Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto
And High School DxD belongs to Ichiei Ishibumi
Story by shirayuki-su
Rate M (maybe)
Warning : Au, OOC, tipo dll
"UNDEAD"
Chapter 11
Mata gadis itu mulai terbuka pelan, mengerjab beberapa kali mencoba menyesuaikan cahaya yang minim dalam ruangan. Sesekali ia mengerang pelan merasakan beberapa bagian tubuhnya sulit untuk digerakkan, sehelai rambut kuning panjang mengenai wajah cantik gadis itu. Ia dengan sigap menangkap rambut itu dan menyibakkanya kesamping, sebuah perasaan pening terasa saat gadis tersebut ingin beranjak dari tempatnya.
Dengan usaha yang dipaksakan sampai membuat ranjang itu berderit pelan, gadis itu sekarang telah duduk disamping ranjang yang tadi ia tiduri. Pandangan mata hijau cerah itu mulai berputar pelan, mengobservasi ruangan yang ia tempati sekarang. Tidak ada yang aneh menurut gadis itu, hanya sebuah ruangan normal yang tidak menimbulkan kesan apapun. Kepala dengan surai kuning itu berhenti dan mulai berfokus pada sebuah cermin besar disudut ruangan, pantulan bayangan dalam cermin itu membuat gadis tersebut seraya membatu ditempat.
Ia dapat melihat dengan jelas bayangan gadis berambut kuning panjang sepunggung dengan balutan gaun one-piece berwarna putih polos disana, "A-apakah itu aku?" ucapan sedikit kaget tanpa sadar dilontarkan gadis yang masih duduk disamping ranjang. Ia tanpa sadar mulai memandangi tubuhnya sendiri, seraya meyakinkan dirinya bahwa yang dilihat itu sungguhan.
Berkali-kali gadis itu memandangi bayangan dalam cermin tersebut, seperti baru saja melihat gadis yang terpantul dalam cermin. Gadis itu mulai berpikir keras mencoba mengingat apa yang ia lakukan ditempat tersebut, tapi yang ia dapat hanya kekosongan. Ia tidak ingat kenapa disini, bahkan ia tidak ingat siapa dan bagaimana rupa dirinya sendiri.
Dalam kebingungan gadis itu mulai beranjak dari tempatnya, meski ia sedikit meringis merasakan bagian kaki yang sulit untuk digerakkan. Langkah demi langkah gadis itu lakukan, tujuan nya adalah sebuah jendela yang masih tertutupi gorden gelap dihadapanya. Ia dapat menangkap berkas-berkas cahaya yang berusaha menembus gorden itu dengan jelas sekarang, dengan tarikan pelan dari gadis itu membuat cahaya masuk dengan bebas kedalam ruangan tersebut. menyinari setiap inchi dari ruangan gelap itu.
Mata beriris hijau cerah milik gadis itu mengerjab beberapa kali mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk dengan intensitas yang kuat. Selang setengah menit mata itu sudah bisa melihat sebuah keindahan dibalik kaca jendela tersebut. Warna biru cerah dengan beberapa awan terlihat menghiasi langit kala itu, beberapa bangunan dengan warna dominan putih juga ada disana. Pandangan mata itu sedikit beralih kesamping memandang dengan kagum sebuah gunung menjulang tinggi menembus awan sebagai latar belakang dari tempat tersebut. Gadis itu baru menyadari dirinya berada disebuah bangunan yang cukup tinggi sampai bisa memandang dengan sangat jelas.
Suara pintu kayu tidak jauh darinya mengalihkan perhatian gadis itu dengan cepat, derit dari engsel penghubung pintu mengalun menjadi satu-satu nya suara dalam ruangan tersebut. Hal pertama yang dilihat oleh gadis itu adalah rambut kuning berantakan dan sepasang mata shapire yang bagaikan laut terpantul sinar mentari pikir gadis tersebut. Tanpa sadar ia tersenyum saat menyadari pemuda yang masuk menyunggingkan sebuah senyuman cerah kearahnya.
UNDEAD
Issei duduk terpaku dibangku lorong rumah sakit, dihadapanya seorang iblis setengah yokai kucing masih meringkuk memeluk lututnya, sesekali ia dapat mendengar isakan dari sana. Kedua tangan pemilik sekiryuutei itu mengepal dengan sangat kuat berusaha membendung air mata yang akan mengalir, ia tidak akan menangis untuk Asia karena Issei menyadari jika menangis sama saja dengan menganggap gadis itu telah tiada.
Mata coklat Issei melirik pelan kesamping, memandang sebuah bidak bishop berwarna merah disana. Entah kenapa saat memandang bidak catur itu membuat perasaan Issei teriris begitu dalam, menyebabkan rasa yang begitu sakit. Setetes air mata berusaha mengalir tapi dengan cepat pemuda itu menutup matanya rapat-rapat mencoba menahan 'A-ku ti-dak a-ka-n menang-is, Asia pasti masih hidup kar-ena itu aku ti-dak akan menangis' ia terus mengumamkan kalimat itu dalam hati mencoba untuk mendapatkan sedikit harapan meski sulit.
Gadis bersurai putih itu sedikit mendongak kedepan dengan mata yang masih sembab, mata emas Koneko dengan cepat mendapati tubuh bergetar dari senpai-nya. Meski biasanya ia begitu dingin pada sekitarnya tapi saat ini ia menyadari perasaan bersalah yang begitu kuat terpancar dari pemuda bernama Hyodou Issei tersebut. Seberkas ingatan pertarungan yang terjadi menyadarkan Koneko ia masihlah lemah, ia bahkan tidak seberani Asia ataupun Kiba dan Akeno yang berjuang mati-matian untuk melindungi dirinya. Tapi saat melihat Issei-senpai dihadapanya, ia menyingkirkan sejenak perasaan itu.
Kedua kaki kecil Koneko yang ia peluk tadi mulai turun pelan. Meski dengan langkah yang terlihat goyah gadis yang dulunya youkai itu berjalan maju. Jarak dirinya dengan pemuda itu tereleminasi dengan cepat, membuat ia sekarang begitu dekat dengannya. Bau khas dari Issei dapat tercium dengan jelas oleh Koneko saat ini. Kedua tangan yang masih terbaluk seragam Academy Kuoh itu memeluk erat kepala Issei, memberikan ketenangan sesaat untuk pemuda itu.
Issei membelalakan matanya merasakan pelukan hangat dari gadis Koneko, "Senpai, Tolong lepaskan semuanya. Asia-san pasti tidak akan suka jika melihat senpai seperti ini" suara Koneko yang lembut bercampur dengan sedikit isakan tersebut membuat Issei sadar. Tapi Issei menolak hal tersebut, ia berusaha memberontak membuat gadis itu memeluknya lebih erat. Selang semenit perlawanan Issei mulai memudar, ia hanya terdiam meresapi setiap kata yang diucapkan Koneko padanya.
Tubuh Issei mulai bergetar pelan, kedua tangan itu mengepal dengan sangat kuat menahan keinginan untuk menangis. Sebuah isakan pelan tanpa sadar ia keluarkan, ia tidak kuat menahanya, menahan semua rasa kehilangan yang begitu kuat ini. Air mata yang dari tadi ia bendung mulai mengalir pelan dari sela-sela kelopak tersebut. Kedua tangan Issei entah sejak kapan telah memeluk tubuh mungil Koneko, ia menangis disana mencurahkan semua perasaanya. Issei menyadari semuanya sejak ia siuman beberapa jam yang lalu bahwa Asia sudah tiada, tapi ia tetap menyangkalnya dengan berbagai cara meski dalam hatinya ia sudah menyadari dengan melihat bidak bishop tersebut. Meski terlihat begitu menyedihkan tapi memang begitulah cara untuk sedikit membuang rasa kehilangan.
"Sepertinya pemilik naga surgawi sekarang sedikit lebih tenang" Sirzechs berkata pelan sembari menyenderkan punggungya pada dinding. Ia sebenarnya ingin sedikit menghibur pemilik Ddraig tersebut, tapi kurasa itu sudah tidak diperlukan lagi.
Maou Lucifer itu mulai menegakkan tubuhnya, berjalan pelan kesebuah ruangan dengan bingkai kaca besar disana. Pandangan mata Sirzechs berubah sendu dengan cepat menyaksikan adik nya masih dalam perawatan dari balik kaca tersebut, sesekali ia mengepalkan tangannya kuat-kuat berusaha membendung amarah yang hendak keluar. Tanpa sadar tangan kanan Sirzechs menyentuh bingkai kaca tersebut, sang lucifer menyadari meski tidak adanya luka luar yang diderita Rias tapi itu tidak menjamin keselamatan gadis itu sudah terjaga. Malah sebaliknya dengan kondisi tubuh yang seharusnya dapat segera sadar itu adik Maou Lucifer tersebut masih dalam kondisi terlelap, ini saja sudah membuat Sirzecrhs berpikir keras serangan macam apa yang mengenai adiknya sampai seperti ini.
Pikiran Sirzerhs seraya dibawa pergi untuk sesaat, mengulang lagi kejadian setelah sosok itu pergi dari area Academy Kuoh. Ia masih dapat mengingat dengan jelas bangunan-bangunan Academy yang hancur dan hampir tidak menyisakkan bekas jika saja pertarungan masih akan dilanjutkan.
Bau bekas ledakan dan debu yang menyebar menjadi hal yang dominan diarea tersebut, pandangan mata Sirzerchs secara cepat mencari dimana adik kecilnya berada. Ia hampir menangis saat menyadari Rias terbaring tidak jauh disana, Sirzerchs bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya menyadari tubuh remaja tersebut tidak menunjukan dalam kondisi baik.
Hampir saja sang maou mengobarkan energi iblisnya jika saja Grayfia tidak terlebih dahulu mengengam tangan terkepal Sirzerchs. Dengan mata yang masih menyisahkan kemarahan Sirzerchs memandang cepat pada istri sekaligus pemegang ratu dalam peerage-nya, tatapan yang berbeda itu membuat Sirzerchs serasa ingin buang muka. Ia menyadari dengan pasti bahwa dirinya tidak boleh dan tidak akan pernah boleh lagi kembali pada saat itu, termakan emosi negatif dari Power of Destruction mementingkan kemarahan dari pada pemikiran rasional.
Dengan helaan nafas kuat Sirzerchs mencoba mencari ketenangan, meski sedikit. "Terima kasih, Grayfia" kata Sirzerchs begitu lirih sembari berjalan kearah Rias, dan membawa tubuh gadis iblis itu dikedua tangannya.
"Sirzerchs-sama, biarlah saya yang mengurus yang terluka disini. Anda segera bawa Oujo-sama untuk mendapatkan perawatan"
Sirzerchs mengangguk pelan, membawa tubuh adiknya kedalam lingkaran sihir teleportasi yang ia buat. Disudut mata pria itu terlihat beberapa iblis muda yang terbang kearahnya, dapat ia pastikan mereka iblis dari keluarga Sitri. "Kuserahkan yang disini padamu, Grayfia" dengan ucapan tersebut tubuh Sirzerchs terbawa pergi.
Derap langkah cepat mengalun dalam lorong rumah sakit, suara langkah yang kiat terdengar membuat maou Lucifer mengalihkan perhatiannya dengan cepat, melupakan sejenak ingatan tentang kejadian tersebut. kepala Sirzerchs berputar pelan kesamping, menyaksikan Akeno dan Kiba disana. ia ingin mengucapkan sesuatu tapi melihat kondisi dari kedua iblis renkarnasi tersebut yang masih jatuh, membuat Sirzerchs mengurungkan niatnya. Berjalan menjauhi ruangan perawatan adikknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dalam langkah nya Sirzerchs mengingat lagi kalimat yang diucapkan sosok tersebut "Iblis, Malaikat dan Malaikat jatuh kalian adalah makhluk yang sudah menduduki dunia ini dalam waktu lama dan mengabaikan segalanya. Meski kalian mengikat janji dalam kedamainan tapi tidak ada kedamaian didalamnya. Kukatakan dengan pasti dunia ini akan hancur dan Septentrion akan terjadi"
"Dunia ini sudah berakhir dan harus diakhiri" gumam Sirzerchs pelan.
UNDEAD
Naruto menautkan alis-nya pelan, ia merasa heran pada jalan besar dihadapannya. Beberapa hari lalu hampir tidak ada orang berada disana, tapi sekarang melebihi prediksi dirinya membuat ia harus bersengolan saat berjalan. Ia mendesah pelan, 'Mungkin karena hari ini minggu' pikir nya.
Sebuah tarikan halus perlahan terasa dilengan baju kanan Naruto, dengan sedikit mencondongkan diri kesamping melihat seseorang disana. Entah kenapa saat memandang gadis bernama Asia Argento ia dapat membuat senyuman yang sebenarnya, bukan senyum seringai atau senyum palsu yang sering ia keluarkan tapi sebuah senyuman tulus. Naruto masih tidak tahu mengapa dirinya menyeret gadis ini bersamanya, ia hanya merasakan perasaan yang sama seperti saat itu.
Lamunan Naruto berakhir saat ia merasakan lagi tarikan yang lebih kuat dari sebelumnya. Dalam pandangan mata shapire Naruto dapat terlihat wajah Asia yang seperti ingin menangis dengan bibir yang perlahan turun dan mata berkaca-kaca. Melihat hal tersebut malah membuat pemuda kuning itu ingin tertawa, tapi ia mengurungkan niat nya sembari meletakan tangan kiri tepat pada puncak kepala Asia.
"Kau cengeng sekali Asia" ucap Naruto
Asia makin menundukan wajahnya menerima ucapan Naruto, "Naruto yang membuatku jadi seperti ini" kata Asia pelan
Naruto mulai tertawa pelan tidak memperdulikan tatapan marah dari gadis disampingnya, rasa sakit dipinggangnya menghentikan sesi tertawanya. Melihat kearah sumber rasa sakit, ia mendapati tatapan marah yang terkesan lucu dari Asia.
"Maaf-maaf aku tidak bermasksud seperti itu, tapi melihat seorang Asia berkata begitu membuatku ingin tetawa" Ia menghentikan ucapannya memandang lurus pada kerumunan orang "Dari pada berlama-lama disini lebih baik kita cepat kesana"
Naruto kembali berjalan pelan menyesuaikan langkah dari Asia, sesekali ia harus mengurangi kecepatan langkahnya saat akan berpapasan dengan orang lain. Deru dari beberapa kendaraan mengalihkan sekilas perhatian Naruto, memang agak berbeda pikir nya. Ia mulai berjalan kearah brasserie untuk mendapatkan makan siang.
Sudah lebih dari sebulan lalu tepatnya saat ia hampir meluluh-lantahkan Academy Kuoh, sejak saat itu ia dan gadis disamping nya pergi jauh dari teritory iblis tersebut. Sebulan terakhir ini Naruto habiskan bersama dengan Asia, pergi kemana gadis itu suka dan melakukan hal-hal yang selama ini ia belum lakukan. Meski Naruto menikmati hari-hari damai bersama Asia, tapi ia sadar bahwa ketiga fraksi yang saat ini sedang melakukan pencarian menyeluruh untuk menemukan dirinya.
'Sebentar lagi' Gumam Naruto pelan sembari melihat gadis dihadapanya menghabiskan spagetti yang ia pesan.
Tanpa disadari siapa pun sekelebat bayangan hitam melewati celah pintu dan berbaur dengan bayangan Naruto. Informasi-informasi yang dibawa bayangan tersebut mulai memasuki pikiran pemuda tersebut, informasi mengenai pergerakan dari fraksi-fraksi dan Khaos Brigade mengalir dengan pasti dalam diri Naruto.
'Apapun yang dilakukan mereka, itu mungkin akan sia-sia. Tidak ada yang menjamin akhir yang indah bagi mereka, Red Dragon maupun Ophis yang dikatakan memiliki kekuatan yang tak terbatas pun tidak menjamin mereka selamat. Septentrion semuanya pasti akan kembali pada awal mula penciptaan'
TBC
Maaf untuk cerita ini akan berhenti dan akan dalam mode re-write. Banyak plot yang hilang menurut saya sendiri. Jadi sekali lagi aku minta maaf.
