"Doumo. [Halo.]"

"WAA! Kage! Berhenti muncul seperti itu!" Untuk kesekian ribu kalinya, Hikari masih tidak terbiasa dengan kedatangan ala jelangkung Kage.

Adiknya mengeryit, melihat kamar sang kakak tidak dipenuhi bau cairan putih atau baju yang berantakan ke segala arah. Aneh. Kakaknya 'kan pemalas akut. Apalagi kalau habis melakukan hubungan seksual dengan para gadis murahan.

"Jadi?" Hikari memulai pembicaraan, mengatur napas setelah menghadapi kejut jantung gratis.

"Kedatanganku kesini karena ini." Dengan wajah sedatar triplek biasanya, Kage memberikan setumpuk kertas.

Hikari menerimanya dan membaca secara seksama. Itu wajar saja sebab mata kanan pemuda bersurai kelam tersebut tak dapat digunakan lagi. Jadi ia menutupnya dengan eye-patch senada yang justru jadi perhatian orang-orang.

Coba pikirkan, mana ada bajak laut dijaman sekarang?

"Begitu ya, mereka kalah." Ia melempar kertasnya sembarang ke atas meja, punggungnya mundur menyandar. Lantas menyunggingkan senyum. "Aku jadi ingin bertemu mereka."

"Tidak boleh, hyung."

Hikari terkekeh geli. "Aku tahu, Kagecchi~ Berbahaya sekali kalau harus melewati lubang buaya tanpa persiapan."

Kage berless expression ria melihat senyum sang kakak. Ini sudah jadi ciri khasnya sejak 'lahir'. Namun justru itu membuat Hikari makin dalam mencintai adik kandungnya.

Tanpa aba-aba, Kage tertarik ke atas pangkuan, duduk di atasnya, dan mendapat ciuman sekilas yang ternyata tetap tidak melukiskan ekspresi di wajahnya.

Dalam hati, Hikari bersyukur setengah mengutuk. Kenapa sih adiknya bisa semanis ini walau bermuka tembok?

"Nanti aku akan menelponnya. Kurasa Luxury tidak akan marah jika kita pakai rencana ini." Hikari menarik lacinya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening.

Sorot Kage berubah sedikit, tidak suka. "Ini dilarang."

"Gwaenchana~" Hikari menjilat pipinya. "Berikan 'sedikit' saja. Aku urus sisanya nanti."

"Baiklah."

.

.

Everytime You Kissed Me

Author: Park Hyesung

Cast:

Yesung x Ryeowook

Kyuhyun x Sungmin

Franca

Genre: Romance, Fantasy, Action?, Friendship

Rate: T+

Warning: Yaoi, Typo(s), EYD tidak sesuai, alur kecepatan, OOC parah, Cerita pun aneh

Disclaimer: Author hanya meminjam nama para cast. Ini hanya sebuah fiksi belaka, harap tak mempercayai terlalu dalam fiksi ini. Tidak suka pair/cast? Tinggal keluar dari halaman ini.

Terima kasih

.

.

.

Episode XII

Anxious

.

.

.

Suara debuk tutup kotak menggema, mengakhiri semuanya.

Yesung peelahan beranjak dari mayat di bawahnya, membiarkan bau anyir besi menyeruak bebas di udara. Menghilangkan rantai berbecak darah sambil terengah-engah, sama seperti yang lainnya.

Kyuhyun menyimpan pedangnya beserta kotak merah marun berisi debu kekuningan bercahaya mayat. "Sungmin-ah, gwaenchana?"

Namja bermanik onyx tersebut mengangguk. Menahan aliran darah keluar dari lengan kirinya, tempat di mana kontrak mereka tergambar. "Sebenarnya, kakiku sakit. Mereka terus menyerangku di bagian itu."

"Wookie-ah! Kau masih kuat?" Seru Kyuhyun bernada cemas. "Aku akan membawanya ke rumah sakit kalau kau sudah tidak kuat!"

Malaikat itu mengangguk pelan sebagai jawaban, memaksa fokus pada tangan Leeteuk yang lecet parah akibat gegabah. Dia sendiri menahan diri agar tak menatap ke sekeliling.

Banjir darah di mana-mana. Dan hatinya terlalu putih untuk itu.

Beberapa jam yang lalu, mereka diserang bersamaan. Kangin, Eunhyuk, Donghae dan Leeteuk langsung datang membantu ketika Franca pergi lewat memberitahu mereka.

Seperti yang Sesepuh bilang, ada kemungkinan Yesung akan diserbu puluhan penyihir sihir hitam.

Sembilan lawan lima belas, Ryeowook sudah pesimis dan mulai mempersiapkan diri kalau saja mereka kalah. Apalagi senjata yang dipakai musuh terbilang unik.

Semuanya bekerja keras, tak ada yang menyerah. Bahkan para 'target' tak ketinggalan mempertunjukan kemampuan mereka yang mulai meningkat.

Ryeowook merasa tak berguna karena tak bisa ikut menyerang bersama yang lainnya. Apalagi Yesung dan Kyuhyun kerap mondar-mandir menjadi pelindung baginya. Karena jiwa malaikatnya terlalu lemah, air mata akan merembes keluar jika Franca tak segera menghiburnya.

Semuanya berakhir dengan rencana buatan Kyuhyun serta usaha besar mereka semua, lima belas orang itu terkalahkan. Mereka bersyukur ada Franca yang dapat memberikan energi dan Ryeowook yang bisa menyembuhkan di sini. Jika tidak, pasti mereka hanya tinggal nama sekarang.

"Apa-apaan ini! Enam serangan dalam delapan hari?" Yesung mengerang, tak bisa menahan amarah yang bergejolak lebih dari ini.

Di sisi lain, Eunhyuk meringis kencang. Menengadah sebentar sebelum menyeka air yang Donghae berikan pada lukanya. "Argh! Ini membuatku frustasi!"

"Tahan sedikit, Hyukie." Donghae berusaha menghibur, menyelimuti luka-luka dengan air dingin meski kepalanya mendapat pukulan gratis.

"Ini konyol, hyung. Mereka memakai kelemahan kita selama beberapa hari ini." Timpal namja paling tinggi di sana. Kyuhyun menggendong Sungmin ala bridal dan menaruhnya pelan-pelan di hadapan Ryeowook setelah Leeteuk menyingkir.

Yesung diam sejenak. "Kemarin gambar aneh yang bergerak, lalu death note, sirkus, rasi bintang dan raksasa. Semuanya tentang hal yang kita suka beberapa hari ini."

"Mungkin saja," Kangin memijat keningnya pusing. Kemampuan pengendalian pikiran membuat otaknya berdenyut. "Ada pengkhianat di antara kita."

"Maksudmu?"

"Kalian mau bilang aku yang jadi pengkhianat?" Franca merubah bentuknya jadi bocah perempuan. Berkacak pinggang atas tuduhan yang belum terlontar padanya.

"Franca, tidak ada yang bilang begitu 'kan." Ryeowook berusaha menenangkannya.

Walau tak yakin, semuanya juga pasti berpikir satu-satunya yang dapat berbuat begitu hanya Franca. Bocah ini sendirian di rumah saat waktu sekolah. Dan fakta dia tahu keadaan rumah Eunhyuk tidak bisa dihindari.

Tapi, tak boleh menuduh tanpa bukti 'kan?

"Kurasa ada kemungkinan orang selain Franca." Semua pasang mata tertuju pada Leeteuk. "Sihir hitam pengendali diri orang lain pasti ada 'kan?"

Donghae setuju. "Benar. Seandainya Guardian Wizard tidak bisa terkena sihir itu, kami para 'target' bisa saja kena."

"Sudahlah." Eunhyuk menepuk tangannya, mengambil perhatian. "Kita sudahi saja. Ini hanya membuang-buang waktu. Sekeras apapun kita berpikir, mustahil dapat jawabannya sekarang."

"Hee, dasar pemalas. Bilang saja kau tidak mau berpikir."

"Yesung..." Eunhyuk memasang wajah sedih di sela-sela ringisan, menunjukkan kefrustasian terselubung karena tak dapat jatah kali ini. Sepertinya menyembuhkan kaki Sungmin membutuhkan waktu yang lama.

"Ngomong-ngomong," Ryeowook mendongakkan kepalanya dari kaki Sungmin. Berusaha tak mengendus-ngendus seperti anak anjing pada bebauan menyengat. "Aku ingin muntah kalau di sini terus."

"Nah! Aku punya firasat buruk tentang itu juga." Kyuhyun berseru menganggetkan kemudian berjongkok. Menempatkan tangannya di lantai dimensi putih. "Kita bukan sedang di dekat rumah lagi sekarang."

"Hah?" Semuanya terkejut kecuali Yesung.

"Kyuhyun benar." Ia ikut berjongkok, kali ini memberikan gepalan tangan ke lantai. "Kita berada di hutan."

Buk!

Ketika dua tinju mengenai permukaan, berangsur-angsur tempat putih bercampur merah tadi menghilang. Suasana yang tadinya hening berganti berisik suara gesek semak-semak.

Angin sepoi bertiup dari segala arah, kegelapan malam semakin mencekam akibat julangnya pohon-pohon tinggi serta lengkingan serigala mampu membuat merinding seketika.

"Ye-Yesung... Kau tidak bercanda 'kan?" Tanya Eunhyuk terbata sambil berusaha berdiri di bantu Donghae. Leeteuk sendiri sudah beringsut di balik tegapnya tubuh Kangin.

"Gimana jelasinnya yah? Musuh menggunakan dimensi berjalan. Jadi selama kita bertarung, ruang tadi bergerak terus ke arah utara. Beruntung kita tidak di atas samudra, apalagi kalau di kutub." Jelas Kyuhyun tenang, sampai-sampai berani menghempaskan tubuhnya di atas rumput.

"Ja-jadi oppadeul sudah tahu ini dari tadi?" Franca bergidik saat angin menjahili tengkuknya. Mengusap-usap lengannya yang menggigil.

"Keahlian kami." Yesung berjalan, mendekati Ryeowook yang menyibukkan diri dengan luka Eunhyuk sekarang. "Kusarankan lebih cepat. Walau lukanya hilang, bau darah yang menempel di baju masih dapat memicu nafsu binatang buas di sekitar sini."

Ucapan datar Yesung membuat semuanya menelan ludah paksa.

"Mi-mian kalau mendesakmu, tapi bisakah kau lebih cepat, Wookie?" Eunhyuk tertawa pelan, merasa tidak enak sekaligus takut peringatan Yesung menjadi kenyataan.

Donghae menatapnya seakan berkata kau-tidak-boleh-seperti-itu-dia-'kan-juga-bekerja-keras yang disambut tundukan meminta maaf.

Sementara Franca berdiam diri sambil membatin. 'Kenapa tidak pakai sihir merubah baju? Dan lagi, negara mana yang tidak terjamah musim dingin?'

"Sudah selesai kok." Ryeowook beranjak bangun dengan kaki gemetar. Ekspresinya sulit diartikan. Takut, senang, mual dan lelah bercampur jadi satu. Rasanya menjijikan meskipun sudah keluar dari tempat laknat itu.

"Oke, kalau begitu kami pulang dulu. Kalian hati-hati ya. Hyukie, Kangin, ayo cepat buat portalnya."

"Bye, Bye Yesungie~ Sampai jumpa di sekolah~!"

"Berisik! Pergi sana, dasar tak tahu malu!"

Tak butuh waktu lama, keempat orang yang tinggal di blok sebelah sudah menghilang. Meninggalkan seseorang yang menggerutu setengah mengutuk.

"Hyaa!" Satu lengkingan serigala mengejutkan kaki gemetar Ryeowook.

"Astaga, kenapa kau lemah sekali sih?" Yesung reflek menangkapnya begitu ia akan jatuh ke belakang, tepat di ujung jurang bukit yang curam.

Lantas ia berusaha berdiri walau tetap linglung dan mengatur detak gila jantungnya –entah karena kaget, takut atau efek berdekatan dengan Yesung–.

"Kita juga harus pulang. Aku lapar." Franca mendekat pada Ryeowook, mengelus punggungnya sebagai penenang. Satu tangan yang terbebas dibuat gerakan mengelus perut.

"Kalau begitu kita harus masak banyak lauk! Iya 'kan, Ryeowook-ah?"

"Jangan konyol, Sungmin. Aku tidak mau makan masakan yang ada muntahannya." Ejek Yesung dengan juluran lidah.

Ryeowook reflek memukul punggungnya sebagai gertakan. Dan pertengakaran kecil pun terjadi.

"Kurasa satu lauk juga sudah cukup, yang penting porsinya banyak." Usul Kyuhyun menengahi debat mereka. Sambil mendekat, ia bersiap-siap membuat portal sihir.

"Bulgogi saja! Atau Kimchi? Pizza juga enak sepertinya." Sahut Sungmin memeluk lengan Kyuhyun.

"Terserah. Aku tinggal makan saja." Jawabnya acuh. Kemudian ia melirik namja manis di sampingnya.

Puk!

Ryeowook menoleh, satu tepukan mengenai kepala.

"Kerja yang bagus."

Ia tersenyum tipis, menikmati sensasi usapan lembut seperti anak anjing. Kalau begini terus sih, Ryeowook mau saja diincar terus.

Semua orang berkumpul, berjuang bersama, lalu saling melindungi satu sama lain. Harus diakui Ryeowook menyukai sensasi hangat tersembunyi itu di antara penyerangan yang berlangsung.

Itu berarti mereka saling menyayangi bukan?

Dan, lebih penting lagi. Yesung menyayanginya 'kan? Atau setidaknya menerima kehadiran Ryeowook di sisinya. Bisakah Ryeowook mempercayai itu? Naifkah dia?

.

.

.

Keesokan paginya,

"Hore! Lima hari lagi hari Valentine!"

"Berisik! Nggak ada yang akan memberikanmu cokelat juga 'kan!"

Pertama kalinya Franca cemberut pagi ini. Tombak imajiner Yesung langsung menusuk tengah hati. Ia berpaling pada Ryeowook dan Sungmin yang sibuk memasak kemudian merajuk. "Kalian akan memberiku cokelat 'kan? Iya 'kan?"

Sungmin terkekeh. "Tentu saja."

Franca menjulurkan lidah pada Yesung yang dibalas decihan masa bodoh.

"Besok kita bertiga bakal dihujani cokelat nih." Kyuhyun meletakkan gelas susunya, menopang wajah dengan tangan kiri. "Kita 'kan terkenal di sekolah."

"Bertiga? Maksud Tuan, Ryeowook tidak dapat cokelat?"

"Mana bisa anak semembosankan dia dapat cokelat." Jawab Yesung cepat nan sinis tanpa mengalihkan perhatian dari buku tebalnya.

Kalau boleh, Ryeowook ingin melempar buku itu ke wajahnya. Biar berbekas, menghilangkan ketampanannya secara permanent sehingga kadar sombongnya menurun drastis.

"Ne, ne. Yesung oppa~ Bagaimana kalau dia mengirimkan cokelat?"

Hening menghinggapi dapur merangkap ruang makan itu, kecuali suara pisau yang digunakan Sungmin dan adukan sendok dari Ryeowook.

"F-Franca..." Kyuhyun gelagapan, menyuruhnya mengganti topik pembicaraan lewat mata.

Terlambat. Sebelum ada seseorang mengalihkan suasana, Yesung sudah mendecih tajam.

"Tinggal buang. Apa susahnya."

Eh?

Ryeowook dan Sungmin sampai rela menghentikan kegiatan mereka agar dapat mencerna arah pembicaraan ketiga penyihir itu.

Hidung Ryeowook mengendus sesuatu, mereka masih menyembunyikan beberapa hal lain di sini.

"Dibuang? Tapi oppa tidak pernah–"

Bocah manis itu hampir tersedak ludah sendiri ketika Yesung memberikan tatapan menusuk di belakang buku.

Suasana makin buruk.

"Benar juga," Ryeowook membuka suara. "Aku tidak mungkin memberikan cokelat pada Yesung 'kan?"

Polosnya Ryeowook. Tapi dia nggak salah juga sih. Kata 'dia' yang dipakai Franca begitu ambigu. Siapa pula 'dia'? Jadi Ryeowook mengambil kesimpulan seenaknya bahwa yang dimaksud itu dia sendiri.

"Lu-lupakan saja." Bocah itu terkekeh gagap, dan beranjak berdiri menghindari kontak mata dengan Yesung. Mungkin mencari Gakuro bisa menjadi alasan yang bagus.

"Bodoh," Ejek Yesung tak bisa ditahan, mengundang empat sudut siku-siku di dahi Ryeowook.

Namun dia harus menelan bulat-bulat semua sumpah serapahnya begitu diteriaki, "Apa yang kalian tunggu? Bel sekolah? Cepat masak!"

Tanpa banyak bicara, kedua namja cantik itu berbalik, segera melaksanakan perintah Yesung. Takut-taku ia bisa melempar mereka tombak.

"Ye-Yesung hyung..." Panggil Kyuhyun ragu.

"Ya?"

"Ti-tidak jadi." Ia diam saat tatapan setajam pisau menghentakkannya. Padahal balasan kata 'Ya' itu santai sekali. Sedikit dengan desisan mungkin?

Sungguh, dia pribadi tidak suka perubahan atmosfir gelap ini, tapi karena kebodohan Franca sudah terlanjur menjatuhkan mood Yesung, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.

Sepuluh detik kemudian, derap kaki memenuhi koridor. "Ryeowook oppaaaa~ Seseorang mengirimkanmu hadiah~"

.

.

.

"Masih ada yang ingat pada pemalas sepertimu rupanya." Ledek Yesung di ambang pintu, sambil sok berlagak layaknya bos. Padahal kalau diingat itu memang stylenya sejak kecil.

Yang dimaksud hanya mendengus, menimbang-nimbang penampilannya dengan mantel baru warna cokelat berbulu di sekitar hoodie.

"Tidak buruk." Komentar Ryeowook, berputar sekali di depan cermin kamar.

"Terlihat semakin cebol, kau tahu?"

"Berhenti mengejekku!" Serunya jengah, lelah diperhatikan terus selayaknya penjahat yang bersiap kabur. "Mantel ini mahal. Lihat! Mereknya saja terkenal!"

"Penampilan cebol dengan merek tidak ada hubungannya, bodoh." Balas Yesung pedas. Menikmati setiap ekspresi marah yang ditampilkan cuma-cuma.

"Cebol apanya? Ini sudah pas! Matamu saja yang buta. Temanku tak mungkin salah ukuran."

"Itu karena badanmu persis badan perempuan. Jadi nggak mungkin salah 'kan?"

Pemuda Kim itu akhirnya beranjak mendekati ranjang berselimut ungu tua.

"Jangan pegang-pegang! Barang mahal, tahu!" Ryeowook langsung merebut kotak persegi yang hendak Yesung ambil.

"Hah? Siapa juga yang mau pegang? Yang ada aku akan membakar laba-laba di dekat kotaknya."

Tuh kan, Tsundere-nya kumat.

"Eh? Masa sih? Emang laba-laba suka cokelat?" Ia membolak-balik kotaknya lugu. Dasar bodoh, mau saja ke makan omongan konyol Yesung.

Yesung memijat pelipisnya prihatin. "Sudahlah, ayo berangkat."

"Kotaknya dibawa?"

"Bukan urusanku."

Ryeowook mengangkat bahu sambil bergumam "Benar juga." dan menutup pintu kamar. Membiarkan Yesung berjalan beberapa langkah di depannya kemudian menyusul menuruni tangga.

Sekedar menghilang bosan dalam perjalanan ke sekolah, ia membaca ulang catatan kecil dalam kotak.

Sudah lama ya, Wookie-ah~ Kau masih ingat tulisan tanganku 'kan? Yup, ini aku! Si monyet legendaris, Park Chanyeol! (Aku bahkan merasa malu menuliskan ini, tapi biarlah supaya kau ingat padaku xP) Jadi, singkatnya begini. Kami terkejut ketika kau menghilang seakan ditelan bumi Desember lalu.

Saat supirku kebetulan melihatmu berjalan sepulang sekolah, beliau pikir itu mimpi tapi saat kau berbalik tepat sebelum membuka pintu rumah, beliau langsung yakin itu kau. Wajah polosmu nggak berubah!, begitu katanya x) Teman-teman belum tahu soal ini, aku sengaja tak memberitahu mereka karena tak mau membuatmu susah di tengah banjir kerinduan. Jadi, aku memberimu hadiah mantel sebagai kado natal kemarin dan cokelat untuk hari valentine. Ingat ya, pakai mantelnya dan makan cokelatnya! Ini perintah!

Love ya, Ryeowookie

Pemilik nama lengkap Kim Ryeowook ini hanya bisa menahan senyumnya di balik punggung Yesung.

"Dasar, nggak pernah berubah."

.

.

.

Jam istirahat siang,

"Cokelat,"

"Hm?"

"Kau dapat cokelat darimana?"

Kyuhyun dan Sungmin sontak berbalik. Menyaksikan Ryeowook yang kebingungan menghadapi sikap penasaran terselubung Yesung.

"Apa?" Tantang pemuda raven ketika kedua orang di sana berganti menatapnya.

"Tidak. Aku hanya merasa kau berubah perhatian pada Ryeowook." Celetuk Sungmin tiba-tiba, sedikit enggan mengingat jarang berkomunikasi dengan Yesung.

"Pemilihan kata yang bagus, Minnie." Puji Kyuhyun menepuk tangannya.

"Cih, siapa juga yang khawatir? Aku hanya merasa heran pada anak yang kena rumor mesum padahal baru masuk tiga hari masuk sekolah bisa mendapatkan cokelat bahkan sebelum harinya."

"Terima kasih hinaannya."

"Terima kasih kembali."

"Kalian ini..." Kyuhyun geleng-geleng, bingung harus bagaimana menyikapi keributan aneh di tengah sepinya kelas.

"Tuan," Bisik Sungmin. "Kita tinggal'kan berdua saja. Mungkin Yesung malu dilihat kita. "

"Aku dengar itu."

DEG Sungmin langsung beringsut kembali ke posisi awal, menatap papan tulis.

"Ya sudah, kita ke kantin saja. Lama-lama di sini juga tidak ada gunanya."

Akhirnya kelas benar-benar sunyi setelah Kyuhyun menarik Sungmin keluar.

Helaan napas panjang terdengar berat, kepala besar tersebut menyamankan diri di atas meja sebelum mengerang seperti kucing. Ryeowook bergidik, lagi-lagi tidak jadi memasukkan cokelat ke dalam mulutnya.

"Kau mau?"

Well, hati malaikatnya tergerak. Ia menawarkan patahan cokelatnya pada manusia merangkap penyihir itu. Menurut sudut pandang Ryeowook, Yesung hanya bersikap manis agar diberi cokelat.

"Buang sana."

Salah besar. Empat sudut siku-siku secepat kilat muncul di dahinya.

"Ya, kau harus berterima kasih padaku, Kim Yesung."

"Hah?" Sewotnya, menarik dua tali earphone untuk menyumpal telinga. "Gara-gara sikap sok baikmu? Maaf saja, tidak."

"Ugh... Kapan kau akan bersikap lembut padaku?" Gumam Ryeowook sebal, kali ini berhasil menikmati rasa manis cokelat. Sebenarnya dia ingin melanjutkan kalimat itu ketika teringat usapan Yesung namun tak jadi karena mulutnya lengket akan cokelat.

"Nanti, saat aku sudah mati."

"Huh?"

"Lupakan." Yesung mengibaskan tangan, memandang hari cerah ditengah musim dingin lewat jendela sebelum rasa kantuk menyerangnya.

'Entah kenapa, aku punya firasat buruk.'

.

.

.

Jam makan siang bagi orang-orang kantor,

"Dia..."

"Kurasa dia akan lumpuh dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Beberapa sel yang membawa aliran healingnya terputus dan untuk mengembalikannya sudah kuberi obat khusus. Mungkin besok dia bisa kembali sehat jika beristirahat yang cukup."

"Penyebabnya?"

"Ne?"

"Penyebabnya, Choi Siwon. Aku ingin tahu asal-usul kelumpuhan sementaranya."

"Boleh kuralat? Sebenarnya ini tidak sementara, bisa saja dia mati jika kau terlambat memanggilku. Kibum harus mengecek sample darahnya dulu. Tapi menurut analisaku, ini racun langka. Jenisnya belum kuketahui."

"Kuharap kau tak salah memberinya obat." Yesung memijit dahinya pusing. "Apalagi kau baru jadi dokter."

"Hee... Kau tak mempercayaiku? Justru karena aku pintar makanya jadi dokter diumur segini. Lagipula membuat obat itu mudah kalau kau punya sihir. Hanya perlu hapal beberapa hal di luar kepala."

Pemuda raven itu mengibaskan tangan tak peduli. Menganggap kenarsisam itu bagai angin lalu.

Siwon mengangkat bahu. "Sudah ya, tugasku sudah selesai. Sampai jumpa lain waktu, Yesung-ah."

Sosok tinggi itu menghilang ditelan setelah melewati lingkaran sihir. Meninggalkan Yesung yang kembali menghela napas sambil bangun dari sandaran dinding.

"Enak jadi lumpuh, Kim Ryeowook?"

Pintu kamar baru saja terbuka dari luar, dan ia mendapatkan hadiah ejekan paling nista hari ini.

Namja manis itu tak menjawab, dan tak bergerak untuk memukul kepalanya. Benar-benar tak bisa meski emosi menghanguskan seluruh pikiran jernihnya. Ia sendiri lebih baik memikirkan asal-usul kenapa tubuhnya berakhir seperti ini.

Ditengah jam pelajaran Inggris, Ryeowook mulai sesak napas. Kemudian terbatuk hebat hingga mengeluarkan darah. Dari sanalah ia merasa saraf tubuhnya mulai tak bekerja. Mati rasa disegala sisi.

Yesung langsung mengambil tindakan, memberikan seribu satu alasan agar bisa membawa Ryeowook pulang. Kemudian dengan setengah sadar, ia dibantu berganti pakaian oleh Franca. Demi apa, Ryeowook malu setengah mati dan tak habis pikir apa yang ada dikepala besar Yesung.

Franca 'kan perempuan. Garis bawahi, perempuan. Sedangkan yang dihadapannya adalah lelaki tulen. Mau taruh di mana mukanya pas bocah kecil ini mengganti bajunya. Mending kalau atasan doang, lha ini beserta bawahan.

Andai kata Yesung melihat kacaunya ia menghadapi praktek sikap sok menggoda Franca, Ryeowook yakin namja itu akan meledeknya habis-habisan.

Andai kata juga kalau Yesung yang mengganti bajunya, itu tidak akan merubah presepsi bahwa dia tidak akan tertawa melihat kelumpuhannya.

"Cokelat," Alis Ryeowook bertaut ketika Yesung mendekatinya. "Kau masih ada sisanya?"

"Huh?"

"Jangan salah paham. Aku tak mau makan cokelat selain buatan– Tidak. Beritahu saja apa kau masih ada sisanya?"

Ryeowook diam sejenak. "Mungkin ada, di kotak dalam tas."

Yesung mengangguk, mendekati gantungan baju di salah satu sisi dinding kamar. "Park Chanyeol eoh?"

Ryeowook tidak tahu pasti kenapa Yesung bisa tahu nama itu, ia tak bisa menggerakkan lehernya lebih dari menoleh ke kiri atau ke kanan.

Setelah membaca surat kecil di saku mantel baru Ryeowook, ia menyandingkan pakaian tebal berwarna cokelat gelap itu ke bahunya. Kemudian beralih ke kaki meja belajar Ryeowook dimana tas punggung tersampir, sedikit mengaduk isinya dan ia mendapatkan apa yang dia cari.

"Apa yang kau lakukan?"

"Beralih profesi menjadi detektif dadakan. Mau ikut?"

"Kau mengejekku? Tidak, terima kasih Tuan Detektif."

"Bagus. Lagipula kau hanya akan menjadi beban. Aku pulang malam sepertinya. Panggil Franca kalau perlu apa-apa."

"Tu-Tunggu dulu! Kau mau bawa kemana hadiah-hadiah itu?"

Suara pintu tertutup sebagai jawabannya. Kemudian ia menggerutu tanpa bisa di tahan lagi.

.

.

.

"Kau menguping?"

Franca tersentak, gelagapan menangkap Gakuro yang hampir jatuh dari gendongannya.

Dia tertawa pelan, "Y-Ya begitulah."

Yesung bergumam. Sebelum menyibakkan mantel yang hendak jatuh. "Bantu dia selama aku tak ada. Aku ada urusan penting."

Begitu saja. Franca membiarkan Yesung pergi menuruni tangga. Dan ketika ia baru ingat mau mengatakan apa, sosok itu sudah hilang bersamaan titik cahaya sihir.

Yesung pergi dengan portal sihir.

Lingua Franca menghembuskan napas keras-keras. Mengelus pucuk kepala anjing kecil sambil bergumam.

"Ya ampun, Gaku. Aku nggak pernah ngerti hubungan mereka itu seperti apa. Sebentar-sebentar baik, nanti jadi sinis-sinisan, ujung-ujungnya balik ke sifat asli."

"Guk!"

"Tuh 'kan. Kau saja setuju denganku. Belum lagi pas konyolnya mereka cemburuan. Beralih ke romantisan yang sebenarnya absurd kalau dihubungkan caci maki mereka beberapa saat sebelumnya."

"Guk! Guk!"

"Kalau begini, siapa yang akan mengaku suka duluan? Yesung si tsundere atau si pengikut suasana Ryeowook?"

"Guk! Guk!"

"Franca! Apa kau bersama Gakuro?"

Bocah itu tersentak kaget, buru-buru membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. "Ne, oppa. Waeyo?"

"Aku ingin tidur. Tolong jauhkan Gakuro dari kamarku dulu."

"Ne~" Pada akhirnya, Franca kena omel. Ia rasa mood Ryeowook memburuk karena Yesung membawa barang-barangnya tanpa ijin.

.

.

.

Pukul 19.15

"Yesung!"

Si pemilik nama mundur selangkah. Baru saja menginjak satu ubin di lantai dapur, ia sudah dihujani tatapan menuntut.

"Apa?" Ia menarik salah satu kursi, menghempaskan tubuhnya kasar sebelum mengacak rambutnya. "To the point saja."

"Ryeowook oppa tidak mau makan dan minum. Sepertinya ngambek. Pasti gara-gara oppa mengambil barang-barangnya."

Yesung diam sejenak sambil meletakkan tasnya di atas meja. "Ini?" Dan dengan tak berperikemanusiaan, ia menjatuhkan hadiah Ryeowook dari tasnya.

Sebelum mendengar adanya protes, Yesung menarik barang itu satu persatu.

"Aku habis dari Kibum. Kami bekerja keras mencari jawabannya dan terbukti kalau semua benda ini palsu. Anak bodoh itu ditipu habis-habisan."

"Maksudmu ditipu habis-habisan?"

"Mantel ini diberi penyadap dan banyak lagi. Bisa mencuri informasi sejauh dan sekecil apapun suara kita. Disamarkan dengan sihir hitam yang tipis keberadaannya. Cih, Seungho bahkan kerepotan setengah mati."

"Ini... boleh kumakan?"

"Tidak, Sungmin. Berikan itu padaku. Asal kau tahu saja, sample darahnya dan cokelat ini memiliki kesamaan."

"Hah? Kesamaan apa?"

"Mengandung racun. Kibum tak mau memberiku detailnya tapi dia bilang racun ini nyaris seperti air. Tak ada bau, tak ada warna. Efeknya bisa menyebabkan kematian."

"Lalu, catatan ini bohongan?"

"Bagian akhir, iya. Temannya, Park Chanyeol itu memang tahu keberadaannya sekarang. Dan sepertinya musuh menggunakan kesempatan ini untuk mengakali kejahatan."

"Tapi, tujuan mereka mengambil Ryeowook 'kan? Maksudku, kenapa perlu repot-repot membunuhnya."

"Ryeowook mati, dikubur, lepas dari pengawasan kita, mereka menggali kubur itu, mengambil mayatnya, memberikannya pada atasan mereka. Mengerti?"

Kyuhyun hanya menghembuskan napas sebagai tanggapan.

"Baiklah. Kembali ke inti permasalahan." Sungmin mengambil perhatian. "Ryeowook tidak mau makan bahkan menatap kita. Jadi kupikir kau harus berbicara padanya dan menyuapinya makan."

"Aku?" Yesung menunjuk dirinya sendiri dan disambut tiga anggukan setuju.

Ia mengibaskan tangan. "Tidak mau. Merepotkan saja."

.

.

.

"Hei, jangan pura-pura tidur! Aku tahu kau mendengarku!"

Ujung-ujungnya, Yesung memegang mangkuk berisi bubur ditemani piring berisi buah di atas meja nakas. Ia akan membanting mangkuk itu sampai pecah jika saja dia tidak ingat tujuannya.

Sungguh, walau dia digaji satu milyar pun dia tidak mau jadi baby sitter dadakan Ryeowook.

"Hei, bibirmu juga ikutan lumpuh ya?" Tanyanya asal, menggigit sebuah apel sehabis menaruh mangkuk.

Ryeowook masih kekeuh menutup matanya. Misal saja tubuhnya bisa bergerak, ia akan menendang pemuda itu jauh-jauh. Kemudian menguburnya hidup-hidup dengan salju.

Sejenak keheningan melanda kamar. Yesung masih mengunyah buah-buahan sambil bersandar sedangkan Ryeowook tampaknya mulai lelah berpura-pura.

Satu bunyi berasal dari perut lapar Ryeowook membuat Yesung menahan tawa. Air wajah namja manis itu juga berubah memerah malu.

"Begini saja," Bentakan memang tak mempan. "Kau makan dulu baru kuceritakan sesuatu yang menarik. Mungkin kau nggak akan makan cokelat lagi setelah mendengarnya."

Telinga Ryeowook reflek bergerak ketika Yesung mengatakan nama makanan manis tersebut.

Karena penasaran setengah lapar, "Baiklah, aku menyerah." Namja manis itu perlahan membuka kelopaknya, menyerah.

Yesung tersenyum simpul. Terlintas dalam benaknya bayangan salah satu pemilik sifat keras kepala seperti ini.

Betapa ia merindukan sosok itu.

'Tunggu dulu, kau membencinya!'

Ryeowook menggerutu pelan. "Bantu aku." Ujarnya terdengar manja di telinga Yesung.

"Hah?"

"Aku tak bisa makan dalam posisi ini, bodoh."

"..."

"Brengsek, kau mengataiku bodoh?!"

"Itu kenyataan!"

.

.

.

Setelah menghabiskan semangkuk bubur dengan paksaan kejam, Ryeowook menagih janji-janji Yesung yang ia harapkan tidak palsu. Lima menit mereka habiskan untuk cerita secara detail asal-usul kelumpuhannya.

Benar saja dugaan Yesung, Ryeowook jadi trauma dengan cokelat itu. Dan mungkin dia bakal membakar habis mantelnya jadi debu untuk mengotori salju besok.

"Aku pergi dulu." Karena urusannya sudah kelar, ia membawa peralatan makanan ikut serta. Sebelum hendak membuka pintu, suara Ryeowook menghentikannya.

"Tunggu dulu."

Yesung memutar bola mata. "Apalagi?"

"Kau mau meninggalkanku seperti ini?"

Pemuda bersurai hitam itu mengamatinya dari atas sampai bawah. "Duh, jeleknya. Kayak boneka kayu."

Kiasan Yesung memang sepenuhnya benar, tangan tergeletak begitu saja, punggung yang bersandar lemas dan wajah yang sayu menambah kesan lemah dalam dirinya.

Sedangkan yang diejek mendengus. Niatnya nyuruh-nyuruh tapi kena imbasnya juga.

Jadi, dengan lembut Yesung membantu merebahkan tubuh rapuh itu. Ini lebih sulit dari yang dibayangkan. Orang sakit masih ada tenaga untuk bergerak dibanding orang lumpuh yang harus diangkat sebentar oleh bridal style.

Ketika Yesung berbaik hati menyelimutinya, pandangan mereka bertemu. Beberapa saat sosok gadis itu kembali terlintas sehingga Yesung terburu-buru berdiri.

"Ada apa?" Ryeowook mengerutkan kening.

Tidak dijawab.

Untuk kedua kalinya, "Aku pergi." Yesung mengangkat peralatan makan, kemudian lantas saat memegang knop pintu.

"Temani aku sebentar."

"Kau sengaja ya?" Ia tidak terpancing, menekan knop pintu dan membukanya. Hampir dua kali bolak-balik bukanlah sesuatu yang ia inginkan.

"Kumohon. Aku sudah kenyang, dalam tidur dan makan."

"Itu bukan alasan." Kata Yesung cuek, maju selangkah. Tidak berbalik saat menarik pintu dengan satu tangan, membantingnya keras-keras.

"Aku kesepian."

Tidak bisa. Pintu itu tidak jadi tertutup. Hati Yesung keburu tergerak ketika dua kata itu menancap dihatinya.

Suara lemah itu mengingatkannya pada seseorang. Lagi.

Ia sedikit mundur, satu matanya mengintip di celah pintu. Lalu berbisik, "Sebentar saja ya." dengan wajah datar.

.

.

.

Ryeowook bergumam pelan, menikmati setiap detik yang berlalu. Ternyata jadi lumpuh menguntungkan juga. Bisa jadi boss dadakan dan tak perlu menggaji bawahanmu.

Yesung menggeram dalam hati, menahan amarah segenap kekuatan. Bagai tokoh heroine yang muak setengah mati dengan kelakuan musuhnya.

Pemilik mata sipit itu mengira jika Ryeowook benar-benar ingin ditemani. Mengajaknya ngobrol santai sampai dia terlelap sendiri. Atau mungkin sampai emosinya menggelegar hingga menyuruhnya pergi.

Tapi ternyata dugaannya meleset semua.

Menutup jendela, menaikkan suhu ruangan, mengerjakan pekerjaan rumahnya –Yesung bahkan belum mengerjakan miliknya!–, membuatkan jus, dan masih banyak lagi.

Tentu saja masih diselingi pertengkaran khas mereka. Sesekali Yesung ingin melempar benda apapun ke mulut sang penguasa kamar. Sayangnya rasa kasihan mencegahnya berbuat dosa.

Bagaimanapun, ia bertanggung jawab penuh atas 'target'nya. Simbol salib dengan jalaran tangkai duri bunga mawar serta hiasan bunga merah itu sudah cukup menjadi bukti.

Tapi ini sudah keterlaluan. Dia disuruh memegang buku manhwa tepat di depan wajah manis itu. Karena tingginya harga diri, Yesung beralasan ogah duduk di samping Ryeowook ketika ditawarkan. Jadilah posisi ambigu ini terjadi.

Yesung duduk di atas paha Ryeowook menggunakan lutut sebagai penyangga, tangan pegal menjulur sambil memegang buku selama setengah jam lebih disertai kebosanan luar biasa melandanya.

"Next." Perintahnya tanpa beban. Bodohnya lagi, Yesung reflek membuka halaman berikutnya.

Pundak Ryeowook bergetar tanpa sebab. Tentu saja Yesung tak bisa mengetahui alasannya di balik penghalang buku itu. Namun ia menduga, Ryeowook puas mengerjainya sampai sekarang.

Kim Yesung, hidup berprasangka itu tidak baik lho.

"Pfft–"

"Sudah cukup!" Yesung membanting buku manhwa di depan wajahnya, langsung berdiri dan merapikan bajunya.

"Ukh..." Buku itu merosot jatuh ke pangkuannya. "Ya! Apa yang kau lakukan?!"

"Melakukan apa yang kuinginkan sejak tadi!"

Brak!

Pintu dibanting sekeras mungkin sebagai ungkapan emosinya.

.

.

.

"Buruk sekali."

"Yesung hyung tidak bisa diharapkan."

"Ryeowook oppa sudah kelewatan. Pantas saja sih Yesung oppa marah."

"Kalau Yesung tidak kembali cerita cinta mereka nggak akan maju. Bagaimana ini, Tuan?"

"Argh, apa aku harus menemuinya? Mungkin membujuk Yesung oppa?"

"Kurasa tidak. Dia pasti pikir kita sudah tidur. Palingan dia cari kopi."

"Lalu menyirami Ryeowook oppa dengan itu. Oh, berita bagus."

"Padahal aku yakin sekali Ryeowook bisa bersikap manis."

"Ryeowook pasti berpikir kalau bersikap manis di depan Yesung hanya akan membuatnya marah. Lagipula Yesung pasti mencela segala perbuatannya."

"Akh... Yesung oppa juga bisa bersikap manis kok! Kemarin dia sempat mengusap kepala Ryeowook oppa sambil tersenyum."

"Mungkin sebagai iming-iming agar Ryeowook makin nurut."

"Argh! Aku mau bertemu Ryeowook oppa dulu!"

"Tunggu, Franca–"

Suara pintu dibantingpun menggema kembali.

.

.

.

"Yesung hyung." Kyuhyun menghempaskan diri di atas kursi.

"Hm?"

"Ani, kau minum kopi lagi." Ia mengibaskan tangan pelan baru mencondongkan badannya ke depan. "Jadi, apa yang membuatmu kesini?"

"Harusnya yang aku bertanya." Balas Yesung cuek, tak mengalihkan pandangan dari buku. "Ada apa mencariku?"

"Kau teringat padanya?"

Kyuhyun mendapati bola mata Yesung terbelalak sekian detik.

Tuk!

"Kalian bersengkongkol? Jangan-jangan racun dalam cokelat itu dari kalian juga?"

Atmosfir mulai berubah ketika Yesung menutup bukunya keras-keras. Ia menyandarkan tangannya ke kursi lain sambil menghirup wangi kopi.

Kyuhyun menahan napas. "Ma-mana mungkin. Mereka bahkan tidak mengerti siapa yang sedang kita bicarakan."

"Kalian berdua bisa saja bercerita." Namja bermata sipit itu membawa cangkirnya ke bak cuci piring setelah menghabiskannya, kemudian meraih bukunya. "Sampai kapan kalian akan mengungkitnya? Apakah enak memainkan masa lalu orang lain?"

"H-Hyung..." Gawat. Yesung semakin marah. Ini sih berbalik dari tujuan utamanya.

"Berhenti di sana, hyung." Kyuhyun cepat-cepat berdiri, mencegah Yesung melewati ambang pintu. "Aku belum selesai bicara."

"Aku sudah selesai bicara."

"Belum," Namja itu tak jadi mengangkat kakinya. "Kubilang belum ya belum!"

Yesung mendecih, sekarang Kyuhyun tak ada bedanya dengan remaja yang menceramahi cara menyatakan cinta pada temannya.

"Setua apapun umur asli kita, kita tetap seorang remaja labil, hyung." Ia melemahkan suaranya setelah menghela napas, karena ia tahu tipe orang apa yang ia hadapi. "Semua orang membutuhkan kasih sayang– Tidak, cinta. Dan itu yang kau butuhkan sejak dulu."

"Omong kosong."

"Cih, mereka mirip! Tubuh yang mungil, sifat, keahlian, semuanya mirip! Kenapa kau terus menyangkalnya?!"

"Kapan aku menyangkalnya?! Kapan dan di mana?! Kau hanya asal bicara!"

"Setiap waktu, hyung. Kau habiskan semua waktumu untuk meyakinkan diri kalau mereka tidak mirip!"

"Berisik!"

"Kemiripan fisik dan mental mereka bukan masalah utama di sini. Tapi bagaimana cara kau melihat Ryeowook, memperlakukannya seperti itu, masih tak sadarkah?"

"Berisik! Berisik!"

"Kau jatuh cinta padanya, hyung. Mengakulah, setidaknya padaku saja sudah cukup."

"Hentikan omong kosongmu itu!" Yesung berjalan cepat sebelum namja yang lebih tinggi berhasil mengejarnya.

"Aku menyayangimu, hyung. Sebagai dongsaeng, aku ingin melihat hyung bahagia. Tolong, jujurlah pada diri sendiri."

Pemuda itu menggeram, menggepalkan tangan kecilnya kuat-kuat. "Semirip apapun mereka, mereka tidak sama. Bahkan anak kembar identik pun memiliki perbedaan. Jadi jangan mengaturku lagi kalau kau masih ingin menjadi adikku."

"Kau mengancamku?" Bisik Kyuhyun sedih namun menggema di koridor yang sunyi senyap. "Kau anggap apa aku selama ini?"

Yesung menunduk. "Kau tahu jawabannya, Kyu." Lantas ia menaiki tangga tanpa di cegah lagi. Sepertinya namja ikal itu juga sudah lelah berdebat terlihat dari helaan napasnya.

"Aku sangat menyayangimu." Kyuhyun mendongak, melihat kelamnya obsidian Yesung yang berhenti sejenak. "Jangan meragukan aku."

Sosok itu lenyap seiring deritan anak tangga. Ia menunduk dan menemukan Gakuro yang memandangnya sedih.

Lantas ia tersenyum pahit, mengangkatnya dan memeluknya.

"Gaku, bagaimana bisa kau mengerti kesedihan kami?"

Di sisi lain, Yesung langsung menjatuhkan tubuh ke ranjang setelah menutup pintu. Kemudian mengangkat tangannya untuk menutup wajah.

Ia mulai memikirkan baik-baik perasaannya sekarang.

"Tidak bisa. Semirip apapun mereka, aku tidak bisa melupakan Yukari."

.

.

.

Keesokan harinya,

Sulit sekali. Yesung tidak mau melihatnya sejak ia bangun hingga saat ini. Walau mereka duduk bersebelahan, pemuda itu selalu menatap ke depan atau keluar jendela. Seakan tidak ada waktu untuk meliriknya barang sedikitpun.

Tentu saja Ryeowook berusaha mengambil perhatiannya. Memanggilnya atau mengajaknya berbicara secara langsung. Tapi tetap saja manik hitam itu menolak untuk bertatapan dengannya.

Ia sudah mendengar cerita dari Franca dan karena sudah sembuh total, sebagai anak yang diajarkan sopan santun, ia akan berterima kasih dan meminta maaf.

Seperti biasa, kelas akan kosong di waktu istirahat. Jadi Ryeowook akan menggunakan kesempatan ini juga.

"Yesung–"

Kreet

Pemuda itu mendorong kursinya, lalu berjalan keluar kelas. Tanpa menoleh, tanpa berbicara sedikitpun.

Ryeowook memandang punggungnya hingga menghilang lalu menghembuskan napas frustasi. "Argh! Aku sudah kelewatan! Bagaimana ini?! Setidaknya biarkan aku berterima kasih karena kau sudah menemaniku semalam!"

Hening

Di tempat lain, Yesung berjalan pelan-pelan menyusuri koridor yang ramainya seperti jalan sempit pasar.

Tanpa sadar helaan napas keluar. Ini semua mengingatnya pada sekolah Sihir.

"Anou, Kim Yesung-ssi?" Seseorang memanggilnya dari belakang. "Kau punya waktu sebentar?" Ia mengangguk pada sang gadis cantik.

"Baguslah. Kami dari klub paparazzi. Kau terkenal akhir-akhir ini, jadi kami ingin menawarkanmu menjadi model untuk cover majalah sekolah untuk minggu ini. Dan beberapa pertanyaan untuk mengisi kolom interview. Kau mau?

Yesung melambaikan tangannya di depan wajah. "Maaf, aku tidak bisa. Lain kali saja ya." Lalu berlalu ke ujung koridor, membiarkan gadis itu tertunduk lesu.

Ia tidak perlu khawatir akan dibenci para perempuan, justru dia bersyukur kalau itu terjadi.

Akhirnya ia sampai. Di depan pintu atap sekolah yang kebutulan sangat sepi penduduk. Orang gila mana yang mau datang ke sini di musim dingin yang menyengat? Mungkin hanya Yesung.

Ia langsung mengambil tempat di sudut atap. Duduk bersandar dengan tangan menekan layar ponsel dan memasang earphone ke telinga.

"Sendirian mungkin lebih baik."

Kembali ke Ryeowook. Ia celingukkan sambil meneguk minuman kaleng yang ada di mesin otomatis kantin sekolah.

"Sial, aku tidak menemukannya di mana pun." Ia meremas kalengnya dan melemparnya masuk ke dalam tong sampah. Lantas berjalan keluar kantin tanpa arah yang pasti.

Sekolah SM Highschool benar-benar besar dan memiliki ratusan murid. Tidak mungkin ia menemukan Yesung dalam sekejap. Lagipula, kemana Kyuhyun dan Sungmin di saat seperti ini?

"Mungkin ada di atap." Celetuk seseorang dari samping kiri. Ketika menoleh, ia melihat Kyuhyun yang nyengir.

"Kita tahu 'kan kalau Yesung suka ketenangan?" Di samping kanan ada Sungmin yang muncul entah dari mana.

Panjang umur sekali mereka.

Namun helaan napas meluncur bebas dari bibirnya. "Aku mulai lelah dengan semua ini."

.

.

.

Krek!

Telinga Yesung bergerak ketika suara tak asing mengusik tidurnya. Namun ia tak buru-buru membuka mata saat ia mengira itu hanya angin kencang yang mendorong pintu. Dan kembali fokus mendengarkan musik hingga kembali terlelap.

Masa bodoh dengan pelajaran matematika nanti.

Tapi keyakinannya salah. Sesosok pemuda kecil berjalan pelan menghampirinya, berusaha tak menimbulkan suara sekecil apapun. Kepalanya miring saat melihat jelas posisi tidur Yesung yang sekiranya menyakitkan itu.

Ryeowook berpikir Yesung mungkin cocok juga jadi model. Tidur bersandar dengan kepala menunduk, tangannya yang terjulur menggantung di atas salah satu lipatan kaki. Duduk ala indian atau mungkin tokoh berandalan yang sedang bolos?

Karena sudah sampai di sini, Ryeowook bingung mau memulai dari mana. Melakukan apapun selain meninggalkannya juga salah. Hanya memperpanjang masalah saja.

"Anou, Yesung-ah." Ia memanggil dan tidak ada sahutan. Itu pasti. Karena pemuda itu tidur, atau opsi paling Yesung suka adalah pura-pura tidur.

Ia menarik earphonenya, dan berbisik. "Terima kasih sudah menemaniku semalam. Maaf aku sudah keterlaluan mengerjaimu. Itu karena aku tidak tahu mau melakukan apa. Hubungan kita–"

Maniknya terbelalak kaget saat sepasang tangan memeluk pinggangnya erat.

"Y-Yesung?" Ia menarik diri tapi itu sesulit mengambil permen karet pada rambut. Saking eratnya Ryeowook benar-benar jatuh ke dalam dekapan hangatnya.

Napas Yesung sangat teratur, begitu pula sikapnya. Kontras sekali dengan Ryeowook yang gelagapan mencari tahu penyebab jantung berdebar kencang. Ragu-ragu ia membalas pelukan hangat itu.

Mereka diam selama beberapa saat dan Ryeowook mulai bertanya-tanya apakah namja itu ngelindur hingga memeluknya atau memang sengaja memeluknya.

Tiba-tiba saja ia ingin menangis. Diabaikan itu nggak enak dan dia tak suka diabaikan apapun alasannya.

"Yesung–" Pemuda itu langsung membungkamnya dengan bibir. Dengan cepat, ia membalikkan posisi mereka dan segera melumat bibirnya tanpa mengindahkan protesan yang tersampaikan.

Ryeowook sendiri pasrah setelah melakukan perlawanan. Hanya dengan satu tangan Yesung berhasil mengunci sepasang alat geraknya di atas kepala sedangkan tangan lainnya mendongakkan dagunya.

Ia reflek membalas ketika Yesung melakukan ancaman pada lidahnya, menggigitnya keras-keras. Mereka saling melumat dan beradu lidah hingga saliva keluar membasahi leher Ryeowook.

Dia mulai cemas tentang seseorang yang akan memergoki mereka di sini karena bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu. Jika benar itu terjadi, mading sekolah akan dipenuhi oleh berita nista ini.

Beruntung Yesung mengangkat kepalanya di waktu ke tujuh menit, sedikit terengah-engah ketika menjilat saliva yang berceceran.

Benar-benar pelecehan seksual. Ryeowook akan meneriakan itu sekeras mungkin kalau saja tidak ingat hukuman skors menanti mereka.

Pria hitam itu mengusap bibirnya kasar, cepat-cepat berdiri dan menundukkan wajah ke samping hingga poni menutupi matanya. Memberikan kesan seram pada siapapun yang melihatnya.

"Cih," Dia berdecak entah untuk apa tapi itu sukses membuat Ryeowook takut menatapnya. Ia mundur beberapa langkah sebelum berbalik menyimpan tangannya di saku mantel.

"Tunggu–" Ryeowook berdiri, hendak menggapai Yesung namun sesuatu menghalaunya. Perisai transparan. Semua penyihir bisa melakukan hal sedasar itu untuk melindungi diri sendiri.

Lantas, apa ia menganggap Ryeowook musuhnya?

"Yesung, ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap kekanakkan seperti ini?"

Dia berujar, "Jangan bicara padaku dalam waktu dekat." kemudian menutup pintu rapat-rapat.

Meninggalkan Ryeowook yang kebingungan.

"Apa? Aku salah lagi? Yak!" Ia mengacak rambutnya frustasi. Siapapun pasti begitu ketika tidak mendapatkan yang diinginkan. "Kim Yesung!"

Di sisi lain, Yesung berhadapan dengan dinding belokan menuju lantai lima gedung sekolah. Diam sejenak, lantas menendang beton itu keras-keras hingga rasa sakit menyiksa kakinya. Belum cukup, ia membenturkan kepalanya ke dinding dan mengerang.

"Ya Tuhan, apa Kau terlalu baik sehingga membuat banyak manusia yang berduplikat?"–Walau tidak dengan wajah mereka.

Kim Yesung mengerti. Dia tak bisa menahan diri, tidak dari Ryeowook yang hampir sama persis dengan Yukari.

.

.

.

To Be Continue

Annyeong~ Sesuai janji, Hye publish lagi nih xP Kayaknya alur chap ini kecepetan ya. Tapi mau bagaimana lagi, cuman ini yang ada di otak Hye Dx Ayo, udah ada yang dapat gambaran siapa Yukari? :3 Atau udah ada yang bisa bayangin si kakak beradik Hikari-Kage? Ah, senengnya bisa bikin incest couple hahaha *digampar* Spoiler, chap depan berisi manisnya Valentine *padahal valentine udah lewat banget*

Oh ya, manhwa itu bahasa Koreanya manga '-' Kalo di Indonesia sih lebih dikenal komik. Sedangkan istilah tsundere artinya diluar galak tapi dalamnya baik banget. Lebih gampangnya sih mau tapi galak, macam munafik kkk.

Yosh, terima kasih untuk readersdeul yang sudah mau membaca dan mereview sampai sekarang ^^ Terima kasih juga untuk para readers baru~ Semoga makin enjoy dengan ff super aneh ini kkk.

Last, mind to review? :3