EPILOG
Kegelapan mulai memenuhi seluruh ruang pandang Madeline. Mula-mula samar dan menjadi kegelapan total kemudian. Sia-sia saja dia berupaya berontak karena tak mungkin dia bisa begitu saja lolos dari selubung kehampaan yang semakin membelit tubuhnya dan memenjarakan pikirannya. Tubuhnya membeku. Yang terasa hanyalah kepiluan di dada setiap kali dia mencoba untuk menggerakkan ujung jarinya dan gagal. Pada akhirnya dia menyerah. Ya, menyerah. Kini dia tak lebih dari seonggok rongsokan radio rusak, terjebak di antara hidup dan mati. Dan tak ada pilihan lain bagi Madeline selain merintih lirih menyadari dirinya telah terjebak dalam alam lain.
Namun dia tak menyesal. Padahal penyesalan selalu menghantui setiap langkah dalam hidupnya. Dia selalu menyesal mengapa harus terlahir dari rahim seorang pelahap maut. Dia juga tak henti menangisi kenapa dia berasal dari benih yang ditanamkan seorang darah lumpur hina dina. Dan dia tak pernah lupa untuk meratapi betapa malang dan menyedihkan nasibnya selama ini. Kehadirannya di dunia seakan tak berarti tanpa kasih sayang dari kedua orangtuanya. Juga perasaan terpuruk setiap kali mengingat bahwa tak ada cinta dalam hidupnya.
Bagaimanapun juga sebagai seorang manusia, Madeline ingin merasakan keindahan cinta. Cinta ini adalah cinta yang tak terbalas untuk Harry Potter, Sang Terpilih. Cinta yang mampu melambungkan segala angan ke awang-awang. Cinta yang mampu membuat hidupnya penuh warna dan keceriaan sejati yang selama ini dia cari-cari. Cinta yang membutakan mata dan posesif. Cinta yang telah membunuhnya
Jika Madeline sama sekali tidak menyesali tindakannya yang begitu ingin mempertahankan satu-satunya cinta dalam hidupnya, maka tidak demikian dengan Draco. Dia begitu menyesal sampai-sampai rongga dadanya terasa hampir meledak saat menyaksikan tubuh sepupunya terlempar setelah terhantam kutukan yang sangat dashyat. Untuk sesaat kepalanya terasa kosong melompong. Dia tercenung dan berusaha mati-matian menyangkal kalau akhir hidup Madeline tidak mungkin setragis ini. Tapi sia-sia saja karena itulah yang terjadi. Madeline sudah terbujur kaku dan tak akan pernah bisa terbangun lagi untuk selamanya.
Draco merasa dirinya sangat bodoh karena gagal menerobos masuk ke dalam arena pertarungan. Mantra penolak gangguan menghalanginya masuk. Ini menunjukkan kalau Madeline sudah memperhitungkan kemungkinan akan ada seseorang yang datang untuk mengganggu duelnya. Gadis itu sudah tahu kalau Draco pasti akan berusaha mencegahnya. Namun dia tidak tahu, tidak akan pernah tahu tepatnya, bahwa sepupunya itu sedang mendekap tubuhnya erat-erat dan melolong menangisi kenekatannya hari ini.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Draco merasa sangat perih saat melepaskan jubahnya dan menyelimuti tubuh Madeline yang semakin membiru. Untuk sesaat dia mengusap airmata di wajahnya, sebelum bergegas berlari membabi buta menuju kantor kepala asramanya untuk mencari bantuan. Namun dia sadar dengan sisa-sisa rasio yang masih bekerja di dalam otaknya sekarang, bahwa Madeline tidak akan bisa tertolong lagi dan satu-satunya yang bisa dilakukan Snape untuk menolong Madeline hanyalah dengan cara mematikan gadis itu dengan mantra Euthanasia. Dengan mantra itu Madeline akan terbebas dari penderitaan yang dialaminya saat ini. Dia akan segera pergi jauh meninggalkan semua kepedihan menyakitkan yang dirasakannya di dunia. Dan Draco tidak tahu apakah dia mampu melepas kepergian sepupunya itu. Sepupunya tersayang yang dikasihinya sama seperti saudara kandungnya sendiri.
Sementara itu Ginny yang dibuat linglung oleh Draco, tidak menyadari bahwa ingatannya sudah dimodifikasi dan ditanami memori yang salah mengenai apa yang dialaminya tadi. Setelah kejadian luar biasa yang dialaminya barusan, seharusnya Ginny bisa menceritakannya dengan bangga pada anak-cucunya. Namun sayang, Draco sudah pasti tidak akan membiarkan kejadian ini bocor pada siapapun. Dia harus melindungi Madeline, bahkan sampai di akhir hayatnya. Satu-satunya yang bisa diceritakan Ginny kepada anak-cucunya adalah bahwa dia pernah merasakan keanehan saat berada di dalam hutan terlarang. Bahwa dia tak tahu apa yang mendorongnya masuk dan tiba-tiba saja berakhir dengan tubuh babak belur. Dugaan tentang penyebab yang paling masuk akal ialah dia tergelincir dari sisi hutan yang terjal, jatuh berguling-guling di tanah dan kepalanya terbentur sesuatu hingga lupa sama sekali tentang apa yang sudah terjadi. Dan itulah memori salah yang ditanamkan Draco kepadanya.
Bagaimana dengan Harry? Well, sama seperti Ginny, dia tak terlalu ingat apa yang telah terjadi semalam. Dia juga merasa kebingungan saat mendapati dirinya terbangun di tempat yang terlalu aneh untuk dijadikan tempat tidur bagi orang waras. Bagaimana tidak kalau dia tak pernah merasa pernah tidur di dalam Kamar Kebutuhan yang dihiasi pernik-pernik bernuansa pink dan kuntum-kuntum mawar merah di setiap sudutnya. Sungguh aneh, pikir Harry. Kebingungan Harry tidak berhenti sampai di situ saat mendengar kabar buruk mengenai apa yang telah menimpa Madeline dan Ginny.
Seisi Hogwarts pun ikut heboh bukan main saat mengetahui telah terjadi dua kejadian mengerikan secara beruntun di dalam hutan terlarang. Kejadian buruk yang dialami Ginny terdengar cukup konyol bagi sebagian orang. Mana mungkin ada orang bodoh yang bisa tersesat di dalam hutan terlarang (yang jelas-jelas dilarang dimasuki oleh para murid) bahkan jatuh terperosok dan mendapat luka-luka cukup parah sebelum akhirnya ditemukan oleh Snape dan Draco yang kabarnya sedang mencari Madeline pada waktu itu. Apa yang menimpa Madeline malah jauh lebih tragis lagi. Gadis itu mengalami kecelakaan fatal saat melatih mantra yang diciptakannya sendiri dan sudah terbaring sekarat saat ditemukan di sisi lain hutan. Berita mengejutkan ini bertahan cukup lama di kalangan para siswa dan guru, bahkan menjadi topik obrolan yang sangat menarik pada acara minum teh. Sayang sekali mereka semua begitu mudah percaya akan berita bohong yang dibuat Draco dan Snape demi menutupi kejadian yang sebenarnya terjadi. Tentu saja mereka harus menutupi kejadian ini, kalau tidak maka nama Madeline akan dikenang sebagai gadis calon pembunuh yang termakan kutukannya sendiri. Tragis!
Meski Harry terus dibayangi tanda tanya mengenai kebenaran berita ini, namun ada satu hal yang akan terus diingatnya setiap kali dia menatap langit malam yang berbintang, yaitu kisah tentang seorang Calisto yang dulu pernah diceritakan Madeline kepadanya. Dewi Calisto yang kecantikannya berhasil menggaet cinta Zeus, Raja Segala Dewa, dari permaisurinya, Hera. Serta akhir kisah Calisto yang mendapatkan kutukan atas kelancangannya menjadi pihak ketiga perusak hubungan orang lain. Juga tentang sebentuk rasi bintang yang kini berkilau indah di langit temaram demi mengenang keindahan sang Calisto malang yang tak pernah berhenti bermimpi untuk mendapatkan cintanya yang mustahil.
Harry tahu kalau mulai malam ini langit tak akan pernah terlihat sama di matanya. Apalagi Madeline, Calisto dalam cerita ini, telah pergi jauh dan meninggalkan pancaran keindahan dalam kenangan akan sederetan bintang-bintang perhiasan angkasa.
TAMAT
Ratapan Seorang Calisto
Katakan aku begitu bodoh telah berani mencintaimu
Bermimpi mereguk indahnya hari demi hari bersamamu
Merenggutmu dari pemilikmu yang lebih patut dariku
Dan berkhayal selamanya akan bahagia di sisimu
Tidakkah kau tahu
Kalau aku begitu menderita akan cintaku yang buta
Yang selalu menggoreskan sakit tak berperi dari detik ke detik
Menyadari bahwa diriku bahkan tak punya nilai di mata siapapun
Diriku ini memang pantas dilaknat
Karna akulah penjahat keji dan sadis
Namun mengertilah bahwa aku melakukannya karena cinta
Cinta posesif absurd yang sejujurnya belum pernah kurasakan
Aku sangat mencintaimu
Bahkan sampai jauh meresap ke dalam setiap lubang pori-poriku
Mengalir ke setiap jalinan pembuluh darahku bersama intisariku
Juga setiap tetes darah dan airmataku tertuju untukmu
Yang semuanya tak kenal lelah demi meneriakkan namamu di sanubariku
Aku mencintaimu lebih dari siapapun
Sangat menginginkanmu jauh melebihi keinginanku untuk tetap hidup
Setiap hela nafas dan detak jantungku kupersembahkan untukmu
Begitu pula sampai tetes darah terakhirku
Tak akan ada seorangpun yang menyanjungku atas perbuatanku ini
Jelas mereka akan merajamku hidup-hidup dan menghinaku pedas
Namun semua ini tidak akan membuatku menyesal
Karena sebelumnya aku telah bertemu denganmu, Harry
Percayalah kau akan menyesal melupakanku
Walau aku sadar bahwa aku memang tak layak untuk dikenang
Sebaliknya cercalah diriku ini
Meski kau tak pernah tahu seberapa dalam rasa sakit hati ini
Sungguh dadaku terasa sesak dikala mengingat sosokmu
Serta tersayat-sayat terbalur pahitnya kesadaran tak mampu memilikimu
Dan berpura-pura tak mencintaimu akan jadi hal tersulit dalam hidupku
Di saat aku melihatmu sedang bersamanya
Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat ingin mendampingimu
Menggantungkan hidup dan matiku hanya demi dirimu
Menyadarkan segala kepercayaanku di atas bahumu
Serta tersenyum indah setiap hari khusus untukmu
Namun apa yang kudapat tak sebanding
Aku justru harus meninggalkanmu sebelum aku bisa memilikimu
Bahkan aku tak pernah mendapat cinta yang begitu kuinginkan darimu
Sebaliknya aku rela merana asalkan kau bersedia tuk sekedar mengingatku
Akulah sang Calisto
Gadis tak tahu diri yang hanya pemimpi tanpa guna
Gadis kotor penuh najis dan berselimut dosa
Serta hanya mampu berhalusinasi akan dekapan kasihmu, Harry
