikan erangan kecil dibelakang tenggorokannya saat ia memasukkan lidahnya ke mulut Luhan. Ya Tuhan, Luhan telah merindukan perasaan saat mulut Sehun dimulutnya. Hasrat berkumpul dibawah pinggangnya, dan ia tahu ia menginginkan Sehun lebih dari apapun.
Sehun memindahkan tangannya dari bahu Luhan ke payudaranya, meremas, dan menangkup kulit dibawah gaun malamnya. Luhan melebarkan kakinya, tapi ketika Sehun mulai mengangkat ujung gaun malam Luhan, mata Luhan terbuka pada kenyataan, bukannya mimpi, menyentakkannya. "Tunggu, tidak Sehun!"
Sehun menarik kepalanya dari leher Luhan untuk menatapnya dengan matanya yang berkabut dan mabuk karena hasratnya. "Tolong katakan padaku ini bukan karena kau tidak ingin melakukan ini, tapi ini karena kita berdua menyadari bahwa dokter mengatakan tidak boleh?"
Luhan mengangguk. "Aku bahkan tidak seharusnya mengalami orgasme karena akan menyebabkan kontraksi."
"Berarti kau beruntung aku membangunkanmu dari mimpi seks itu, hm?" ucap Sehun menyeringai.
"Aku kira begitu." Saat Sehun menarik diri dari Luhan. "Maafkan aku."
"Tidak perlu, kita berdua yang salah." Sehun tersenyum sambil meringkuk dengannya.
"Sehun–"
Mereka saling pandang. "Kau benear – benar tidak akan pernah memaafkanku ya?"
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
Sehun terbangun dan duduk. "Semua yang telah aku lakukan untukmu di delapan hari terakhir, semua yang telah aku katakan, semua permohonan maaf, mencoba memperbaikinya. . . itu tidak ada artinya bagimu, kan?"
"Itu tidak benar Sehun," bantah Luhan.
"Itu jelas benar. Jika kau benar – benar sudah memaafkanku, kau tidak akan membiarkan Siwan datang kemari, bahkan dengan tujuan pengobatan. Kau seharusnya sudah mengatakan kau ingin bersama denganku."
"Aku bilang jika itu membuatmu terganggu, aku tidak akan membiarkan Siwan datang kemari, dan aku sudah menawarkan padamu untuk tetap berada dirumah dan melihat sendiri bahwa tidak ada kejadian romantis yang terjadi antara aku dan Siwan. Tapi kau lebih memilih pergi."
"Jadi sekarang kau bersikap seperti ini, karena aku lebih memilih pergi itu berarti aku tidak peduli jika Siwan mencoba mendekatimu, begitu?"
"Bukan, sama sekali bukan seperti itu Sehun."
"Sekali lagi, jadi semuanya adalah salahku, kan?"
"Kumohon, bisakah kita tidak berdebat tentang ini? Aku lelah."
"Ya. Kau tahu. Aku juga!"
Sehun melempar selimut dan turun dari ranjang, Luhan tidak bertanya kemana ia akan pergi. Hentakan kaki Sehun ditangga memberitahunya semua yang ingin ia ketahui.
Dengan kepalan tangannya, Luhan menghapus air matanya. Mengapa ia tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan? Mengapa semuanya tidak bisa menjadi jelas bahwa Luhan membutuhkan Sehun, atau ia harus mengucapkan selamat tinggal padanya?
.
.
.
TBC
.
.
.
30 Agustus 2016
Maaf yaa update nya agak lama(?) Alasannya masih sama, hiks.
Ternyata banyak readers baru juga yaa, hallo hai haii~ terima kasih banyak sudah bersedia meninggalkan review. Dan gak lupa juga buat teman – teman yang dari awal menemaniku ampe sekarang, MAKASIH JUGA. Muaaachh :*
Hmm, btw keknya chapter depan bakal jadi chapter terburuk deh, hiks.
Siapkan hati yaa, don't like don't read, hehe O.O
Special thanks to:
Wenxiuli12 | taneptw307 | ohsehannie | HunHanforever | ramyoon | Guest | han7 | Asmaul | SL04 | ohsehawnn | keziaf | byunchanbaek | Arifahohse | wardatul | anggrek hitam | Oh Hee Namakamu | D1 | CINTA UKE GEMBUL | daebaektaeluv | ziarll | Nurul706 | panypany | HunjustforHan | BiyuXiao | shosasmh | kajedetroll | RufEXO | rly | ftrwlndr520 | xxxhunsluxxx
.
BIG THANKS FOR YOU GUYS
I LOVE YOU ALL
MUACH
.
.
.
with love, apricaa
